Laporan Teknik Pembenihan

Oleh Yunus Thamren

263,7 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Laporan Teknik Pembenihan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemanfaatan Sumber daya hayati perairan saat ini merujuk kepada sistem pengelolaan akuakultur berkelanjutan yang mencakup beberapa komoditi dengan sistem perairan yang terdiri dari air tawar, air payau dan air laut. Pemanfaatan pada budidaya air payau saat ini terus digalakkan dengan komoditi budidaya ikan bandeng. Teknologi yang diterapkann juga berkembang pesat dari mulai tradisional yang mengandalkan benih dari alam sampai dari hatchery–hatchery dengan pola budidaya yang terencana. Potensi sumber daya hayati perikanan budidaya sesuai data Direktorat Jendral Perikanan dan Pengembangan Perikanan 2010, diketahui bahwa potensi nener atau benih bandeng di Indonesia cukup melimpah, terutama nener hasil pemijahan alam, (Kordi dan Ghufron, 2005). Selama ini nener ikan bandeng yang digunakan untuk pembesaran ikan bandeng itu sendiri masih mengandalkan dari alam. Sedangkan produksi nener alam belum mampu untuk mencukupi kebutuhan budidaya bandeng yang terus berkembang, oleh karena itu peranan usaha pembenihan bandeng dalam upaya untuk mengatasi masalah kekurangan nener tersebut menjadi sangat penting (Fujiana Nursyamsiah, dkk., 2008). Ketersediaan benih secara berkesinambungan merupakan masalah utama yang dialami oleh para pembudidaya saat ini. Dengan melihat keadaan yang ada pada ketersediaan nener dari alam tidak menjamin kebutuhan para penggelondong maupun kebutuhan pembudidaya di tambak dan Keramba Jaring Apung, walaupun kualitas nener yang bersumber dari alam masih lebih unggul bila dibandingkan produksi nener di hatchery tetapi dari segi kuantitas harus tetap merujuk ke hatchery. Usaha para pengelola pembenihan bandeng untuk menghasilkan nener yang memiliki kualitas sama dengan alam terus diupayakan dengan cara melakukan pengelolaan kualitas air, pemberian pakan alami dan pakan buatan serta pengendalian hama dan penyakit secara kontinyu dan frekuensi yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk mewujudkan anlisa usaha yang menguntungkan dengan produksi nener yang memiliki kualitas baik dan kuantitas yang tinggi. Berdasarkan uraian tersebut di atas diperlukan suatu bentuk keterampilan dan etos kerja maksimal yang harus dilakukan untuk menghasilkan target produksi yang sudah ditetapkan. Salah satu tahap kegiatan penting dalam pembenihan ikan bandeng yaitu pengelolaan larva ikan bandeng. Untuk menghasilkan nener (benih) ikan bandeng yang berkualitas dan berkuantitas perlu dilakukan manajemen pemberian pakan alami dan pakan buatan yang tepat dosis, dan manajemen kualitas air secara kontinyu dan frekuensi yang telah ditetapkan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Ikan bandeng termasuk dalam famili Chanidae (milk fish) yaitu jenis ikan yang mempunyai bentuk memanjang, padat, pipih (compress) dan oval. Menurut Sudrajat (2008) taksonomi dan klasifikasi ikan bandeng adalah sebagai berikut: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Osteichthyes Subkelas : Teleostei Ordo : Malacopterygii Famili : Chanidae Genus : Chanos Spesies : Chanos chanos Forskall Nama dagang : Milkfish Nama lokal : Bolu, muloh, ikan agam Ikan bandeng mempunyai badan memanjang seperti torpedo dengan sirip ekor bercabang sebagai tanda bahwa ikan bandeng berenang dengan cepat. Kepala bandeng tidak bersisik, mulut kecil terletak di ujung rahang tanpa gigi, dan lubang hidung terletak di depan mata. Mata diselaputi oleh