Konsep Ilmu Menurut Al-qur'an

Oleh Hikmah Ikmalul

35,4 KB 6 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Konsep Ilmu Menurut Al-qur'an

KONSEP ILMU MENURUT AL-QUR’AN Ikmalul Hikmah Universitas Islam Negeri Sumatera Utara ikmalulhikmah@gmail.com Abstrak Islam adalah agama yang mengajarkan rakyatnya untuk selalu belajar dan agama yang memposisikan ilmu pengetahuan dalam posisi yang mulia. Sebagai tanda keutamaan sains dalam Islam adalah sifat sains sebagai satu sifat wajib Allah SWT. Oleh karena itu, semua nabi dan rasul dikirim untuk mengajarkan pengetahuan kepada umatnya. Sains adalah pengetahuan penting bahwa orang perlu menjawab semua masalah kehidupan. Berbicara tentang pengetahuan, dalam Al Qur’an tersebar kata sains dengan semua jenis turunannya. Manusia memiliki potensi untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya dengan izin Allah. Oleh karena itu, ayat-ayat yang tersebar memerintahkan manusia untuk mengambil berbagai cara untuk mewujudkannya. Berulang kali al-Qur’an menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang berpengetahuan. Menurut pandangan Al-Qur’an - seperti yang dinyatakan oleh wahyu pertama - sains terdiri dari dua jenis. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa usaha manusia, disebut ‘ilmladunni, sebagaimana diinformasikan oleh AlQur’an. Dengan ilmu maka semua masalah akan terpecahkan. Dengan pengetahuan orang akan dapat berperilaku lebih baik, orang akan dapat mentoleransi dengan orang lain meskipun prinsip yang berbeda. Dengan memiliki pengetahuan, kehidupan dunia yang sejahtera serta yang lebih bahagia akhirat akan terwujud. Kata kunci: Konsep ilmu menurut Al-Qur’an PENDAHULUAN Agama Islam merupakan agama yang sangat memuliakan ilmu. Alquran dan hadis menjadi bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat mengapresiasi ilmu dan para penuntut ilmu. Islam mengangkat derajat para penuntut ilmu, dan menuntut ilmu merupakan bagian dari jihad di jalan Allah (Al Rasyidin & Ja’far, 2020). Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk selalu belajar. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menggunakan akal pikiran yang sudah dikaruniakan Allah kepada manusia. Allah menciptakan manusia dari tidak tahu apa-apa. Islam juga agama yang memposisikan ilmu dalam posisi mulia. Sebagai tanda keutamaan ilmu dalam Islam adalah sifat ilmu yang menjadi salah satu sifat wajib Allah SWT. Bagaimana kalau di dunia ini tidak ada ilmu? Bayangkan saja, pasti akan kacau dan gelap gulita. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang berfikir. Manusia dianugerahi akal dan pikiran yang menjadikan dia lebih unggul dari makhluk lain dan dipercaya sebagai khalifah filardhi. Dalam QS. alBaqarah ayat 30-33 menunjukkan betapa pentingnya ilmu untuk manusia, bahkan manusia pertama yang Allah ciptakan, langsung mendapatkan pelajaran tentang apa-apa yang ada di surga oleh Allah. Ayat tersebut juga menjelaskan kepada kita, bahwa Islam adalah agama ilmu pengetahuan, di mana kita semua mempunyai potensi untuk mengembangkan apa yang sudah kita miliki bersama, yaitu akal pikiran kita yang merupakan anugerah Allah yang luar biasa. Ilmu yang ada membuat manusia lebih baik. Dengan ilmu manusia dapat mengarahkan perilakunya, dengan perasaannya manusia mendapatkan kesenangan. Kombinasikeduanya membuat hidup manusia lebih terarah, masuk akal dan bermanfaat. Tidak dapat disangkal bahwa ilmu sangat berperan dalam kehidupan manusia, maka bekali diri kita dengan ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya.Secara substansial, lingkup kajian dalam tulisan ini berusaha untuk mengungkap ayat-ayat yang membahas tentang ilmu dan keilmuan yang tersebar sangat banyak di al-Qur’an. Pembahasan mengenai hal ini ditempuh dengan menggunakan