Paper Ilmu Ukur Wilayah

Oleh Ganda Sitorus

696,2 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Paper Ilmu Ukur Wilayah

PAPER ILMU UKUR WILAYAH JARAK, SUDUT DAN BEDA TINGGI DALAM ILMU UKUR WILAYAH OLEH : PONI JAYA GANDA SITORUS 05021281722032 PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2018 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ilmu ukur tanah merupakan ilmu terapan yang mempelajari dan menganalisis bentuk topografi permukaan bumi beserta obyek-obyek di atasnya untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan konstruksi. Dalam kegiatan pengajaran ini, semua pekerjaan teknik sipil tidak lepas dari kegiatan pengukuran pekerjaan konstruksi seperti pembuatan jalan raya, saluran drainase, jembatan, pelabuhan, jalur rel kereta api dan sebagainya memerlukan data hasil pengukuran agar konstruksi yang dibagun dapat dipertanggungjawabkan dan terhindar dari kesalahan konstruksi.(Nawawi. 2001) Ilmu Ukur tanah dianggap sebagai disiplin ilmu, teknik dan seni yang meliputi semua metoda untuk pengumpulan dan pemrosesan informasi tentang permukaan bumi dan lingkungan fisik bumi yang menganggap bumi sebagai bidang datar, sehingga dapat ditentukan posisi titik-titik di permukaan bumi. Dari titik yang telah didapatkan tersebut dapat disajikan dalam bentuk peta.Untuk memperoleh hasil yang baik tentu saja mahasiswa harus mendapatkan pengukuran yang baik dan berkualitas sehingga diperlukan metode pengukuran yang tepat serta peralatan ukur yang tepat pula. Pengukuran-pengukuran yang akan dilakukan antara lain pengukuran jarak, sudut, dan beda tinggi yang menggunakan menggunakan waterpass dan theodolit. (Fahrizal. 2013). 1.2. Tujuan Membantu mahasiswa agar dapat mengetahui cara menghitung jarak, sudut dan beda tinggi. Serta untuk dapat mengetahui prosedur dan bagaimana cara mengoprasikan alat ukur. 1 Universitas Sriwijaya BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengukuran Beda Tinggi Dalam pembuatan jalan maupun pembangunan diperlukan suatu pengukuran beda tinggi agar dapat diketahui perbedaan tinggi yang ada dipermukaan tanah. Sipat datar (levelling) adalah suatu operasi untuk menentukan beda tinggi antara dua titik di permukaan tanah. Sebuah bidang datar acuan, atau datum, ditetapkan dan elevasi diukur terhadap bidang tersebut. Beda elevasi yang ditentukan dikurangkan dari atau ditambah dengan nilai yag ditetapkan tersebut, dan hasilnya adalah elevasi titik-titik tadi. (Eka. 2014) Fungsi dari pengukuran beda tinggi ini, antara lain :  Merancang jalan raya, jalan baja, dan saluran-saluran yang mempunyai garis gradien paling sesuai dengan topografi yang ada.  Merencanakan proyek-proyek konsruksi menurut evaluasi terencana.  Menghitung volume pekerjaan tanah.  Menyelidiki ciri-ciri aliran di suatu wilayah.  Mengembangkan peta-peta yang menunjukkan bentuk tanah secara umum.  Digunakan untuk menentukan ketinggian titik-titik yang menyebar dengan kerapatan tertentu untuk membuat garis-garis ketinggian (kontur). Kesalahan yang umum terjadi Kesalahan yang umum terjadi pada pengukuran jarak dengan meteran, antara lain : (1). Tarikan meteran tidak sempurna, sehingga terjadi lenturan/ melengkung (2). Meteran tidak sempurna lurus (3). Pemasangan patok (pin) tidak tepat dengan bacaan angka meteran atau sebaliknya (4). Salah menghitung jumlah patok (5). Salah menetapkan angka nol meteran (6). Salah baca angka atau satuan angka (7). Salah mencatat hasil bacaan (8). Tidak menggunakan nivo dan unting-unting pada pengukuran lahan miring 2 Universitas Sriwijaya 2.2 Pengukuran Jarak dan Sudut Yang dimaksud dengan pengukuran jarak adalah pengukuran panjang antara