Teknik Pengambilan Sampel.doc

Oleh Hee N I I Watt

273,6 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Teknik Pengambilan Sampel.doc

METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN Teknik Pengambilan Sampel BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian dilakukan untuk mengumpulkan fakta dan data atau hasil secara sistematis dalam rangka menemukan, mengembangkan, atau menguji pengetahuan tentang fenomena. Penelitian pendidikan ditujukan untuk memperoleh kesimpulan dari kelompok yang besar dalam lingkup wilayah yang luas, walaupun peneliti hanya mengambil kelompok kecil dari daerah yang sempit. Peneitian tidak mungkin meneliti seluruh anggota populasi yang sangat banyak dan luas, karena tidak semua unit dalam populasi dapat diidentifikasi karena masalah biaya maupun menyita banyak waktu. Pengambilan sampel dianggap penting karena berpengaruh pada kesimpulan yang akan dihasilkan. Pengambilan sampel harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mewakili populasi. Bila kesimpulan yang ditarik dari hasil analisa data yang diperoleh dari sampel yang bias maka tidak akan menggambarkan keadaan yang sesungguhnya, kesimpulannya yang dihasilkan dapat keliru dan menyesatkan. Oleh karenanya penting mengetahui teknik-teknik dalam pengambilan sampel dan menghindari penyebab terjadinya bias pada pengambilan sampel. Makalah ini membahas mengenai populasi, sampel, teknik pengambilan sampel dan penyebab terjadinya bias dalam penentuan sampel. B. Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian populasi? 2. Apa pengertian sampel? 3. Bagaimana teknik pengambilan sampel? 4. Apa penyebab terjadinya bias dalam penentuan sampel? C. Tujuan 1. Mengetahui pengertian populasi. 2. Mengetahui pengertian sampel. 3. Mengetahui teknik pengambilan sampel. 4. Mengetahui penyebab terjadinya bias dalam penentuan sampel. BAB II ISI A. Populasi Menurut Margono (2004: 118), populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Jadi populasi berhubungan dengan data, bukan manusianya. Kalau setiap manusia memberikan suatu data maka, maka banyaknya atau ukuran populasi akan sama dengan banyaknya manusia. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002: 108). Kerlinger (Furchan, 2004: 193) menyatakan bahwa populasi merupakan semua anggota kelompok orang, kejadian, atau objek yang telah dirumuskan secara jelas. Nazir (2005: 271) menyatakan bahwa populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan. Kualitas atau ciri tersebut dinamakan variabel. Sebuah populasi dengan jumlah individu tertentu dinamakan populasi finit sedangkan, jika jumlah individu dalam kelompok tidak mempunyai jumlah yang tetap, ataupun jumlahnya tidak terhingga, disebut populasi infinit. Berdasarkan pengeritian di atas, populasi merupakan keseluruhan subjek/objek target penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. B. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 109; Furchan, 2004: 193). Pendapat yang senada pun dikemukakan oleh Sugiyono (2001: 56) menyatakan bahwa sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk 2 populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif. Penggunaan sampel dalam kegiatan penelitian dilakukan dengan berbagai alasan. Nawawi (Margoino, 2004: 121) mengungkapkan beberapa alasan tersebut, yaitu: 1) ukuran populasi, 2) masalah biaya, 3) masalah waktu, 4) percobaan yang sifatnya merusak, 5) masalah ketelitian, dan 6) masalah ekonomis. Berdasarkan pengertian di atas, sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang diteiti yang kesimpulannya akan dapati diberlakukan untuk populasi. C. Teknik Pengambilan Sampel/Teknik Sampling Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 2001: 56). Hamid Darmadi (2011: 46) sampling adalah proses pemilihan sejumlah individu dalam penelitian sehingga individu-individu tersebut merupakan perwakilan kelompok besar, sedangkan Margono (2004: 125) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifatsifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Teknik pengambilan sampel tersebut dibagi atas 2 kelompok besar, yaitu : 1. Probability Sampling (Random Sample) Sugiyono (2001: 57) menyatakan bahwa probability sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik sampel ini meliputi: a. Simple Random Sampling Menurut Sugiyono (2001: 57) dinyatakan simple (sederhana) karena pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Margono (2004: 126) menyatakan bahwa simple random sampling adalah teknik untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. 3 Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang terpencil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasi. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi tidak terlalu besar. Misal, populasi terdiri dari 500 orang mahasiswa program S1 (unit tampling). Untuk memperoleh sampel sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini. b. Proportionate Stratified Random Sampling Margono (2004: 126) menyatakan bahwa stratified random sampling biasa digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau berlapis-lapis. Menurut Sugiyono (2001: 58) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen. Dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel. c. Disproportionate Stratified Random Sampling Sugiyono (2001: 59) menyatakan bahwa teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu terlalu kecil bila dibandingkan denan kelompok S1, SMU dan SMP. d. Cluste Sampling (Area Sampling) Teknik ini disebut juga cluster random sampling. Menurut Margono (2004: 127), teknik ini digunakan bilamana populasi tidak terdiri dari 4 individu-individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu atau cluster. Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan. Sugiyono (2001: 59) memberikan contoh, di Indonesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi Indonesia itu perlu diingat, berstrata karena propinsi-propinsi di maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. 