Quo Vadis Ilmu Hubungan Internasional

Oleh Fardhal V . Ramadhan

583,6 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Quo Vadis Ilmu Hubungan Internasional

QUO VADIS ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL Fardhal Virgiawan Ramadhan1 Universitas Jenderal Achmad Yani 2017 Pendahuluan Apakah yang dimaksud dengan Hubungan Internasional/ HI, sebuah pertanyaan yang akan mengarahkan kita pada ruang lingkup dan konsep-konsep dasar dari disiplin ini. Pendapat para sarjana HI tentang hal ini sangat beragam. Pada awal proses perkembangannya, ada di antara mereka yang berpendapat bahwa HI mencakup semua hubungan antar negara. Misalkan saja kita dapat mengutip pendapat dari Schwarzenberger yang menyatakan: bahwa ilmu HI adalah bagian dari sosiologi yang khusus mempelajari masyarakat internasional (sociology of international relations). Jadi, ilmu HI dalam arti umum tidak hanya mencakup unsur politik saja, tetapi juga mencakup unsur-unsur ekonomi, sosial, budaya, hankam dsb, seperti misalnya, perpindahan penduduk (imigrasi dan emigrasi), pariwisata, olimpiade (olah raga), atau pertukaran budaya (cultural exchange). Sementara, di pihak lain, terdapat sarjana HI yang justru ingin memperkecil ruang lingkup ilmu HI dengan menekankan pada aspek politik dan hubungan antar negara, yang dapat dipelajari melalui politik luar negeri negara-negara yang bersangkutan. Secara khusus Hoffman menyatakan bahwa ilmu HI sebagai subjek akademis, terutama memperhatikan hubungan politik antar negara. Pembahasan 1. Perkembangan Quo Vadis dalam Hubungan Internasional ? Menurut referensi wikipedia, Quo Vadis adalah sebuah kalimat dalam bahasa latin yang jika diterjemahkan secara harafiah berarti : "Kemana Engkau Pergi?". Kalimat ini adalah terjemahan Latin dari petikan dari kitab Perjanjian Baru, Injil Yohanes, bab 16 ayat 5. Quo Vadis sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Classical Latin yaitu, kʷoː waːdis, dan Ecclesiastical Latin kʷoː vadiːs adalah sebuah kalimat dalam bahasa latin yang bila diterjemahkan secara harfiah berarti: "Ke mana engkau pergi?". Jika dihubungkan dengan Ilmu 1 Mahasiswa Hubungan Internasional, NIM 6211161141 yang sedang menjalankan studi S-1 di Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi. Hubungan Internasional, Quo Vadis memiliki arti yaitu, “mau dibawa kemana ilmu hubungan internasional?” atau bisa diperjelas menjadi “kemana arah perkembangan ilmu hubungan internasional?” Sebagai sebuah disiplin, Hubungan Internasional dianggap memiliki ’hubungan simbiosis’ dengan ’dunia nyata’ (Amstrong, 2003: 358). Dalam pandangan ini, Hubungan Internasional lahir dari kebutuhan-kebutuhan untuk menjelaskan atau memahami realitas hubungan internasional. Oleh karenanya, parameter untuk menilai kemajuan Hubungan Internasional sebagai sebuah disiplin harus dilakukan denganmelihat relevansi disiplin tersebut dalam dunia nyata. Berkembangnya Hubungan Internasional sebagai sebuah disiplin akademis di Inggris yang ditandai dengan pembentukan jabatan profesor Hubungan Internasional di Aberystwyth University di Wales pada tahun 1919 dimaknai sebagai respon dunia akademik terhadap kebutuhan untuk mengkaji masalah-masalah yang berkaitan dengan perang dan perdamaian. Juga, pesatnya perkembangan HubunganInternasional di Amerika sejak tahun 1945 seringali dikaitkan dengan konteks riil hubungan internasional saat itu, yakni meningkatnya kekuatan AS serta munculnya ancaman Uni Soviet dan negara-negara komunis. Berkembangnya pemikiran-pemikiran mengenai hukum inernasional pada abad ke-16 dan 17 di Eropa juga tidak bisa dilepaskan dari konteks riil saat itu.Pemikiran-pemikiran yang dikembangkan oleh Gentili, Grotius, de Vattel, Victoriamaupun Soarez jelas merupakan produk dari upaya-upaya mereka untuk menanggapi berkembangnya tatanan pasca abad pertengahan serta menguatnya ekspansi Eropa kedaerah-daerah jajahan. Asumsi mengenai hubungan simbiosis antara Hubungan Internasional dengan dunianyata ini bukan hanya bertahan tetapi juga tetap mendominasi studi HubunganInternasional hingga tahun 1970an. 2. Perkembangan Quo Vadis dalam disiplin Ilmu Hubungan Internasional ? Dewasa ini HI merupakan disiplin atau cabang ilmu pengetahuan yang sedang tumbuh. Kalau kita mengatakan sesuatu sedang tumbuh, maka ini menunjukkan suatu hal yang ada dalam proses. Proses ini pula mengandung arti sedang berkembang, dan sekaligus menunjukkan