Bisnis Ekonomi Islam

Oleh Dhea Eprillia Carolina

215,1 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Bisnis Ekonomi Islam

MAKALAH BISNIS EKONOMI ISLAM NAMA : Dhea eprillia carolina KELAS : 2MP2 NPM : 0192000070 YASMA PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI KUSUMA NEGARA JAKARTA 2020 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Bisnis merupakan bagian dari kegiatan ekonomi yang mempunyai peranan yang sangat vital dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Kegiatan bisnis mempengaruhi tingkat kehidupan manusia baik individu, sosial, regional, nasional maupun internasional. Setiap hari, jutaan manusia melakukan kegiatan bisnis sebagai produsen, perantara maupun sebagai konsumen. Bisnis adalah kegiatan ekonomis. Hal-hal yang terjadi dalam kegiatan ini adalah tukar-menukar, jual-beli, memproduksi-memasarkan, serta interaksi manusia lainnya, dengan tujuan memperoleh keuntungan. Dalam kegiatan perdagangan (bisnis), pelaku usaha atau pebisnis dan konsumen (pemakai barang dan jasa) sama-sama mempunyai kebutuhan dan kepentingan. Pelaku usaha harus memiliki tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. Untuk itu sangat diperlukan aturan-aturan dan nilai-nilai yang mengatur kegiatan bisnis tersebut agar tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dan dieksploitasi baik pihak konsumen, karyawan maupun siapa saja yang ikut terlibat dalam kegiatan bisnis tersebut. . Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah, yaitu sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Apa pengertian konsep dasar ekonomi islam? Bagaimana pandangan islam tentang bisnis? Apa konsep bisnis dasar islam? Apa maksud, tujuan dan orientasi bisnis? Apa perbedaan antara bisnis islam dan bisnis konveksional? Tujuan Adapun tujuan dalam penulisan makalah, yaitu sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Untuk mengetahui konsep dasar ekonomi islam? Untuk mengetahui pandangan islam tentang bisnis? Untuk mengetahui konsep bisnis dasar islam? Untuk mengetahui maksud, tujuan dan orientasi bisnis? Untuk mengetahui perbedaan anatara bisnis islam dan bisnis konveksional? BAB II PEMBAHASAN Konsep Dasar Ekonomi Islam Defenisi Ekonomi Islam Ada banyak pendapat seputar pengertian dan ruang lingkup ekonomi Islam: 1. 2. 3. 4. Dawam Rahardjo, memilah istilah ekonomi kedalam tiga kemungkinan. Pertama, ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi yang berdasarkan nilai atau ajaran Islam. Kedua, ekonomi Islam merupakan suatu sistem. Sistem menyangkut pengaturan, yaitu pengaturan kegiatan ekonomi dalam suatu masyarakat atau Negara berdasarkan cara atau metode tertentu. Ketiga, ekonomi Islam dalam pengertian perekonomian umat Islam. Ketiga wilayah tersebut, yaitu teori, sistem, dan kegiatan ekonomi umat Islam merupakan tiga pilar yang harus membentuk sebuah sinergi. Monzer Kahf, dalam bukunya The Islamic Economy menjelaskan bahwa ekonomi adalah subsed dari agama. Kata ekonomi Islam dipahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pradigma Islam yang sumbernya merujuk pada Alquran dan Asunnah. Menurut Kahf pula, ekonomi Islam adalah bagian dari ilmu ekonomi yang memiliki sifat interdisipliner dalam arti kajian ekonomi Islam tidak dapat berdiri sendiri, tetapi perlu penguasaan yang baik dan mendalam terhadap ilmu-ilmu syariah dan ilmu pendukungnya, termasuk ilmu-ilmu yang berfungsi sebagai tool of analysis, seperti matematika, statistik, logika, dan ushul fiqh. Umer Chapra, yaitu suatu cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya alam yang langka dan sesuai dengan maqashid, tanpa mengekang kebebasan individu untuk menciptakan keseimbangan makro ekonomi dan ekologi