Sistem Ekonomi Islam

Oleh Intan Suri Mahardika Pertiwi

204,8 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Sistem Ekonomi Islam

CIRI-CIRI SISTEM EKONOMI ISLAM Intan Suri Mahardika Pertiwi PASCASARJANA UIN RADEN INTAN LAMPUNG Email : Intansurimahardikapertiwi@yahoo.com. ABSTRAK Sistem ekonomi menunjuk pada satu kesatuan mekanisme dan lembaga pengambilan keputusan yang mengimplementasikan keputusan tersebut terhadap produksi, konsumsi dan distribusi pendapatan. Karena itu, sistem ekonomi merupakan sesuatu yang penting bagi perekonomian suatu negara. Sistem ekonomi terbentuk karena berbagai faktor yang kompleks, misalnya ideologi dan sistem kepercayaan, pandangan hidup, lingkungan geografi, politik, sosial budaya, dan lain-lain.Salah satu perbedaan antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi konvensional adalah paradigma kehidupan dengaan semua akitivitasnya. Ciri-ciri ekonomi Islam sebagai dasar keyakinan dalam melakukan aktivitas yang baik dalam interaksi sosial maupun transaksi keuangan. Tauhid diharapkan dapat membentuk integritas yang akan membantu pembentukan pemerintah yang baik. Prinsip keadilan merupakan sebuah keharusan dalam penegakkan syariat Islam.Dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip ekonomi Isam dalam semua aspek dan prilaku ekonomi diharapkan kesejahteraan yang berkeadilan dapat terujud.Sehingga, sehingga agen ekonomi tidak mengejar keuntungan materi saja melainkan juga spiritual. Kata Kunci : Sistem, Ekonomi, islam. PENDAHULUAN Ilmu ekonomi tergolong dalam kelompok ilmu sosial. Sasaran kajiannya adalah cara manusia mengatur diri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya1.Usaha manusia ini berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang turut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kegiatan memenuhi kebutuhan itu. Dalam ruang lingkup masyarakat ini ikhtiar manusia ditentukan oleh norma-norma, aturan kelakuan, cara-cara sesuatu dikerjakan dalam 1 Dr.Sa‟id Sa‟ad Marthon, Ekonomi Islam di Tengah Krisis Ekonomi Global, Pent. Ahmad Ikhrom (Jakarta: Zik rul Hakim, 2004), hal. 34 masyarakat, yang tercermin dalam pengaturan kelembagaan (institutional arrangement) dalam masyarakat, dan membentuk sistem ekonomi2. Ciri-ciri pokok perbedaan sistem ekonomi satu dengan lain tercermin minimal dalam empat hal. Pertama, dalam cara proses pembangunan itu berlangsung; kedua, sifat pemilikan (ownership) yang berlaku; ketiga, pembagian hasil-hasil pembangunan; keempat, sistem rangsangan dan motivasi. Dari keempat ciri-ciri pokok inilah ditinjau perbedaan sistem ekonomi Islam dengan sistem-sistem ekonomi lainnya.3 Dalam perkembangan dewasa ini, ada dua sistem ekonomi yang paling berpengaruh di dunia, yaitu sistem ekonomi Kapitalis dan sistem ekonomi Sosialis. Sistem ekonomi Kapitalis adalah suatu sistem ekonomi yang mengizinkan dimilikinya alat-alat produksi oleh pihak swasta, sedangkan sistem ekonomi Sosialis merupakan kebalikan dari sistem ekonomi di mana pemerintah atau pekerja memiliki serta menjalankan semua alat produksi, hingga demikian, usaha swasta dibatasi dan mungkin kadang-kadang dihapuskan sama sekali.4 Berbeda dengan kedua sistem diatas, Sistem ekonomi islam adalah menerapkan sistem ekonominya dengan mempergunakan moral dan hukum bersama untuk menegakkan bangunan suatu sistem yang praktis.5 Berkenaan dengan prioritas, Islam mengetengahkan konsep keseimbangan antara kepentingan individu suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai islam, bersumber dari Al Quran, As-Sunnah, ijma dan qiyas. Ekonomi Islam dalam tiga dasawarsa ini mengalami kemajuan yang cukup pesat, baik dalam kajian akademis di perguruan tinggi maupun dalam praktek operasional.6 METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif menganalisis implementasi prinsip ekonomi syariah, dengan melakukan pendekatan studi literatur (Library research).7 2 Syafri Gunawan sistem ekonomi islam di tengah pertarungan sistem ekonomi konvensional ( Padang : Forum Foedagonik VI No 1 tahun 2014 ) hal 167 3 ibid 4 Syafaruddin Vitalisasi sistem ekonomi islam menuju kemandirian umat ( Sulawesi Selatan : Jurnal Al taridhi Volume 04 no 01 juni 2016 ) hal 85 5 Nur Kholis