selaput bening (subcutanaus). Warna badan putih keperak-perakan dengan punggung biru kehitaman (Purnomowati, dkk., 2007). Ikan bandeng juga mempunyai sirip punggung yang jauh di belakang tutup insang, dengan 14 – 16 jari–jari pada sirip punggung, 16 – 17 jari–jari pada sirip dada, 11 – 12 jari–jari pada sirip perut, 10 – 11 jari–jari pada sirip anus/dubur (sirip dubur /anal finn terletak jauh di belakang sirip punggung), dan sirip ekor berlekuk simetris dengan 19 jari – jari. Sisik pada garis susuk berjumlah 75 – 80 sisik (Ghufron dan Kordi, 2005). Ikan bandeng jantan dan betina sulit dibedakan baik secara morfologi, ukuran, warna sisik, bentuk kepala dan lain–lainnya. Namun pada bagian anal (lubang pelepasan) pada induk bandeng yang matang kelamin menunjukkan bentuk anatomi yang berbeda (Purnomowati, dkk., 2007). Untuk ikan bandeng jantan mempunyai 2 tonjolan kecil (papila) yang terbuka di bagian luarnya yaitu selaput dubur luar dan lubang pelepasan yang membuka pada bagian ujungnya. Di dalam alat genital jantan (vasa deferentia), mulai dari testes menyatu sedalam 2 – 10 mm dari lubang pelepasan. Lubang kencing (urinari pore) melebar ke arah saluran besar dari sisi atas. Selain itu 2 tonjolan urogenital yang membuka ke arah ventral anus (Rusmiyati, 2012). Sedangkan untuk betina mempunyai 3 tonjolan kecil (papila) yang terbuka di bagian anal. Satu lubang adalah lubang anus yang sejajar dengan lubang genital pore sedangkan lubang satunya lagi yaitu lubang posterior dari genital pore berada pada ujung urogenital papila. Dari 2 oviduct menyatu kearah saluran yang lebar yang merupakan saluran telur dan saluran tersebut berakhir di genital pore (Rusmiyati, 2012). Ikan bandeng merupakan jenis ikan laut yang daerah penyebarannya meliputi daerah tropika dan sub tropika (Pantai Timur Afrika, Laut Merah sampai Taiwan, Malaysia, Indonesia dan Australia). Di Indonesia penyebaran ikan bandeng meliputi sepanjang pantai utara Pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Aceh, Sumatra Selatan, Lampung, Pantai Timur Kalimantan, sepanjang pantai Sulawesi dan Irian Jaya. (Purnomowati, dkk., 2007). Ikan bandeng termasuk jenis ikan euryhaline dimana dapat hidup pada kisaran kadar garam yang cukup tinggi (0 – 140 promil). Oleh karena itu ikan bandeng dapat hidup di daerah tawar (kolam/sawah), air payau (tambak), dan air asin (laut) (Purnomowati, dkk., 2007). Ikan bandeng mempunyai kebiasaan makan pada siang hari. Di habitat aslinya ikan bandeng mempunyai kebiasaan mengambil makanan dari lapisan atas dasar laut, berupa tumbuhan mikroskopis seperti: plankton, udang renik, jasad renik, dan tanaman multiseluler lainnya. Makanan ikan bandeng disesuaikan dengan ukuran mulutnya (Purnomowati, dkk., 2007). Pada waktu larva, ikan bandeng tergolong karnivora, kemudian pada ukuran fry menjadi omnivora. Pada ukuran juvenil termasuk ke dalam golongan herbivora, dimana pada fase ini juga ikan bandeng sudah bisa makan pakan buatan berupa pellet. Setelah dewasa, ikan bandeng kembali berubah menjadi omnivora lagi karena mengkonsumsi, algae, zooplankton, bentos lunak, dan pakan buatan berbentuk pellet (Aslamyah, 2008). Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran, suhu 27-310C salinitas 30 ppt, pH 8 dan oksigen 5-7 ppm diisikan ke dalam bak tidak kurang dari 100 cm yang sudah dipersiapkan dan dilengkapi sistem aerasi dan batu aerasi dipasang dengan jarak antara 100 cm (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010). Larva umur 0-2 hari kebutuhan makanannya masih dipenuhi oleh kuning telur sebagai cadangan makanannya. Hari kedua setelah ditetaskan diberi pakan alami yaitu chlorella dan rotifera. Masa pemeliharaan berlangsung 21-25 hari saat larva sudah berubah menjadi nener. Pada hari ke nol telur-telur yang tidak menetes, cangkang telur larva yang baru menetas perlu disiphon sampai hari ke 8-10 larva dipelihara pada kondisi air stagnan dan setelah hari ke 10 dilakukan pergantian air 10% meningkat secara bertahap sampai 100% menjelang panen (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010). Masa kritis dalam pemeliharaan larva biasanya terjadi mulai hari ke 3-4 sampai ke 7-8. Untuk mengurangi jumlah kematian larva, jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air pemeliharan perlu terus dipertahankan pada kisaran optimal (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010).Nener yang tumbuh normal dan sehat umumnya berukuran panjang 12-16 mm dan berat 0,006-0,012 gram dapat dipelihara sampai umur 25 hari saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2010). BAB III METODOLOGI KERJA 3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanan praktikum pembenihan dilaksanakan pada tanggal 25-27 februari 2016 di badai budidaya ikan air payau ujung bate. 3.2. Alat dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam kegiatan pengelolaan larva ikan bandeng dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Jenis Alat yang Digunakan dalam Pengelolaan Larva Ikan Bandeng No. 1. 1 Alat Fungsi Bak induk Wadah pemeliharaan induk 2 Bak kultur pakan alami Wadah kultur Chlorella dan Rotifera 3 Bak sortir Wadah pemeliharaan induk 4 Pompa dan pipa Mentransfer air ke bak induk 5 Pompa Mendistribusikan air 6 Blower Menyuplai oksigen 3.3. Prosedur Kerja 3.3.1. Persiapan Wadah induk 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan pencucian bak pemeliharaan induk yaitu penggosok panci atau sikat, selang, selang aerasi dan batu aerasi 2. Disiram dengan air laut kemudian dinding dan dasar bak disikat dan digosok menggunakan penggosok panci kemudian disemprot dengan air laut menggunakan selang supaya lumut dan kotorannya terlepas. 3. Dibersihkan selang dan batu aerasi dengan cara digosok sampai bersih. 4. Dikeringkan bak (dijemur) selama satu hari. 5. Diisian air bak pemeliharaan induk sebanyak 70 % dari volume bak. 6. Disetiap bak dilengkapi dengan aerasi sebanyak 16 titik dengan jarak antar aerasi 50 cm dan 10 cm diatas dasar bak. Kemudia aerasi diatur dengan kekuatan sedang. 3.3.2. Persiapan Air a. Air Laut 1. Air laut dipompa masuk ke dalam bak reservoar I melewati pressure filter dengan bantua pompa 10 PK, dengan diameter pipa 6 inchi. Air laut ditampung pada bak reservoar dengan kapasitas 200 ton, kemudian diberikan kaporit 10-15 ppm dan ditebar secara merata di permukaan air dan diaerasi (blower dinyalakan) 1-2 jam supaya tercampur merata. 2. Setelah itu diberi Natrium Thiosulfat 3-5 ppm untuk menetralkan bau kaporit (blower dinyalakan 1-2 jam supaya tercampur merata). 3. Air ditransfer ke Reservoar II melalui filter grafitasi yang diberi arang aktif dan pasir kuarsa. Filter bag dipasang di ujung pipa air masuk ke Reservoar II. 4. Air yang sudah netral dan sudah melewati filter didistribusikan ke setiap bak pemeliharaan larva dan bak kultur pakan alami. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Hasil pengamatan terlampir di lampiran 4.2 Pembahasan 4.2.1.Sarana Pokok a.Fasilitas Pokok  Fasilitas pokok yang dimanfaatkan secara langsung untuk kegiatan produksi adalah bak penampuga air tawar dan air laut, bak pemeliharaan larva, bak pemeliharaan induk dan inkubasi telur serta bak pakan alami.  