bahwa bentuk finalnya belum tercapai. Disiplin ini berkembang terutama di AS dan Inggris. Sedangkan di negara-negara Eropa lainnya orang bersikap lebih hati-hati untuk menyimpang dari disiplin-disiplin yang lebih dulu ada. Sebelum PD I, mata kuliah dalam bidang ini pada umumnya terbatas pada sejarah diplomasi, hukum internasional, dan ekonomi internasional. Setelah PD I ditambah dengan pelajaran/ kuliah HI dan organisasi internasional. Dalam tahun 1930-an politik internasional, geografi politik, dan opini publik mulai banyak Universitas Jenderal Achmad Yani 2 mendapat perhatian. Di AS beberapa universitas mulai menyusun kurikulum dan kadangkadang memberikan gelar kesarjanaan yang tinggi dalam bidang HI. Kemudian di Inggris pada umumnya yang menjadi pokok perhatian adalah sejarah politik internasional dan perkembangan serta bekerjanya lembaga-lembaga internasional. Kecenderungan ini mungkin disebabkan bahwa pengetahuan tentang aspek-aspek hubungan antarnegara ini dapat membantu usaha tercapainya perdamaian dunia saat itu. PD II dan pembentukan PBB telah memberikan dorongan baru kepada ilmu pengetahuan ini, bahkan telah menyebabkan timbulnya gagasan pemerintahan dunia (world government). Akhirnya pada tahun 1940-an dunia mengalami Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Pada tahun 1960-an dan 1970-an perkembangan studi HI semakin kompleks dengan masuknya aktor IGO’s dan INGO’s serta makin kuatnya peran negara-negara di luar AS dan Uni Soviet dalam kancah HI. Pada tahun 1980-an pola HI masih bersifat state centric (dalam arti masih biploar) tetapi muncul kekuatan-kekuatan sub groups yang mengemuka. Pada dekade 1980-an studi HI adalah studi tentang interaksi yang terjadi antara negara-negara yang berdaulat di dunia, juga merupakan studi tentang aktor bukan negara yang perilakunya mempunyai pengaruh terhadap kehidupan negara-bangsa. HI mengacu pada segala aspek bentuk interaksi. Studi tentang HI banyak diartikan sebagai suatu studi tentang interaksi antar aktor yang melewati batas-batas negara. The Dictionary of World Politics mengartikan HI sebagai suatu istilah yang digunakan untuk melihat seluruh interaksi antara aktor-aktor negara dengan melewati batas-batas negara. HI berkaitan dengan politik, sosial, ekonomi, budaya dan interaksi lainnya di antara aktor-aktor negara dan aktor-aktor non-negara. HI juga mengkaji tentang politik internasional walaupun istilah-istilah seperti HI, politik dunia (world politics) dan politik internasional memiliki arti yang sama (sinonim). HI didefinisikan sebagai studi tentang interaksi antara beberapa aktor yang berpartisipasi dalam politik internasional, yang meliputi negara-negara, organisasi internasional, organisasi non-pemerintah, kesatuan subnasional seperti birokrasi dan pemerintah domestik serta individu-individu. Tujuan dasar studi HI adalah mempelajari perilaku internasional, yaitu perilaku para aktor negara maupun non-negara, di dalam arena transaksi internasional. Perilaku ini bisa berwujud kerjasama, pembentukan aliansi, perang, konflik serta interaksi dalam organisasi internasional. 3. Quo Vadis Hubungan Internasional di Indonesia ? Posisi dan kontribusi studi Hubungan Internasional Indonesia dalam perkembangan disiplin Hubungan Internasional sejauh ini tidak lebih dari pada sekedar konsumen loyal. Universitas Jenderal Achmad Yani 3 Konsumerisme teoritis ini terlihat dengan jelas misalnya dariantusiasme ilmuwan-ilmuwan muda Hubungan Internasional Indonesia terhadapberbagai teori-teori post-positivis. Ada dua alasan untuk pesimisme ini: eksternal dan internal : 1. Yang pertama mengacu pada perkembangan Hubungan Internasional sebagai sebuah disiplin secara umum. 2. Yang kedua mengacu pada dinamika, jika ada, internal Hubungan Internasional di Indonesia. Di Indonesia, Hubungan Internasional hampir tidak pernah menjadi fokus utama dalam kegiatan akademik para ilmuwan Hubungan Internasional. Sebagian besar ilmuwan Hubungan Internasional hanya menjadi ’ilmuwan’ Hubungan Internasional di depan kelas. Dalam kegiatan akademik yang lebih luas, seperti riset, konferensi, seminar maupun publikasi, mereka lebih merupakan ’ilmuwan’ untuk berbagai bidang keilmuan yang lain seperti misalnya kebijakan publik, proses politik, politik komparatif, studi kawasan atau studi konflik. Porsi Hubungan Internasional, jika ada, sangat minim. Kurangnya fokus dan perhatian ilmuwan Hubungan