Membedah konsep ekonomi islam ( La riba Jurnal ekonomi islam VOL 3 NO 2 Desember 2009 ) hal 269 6 Tira Nur Fitria kontribusi ekonomi islam dalam pembangunan ekonomi nasional ( Surakarta :Jurnal ilmiah Ekonomi Islam VOL 02 , NO 3 November 2016 ) Hal 29 7 Lexy J. Meleong Metode Penelitian ( Bandung : PT.Remaja Rosdakarya 2017 ) hal 4 PEMBAHASAN Pengertian Sistem Ekonomi Islam Sistem ekonomi islam adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai islam, bersumber dari Al Quran, As-Sunnah, ijma dan qiyas. Ini telah dinyatakan dalam surat al maidah ayat (3). Sistem ekonomi islam berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis, sistem ekonomi islam memiliki sifat-sifat baik dari sistem ekonomi sosialis dan kapitalis, namun terlepas dari sifat buruknya.Ilmu ekonomi islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai islam. Ada beberapa pengertian Ekonomi Islam dari pakar ekonom muslim dalam buku karya M.B Hendrie Anto diantaranya adalah : Ekonomi Islam adalah suatu ilmu dan aplikasi petunjuk dan aturan syari’ah yang mencegah ketidak adilan dalam memperoleh dan menggunakan sumber daya material agar memnuhi kebutuhan manusia dan agar dapat menjalankan kewajibannya kepada Allah dan masyarakatDan Ekonomi Islam adalah tanggapan pemikir-pemikir muslim terhadap tantangan ekonomi pada zamannnya. Dalam upaya ini mereka dibantu oleh Al-Qur’an dan Hadist, serta alasan dan pengalaman. 8 Ciri Ciri Ekonomi Islam Walaupun belum ada negara yang menerapkan sistem ekonomi islam secara utuh, bahkan di negara arap yang dimana islam diturunkan mereka belum menerapkan seutuhnya. Akan tetapi ekonomi islam memiliki ciri ciri yang menyempurnakan sistem ekonomi lainnya yaitu komando dan liberal. ciri ciri ekonomi islam yaitu: 1. Hak indifidu diakui namun diberi batasan batan. 2. Hak umum atau umat di akui dan diutamakan. 3. Hak umum harus didahului dari hak individu jika itu sangat mendesak atau doruriyah. 8 2013 Karim, Adiwaraman, Ir., SE, MA. Ekonomi Mikro Islami Ed. II. Jakarta: IIIT Indonesia, Kelebihan dan Kekurangan Sistem Ekonomi Islam 1. Kelebihan Sistem Ekonomi Islam Sistem ekonomi Islam memiliki kelebihan sebagai berikut: A. Menjunjung Kebebasan Individu Manusia mempunyai kebebasan untuk membuat suat fteputusan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuha nidupnya. Dengan kebebasan ini manusia dapat bebas mengoptimalkan potensinya. Kebebasan manusia dalam Islam didasarkan atas nilai-nilai tauhid suatu nilai yang membebaskan dari segala sesuatu kecuali Allah. Nilai tauhid inilah yang akan menjadikan manusia menjadi berani dan percaya diri. B. Mengakui hak individu terhadap harta Islam mengakui hak individu untuk memiliki harta. Hak pemilikan harta hanya diperoleh dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan Islam. Islam mengatur kepemilikan harta didasarkan atas kemaslahatan sehingga keberadaan harta akan menimbulkan sikap saling menghargai dan menghormati. Hal ini terjadi karena bagi seorang muslim harta sekedartitipan Allah. C. Ketidaksamaan ekonomi dalam batas yang wajar Islam mengakui adanya ketidaksamaan ekonomi antar orang perorangan. Salah satu penghalang yang menjadikan banyaknya ketidakadilan bukan disebabkan karena Allah, tetapi ketidakadilan yang terjadi dikarenakan sistem —yang dibuat manusia sendiri—. Misalnya, masyarakat lebih hormat kepada orang yang mempunyai jabatan tinggi dan lebih banyak mempunyai harta, hingga masyarakat terkondisikan bahwa orang-orang yang mempunyai jabatan dan harta mempunyai kedudukan lebih tinggi dibanding yang lainnya. Akhirnya, sebagian orang yang tidak mempunyai harta dan jabatan merasa bahwa, "Allah itu tidak adil". D. jaminan social Setiap individu mempunyai hak untuk hidup dalam sebuah negara: dan setiap warga negara dijamin untuk memperoleh kebutuhan pokoknya masingmasing. Memang menjadi tugas dan tanggungjawab utama bagi sebuah negara untuk menjamin setiap negara, dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan prinsip “hak untuk hidup". Dalam sistem ekonomi Islam negara mempunyai tangj jawab untuk mengalokasikan sumberdaya alam guna meningkatkan kesejahteraan rakyat secara umum. E. Distribusi kekayaan Islam mencegah penumpukan kekayaan