dua buah titik baik secara langsung maupun tidak langsung, dan bisa dilaksanakan bertahap atau menjadi beberapa bagian ataupun tidak. Pengukuran jarak langsung biasanya menggunakan instrument atau alat ukur seperti pita ukur, langkah alat ukur jarak elektronik, distance meter (EDM) yang disebutkan dengan EDM (Elektronic Distance Meter) yaitu alat ukur jarak yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik sebagai unsur jarang yang diukur. Sedangkan jarak tidak langsung, pada umumnya menggunakan instrument ukur jarak yang mendasarkan pada metode techimetri, metode optik, dsb.(Adi. 2016) Sudut adalah selisih dua buah arah dari dan buah target di titik pengamatan pada pekerjaan ini diukur arah dan dua titik atau lebih yang dibidik dari satu titik control. Dasar untuk menyatakan besarnya sudut ialah lingkaran yang dalam empat bagian yang dinamakan kuadran. (Dinda. 2016) a. Pengenalan Alat Ukur (Theodolit) Theodolit merupakan alat ukur tanah yang universal. Selain digunakan untuk mengukur sudut harisontal dan sudut vertikal, theodolit juga dapat digunakan untuk mengukur jarak secara optis, membuat garis lurus dan sipat datar orde rendah. (Yulfa. 2007). Bagian-bagian yang penting dari alat theodolit: (1) Teropong yang dilengkapi dengan garis bidik.(10) Nivo tabung Total Station Theodolith 3 Universitas Sriwijaya (2) Lingkaran skala vertical (11) Tribrach (3) Sumbu mendatar (12)Skrup kaki tribrach (4) Indeks pembaca lingkaran skala tegak (13) Statif/ Trifot (5) Penyangga sumbu mendatar (14) 3 sekrup penyetel nivo kotak (6) Indeks pembaca lingkaran skala mendatar (15) Unting-unting (7) Sumbu tegak (16) Sekrup repitisi (8) Lingkaran skala mendatar (17) Sekrup pengunci pesawat (9) Nivo kotak a. Macam-macam bentuk benang silang (diapragma) b. Statif (Kaki Tiga) Statif (kaki tiga) berfungsi sebagai penyangga waterpass dengan ketiga kakinya dapat menyangga penempatan alat yang pada masingmasing ujungnya runcing, agar masuk ke dalam tanah. Ketiga kaki statif ini dapat diatur tinggi rendahnya sesuai dengan keadaan tanah tempat alat itu berdiri. Seperti tampak pada gambar dibawah ini : 4 Universitas Sriwijaya c. Rambu Ukur Rambu ukur mempunyai bentuk penampang segi empat panjang yang berukuran ± 3–4 cm, lebar ± 10 cm, panjang ± 300 cm, bahkan ada yang panjangnya mencapai 500 cm. Ujung atas dan bawahnya diberi sepatu besi. Bidang lebar dari bak ukur dilengkapi dengan ukuran milimeter dan diberi tanda pada bagian-bagiannya dengan cat yang mencolok. Bak ukur diberi cat hitam dan merah dengan dasar putih, maksudnya bila dilihat dari jauh tidak menjadi silau. Bak ukur ini berfungsi untuk pembacaan pengukuran tinggi tiap patok utama secara detail. d. Kompas Kompas digunakan untuk menentukan arah utara dalam pengukuran sehingga dijadikan patokan utama dalam pengukuran yang biasa di sebut sudut azimut. e. Nivo 5 Universitas Sriwijaya Di dalam nivo terdapat sumbu tabung berupa garis khayal memanjang menyinggung permukaan atas tepat ditengah. Selain itu, dalam tabung nivo terdapat gelembung yang berfungsi sebagai medium penunjuk bila nivo sudah tepat berada ditengah. Pengelompokan Theodolit:  Konstruksinya Theodolit Repetisi Lingkaran skala mendatar dapat diatur mengelilingi sumbu tegak. Bila skrup pengunci lingkaran skala mendatar dibuka, maka tidak dapat dilakukan pengukuran sudut. Besarnya sudut yang dibentuk oleh garis bidik yang diarahkan ke dua buah target hanya dapat diukur kalau skrup pengunci lingkaran skala mendatarnya terkunci. Sebeb bila sekrup pengunci skala lingkaran mendatar tidak dikunci, maka pada saat diputar, piringan skala mendatar ikut berputar bersamasama dengan indek pembaca lingkaran mendatar. Keuntungannya adalah dimungkinkannya mengubah bacaan pada suatu arah garis bidik tertentu. Misal pada suatu arah garis bidik di A bacaan skala mendatarnya dibuat 0 o, kemudian garis bidik diarahkan ke B, maka bacaan skala mendatar di B juga merupakan sudut APB.