yang berkesinambungan, membentuk solidaritas keluarga, social, dan jaring moral masyarakat. M. Metwally (1995) mendefinisikan ekonomi Islam sebagai ilmu yang mempelajari perilaku muslim dalam suatu masyarakat Islam yang mengikuti Alquran, Asunnah, qiyas, dan ijma. Masih banyak lagi ahli yang memberikan defenisi ekonomi Islam, tetapi penjelasan lebih menyeluruh tentang ekonomi Islam tergambar dalam rancang bangun ekonomi Islam. Dengan demikian, ekonomi Islam dapat didefenisikan sebagai perilaku individu muslim dalam setiap aktivitas ekonomi, berdasarkan tuntunan syariat Islam dalam rangka mewujudkan dan menjaga maqashid syariah (agama, jiwa, akal, nasab, dan harta). Islam sebagai agama merupakan konsep yang mengatur kehidupan manusia secara komprehensif, menyeluruh dan universal baik dalam hubungannya dengan Sang Pencipta (Habluminallah) maupun dengan altern manusia (Hablumminannas). Islam menempatkan fungsi uang semata-mata sebagai alat tukar dan bukan sebagai komoditi, sehingga tidak layak untuk diperdagangkan apalagi mengandung altern ketidakpastian atau spekulasi (gharar) sehingga yang ada adalah bukan harga uang apalagi dikaitkan dengan berlalunya waktu tetapi nilai uang untuk menukar dengan barang. Riba dalam segala bentuknya dilarangannya. Krisis moneter melanda di mana-mana, tak terkecuali di negeri kita tercinta ini. Para ekonom dunia sibuk mencari sebab-sebabnya dan berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan perekonomian di negaranya masingmasing. Krisis ekonomi telah menimbulkan banyak kerugian, meningkatnya pengangguran, meningkatnya tindak kejahatan dan sebagainya. Sistem ekonomi kapitalis dengan alternative bunganya diduga sebagai penyebab terjadinya krisis. Sistem ekonomi Islam mulai dilirik sebagai suatu pilihan alternative, dan diharapkan mampu menjawab tantangan dunia di masa yang akan datang. Al-Qur’an telah memberikan beberapa contoh tegas mengenai masalah-masalah ekonomi yang menekankan bahwa ekonomi adalah salah satu bidang perhatian Islam. Dasar-dasar ekonomi Islam:   Bertujuan untuk mencapai masyarakat yang sejahtera baik di dunia dan di akhirat, tercapainya pemuasan optimal berbagai kebutuhan baik jasmani maupun rohani secara seimbang, baik perorangan maupun masyarakat. Dan untuk itu alat pemuas dicapai secara optimal dengan pengorbanan tanpa pemborosan dan kelestarian alam tetap terjaga. Hak milik alternatif perorangan diakui sebagai usaha dan kerja secara halal dan dipergunakan untuk hal-hal yang halal pula.      Dilarang menimbun harta benda dan menjadikannya terlentar. Dalam harta benda itu terdapat hak untuk orang miskin yang selalu meminta, oleh karena itu harus dinafkahkan sehingga dicapai pembagian rizki. Pada batas tertentu, hak milik alternat tersebut dikenakan zakat. Perniagaan diperkenankan, akan tetapi riba dilarang. Tiada perbedaan suku dan keturunan dalam bekerja sama dan yang menjadi ukuran perbedaan adalah prestasi kerja Kemudian landasan nilai yang menjadi tumpuan tegaknya altern ekonomi Islam adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Nilai dasar ekonomi Islam: Hakikat pemilikan adalah kemanfaatan, bukan penguasaan. Keseimbangan ragam aspek dalam diri manusia. Keadilan antar manusia. Nilai instrumental ekonomi Islam: Kewajiban zakat. Larangan riba. Kerjasama ekonomi. Nilai filosofis ekonomi Islam: Sistem ekonomi Islam bersifat terikat yakni nilai. Sistem ekonomi Islam bersifat dinamik, dalam arti penelitian dan pengembangannya berlangsung terusmenerus. Nilai alternati ekonomi Islam: 1. 2. 3. 4. 