pada sekelompok kecil masyarakat dan menganjurkan distribusi kekayaan kepada semua lapisan masyarakat. Sumberdaya alam adalah hak manusia untuk dipergunakan manusia untuk kemaslahatannya, upaya ini tidak menjadi masalah bila tidak ada usaha untuk mengoptimalkan melalui ketentuan-ketentuan syariah. F. Larangan menumpuk kekayaan Sistem ekonomi Islam melarang individu mengumpulkan harta kekayaan secara berlebihan. Seorang muslim berkewajiban untuk mencegah dirinya dan masyarakat supaya tidak berlebihan dalam pemilikan harta. Seorang muslim dilarang beranggapan terlalu berlebihan terhadap harta sehingga menyebabkan ia mengunakan cara-cara yang tidak benar untuk mendapatkannya. G. Kesejahteraan individu dan masyarakat Islam mengakui kehidupan individu dan masyarakat saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Masyarakat akan menjadi aktor yang dominan dalam membentuk sikap individu sehingga karakter individu banyak dipengaruhi oleh karakter masyarakat. Demikian juga sebaliknya, tidak akan terbentuk karakter masyarakat khas tanpa keterlibatan dari individu-individu. 2. Kekurangan Sistem Ekonomi Islam Dominasi pemikiran ekonomi konvensional menjadikan ekonomi Islam belum mampu berkembang sebagaimana yang diharapkan. Padahal ekonomi Islam berisi tuntunan dan pedoman ideal yang mampu mengakomodir kebutuhan hidup manusia di dunia maupun di akhirat. Dengan jaminan mayoritas penduduk di negara mustim tentunya akan mampu menerima ekonomi Islam, tetapi perkembangan ekonomi Islam tidak semulus yang diharapkan walaupun bisa dikatakan hal tersebut sebagai fenomena umum sebagai suatu "sistem ekonomi baru" yang mau menanamkan pengaruhnya di tengah masyarakat yang telah lama menerima sistem ekonomi konvensional. Secara global kelemahan system ekonomi Islam dapat dilihat dari beberapa factor sebagai berikut A. Lambatnya perkembangan literatur ekonomi Islam Literatur ekonomi Islam yang sebagian besar berasal dari teks-teks arab mau tidak mau diakuinya mengalami perkembangan yang kurang signifikan. Sehingga menyebabkan munculnya dominasi literature ekonomi konvensional yang saat ini mempengaruhi masyarakat bahwa tidak ada ilmu ekonomi yang mampu menjawab masalah-masalah aktual kecuali ekonomi konvensional. Hal ini menjadikan justifikasi bagi masyarakat untuk mengesampingkan ide dari pengetahuan lain, seperti ekonomi Islam. Hal ini diakibatkan adanya hegemoni literature ekonomi konvensional terhadap ekonomi Islam, sehingga setiap prilaku kita tidak lepas dari pengaruh ekonomi konvensional. B. Praktek ekonomi konvensional lebih dahulu dikenal Praktek ekonomi konvensional lebih dahulu dikenal oleh masyarakat. Masyarakat bersentuhan langsung dengan konsep ekonomi konvensional, di berbagai bidang konsumsi, produksi, distribusi dan lainya. Sehingga pemahaman baru sulit dipaksakan dan diterima oleh masyarakat yang lebih dahulu beresntuhan dengan konsep ekonomi konvensional. Kita telah mengetahui ekonomi konvensiona merupakan kepanjangan dari system ekonomi kapitalis meskipun tidak sepenuhnya. Karena secara tersirat ekonomi konvensional juga mengadopsi system ekonomi sosialis. Di sinilah salah satu letak kelemahan system ekonomi Islam. C. Tiada representasi ideal Negara yang menggunakan system ekonomi Islam Di beberapa Negara yang menggunakan Islam sebagai pedoman dasar kenegaraanya ternyata belum mampu sepenuhnya mengelola system perekonomiannya secara professional. Bahkan banyak Negara-negara Islam di Timur Tengah yang tingkat kesejahteraanya kurang maju jika dibandingkan dengan Negara Eropa dan Amerika. D. Pengetahuan sejarah pemikiran ekonomi Islam kurang Sejarah menunjukkan bahwa kemajuan pengetahuan Eropa tidak lepas dari peranan pengetahuan Islam. Masa transformasi pengetahuan yang terjadi pada abad pertengahan kurang dikenal oleh masyarakat. Hal ini yang menyebabkan timbulnya pemahaman bahwa pengetahuan lahir di daratan Eropa, apalagi berbagai informasi lebih mengarahkan pada pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh Eropa. Karenanya lebih mengenai Adam Smith, Robert Malthus, David Ricardo, JM Keynes dan sebagainya, dibandingkan dengan tokoh-tokoh ekonomi Islam seperti Abu Yusuf, Ibnu