Resume Materi Ilmu Fiqih.

Oleh Anita Yudianti

236,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Resume Materi Ilmu Fiqih.

RESUME MATA KULIAH MATERI ILMU FIQIH Dosen Mata Kuliah: (arsyam0505@gmail.com) Disusun Oleh: Anita Yudianti (70200120076) (anitayudianti2189@gmail.com) PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2020 i KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita masih bisa menikmati indahnya alam ciptaan-Nya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada teladan kita Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran Agama yang sempurna dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Penulis sangat bersyukur karena telah menyelesaikan resume yang menjadi tugas Ilmu Fikih dengan judul resume materi ilmu fiqih. Di samping itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua yang telah membantu sehingga resume ini selesai. Akhir kata, penulis memahami jika resume ini tentu jauh dari kesempurnaan maka kritik dan saran sangat saya butuhkan guna memperbaiki karya-karya saya di waktu mendatang. Bulukumba, 27 Oktober 2020 Penyusun ii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .......................................................................................................... i KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iii A. B. C. D. E. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU FIQIH ..................................................... 1 HUBUNGAN ANTARA ILMU FIQIH DAN USHUL FIQIH ............................. 2 FIKIH DAN SYARIAH ......................................................................................... 3 KLASIFIKASI ILMU FIKIH DAN SUMBER-SUMBER FIKIH ........................ 4 KAIDAH-KAIDAH FIKIH ................................................................................... 5 iii A. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU FIQIH 1. Pengertian Ilmu Fiqih Fiqih menurut bahasa bermakna:tahu dan paham,sedangkan menurut istilah,banyak ahli fiqih (Fugoha‟) mendefinisikan berbeda-beda tetapi mempunyai tujuan yang sama,salah satunya:Ulma Hanafi mendefinisikan fiqih sebagai ilmu yang menerangkan segala hak dan kewajiban yang berhubungan amalan para mukalaf. 2. Sejarah Perkembangan Ilmu Fiqih Ilmu fiqih adalah salah satu disiplin ilmu yang sangat penting kedudukannya dalah kehidupan umat Islam. Secara esensial, fiqih telah ada sejak masa Nabi Muhammad SAW,walaupun belum menjadi disiplin Ilmu tersendiri. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Ilmu fiqih ini mulai berkembang, seiring dengan timbulnya permasalahan-permasalahan yang bermunculan dari zaman ke zaman. Generasi penerus Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya berhenti pada masa khulafa’urrosyidin, namun masih diteruskan oleh para Tabi‟in dan Ulama Sholihin hingga sampai pada masa kita sekarang ini. a. Periode Rasulullah SAW Periode ini dimulai sejak diangkatnya Muhammad SAW. Menjadi Nabi dan Rasul sampai wafat beliau, periode ini sangat singkat hanya sekitar 22 tahun beberapa bulan. Akan tetapi pengaruhnya sangat besar terhadap perkembangan Ilmu Fiqih. Periode Rasulullah dibagi menjadi dua masa yaitu Periode Makkah dan Periode Madinah. Sumber hukum pada masa Rasulullah SAW. Diantaranaaya adalah Al-Qur‟an, AsSunnah, dan Ijtihad. b. Periode Al-Khulafaur Rasyidin Periode ini dimulai dari 11 Hijriah dan berakhir pada abad pertama Hijriah. Sumber hukum pada Periode Khulafaur Rasyidin adalah Al-Qur‟an, As-Sunnah, dan Ijtihad. c. Periode