(Winandra. 2017) Theodolit Reiterasi Lingkaran skala mendatar theodolit menyatu dengan tribrach, sehingga lingkaran mendatar tidak dapat diputar. Akibatnya bacaan lingkaran mendatarnya untuk suatu target merupakan suatu bacaan arah. Jadi sudut yang dibentuk oleh garis bidik yang diarahkan kedua target adalah bacaan arah kedua dikurangi bacaan arah pertama. (Supardjo. 2000).  Sistem Pembacaan 6 Universitas Sriwijaya - Sistem dengan indeks garis - Sistem dengan nonius - Sistem dengan micrometer - Sistem koinsidensi - Sistem digital Pembacaan sudut dengan cara koinsidensi  Ketelitian - Teodolit presisi/teliti, misal Wild tipeT-3 - Teodolit satu sekon, misal Wild tipe T2 - Teodolit puluhan sekon , misal Shokisa tipe TM-20 - Teodolit satu menit, misal Wild tipe T0 Syarat Sebelum Mengukur Sudut : 1. Sumbu tegak (sumbu-I) harus benar-benar tegak Bila sumbu tegak miring maka lingkaran skala mendatar tidak lagi mendatar. Hal ini berarti sudut yang diukur bukan merupakan sudut mendatar. Gelembung nivo 7 Universitas Sriwijaya yang terdapat pada lingkaran skala mendatar ditengah dan gelembung nivo akan tetap berada ditengah meskipun theodolit diputar mengelilingi sumbu tegak. Bila pada saat theodolit diputar mendatar dan gelembung nivo berubah posisi tidak ditengah lagi, maka berarti sumbu-I tidak vertical, ini disebabkan oleh kesalahan sistim sumbu yang tidak benar, atau dapat juga disebabkan oleh posisi nivo yang tidak benar. (Sudianto. 2014). 2. Sumbu mendatar (sumbu-II) harus benar-benar mendatar 3. Garis bidik harus tegak lurus sumbu mendatar Untuk memenuhi syarat kedua dan ketiga lakukan langkah-lankah sebagai berikut:  Gantungkan unting-unting pada dinding. Benang diusahakan agar tergantung bebas (tidak menyentuh dinding atau lantai)  Setelah sumbu tegak diatur sehingga benar-benar tegak, garis bidik diarahkan ke bagian atas benang. Kunci skrup pengunci sumbu tegak dan lingkaran skala mendatar.  Gerakkan garis bidik perlahan-lahan ke bawah  Bila sumbu mendatar tegak lurus dengan sumbu tegak dan garis bidik tegak lurus dengan sumbu mendatar maka garis bidik akan bergerak sepanjang benang unting-unting ( tidak menyimpang dari bidikan benang). 4. Tidak ada salah indeks pada skala lingkaran tegak  Setelah syarat pertama, kedua dan ketiga dipenuhi maka arahkan garis bidik ketitik yang agak jauh.  Ketengahkan gelembung nivo lingkaran skala tegak  Baca lingkaran skala tegak, missal didapat bacaan sudut zenith z.  Putar teropong 1800 kemudian dikembalikan garis bidik ke titik yang sama.  Periksa gelembung nivo lingkaran skala tegak, ketengahkan bila belum terletak di tengah  Baca lingkaran skala tegak, missal z’. Bila bacaan z’ = 360-z, maka salah indeks adalah 0 Apabila keempat syarat tidak terpenuhi maka diadakan pengaturan. Untuk mendapatkan sudut horizontal yang benar maka syarat pertama kedua dan ketiga 8 Universitas Sriwijaya harus benar-benar dipenuhi, sedangkan syarat keempat dipenuhi untuk mendapatkan sudut vertical yang benar. (Rochmadi. 1993) Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal 1) Menyiapkan peralatan yang digunakan, check seluruh peralatan. Hal ini perlu karena siapa tahu ada salah satu alat yang rusak. 2) Mengambil statif dan tinggikan secukupnya. Usahakan letaknya mendatar atau rata. 3) Pasang alat ukur Theodolite dan kecangkan, hal ini dilakukan agar titik as alat tepat berada diatas titik pada patok. 