Psikologi Agama Sebagai Disiplin Ilmu

Oleh Almas Laitani.xia4

118,6 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Psikologi Agama Sebagai Disiplin Ilmu

PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU A. Psikologi Agama dan Cabang Psikologi Para ilmuwan (Barat) menganggap filsafat sebagai induk dari segala ilmu. Sebab filsafat merupakan tempat berpijak kegiatan keilmuwan (Jujun S. Suriasumanteri, 1990:22). Dengan demikian, psikologi termasuk ilmu cabang dari filsafat. Dalam kaitan ini, psikologi agama dan cabang psikologi lainnya tergolong disiplin ilmu ranting dari filsafat. Sebaliknya jika psikologi dinilai sebagai disiplin ilmu yang otonom yang kemudian darinya berkembang berbagai disiplin ilmu cabangnya, maka psikologi agama dapat disebut sebagai cabang psikologi. Oleh karena itu, sebutan psikologi agama sebagai ilmu cabang dari psikologi agaknya dapat diterima. Sehubungan dengan hal itu, maka pemahaman psikologi agama dan cabang psikologi seperti yang dimaksud dalam pembahasan berikut adalah menurut pendekatan yang terakhir. Psikologi secara umum mempelajari gejala-gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran dengan pikiran (cognisi), perasaan (emotion), dan kehendak (conasi). Gejala tersebut secara umum memiliki ciri-ciri yang hampir sama pada diri manusia dewasa, normal dan beradab. Dengan demikian ketiga gejala pokok tersebut dapat diamati melalui sikap dan perilaku manusia. Namun terkadang ada di antara pernyataan dalam aktivitas yang tampak itu merupakan gejala campuran, sehingga para ahli psikologi menambahnya hingga menjadi empatgejala jiwa utama yang dipelajari psikologi, yaitu pikiran, perasaan, kehendak dan gejala campuran. Adapun yang termasuk gejala campuran ini seperti intelegensi, kelelahan maupun gengsi. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya mulai terungkap bahwa gejala-gejala jiwa tersebut tidak sama pada manusia yang berbeda usia. Gejala jiwa yang melatarbelakangi aktivitas, sikap dan tingkah laku anak-anak berbeda dengan anak remaja, serta juga terdapat perbedaan antara remaja dengan orang dewasa maupun orang yang sudah lanjut usia. Kenyataan ini mendorong para ahli psikologi untuk mengembangkan cabang-cabang psikologi yang dapat digunakan untuk mempelajari gejala-gejala jiwa manusia pada tingkat usia tertentu. Dari sini timbullah ilmu-ilmu cabang psikologi seperti psikologi anak, psikologi remaja, psikologi orangtua. Psikologi anak secara umum mempelajari perkembangan kejiwaan pada usia kanakkanak. Sedangkan setelah anak menginjak usia pubertas hingga menjelang usia dewasa dibahas oleh cabang psikologi yang lain, yaitu psikologi remaja. Demikian pula untuk mempelajari tentang gejala jiwa manusia usia lanjut (manula) dikembangkan pula psikologi khusus sebagai cabang dari psikologi umum. Selanjutnya dalam kajian-kajian psikologi juga dijumpai berbagai perbedaan antara manusia yang sudah berbudaya tinggi (berperadaban) dengan manusia yang masih hidup secara sederhana (primitive), maka muncul pula psikologi primitive sebagai cabang berikutnya. Kemudian dalam kaitannya dengan kondisi mental ternyata manusia juga berbeda, sehingga untuk mempelajarinya diperlukan adanya psikologi khusus. Maka muncullah psikologi abnormal dan para psikologi. Manusia yang memiliki hambatan mental (mental handicapped) dengan tingkat Intellegensi Quotion (IQ) secara umum dikenal dengan sebutan abnormal yang negative. Sebaliknya yang memiliki IQ di atas normal yang dikenal dengan manusia cerdas (begaaf dan genius) cenderung disebut abnormal positif. Namun, di balik itu ditemui pula manusia yang dianugerah oleh Yang Maha Kuasa kemampuan inderawi yang istimewa. Mereka yang tergolong memiliki indera tambahan ini (indera keenam) dikenal dengan sebutan paranormal. Dalam kaitan ini pula timbul cabang-cabang psikologi abnormal dan para