Tugas Filsafat 2

Oleh Khairunnisa Siregar

10 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Filsafat 2

1. Pengertian Asbab al-Nuzul
Asbab al-Nuzul berasal dari kata asbab bentuk jamak dari sabab yang secara bahasa
artinya adalah segala sesuatu yang dengannya sampai kepada yang lainnya. Sedangkan
kata nuzul adalah masdar dari Nazala yang secara bahasa artinya adalah turun atau penurunan.
Penurunan di sini berkaitan dengan penurunan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW
berupa ayat-ayat yang terkumpul dalam al-Qur’an.
Dengan demikian secara bahasa Asbab al-Nuzul adalah segala sesuatu yang dengannya
turun ayat-ayat al-Quran kepada masyarakat Arab melalui Nabi Muhammad SAW. Menurut
Muhyidin dan Rosihan Anwar, Ashab al-Nuzul merupakan bentuk idhafah dari
kata Asbab dan Nuzul. Secara Etimologi, Asbab al-Nuzul adalah sebab-sebab yang
melatarbelakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena yang melatarbelakangi
terjadinya sesuatu bisa disebut asbab al-Nuzul, namun dalam pemakaiannya ungkapan Asbab alNuzul khusus dipergunakan untuk menyatakan sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya alQur’an. Seperti halnya Asbab al-Wurud secara khusus digunakan bagi sebab-sebab munculnya
hadits.
2.

Pengertian Asbabul Wurud

Secara etimologis, “asbabul wurud” merupakan susunan idhafah yang berasal dari kata
asbab dan al-wurud. Kata “asbab” adalah bentuk jamak dari kata “sabab”. Menurut ahli bahasa
diartikan dengan “al-habl” (tali), saluran yang artinya dijelaskan sebagai segala yang
menghubungkan satu benda dengan benda lainnya sedangkan menurut istilah adalah :
‫كل شيء يتوصل به الى غا يته‬
“Segala sesuatu yang mengantarkan pada tujuan”
Dan ada juga yang mendefinisikan dengan : suatu jalan menuju terbentuknya suatu
hukum tanpa ada pengaruh apapun dalam hukum itu.
Sedangkan kata Wurud bisa berarti sampai, muncul, dan mengalir seperti :
‫الماء الذي يورد‬
“Air yang memancar atau air yang mengalir “
Dengan demikian, secara sederhana asbabul wurud dapat diartikan sebagai sebab-sebab
datangnya sesuatu. Karena istilah tersebut biasa dipakai dalam diskursus ilmu hadis, maka
asbabul wurud dapat diartikan sebagai sebab-sebab atau latar belakang (background) munculnya
suatu hadis.
3. Ayat Al-Qur’an tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Sains dan ilmu pengetahuan adalah merupakan salah satu isi pokok kandungan kitab suci
al-Qur’an. Bahkan kata ‘ilm itu sendiri disebut dalam al-Qur’an sebanyak 105 kali, tetapi dengan
kata jadiannya ia disebut lebih dari 744 kali. Sains merupakan salah satu kebutuhan agama Islam,
betapa tidak setiap kali umat Islam ingin melakasanakan ibadah selalu memerlukan penentuan

waktu dan tempat yang tepat, umpamanya melaksanakan shalat, menentukan awal bulan
Ramadhan, pelaksanaan haji semuanya punya waktu-waktu tertentu dan untuk mentukan waktu
yang tepat diperlukan ilmu astronomi. Maka dalam Islam pada abad pertengahan dikenal istilah “
sains mengenai waktu-waktu tertentu”. Banyak lagi ajaran agama yang pelaksanaannya sangat
terkait erat dengan sains dan teknologi, seperti untuk menunaikan ibadah haji, bedakwah
menyebarkan agama Islam diperlukan kendraan sebagai alat transportasi. Allah telah meletakkan
garis-garis besar sains dan ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an, manusia hanya tinggal menggali,
mengembangkan konsep dan teori yang sudah ada, antara lain sebagaimana terdapat dalam Q.S
Ar-Rahman: 55/33.
Teknologi adalah pengembangan dan penggunaan dari alat, mesin, material dan proses yang
menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Kata teknologi sering menggambarkan
penemuan dan alat yang menggunakan prinsip dan proses penemuan saintifik yang baru
ditemukan. Akan tetapi, penemuan yang sangat lama seperti roda dapat disebut teknologi.
Definisi lainnya (digunakan dalam ekonomi) adalah teknologi dilihat dari status pengetahuan
kita yang sekarang dalam bagaimana menggabungkan sumber daya untuk memproduksi produk
yang diinginkan( dan pengetahuan kita tentang apa yang bisa diproduksi). Oleh karena itu, kita
dapat melihat perubahan teknologi pada saat pengetahuan teknik kita meningkat.
Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan
bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (Q.S ArRahman: 55/33).
Surat Ar-Rahman: 33
َ ‫ط ْعت ُ ْم َأ ْن ت َ ْنفُذُوا ِم ْن َأ ْق‬
َ َ ‫يَا َم ْعش ََر ْال ِج ِّن َواِإْل ْن ِس ِإ ِن ا ْست‬
‫ت‬
ِ ‫س َم َاوا‬
َّ ‫ار ال‬
ِ ‫ط‬
ْ
َ ‫سل‬
‫ان‬
ُ ِ‫ض فَا ْنفُذُوا ۚ اَل ت َ ْنفُذُونَ ِإاَّل ب‬
ِ ‫َواَأْل ْر‬
ٍ ‫ط‬
Artinya:
“Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit
dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.
Penjelasan :
Ayat tersebut berisi anjuran bagi siapapun yang bekerja di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi, untuk berusaha mengembangkan kemampuan sejauh-jauhnya sampai-sampai
menembus (melintas) penjuru langit dan bumi. Namun al-Qur’an memberi peringatan agar
manusia bersifat realistik, sebab betapapun baiknya rencana, namun bila kelengkapannya tidak
dipersiapkan maka kesia-siaan akan dihadapi. Kelengkapan itu adalah apa yang dimaksud dalam
ayat itu dengan istilah sulthan, yang menurut salah satu pendapat berarti kekuasaan, kekuatan
yakni ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa penguasaan dibidang ilmu dan teknologi jangan
harapkan manusia memperoleh keinginannya untuk menjelajahi luar angkasa. Oleh karena itu,
manusia ditantang dianjurkan untuk selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Surat Al-Mulk: 19.