5. Landasan aqidah. Landasan akhlaq. Landasan syari’ah. Al-Qur’anul Karim. Ijtihad (Ra’yu), meliputi qiyas, masalah mursalah, istihsan, istishab, dan urf. Pandangan Islam Tentang Bisnis Bisnis itu berani sukses. Bisnis itu berani kaya. Kaya pengalaman, kaya pengetahuan, kaya bersosialisasi, kaya imajinasi, kaya intelektual. Bisnis itu berani berkreasi dan mandiri.Allah SWT menurunkan agama Islam ke muka bumi.Karena itulah Islam tidak mengenal pemisahan aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, maupun politik, semua sudah diajarkan dalam agama Islam. Islam itu komperhensif, mencakup semua aspek kehidupan. Sampai tata cara berbisnispun sudah diatur dalam Islam. Rosululloh dan para sahabat banyak sekali yang menjalankan bisnis.Dan banyak aturan-aturan mengenai halal dan haramnya, kita harus mentaatinya. Juga kita diperingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan harta atau keuntungan dari hasil bisnis. Sehingga kita pun diharapkan menjadi seorang pebisnis muslim yang kaya, diridhai, dan bermanfaat bagi umat. Konsep Bisnis Dasar Islam Bisnis merupakan suatu istilah untuk menjelaskan segala aktivitas berbagai institusi dari yang menghasilkan barang dan jasa yang perlu untuk kehidupan masyarakat sehari-hari.Secara umum bisnis diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia untuk memperoleh pendapatan atau penghasilan atau rizki dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya dengan cara mengelola sumber daya ekonomi secara efektif dan efisien. Adapun sektor-sektor ekonomi bisnis tersebut meliputi sektor pertanian, sektor industri, jasa, dan perdagangan. Lebih khusus Skinner mendefinisikan bisnis sebagai pertukaran barang, jasa, atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat.Dan sebagai agama yang besar dan diyakini paling sempurna telah mengajarkan konsep-konsep unggul lebih dulu dari Protestan, akan tetapi para pengikutnya kurang memperhatikan dan tidak melaksanakan ajaran- ajaran Islam sebagaimana mestinya. Umat Islam seharusnya dapat menggali inner dynamics sistem etika yang berakar dalam pola keyakinan yang dominan. Karena ternyata banyak prinsip bisnis modern yang dipraktekkan perusahaanperusahaan besar dunia sebenarnya telah diajarkan oleh Nabi muhammad SAW. Perusahaan-perusahaan besar dunia telah menyadari perlunya prinsip-prinsip bisnis yang lebih manusiawi seperti yang diajarkan oleh ajaran Islam, yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yaitu: 1. Customer Oriented Dalam bisnis, Rasulullah selalu menerapkan prinsip customer oriented, yaitu prinsip bisnis yang selalu menjaga kepuasan pelanggan (Afzalur Rahman, 1996 :19). Untuk melakukan prinsip tersebut Rasulullah menerapkan kejujuran, keadilan, serta amanah dalam melaksanakan kontrak bisnis. Jika terjadi perbedaan pandangan maka diselesaikan dengan damai dan adil tanpa ada unsur-unsur penipuan yang dapat merugikan salah satu pihak. Dampak dari prinsip yang diterapkan, para pelanggan Rasulullah SAW tidak pernah merasa dirugikan. Tidak ada keluhan tentang janji-janji yang diucapkan, karena barang-barang yang disepakati dalam kontrak tidak ada yang dimanipulasi atau dikurangi. Untuk memuaskan pelanggan ada beberapa hal yang selalu Nabi perintahkan. Beberapa hal tersebut antara lain, adil dalam menimbang, menunjukkan cacat barang yang diperjual belikan, menjauhi sumpah dalam jual beli dan tidak mempraktekkan apa yang disebut dengan bai’ Najasy yaitu memuji dan mengemukakan keunggulan barang padahal mutunya tidak sebaik yang dipromosikan, hal ini juga berarti membohongi pembeli. Selain itu prinsip customer oriented juga memberikan kebolehan kepada konsumen atas hak Khiyar (meneruskan atau membatalkan transaksi) jika ada indikasi penipuan atau merasa dirugikan. 