Hakikat Ilmu Dakwah

Oleh Dliya Uyun

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Hakikat Ilmu Dakwah

HAKIKAT DAKWAH ISLAM
Makalah
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Filsafat Dakwah
Dosen Pengampu : Drs. Kasmuri, M.Ag.

Disusun oleh :
Ashim Annabil

1801026110

Mildan Nuril Ahsan

1801026131

Dliya Uyunil Hikmah

1801026132

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSUTAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2019

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Dakwah merupakan kegiatan mengajak pada kebaikan dan meninggalkan

pada keburukan. Dakwah dalam konteks tersebut tidak akan berhenti dan akan
terus berputar seperti itu selama umat manusia masih ada. Karna kebaikan dan
keburukan akan selalu berdampingan.
Dalam dakwah sendiri kita harus mengetahui apa sebenarnya hakikat dari
dakwah itu sendiri. Jika kita berbicara tentang hakikat maka kita harus
mengetahui beberapa hal untuk menyimpulkan sebuah hakikat suatu hal, yang
dalam makalah ini akan dibahas satu per satu.
B.

Rumusan Masalah
1.

Bagaimana Makna Dakwah dan Konsep Dakwah ?

2.

Bagaimana Dakwah Berperan Sebagai Kebutuhan Manusia ?

3.

Bagaimana Hakikat Dakwah Islam ?

1

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Makna dan Konsep Dakwah
1. Makna Dakwah

Dakwah berasal dari kata

‫دعا – يدعو – دعوة‬, yang secara lughawi

(etimologi) memiliki kesamaan dengan kata al-nida yang berarti menyeru dan
memanggil.1 Adapun dari tinjauan aspek terminlogis, pakar dakwah Syekh Ali
Mahfuz mengartikan dakwah dengan mengajak manusia kepada kebaikan dan
petunjuk Allah swt, menyeru mereka kepada kebiasaan yang baik dan melarang
mereka dari kebiasaan buruk supaya mendapatkan keberuntungan di dunia dan
akhirat.2 Dakwah yang dimaksudkannya bukan hanya tentang ceramah dan pidato
yang biasa dilakukan da’i tapi juga mencakup tulisan (bi al-qalam) dan juga
perbuatan (bi al-hal).
2. Konsep Dakwah
Dakwah merupakan usaha mewujudkan masyarakat yang menjujung
tinggi kehidupan beragama dengan merealisasikan ajaran islam secara penuh dan
menyeluruh.3 Dalam rangka mewujudkan tipologi masyarakat tersebut dakwah
mengembangkan empat konsep dakwah yang sekaligus menjadi gagasan pokok
dalam dakwah. Empat konsep tersebut mencakup yad’una ila al-khair berarti,
Amr ma’ruf, Nahyul munkar, dan Taghyirul munkar.

1
2
3

Muhammad Hasan al-Jamsi, al-Du’at wa al-Da’wat al-islamiyah al-Muasira, (Damaskus: Dar
al Rasyid, tt.) hlm. 24. dalam Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah, Rekayasa
Membangun Agama dan Peradaban Islam,( Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm.27
Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam,( Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm. 28
Ilyas Supena, Filsafat Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013) hlm. 104