Awal Pertumbuhan Ilmu Fiqih Masa ini dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai awal abad ke-2 H. Periode ini merupakan awal pertumbuhan fiqih sebagai salah satu disiplin ilmu dalam Islam. d. Periode Keemasan Periode ini dimulai dari awal abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 hijriah. Ciri khas yang menonjol pada periode ini adalah semangat Ijtihad yang tinggi dikalangan Ulama, sehingga berbagai pemikiran tentang ilmu pengetahuan perkembangan pemikiran ini tidak saja dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan umum lainnya. e. Periode Takhrir, Takhrij, dan Tarjih dalam Mashab Fiqih Dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai abad pertengahan ke-7 hijriah. Takhrir, Takhrij, dan Tarjih adalah upaya-upaya tiap Mashab mengomentari, menjelaskan, dan mengulas pendapat Imam Mashab. Alasan pintu Ijtihad ditutup karena beberapa hal: 1) Dorongan penguasa pada hakim untuk memakai Madzhab pemerintah saja. 2) Sikap fanatik buta, kebekuan berfikir, dan Taqlid tanpa analis. 3) Gerakan pembekuan tiap Madzhab sehingga mempermudah memilih Madzhab yang mendorong untuk Taqlid. f. Periode Kemunduran Fiqih Dimulai sejak pertengahan abad ke-7 hijriah sampai munculnya majalah Al-Ahkam Al‟Addliyah (hukum perdata kerajaan Turki Usmani) pada 26 Sya‟ban 1293 H. 1 B. HUBUNGAN ANTARA ILMU FIQIH DAN USHUL FIQIH 1. Pengertian Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih Fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum-hukum Syara‟ yang diambil dalilnya dari Tafshiliyah. Ushul fiqih terdiri dari kata ushul dan fiqh. Ushul merupakan kata jamak dari ashl, yang artinya dasar atau pokok. 2. Objek Kajian Fiqih & Ushul Fiqih a. Fikih 1) Ukhubah (tindak pidana). Contoh:pembunuhan, pencurian, perampokan, pemberontakan, dll. 2) Ibadah. Contoh:shalat, puasa, haji, zakat, dll. 3) Muamalah (harta). Contoh:jual beli, sewa menyewa, dll. b. Ushul Fiqih Yang menjadi objek kajian ushul fiqih adalah dalil-dalil hukum syar‟i yang bersifat umum yang digunakan dalam menemukan kaidah-kaidah yang global dan hukum-hukum syar‟i yang digali dari dalil-dalil tersebut. 3. Tujuan Fiqih & Ushul Fiqih Tujuan akhir yang hendak dicapai dari ilmu fiqih adalah penerapan hukum syariat kepada amal perbuatan manusia, baik tindakan maupun perkataannya. Sedangkan tujuan Ushul Fiqih, antara lain: a. Menerapkan kaidah-kaidah yang didetapkan oleh ulama-ulama terdahulu untuk menentukan bahwa sesuatu masalah baru;yang tidak ditemukan hukumnya dalam kitabkitab terdahulu. b. Mengetahui lebih mendalam bagaimana upaya dan metode yang harus ditempuh dalam merumuskan kaidah, sehingga berbagai masalah yang muncul dapat ditetapkan hukumnya. 4. Kegunaan Ushul Fiqih Adapun beberapa kegunaan Ushul Fiqih, diantaranya: a. Untuk mengetahui kaidah-kaidah dan metodologi ulama-ulama mujtahid dalam mengistinbatkan hukum. b. Untuk memantapkan pemahaman dalam mengikuti pemahaman dalam mengikuti pendapat ulama mujtahid, setelah mengetahui alur berfikir yang dipergunakannya. 5. Perbedaan Fiqih & Ilmu Fiqih a. Pembicaraan Dalam hal pembicaraan, ilmu fiqih berbicara tentang hukum dari sesuatu perbuatan. Sedangkan ushul fiqih berbicara tentang metode dan proses bagaimana menemukan hukum itu sendiri. b. Pengaplikasian Dalam hal pengaplikasian, ilmu fiqih akan menjawab pertayaan “apa hukum dari suatu perbuatan”. Sedangkan ushul fiqih akan menjawab pertanyaan “bagaimana proses atau cara menemukan hukum yang digunakan sebagai jawaban permasalahan yang dipertanyakan tersebut”. 