psikologi tersebut. Setelah lahirnya cabang-cabang psikologi dan kemudian menjadi disiplin ilmu yang otonom, pengembangannya tidak berhenti. Sebagai ilmu terapan, tampaknya psikologi berkaitan erat dengan kehidupan manusia secara pribadi maupun dengan lingkungan sosialnya. Kenyataan ini selanjutnya melahirkan cabang-cabang lagi menjadi psikologi kepribadian dan psikologi social. Di luar itu psikologi pun berkaitan dengan profesi dan pekerjaan. Di antara cabangcabang psikologi ini adalah psikologi klinis yang digunakan dlam bidang kedokteran. Kemudian dalam bidang pendidikan juga dikembangkan psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan, menurut H. Carl Wetherington adalah suatu studi tentang proses-proses yang terjadi dalam pendidikan; untuk menjadi orang yang terdidik dan untuk memahami serta memberikan petunjuk-petunjuk yang bijaksana kepada proses-proses pendidikan. (M.Buchori, 1982:2) Ternyata, seabad setelah psikologi diakui sebagai disiplin ilmu yang otonom, para ahli melihat bahwa psikologi pun memiliki keterkaitan dengan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan batin manusia yang paling dalam, yaitu agama. Para ahli psikologi kemudian mulai menekuni studi khusus tentang hubungan antara kesadaran agama dan tingkah laku agama. Kajian-kajian yang khusus mengenai agama melalui pendekatan psikologis ini sejak awal-awal abad ke-19 menjadi kian berkembang, sehingga para ahli psikologi yang bersangkutan melalui karya mereka telah membuka lapangan baru dalam kajian psikologi, yaitu psikologi agama. Sebagaimana latar belakang perkembangan cabang-cabang lainnya dari psikologi, maka psikologi agama pun kemudian mulai mendapat perhatian khusus, hingga menjadi disiplin yang otonom dengan nama psikologi agama. Menurut Robert H. Thouless, selama sekitar tiga puluh hingga empat puluh tahun terakhir ini jumlah penelitian terhadap permasalahan khusus dalam psikologi agama sudah banyak sekali. Pernyataan ini setidak-tidaknya menginformasikan, bahwa sebagai cabang dari psikologi, maka psikologi agama dianggap semakin penting dalam mengkaji tingkah laku agama. B. Pengertian Psikologi Agama Psikologi agama menggunakan dua kata yaitu psikologi dan agama. Kedua kata ini memiliki pengertian yang berbeda. Psikologi secara umum diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. (Jalaluddin, et al, 1979:77). Menurut Robert H. Thouless, psikologi sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah laku dan pengalaman manusia. Dari definisi-definisi yang dikemukakan tersebut secara umum psikologi mencoba meneliti dan mempelajari sikap dan tingkah laku manusia sebagai gambaran dari gejala-gejala kejiwaan yang berada dibelakangnya. Karena jiwa itu sendiri bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan manusia hanya mungkin dilihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang ditampilkannya. Memang manusia mungkin saja memanipulasi apa yang dialaminya secara kejiwaan, hingga dalam sikap dan tingkah laku terlihat berbeda, bahkan mungkin bertentangan dengan keadaan yang sebenarnya. Mereka yang sebenarnya sedih, dapat berpura-pura tertawa. Ataupun karena perasaan gembira yang bersangatan, dapat membuat seseorang menangis. Namun secara umum, sikap dan perilaku yang terlihat adalah gambaran dari gejala jiwa seseorang. Sikap dan perilaku baik yang tampak dalam perbuatan maupun mimic (air muka) umumnya tak jauh berbeda dari gejolak batinnya, baik cipta, rasa dan karsanya. Selanjutnya, agama juga menyangkut masalah yang berhubungan dengan kehidupan batin manusia. Agama sebagai bentuk keyakinan, memang sulit diukur secara tepat dan rinci. Hal ini pula barangkali yang menyulitkan para ahli untuk memberikan definisi yang tepat tentang agama. Harun Nasution merunut pengertian agama berdasarkan asal kata, yaitu al-Din, religi (relegere, religare) dan