Ubaid, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Khaldun dan sebagainya. Padahal mengetahui perkembangan sejarah pemikiran ekonomi akan menimbulkan kebanggaan masyarakat terhadap tokoh-tokoh ekonomi Islam. Secara tidak langsung hal ini akan mempengaruhi ketertarikan mereka terhadap pemikiran tokoh-tokoh ini. Prinsip-prinsip Sistem Ekonomi Syariah Ekonomi syariah sebagai salah satu sistem ekonomi yang eksis di dunia, untuk hal-hal tertentu tidak berbeda dengan sistem ekonomi mainstream, seperti kapitalisme. Mengejar keuntungan sebagaimana dominan dalam sistem ekonomi kapitalisme, juga sangat dianjurkan dalam ekonomi syariah. Namun, dalam banyak hal terkait dengan keuangan, Islam memiliki beberapa prinsip yang membedakannya dengan sistem ekonomi lain.9 1. Prinsip Tauhid Ayat-ayat Alquran yang terkait dengan prinsip tauhid dalam menjalankan kegiatan ekonomi, antara lain adalah sebagai berikut:Katakanlah (Muhammad) "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (Q.S. 112: 1-4).Dalam konteks berusaha atau bekerja, ayat di atas dapat memberikan sprit kepada seseorang, bahwa segala bentuk usaha yang dilakukan manusia harus tetap bergantung kapada Allah. Al-Himsi (1984: 603), dalam bukunya, Tafsir wa-Bayan Mufradat al-Qur`an, menterjemahkan Allah al-Shamad (Allah tempat bergantung)dengan “huwa al-wahdah al-maqshud fi al-hawaij”(hanya Allah tempat mengadu dalam segala kebutuhan).Prinsip tauhid adalah dasar dari setiap bentuk aktivitas kehidupan manusia. Quraish Shihab (2009: 410) menyatakan bahwa tauhid mengantar manusia dalam kegiatan ekonomi untuk meyakini bahwa kekayaan apapun yang dimiliki seseorang adalah milik Allah. Keyakinan demikian mengantar seseorang muslim untuk menyatakan:Sesungguhnya sembahyangku, 9 Mursal Implementasi Prinsip-Prinsip Ekonomi Syariah: Alternatif Mewujudkan Kesejahteraan Berkeadilan ( Padang : Jurnal Prespektif ekonomi islam darussalam Volume 1 nomor 1 desember 2015 ISSN 2502 6976) Hal 75 ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam (Q.S. 6:163). 2. Prinsip Keadilan Di antara pesan-pesan Alqur`an (sebagai sumber hukum Islam) adalah penegakkan keadilan. Kata adil berasal dari kata Arab/‘adl yang secara harfiyah bermakna sama. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, adil berarti samberat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar dan sepatunya. Dengan demikian, seseorang disebut berlaku adil apabila ia tidak berat sebelah dalam menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu, kecuali keberpihakannya kepada siapa saja yang benar sehingga ia tidak akan berlaku sewenag- wenang.Pembahasan tentang adil merupakan salah satu tema yang mendapat perhatian serius dari para ulama. M. Quraish Shhab, dalam buku Wawasan Al-Quran (2009: 111) ketika membahas perintah penegakan keadilan dalam Alquran mengutip tiga kata yakni al-‘adl, al-qisth, dan al-mizan.Penggunaan kata al-qisth dan al-mizan digunakan Alquran dalam surah ar-Rahman/55: 79:“Dan Allah telah ditinggika-Nya dan dia meletakkan neraca keseimbangan (keadilan).Agar kamu jangan memerusak keseimbangan itu.Dan Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”Dalam operasional ekonomi syariah keseimbangan menduduki peran yang sangat menentukan untuk mencapai falah (kemenangan, keberuntungan). Dalam terminologi fikih, adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan sesuatu hanya pada yang berhak serta memperlakukan sesuatu pada posisinya (wadh‘ al-syai` fi mahallih). Implementasi keadilan dalam aktivitas ekonomi adalah berupa aturan prinsip interaksi maupun transaksi yang melarang adanya unsur: A. Riba Riba merupakan salah satu rintangan yang seringkali menggiurkan banyak orang untuk mendapatkan keuntungan. Dalam Alquran kata riba digunakan dengan bermacam-macam arti, seperti tumbuh,tambah, menyuburkan, mengembangkan serta menjadi besar dan banyak. Secara umum riba berarti bertambah baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Menurut etimologi, kata al-riba bermakna zada wa nama yang berarti bertambah dan tumbuh. Al-Syirbashi (1981:91) mendefinisikan riba dengan: kelebihan atau tambahan pembayaran tanpa ada ganti atau imbalan yang disyaratkan (bertransaksi).10 bagi salah seorang dari dua orang berakad