4) Stabilkan alat dengan cara meyetel Nivo. Apabila tidak tepat berada diatas titik paku, geser alat sedikit kearah titik patok, alat kembali distabilkan karena akibat pergeseran ini akan terjadi perpindahan Nivo. 5) Arahkan teropong ke rambu ukur belakang. Baca angka yang tertera di rambu ukur dengan menggunakan benang silang (ba,bb,bt). Baca sudutnya. Catat pada buku ukur. 6) Kemudian alat diarahkan ke titik berikutnya (rambu muka). Kemudian lakukan metode 5 dan 6 seperti diatas. 7) Untuk mencari besaran sudutnya dengan cara diselisihkan antara bacaan sudut kedua titik tersebut. 8) Begitu juga untuk titik detail yang lain. 9) Apabila pekerjaan di titik selesai, pindahkan alat ukur tersebut ke titik lainnya. Lakukan pekerjan / metode diatas sampai titik terakhir. (Syaifullah. 2014) 9 Universitas Sriwijaya BAB 3 PEMBAHASAN Teodolit adalah alat yang dipersiapkan untuk mengukur sudut, baik sudut horizontal maupun sudut vertikal atau sudut miring. Alat ini dilengkapi dua sumbu, yaitu sumbu vertikal atau sumbu kesatu, sehingga teropong dapat diputar ke arah horizontal dan sumbu horizontal atau sumbu kedua, sehingga teropong dapat diputar kearah vertikal. Dengan kemampuan gerak ini dan adanya lingkaran berskala horizontal dan lingkaran berskala vertikal, maka alat ini dapat digunakan untuk mengukur sudut horizontal dan vertikal. Dengan kemampuan teropong bergerak kearah horizontal dan vertikal, mengakibatkan alat mampu membaca sudut horizontal dan vertikal pada dua posisi, yaitu posisi pertama kedudukan visir ada di atas dan kedua posisi visir ada di bawah. Bidikan pasa saat posisi visir ada di atas disebut posisi biasa, sedangkan bila posisi visir ada di bawah disebut posisi luar biasa. Bacaan sudut horizontal pada posisi biasa dan luar biasa akan berselisih 180° , atau bila posisi biasa nolnya ada di Utara, pada posisi luar biasa nolnya ada di Selatan. Untuk sudut vertikal juga sama berbeda 180°, atau bila pada posisi biasa bacaan sudut vertikalnya menunjukkan sudut zenit, pada keadaan luar biasanya menunjukkan sudut nadir. Adanya bacaan biasa dan luar biasa ini dapat digunakan sebagai koreksi bacaan, yaitu bila bacaan biasa dan luar biasa dari satu arah bisikan tidak berselisih 180° atau 220g, berarti ada kesalahan baca, sehingga dapat segera 10 Universitas Sriwijaya dilakukan perbaikan. Pada pengukuran yang tidak menghendaki tingkat ketelitian yang tinggi, biasanya pembacaan cukup dilakukan pada posisi biasa. Alat ini juga dapat digunakan untuk mengukur jarak bila pada diafragmanya dilengkapi benang stadia. Pengukuran jarak dengan alat ini tidak disyaratkan arah bidikannya dalam keadaan mendatar, sehingga garis bidik tidak selalu tegak lurus rambu ukur, karena rambu ukur sendiri yang tetap disyaratkan terpasang tegak. Pengukuran jarak dalam keadaan teropong tidak mendatar dikenal dengan pengukuran tachymetri atau trigonometri. Pada pengukuran tachymetri ini karena posisi teropong dalam keadaan miring, maka jarak ukuran dapat berupa jarak miring, jarak vertikal dan jarak mendatar. BAB 4 KESIMPULAN 4.1 Kesimpulan Dari pembahasan di bab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan antara lain: 1. Dalam pelaksanaan praktikum Ilmu Ukur Tanah akan memerlukan pengukuran sudut, jarak, dan beda tinggi yang menggunakan alat penunjang berupa waterpass dan theodolit. 2. Pengukuran beda tinggi dapat dilakukan menggunakan waterpass dan juga theodolith. 3. Pengukuran jarak dan sudut (vertical dan horizontal) dapat dilakukan menggunakan theodolith. 11 Universitas Sriwijaya DAFTAR PUSTAKA Adi, Rizki. 