Bak penampugan air (reservoir) dibagun pada ketinggian sedemikian rupa sehinga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak dan sarana lainnya yg memerlukan air (tawar,laut,bersih).  Bak Pemeliharaan Induk berbentuk empat persegi panjang atau bulat degan kedalaman lebih dari 1 (satu) yang sudut-sudutnya dibuat lengkung dan di letakkan di luar ruangan dan langsung menerima cahaya tanpa dinding dan di tutup degan jaring agar induk tidak melompat keluar  Bak Pemeliharaan Telur terbuat dari akuarium kaca atau serat kaca degandaya tampung lebih dari 2.000.000 butir telur pada kepadata 10.000 butir per liter  Bak Pemeliharaan Larva yang berpungsi juga sebagai bak penetasan telur dapat terbuat dari serat kaca maupun konsturksi beton,sebaikx berwarna aga gelap,berukuran(4x5x1,5) m3 degan volume 6 dan 13 ton berbentuk bujur sangkar dan persegi panjang dan diletakkan di dalam bagunan tanpa atap dan cahaya matahari langsung tanpa dinding balik. b. Persiapan Bak Bak yang digunakan untuk pemeliharaan induk terserah bervolume berapa yang penting dlam satu induk ikan membutuhkan ruang 1 meter kubik. Bak yang digunakan hrus benar bersih dari kotoran supaya ikan tidak terkena penyakit Pengerigan dilakukan untuk membunuh siklus hidup dalam bak c.. Sirkulasi/ Pergantian Air Air dalam bak pemeliharaan induk harus benar2 netral dan pergantian air dilakukan selama 24 jam. Dan penyiponan bak dilakukan 1 bulan 1x atau pembersihan dilakukan sebaik jga bak induk kelihatan kotor. d.Pemberian Pakan Pakan diberikan 2 kali dalam sehari yaitu pagi dan siang hari. Pakan diberikan sesuai Gambar 4.1 Bak induk 4.1.2 Pembenihan Ikan Bandeng a. Pemeliharaan induk ikan bandeng, dilakukan dengan cara mempersiapkan wadah, membuat 2 buah saluran pada setiap bak, dilakukan pemeriksaan jenis kelamin dan kematangan telur, pemberian pakan 2 kali sehari, serta memperhatikan pengelolaan airnya. b.Pematangan induk secara hormonal dilakukan dengan cara merangsang perkembangan gonad dengan manipulasi lingkungan dan penanganan hormonal. c. Proses seleksi dan sampling kematangan gonad melalui metode kanulasi dan stripping, Menurunkan volume air d. Pemijahan induk terjadi secara spasial. Telah terjadinya pemijahan ditandai dengan induk jantan yang selalu mengikuti betina, selanjutnya induk jantan mengeluarkan sperma dan induk betina mengeluarkan telur. e. Penetasan telur pada bak bersih. Telur menetas sekitar 24 jam setelah penebaran dalam bak penetasan telur. f. Pemeliharaan larva dilakukan dengan cara memberikan pakan pertama pada larva setelah berumur 2 hari, setelah itu pakan yang diberikan disesuaikan dengan usia larva. 4.2.3.Pemeliharaan Induk Pertama siapkan wadah pemeliharaan yaitu 2 buah bak beton dengan kapasitas 200 ton/baknya. Kedalaman 3-4 m dan berdiameter 10 m.Setiap bak induk dibuat 2 buah saluran pembuangan pada dasar dan sisi atas bak dengan ukuran 4-6 inchi.Selama induk bandeng dipelihara dalam bak pemeliharaan dilakukan pemeriksaan jenis kelamin dan kematangan telur. Jenis pakan yang diberikan berupa pellet terapung sebanyak 2 - 3 % dari berat tubuh induk per hari.Frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari.Perlu diperhatikan pula pengelolaan airnya.Penggantian air sebanyak 200% per hari. 4.2.4.Pematangan Induk Secara Hormonal Perkembangan gonad induk dapat dirangsang melalui dua cara yaitu manipulasi lingkungan dan penanganan hormonal. 