B. Maysir Secara bahasa maisir semakna dengan qimar, artinya judi,yaitu segala bentuk perilaku spekulatif atau untung- untungan. Islam melarang segala bentuk perjudian.Pelarangan ini karena judi dengan segala bentuknya mengandung unsur spekulasi dan membawa pada kemudaratan yang sangat besar.Perbuatan yang dilakukan biasanya berbentuk permainan atau perlombaan. Larangan terhadap judi dapat ditemukan dalam sejumlah ayat Alquran dan teks-teks hadi Nabi saw. Di antara ayat Alquran yang melarang praktek perjudian adalah al- Baqarah/2: 219, alMaidah/5:90. C. Gharar. Secara bahasa garar berarti bahaya atau resiko. Dari kata garar juga terbentuk katatagriryang berarti memberi peluang terjadinya bahaya. Namun, menurut Wahbah az-Zuhaili (1985: 435), makna asli garar adalah sesuatu yang pada lahirnya menarik, tetapi tercela secara terselubung.Sejalan dengan makna ini, kehidupan di dunia dinamai Alquran dengan fenomena yang penuh manipulasi.Dalam interaksi sosial maupun transaksi finansial garar bisa mengambil bentuk adanya unsur yang tidak diketahui atau tersembunyi untuk tujuan yang merugikan atau membahayakan pihak lain (Ad-Dareer: 1997: 6).Bahkan secara lebih jelas, Hashim Kamali (2002:84) menyebutnya dengan khid’ah, yang berarti penipuan. D. Haram Kegiatan ekonomi, dalam sistem keuangan syariah, sebagai sub ordinasi kajian mu’amalah masuk ke dalam kelompok ibadah ammah. Dimana, aturan tata pelaksaannya lebih banyak bersifat umum. Aturan-aturan yang bersifat umum dimaksud kemudian oleh para ulama disimpulkan dalam sebuah kaidah usul yang berbunyi: (al-Suyuthi: 1997: 123)“al-ashl fi al-asyya al-ibahah hatta yadll al-dalil ala tahrimiha” (hukum asal dalam muamalah adalah boleh selama tidak ada dalil yang mengharamkannya). 3. 10 Prinsip Maslahat Antoan Aitullah Ekonomi islam Transaksi dan Problematikanya ( Bandung : Volume 13 nomor 02 desember 2013 ) 289 Secara sederhana, maslahat bisa diartikan dengan mengambil manfaat dan menolak kemadaratan (al-Ghazali:1983: 139), atau sesuatu yang mendatangkan kebaikan, keselamatan, faedah atau guna (al-Syathibi: 1997: 25). Hakikat kemaslahatan adalah segala bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi integral duniawi dan ukhrawi, material dan spritual, serta individual dan sosial. Aktivitas ekonomi dipandang memenuhi maslahat jika memenuhi dua unsur, yakni ketaatan (halal) dan bermanfaat serta membawa kebaikan (thayyib) bagi. semua aspek secara integral. Dengan demikian, aktivitas tersebut dipastikan tidak akan menimbulkan mudarat.Sesuatu dianggap maslahat apabila terpenuhi.Apabila kemaslahatan dikatakan sebagai prinsip keuangan (ekonomi) maka semua kegiatannya harus memberikan kemaslahatan (kebaikan) bagi kehidupan manusia; perorangan, kelompok, dan komunitas yang lebih luas, termasuk lingkungan. 4. Prinsip Ta’awun (Tolong-menolong). Ideologi manusia terkait dengan kekayaan yang disimbolkan dengan uang terdiri dari dua kutub ekstrim; materialisme dan spritualisme.Materialisme sangat mengagungkan uang, tidak memperhitungkan Tuhan, dan menjadikan uang sebagai tujuan hidup sekaligus mempertuhankannya. Kutub lain adalah spritualisme (misalnya Brahma Hindu, Budha di Cina, dan kerahiban Kristen) menolak limpahan uang, kesenangan dan harta secara mutlak. 5. Prinsip Keseimbangan Konsep ekonomi syariah menempatkan aspek keseimbngan (tawazun/equilibrium) sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi. Prinsip keseimbangan dalam ekonomi syariah mencakup berbagai aspek; keseimbangan antara sektor keuangan dan sektor riil, resiko dan keuntungan, bisnis dan kemanusiaan, serta pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam.Sasaran dalam pembangunn ekonomi syariah tidak hanya diarahkan pada pengembangan sektor-sektor korporasi namun juga pengembangan sektor usaha kecil dan mikro yang tidak jarang luput dari upaya-upaya pengembangan sektor ekonomi secara keseluruhan. EKONOMI ISLAM VS EKONOMI KONVENSIONAL Sistem Ekonomi Konvensional 1. Proses pembangunan Dalam cara proses pembangunan sangat jelas bahwa sistem ekonomi kapitalisme mengandalkan diri pada mekanisme pasar sebagai wahana utama. Kelembagaan pasar memberi isyarat mengenai hal-hal apa yang perlu