َّ ‫ۚ َأ َولَ ْم يَ َر ْوا ِإلَى‬
ُ‫الرحْ ٰ َمن‬
ٍ ‫صافَّا‬
َّ ‫ت َويَ ْق ِبضْنَ ۚ َما ي ُْم ِس ُك ُه َّن ِإاَّل‬
َ ‫الطي ِْر فَ ْوقَ ُه ْم‬
‫ير‬
َ ‫ِإنَّهُ بِ ُك ِّل‬
ٌ ‫ص‬
ِ َ‫ش ْيءٍ ب‬
Artinya:
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan
mengatup sayapnya diatas mereka? Tidak ada yang menahan di (udara) selain Yang Maha
Pemurah Dia Maha Melihat Segala Sesuatu”.
Penjelasan :
Ayat diatas menceritakan tentang bagaimana burung bisa terbang mengembangkan
sayapnya. Itu karena burung dilengkapi dengan organ-organ tertentu, misalnya sayap, bulu-bulu
yang dapat menahan angin dan badan yang lebih ringan dari pada tenaganya, tentu hal serupa
juga tidak mustahil bagi manusia untuk bisa terbang, Bila dilengkapi dengan organ-organ yang
mampu menerbangkannya. Hai ini pernah dicoba oleh manusia terdahulu ketika mereka
mencoba terbang seperti burung. Mereka membuat sayap kemudian diikatkan pada kedua
tangannya, lalu terbang dari atas, namun sayang mereka tidak bisa terbang ke atas karena tidak
seimbang antara berat badannya dan kekuatan sayapnya.
Tetapi berkat akal pikirannya manusia akhirnya mampu membuat pesawat udara dan alat-alat
lain yang dapat menerbangkan dirinya bahkan benda-benda yang jauh lebih berat. Maha Besar
Allah yang telah manusia dan dilengkapi dengan akal pikiran.
Surat Al-Hadid: 25.
‫اس‬
ِ ‫سلَنَا ِب ْالبَيِّنَا‬
ُ ‫س ْلنَا ُر‬
ُ َّ‫وم الن‬
َ ‫ت َوَأ ْنزَ ْلنَا َمعَ ُه ُم ْال ِكت‬
َ ‫لَقَ ْد َأ ْر‬
َ ُ‫َاب َو ْال ِميزَ انَ ِليَق‬
‫ْأ‬
ْ
ْ
‫َأ‬
ْ
َّ
ْ‫اس َو ِليَ ْعلَ َم هَّللا ُ َمن‬
َ ‫س‬
ِ ‫بِ ْال ِقس‬
ِ ‫شدِيدٌ َو َمنَافِ ُع ِللن‬
ٌ َ‫ْط ۖ َو نزَ لنَا ال َحدِيدَ فِي ِه ب‬
ْ
ٌ ‫ع ِز‬
‫يز‬
ُ ‫ص ُرهُ َو ُر‬
ُ ‫يَ ْن‬
ِ ‫سلَهُ بِالغَ ْي‬
َ ‫ي‬
ٌّ ‫ب ۚ ِإ َّن هَّللا َ قَ ِو‬
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti
yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya
manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan
yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan
supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah
tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.
Penjelasan :
Dalam ayat tersebut, Allah menganugerahkan besi sebagai karunia yang tidak terhingga
nilai dan manfaatnya dalam kehidupan sehari- hari. kita bisa saksikan betapa besi banyak
memberikan manfaat kepada manusia. Dengan besi, manusia bisa menciptakan berbagai macam
keperluan rumah tangga, kendaraan laut, darat, udara dan sebagainya. Dengan besi pula manusia
dapat membina kekuatan bangsa dan negaranya, karena dari besi dibuat segala alat perlengkapan
pertahanan dan keamanan negeri, seperti senapan, kendaraan perang dan sebagainya. Karena
besi, bangunan-bangunan pencakar langit didirikan.
Tentu besi itu hanya salah satu contoh saja dari sekian banyak anugerah Allah yang telah