2. Transparansi Prinsip kejujuran dan keterbukaan dalam bisnis merupakan kunci keberhasilan. Apapun bentuknya, kejujuran tetap menjadi prinsip utama sampai saat ini. Transparansi terhadap kosumen adalah ketika seorang produsen terbuka mengenai mutu, kuantitas, komposisi, unsur-unsur kimia dan lain-lain agar tidak membahayakan dan merugikan konsumen. Prinsip kejujuran dan keterbukaan ini juga berlaku terhadap mitra kerja. Seorang yang diberi amanat untuk mengerjakan sesuatu harus membeberkan hasil kerjanya dan tidak menyembunyikannya. Transparansi baik dalam laporan keuangan, mapuun laporan lain yang relevan. 3. Persaingan yang Sehat Islam melarang persaingan bebas yang menghalalkan segala cara karena bertentangan dengan prinsip-prinsip muamalah Islam. Islam memerintahkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, yang berarti bahwa persaingan tidak lagi berarti sebagai usaha mematikan pesaing lainnya, tetapi dilakukan untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi usahanya. 4. Fairness Terwujudnya keadilan adalah misi diutusnya para Rasul. Setiap bentuk ketidakadilan harus lenyap dari muka bumi. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW selalu tegas dalam menegakkan keadilan termasuk keadilan dalam berbisnis. Saling menjaga agar hak orang lain tidak terganggu selalu ditekankan dalam menjaga hubungan antara yang satu dengan yang lain sebagai bentuk dari keadilan. Selain itu bentuk keadilan dalam berbisnis adalah memberi tenggang waktu apabila pengutang (kreditor) belum mampu membayar. Selain itu bentuk keadilan dalam bisnis adalah bahwa bisnis yang dilaksanakan bersih dari unsur riba karena riba mengakibatkan eksploitasi dari yang kaya kepada yang miskin. Oleh karena itu Allah dan RasulNya mengumumkan perang terhadap riba. Maksud, Tujuan Dan Orientasi Bisnis Dalam firman Allah pengertian bahwa bisnis dilakukan dengan tidak mengesampingkan tujuan hakiki. Visi masa depan dalam berbisnis merupakan etika pertama dan utama yang digariskan Al-Qur’an, sehingga pelakunya tidak sekedar mencari keuntungann sementara yang akan segera habis, tetapi selalu berorientasi pada masa depan. Dengan pernyataan di atas dapat diketahui maksud dilakukannya bisnis secara Islami, antara lain :  Mencari ridho Allah ( mardlotillah ), Bisnis yang dilakukan dengan niat mendapat ridlo Alloh, memiliki manfaat selain dalam hal ekonomi, tetapi juga non ekonomi dan non finansial dalam ikut serta memecahkan permasalahan sosial masyarakat.       Pleasure of Alloh ( memperoleh kesenangan Allah ), Dengan meyakini bahwa bisnis yang dilakukan direstui dan mendapatkan kesenangan dari-Nya, maka dapat diyakini pula kebenarannya sesuai aqidah Islam dengan harapan bahwa bisnis yang dilakukan mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan dari Allah. Mercy from Allah ( mencari rahmat Allah ), Istilah rahmat diartikan sebagai karunia. Karunia dari Allah merupakan suatu kondisi kehidupan yang sangat menentramkan dan menyenangkan bagi perikehidupan muslim beriman serta menjadi dambaan oleh setiap manusia. Mencari dan memperoleh pahala dari Allah, Keuntungan materi dan ekonomik bukan satu-satunya tujuan yang menjadi ujung tombak dalam meraih sukses. Tetapi lebih dari itu yang meliputi pahala Allah di dunia dan akhirat merupakan keuntungan yang utama. Berdimensi dunia dan akhirat, Bisnis yang dilakukan berkonotasi dengan persiapan kehidupan akhirat. Artinya lahan untuk beramal dan beribadah di dunia ini dengan bisnis yang dilakukan disadari sebagai lahan untuk bekal kehidupan akhirat. Bermanfaat dan dibutuhkan bagi kemaslahatan umat manusia, Segala aktivitas dan kiprah bisnis di masyarakat diharapkan eksistensinya dibutuhkan masyarakat serta dapat memberikan kontribusi atas permasalahan kemanusiaan. Mendatangkan berkah dan rezeki dari Allah bagi semua pihak, Bisnis dengan menjalin hubungan yang saling menguntungkan antar masyarakat dan pelaku bisnis maka dipastikan bahwa masing-masing pihak akan saling memberikan dukungan dan perlindungan yang dibutuhkan masing-masing pihak. Dengan demikian dapat mendatangkan berkah dari Allah bagi semua pihak. Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam bisnis Islam, yaitu : 1. 2. 3. 4. Target hasil : profit materi dan benefit non materi, tujuan perusahaan harus tidak hanya mencari profit setinggitingginya, tetapi juga harus dapat memperoleh dan memberikan benefit non materi kepada internal perusahaan dan eksternal (lingkungan), seperti terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial dan sebagainya.Benefit yang dimaksudkan tidaklah semata memberikan manfaat kebendaan, tetapi juga dapat bersifat non materi. Pertumbuhan, Apabila profit materi dan non materi telah diraih sesuai target, perusahaahn akan mengupayakan pertumbuhan terus-menerus dari setiap profitnya itu. Upaya penumbuhan ini tentu dijalankan sesuai dengan aturan syariat. Keberlangsungan, Belum sempurna orientasi bisnis jika hanya berhenti pada pencapaian target hasil dan pertumbuhan. Sehingga perlu diupayakan agar target yang telah dicapai tersebut dijaga keberlangsungannya dalam kurun waktu lama. Keberkahan atau keridloan Alloh, Faktor keberkahan merupakan puncak kebahagiaan hidup manusia muslim. Bila ini tercapai, berarti telah terpenuhinya dua syarat diterimanya amal manusia, yakni adanya elemen niat ikhlas dan cara yang sesuai dengan syariat. Karenanya, para pengelola bisnis perlu mematok orientasi keberkahan yang dimaksud agar pencapaian di atas senantiasa berada dalam koridor syariat yang menjamin diraihnya keridhoan Alloh SWT. Perbedaan Anatara Bisnis Islam Dan Bisnis Konveksional Adapun yang membedakan sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainya sebagaimana diungkapkan oleh Suroso Imam Zadjuli dalam Achmad Ramzy Tadjoedin adalah sebagai berikut:    Asumsi dasar / norma pokok ataupun atuaran main dalam proses dan interaksi kegiatan ekonomi yang diberlakukan. Prinsip ekonomi Islam adalah penerapan asas efisiensi dan manfaat dengan tetap menjaga kelestarian alam. Motif ekonomi Islam adalah mencari “keberuntungan” didunia dan di akhirat selaku khalifatullah dengan jalan beribadah dalam arti yang luas. Berikut ini table tentang perbedaaan yang mendasari perbedaan prosess bisnis islam dan konvensional. - Prosess bisnis islam 1. 2. 3. 4. Kegiatan Ekonomi diorientasikan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Memiliki Pemahaman Terhadap Bisnis yang Halal dan Haram (Modal, Proses,dll). Benar secara Syar’i dalam. Implementasi Proses Bisnis Syariah selalu didahului akad/perjanjian. - Prosess bisnis konvensional 1. 2. 3. 4. Motivasi dalam kegiatan berbisnis didasari oleh keinginan dunia tanpa memperhatikan akhirat. Tidak Memiliki Pemahaman Terhadap Bisnis Yang Halal dan Haram (Modal,Proses,dll). Proses pemasaran bisnis konvensional menghalalkan segala cara. Proses Konvensional Tidak Selalu didahului akad/perjanjian dalam pelaksanaanya BAB III PENUTUP Kesimpulan Bisnis dengan segala macamnya terjadi dalam kehidupan manusia setiap hari secara luas. Banyaknya pelaku bisnis dan beragamnya motif dan orientasi bisnis serta semakin kompleksnya permasalahan bisnis, terkadang membuat pelaku bisnis terjebak untuk melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya, apalagi jika tujuannya hanya untuk mencari laba dan keuntungan semata. Maka sering terjadi perbuatan negatif, yang akhirnya menjadi kebiasaan dalam prilaku bisnis. Jika demikian, maka tidak jarang bisnis diidentikkan dengan