diproduksi, dikonsumsi, diolah, dan lain-lain. Pasar pula yang memberi petunjuk mengenai cepat-lambatnya proses pembangunan yang diperlukan. Doktrin faham serba bebas sistem ekonomi merupakan orde alamiah yang tunduk pada hukum alam. Oleh karena itu, campur tangan pemerintah dalam bidang ekonomi sangat rendah.11 Dalam sistem ekonomi sosialisme wahana utama adalah mekanisme perencanaan senteral. Sunguhpun pasar ada bekerja dalam sistem ekonomi sosialisme, namun isyarat yang terdapat di pasar tidak dijadikan pedoman kerja utama. Rencana merupakan pegangan pokok. Dan bertolak dari rencana ini dihitung berbagai keperluan biaya, jumlah bahan baku yang dibutuhkan, jumlah produksi yang perlu dihasilkan, dan lain-lain. Pasar diganti oleh komputer. Dan “harga” ikut dibentuk dan dipengaruhi sesuai dengan keperluan rencana 2. Pemilikan Cara-cara bekerja sistem ekonomi dipengaruhi oleh sifat pemilikan yang berlaku. Dalam sistem ekonomi kapitalisme, individu barhak memiliki sesuatu, baik alat produksi maupun alat konsumsi. Bahkan hak milik seseorang dilindungi hukum. Dan pemerintah berkewajiban melindungi hak milik ini.Setiap negara mengetahui hak kebebasan individu untuk memiliki harta perorangan. Setiap individu dapat memiliki, membeli, dan menjual hartanya menurut yang dikehendaki tanpa hambatan. Individu mempunyai kuasa penuh terhadap hartanya dan bebas menggunakan sumer-sumber ekonomi menurut cara yang dikehendaki. Setiap individu berhak menikmati manfaat yang diperoleh dari produksi dan distribusi serta bebas untuk melakukan pekerjaan. Dalam sistem ekonomi sosialisme, negaralah menjadi pemilik utama. Faktor-faktor produksi, terutama yang penting, dikuasai negara. Hak milik perorangan praktis terbatas sekali pada barang-barang yang tidak terlalu penting. Kalaupun ada hak milik di luar negara, maka yang dimungkinkan adalah hak milik masyarakat.Sistem ekonomi sosialisme 11 Prof. Dr. H. Veitzhal Rivai, M.B.A, Ir. H. Andi Buchari, M.M., Islamic Economic (Jakarta: Bumi Aksara, Cet. I, 2009), hal. 32 menyatakan bahwa hak-hak imdividu dalam suatu bidang ekonomi ditentukan oleh prinsip kesamaan. Setiap individu disediakan kebutuhan hidup menurut keperluan masing-masing. Hak individu untuk memiliki harta atau memanfaatkan produksi tidak diperbolehkan. Dengan demikian individu secara langsung tidak mempunyai hak pemilikan. 3. Pembagian Hasil Perbedaan dalam sifat pemilikan mempengaruhi pula pembagian hasil pembangunan. Dalam sistem ekonomi kapitalisme, hasil pembangunan mengikuti besar kecilnya kontribusi yang diberikan faktor produksi yang dimiliki seseorang.Dalam sistem ekonomi kapitalisne, modal merupakan sumber produksi dan sumber kebebasan. Individuindividu yang memiliki modal lebih besar akan menikmati hak kebebasan yang lebih baik untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Ketidaksamaan kesempatan mewujudkan jurang perbedaan di antara golongan kaya bertambah kaya dan yang miskin semakin miskin. Dalam sistem ekonomi sosialisme pembagian pendapatan mengikuti pola yang sudah ditentukan dalam perencanaan. Dalan perencanaan sudah diperhitungkan besar kecilnya pendapatan yang layak diterima oleh seseorang. Dan ini ditentukan berdasarkan skala prioritas jasa produksi yang diberikan oleh seseorang atau kelompok masyarakat. Jika perkembangan industri menjadi urutan prioritas tinggi, maka sektor-sektor lain dapat ditekan untuk mobilisasi tanbungan dan modal bagi perkembangan sektor-sektor itu. Sehingga pola pembagian pendapatan dipengaruhi oleh skala prioritas pertumbuhan sektoral dalam perencanaan. 4. Sistim Rangsangan atau Motivasi Akhirnya dalam menggerakkan pembangunan, tampak bahwa masingmasing sistem ekonomi memiliki sistem rangsangan atau motivasi yang berbeda- beda. Dalam sistem ekonomi kapitalisme bekerja motif laba sebagai rangsangan materi yang efektif. Dalam sistem ekonomi sosialisme dengan unsur kontrol dan perencanaan yang ketat, maka pencapaian sasaran, atau karya yang melebihi hasil yang ditentukan, memperoleh ganjaran tinggi baik dalam wujud material maupun dalam bentuk nonmaterial lainnya, seperti fasilitas perumahan, tanda kehormatan, perlakuan istimewa, dan lain-lain. Sistem perangsang yang dikembangkan dikaitkan dengan prestasi melebihi sasaran atau target. Bila sasaran atau target terlewati, maka prestasi ini akan mendapatkan imbalan yang Besar. SISTEM EKONOMI ISLAM Sistem ekonomi Islam lebih mempersoalkan masalah makro dengan anggapan dan pandangan Islam tentang norma kelakuan manusia dan hubungan manusia dengan manusia. Dari sudut makro ini bagaimana pandangan Islam terhadap empat ciri pokok yang membedakan sistem ekonomi yang satu dengan yang lainnya? 