diberikan kepada manusia untuk keperluan hidupnya, seperti emas, perak, tembaga, timah, baja
dan lainnya. Kesemuanya itu tersedia di dalam perut bumi, tinggal bagaimana manusia bisa
mengeksploitasi dengan tidak merusak lingkungan.
Q.S Yunus : 101 Ayat ke 101
ُ ‫ا ْن‬
َ‫ض َو َما ت ُ ْغنِي اَآْليَاتُ َوالنُّذُ ُر َع ْن قَ ْو ٍم اَل يُْؤ ِمنُون‬
ِ ‫س َم َاوا‬
َّ ‫ظ ُروا َماذَا فِي ال‬
ِ ‫ت َواَأْل ْر‬

Artinya:
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat
tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak
beriman". (10: 101)
Menurut Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri

Ayat diatas menegaskan bahwa para nabi diutus dengan membawa mukjizat, keadilan dan
kebenaran. Allah berfirman “ sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan
membawa bukti-bukti yang nyata” yaitu dengan membawa mukjizat, argumentasi-argumentasi
yang akurat dan bukti-bukt nyata. “ dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab, yaitu
dalil naqli yang benar. “ dan neraca “ yang dimaksud adalah keadilan sebagaimana yang ditafsir
oleh Mujahid, Qatadah dan lainnya. Kitab dan neraca keadilan itulah yang merupakan sumber
kebenaran yang diakui oleh akal sehat lagi lurus. Dan lawannya adalah berbagai pendapat serta
pandangan yang tidak benar.
Q.S Al-Baqarah : 164
ْ ‫ض َو‬
‫اء ِم ْن‬
ِ ‫س َم َاوا‬
َّ ‫اس َو َما َأ ْنزَ َل هَّللا ُ ِمنَ ال‬
َّ ‫ق ال‬
ِ ‫س َم‬
ِ ‫اختِاَل‬
ِ ‫ت َواَأْل ْر‬
ِ ‫ف اللَّ ْي ِل َوالنَّ َه‬
َ َّ‫ار َو ْالفُ ْل ِك الَّتِي تَجْ ِري فِي ْالبَحْ ِر بِ َما يَ ْنفَ ُع الن‬
ِ ‫ِإ َّن فِي خ َْل‬
ْ
‫َأْل‬
‫َأْل‬
َّ َ‫ض بَ ْعدَ َم ْوتِ َها َوب‬
ٍ ‫ا‬ŸŸَ‫ض آَل ي‬
‫و ٍم‬Ÿْ َ‫ت ِلق‬
َّ َ‫ َّخ ِر بَيْن‬Ÿ‫س‬
َّ ‫اح َو‬Ÿ
ِ ‫ َم‬Ÿ‫الس‬
ِ ‫ ِر‬Ÿ‫َص‬
ْ ‫ ِّل دَابَّ ٍة َوت‬Ÿ‫ث فِي َها ِم ْن ُك‬
ِّ ‫يف‬
ِ ‫اء َوا ْر‬
ِ ‫ َحا‬Ÿ‫الس‬
َ ‫ب ال ُم‬
َ ‫َماءٍ فََأحْ يَا بِ ِه ا ْر‬
ِ Ÿَ‫الري‬
َ‫“ يَ ْع ِقلُون‬
Artinya:
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang,
bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya
dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran
Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Dialah yang menciptakan langit dan bumi untuk keperluan manusia, maka seharusnyalah
manusia memperhatikan dan merenungkan rahmat Allah Yang Maha Suci itu karena dengan
memperhatikan isi semuanya akan bertambah yakinlah dia pada keesaan dan kekuasaan-Nya,
akan bertambah luas pulalah ilmu pengetahuannya mengenai alam ciptaan-Nya dan dapat pula
dimanfaatkannya ilmu pengetahuan itu sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Yang Maha
Mengetahui. Hendaklah selalu diperhatikan dan diselidiki apa yang tersebut dalam ayat ini,
yaitu:


Bumi yang didiami manusia ini dan apa yang tersimpan di dalamnya berupa
perbendaharaan dan kekayaan yang tidak akan habis-habisnya baik di darat maupun di
laut



Langit dengan planet dan bintang-bintangnya yang semua berjalan dan bergerak menurut
tata tertib dan aturan Ilahi.