agama. Al-Din (Semit) berarti undang-undang atau hokum. Kemudian dalam Bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Sedangkan dari kata religi (Latin) atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Adapun kata agama terdiri dari a= tidak; gam= pergi, mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau diwarisi turun-temurun. Bertitik tolak dari pengertian kata-kata tersebut menurut Harun Nasution, intisarinya adalah ikatan. Karena itu agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan dimaksud berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tak dapat ditangkap dengan pancaindera, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Secara definitive, menurut Harun Nasution, agama adalah: 1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi. 2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia. 3. Mengikat diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada diluar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia. 4. Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu. 5. Suatu sistem tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari sesuatu kekuatan gaib. 6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada sesuatu kekuatan gaib. 7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia. 8. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul (Harun Nasution: 10). Selanjutnya Harun Nasution merumuskan ada empat unsur yang terdapat dalam agama, yaitu: a. Kekuatan gaib, yang diyakini berada diatas kekuatan manusia. Didorong oleh kelemahan dan keterbatasannya, manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan cara menjaga dan membina hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut sebagai realisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan gaib itu. b. Keyakinan terhadap kekuatan gaib sebagai penentu nasip baik dan nasip buruk manusia. Dengan demikian manusia berusaha untuk menjaga hubungan baik ini agar kesejahteraan dan kebahagiannya terpelihara. c. Respons yang bersifat emosionil dari manusia. Respons ini dalam realisasinya terlihat dalam bentuk penyembahan karena didorong oleh perasaan takut (agama primitive) atau pemujian yang didorong oleh perasaan cinta (monoteisme), serta bentuk cara hidup tertentu bagi penganutnya. d. Paham akan adanya yang kudus (sacred) dan suci. Sesuatu yang kudus dan suci ini adakalanya berupa kekuatan gaib, kitap yang berisi ajaran agama, maupun tempat-tempat tertentu (Harun Nasution: 11). Dalam istilahnya Robert H. Thouless menyebutkan sebagai keyakinan (tentang dunia lain). Dan ini membantu Thouless untuk mengajukan definisinya tentang agama. Menurutnya, dalam kaitan dengan psikologi agama, ia menyarankan definisi agama adalah sikap (cara penyesuan diri) dunia yang mencakup acuan yang menunjukan lingkungan lebih luas daripada lingkungan dunia fisik yang terikat ruang dan waktu—the spatiotemporal physical world (dalam hal ini, yang dimaksut adalah dunia spiritual). Robert H. Thouless dengan definisi itu ingin membedakan sikap-sikap yang bersumber dari suatu kepercayaan agam terhadap yang bersumber bukan dari agama, walaupun dalam realitasnya terhadap sikap yang sama. Sehubungan dengan hal itu, Thouless berpendapat bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang bertujuan mengembangkan pemahaman terhadap perilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap perilaku bukan keagamaan (Robert H. Thouless:25). Menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat, psikologi agama menelitidan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Di samping itu,psikologi agama juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut (Zakiah Daradjat, 1970:11). Psikologi agama dengan demikian merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkahlaku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi. Jadi penelaahan tersebut