2 C. FIKIH DAN SYARIAH 1. Pengertian Fiqih Fiqih adalah suatu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya. a. Fungsi dan Tujuan Fiqih Fungsi dari fiqih itu sendiri adalah untuk memahamkan kepada kita sebagai umat muslim agar dapat memahami, mengerti dan melaksanakan pokok-pokok hukum Islam (syariat Islam) dan tata cara pelaksanaannya agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, fiqih dalam kehidupan umau muslim bertujuan untuk memberikan pengarahan agar kita selalu berada pada jalan yang lurus atau benar. b. Sumber-Sumber Fiqih 1) Al-Qur‟an merupakan petunjuk dan pedoman bagi umat muslim dan menjadi sumber pertama bagi hukum-hukum Islam. Ketika kita menemukan permasalahan, maka hal pertama yang perlu kita lakukan adalah kembali kepada Al-Qur‟an untuk mencari hukum dari permasalahn tersebut. 2) As-Sunnah merupakan semua yang bersumber dari Nabi berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan. 3) Ijma‟ merupakan kesepakatan seluruh ulama mujtahid yang dilakukan setelah zaman Nabi Muhammad SAW dalam rangka untuk mendapatkan solusi dari suatu masalah yang berhubungan dengan Agama. 4) Qiyas merupakan sumber hukum Islam yang dikatakan sebagai sebuah analogi. 2. Pengertian Syariah Syariah merupakan aturan atau undang-undang yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, dan hubungan manusia dengan alam semesta.. a. Fungsi dan Tujuan Syariah Fungsi Syari‟ah adalah sebagai jalan atau jembatan untuk semua manusia dalam berpijak dan berpedoman. Sedangkan tujuan Syariah yaitu : 1) Memelihara Agama, agama islam harus dibela dari ancaman orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang hendak merusak akidah, ibadah dan akhlak umat. 2) Memelihara Jiwa, agama islam sangat menghargai jiwa seseorang, maka dari itu diberlakukan hukum qishas yang merupakan bentuk hukum pembalasan nyawa dibalas nyawa. 3) Memelihara Akal, akal dibutuhkan untuk memikirkan ayat Al-Qur‟an dan karunia menuju manusia kamil. 4) Memelihara Harta, dengan syariat islam maka pemilik harta akan merasa lebi aman, karena islam mengenal hukum had yaitu potong tangan atau kaki. b. Sumber-Sumber Syariah 1) Al-Qur‟an, sebagai kitab suci umat islam. 2) Al-Hadits, sumber hukum kedua setelah Al-Qur‟an yang memuat segala uacapan, ketetapan maupun perbuatan Rasulullah SAW. 3) Ijtihad, adalah sebuah usaha para ulama, untuk menetapkan Al-Qur‟an dan Al-Hadits. 3 D. KLASIFIKASI ILMU FIKIH DAN SUMBER-SUMBER FIKIH 1. Pengertian Ilmu Fikih Fikih adalah ilmu yang membahas tentang hukum-hukum syar‟iyyah‟amaliyyah yang diambil dari dalil-dalil terperinci (tafshili) dengan cara istidlal yaitu mengambil dalil untuk menetapkan hukum dari sumbernya. 2. Klasifikasi Ilmu Fikih a. Ibadah Ibadah artinya pengabdian dan penyembahan seorang muslim terhadap Allah SWT yang dilakukan dengan merendahkan diri dengan niat yang ikhlas. Dalam Al-Qur‟an Allah SWT berfirman: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-ku” (QS.Adz-Dzariyat/51:56) b. Muamalat Ialah peraturan agama untuk menjaga hak milik manusia dalam tukar menukar barang atau sesuatu yang memberi manfaat. Dan Allah SWT berfirman: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah/2:280) c. Munakahat Ialah undang-undang perkawinan atau akad yang menghalalkan pergaulan antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Dan Allah SWT berfirman: “Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat anjaya.