perbuatan yang kotor, karena terdapat perilaku bohong, khianat, ingkar janji, tipu menipu dan lain sebagainya. Dunia bisnis yang merupakan interaksi antara berbagai tipe manusia sangat berpotensi menjerumuskan para pelakunya ke dalam hal-hal yang diharamkan. Baik karena didesak oleh kebutuhan ekonomi, baik dilakukan secara sendiri atau bersekongkol dengan orang lain secara tidak sah atau karena ketatnya persaingan yang membuat dia melakukan hal-hal yang terlarang dalam agama. Prilaku semacam ini bukanlah prilaku pelaku bisnis yang baik dan utama sebagaimana diajarkan dalam Islam. Kegiatan bisnis dalam Islam, tidak boleh dilaksanakan tanpa aturan. Islam memberikan rambu-rambu pedoman dalam melakukan kegiatan usaha, mengingat pentingnya masalah ini juga mengingat banyaknya manusia yang tergelincir dalam perkara bisnis ini. Karena itulah seorang Muslim yang akan menjadi pelaku bisnis harus memahami hukum-hukum dan aturan Islam yang mengatur tentang mu’amalah. Sehingga ia bisa memilah yang halal dari yang haram, atau bahkan yang bersifat samar-samar atau syubhat. Referensi Sutia, S., Riadi, R., & Fahlevi, M. (2019). The Influences of Service Quality and Image Upon Customer Satisfaction and Their Impacts on Customer Loyalty To the Service of Soekarno-Hatta International Airport. International Journal of Business, Accounting and Management, 4(1), 2527–3531. http://www.doarj.org/ijbam/wp-content/uploads/2019/IJBAM/6/2.pdf Zuhri, S., Fahlevi, M., Abdi, M. N., Irma, D., & Maemunah, S. (2020). THE IMPACT OF MERGER AND ACQUISITION ON FINANCIAL PERFORMANCE IN INDONESIA. Journal of Reseacrh in Business, Economics, and Education, https://e-journal.stie-kusumanegara.ac.id/index.php/jrbee/article/view/69/45 2(1), 326–338. Turmidzi, I., Mahfud, I., Zuhri, S., Imron, M. A., & Fahlevi, M. (2019). The Concept of Quality Control and The Role of HRM in The World of Business and Education. International Journal of Business and Management Invention (IJBMI), 8(08), 61–65. http://www.ijbmi.org/v8i8(series2).html Istan, M., & Fahlevi, M. (2020). The Effect of External and Internal Factors on Financial Performance of Islamic Banking. Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 21(72), 137–145. https://doi.org/10.18196/jesp.21.1.5036 Kasbuntoro, Irma, D., Maemunah, S., Mahfud, I., Fahlevi, M., & Parashakti, R. D. (2020). Work-Life Balance and Job Satisfaction : A Case Study of Employees on Banking Companies in Jakarta. International Journal of Control and Automation, 13(4), 439–451. http://sersc.org/journals/index.php/IJCA/article/view/16461/8242 Purwanto, A., Asbari, M., Fahlevi, M., Mufid, A., Agistiawati, E., Cahyono, Y., & Suryani, P. (2020). Impact of Work From Home (WFH) on Indonesian Teachers Performance During the Covid-19 Pandemic : An Exploratory Study. International Journal of Advanced Science and Technology, 29(5), 6235–6244. http://sersc.org/journals/index.php/IJAST/article/view/15627/7883 Sutia, S., Riadi, R., & Fahlevi, M. (2020). The Influence of Supply Chain Performance and Motivation on Employee Performance. International Journal of Supply Chain Management, 9(2), 86–92. https://ojs.excelingtech.co.uk/index.php/IJSCM/article/view/3269 Fahlevi, M. (2019). The Influence of Exchange Rate, Interest Rate and Inflation on Stock Price of LQ45 Index in Indonesia. First International Conference on Administration Science (ICAS 2019), 157–163. https://doi.org/10.2991/icas-19.2019.34 Fahlevi, M., Moeljadi, Aisjah, S., & Djazuli, A. (2020). The impact of board independence and CEO education on earning manipulation beneish M-score models. Test Engineering and Management, 83(March-April), 18264–18276. http://www.testmagzine.biz/index.php/testmagzine/article/view/6957/5365 