metode tafsir tematik. Sebagai langkah awal, dilakukanlah inventarisasi ayatayat yang membahas tentang ilmu di dalam al-Qur’an. Dengan mengumpulkan dan mendefinisikan ayat-ayat tentang ilmu,dan juga turunannya, maka diharapkan akan bisa ditarik korelasi antara perspektif al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Selain itu, perlu kiranya bertolak pada hadis-hadis Nabi Saw agar mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang ilmu dan keutamaan bagi orang-orang yang berilmu. ILMU DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN Jika dasar ajaran dalam al-Qur’an dikupas, maka terdapat banyak sekali ayat-ayat tentang keilmuan. Kata ilmu sendiri dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencarian pengetahuan dan objek pengetahuan. ‘Ilm dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Perhatikan misalnya kata ‘alam (bendera), ‘ulmat (bibir sumbing), ‘a’lam’ (gunung-gunung), ‘alamat (alamat), dan sebagainya. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu, sekalipun demikian, kata ini berbeda dengan ‘arafa (mengetahui), a’rif (yang mengetahui), dan ma’rifah (pengetahuan).Allah SWT tidak dinamakan a’rif, tetapi ‘alim yang berkata kerja ya’lam(Dia mengetahui), dan biasanya al-Qur’an menggunakannya – untuk Allah – dalam hal-hal yang diketahui-Nya walaupun gaib, tersembunyi ataupun dirahasiakan. Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan al-Qur’an pada Q.S al-Baqarah(2): 31 dan 32, Dan Dia mengajarkan kepada Adam, nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Manusia, menurut al-Qur’an memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu, bertebaran ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut. Berkali-kali pula AlQur’an menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang-orang yang berpengetahuan. Menurut pandangan Al-Qur’an – seperti diisyaratkan wahyu pertama – ilmu terdiri dari dua macam. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, disebut dengan ‘ilmladunni. Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, disebut juga dengan ‘ilmkasbi. Ayat-ayat mengenai ‘ilm kasbi jauh lebih banyak daripada yang berbicara tentang ‘ilmladunni. Pembagian ini didasarkan atas pandangan al-Qur’an yang mengungkapkan adanya hal-hal yang “ada” tetapi tidak diketahuimelalui upaya manusia sendiri. Ada wujud yang tidak tampak, sebagaimana ditegaskan berkali-kali oleh al-Qur’an. Dengan demikian, objek ilmu meliputi materi dan non-materi, fenomena dan non-fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak. 19 Dari sini jelas pula bahwa pengetahuan manusia amatlah terbatas, karena itu wajar sekali Allah menegaskan bahwasanya pengetahuan yang kita punyai adalah sangat sedikit dibandingkan dengan segala hal yang Allah sudah tunjukkan. KEUTAMAAN ILMU Islam juga agama yang memposisikan ilmu dalam posisi mulia. Sebagai tanda keutamaan ilmu dalam Islam adalah sifat ilmu adalah salah satu sifat wajib Allah SWT. Banyak ayat yang menjelaskan tentang ilmu, seperti Q.S. al-An’am (6): 3; Allah telah memberi anugerah ilmu kepada Rasul-Nya, Q.S. an-Nisaa (4): 133. Selain itu ilmu membuat seseorang jadi mulia, baik di hadapan manusia juga di hadapan Allah, seperti firman Allah Q.S. al-Mujaadilah (58):11. Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan keutamaan ilmu dalam Islamu. OBJEK ILMU PENGETAHUAN DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN Dalam pandangan al-Qur`an, objek ilmu ialah segala ciptaan Allah, sekaligus ayat-ayatNya. Ciptaan Allah ini meliputi alam materi dan nonmateri. Dengan demikian, objek ilmu meliputi yang materi dan non materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak. Al-Qur`an memberikan bermacammacam nama kepada alam yang menjadi objek kajian ilmu, di antaranya adalah: (1)`alamin, yang berarti alam semesta. Bentuk ini diungkapkan sebanyak 73 kali yang tersebar di berbagai ayat, antara lain pada (QS, 1: 2), (QS, 2: 47, 122, 131, 251), (QS, 3: 33, 42, 92, 97, 108), (QS, 5: 20, 27, 115), (QS, 6: 45, 71, 86, 90, 162), dan seterusnya;(2) As Samawatwa Al Ardl, yang artinya langit dan bumi. Bentuk as samawat diungkapkan sebanyak 99 kali, sedangkan bentuk al ardl diungkapkan sebanyak 450 kali (al Baqi, 1980 : 236); (3) Kullsyai`in, yang artinya segala sesuatu, diungkapkan sebanyak 202 kali yang tersebar di berbagai ayat, antara lain dalam QS, 2: 20, 29, 106, 109, 113, 148, 155, 178, 231, 255, dan seterusnya (al Baqi, 1980: 244); (4) Makhluq (kholq), yang artunya yang diciptakan, atau ciptaan, antara lain dalam (QS, 23:14), (QS, 37: 125). Sedangkan mengenai adanya alam non materi sebagaimana ditegaskan dalam QS. alHaaqah ayat 38-39: “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. 39. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.” Dengan demikian, objek kajian ilmu menurut pandangan al-Qur`an luas sekali, tidak sempit seperti pandangan sains modern yang cenderung berkutat pada alam materi yang bisa diuji oleh panca indra manusia. Objek ilmu menurut mereka hanya mencakup sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas, dan pengalihan antarbudaya. Inilah yang membedakan pandangan antara sains modern dan al-Qur`an mengenai objek ilmu. Oleh karena itu, sebagian ilmuwan Muslim–khususnya kaum sufi, melalui ayat-ayat alQur`an–memperkenalkan ilmu yang mereka sebut al hadlaratal Ilahiyah alkhams (lima kehadiran Ilahi) untuk menggambarkanhierarki keseluruhan realitas wujud. Kelima hal tersebut adalah: 1). Alam nasut (alam materi), 2). Alam malakut (alam kejiwaan), 3). Alam jabarut (alam ruh), 4). Alam lahut (sifat-sifat Ilahiyah), 5). Alam hahut (wujud zat Ilahi). CARA MEMPEROLEH ILMU DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN Cara memperoleh ilmu dalam pandangan al-Qur`an sebagaimana diisyaratkan dalam wahyu pertama, surat alAlaq 4-5:“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Ia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” Ayat itu mengisyaratkan bahwa, ada dua cara memeroleh ilmu: Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui oleh manusia lain sebelumnya, dan Allah mengajar manusia tanpa pena yang belum diketahuinya. Cara pertama, adalah mengajar dengan alat, atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua, mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda, keduanya berasal dari satu sumber yaitu Allah Swt.15 Ilmu yang diperoleh manusia atas dasar usaha manusia disebut ilmu kasbi. Allah Swt telah membekali manusia saranasarana yang dapat digunakan untuk usaha mencari ilmu ini, yaitu panca indra, akal dan hati. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`an surat an Nahl ayat 78: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan ia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” Ada dua aliran pengetahuan, dalam hubungannya dengan di atas. Pertama, adalah idealisme atau lebih populer dengan sebutan rasionalisme; suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran akal, idea, kategori, form, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Di sini peran pancaindra dinomorduakan. Menurut aliran ini, pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Panca indra berfungsi hanya untuk menangkap objek sehingga diperoleh data-data dari alam nyata dan akallah yang mengolah data-data tersebut sehingga terbentuk pengetahuan. Kedua, adalah realisme atau empirisme yang lebih menekankan peran ilmu pengetahuan. Di sini peran akal dinomorduakan. Menurut aliran ini, pengetahuan yang benar diperoleh melaui pengalaman panca indra terhadap objek-objek yang nyata. Adapun