‟ (QS. An-Nisa/4:3) d. Jinayat Jinayat ialah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan dapat menimbulkan hukuman demi menjaga harta, jiwa, serta hak asasi manusia. Dan Allah SWT berfirman: “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah/2:179) 3. Sumber-Sumber Fikih a. Al-Qur‟an Al-Qur‟an adalah kitab yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita dari sumber-sumber yang terpercaya. b. As-Sunnah Sunnah (hadis) adalah perkataan, perbuatan, dan pengakuan Nabi Muhammad SAW yang dapat dijadikan dasar hukum islam. c. Al-Ijma‟ Ijma‟ ialah kesepakatan para mujtahid atau ulama umat Nabi Muhammad SAW dalam suatu masa setelah wafat beliau atau suatu hukum tertentu. d. Al-Qiyas Qiyas adalah persamaan hukum sesuatu yang tidak ada dalilnya dengan hukum sesuatu yang ada dalilnya dikarenakan hampir bersamaan. 4 E. KAIDAH-KAIDAH FIKIH 1. Pengertian Kaidah-Kaidah Fiqih Istilah kaidah-kaidah fiqh adalah terjemahan dari bahasa arab al-qawa”id alfiqhiyah. Al-qawa‟id merupakan bentuk plural (jamak) dari kata al-qa”idah yang secara kebahasaan berarti dasar, aturan atau patokan umum.Sedangkan kata alfiqhiyah berasal dari kata al-fiqh yang berarti paham atau pemahaman yang mendalam (al-fahm al-amiq) yang dibubuhi ya‟an-nisbah untuk menunjukkan penjenisan atau pembangsaan atau pengkategorian. Berdasarkan pengertian dari para ahli, kaidah-kaidah fiqih adalah generalisasigeneralisasi hukum fiqh yang sifatnya umum atau aghlabiyah (mencakup sebagian besar masalah-masalah fiqih) dan tertuang dalam bentuk proposisi yang sempurna, sekalipun terkadang sangat sederhana. 2. Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Kaidah-Kaidah Fikih a. Fase Pertumbuhan dan Pembentukan Masa pertumbuhan dan pembentukan berlangsung selama tiga abad lebih dari zaman kerasulan hingga abad ke-3 Hijriah. b. Fase Perkembangan dan Kodifikasi Dalam sejarah hukum islam, abad ke-4 H dikenal sebagai zaman taqlid. Pada zaman ini, sebagian besar ulama melakukan tarjih pendapat imam mazhabnya masing-masing. Perkembangan kodifikasi adalah kaidah fikih tampak lebih maju pada abad VII hijriah. Pada abad ini ulama menyusun kitab-kitab kaidah fikih. c. Fase Kematangan dan Penyempurnaan Sekalipun ditulis sejak lama, kaidah fikih masih bercampur dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itu, pada abad XII H muncul Majallat alahkam al-„Adliyyat yang disusun oleh Laznah Fuqaha Utsmaniah. Para Fuqaha merangkum dan memilih kaidah fikih dari sumber-sumbernya. 3. Hubungan Kaidan Fiqih dengan Ilmu Lain a. Hubungan Qawa‟id fiqhiyah dengan Qaqa‟id ushuliyyah. Kaidah ushuliyah memuat pedoman penggalian hukum dan sumber aslinya baik Al-Qur‟an maupun sunnah. Sedangkan kaidah fiqhiyah merupakan petunjuk operasional dalam menginstinbatkan hukum Islam. b. Hubungan Qawa‟id Al-fiqhiyyah dengan Ushul fiqh dan fiqih. Ilmu fiqih mempunyai hubungan erat dengan qawa‟i al-fiqhiyah karena kaidah alfiqhiyah merupakan kunci berpikir dalam pengembangan dan seleksi hukum fiqih. 4. Macam-macam Kaidah Fiqih a. Segi mustasnayat (tidak memiliki pengecualian dan memiliki pengecualian) b. Segi fungsi (sentral dan marginal) c. Segi kualitas (kaidah kunci dan kaidah asasi) 5. Perbedaan Kaidah Fiqih dengan Dhabith Ali Ahmad Al-Nadawi (1994) menjelaskan bahwa perbedaan antara kaidah fikih dengan dhabith fikih adalah kaidah fikih lebih umum daripada dhabith fikih. Dari segi penghadapan dengan furu‟, kaidah fikih lebih banyak dihadapkan kepada furu‟ dibanding dhabith fikih. 5

Judul: Resume Materi Ilmu Fiqih.

Oleh: Anita Yudianti

Ikuti kami