merupakan kajian empiris. C. Ruang Lingkup dan Kegunaannya Sebagai disiplin ilmu yang ototnom, psikologi agama memiliki ruang lingkup pembahasannya tersendiri yang dibedakan dari disiplin ilmu yang mempelajari masalah agama yang lainnya. Sebagai contoh, dalam tujuannya psikologi agama dan ilmu perbandingan agama memiliki tujuan yang tak jauh beda, yakni mengembangkan pemahaman terhadap agama dengan mengaplikasikan metode-metode penelitian yang bertipe bukan agama dan bukan teologis. Bedanya adalah, bila ilmu perbandingan agama cenderung memusatkan perhatiannya pada agama-agama primitive dan eksotis tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman dengan memperbandingkan satu agama dengan agama lainnya. Sebaliknya psikologi agama, seperti pernyataan Robert H. Thouless, memusatkan kajiannya paada agama yang hidup dalam budaya suatu kelompok atau masyarakat itu sendiri. Kajiannya terpusat pada pemahaman terhadap perilaku keagamaan tersebut dengan menggunakan pendekatan psikologi (Robert H. Thouless:25) Lebih lanjut, Prof. Dr. Zakiah Darajat menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama, yang dianutpen) Oleh karena itu, menurut Zakiah Daradjat, ruang lingkup yang menjadi lapangan kajian psikologi agama meliputi kajian mengenai: 1. Bermacam-macam emosi yang menjalar di luar kesadaran yang ikut menyertai kehidupan beragama orang biasa (umum), seperti rasa lega dan tenteram sehabis sembahyang, rasa lepas dari ketegangan batin sesudah berdoa atau membaca ayat-ayat suci, perasaan tenang, pasrah, dan menyerah setelah berdzikir dan ingat kepada Allah ketika mengalami kesedihan dan kekecewaan yang bersangkutan. 2. Bagaimana perasaan dan pengalaman seseorang secara individual terhadap Tuhannya, misalnya rasa tenteram dan kelegaan hati. 3. Mempelajari, meneliti, dan menganalisis pengaruh kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati (akhirat) pada tiap-tiap orang. 4. Meneliti dan mempelajari kesadaran dan perasaan orang terhadap kepercayaan yang berhubungan dengan surge dan neraka serta dosa dan pahala yang turut memberi pengaruh terhadap sikap dan tingkah lakunya dalam kehidupan. 5. Meneliti dan mempelajari bagaimana pengaruh penghayatan seseorang terhadap ayat-ayat suci kelegaan batinnya. Semuanya itu menurut Zakiah Darajat tercakup dalam kesadaran agama (religious counsciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Yang dimaksud dengan kesadaran agama adalah bagian/segi agama yang hadir (terasa) dalam pikiran yang merupakan aspek mental dari aktivitas agama. Sedangkan pengalaman agama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliyah). Karenanya, psikologi agama tidak mencampuri segala bentuk permasalahan yang menyangkut pokok keyakinan suatu agama, termasuk tentang benar salahnya atau masuk akal dan tidaknya keyakinan agama (Zakiah Daradjat:12-15). Tegasnya psikologi agama hanya mempelajari dan meneliti fungsi-fungsi jiwa yang memantul dan memperlihatkan diri dalam perilaku dalam kaitannya dengan kesadaran dan pengalaman agama manusia. Ke dalamnya juga tidak termasuk unsur-unsur keyakinan yang bersifat abstrak (gaib) seperti tentang Tuhan, surge dan neraka, kebenaran sesuatu agama, kebenaran kitab suci dan lainnya, yang tak mungkin teruji secara empiris. Dengan demikian, psikologi agama menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat adalah mempelajari kesadaran agama pada seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya (Zakiah Daradjat:15). Persoalan pokok dalam psikologi agama adalah kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah laku agama, kata Robert H. Tholess. Atau kajian terhadap tingkah laku agama dan kesadaran agama. Seperti diketahui bahwa psikologi agama sebagai salah satu cabang dari psikologi juga mrupakan ilmu terapan. Psikologi agama sejalan dengan ruang lingkup kajiannya telah banyak