Perkembngan Ilmu Komunikasi

Oleh Okta Viani

10 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Perkembngan Ilmu Komunikasi

Perkembngan ilmu komunikasi
1. Perkembangan Ilmu Komunikasi di zaman kuno
Komunikasi adalah konteks arti yang berlaku sekarang ini memeng belum dikenel saat itu. Istilahnya
yang berlaku pada zaman tersebut adalah "Retorika". Disebutkan bahwa pada zaman kebudayaan
mesir kuno telah ada tokoh-tokoh retorika seperti Kagemi dan Ptah- Hotep. Namun demikian tradisi
retorika sebagai upaya yang sistematis dan terorganisasi baru dilakukan di zaman Yunani kuno
dengan perintisnya Aristoteles (Golden, 1978). Lebih lanjut Aristoteles menyatakan bahwa retorika
mencangkup 3 unsur yakni:
• ethos (kredibilitas sumber),
• pathos (hal yang menyangkut emosi/perasaan), dan
• logos (hal yang menyangkut fakta).
Pokok-pokok pikiran Aristoteles dikembangkan oleh Cicero dan Quintilian mereka menyusun aturan
retorika yang menyangkut 5 unsur:
• Inventio (urutan argumentasi)
• Dispesitio (pengaturan ide)
• Eloqutio (gaya bahasa)
• Memoria (ingatan), serta
• Pronunciatio (cara penyampaian pesan).
Perkembangan komunikasi sebagai ilmu selalu dikaitkan dengan aktifitas retorika yang terjadi di
zaman Yunani kuno, sehingga menimbulkan pemahaman bagi pemikir-pemikir barat bahwa
perkembangan komunikasi pada zaman itu mengalami masa kegelapan (dark ages) karena tidak
berkembang di zaman Romawi kuno. Dan baru mulai dicatat perkembangannya pada masa
ditemukannya mesin cetak oleh Guttenberg (1457). Sehingga masalah yang muncul adalah, rentang
waktu antara perkembangan ilmu komunikasi yang awalnya dikenal retorika pada masa Yunani
kuno, sampai pada pencatatan sejarah komunikasi pada masa pemikiran tokoh-tokoh pada abad 19,
sangat jauh. Sehingga sejarah perkembangan ilmu komunikasi itu sendiri terputus kira-kira 1400
tahun. Padahal menurut catatan lain, sebenarnya aktifitas retorika yang dilakukan pada zaman
Yunani kuno juga dilanjutkan perkembangan aktifitasnya pada zaman pertengahan (masa
persebaran agama). Sehingga menimbulkan asumsi bahwa perkembangan komunikasi itu menjadi
sebuah ilmu tidak pernah terputus, artinya tidak ada mata rantai sejarah yang hilang pada
perkembangan komunikasi. Makalah ini ingin mengangkat zaman persebaran agama yang
berlangsung antara rentang waktu tersebut (zaman pertengahan) menjadi bagian dari
perkembangan ilmu komunikasi. Sehingga zaman pertengahan menjadi jembatan alur
perkembangan komunikasi dari zaman yunani kuno ke zaman renaissance, modern, dan
kontemporer.

Perkembangan Ilmu Komunikasi di zaman Modern
1. PERIODE PERTUMBUHAN: 1900 – PERANG DUNIA KE II
Pada awal abad ke-19, sedikitnya ada tiga perkembangan penting yang terjadi. Pertama, adalah
telepon, telegrap, radio, TV, dan lain-lain. Kedua, pecahnya Perang Dunia I dan II memberi bentuk
dan arah pada bidang kajian ilmu komunikasi yang terjadi di masa ini. Aspek-aspek yang diteliti
mencakup penggunaan teknologi baru dalam pendidikan formal, keterampilan komunikasi, strategi
komunikasi instruksional, serta reading dan listening. Sementara di bidang penelitian komunikasi
komersial, dampak iklan terhadap khalayak serta aspek-aspek lainnya yang menyangkut industri
media mulai berkembang sejalan dengan tumbuhnya industri periklanan dan penyiaran
(broadcasting). Jerman dan Perancis, merupakan pusat intelektual terkemuka di dunia