Internasional menjadikan komunitas ilmuwan Hubungan Internasional tidak pernah berkembang di Indonesia. Konferensi ataupun pertemuan ilmiah yang membahas hubungan internasional secara spesifik hampir tidak pernah berlangsung. Berangkat dari kondisi yang sangat memprihatinkan ini, nampaknya merupakan sebuah utopia untuk menggagas peran Hubungan Internasional di Indonesia bagi perkembangan disiplin ini secara keseluruhan. Tetapi, mengembangkan HubunganInternasional di Indonesia jelas bukannya tidak memiliki makna. Upaya-upaya kecilyang tengah dibangun seperti lokakarya ini merupakan langkah awal untuk mengubahkondisi pesimistis di atas, setidaknya dalam jangka panjang. Kesimpulan Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Tujuan dasar studi HI adalah mempelajari perilaku internasional, yaitu perilaku para aktor negara maupun non-negara, di dalam arena transaksi internasional. Perilaku ini bisa berwujud kerjasama, pembentukan aliansi, perang, konflik serta interaksi dalam organisasi internasional. Hubungan Internasional selalu berubah sesuai dengan berkembangnya. Perubahan ini memicu pergerakan dalam dunia internasional. Cakupan Hubungan Internasional dikenal memiliki objek kajian yang sangat luas, maka dari itu Hubungan Internasional dinilai sangat abstrak dan kompleks. Hubungan Universitas Jenderal Achmad Yani 4 Internasional sebagai displin ilmu harus dapat menjawab setiap permasalahan dunia baik masa lampau, masa kini hingga masa depan. Studi tentang HI banyak diartikan sebagai suatu studi tentang interaksi antar aktor yang melewati batas-batas negara. The Dictionary of World Politics mengartikan HI sebagai suatu istilah yang digunakan untuk melihat seluruh interaksi antara aktor-aktor negara dengan melewati batas-batas negara. Dalam era globalisasi telah membawa suatu dampak yang besar dalam perkembangan ilmu Hubungan Internasional dimana sebelumnya struktur politik dunia masih bersifat anarki dimana tidak ada kekuasaan tertinggi selain negara, sekarang telah berubah menjadi sistem global governance dimana pemerintah yang mengatur secara keseluruhan semua aktor yang berhubungan dengan negara tersebut. Kajian Hubungan Internasional saat ini juga tidak hanya membahas tentang politik saja seperti perjanjian perdamaian atau perang. Studi Hubungan Internasional juga fokus dalam hal kelangsungan hidup dan upaya manusia dalam mendapatkan keadilan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Rekomendasi Di Indonesia, Hubungan Internasional hampir tidak pernah menjadi fokus utama dalam kegiatan akademik para ilmuwan Hubungan Internasional. Sebagian besar ilmuwan Hubungan Internasional hanya menjadi ’ilmuwan’ Hubungan Internasional di depan kelas. Dalam kegiatan akademik yang lebih luas, seperti riset, konferensi, seminar maupun publikasi, mereka lebih merupakan ’ilmuwan’ untuk berbagai bidang keilmuan yang lain seperti misalnya kebijakan publik, proses politik, politik komparatif, studi kawasan atau studi konflik. Porsi Hubungan Internasional, jika ada, sangat minim. Kurangnya fokus dan perhatian ilmuwan Hubungan Internasional menjadikan komunitas ilmuwan Hubungan Internasional tidak pernah berkembang di Indonesia. Konferensi ataupun pertemuan ilmiah yang membahas hubungan internasional secara spesifik hampir tidak pernah berlangsung. Berangkat dari kondisi yang sangat memprihatinkan ini, nampaknya merupakan sebuah utopia untuk menggagas peran Hubungan Internasional di Indonesia bagi perkembangan disiplin ini secara keseluruhan. Tetapi, mengembangkan HubunganInternasional di Indonesia jelas bukannya tidak memiliki makna. Ilmu Hubungan Internasional akan selalu berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan zaman, dan karena ilmu hubungan internasional memiliki cakupan yang luas dan dinamis, perlu dikaji ulang oleh para penstudi HI relevansi antar teori dan keadaan dilapangan, sehingga tidak Universitas Jenderal Achmad Yani 5 akan menimbulkan great debate seperti dahulu. Namun, memang bila dilihat saat ini perkembangan HI bisa dikatakan pesat dan mengalami banyak perubahan dan perlu diingat bahwa perubahan ini jangan sampai melunturkan dan merubah nilai-nilai HI yang sudah ada sejak dulu. DAFTAR PUSTAKA Indrasari. 2006. Quo Vadis Indonesia : Problem dan Solusi. Bandung: Worldcat Universitas Jenderal Achmad Yani 6

Judul: Quo Vadis Ilmu Hubungan Internasional

Oleh: Fardhal V . Ramadhan

Ikuti kami