2

a. Yad’una ila al-khoir
Mengandung pengerian menyeru umat manusia untuk menerima dan
mengamalkan ajaran islam yang menjadi sumber kebaikan dan kebenaran yang
hakiki dalam seluruh aspek kehidupan.4 Dapat juga diartika sebagai kemaslahatan
bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Usaha untuk menacap kemaslahan
dunia dan akhirat adalah hal fundamental yang dicita-citakan oleh kemanusiaan
secara universal. Dari kutipan surat Ali Imran ayat 104 dapat diperoleh
pemahaman bahwa al-khoir sebagai ide untuk mewujudkan kemaslahatan dunia
akhirat melingkupi dua tugas utama kemanusiaan, yaitu menyosialisasikan
kebaikan dan mencegah kejahatan.5
b. Amr Ma’ruf
Mengandung arti memerintahkan manusia untuk berbuat kebajikan
yang diridloi Allah swt untuk kemaslahatan manusia individu maupun
masyarakat.6 Ma’ruf juga dapat diartikan sebagai apa-apa yang dianggap baik oleh
akal dan syara’. Demikian karena ia bisa dibilang kebajikan yang telah
mengalami proses sintesis, dialog atau tawar menawar antara yang ideal syara’
dan identifaksi manusia dalam kondisi tertentu. Maka wajar bila ditemukan halhal yang dianggap baik dalam satu wilayah tidak begitu baik dalam wilayah lain.7
c. Nahyul Munkar
Nahyul munkar berarti menghalangi diri dari perbuatan munkar yang
dapat membawa kerugian dan bencana terhadap masyarakat.8

4
5
6
7
8

Ibid.
Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam,( Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm.34-35
Ilyas Supena, Filsafat Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013) hlm. 104
Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam,( Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm.35
Ilyas Supena, Filsafat Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013) hlm.105

3

d. Taghyirul Munkar
Berarti merubah setiap bentuk kemunkaran yang terdapat dalam
kehidupan manusia sehingga kemunkaran tersebut lenyap ditengahtengah kehidupan manusia.9
B.

Dakwah Sebagai Kebutuhan Manusia
Dakwah merupakan suatu kebutuhan mutlak bagi manusia. Tanpa dakwah,

manusia tidak mengenal kebajikan, jika kebajikan tidak lagi dikenal, sejarah hidup
akan kacau dengan fenomena kerusakan di muka bumi. Manusia terikat dengan
sejumah kebutuhan yang tersusun secara hierarkis, seperti kebutuhan fisik yang
bersifat mendesak sebagai kelangsungan hidupnya. Kebutuhan manusia akan
petunjuk agama dan dakwah, hidupnya akan teratur, banyak melakukan kebaikan.
Masyarakat yang tidak dibimbing dengan dakwah, hidupnya kacau, banyak
melakukan kejahatan. Kebutuhan manusia pada dakwah terdiri dari tiga pijakan
teologis.
1.

Ketundukan dan Kepasrahan Manusia Pada Kehendak Tuhan.
Mengantarkan kepada pola pikir dualisme sistem kehidupan, sistem

kehidupan yang diperkenankan (al-hayah al-mardiyyah) dan sistem yang
dimusuhi tuhan (al-hayah al-maghdubah). Sistem hidup yang diperkenankan
tuhan adalah suatu tatanan sistem hidup yang mengikuti dan sesuai kehendaknya.
Dengan seperti itu, tuhan dan manusia berada pada hubungan tuhan-hamba,
adapun ketundukan hamba ditentukan sejauh mana ia mengikuti aturan Tuhan
dalam sistem yang diciptakan-Nya.
2.

Pandangan Tentang Superioritas Manusia Terhadap Alam.
Mengantarkan kepada sebuah kesimpulan mengenai kedudukan istimewa

manusia ditengah pentas alam. Ketegasan mengenai nilai superioritas manusia,
9

Ibid.

4

ditentukan sejauh mana ia membedakan dirinya dan menjadi unggul melalui
potensi kelebihan yang dianugerahkan tuhan kepada mereka.
3.

Kerapuhan Batin atau Roh Manusia.
Berawal dari keyakinan bahwa ia adalah bagian dari Tuhan ketika

ditiupkan-Nya hawa kehidupan (roh) ke dalam jasad. Manusia tidak kuasa
memungkiri jati dirinya sebagai manifestasi dari sifat maha hidup dan kuasa ilahi.
Demikian rapuhnya, hingga ia tidak mungkin dapat mengenali dirinya sendiri
kecuali melalui pengenalan terhadap Tuhan. Semakin ia lari dari Tuhan,
sesungguhnya ia lari dari jati dirinya.10
Dilihat dari teori kebutuhan manusia (kebutuhan spiritual), dapat dipahami
pula bahwa manusia membutuhkan akan ketenangan jiwa. Salah satu caranya
adalah melalui jalan ibadah. Manusia tidak akan mampu beribadah apabila tidak
ada dakwah. Oleh karena itu, dakwah begitu penting bagi manusia. Ada dua aspek
makna pentingnya dakwah bagi manusia, yaitu11:
1.