2. PERIODE KONSOLIDASI : PD II – 1960an
Periode setelah Perang Dunia II sampai tahun 1960an disebut sebagai periode konsolidasi (Delia,
dalam Berger dan Chaffee, 1987). Karena pada masa ini konsolidasi dari pendekatan ilmu komunikasi
sebagai suatu ilmu pengetahuan sosial bersifat multidisipliner (mencakup berbagai ilmu) mulai
terjadi. Kristalisasi Ilmu Komunikasi ditandai oleh 2 hal :
Adanya adopsi perbendaharaan istilah-istilah yang dipakai secara seragam. Munculnya buku-buku
yang membahas tentang pengertian komunikasi telah menjadi suatu pendekatan yang lintas
disipliner dalam arti mencakup berbagai disiplin ilmu lainnya. Sedikitnya ada 7 pokok diantaranya :
Claude E. Shannon, Norbert Wiener, Harold Lasswell. Institute of communication Research yang
didirikan Schramm di Illinois pada tahun 1947, merupakan Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu
Komunikasi yang pertama di Amerika Serikat. Sementara itu dua tokoh lainnya yakni : Claude E.
Shannon dan Norbert Wiener disebut sebagai insinyur-insinyur komunikasi. Istilah Mass
Communication (Komunikasi Masa) dan Communication Research (Penelitian Komunikasi) mulai
banyak dipergunakan. Cakupan bidang studi komunikasi mulai diperjelas dan dibagi dalam empat
bidang tataran : komunikasi intrapribadi, komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok dan
organisasi, dan komunikasi macro-sosial serta komunikasi massa.

3. PERIODE TEKNOLOGI KOMUNIKASI : 1960an – Sekarang
Sejak tahun 1960an perkembangan ilmu komunikasi semakin kompleks dan mengarah pada
spesialisasi. Menurut Rogers (1986) perkembangan studi komunikasi sebagai suatu disiplin telah
mulai memasuki periode take off (tinggal landas) sejak tahun 1950. Periode masa sekarang juga
disebut sebagai periode teknologi komunikasi dan informasi yang ditandai oleh beberapa faktor
sebagai berikut:
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi seperti komputer, VCR, TV Cable parabola. Tumbuhan
industri media yang nampaknya tidak hanya bersifat nasional tetapi juga regional dan global.

Ketergantungan terhadap situasi ekonomi dan politik global/internasional khususnya dalam konteks
center periperhy. Semakin gencarnya kegiatan pembangunan ekonomi di seluruh negara. Semakin
meluasnya proses demokratisasi ekonomi dan politik.

Arus penyebaran dan pemusatan informasi regional dan global (misalnya transborder data flow),
aspek-aspek politik dan ekonomi informasi, kompetisi antar industri media, dampak sosial dari
teknologi interaktif seperti komputer, komunikasi manusia mesin, dampak telekomunikasi terhadap
hubungan antar budaya, serta aspek-aspek yang menyangkut manajemen informasi. Pendekatan
disiplin ekonomi mulai diterapkan, karena disadari bahwa informasi dimasa sekarang ini merupakan
yang mempunyai nilai tambah.

Referensi :
1. Effendi, Onong Uchjana. (1993). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung: PT.Citra Aditya
bakri. Hal. 2-7.
2. Prajarto, Nunung. (2002). Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: Komunikasi, Akar Sejarah dan Buah
Tradisi Keilmuan. Yogyakarta: ……..?
3. http://www.anneahira.com/ilmu/ilmu-komunikasi.htm
4. http://abdiaghoenk.multiply.com/journal/item/21/sejarah_ilmu_komunikasi.html
5. http://www.winkplace.com/2011/03/pengetahuan-bukan-merupakan-ilmu.html

Definisi
Apa itu ilmu komunikasi? berikut ini pembahasan mengenai pengertian ilmu komunikasi secara jelas.
Ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari tentang tata cara beromunikasi serta menggunakan
berbagai alat komunikasi sebagai saran komunikasi terhadap masyarakat.

Adapun definisi ilmu komunikasi yang lain yaitu ilmu yang mempelajari cara-cara untuk mentransfer
ide dari satu individu atau grup ke individu ataupun ke grup yang lainnya. Proses transfer itu sendiri
dapat melalui media tertulis, lisan, maupun media yang lainnya.

Sedangkan pengertian ilmu komunikasi menurut para ahli atau beberapa pakar dalam buku Sasa
Djuarsa Sendjaja, Pengantar Ilmu Komunikasi, salah satunya yaitu Berelson & Stainer, 1964
mengatakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian,
dan lain-lain menggunakan simbol-simbol, seperti kata-kata, gambar, angka, dan lain-lain.

