Pengantar Ilmu Sejarah

Oleh Kang Hyerin

10 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Pengantar Ilmu Sejarah

A. PENGANTAR ILMU SEJARAH
1. Pengertian
Sejarah adalah suatu kebetulan terjadi di masa yang telah lalu dan benar-benar terjadi, dan
kebetulan pula dicatat, biasanya kebenaran sejarah didukung bukti-bukti yang membenarkan
peristiwa itu benar-benar terjadi. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, ilmu sejarah adalah
suatu pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang benarbenar terjadi di masa lampau. Dari pengertian atau definisi di atas maka dapatlah dibedakan
antara sejarah dan ilmu sejarah: sejarah adalah kejadian atau peristiwanya, sedangkan ilmu
sejarah adalah ilmu yang mempelajari kejadian atau peristiwa tersebut.

2. Manfaat dan Kegunaan Mempelajari Ilmu Sejarah
Manfaat dan kegunaan yang dapat diambil dari kejadian yang telah lampau adalah:
pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu, dan dengan mempelajari
maka dapat diambil hikmah/pelajaran dari peristiwa tersebut. Pada peristiwa yang terjadi dapat
dianalisis kelebihan dan kekurangan yang ada dari peristiwa itu, dan pengetahuan tersebut
dapat meningkatkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan pada masa saat ini dengan
mempertimbangkan prinsip nilai yang terjadi di masa lalu, karena pada dasarnya peristiwa masa
lalu linear dengan masa saat ini dan yang akan datang.

B. MISI KELAHIRAN ISLAM
1. Masyarakat Arab Pra Islam
Masyarakat Arab pra Islam atau yang lebih dikenal dengan masyarakat jahiliyah hidup dalam
keterbelakangan, baik pengetahuan, sosial budaya, maupun peradaban. Masyarakat Arab pra
Islam tidak mengenal tulis dan baca. Kalaupun ada yang dapat menulis dan membaca, maka itu
hanya sebagian kecil saja. Sungguh pun begitu, pemahaman atau kebanggaan akan sastra
demikian tingginya pada masyarakat Arab ketika itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat
Arab pada masa itu hidup dalam kebodohan.
Posisi wanita pada saat itu tidak dihargai, mereka hanya dipandang sebagai benda bergerak
yang menyenangkan, bahkan wanita dianggap sebagai beban dan sumber bencana,
implikasinya adalah ada anggapan jika memiliki anak wanita akan mengakibatkan kemiskinan.
Dampak dari pandangan itu, maka tak heran jika mereka sering mengubur bayi wanita hiduphidup (kalau sekarang, belum lahir sudah dibunuh). Selain itu masyarakat Arab pra Islam hidup
dalam perpecahan klan (keluarga besar), karena mereka lebih menonjolkan ego kesukuan atau
kabilah, ini menyebabkan masyarakat Arab sering berperang antar kabilah dan tidak memiliki
rasa kebangsaan yang menyebabkan bangsa Arab menjadi lemah dan terpecah-pecah.

2. Periode Kenabian Muhammad
# Fase Makkah
Muhammad lahir di Makkah pada masa keadaam masyarakat yang buruk sekali. Muhammad

lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M.
Muhammad putra tunggal dari pasangan Abdullah dan Aminah. Sejak kecil Muhammad memiliki
sifat yang terpuji, sehingga kemudian ia dijuluki “al-amin” atau orang yang dapat dipercaya. Pada
usia yang ke-25 Muhammad menikah dengan seorang janda kaya yang bernama Khadijah.
Dalam masa pernikahannya ini Muhammad sering melakukan perenungan/kontemplasi di luar
kota Makkah, tepatnya di sebuah gua yang bernama Hira, beliau selalu memikirkan keadaan
masyarakatnya yang demikian rusak.
Pada saat Muhammad mendekati usia 40 tahun, beliau makin sering stress memikirkan
bangsanya, sehingga pelariannya dengan menyepi di gua Hira semakin sering kuantitasnya.
Suatu malam di bulan Ramadhan tepatnya tanggal 17 Ramadhan yang bertepatan dengan
tanggal 6 Agustus 610, Datanglah suatu penampakan yang ternyata adalah malaikat Jibril yang
menyampaikan wahyu pertama (Al-Alaq : 1 – 5), dan ini pertanda bahwa Muhammad telah
dilantik menjadi rasul dan nabi walaupun tanpa berita acara.
Pasca wahyu di gua Hira, Muhammad s.a.w. mendapat wahyu-wahyu berikutnya yang
memerintahkan kepada Muhammad s.a.w untuk menyampaikan dakwah. Isi dakwahnya adalah
ajakan untuk melakukan perubahan-perubahan yang revolusioner, perubahan yang dibawa
antara lain perubahan akhlak, karena Islam mengajarkan akhlak yang baik. Perubahan lain
adalah nilai persamaan, yang dimaksud adalah kesetaraan antar umat manusia, tidak ada
perbedaan antara laki-laki dan perempuan, antar ras, bangsa, dan lain sebagainya, di mata Allah
yang berbeda adalah ketaqwaan. Selain itu, ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang penting
untuk dilakukan, serta membangun solidaritas persaudaraan yang berimplikasi pada penguatan
nasionalisme atau keutuhan dalam berbangsa dan beragama.
Pada fase Makkah ajaran yang disampaikan Muhammad s.a.w berkaitan atau berhubungan
pada nilai ketauhidan atau iman, karena pada saat itu jaran Islam baru tegak kembali, sehingga
yang harus dibangun pertama-tama adalah fondasi aqidah atau iman yang dijadikan landasan
fundamental.
Tiap tahun kota Makkah selalu didatangi oleh kabilah-kabilah dari seluruh Arab yang datang
untuk untuk melakukan shoping atau ibadah haji. Muhammad s.a.w melakukan dakwah terhadap
orang-orang tersebut, dan usaha ini tidak sia-sia karena dari kalangan yang berasal dari daerahdaerah tersebut ada yang menyatakan keimanannya, di antaranya dari Yastrib. Konsekuensi
logis dari gerakan revolusioner berdampak pada peningkatan konstelasi politik masyarakat
Makkah, yang pada akhirnya memberikan satu pilihan kepada Muhammad s.a.w untuk
meninggalkan Makkah.
Pada hijrah yang kedua, Muhammad s.a.w. menginstruksikan kepada para pendukungnya untuk
meninggalkan kota Makkah menuju Yastrib yang dikemudian hari dikenal dengan Madinah.
Muhammad s.a.w pun pada akhirnya terpaksa harus meninggalkan Makkah menuju Madinah,
maka dimulailah babak baru dalam Islam, fase Madinah.

# Fase Madinah
Fase Madinah dimulai sejak hijrahnya Muhammad s.a.w dari Makkah ke Madinah, karena
Madinah dianggap baik untuk pembenihan Islam. Kaum muslimin yang berada di Madinah
terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Anshar (kaum muslimin tuan rumah) dan Muhajirin (kaum
muslimin pendatang dari Makkah), maka langkah pertama yang dilakukan adalah mempertalikan

hubungan kekeluargaan atau hubungan persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin,
karena hanya dengan persatuanlah, maka umat Islam akan kuat. Selanjutnya dilakukan lobi-lobi
politik atau perjanjian dengan kelompok di luar Islam yang ada di Madinah, karena pada saat itu
telah ada kelompok lain yang tinggal di sana, antara lain Yahudi.
Di Madinah lah Muhammad s.a.w. melakukan pembinaan masyarakat Islam. Pembinaan
masyarakat ini tidak hanya di bidang aqidah, tetapi juga menyangkut masalah politik, ekonomi,
dan sosial budaya. Di Madinah, perkembangan ajaran Islam maju dengan pesat. Pada fase ini
ajaran lebih ditekankan pada hukum kemasyarakatan atau lebih kepada muamallah.
Dengan semakin besarnya kaum muslimin, dianggap merupakan ancaman bagi kelompok lain,
maka semakin benci pula orang-orang Quraisy kepada Muhammad s.a.w. dan para
pendukungnya. Konstelasi kebencian makin meningkat sehingga mengakibatkan timbulnya
peperangan, antara lain Badr, Uhud, Ahzab, Khandaq, dan beberapa perang lainnya. Pada
prinsipnya bagi kaum muslimin peperangan ini adalah upaya defensif dan dalam rangka
menegakkan kalimah tauhid.
Muhammad s.a.w. mangkat dan dimakamkan di Madinah di usia 63 tahun, pada tanggal 12
Rabiul Awal 11 H, bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632.