metode yang disodorkan al-Qur`an dalam memeroleh ilmu kasbi ini, di antaranya adalah sebagaimana tersirat dalam QS 2: 31: “Dan ia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam ayat tersebut; Adam diajari tentang nama-nama benda menunjukkan proses belajar menghafal, dilanjutkan dengan proses mengingat dengan menyebutkan kembali nama-nama tersebut. Metode ini telah dibuktikan oleh para ahli terutama di bidang ilmu jiwa melalui beberapa uji coba sehingga ditemukan bahwa proses terjadinya ilmu pengetahuan melalui tahapan kognisi-afeksi-psikomotorik. Selanjutnya al-Qur`an menekankan perlunya pengamatan langsung pada objek. Hal ini antara lain dapat dilihat ayat berikut: “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya [410]. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah ia seorang di antara orang-orang yang menyesal.” (QS. 5: 31). Lebih lanjut, ilmu yang diperoleh manusia tanpa usaha aktif disebut ilmu ladunni. Wahyu, ilham, intuisi, firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya, atau apa yang diduga kebetulan yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, semuanya merupakan bentuk-bentuk pengajaran Allah yang tanpa qalam yang ditegaskan oleh wahyu pertama tersebut. Adanya ilmu ladunni ini sebagaimana termaktub dalam al-Qur`an: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hambahamba kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. al Kahfi: 65). PENUTUP Kata ilmu sendiri dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam al-Qur’an. ‘Ilm dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu, sekalipun demikian, kata ini berbeda dengan ‘arafa , a’rif , dan ma’rifah . Allah SWT tidak dinamakan a’rif, tetapi ‘alim yang berkata kerja ya’lam, dan biasanya al-Qur’an menggunakannya – untuk Allah – dalam hal-hal yang diketahui-Nya walaupun gaib, tersembunyi ataupun dirahasiakan. Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. "Manusia, menurut al-Qur’an memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. " Karena itu, bertebaran ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut. Berkali-kali pula Al-Qur’an menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang-orang yang berpengetahuan. Menurut pandangan Al-Qur’an – seperti diisyaratkan wahyu pertama – ilmu terdiri dari dua macam. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, disebut dengan ‘ilm ladunni. Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, disebut juga dengan ‘ilm kasbi. Ayat-ayat mengenai ‘ilm kasbi jauh lebih banyak daripada yang berbicara tentang ‘ilm ladunni. Islam juga agama yang memposisikan ilmu dalam posisi mulia. Sebagai tanda keutamaan ilmu dalam Islam adalah sifat ilmu adalah salah satu sifat wajib Allah SWT. Banyak ayat yang menjelaskan tentang ilmu. Selain itu ilmu membuat seseorang jadi mulia, baik di hadapan manusia juga di hadapan Allah SWT. Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan keutamaan ilmu dalam Islamu. Dalam pandangan al-Qur`an, objek ilmu ialah segala ciptaan Allah, sekaligus ayat-ayat-Nya. Dengan demikian, objek ilmu meliputi yang materi dan non materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak. "Dengan demikian, objek kajian ilmu menurut pandangan al-Qur`an luas sekali, tidak sempit seperti pandangan sains modern yang cenderung berkutat pada alam materi yang bisa diuji oleh panca indra manusia. " DAFTAR PUSTAKA Al Rasyidin & Ja’far, J. (2020). Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam. Medan: Perdana Publishing. Estuningtyas Retna Dwi. 2018. Ilmu Dalam Perspektif Al- Qur’an . Vol. 2, No. 2 Khusnul Khotimah. 2014. Paradigma Dan Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam AlQur’an . Vol. 9, No. 1

Judul: Konsep Ilmu Menurut Al-qur'an

Oleh: Hikmah Ikmalul


Ikuti kami