4.2.5.Hormon yang digunakan adalah LHRH-a. Hormon tersebut diimplantasikan ke dalam tubuh induk dalam bentuk pellet berhormon dengan dosis 200 mikrogram per ekor induk.Implantasi dilakukan diatas linea lateralis dan di bawah sirip punggung.lkan dipegang dengan posisi punggung sedikit di atas permukaan air lalu salah satu sisik bagian kanan dibuang dengan menggunakan ujung scalpel yang tumpul lalu daerah tersebut ditoreh sedalam ± 1 cm.Posisi alat penyuntik saat hormon saat penyuntikan diusahakan 450 terhadap punggung ke arah depan.Alat penyuntik berisi pellet berhormon dimasukkan sedalam ± 2 cm kemudian hormon dilepas dan ditarik pelan-pelan.Implantasi dilakukan satu bulan sekali hingga induk memijah.  Seleksi dan Sampling Kematangan Gonad Pemeriksaan jenis kelamin dan kematangan gonad dilakukan dengan metode kanulasi dan stripping.Sampling kematangan induk diawali dengan menurunkan volume air bak 20 - 30 cm dari dasar bak.Induk kemudian ditangkap dengan menggunakan jaring atau serokan dan dipindahkan ke dalam bak penampungan yang bervolume 1.000 -1.500 liter.Setelah induk semua terkumpul di bak penampungan, 2 - 4 ekor induk dipindahkan ke bak pembiusan yang bervolume 500 liter dan diisi air laut sekitar 1 / 3 volume bak.Induk dibius dengan menggunakan phenoxy etanol 200 - 300 pp. 4.2.6.Pemijahan Induk Setelah selesai sampling dan seleksi induk dipindahkan kembali ke bak pemeliharaan. Pemijahan terjadi secara parsial dimana telur yang dikeluarkan merupakan telur yang sudah matang, sedangkan yang belum matang terus berkembang di dalam tubuh ikan untuk pemijahan berikutnya.Telah terjadinya pemijahan ditandai dengan tingkah laku induk jantan yang selalu mengikuti betina.Selanjutnya induk jantan akan mengeluarkan sperma dan induk betina akan mengeluarkan telur.  Penetasan Telur Wadah yang digunakan untuk penetasan adalah bak berbentuk empat persegi panjang berukuran 6,2 x 3 x 1,5 m.Sebelum bak digunakan dibersihkan dahulu dan segala kotoran.Bak dibersihkan dengan melarutkan kaporit 100 ppm dalam ember 10 liter setelah itu dibiarkan selama 24 jam. Kemudian hari berikutnya bak dibilas dengan air tawar dan dikeringkan selama 1 - 3 hari. Pengisian air dengan volume mencapai 7,2 liter.Telur akan menetas kurang lebih 24 jam setelah penebaran dalam bak penetasan telur. Pada suhu 28 - 30 0C dengan salinitas 32 ppt. 2.2.7.Kualitas Air a.Suhu Salah satu indikator untuk mengetahui kualitas air adalah suhu. Suhu air sangat berkaitan erat dengan konsentrasi jenuh oksigen terlarut dalam air dan laju konsumsi oksigen hewan air. Suhu air optimal bagi ikan bandeng terletak antara 26 C 33 C. Pada suhu 18 C 25 C, ikan bandeng masih dapat bertahan hidup, tetapi nafsu makannya mulai menurun. Suhu air 12 C 18 C mulai berbahaya bagi ikan, sedangkan pada suhu air di bawah 12 C ikan bandeng mati kedinginan (Ahmad, 1998). b. Salinitas Ikan bandeng mampu menyesuaikan diri terhadap salinitas air, sehingga dapat hidup di air tawar (salinitas antara 0 5 ppt) maupun air asin (salinitas > 30 ppt). Namun karena ikan bandeng dibudidayakan untuk tujuan komersial maka rentan salinitas optimal perlu dipertahankan. Pada rentan salinitas optimal (20 25 ppt), ganggang-ganggang dasar (klekap) yang menjadi makanan alami bagi ikan bandeng dapat tumbuh dengan baik, sehingga dapat mengurangi biaya pembelian pakan (Alie, 1988) c. pH Mutu air tambak juga harus alkalis (pH berkisar antara 7,5 8,7). pH merupakan indikator baik buruknya lingkungan air, sehingga angka pH ini dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang daya produksi potensial air itu akan mineral, yang menjadi pokok pangkal segala macam hasil perairan itu. Air yang agak basa misalnya, dapat lebih cepat mendorong proses pembongkaran bahan organik menjadi garam mineral, yang akan diserap sebagai bahan makanan oleh tumbuh-tumbuhan renik di dalam air, yang merupakan makanan alami bagi ikan bandeng. Sebaliknya bila air itu asam (pH air rendah), maka daya produksi potensialnya tidak begitu baik (Taufik, 1999). 