C. LATAR BELAKANG BERDIRINYA HMI
1. Kondisi Islam di Dunia
Kondisi umat Islam dunia pada saat menjelang kelahiran HMI dapat dikatakan ketinggalan
dibandingkan masyarakat Eropa dengan Reinasance-nya. Ini dapat dilihat dari penguasaan
teknologi maupun pengetahuan, bahkan sebagain besar umat Islam berada di bawah ketiak
penindasan nekolim barat yang notabene dimotori oleh kelompok Kristen. Umat Islam hanya
terpaku, terlena oleh kejayaan masa lampau atau pada zaman keemasan Islam.
Umat Islam pada umumnya tidak memahami ajaran Islam secara komprehensif, sehingga
mereka hanya berkutat seputar ubudiyah atau ritual semata tanpa memahami bahwa ajaran
Islam adalah ajaran paripurna yang tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan,
namun lebih jauh daripada itu menderivasikan hubungan transenden ke dalam seluruh aspek
kehidupan.
Berangkat dari pemahaman ajaran Islam yang kurang, umat berada dalam keterbelakangan dan
fenomena ini terjadi dapat dikatakan di seluruh dunia. Hal tersebut mengakibatkan terpuruknya
umat Islam yang dijanjikan Allah untuk dipusakai alam semesta. Lebih ironis lagi ketika umat
terbagi menjadi berbagai golongan yang hanya berangkat dari masalah khilafiyah, yang
bedampak pada melemahnya kekuatan Islam.

2. Kondisi Islam di Indonesia
Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia saat itu, umat Islam berada dalam
cengkeraman nekolim barat. Penjajah memperlakukan umat Islam sebagai masyarakat kelas
bawah dan diperlakukan tidak adil, serta hanya menguntungkan kelompok mereka sendiri atau
rakyat yang sudah seideologi dengan mereka.

Umat Islam Indonesia hanya mementingkan kehidupan akhirat (katanya sich), dengan
penonjolan simbolisasi Isalam dalam ubudiyah, sebagai upaya kompensasi atas
ketidakberdayaan untuk melawan nekolim, sehingga pemahaman umat tidak secara benar dan
kaffah. Bahkan ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah ditutup, hal ini
menyebabkan umat hidup dalam suasana taqlid dan jumud.
Selain itu, umat Islam Indonesia berada dalam perpecahan berbagai macam aliran/firqah dan
masing-masing golongan melakukan truth claim. Hal ini menyebabkan umat Islam Indonesia
tidak kuat akibat kurang persatuan di kalangan umat Islam di Indonesia.

3. Kondisi Perguruan Tinggi dan Mahasiswa Islam
Perguruan tinggi adalah tempat untuk menuntut ilmu yang akan menghasilkan para pemimpin
untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Selain itu, perguruan tinggi adalah motor
penggerak perubahan, dan perubahan tersebut diharapkan menuju sesuatu yang lebih baik.
Begitu pentingnya perguruan tinggi, maka banyak golongan yang ingin menguasainya demi
untuk kepentingan golongan tersebut.
Sejalan dengan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis tersebut, ada
beberapa faktor dominan yang menguasai dan mewarnai perguruan tinggi dan dunia
kemahasiswaan, antara lain sistem yang diterapkan khususnya di perguruan tinggi adalah
sistem pendidikan barat yang mengarah pada sekularisme dan dapat menyebabkan dangkalnya
agama atau aqidah dalam kehidupan. Selain itu, adanya organisasi kemahasiswaan yang
berhaluan komunis dan ini menyebabkan aspirasi Islam dan umat Islam kurang terakomodir.
Faktor-faktor di atas adalah ancaman yang serius, karena menyebabkan masalah dalam hidup
dan kehidupan, serta keberadaan Islam dan umat Islam. Mahasiswa Islam kurang memiliki ruang
gerak karena berada dalam sistem yang sekuler dan tidak sesuai dengan ajaran Islam, dan
harus menghadapi tantangan dari mahasiswa komunis yang sangat bertentangan dengan fitrah
manusia dan bertentangan pula dengan ajaran Islam. Jelas sudah bahwa mahasiswa Islam
sangat sulit untuk bergerak memperjuangkan aspirasi umat Islam.