memberi sumbangan dalam memecahkan peroalan kehidupan manusia dalam kaitannya dengan agama yang dianutnya. Kemudian bagaimana rasa keagamaan itu tumbuh dan berkembangg pada diri seseorang dalam tingkat usia tertentu, ataupun bagaimana perasaan keagamaan itu dapat mempengaruhi ketenteraman batinnya, maupun berbagai konflik yang terjadi dalam diri seseorang hingga ia menjadi lebih taat menjalankan ajaran agamanya atau meninggalkan ajaran itu sama sekali. Hasil kajian psikologi agama tersebut ternyata dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti dalam bidang pendidikan, psikoterapi dan mungkin pula dalam lapangan lainnya dalam kehidupan. Bahkan sudah sejak lama pemerintah colonial Belanda memanfaatkan hasil kajian psikologi agama untuk kepentingan politik. Pendekatan agama yang dilakukan oleh Snouck Hurgronje terhadap para pemuka agama dalam upaya mempertahankan politik penjajahan Belanda di tanah air, barangkali dapat dijadikan salah satu contoh kegunaan psikologi agama. Dibidang industry juga psikologi agama dapat dimanfaatkan. Sekitar tahun 1950-an di perusahaan minyak Stanvac (Plaju dan Sungai Gerong) diselenggarakan ceramah agama Islam untuk para buruhnya. Para penceramah adalah para pemuka agama setempat. Kegiatan berkala ini diselenggarakan didasarkan atas asumsi bahwa ajaran agama mengandung nilai-nilai moral yang dapat menyadarkan para buruh dari perbuatan yang tidakterpuji dan merugikan perusahaan. Sebaliknya dari kegiatan tersebut dievaluasi, dan ternyata pengaruh ini dapat mengurangi kebocoran seperti pencurian, manipulasi maupun penjualan barang0barang perusahaan yang sebelumnya sukar dilacak. Dalam ruang lingkup yang lebh luas, Jepang ternyata menggunakan pendekatan psikologi agama dalam membangun negaranya. Bermula dari mitos bahwa Kaisar Jepang adalah titisan Dewa Matahari (Amiterasu Omikami), mereka dapat menumbuhkan jiwa Bushido, yaitu ketaatan terhadap pemimpin. Mitos ini telah dapat membangkitkan perasaan agama para prajurit Jepang dalam Perang Dunia II untuk melakukakn Harakiri (bunuh diri) dan ikut dalam pasukan Kamikaze (pasukan berani mati). Dan setelah usai Perang Dunia II, jiwa Bushido tersebut bergeser menjadi etos kerja dan disiplin serta tanggung jawab moral. Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat dilakukan untuk membangkitakan perasaan da kesadaran agama. Pengobatan pasien dirumah-rumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan banyak dilakukan dengan menggunakan psikologi agama ini. Demikian pula dalam lapangan pendidikan psikologi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan peserta didik. D. Psikologi Agama dan Pendidikan Islam Pendidikan islam di sini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagaimana hakikat kejadiannya. Jadi dalam pengertian ini pendidikan Islam tidak dibatasi oleh institusi (kelembagaan) ataupun pada lapangan pendidikan tertentu. Pendidikan Islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas. Adapun yang dimaksud dengan bertanggung jawab dalam pengertian ini adalah orangtua. Sedangkan para guru ataupendidik lainnya mrupakan perpanjangan tangan para orangtua. Maksudnya, tepat tidaknya para guru atau pendidik yang dipilih oleh orangtua untuk mendidik anak mereka sepenuhnya menjadi tanggung jawab para orangtua. Maka pendidikan Islam meletakkan dasarnya adalah pada rumah tangga. Seiring dengan tanggung jawab itu, maka para orang tua dan para guru dalam pendidikan Ilam berfungsi dan berperan sebagai Pembina, pembimbing, pengembang serta pengarah potensi yang dimiliki anak agar mereka menjadi pengabdi Allah yang taat dan setia, sesuai dengan hakikat penciptaan manusia (QS. 51:56) juga dapat berperan sebagai khalifah Allah dalam kehidupan di dunia (QS 2:30). Selain itu dalam pelaksanaannya aktivitas pendidikan seperti itu diterapkan sejak usia bayi dalam buaian hingga