2016. Pengembangan Media Pembelajaran Mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah Dan Praktek Kajian Mengoperasikan Total Station TOPCON GTS 235N Series. (Online). lib.unnes.ac.id. (Diakses Pada 7 Oktober 2018) Aji, Seno. 2014. Kajian Penentuan Luas Tanah Dengan Berbagai Metode. AgriTek Vol.15 No.2. (Online). http://unmermadiun.ac.id. (Diakses Pada 7 Oktober 2018). Dinda, Forouki. 2016. Pemetaan Situasi Dengan Metode Koordinat Kutub di Desa Banyuripan , Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Jurnal Integrasi Vol.8 No.1. (Online). http://etd.repository.ugm.ac.id. (Diakses Pada 7 Oktober 2018). Eka, Arintia. 2014. Kajian Pengukuran dan Pemetaan Bidang Tanah Metode DGPS Post Processing Dengan Menggunakan Receiver Trimble Geoxt 3000 Series. Jurnal Geodesi Undip Volume 3 Nomor 3. (Online). http://eprints.undip.ac.id. (Diakses Pada 7 Oktober 2018). Fahrizal. 2013. Perbandingan Kualitas Data Pengukuran Benchmark Dengan MenggunakanAlatTheodolit.(Online).http://repository.politanisamarind a.ac.id. . (Diakses Pada 7 Oktober 2018). 12 Universitas Sriwijaya Nawawi, Gunawan. 2001. Mengukur Jarak dan Sudut. (Online). www.academia.edu. (Diakses Pada 7 Oktober 2018). Parseno. 2010. Pengaruh Sudut Vertikal Terhadap Hasil Ukuran Jarakdan Beda Tinggi Metode Trigonometris MenggunakanTotal Station Nikon DTM352. ForumTeknik Vol. 33, No. 3. (Online). https://jurnal.ugm.ac.id. (Diakses Pada 8 Oktober 2018). Ridho, Ali. 2013. Rancang Bangun Alat Ukur Unting-Unting Digital Dan Waterpass Digital Dengan Accelero Sensor Berbasisi Mikrokontroler ATmega8. Jurnal Rekayasa Genetika Vol.10 No.3. (Online). http://jurnal.fmipa.unila.ac.id. (Diakses Pada 8 Oktober 2018). Rifky. 2015. Panduan Penyetelan Theodolit Dan Pembacaan Sudut. (Online). http://share.its.ac.id. (Diakses Pada 8 Oktober 2018). Rinaldy. 2013. Membandingkan Hasil Pengukuran Beda Tinggi Dari Hasil Survei GPS dan Sipat Datar. Jurnal Online Institut Teknologi Nasional vol.1 no.2. (Online). https://jurnal.ugm.ac.id. (Diakses Pada 8 Oktober 2018). Rochmadi, Sunar. 1993. Perkembangan Teknologi Pemetaan Dan Kaitannya Dengan Pendidikan. Cakrawala Pendidikan NO.1 Tahun XXI. (Online). https://media.neliti.com. (Diakses Pada 8 Oktober 2018). Sudarsono, Bambang. 2006. Pengecekan Ketegakan Kolom Bangunan Dengan Metode Pemotongan Besi . Jurnal Teknik Sipil Vol.3 No.2. (Online). http://repository.unika.ac.id. (Diakses Pada 8 Oktober 2018). Sudianto, Lutgar. 2014. Analisis Pengukuran Bidang Tanah Menggunakan Metode RTK NTRIP Dengan Beberapa Provinder GSM. Jurnal Geodesi Undip Volume 3 Nomor 3. (Online). http://etd.repository.ugm.ac.id. (Diakses Pada 8 Oktober 2018). Supardjo. 2000. Penentuan Azimuth Matahari Dalam Pemetaan Topografi. (Online). www.iaea.org. (Diakses Pada 8 Oktober 2018). Syaifullah, Arief. 2014. Ilmu Ukur Tanah. (Online). http://www.stpn.ac.id . (Diakses pada 8 oktober 2018). Wahyu. 2014. Pengukuran Beda Tinggi Atau Sipat Datar. (Online). http://anzdoc.com. (Diakses Pada 8 oktober 2018) 13 Universitas Sriwijaya Wedegama. Priyantha. Diktat Kuliah Ilmu Ukur Tanah. (Online). https://rahbagus.files.wordpress.com. (Diakses Pada 8 oktober 2018) Widhi, Atut. 2014. Pemakaian Alat Survey dan Pengukuran. (Online). www.academia.edu. (Diakses Pada 8 oktober 2018) Winandra, Anggini. 2017. Pengenmbangan Media Pembelajaraan Beda Tinggi Menggunakan APP Inventor. (Online). http://journal.student.uny.ac.id. (Diakses Pada 8 oktober 2018) Yulfa, Arie. 2007. Pembuatan Peta Situasi Dua Dimensi Menggunakan Alat Ukur Tanah Sederhana. (Online). www.univpgri-palembang.ac.id. (Diakses Pada 8 oktober 2018). 14 Universitas Sriwijaya

Judul: Paper Ilmu Ukur Wilayah

Oleh: Ganda Sitorus

Ikuti kami