4. Saat Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
HMI lahir pada saat umat Islam Indonesia berada dalam kondisi yang memprihatinkan, yaitu
terjadinya kesenjangan dan kejumudan pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan ajaran
Islam, sehingga tidak tercermin dalam kehidupan nyata.
Pada saat HMI berdiri, sudah ada organisasi kemahasiswaan, yaitu Perserikatan Mahasiswa
Yogyakarta (PMY), namun PMY didominasi oleh partai sosialis yang berpaham komunis. Akibat
didominasi oleh partai sosialis maka PMY tidak independen untuk memperjuangkan aspirasi
mahasiswa, maka banyak mahasiswa yang tidak sepakat dan tidak bisa membiarkan mahasiswa
terlibat dalam polarisasi politik. Sebagai realisasi dari keinginan tersebut maka di Yogyakarta
pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan tanggal 5 Pebruari 1947 didirikanlah
sebuah organisasi kemahasiswaan, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi
independen dan sebagai anak umat dan anak bangsa.

D. GAGASAN DAN VISI PENDIRI HMI
1. Sosok Lafran Pane
Berdasarkan penelusuran dan penelitian sejarah, maka Kongres XI HMI tahun 1974 di Bogor
menetapkan Lafran Pane sebagai pemrakarsa berdirinya HMI, dan disebut sebagai pendiri HMI.
Lafran Pane adalah anak keenam dari Sutan Pangurabaan Pane, lahir di Padang Sidempuan, 5
Pebruari 1922, pendidikan Lafran Pane tidak berjalan “normal” dan “lurus”. Lafran Pane
mengalami perubahan kejiwaan yang radikal sehingga mendorong dirinya untuk mencari hakikat
hidup sebenarnya. Desember 1945 Lafran Pane pindah ke Yogyakarta, karena Sekolah Tinggi
Islam (STI) tempat ia menimba ilmu pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pendidikan agama Islam
yang lebih intensif ia peroleh dari dosen-dosen STI, mengubur masa lampau yang kelam.
Bagi Lafran Pane, Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang sempurna, karena Islam
menjadikan manusia sejahtera dan selamat di dunia dan akhirat. Pada tahun 1948, Lafran Pane
pindah studi ke Akademi Ilmu Politik (AIP). Saat Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada dan
fakultas kedokteran di Klaten, serta AIP Yogyakarta dinegerikan pada tanggal 19 Desember
1949 menjadi Universitas Gadjah Mada (UGM), secara otomatis Lafran Pane termasuk
mahasiswa pertama UGM. Setelah bergabung menjadi UGM, AIP berubah menjadi Fakultas
Hukum Ekonomi Sosial Politik, dan Lafran Pane menjadi sarjana pertama dalam ilmu politik dari
fakultas tersebut pada tanggal 26 Januari 1953.