akhir hayat, seperti tuntunan Rasulullah SAW. Pendidikan Islam dalam konteks pengertian seperti yang dianjurkan Rasulullah SAW., inilah yang dimaksud dengan pendidikan Islam dalam arti yang seutuhnya. Dalam kaitan ini, pendidikan Islam erat kaitannya dengan psikologi agama. Bahkan psikologi agama diguakan sebagai salah satu pendekatan dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Ada beberapa contoh mengenai bagaiamana hubungan antara psikologi agama dan pendidikan Islam di awal-awal perkembangan ini. Rasulullah SAW., sedang menunaikan shalat. Saat beliau sujud, cucu beliau naik ke punggung kakek mereka. Merasakan hal itu, maka Rasulullah SAW memperlambat sujudnya, dan baru bergerak setelah kedua cucu beliau turun. Rasulullah SAW memperpanjang sujud untuk memberi kesempatan pada cucu beliau turun hingga tidak menciderakan mereka. (Bukhari) Contoh ini merupakan realisasi dari anjuran Rasululah SAW sendiri, agar dalam memberikan pendidikan harus sesuai dengan kadar kemampuan atau nalar seseorang. Dengan demikian, dalam menghadapi orang yang masih awam terhadap agama berbeda mereka yang sudah memeliki latar belakang pendidikan agama. Sebaliknya menghadapi orang dewasa harus dibedakan dengan cara mengahdapi anak-anak dalam mengajarkan agama. Didiklah anak-anak dengan cara belajar sambal bermain pada tujuh tahun pertama usia mereka, dan pada tujuh tahun kedua didiklah mereka dengan disiplin dan moral, kemudian pada tujuh tahun ketiga didiklah mereka dengan memperlakukan mereka sebagai sahabat, setelah itu baru lepaskan mereka mandiri (Muhammad Munir Mursyi, 1989:32) Pendekatan psikolgi agama dalam pendidikan Islam ternyata telah dilakukan di periode awal perkembangan Islam itu sendiri. Fungsi dan peran kedua orangtua sebgai teladan yang terdekat kepada anak telah diakui dalam pendidikan Islam. Bahkan agama dan keyakinan seseorang anak dinilai sangat tergantung dari keteladanan para orangtua mereka. Tak heran jika Sigmund Freud (1856-1939) menyatakan bahawa keberagamaan anak terpola pada tingkah laku bapaknya. Dalam pandangan Islam, sejak dilahirkan, manusia telah dianugerahkan potensi keberagamaan. Potensi ini baru dalam bentuk sederhana, yaitu berupa kecenderungan untuk tunduk dan mengabdi kepada seseuatu. Agar kecenderungan untuk tunduk dan mengabdi ini tidak salah, maka perlu adanya bimbingan dari luar. Secara kodrati orangtua merupakan pembimbing pertama yang mula-mula dikenal anak. Oleh karena itu Rasulullah SAW menekankan bimbingan itu pada tanggung jawab kedua orangtua. “Setiap bayi dilahirkan dalam fitrahnya (potensi keberagamaan), maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Majusi, Yahudi, atau Nasrani,” sabda Rasulullah SAW. Pernyataan ini mengindikasikan, bahwa pengaruh bimbingan ibu-bapak memilki peran strategis dalam membentuk jiwa agama pada diri anak. Demikian pentingnya pengaruh bimbingan itu, hingga dikaitkan dengan akidah. Sebab bila dibiarkan berkembang dengan sendirinya, maka potensi beragamaan pada anak akan salah arah. Kecenderungan untuk tunduk kepada sesuatu, dapat saja diarahkan kepada yang salah. Kajian ilmiah terutama sejarah, psikologi, maupun antropologi budaya mengungkapkan adanya kecenderungan untuk tunduk itu pada manusia. Pada suku bangsa primitive ketundukan itu ditujukan kepada benda-benda alam, roh leluhur. Sedangkan pada bangsa modern, ketundukan tersebut disalurkan kepada tokoh yang dikagumi. Kultus individu atau sikap fanatic terhadap isme-isme tertentu, tampaknya tak jauh berbeda dari apa yang dilakukan suku-suku primitive. Sejarah mencatat, bagaimana orang memuja dan mengkultuskan Adolf Hitler, tokoh Nazi Jerman. Begitu pula yang dilakukan masyarakat China terhadap Mao Tse Tung di zaman komunis berkuasa di negara ini. Masyarakat Rusia memuja Stalin, sedangkan orang Jepang menganggap Kaisar mereka sebagai titisan Dewa