Teori komunikasi

1. Teori Komunikasi Lasswell

Harold Lasswell, Teoritikus ternama yang banyak menyumbangkan ide dan fikirannya terkait cabang
ilmu sosial dan komunikasi. Di tahun 1948, Ia mengemukakan model komunikasi yang sederhana
dan hingga kini masih diterapkan sebagai model komunikasi dasar. Model tersebut yakni :

Siapa (Who) – Berbicara apa (Says What) – Dengan media apa (In Which Channel) – Kepada Siapa (To
Whom) – Dan dengan Efek apa (With What Effect)
ads

2. Teori Komunikasi Behaviorisme

Jenis teori komunikasi yang satu ini mungkin sangat sering anda dengar. Teori ini dikembangkan oleh
ilmuan asal Amerika Serikat bernama Jhon B. Watson (1878 – 1958). Menurutnya Teori
Behaviorisme ini mencakup semua perilaku, termasuk tindakan balasan atau respon terhadap suatu
rangsangan atau stimulus. Artinya bahwa selalu ada kaitan antara stimulus dengan respon pada
perilaku manusia. Jika suatu stimulus atau rangsangan yang diterima seseorang telah teramati, maka
dapat diprediksikan pula respon dari orang tersebut.

3. Teori Komunikasi Humanisme

Teori ini dikembangkan oleh Ncneil (1977) yang diilhami oleh perkembangan psikologi humanisme.
Komunikasi humanisme pernah diimplementasikan dalam dunia pendidikan melalui Humanistic
curriculum. Isi teori lebih menekankan pada pembagian pengawasan dan tanggung jawab bersama
antar peserta didik. Dengan harapan, nantinya peserta didik dapat menyesuaikan dalam kehidupan
masyarakat.

Baca juga :

Komunikasi Politik

bahasa sebagai alat komunikasi
komunikasi organisasi
4. Teori Informatif

Teori ini dikembangkan oleh Sannon dan Weaver (1949). Teori informasi merupakan salah satu teori
klasik, dimana teori ini menitikberatkan pada komunikasi sebagai suatu transmisi pesan dan
bagaimana transmitter menggunakan media dalam berkomunikasi. Dalam hal ini, jika sinyal media
yang digunakan baik, maka komunikasi akan berjalan efektif, begitu pula sebaliknya. Apabila sinyal
media tidak baik, maka komunikasi tidak akan berjalan dengan lancar.

5. Teori Uses and Gratifications (Penggunaan dan Kepuasan)

Teori ini dikembangkan oleh Blummer dan Kutz (1974). Mereka berpendapat bahwa pengguna
media memiliki peran aktif dalam memilih media yang digunakannya. Sehingga, pengguna media
dapat dikatakan sebagai pihak utama dalam suatu proses komunikasi. Dalam hal ini, pengguna
mempunyai pilihan untuk menentukan media yangs sesuai dengan kebutuhanya.

Baca juga : komunikasi massa – Cabang Ilmu Komunikasi

6. Teori Agenda Setting

Teori ini dikembangkan oleh Mc combs dan Shaw (1972). Teori Agenda Setting beranggapan apabila
media memberikan tekanan pada suatu peristiwa maka, media tersebut akan membuat masyarakat
menganggap peristiwa itu penting. Dalam hal ini, media mempunyai efek yang sangat kuat dalam
mempengaruhi asumsi masyarakat. Sehingga akan muncul asumsi bahwa apa yang dianggap penting
oleh media akan dianggap penting oleh masyarakat.

Baca juga: pengantar ilmu komunikasi

7. Teori Kontruktivisme

Piaget dan Vigotski adalah dua nama yang selalu dikaitkan dengan teori ini. Teori kontruktivisme
beranggapan bahwa manusia selalu memiliki pandangan sendiri terhadap kenyataan, Mereka
senantiasa mencari dan mempelajara untuk menemukan bahasa pertama dan kedua. Di sisi lain,
teori ini juga didefinisikan sebagai pembelajaran generatif. Pembelajaran yang merupakan suatu
tindakan untuk menciptakan suatu makna dari apa yang telah dipelajari.

8. Teori Nativisme

Chomsky dan Hadley (1993) dalah tokoh pendukung teori nativisme. Teori ini berpandangan bahwa
manusia satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat berkomunikasi melalui verbal. Disisi lain, bahasa
merupakan suatu yang kompleks, oleh karenanya manusia senatiasa belajar untuk dapat
berkomunikasi dengan makhluk Tuhan yang lain.

Baca juga :

hambatan-hambatan komunikasi
komunikasi non verbal
9. Teori Sibernetik

Wiener (1945) adalah tokoh dibalik teori ini. Teori ini tergolong teori baru sejalan dengan
berkembangnya teknologi informasi dan ilmu sosial. Teori sibernatik merupakan suatu sistem
pengontrol yang didasarkan pada komunikasi, antara sistem dengan lingkungan dan antar sistem itu
sendiri. Pengontrol dari sistem berfungsi dalam memperhatikan lingkungan. Penerapan teori
sibernetik biasanya diperuntukkan kepada siswa agar mencapai hasil yang efektif.