1. Proses Pembangunan Dalam sistem ekonomi Islam berlaku mekanisme pasar. Tetapi dalam pasar ini berlaku satuan-stuan ekonomi yang secara individu dan secara kemasyarakatan tunduk pada ikatan moral dan akhlak untuk berlaku jujur dan adil. Laba atau keuntungan yang berlebihan tidak dicari. Tetapi kerja keras merupakan sikap yang ingin ditegakkan untuk dapat berjalan di atas jalan lurus menuju Tuhan, seperti terungkap dalam al-Qur‟an Surat al-Insyiqoq, ayat 6 : “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguhsungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu menemui-Nya.” Dalam sistem ajaran Islam, bahwa kerja, amal, atau praktis adalah bentuk keberadaan manusia. Artinya, manusia ada karena kerja, dan kerja itulah yang membuat atau mengisi eksistensi kemanusiaan. Pandangan ini sentral sekali dalam sisitem ajaran Islam. Ditegaskan bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apa pun kecuali yang ia usahakan sendiri, orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah. Ini berarti bahwa sebaiknya seorang yang beriman kepada Allah ialah seorang ini, dengan yang keratif dan dijiwai pandangan bahwa aktif dalam hidup dunia ini di dunia pun dapat menyediakan kebahagian, selain kebahagian di akhirat yang kebih hakiki dan lebih abadi.Norma hidup lain yang diagungkan oleh Islam adalah larangan bersikap boros, mengecam kemewahan, dan juga mengecam sikap berlebih-lebihan., seperti tersebut dalam surat al-Isra‟ ayat 26-27: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan jangan kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” Dari ayat tersebut tersimpul komitmen Islam akan penghapusan kemiskinan. Sehingga pandangan Islam terhadap pembangunan tidak hanya pembangunan material atau pembangunan untuk kepentingan pembangunan itu sendiri. Tetapi pembangunan dilihat sebagai kesatuan bulat mencakup unsur material dan spritual. Proses pembangunan adalah bagaikan tumbuhnya pohon yang membesar dalam segala segi tidak hanya daun atau buah, tetapi keseluruhan pohon dengan akar yang kokoh terpancang dalam kalbu iman dan tegak menjurus kepada Allah memenuhi ibadah, menghapuskan kemiskinan, dan menjalankan ma’ruf menjauhi munkar 2. Pemilikan Sejak semula Islam mengakui hak milik individu dan juga mengakui hak milik orang banyak. Hak milik tersebut diistilahkan sebagai hak milik khusus dan hak milik umum, yang keduanya bersifat tidak mutlak. yang khas tentang harta di mana semua bentuk kekayaan pada hakikatnya adalah milik Allah, ditegaskan al-Qur‟an antar lain dalam surat al-Maidah ayat120 “ Kepunyaan Allah-lah pemerintah langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”Demikian juga seluruh isi bumi ini disediakan Allah bagi manusia untuk dimanfaatkan sesuai dengan amanatNya. Maka sumber alam dititipkan kepada manusia untuk diolah dan diusahakan. Dari sisi ini maka pemilikan perorangan berlaku dalam sistem ekonomi Islam. Manusia dapat memiliki sumber alam yang dititipkan Allah kepadanya. Manusia dapat pula memiliki barang dan jasa yang dihasilkan dengan sumber alam ini. Jerih payah dalam mengolah dan mengusahakan sumber alam sehingga menghasilkan barang, milik, dihargai oleh Islam. Bertolak dari pengakuan atas hak milik, seseorang kemudian berhak pula mewariskan milik itu kepada keturunannya. Dan hak mewariskan milik ini dilindungi oleh Islam.Sungguhpun hak miliki diakui dalam Islam, karakter pemilikan itu tidaklah sama dengan hak milik dalam sistem ekonomi kapitalisme. Milik ini merupakan titipan Allah. Oleh karena itu, kewajiban-kewajiban yang diletakkan pada sumber daya alam tetap berlaku. Penggunaan milik inipun harus pertimbangan moral, milik di hargai dilandaskan dan pada bermanfaat bagi manusia selama digunakan di atas jalan yang diridoiNya.Dalam