2. Non Probability Sampling (Non Random Sample) Menurut Sugiyono (2001: 60) nonprobability sampling adalah teknik yang tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini meliputi: a. Sampling Sistematis Sugiyono (2001: 60) menyatakan bahwa sampling sistematis adalah teknik penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100. b. Sampling Kuota Menurut Sugiyono (2001: 60) menyatakan bahwa sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasiyang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Menurut Margono (2004: 127) dalam teknik ini jumlah populasi tidak 5 diperhitungkan akan tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan jatah atau quorum tertentu terhadap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah jatah terpenuhi, pengumpulan Sebagai contoh, akan melakukan penelitian data dihentikan. terhadap pegawai golongan II, dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel ditentukan 100, dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang. c. Sampling Aksidental Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2001: 60). Menurut Margono (2004: 127) menyatakan bahwa dalam teknik ini pengambilan sampel tidak ditetapkan lebih dahulu. Peneliti langsung mengumpulkan data dari unit sampling yang ditemui. Misalnya penelitian tentang pendapat umum mengenai pemilu dengan mempergunakan setiap warga negara yang telah dewasa sebagai unit sampling. Peneliti mengumpulkan data langsung dari setiap orang dewasa yang dijumpainya, sampai jumlah yang diharapkan terpenuhi. d. Sampling Purposive Sugiyono (2001: 61) menyatakan bahwa sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Menurut Margono (2004: 128), pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling, didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Dengan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Misalnya akan melakukan 6 penelitian tentang disiplin pegawai, maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang kepegawaian saja. e. Sampling Jenuh Menurut Sugiyono (2001: 61) sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel. f. Snowball Sampling Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini diminta memilih teman- temannya untuk dijadikan sampel (Sugiyono, 2001: 61). Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding, makin lama semakin besar. Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan sampel purposive dan snowball. D. Penentuan Jumlah Sampel Sugiyono (2014: 126) penentuan jumlah sampel bergantung pada tingkat ketelitian atau tingkat kesalahan yang ingin dikehendaki, sedangkan tingkat ketelitian yang dikehendaki bergantung pada sumber dana, waktu, dan tenaga yang tersedia. Nana S. Sukmadinata (2013: 260) menyatakan bahwa secara umum terdapat kecenderungan habwa semakin besar ukuran sampel akan semakin mewakili populasi. Cara penentuan jumlah sampel dapat menggunakan formula empiris yang dikembangkan Isaac dan Michael dengan rumus sebagai berikut, (Hamid Darmadi, 2011:55) Keterangan: S = Jumlah sampel N = Jumlah populasi akses P = Proporsi populasi, P = 0,50 D = Derajat ketepatan, d = 0,05 7 X2 = Nilai tabel chisquare untuk satu derajat kebabasan relatif level konfiden yang diinginkan, X1= 3,841 tingkat kepercayaan 0,95 Berdasarkan formula di atas dapat memberikan hasil akhir jumlah sampel terhadap jumlah populasi antara 10-1000.000 yang tertuang dalam lampiran 1. E. Bias dalam Penentuan Sampel Nana S. Sukmadinata (2013:251) menyatakan bahwa hal yang mengganggu dalam pelaksanaan penelitian berkenaan dengan masalah pengambilan populasi dan sampel. Kesalahan pemilihan dan penarikan sampel menimbukan bias dalam penelitian. Kesimpulan yang dihasilkan tidak akan menggambarkan keadaan yang sesungguhnya sehingga dapat keliru dan menyesatkan. Peneliti cenderung memilih sampel yang bersedia diteliti dan mudah dikumpulkan datanya, kecenderungan seperti ini yang dapat mengakibatkan bias karena sampel belum tentu mewakili populasi, sedangkan Hamid darmadi (2011: 51) juga menegaskan bahwa terdapat dua sumber utama dalam pengambilan sampel yang salah yaitu penggunaan sukarelawan dan penggunaan kelompok-kelompok yang ada hanya karena ada di situ, dalam hal ini peneliti hanya meihat pada kemudahan dala pengadministrasian tidak melihat kebutuhan data yang sebenarnya. Nana S. Sukmadinata (2013:252) kekeliruan yang menyebabkan bias dalam penarikan sampel yaitu 1) sampel tidak memperhatikan penentuan populasi target, 2) karakteristik sampel yang diambil tidak mewakili karakteristik populasi target, 3) salah dalam penentuan wilayah sampel, dan 4) jumlah sampel yang terlalu kecil, tidak proporsionl dengan jumlah populasi. Menurut L.R Gay dalam Hamid darmadi (2011: 51) jumlah sampel terkecil yang dapat diterima tergantung pada jenis penelitian yang dilakukan, penelitian deskriptif 10% dari populasi, penelitian korelasi 30 subjek, penelitian kausal-komparatif 30 subjek per kelompok, dan penelitian eksperimen 50 subjek per kelompok. 8 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Populasi adalah keseluruhan objek yang akan diteliti 2. Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti 3. Teknik pengambilan sampel dikelompokkan menjadi Probability Sampling dan Nonprobability Sampling. random sampling, disproportionate Probabilit sampling meliputi simple proportionate stratified random stratified random sampling, dan area sampling, (cluster) sampling (sampling menurut daerah). Nonprobability sampling meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling. 4. Kekeliruan yang menyebabkan bias dalam penarikan sampel yaitu, penentuan populasi target, karakteristik sampel yang diambil tidak mewakili karakteristik populasi target, salah dalam penentuan wilayah sampel, dan jumlah sampel yang terlalu kecil, tidak proporsionl dengan jumlah populasi. B. Saran Pada saat melakukan penelitian, sebaiknya diperhatikan terkait teknik pengambilan sampel yang tepat dan benar agar menghasilkan data penelitian yang lebih akurat. 9 DAFTAR PUSTAKA Hamid Darmadi. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta Furchan, A. (2004). Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Margono. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Nana Syaodih Sukmadinata. (2013). Metode Penelitin Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta. _______. (2001). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. 10 Lanmpiran 1 Tabel Jumlah sampel pada Polpulasi 11 12

Judul: Teknik Pengambilan Sampel.doc

Oleh: Hee N I I Watt


Ikuti kami