2. Gagasan Pembaharuan Pemikiran Keislaman
Untuk melakukan pembaharuan dalam Islam, maka pengetahuan, pemahaman, penghayatan,
dan pengamalan umat Islam akan agamanya harus ditingkatkan, sehingga dapat mengetahui
dan memahami ajaran Islam secara benar dan utuh. Kebenaran Islam memiliki jaminan
kesempurnaannya sebagai peraturan untuk kehidupan yang dapat menghantarkan manusia
kepada kebahagian dunia dan akhirat.
Tugas suci umat Islam adalah mengajak umat manusia kepada kebenaran Illahi dan kewajiban
umat Islam adalah menciptakan masyarakat adil makmur material dan spiritual. Dengan adanya
gagasan pembaharuan pemikiran keislaman, diharapkan kesenjangan dan kejumudan
pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam dapat diminimalisir,
bahkan kalau bisa dihilangkan, hal ini dilakukan dan dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam.
Kebekuan pemikiran umat Islam telah membawa pada arti agama yang kaku dan sempit, tidak
lebih dari agama yang hanya melakukan peribadatan. Al-Qur’an hanya dijadikan sebatas bahan
bacaan, Islam tidak ditempatkan sebagai agama universal. Gagasan pembaharuan pemikiran
Islam ini pun hendaknya dapat menyadarkan umat Islam yang terlena dengan kebesaran dan
kejayaan masa lalu.

3. Gagasan dan Visi Perjuangan Sosial Budaya
Ciri utama masyarakat Indonesia adalah kemajemukan sosial budaya, kemajemukan tersebut
merupakan sumber kekayaan bangsa yang tidak ternilai, tetapi keberagaman yang tidak
terorganisir akan mengakibatkan perpecahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan awal saat HMI berdiri juga tidak terlepas pada gagasan dan visi perjuangan sosial
budaya, yaitu :
1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia
2) Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam
Dari tujuan tersebut jelaslah bahwa HMI ingin agar kehidupan sosial budaya yang ada menjadi
perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia guna mempertahankan kemerdekaan yang
baru diraih. Untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam pun harus dipelajari kondisi
sosial budaya gara tidak terjadi benturan kultur.
Masyarakat muslim Indonesia yang hanya memahami ajaran Islam sebatas ritual harus diubah
pemahamannya dan keadaan sosial budaya yang telah mengakar ini tidak dapat diubah serta
merta, tetapi melalui proses panjang dan bertahap.

4. Komitmen Keislaman dan Kebangsaan sebagai Dasar Perjuangan HMI
Dari awal terbentuknya HMI telah ada komitmen keumatan dan kebangsaan yang bersatu
secara integral sebagai dasar perjuangan HMI yang dirumuskan dalam tujuan HMI yaitu :
1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia yang
didalamnya terkandung wawasan atau pemikiran kebangsaan atau ke-Indonesiaan
2) Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam yang didalamnya terkandung pemikiran keIslaman
Komitmen tersebut menjadi dasar perjuangan HMI di dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sebagai organisasi kader, wujud nyata perjuangan HMI dalam komitmen keumatan
dan kebangsaan adalah melakukan proses perkaderan yang ingin menciptakan kader
berkualitas insan cita yang mampu menjadi pemimpin yang amanah untuk membawa bangsa
Indonesia mencapai asanya.
Komitmen keislaman dan kebangsaan sebagai dasar perjuangan masih melekat dalam gerakan
HMI. Kedua komitmen ini secara jelas tersurat dalam rumusan tujuan HMI (hasil Kongres IX HMI
di Malang tahun 1969) sampai sekarang, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang
diridhoi Allah SWT”. Namun kedua komitmen itu tidak dilakukan secara institusional, melainkan
dampak dari proses pembentukan kader yang dilakukan oleh HMI.

E. DINAMIKA SEJARAH PERJUANGAN HMI DALAM SEJARAH PERJUANGAN BANGSA
1. HMI dalam Fase Perjuangan Fisik
HMI ikut berjuang dalam perjuangan fisik ketika terjadi pemberontakan PKI di Madiun pada
tahun 1948. Pemberontakan tersebut bertujuan mengambil alih kekuasaan pemerintahan yang
sah dan ingin mendirikan “Soviet Republik Indonesia”. Menghadapi hal tersebut, HMI
menggalang seluruh kekuatan mahasiswa dengan membentuk Corps Mahasiswa. Selama waktu
krisis tersebut anggota HMI terpaksa meninggalkan bangku kuliah untuk mempertahankan
Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pengkhianatan PKI, selain itu HMI pun terlibat dalam
perjuangan fisik menghadapi agresi militer Belanda.