diri manusia tumbuh sikap pengendalian diri (self restrain) dalammenghadapi harta milik. Harta bukanlah tujuan hidup, tetapi bagian (ibadah) dari pada wahana kepada untuk dipakai dalam pengabdian Allah. Di sinilah tersimpul kuatnya hubungan timbal balik antara kewajiban manusia terhadap Allah dan kewajibannya terhadap sesama manusia di dunia 3. Pembagian Hasil Dengan pengakuan hak milik, maka hasil usaha yang diupayakan menjadi hak si pemilik. Sehingga pembagian pendapatan yang berlangsung dalam sistem ekonomi Islam mengikuti prestasi kerja dilakukan baik dengan tenaga kerja, ketrampilan, keahlian ataupun modal dan harta milik.Dalam memperoleh balas jasa atas kerja terdapat perbedaan sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem ekonomi Islam, seseorang tidak diperkenankan menggunakan milik berupa modal mengeksploitasi kesulitan manusia lain dan kemudian memetik riba dari usaha meminjamkan modal tersebut.Penilaian para ahli dan ulama Islam tentang riba nampanya belumberakhir. Yang jelas adalah bahwa sifat eksploitif dari pinjaman sebagaimana tecermin dalam riba memperoleh tantangan prinsipil. Kerena memang seusai dengan landasan tidak moral yang ingin ditegakkan dalam sisitem ekonomiIslam. Hal yang pokok dalam pembagian hasil dalam sisitem ekonomi Islam adalah Islam. Di samping ketentuan memberi zakat dalam rukun zakat, dikembangkan pula infak dan shodaqoh. Pemberian zakat, infak dan sedekah adalah salah satu tonggak pokok dalam sistem ekonomi Islam. Zakat, infak dan sedekah adalah kasih sayang. pemberian atas dasar tersimpul mekanisme yang tertanam sistem ekonomi Di sini (built-in mechanism) dalam Islam untuk mencegah ketimpangan pembagian pendapatan dan meratakan pendapatan bagi terciptanya sosial dan persaudaraan.18 keadilan Instrumen distribusi kekayaan dalam Islam melalui beberapa aturan yaitu sebagai berikut; A. Wajib muzakki (orang zakatnya dan diberikan berhak yang kepada berzakat) membayar mustahiq (orang yang menermazakat),khususnya kalangan fakir miskin. B. Hak setiap warga negara untukmemanfaatkan kepemilikan umum.Negara berhak mengelola secara optimal dan efesien serta mendistribusikannya kepada masyarakat secara adil dan proporsional. C. Pembagian harta negara seperti tanah, barang dan uang sebagai modal bagi yang memerlukannya 4. Rangsangan dan Motivasi Pembahasan mengenai pandangan Islam tentang kerja dapat dilihat dengan mencermati sabda Nabi:Sesungguhnya (nilai) segala pekerjaan itu adalah (sesuai) dengan niat-niat yang ada, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya (ditujukan) kepada (rido) Allah dan Rasul-Nya, maka ia (nilai) hijrahnya itu (mengarah) kepada (rida) Allah dan Rasul- Nya; dan barangsiapa hijrahnya itu ke arah (kepentingan) dunia yang dikehendakinya atau wanita yang hendak dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya itu pun mengarah kepada apa yang menjadi tujuannyaDalam sistem rangsangan ini, sistem ekonomi Islam berlainan sekali dengan sistem ekonomi kapitalisme dan sistem ekonomi sosialisme. Unsur pokok yang membedakannya adalah bahwa pandangan hidup seorang mukmin tidak memisahkan kewajiban dalam kehidupan duniawi dengan kehidupan ukhrowi.Kedua kewajiban dunia dan akhirat saling pengaruh mempengaruhi. Bahkan di sinilah tersimpul sumber rangsangan utama dalam pelaksanaan kewajiban seorang mukmin PENUTUP Sistem ekonomi Islam bukanlah perpaduan antara sistem ekonomi kapitalisme dan sosialisme. Dilihat dari asal muasal pemikiran sistem ekonomi Islam telah berbeda sejak awal dari kedua sistem ekonomi konvensional itu. Sistem ekonomi Islam bukanlah suatu gejala rekasioner, namun keasliannya dan kemurniannya benar-benar didapatkan dari kitab suci yang agung, di mana Allah Yang Mahatahu bagaimana seharusnya hamba-Nya berekonomi. Secara filosofis, sistem ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi yang dibangun di atas nilai-nilai Islam, di mana prinsip tauhid yang mengedepankan nilai Ilahiyah menjadi inti dari sistem ini. Ekonomi bukanlah sebuah entitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagian kecil dari bingkai ibadah kepada Allah SWT. DAFTAR PUSTAKA

Judul: Sistem Ekonomi Islam

Oleh: Intan Suri Mahardika Pertiwi

Ikuti kami