Memelihara dan Mengembalikan Martabat Manusia
Dakwah adalah sebuah upaya agar manusia tetap menjadi makhluk yang

baik, bersedia mengimani dan mengamalkan ajaran dan nilai-nilai Islam, sehingga
hidupnya menjadi baik, harmonis, sejahtera, bahagia di dunia dan di akhirat serta
terbebas dari segala beban yang dipikulnya, yang mana pada akhirnya akan
membawa kelegaan pada jiwa manusia sehingga akan melahirkan manusia yang
bermartabat, yang beriman kepada Allah SWT dan RasulNya, dengan begitu,
manusia dapat menjalakan fungsinya sesuai dengan tujuan penciptaan-Nya, yaitu
sebagai khalifah-Nya dibumi, yang akan mengelola dan merawat bumi. Bukannya
makhluk yang selalu menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah seperti yang
dikhawatirkan oleh para malaikat. Oleh sebab itu dakwah harus bertumpu pada
tauhid, menjadikan Allah sebagai titik tolak dan sekaligus tujuan hidup manusia.
10 Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam,( Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm.38-44
11 Muhsin Hariyanto, Filsafat Dakwah. (Yogyakarta: FAI – UMY, 2016). hlm.

5

Di atas keyakinan tauhid itulah manusia harus melakukan kewajiban
menghambakan diri (mengabdi) hanya kepada Allah, dan menjalankan sebuah
risalah atau misi, yaitu menata kehidupan sesuai dengan yang dikehendaki Allah
SWT. Hal ini karena dakwah adalah mengajak orang untuk hidup mengikuti
ajaran Islam yang bertumpu pada (kesadaran) tauhid. Di atas fondasi tauhid itulah
Islam dibangun untuk dipedomani pemeluknya supaya hidupnya selalu baik dan
tidak seperti binatang ternak atau makhluk yang lebih rendah dari binatang.
2.

Membina Akhlak dan Memupuk Semangat Kemanusiaan
Dakwah juga penting dan sangat diperlukan oleh manusia karena

tanpanya manusia akan tersesat. Hidupnya menjadi tidak teratur dan kualitas
kemanusiannya merosot. Akibatnya manusia akan kehilangan akhlak seperti
nuraninya tertutup, egois, rakus, liar, akan saling menindas, saling menikung dan
saling memeras, melakukan kerusakan di atas dunia, sehingga pandangan malaikat
terhadap manusia sebagai makhluk yang hanya bisa berbuat kerusakan di
permukaan bumi dan penumpah darah akan menjadi kenyataan. Tanpa adanya
dakwah manusia akan kehilangan cinta kasih, keadilan, hati nurani, kepedulian
sosial dan lingkungan, karena manusia akan menjadi semakin egois, konsumtif,
dan hedonis. Manusia hanya akan mementingkan dirinya sendiri tanpa mau
memikirkan lingkungannya dan tidak peduli terhadap kesulitan dan penderitaan
masyarakat lain. Manusia juga akan memanfaatkan apa saja untuk memuaskan
hawa nafsunya, sehingga tidak ada perbedaan antara manusia yang makhluk
berakal dengan makhluk lain yang ada dibumi.
C.

Hakikat Dakwah Islam
Berdasarkan apa yang telah dijabarkan diatas ada tiga hal yang disebut

sebagai hakikat dakwah islamiah. yaitu bahwa dakwah itu adalah merupakan
sebuah kebebasan, rasionalitas, dan universal. Hakikat dakwah islam dapat dirinci
sebagai berikut :

6

1.