Matahari (Amiterasu Omikami). Bahkan secara umum, di zaman modern sekalipun masih tersisa keyakinan terhadap tokoh pujaan ini. Gerakan mesionisme dan ratu adil, merupakan bagian dari kecenderungan (motif) ketundukan ini. Ternyata manusia akan sesat, bila potensi keberagamaan yang dimilikinya tidak dibimbing kea rah yang benar. Untuk itu pula Tuhan mengutus RasulNya. Risalah kenabian merupakan pedoman bagi manusia, dan bimbingan yang paling absah. Dengan mempedomaninya, manusia akan terbimbing untuk menyalurkan potensi keberagamaannya, yakni tunduk kepada Tuhan sang Maha Pencipta, tidak kepada yang lain. Demikian pentingnya bimbingan itu, hingga Rasulullah SAW menegaskan sebgai tanggung jawab kedua orangtua. Para orangtua dibebankan tanggung jawab untuk membimbing potensi keagamaan (fitrah) anak-anak mereka, agar terbentuk menjadi nyata dan benar. Diharapkan pada diri mereka terbentuk kesadaran agama (religious consciousness) dan pengalaman agama (religious experience). Anak-anak diberi bimbingan agar tahu dan memahami, kepada “siapa” mereka wajib tunduk dan bagaimana tata cara sebagai bentuk pernyataan dari sikap tunduk tersebut. Pembentukan jiwa keagamaan pada anak diawali sejak ia dilahirkan. Kepdanya diperdengarkan kalimat tauhid, dengan mengumandangkan azan ke telinga kanannya dann iqamat di telinga kirinya. Lalu pada usia ketujuh hari (sebaiknya) bayi diaqiqahkan, dan sekaligus diberi nama yang baik, sebagai doa dan titipan harapan orangtua agar anaknya menjadi anak yang shaleh. Selain itu, kepada anak diberikan makanan yang bergizi dan halal. Pada periode perkembangan selanjutnya, anak diperlakukan dengan kasih sayang, serta dibiasakan pada perkataan, sikap dan perbuatan yang baik malalui keteladanan kedua orangtuanya. Rasulullah SAW tampaknya sangat paham benar, tentang adanya hubungan timbal balik antara jiwa (psycho) dengan tubuh (soma). Demikian pula mengenai hubungan antara biokimia dengan jiwa dan raga. Juga tentang pengaruh suara dengan pembentukan hati nurani. Semuanya itu terangkai dalam formulasi dan konsep ajaran yang diamanatkan kepada para orangtua, dalam memberi bimbingan kepada anak-anak mereka. Dalam konsep ajaran Rasulullah SAW tampaknya pembentukan kesadaran agama dan pengalaman agama, harus dilakukan secara simultan, sinergis dan utuh. Makan dan minuman yang halal, berkaitan dengan pemurnian unsur biokimia tubuh (soma) agar tetap sejalan dan terpeliharanya fitrah keagamaan. Kemudian azan dan iqamah, nama yang baik serta aqiqah, berhubungan dengan pembentukan nilai-nilai ketauhidan dalam jiwa (psycho). Lalu setelah anak mampu berkomunikasi, mereka diperkenalkan dengan perlakuan kasih sayang (keteladanan). Lebih lanjut, saat anak menginjak usia tujuh tahun, secara fisik mereka dibiasakan untuk menunaikan shalat (pembiasaan). Kemudian setelah mencapai usia sepuluh tahun, perintah untuk menunaikan shalat secara rutin dan tepat waktu diperketat (disiplin). Pada jenjang usia ini pun anak-anak diperkenalkan kepada nilai-nilai ajaran agamanya. Diajarkan membaca Kitab Suci, Sunnah Rasul, maupun cerita-cerita bernilai pendidikan. Bimbingan kejiwaan diarahkan pada pembentukan nilai-nilai Imani. Sedangkan keteladanan, pembiasaan, dan disiplin dititikberatkan pada pembentukan nilai-nilai amali. Keduanya memiliki hubungan timbal balik. Dengan demikian, kesadaran agama dan pengalaman agama dibentuk melalui proses bimbingan terpadu. Hasil yang diharapkan adalah sosok manusia yang beriman (kesadaran agama), dan beramal saleh (pengalaman agama) Anak dibimbing untuk tunduk dan mengabdikan diri hanya kepada Allah, sesuai dengan fitrahnya. Kemudian sebagai pembuktian dari pengabdian itu, direalisasikan dalam bentuk perbuatan dan aktivitas yang bermanfaat, sesuai dengan perintah-Nya.

Judul: Psikologi Agama Sebagai Disiplin Ilmu

Oleh: Almas Laitani.xia4


Ikuti kami