10. Teori Kognitivisme

Teori kognitivisme mengedepankan proses belajar dibandingkan dengan hasil proses itu sendiri.
Belajar tidak hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Tetapi juga
melibatkan proses berfikir yang kompleks. Lebih dari itu, belajar merupakan proses perubahan
persepsi dan pemahaman. Menurut aliran ini kita belajar didasarkan atas kemampuan kita
menafsirkan peristiwa atau kejadian dalam suatu lingungan. Dimana proses belajar tersebut
terdapat empat tahapan yaitu Asimilasi, Akomodasi, Disquilibari, dan Equilibrasi.

11. Teori Ketergantungan

Teori ini dikemukakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Malvin Defluer (1976). Fokus dari teori ini
terletak pada kondisi struktural yang ada dimasyarakat. Fokus ini sangat cenderung mudah untuk
dipengaruhi oleh media massa. Teori ini dapat disematkan pada komunitas masyarakat modern,
dimana pada masyarakat modern, media massa dianggap suatu hal yang sangat penting
dalammencapai tujuan beberapa proses. Di antaranya yaitu proses memelihara, perubahan, serta
konflik dalam tataran masyarakat dan masalah perorangan dalam suatu aktivasi sosial.

Baca juga:

proses interaksi sosial
pola komunikasi organisasi
12. Teori Inokulasi

Teori ini pada mulanya disampaikan oleh Mc Guaire, dimana inokulasi dapat pula disebut sebagai
suntikan yang mengambil analogi pada ilmu medis. Ibaratkan orang yang tidak siap menahan
penyakit maka dia harus disuntikan vaksin untuk memperkuat daya tahan tubuhnya. Teori ini
mengemukakan bahwa lebih baik membekali terbujuk dengan argumen sanggahan daripada
membiarkanya tidak siap menyangkal perspektif lawan.

13. Teori Kultivasi

Teori kultivasi merupakan teori komunikasi yang membahas mengenai efek dari komunikasi masa.
Pandangan dari teori ini adalah bahwa media masa memiliki efek yang bersifat kumulatif dan lebih
berdampak pada tataran sosial budaya dalam masyarakat dari pada personal seseorang. Teori ini di
kembangkan oleh George Gabner.

14. Teori Spiral Of Silence (Spiral Keheningan)

Teori ini berkaitan dengan bagaimana terbentuknya suatu pendapat umum dalam masyarakat. Spiral
of Silence menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum dalam masyarakat di tentukan oleh
proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan presepsi

masing-masing individu serta hubungannya dengan pendapat orang lain dalam masyarakat. Teori ini
di kembangkan oleh Elizabeth Noelle dan Neuman (1976).

Baca juga : Teori Komunikasi Antar Pribadi

15. Teori Norma dan Budaya

Teori ini beranjak dari pada pengaruh media massa yang kuat mengenai suatu hal. Hal tersebut
dapat mempengaruhi kondisi sosial budaya dalam masyarakat. Pesan dari media massa mampu
mengubah norma yang sudah ada dalam masyarakat, disisi lain juga mampu memperkuat norma
yang ada dalam masyarakat. Lebih dari itu, mampu menciptakan norma baru dalam masyarkat.

16. Teori Belajar Sosial

Teori ini dicetuskan oleh Bandura (1925). Ia mengemukakan bahwa perilaku manusia dalam konteks
sebuah interaksi tingkah laku terdapat hubungan timbal baik yang saling berkesinambungan.
Interaksi terjadi antara perilaku kognitif dan pengaruh lingkungan. Pengalaman melalui observasi
dan pengamatan terhadap suatu pesan yang disampaikan menjadi suatu hal yang penting dalam
teori ini.

Dalam teori ini, terdapat empat tahapan, pertama pembelajaran sosial terjadi atas adanya perhatian
dari individu. Kedua, pembelajaran sosial dilakukan melalui ingatan. Ketiga, pembelajaran sosial
dilakukan melalui tindakan, serta terakhir yaitu pembelajaran sosial dilakukan atas dasar motivasi
dari masing-masing individu.

Sponsors Link

17. Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa

Teori ini merupakan salah satu teori dari komunikasi massa. Dependasi efek komunikasi massa
beranggapan bahwa kepercayaan individu kepada media akan berkembang apabila kebutuhan
informasional yang tidak dapat ditemukan dalam pengalaman langsung terpenuhi. Massa dinilai

bergantung pada media untuk mencapai tujuan. Ini merupakan pendekatan konsisten dengan
gagasan dasar dari model penggunaan.