Kebebasan
Melihat dari pengertian dakwah yaitu mengajak dan menyeru pada

agama islam serta kebaikan. Maka, sangat diperhatikan bahwa dakwah tidak
menuntut atau mengancam. Dakwah islam hakikatnya membebaskan umat
manusia untuk menilai dengan pemikirannya sendiri tentang sebuah kebenaran
yang disampaikan padanya. Tidak dengan ancaman atau tindak kekerasan, tapi
dengan kelemah lembutan dan sopan santun yang membuat umat menjadi simpati
terhadap agama islam karna hati mereka sendiri.
2.

Rasionalitas
Manusia diciptakan Allah swt dengan kelebihan yang membedakannya

dengan makhluk lainnya yaitu dengan diberikan akal yang dapat digunakan untuk
berfikir. Dakwah islam sendiri merupakan ajaran untuk berfikir, berdebat dan
berargumen. Dimasa ini dakwa islam tidak bisa jika hanya disampaikan begitu
saja tanpa ada argumen yang rasional. Karna semakin berkembang zaman
manusia semakin kritis dalam menerima informasi.
3.

Universal
Ajaran agama islam tidak hanya berfokus pada umat islam. Tapi, juga

menyebarkan kebaikan bagi umat manusia secara menyeluruh. Tidak memandang
ras, suku atau perbedaan lainnya. Beberapa bentuk ajaran islam yang universal
yaitu etika, moral, tauhid, sosial, politik, ekonomi, dll.12
4.

Membangun Standar Kualitas Hidup
Dakwah pada hakikatnya merupakan upaya mewujudkan masyarakat

muslim yang ideal; yakni masyarakat yang adil, makmur, damai dan sejahtera di
bawah limpahan rahmat, karunia dan ampunan Allah swt. Masyarakat Saba’ yang
tercantum dalam al Qur’an surat Saba’ adalah contoh sebuah masyarakat yang
ideal dengan limpahan rizqi dan ampunan Allah swt. Berkat rasa syukur mereka
12 Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam,( Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm. 27-38

7

dan kemurahan Allah dengan memberi maaf atas segala kesalahan mereka. 13
Gambaran seperti itulah yang kemudian menjadi idealisma. Dengan demikian,
dakwah berusaha mewujudkan sikap beragama yang benar bagi masyarakat.14
Dari keterangan ini, dieperoleh ketegasan bahwa dakwah pada hakekatnya
merupakan kendaraan untuk menyampaikan pesan agama, melingkupi seluruh
aspek kehidupan manusia dan mengonsolidasikannya dalam format kehidupan
yang bermoral-kemanusiaan.15

13 Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir ak-Maraghi (Kairo : Musthafa al-Halaby, 1339 H/ 1974
M), Jilid XIII, Juz 22, hlm.69 dalam Ilyas Supena, Filsafat Ilmu Dakwah, (Yogyakarta:
Penerbit Ombak, 2013) hlm.105
14 Ilyas Supena, Filsafat Ilmu Dakwah, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013) hlm. 105
15 Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam,( Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm.38

8

BAB III
SIMPULAN
Dakwah

islam

meruapakan

suatu

kegiatan

mengajak,

menyeru,

menyampaikan kepada agama Allah dan kebaikan. Kebutuhan manusia kepada
dakwah islam sangat kuat yaitu sebagai batasan agar imannya tidak mudah luntur
atau mengembalikan iman manusia ketika sudah mulai keluar dari jalan yang
semestinya. Hakikat dakwah sendiri yang pokok ada tiga yaitu kebebasan,
rasionalitas dan universal.

9

Daftar Pustaka

Hariyanto, Muhsin.2016. Filsafat Dakwah. FAI – UMY. Yogyakarta
Ismail, Ilyas dan Hotman, Prio. 2011. Filsafat Dakwah, Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam. Prenada Media Group. Jakarta.
Supena, Ilyas. 2013. Filsafat Ilmu Dakwah. Penerbit Ombak. Yogyakarta.

10

Judul: Hakikat Ilmu Dakwah

Oleh: Dliya Uyun


Ikuti kami