Sebagai anak umat dan anak bangsa, HMI selalu ikut dalam perjuangan fisik demi
mempertahankan negara Republik Indonesia. Dalam mempertahakan NKRI, anggota-anggota
HMI mengganti pena dengan memanggul senjata, HMI merasa ikut bertanggung jawab dalam
mempertahankan kedaulatan NKRI. HMI berkeyakinan bahwa dalam masyarakat yang berdaulat
dan merdeka akan tercipta keadilan dan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu HMI selalu
berusaha untuk memperthankan dan mempersatukan bangsa.

2. HMI dalam Fase Pertumbuhan dan Konsolidasi Bangsa
Saat HMI baru saja berdiri, terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang merupakan ancaman
terhadap kedaulatan bangsa, umat Islam, dan HMI sendiri. Kekuatan PKI ini makin memuncak
pada era 60-an, PKI menjadi salah satu kekuatan sosial politik besar di Indonesia. Posisi HMI
saat itu adalah menentang ajaran komunis dan mengajak semua pihak yang ada untuk
menentang komunis. Persoalan komunis bukan hanya persoalan bangsa dan negara, tetapi juga
persoalan HMI, akibat sikap HMI tersebut maka PKI menempatkan HMI sebagai salah satu
musuh utama yang harus diberangus. HMI menggalang konsolidasi dengan semua pihak yang
non komunis, karena komunis bertentangan dengan dasar negara, yaitu Pancasila. Selain itu
PKI selalu berusaha untuk merebut pemerintahan dan kekuasaan yang sah.
Untuk menghadapi pemilu 1955, HMI mengadakan Konferensi Akbar di Kaliurang Yogyakarta
paa tanggal 9 – 11 April 1955, keputusan yang diambil adalah :
1) Menyerukan kepada khalayak ramai untuk memilih partai-partai Islam dalam pemilu yang
akan datang
2) Menyerukan kepada partai-partai Islam supaya mengurangi keruncingankeruncingan, tidak
saling menyerang
3) Kepada warga dan anggota HMI supaya :
(a) Wajib aktif dalam pemilu
(b) Wajib aktif memilih salah satu partai Islam
(c) Mempunyai hak dan kebebasan untuk membantu dan memilih partai Islam yang disenangi
Dalam menghadapi sidang pleno Majelis Konstituante, PB HMI mengirimkan seruan kepada
seluruh anggota fraksi partai-partai Islam di konstituante agar dapat memikul amanah umat Islam
di Indonesia.
Ketika Demokrasi Terpimpin berjalan, HMI mendapat tekanan kuat, karena ada tuduhan bahwa
HMI kontra revolusi, dan lain-lain. Oleh karena itu HMI menggelar Musyawarah Nasional
Ekonomi HMI se-Indonesia di Jakarta pada tahun 1962. Ada beberapa pertanyaan yang
diajukan kepada HMI saat itu menyangkut sikap yang diambil HMI, yaitu: (1) Apakah HMI
mendukung Manipol/Usdek atau tidak? (2) HMI setuju Pancasila atau tidak? Dan (3) HMI setuju
sosialisme Indonesia atau tidak?
Munas memberikan jawaban sebagai berikut :
1) Ya, HMI mendukung Manipol/Usdek sebagai haluan negara yang ditetapkan oleh MPRS
2) Ya, HMI setuju Pancasila yang merupakan rancangan kesatuan dengan Piagam Jakarta
3) Ya, HMI setuju sosialisme Indonesia, yaitu masyarakat adil makmur yang diridhoi Tuhan Yang
Maha Esa
Dengan melakukan pendekatan-pendekatan itu maka HMI dapat terselamatkan, isu dan tuduhan

yang dilancarkan terhadap HMI tidak berhasil untuk mengubur HMI dalam percaturan sejarah.