Suwarni, Noviantoro, R., Fahlevi, M., & Abdi, M. N. (2020). Startup valuation by venture capitalists: An empirical study Indonesia firms. International Journal of Control and Automation, 13(2), 785–796. http://sersc.org/journals/index.php/IJCA/article/view/11226/5969 Simpen, I. N., Abdi, M. N., Fahlevi, M., Noviantoro, R., & Muhtar. (2019). The Effect of Socialization, Sanction, and E-Filing on Annual SPT Reporting. The 4th International Conference on Energy, Environment, Epidemiology and Information System (ICENIS 2019), 125, 1–5. https://doi.org/10.1051/e3sconf/201912522001 Fahlevi, M., Saparudin, M., Maemunah, S., Irma, D., & Ekhsan, M. (2019). Cybercrime Business Digital in Indonesia. The 4th International Conference on Energy, Environment, Epidemiology and Information System (ICENIS 2019), 125, 1–5. https://doi.org/10.1051/e3sconf/201912521001 Sutia, S., Adha, S., & Fahlevi, M. (2019). Why do Customers Intend to Repurchase Transportation Online in Indonesia? The 4th International Conference on Energy, Environment, Epidemiology and Information System (ICENIS 2019), 125, 1–5. https://doi.org/10.1051/e3sconf/201912523010 Sutia, S., Fahlevi, M., Rita, Rabiah, A. S., & Adha, S. (2020). The Influence of Endorsement on Instagram toward Customer Behavior. International Journal of Psychosocial Rehabilitation, 24(08), 6628–6634. https://doi.org/10.37200/IJPR/V24I8/PR280685 Juhandi, N., & Fahlevi, M. (2018). TAX POLICY AND FISCAL CONSOLIDATION ON CORPORATE INCOME TAX. Journal of Reseacrh in Business, Management, and Accounting, 1(1), 21–33. https://ejournal.stie-kusumanegara.ac.id/index.php/jobma/article/view/9 Fahlevi, M. (2019). ISLAMIC ECONOMY AND POLITICS IN THE VIEW OF MUHAMMAD BAQIR SADR. Journal of Research in Business, Economics and Management, 13(2), 2431–2436. http://www.scitecresearch.com/journals/index.php/jrbem/article/view/1730 Fahlevi, M., Zuhri, S., Parashakti, R. D., & Ekhsan, M. (2019). LEADERSHIP STYLES OF FOOD TRUCK BUSINESSES. Journal of Research in Business, Economics and Management, 13(2), 2437–2442. http://www.scitecresearch.com/journals/index.php/jrbem/article/view/1731 Rita, Rabiah, A. S., & Fahlevi, M. (2019). WOMEN ENTREPRENEURS IN INDONESIA. Journal of Research in Business, Economics and Management, 13(2), 2416–2425. http://www.scitecresearch.com/journals/index.php/jrbem/article/view/1728 Theodora, R., Ernawaty, N., Marciella, J., & Fahlevi, M. (2019). THE IMPACT OF MOTIVATION MILLENIAL GENERATION TO JOB PERFORMANCE IN E-COMMERCE INDUSTRY. Journal of Research in Business, Economics and Management, 13(1), 2356–2365. http://www.scitecresearch.com/journals/index.php/jrbem/article/view/1709 Fahlevi, M., Irma, D., Maemunah, S., & Mahfud, I. (2019). The EFFECT OF FINANCIAL PERFORMANCE, EXTERNAL FACTORS, AND OPERATIONAL RATIO ON CAR RATIO OF SHARIA COMMERCIAL BANKS IN INDONESIA. Journal of Research in Business, Economics and Management, 12(2), 2348–2355. http://www.scitecresearch.com/journals/index.php/jrbem/article/view/ 1705 Juhandi, N., Rahardjo, B., Tantriningsih, H. A., & Fahlevi, M. (2019). The GROWTH OF SHARIA BANKING IN ASIA. Journal of Research in Business, Economics and Management, 12(2), 2341–2347. http://www.scitecresearch.com/journals/index.php/jrbem/article/view/1708 Al-Jawi, Shiddiq Muhammad. Asas-Asas Sistem Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana, 2005. Mannan, Muhammad Abdul. Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Yogyakarta: PT.DanaBakhti Prima Yasa,1997. Nasution, Mustafa Edwin. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana, 2006.

Judul: Bisnis Ekonomi Islam

Oleh: Dhea Eprillia Carolina

Ikuti kami