Tidak ada yang menyimpang dari aturan-aturan itu, karena apabila terjadi penyimpangan
akan terjadilah tabrakan antara yang satu dengan yang lain dan akan binasalah alam ini
seluruhnya. Hal ini tidak akan terjadi kecuali bila penciptanya sendiri yaitu Allah Yang Maha
Kuasa telah menghendaki yang demikian itu.
4. Hadis tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Hadits - hadits Nabi juga sangat banyak yang mendorong dan menekankan, bahkan
mewajibkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu (Alavi, 2003).
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:
“Menuntut ilmu itu suatu kewajiban kepada setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadits di atas memberikan dorongan yang sangat kuat bagi kaum muslimin untuk
belajar mencari ilmu sebanyak-banyaknya, baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu
umum, karena suatu perintah kewajiban tentunya harus dilaksanakan, dan
berdosa hukumnya jika tidak dikerjakan.
a. Bintang – bintang di langit
Nabi bersabda:
‫اء َأ َمنَةٌ النُّ ُج ْو ُم‬
ِ َ‫س َما َء َأت َى النُّ ُج ْو ُم ذَ َهب‬
َّ ‫ت فَِأذَا ِلل‬
َّ ‫ت ُ ْو َعد ُْونَ َما ال‬
ِ ‫س َم‬
‫َأ‬
ٌ
‫َأ‬
‫َأ‬
‫َأ‬
َ
َ
َ
ُ‫ْت‬
‫ِأ‬
‫ص َحابِى َمنَة ن ََاو‬
ْ ‫ص َحابِى ت َى ذ َهب ف ذا‬
ْ ‫ي ُْو َعد ُْونَ َما َأ‬
‫ُأِل‬
‫َأ‬
ٌ
‫َأ‬
‫ص َحابِى‬
ْ ‫َب فَِأذَا َّمتِى َمنَة َو‬
ْ ‫َأت َى َأ‬
َ ‫ص َحابِى ذَه‬
‫ي ُْو َعد ُْونَ َما ُأ َّم ِتى‬
Terjemahan:
“Bintang-bintang adalah pengaman bagi langit, jika bintang mati, maka datanglah pada
langit sesuatu yang mengancamnya. Dan aku adalah pengaman bagi sahabatku, jika aku mati,
maka datanglah kepada para sahabat sesuatu yang mengancam mereka. Sahabatku adalah
pengaman umatku, jika mereka mati, maka datanglah kepada umatku sesuatu yang mengancam
mereka.” (HR. Imam Muslim).
Penjelasan:
Dalam hadits ini hanya mambahas satu larik saja , yaitu sabda Nabi : “bintang-bintang
adalah pengaman langit. Jika bintang mati, maka datanglah pada langit sesuatu yang
mengancamnya.”

Maksud dari kematian bintang adalah meredup dan memudarnya sinar bintang. Sedang
maksud dari “sesuatu yang mengancam langit” adalah tersingkap, terpecah, terbuka, dan
perubahan langit menjadi sesuatu yang tidak terurus, ditelantarkan, dan dipenuhi asap dan kabut.
b. Pembelahan Bulan
Nabi Bersabda :
ُ َ‫اِ ْن ِشق‬
ُ ‫اق ْالقَ َم ِر ك ََر َمةً ِل َر‬
ِ‫س ْو ِل هللا‬

Terjemahan
“ Terbelahnya bulan merupakan karamah Rasulullah “. (HR. Imam Al-Bukhori ).

Penjelasan
Hadits ini diriwayatkan oleh oleh Imam Al Bukhori dalam Shahihnya kitab Al-Maghazy.
Maksud dari hadits ini adalah terbelahnya bulan ini adalah peristiwa . ini merupakan representasi
dari salah satu kemukjizatan indrawi yang muncul sebagai penguat bagi Rasulullah dalam
menghadapi kaum kafir dan musyrik Mekah dan pengingkaran mereka atas kenabian Nabi SAW.
Mukjizat adalah peristiwa adikodrati yang keluar dari ketentuan Sunnatullah. Oleh karena
itu, aturan-aturan duniawi tidak mungkin bisa memahami terjadinya mukjizat. Seandainya
mukjizat pembelahan bulan menjadi dua ini tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dan sejarah
Rasulullah, tentu kaum muslimin sekarang tidak akan mengimaninya. Jadi, fungsi hadits di atas
adalah untuk menguatkan bahwa Rasulullah benar-benar mempunyai mukjizat yaitu salah
satunya membelah bulan jadi dua.
Siklus Hujan.
Nabi Bersabda :
َ ‫َما ِم ْن َع ٍام بَِأقَ َّل َم‬
‫ط ًرا ِم ْن َع ٍام‬
Artinya:
“Tidak ada tahun yang lebih sedikit curah hujannya daripada tahun yang lain”
Penjelasan:
Al – Baihaqi meriwayatkan hadis ini dalam As-Sunan Al-kubra dari Ibnu Mas’ud Ra,
dari Rasulullah dengan teks hadis “tidak ada tahun yang lebih sedikit curah hujannya daripada
tahun yang lain”.
Kendati nash hadis berhenti (mauquf) pada Ibnu Mas’ud, sehingga mendorong beberapa
pengkaji hadis untuk melemahkan statusnya (dhaif) karena tidak dapat memahami petunjuk
ilmiahnya, namun hadis ini tetap mempresentasikan sebuah gebrakan ilmiah yang mendahului
khazanah sains modern sejak tahun 1400 tahun silam. Di samping itu, hadis ini merupakan salah
satu representasi kemukjizatan sains dalam hadits-hadits Nabi SAW. Sehingga meski berstatus
dho’if, hadis itu pun tetap kuat dan diperhitungkan.
Dari Abud Darda` radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