3. HMI dalam Transisi Orde Lama dan Orde Baru
Tahun 1965, HMI mengalami tantangan yang berat, HMI terancam dibubarkan, dan lagi-lagi HMI
lulus dalam ujian sejarah sehingga HMI dapat mempertahankan eksistensinya hingga saat ini
(entah esok hari, entah lusa nanti, entah……). HMI adalah salah satu komponen bangsa yang
menentang faham dan ajaran komunis, sedangkan PKI saat itu merupakan kekuatan sosial
politik yang besar di negara Republik Indonesia.
PKI berkeinginan untuk membubarkan HMI karena merupakan salah satu musuh utamanya,
usaha untuk membubarkan HMI dilakukan PKI dengan gencar (Kalau tidak mampu
membubarkan HMI, lebih baik pakai sarung saja), apalagi menjelang Gestapu atau Gestok
(istilah Pemimpin Besar Revolusi Soekarno).
Masalah pembubaran HMI bukan hanya menjadi masalah internal, tapi lebih jauh daripada itu,
hal tersebut merupakan masalah umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.
Puncak dari usaha PKI untuk merebut kekuasaan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia
adalah dengan melakukan pemberontakan Gerakan 30 Sepetember/PKI tahun 1965.
Pemberontakan tersebut dimulai melalui cara penculikan terhadap para perwira tinggi TNI-AD
(kecuali Pangkostrad yang merupakan jabatan strategis, why ?), dan menghabisi para perwira
itu.
Menyikapi hal ini, HMI mengutuk Gestapu dan menyatakan bahwa gerakan tersebut dilakukan
oleh PKI (pernyataan bahwa G30S/PKI diotaki oleh PKI pertama kali dilontarkan oleh HMI –
sumber Agussalim Sitompul), HMI ikut membantu pemerintah dalam menumpas G30S/PKI dan
kerelaan HMI untuk membantu sepenuhnya ABRI.
Setelah turunnya Soekarno dan naiknya Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia, HMI
bersikap mendukung pemerintahan baru yang ingin menjalankan Pancasila dan UUD 1945
secara murni dan konsekuen (katanya sih gitu waktu naik) dan HMI ikut dalam usaha-usaha
untuk menumpas sisa-sisa PKI serta organisasi underbouw PKI.

4. HMI dalam Fase Pembangunan dan Modernisasi Bangsa
Berdasarkan tujuan HMI, maka kader HMI harus memiliki kualitas insan cita, yang karenanya
akan tercipta kader yang memiliki intelektual tinggi yang dilandasi oleh iman serta diabdikan
kepada umat dan bangsa. Pengabdian para kader ini akan dapat dijadikan penopang dalam
pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Peran HMI dalam pembangunan bangsa dapat dijabarkan sebagai berikut :
1) Partisipasi dalam pembentukan situasi dan iklim
2) Partisipasi dalam pemberian konsep
3) Partisipasi dalam bentuk pelaksanaan
Dalam menjalani peran tersebut, banyak halangan dan rintangan yang justru sebenarnya lebih
dominan faktor internal, misalnya pergeseran nilai yang berdampak pada hilangnya ruh

perjuangan HMI. Selain itu faktor eksternal memaksa HMI untuk terbawa pusaran kekuasaan,
misal masalah asas tunggal yang mengakibatkan perpecahan HMI menjadi dua yaitu HMI yang
bermarkas di Diponegoro dan HMI yang menamakan dirinya Majelis Penyelamat Organisasi.

5. HMI dan Fase Pasca Orde Baru
Setelah runtuhnya Orde Baru, dimulailah babak baru perjalanan bangsa yang dikenal dengan
sebutan Reformasi. Namun ternyata sampai saat ini reformasi masih berupa angan yang belum
dapat terealisir, ironisnya kehilangan arah, karena banyak komponen bangsa yang ingin
merasakan sesuatu yang instan, tetapi dengan harapan berumur panjang.
Peran HMI dalam reformasi banyak dipertanyakan orang, analisa sementara ini diakibatkan
penempatan peran HMI yang “salah” pada fase pembangunan. Bahkan gerakan mahasiswa di
luar HMI seringkali menempatkan HMI sebagai common enemy.
Dinamika organisasi di manapun akan selalu mengalami fluktuasi, akankah HMI tetap bertahan ?
[***]

Judul: Pengantar Ilmu Sejarah

Oleh: Kang Hyerin


Ikuti kami