2.2.8 Hama dan Penyakit Pada Ikan Bandeng (Chanos chanos) Menurut Ahmad (1999), penyakit penting yang sering menyerang ikan bandeng adalah : 1. Pembusukan sirip, disebabkan oleh bakteri. Gejalanya sirip membusuk dari bagian tepi. 2. Vibriosis, disebabkan oleh bakteri Vibriosis sp. Gejalanya nafsu makan turun, pembusukan sirip, dan bagian perut bengkak oleh cairan. 3. Penyakit oleh protozoa. Gejalanya nafsu makan hilang, mata buta, sisik terkelupas, insang rusak, banyak berlendir. 4. Penyakit oleh cacing renik. Sering disebabkan oleh cacing Diploctanum yang menyerang bagian insang sehingga menjadi pucat dan berlendir. Penyakit dari bakteri, parasit dan jamur disebabkan lingkungan yang buruk, dan penurunan daya tahan tubuh ikan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh tingginya timbunan bahan organik dan pencemaran lingkungan dari aliran sungai. Bahan organik dan kotoran akan membusuk dan manghasilkan gas-gas yang berbahaya. Ketahanan tubuh ikan ditentukan konsumsi nutrisinya (Anonim, 2001). BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan praktikum pembenihan yang telah dilakukan di ujung bate dapat disimpulkan bahwa : 1. Kegiatan yg berperan penting dalam pemeliharaan induk bandeng · Persiapan alat dan bahan · Pegisian air media · Pemanenan telur · Penyiponan · Penaganan selama pemeliharaan · Pemberian pakan buatan · Sirkulasi 2. Dalam pemanenan telur harus di lakukan degan hati-hati agar telur tidak rusak. 3. Setelah 24 jam telur telah menetas menjadi larva. 5.2 Saran Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut: 1. Pada devisi induk bandeng sudah ada sarana yang rusak dan tidak layak pakai,sebaikx diganti untuk memperlancar produksi induk bandeng 2. Bak induk yang mulai bocor, sebaikx diperbaiki sebelummegalami kehancuran yang parh DAFTAR PUSTAKA Anindiastuti, 1995. Pemeliharaan Larva Ikan Bandeng (Chanos-chanos Forskall). Balai Budidaya Air Payau, Jepara. Aslamyah, S. 2008. Pembelajaran Berbasis SCL pada Mata Kuliah Biokimia Nutrisi .UNHAS Makassar. Ayusta, I.M.P, 1991. Pengaruh Pemberian Pakan Alami Terhadap Kelangsungan Hidup Larva Bandeng. Skripsi Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, Denpasar. 12 Hal. Cholik, 1990. Penetasan Telur dan Perawatan Larva Bandeng di Pembenihan. Effendi, I., 1978. Biologi Perikanan (Bag. I Study Natural History). Fakultas Perikanan, IPB.Bogor. 105 hal. Kordi dan Ghufron. 2005. Budidaya Ikan Laut. Rineka Cipta. Jakarta. Murtidjo, B. A,. 2002. Bandeng. Kanisius. Yogyakarta Purnomowati, I., Hidayati, D., dan Saparinto, C. 2007. Ragam Olahan Bandeng. Kanisius. Yogyakarta. Rinrin Sriyani, 1993. Perkembangan dan Kelangsungan Hidup Embrio dan Larva Bandeng (Chanos-chanos Forsk). Skripsi. Program Studi Budidaya Perikanan. Fakultas Perikanan. IPB.Bogor. Rumiyati, S. 2012. Budidaya Bandeng Super. Pustaka Baru Press. Yogyakarta. Sudradjat, A. 2008. Budidaya 23 Komoditas Laut Menguntungkan. Penebar Swadaya, Jakarta. Willyarta Yudisti, 2010. Teknik budidaya Chlorella sp. dan Beberapa Pemanfaatannya dalam Kehidupan Sehari-hari. Program Studi Teknologi Akuakultur Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta. Jakarta.

Judul: Laporan Teknik Pembenihan

Oleh: Yunus Thamren

Ikuti kami