ْ َ‫ فِ ْي ِه ي‬،‫سلَكَ ِع ْل ًما‬
َ ‫ب ْيقًا‬
َ ‫ِم ْن‬
‫سلَكَ َم ْن‬
ُ ُ ‫طل‬
َ ‫ط ِر‬
َ ‫ط ِر ْيقًا ِب ِه لهُ ا‬
ْ
ْ
‫َأ‬
ُ
َ
َ
َ
‫ق‬
ِ ‫ ِلطا ِل‬،‫ْال ِع ْل ِم‬
َ َ ‫ب جْ نِ َحت َ َها لت‬
ِ ‫ ط ُر‬،‫ض ُع ال َمالَِئ َكة َوِإ َّن ال َجنَّ ِة‬
‫ت فِي َم ْن لَهُ لَيَ ْست َ ْغ ِف ُر ْالعَا ِل َم َوِإ َّن‬
ِ ‫س َم َوا‬
َّ ‫ فِي َو َم ْن ال‬،‫ض‬
ِ ‫اَأل ْر‬
ْ
ْ
ْ
َ
َّ
َ
ُ‫ف َج ْوفِي َوال ِح ْيت َان‬
ْ ‫ْالعَابِ ِد َعلى العَا ِل ِم ف‬
ِ ،‫اء‬
ِ ‫ض َل َوِإن ال َم‬
ْ
ْ
‫ض ِل‬
ْ َ‫علَىلبَد ِْر لَ ْيلَةَ القَ َم ِر َكف‬
ِ ‫ْالعُلَ َما َء َوِإ َّن ْالك ََوا ِك‬
َ ‫ساِئ ِر‬
َ ،‫ب‬
ُ‫ َو َرثَة‬،‫اء‬
ِ َ‫َارا ي َُو ِّرث ُ ْوا لَ ْم اَأل ْنبِيَا َء َوِإ َّن اَأل ْنبِي‬
ً ‫ َوالَ ِد ْين‬،‫د ِْر َه ًما‬
ْ
ْ
ٍّ ‫َوافِ ٍر بِ َح‬
ُ
‫ َو َّرثوا ِإنَّ َما‬،‫ظ َأ َخذَ َأ َخذَهُ فَ َم ْن ال ِعل َم‬
Artinya:
“Barangsiapa menempuh suatu jalan yang padanya dia mencari ilmu, maka Allah akan
mudahkan dia menempuh jalan dari jalan-jalan (menuju) jannah, dan sesungguhnya para
malaikat benar-benar akan meletakkan sayap-sayapnya untuk penuntut ilmu, dan sesungguhnya
seorang penuntut ilmu akan dimintakan ampun untuknya oleh makhluk-makhluk Allah yang di
langit dan yang di bumi, sampai ikan yang ada di tengah lautan pun memintakan ampun
untuknya. Dan sesungguhnya keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah
adalah seperti keutamaan bulan pada malam purnama atas seluruh bintang, dan sesungguhnya
ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan
tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh
dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud no.3641, At-Tirmidziy
no.2683, dan isnadnya hasan, lihat Jaami’ul Ushuul 8/6).
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
ْ
َ ٌ‫طاِئفَة‬
َ ‫َت ِم ْن َها‬
ْ
َّ
ْ ‫ فََأ ْنبَت‬, ‫ت ْال َما َء‬
ْ َ‫طيِّبَةٌ قَبِل‬
ْ ‫اب َأ ْرضًا فَكَان‬
ٍ ‫ َو ْال ِع ْل ِم َك َمث َ ِل َغ ْي‬, ‫إن َمث َ َل َما بَعَثَنِي هللاُ بِ ِه ِم ْن ْال ُهدَى‬
‫ب‬
َ ‫ َوالعُش‬, َ ‫َت ْالكَاَل‬
َ ‫ص‬
َ ‫ث َأ‬
‫ُأ‬
ْ
‫َأ‬
‫َأ‬
‫َأ‬
َ ‫اب‬
ْ
ْ
َّ
َ
َ
َ
ْ
َ
َ
َ
َ‫ز‬
‫طاِئفَةً ِم ْن َها ْخ َرى إنَّ َما‬
‫و‬
,
‫ُوا‬
‫ع‬
‫ر‬
‫و‬
,
‫ا‬
‫و‬
‫ق‬
‫س‬
‫و‬
,
‫ا‬
‫ه‬
‫ن‬
‫م‬
‫ُوا‬
‫ب‬
‫َر‬
‫ش‬
‫ف‬
‫اس‬
‫ن‬
‫ال‬
‫ا‬
‫ه‬
‫ب‬
‫هللا‬
‫ع‬
‫ف‬
َ
‫ن‬
‫ف‬
,
‫ء‬
‫ا‬
‫م‬
‫ال‬
‫َت‬
‫ك‬
‫س‬
‫م‬
‫ِب‬
‫د‬
‫ا‬
‫ج‬
‫ا‬
‫ه‬
‫ن‬
‫م‬
‫ك‬
‫و‬
,
‫ير‬
‫ث‬
‫ك‬
َ‫ان‬
ِ
ُ
ِ
ِ
ُ
ْ
ْ
َ ‫ص‬
َ
َ
َ
َ َ
َ َ
ِ
َ
َِ
َ
َ َ
َ
َ َ
َ َ ‫ْال‬
ٌ َ‫ِي قِيع‬
‫ َو َمث َ ُل َم ْن لَ ْم‬, ‫ َو َعلَّ َم‬, ‫ فَعَ ِل َم‬, ‫ َونَفَعَهُ بِ َما بَعَثَنِي هللاُ بِ ِه‬, ِ‫ِين هللا‬
ِ ‫ فَذَلِكَ َمث َ ُل َم ْن فَقُهَ فِي د‬, ‫ َواَل ت ُ ْنبِتُ َكًأَل‬, ‫ان اَل ت ُ ْمسِكُ ْال َما َء‬
َ ‫ه‬
‫ْأ‬
‫ُأ‬
ْ
َّ
‫ َولَ ْم يَ ْقبَ ْل ُهدَى هللاِ الذِي ْر ِسلتُ ِب ِه (رواه البخاري ومسلم‬, ‫سا‬
ً ‫يَ ْرفَ ْع ِبذَلِكَ َر‬
Artinya:
“Perumpamaan apa yang dituliskan oleh Allah kepadaku yakni petunjuk dan ilmu adalah
seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gemburyang dapat menerima
air lalutumbuhlah padang rumput yang banyak. Dari panya ada yang keras dapat menahan air
dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang tidak menolak
kepadanya, dan mengajar, dan perumpamaan orang yang pandai agama Allah dan apa yang
dituliskan kepadaku bermanfaat baginya, ia pandai dan mengajar, dan perumpamaan orang yang
tidak menolak kepadanya, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah, yang mana saya di utus
dengannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
c. Hadits - Hadits yang Menjelaskan Pentingnya Ilmu
Hadits-hadits yang menjelaskan pentingnya ilmu sangat banyak, dan tidak mungkin
disebutkan semuanya dalam makalah ini. Para ulama ahli hadits pada umumnya menuliskan bab
tersendiri yang menjelaskan pentingnya ilmu. Mereka bahkan menulis sebuah kitab yang khusus
menjelaskan betapa pentingnya ilmu bagi seluruh sendi kehidupan, baik dalam kehidupan dunia
maupun akhirat.
Sabda Rasulullah SAW:
‫اء (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وابن حبان‬
ِ َ‫ا َ ْلعُلَ َما ُء َو َرثَةُ اَأْل ْنبِي‬

Artinya: “Orang-orang yang berilmu adalah ahli waris para nabi” (HR. Abu Daud,
Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Tentu sudah diketahui, bahwa tidak ada kedudukan di atas kenabian dan tidak ada
kemuliaan di atas kemulian mewarisi kedudukan kenabian tersebut.
Rasulullah SAW bersabda:
‫ض (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وابن حبان‬
ِ ‫س َم َوا‬
َّ ‫يَ ْست َ ْغ ِف ُر ِل ْلعَا ِل ِم َما فِي ال‬
ِ ‫ت َواَأْل ْر‬
Artinya: “Segala apa yang ada di langit dan bumi memintakan ampun untuk orang yang
berilmu”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Kedudukan apa yang melebihi kedudukan seseorang yang selalu dimintakan ampun oleh
para malaikat langit dan bumi?.
Rasulullah SAW bersabda:
(‫بيهقي‬ŸŸŸŸŸŸ‫هُ (رواه ال‬ŸŸŸŸŸŸ‫س‬
ْ ‫ َع َوِإ ِن‬ŸŸŸŸŸŸَ‫ ِه نَف‬ŸŸŸŸŸŸْ‫ِي ِإ ِن احْ تِ ْي َج ِإلَي‬
ِ َّ‫ ُل الن‬ŸŸŸŸŸŸ‫ض‬
َ ‫َأ ْف‬
َ ‫هُ َأ ْغنَى نَ ْف‬ŸŸŸŸŸŸ‫ي َع ْن‬
ْ ‫ا ِل ُم الَّذ‬ŸŸŸŸŸŸَ‫ْؤ ِمنُ ْالع‬ŸŸŸŸŸŸ‫اس ْال ُم‬
َ ِ‫ت ُ ْغن‬ŸŸŸŸŸŸ‫اس‬
Artinya: “Seutama-utama manusia ialah seorang mukmin yang berilmu. Jika ia
dibutuhkan, maka ia menberi manfaat. Dan jika ia tidak dibutuhkan maka ia dapat memberi
manfaat pada dirinya sendiri”.(HR. Al-Baihaqi).
Hadits ini menjelaskan bagaimana keutamaan ilmu bagi seseorang, dimana ia akan
memberikan manfaat dan dibutuhkan oleh orang-orang disekitarnya. Bahkan jika seorang yang
berilmu terangsingkan dari kehidupan sekitarnya, ilmu yang ia miliki akan memberikan manfaat
kepada dirinya sendiri, dan menjadi penghibur dalam kesendiriannya.
Tentang pentingnya ilmu Rasulullah SAW bersabda:
‫ين (رواه البخاري ومسلم‬
ِ ِّ‫َم ْن ي ُِر ِد هللاُ ِب ِه َخي ًْرا يُفَقِّ ْههُ فِي الد‬
Artinya: “Barang siapa dikehendaki bagi oleh Allah, maka Allah memberi kepahaman
untuknya tentang ilmu”, (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini adalah hadits yang urgen, dimana seolah-olah Allah menggantungkan kebaikan
seseorang terhadap kepahamannya terhadap agama, dalam arti kwalitas dan kwantitas ilmunya
dalam masalah agama. Dari sini dapat diketahui bahwa ilmu adalah penting, karena ia menjadi
penentu baik dan buruk seseorang. Dengan ilmu ia akan membedakan salah dan benar, baik dan
buruk dan halal dan haram.
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
َ ٌ‫طاِئفَة‬
َ ‫َت ِم ْن َها‬
َّ
ْ ‫ فََأ ْنبَت‬, ‫ت ْال َما َء‬
ْ َ‫طيِّبَةٌ قَبِل‬
ْ ‫اب َأ ْرضًا فَكَان‬
ٍ ‫ َو ْال ِع ْل ِم َك َمث َ ِل َغ ْي‬, ‫إن َمث َ َل َما بَعَثَنِي هللاُ بِ ِه ِم ْن ْال ُهدَى‬
‫ب‬
َ ‫ َو ْالعُ ْش‬, َ ‫َت ْالكَاَل‬
َ ‫ص‬
َ ‫ث َأ‬
‫ُأ‬
ْ
‫َأ‬
‫َأ‬
‫َأ‬
ً
َ ‫اب‬
ْ ‫سك‬
‫طاِئفَة ِم ْن َها ْخ َرى إنَّ َما‬
ُ ‫ َو َكانَ ِم ْن َها َجاد‬, ‫ير‬
َ ‫ص‬
َ ‫ َو‬, ‫اس فَش َِربُوا ِم ْن َها‬
َ ‫ِب ْم‬
َ ‫ َو‬, ‫ َوزَ َرعُوا‬, ‫سقَ ْوا‬
َ ِ‫ْال َكث‬
َ َّ‫ فَنَفَ َع هللاُ بِ َها الن‬, ‫َت ال َما َء‬
ٌ َ‫ِي ِقيع‬
‫ َو َمث َ ُل َم ْن لَ ْم‬, ‫ َو َعلَّ َم‬, ‫ فَعَ ِل َم‬, ‫ َونَفَعَهُ ِب َما بَعَث َ ِني هللاُ ِب ِه‬, ِ‫ِين هللا‬
ِ ‫ فَذَلِكَ َمث َ ُل َم ْن فَقُهَ ِفي د‬, ‫ َواَل ت ُ ْن ِبتُ َكًأَل‬, ‫ان اَل ت ُ ْمسِكُ ْال َما َء‬
َ ‫ه‬
‫ْأ‬
‫ُأ‬
ْ
َّ
ْ
َ
‫ َول ْم يَقبَ ْل ُهدَى هللاِ الذِي ْر ِسلتُ بِ ِه (رواه البخاري ومسلم‬, ‫سا‬
ً ‫يَ ْرفَ ْع بِذَلِكَ َر‬

Artinya: “Perumpamaan apa yang dituliskan oleh Allah kepadaku yakni petunjuk dan
ilmu adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Dari tanah itu ada yang gemburyang dapat
menerima air lalutumbuhlah padang rumput yang banyak. Dari panya ada yang keras dapat
menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itu perumpamaan orang yang
tidak menolak kepadanya, dan mengajar, dan perumpamaan orang yang pandai agama Allah dan
apa yang dituliskan kepadaku bermanfaat baginya, ia pandai dan mengajar, dan perumpamaan
orang yang tidak menolak kepadanya, dan ia tidak mau menerima petunjuk Allah, yang mana
saya di utus dengannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Sahal bin Sa’ad RA, ia menceritakan sabda Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi
Thalib:
‫احدًا َخي ٌْر لَكَ ِم ْن ُح ْم ِر النَّعَ ِم (رواه البخاري ومسلم‬
ِ ‫ َو‬, ‫ِي هللاُ ِبكَ َر ُجاًل‬
َ ‫فَ َواَهللِ َأَل ْن يَ ْهد‬
Artinya: “Demi Allah! Jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang karenamu, maka
itu lebih baik dari pada himar-himar ternak” (HR. Bukhari Muslim)
Rasulullah SAW bersabda:
‫ضاَل لَ ٍة َكانَ َعلَ ْي ِه ِم ْن‬
َ ‫ور ِه ْم‬
ُ ُ‫ اَل يَ ْنق‬, ُ‫ور َم ْن ت َ ِبعَه‬
َ ‫عا إلَى‬
َ َ‫ َو َم ْن د‬, ‫ش ْيًئا‬
ِ ‫ص ذَلِكَ ِم ْن ُأ ُج‬
ِ ‫َم ْن دَ َعا إلَى ُهدًى َكانَ لَهُ ِم ْن اَأْلجْ ِر ِمثْ ُل ُأ ُج‬
‫ام ِه ْم (رواه مسلم‬
ِ َ ‫ص ذَلِكَ ِم ْن آث‬
ُ ُ‫اِإْل ثْ ِم ِمثْ ُل آث َ ِام َم ْن تَبِعَهُ اَل يَ ْنق‬.
Artinya: “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahalapahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun dari phala-pahala itu. Barang siapa
mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya,
tidak dikurangi sedikitpun dari dosa-dosa itu” (HR. Muslim).
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
َ َ‫إذَا َماتَ ابْنُ آدَ َم ا ْنق‬
ٍ ‫ط َع َع َملُهُ إاَّل ِم ْن ثَاَل‬
‫صا ِل ٌح يَ ْدعُو لَهُ (رواه مسلم‬
َ ٌ‫ َأ ْو َولَد‬, ‫ َأ ْو ِع ْل ٌم يُ ْنتَفَ ُع ِب ِه‬, ٌ‫اريَة‬
َ :‫ث‬
ِ ‫صدَقَةٌ َج‬
Artinya: “Jika anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amalnya kecuali dari tiga perkara,
shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya” (HR. Muslim)
Hadits-hadits tersebut menjelaskan keutamaan-keutamaan dan pentingnya ilmu bagi
manusia. Dan masih banyak hadits-hadits lain.
d. Pandangan Ulama Tentang Pentingnya Ilmu.
Imam As-Syafi’i mengatakan:
‫ َو َم ْن َأ َرادَ اآْل ِخ َرة َ فَعَلَ ْي ِه بِ ْال ِع ْل ِم‬, ‫َم ْن َأ َرادَ الدُّ ْنيَا فَعَلَ ْي ِه بِ ْال ِع ْل ِم‬
Artinya: “Barang siapa menghendaki (kebaikan) dunia, maka hendaknya ia
menggunakan ilmu, dan barang siapa menghendaki kebaikan akhirat, maka hendaknya
menggunakan ilmu”.
Menurut Al-Ghazali Ilmu, pengetatahuan itu indah, mulia dan utama. Tetapi, selama
keutamaan itu sendiri masih belum dipaham, dan yang diharapkan dari keutamaan itu masih
belum terwujud, maka tidak mungkin diketahui bahwa ilmu adalah utama.

Keutamaan adalah kelebihan. Jika ada dua benda yang sama, sementara salah satunya
mempunyai kelebihan, maka benda itu bisa disebut utama, kalau memang kelebihan yang
dimaksud adalah kelebihan dalam sifat kesempurnaan.
Sesuatu yang indah dan disenangi ada tiga macam, yaitu: sesuatu yang disenangi karena
ada faktor lain diluarnya, sesuatu yang disenangi karena nilai eksentriknya dan sesuatu yang
dicari karena nilai eksentriknya juga karena ada faktor lain diluarnya.
Uang adalah sesuatu yang disenangi. Tetapi ia disenangi bukan karena nilai eksentriknya
tetapi karena ada faktor lain berupa dapat dibuatnya uang untuk mendapatkan yang lain.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang disenangi karena nilai eksentriknya, artinya ia disenangi
karena kebahagian itu sendiri. Sedangkan sesuatu yang disenangi karena ada faktor lain dari luar
dan juga karena nilai eksentriknya dapat dicontohkan seperti kesehatan badan. Kesehatan badan
disamping bisa dibuat untuk memperoleh tujuan dan kebutuhan lain, ia juga disenangi karena
didalamnya sendiri ada nikmat dan kenyamanan. Dari ketiga macam hal di atas, yang tentunya
lebih utama adalah yang ketiga.
Apabila memandang ilmu pengetahuan, maka ia termasuk yang ketiga. Ilmu itu sendiri
adalah keindahan dan kelezatan, disamping ia dapat dijadikan perantara mendapatkan
kebahagian, baik di dunia maupun akhirat. Dengan ilmu kedekatan kepada Allah dapat diraih,
kelas lebih tinggi para malaikat dapat diperoleh dan status sosial yang tinggi di surga dapat
dinikmati. Dengan ilmu kemulian dunia, pengaruh, pengikut, kemewahan, kekuasaan dan
kehormatan dapat diperoleh. Bahkan binatang pun secara naluri akan tunduk kepada manusia
karena ilmu yang dimilikinya. Inilah kesempurnaan ilmu secara mutlak.
Ali bin Abi Thalib berkata kepada Kumail yang artinya:
“Wahai Kumail, ilmu itu lebih utama dari pada harta karena ilmu itu menjagamu,
sedangkan kamu menjaga harta. Ilmu adalah hakim, sedang harta adalah yang dihakimi. Harta
menjadi berkurang jika dibelanjakan, sedangkan ilu akan berkembang dengan diajarkan kepada
orang lain”.
Menurut Al-Mawardi, keutamaan dan pentingnya ilmu dapat diketahui oleh semua orang.
Yang tidak dapat mengetahuinya hanya orang-orang bodoh. Perkataan ini adalah petunjuk bagi
keutamaan ilmu yang lebih mengena, karena keutamaan ilmu hanya dapat diketahui oleh ilmu itu
sendiri. Ketika seseorang tidak berilmu untuk mengetahui keutamaan ilmu, maka ia meremehkan
ilmu, menganggap hina para pemilinya, dan menyangka bahwa hanyalah kekayaan dunia yang
akan mengantarkannya kepada sebuah kebahagiaan.

Judul: Tugas Filsafat 2

Oleh: Khairunnisa Siregar


Ikuti kami