Little John, menilai ketergantungan seseorang dinilai dari jumlah dan sentralitas tentang fungsi
informasi yang disajikan, serta stabilitas sosial. Semakin penting media terhadap individu, semakin
tinggi pula nilai dari media tersebut.

Baca :

Komunikasi Visual
Etika dalam Berkomunikasi di Internet
18. Teori Birokrasi

Teori birokrasi digunakan untuk komunikasi organisasi. Max Weber (1948), mengungkapkan bahwa
model birokrasi sering kali dipakai untuk mencapai komunikasi organisasi yang efektif. Menurut
Weber, ada delapan karakteristik struktural terkait birokrasi organisasi, yaitu :

Terdapat aturan dan prosedur sesuai standar.
Mampu meminimalisir pekerjaan yang sulit.
Hirearki organisasi yang terstruktur.
Kemampuan anggota yang mumpuni.
Memiliki kemampuan Multi – tasking.
Profesionalitas yang tinggi. (Baca juga : Pengaruh Media Sosial)
Uraian tugas yang terstruktur dan teratur.
Rasionalitas untuk mencapai keberhasilan.
19. Teori Analisis Transaksional

Analisis transaksional merupakan pendekatan Psychotherapy yang menekankan hubungan
interaksional. Transaksional sendiri dimaksudkan sebagai hubungan komunikasi antar individu. Teori
ini digunakan untuk mengetahui bentuk dan isi pesan yang tersampaikan dalam suatu komunikasi.

Analisis ini bertujuan mengetahui tingkat keefektifan komunikasi yang terjalin antara individu. Eric
Berne (1960), adalah pengembang teori analisi ini yang dinilai cocok untuk digunakan dalam
konseling kelompok.

20. Teori Pengharapan Nilai

Teori ini merupakan bagian dari teori komunikasi massa. Teori pengharapan nilai bertujuan untuk
mengetahui pengaruh penggunaan media terhadap massa dinilai dari kepentingan penggunaannya.
Sikap seseorang terhadap segmen – segmen media ditentukan dari evaluasi dan prespektif mereka
terhadap media tersebut. Teori ini merupakan turunan dari Teori Uses and Gratifications.

Baca juga : Komunikasi Sosial

21. Teori Struktural Fungsional

Teori ini merupakan bangunan paling dasar dari ilmu sosial. Beberapa tokoh yang mencetuskan teori
ini diantaranya August Comte, Emile Durkheim, dan Herbert Spencer. Pemikiran struktural
fungsional dipengaruhi oleh pemikiran biologis yang menganggap masyarakat yang saling
ketergantungan akibat konsekuensi dari bertahan hidup. Tujuan dari teori ini adalah mencapai
keteraturan sosial.

22. Teori Difusi Inovasi

Teori ini menjelaskan bagaimana suatu inovasi disampaikan melalui saluran – saluran tertentu
kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Rogers (1961) menjelaskan bahwa “difusi adalah
suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus dan berkaitan dengan penyebaran beberapa pesan
berisi gagasan – gagasan baru. Teori ini sering dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat.

23. Teori Sikap (Standpoint)

Harding dan Wood, dua teoritikus ini menjelaskan bahwa salah satu cara terbaik untuk mengetahui
bagaimana keadaan dunia dimulai dari sikap atau sudut pandang wanita. Standpoint sendiri adalah

sebuah tempat untuk memandang dunia sekitar. Dunia tersebut menjadi fokus perhatian
dibandingkan fitur lainnya. Standpoint memiliki makna yang tidak jauh berbada dari prespektif.
Menurut Harding, fokus bahasa dari standpoint adalah kaum wanita yang cenderung
termarginalisasi. Oleh karena itu, teori ini merupakan turunan dari teori feminisme.

Baca juga :

Komunikasi Pemerintahan
internet sebagai media komunikasi
24. Teori Komunikasi Dua Tahap

Teori ini didasari oleh penelitian yang dilakukan oleh Paul Lazarsfeld dan teoritikus lainnya. Teori
Komunikasi dua tahap membahas mengenai efek media massa dan pertama kali diterapkan dan
kampanye pemilihan umum 1940. Studi ini memiliki asumsi bahwa proses stimulus bekerja dalam
menghasilkan efek ke media massa.

25. Teori Komunikasi Administrasi

Teori komunikasi administrasi adalah proses penyampaian pesan yang dilakukan secara timbal balik
antar anggota. Teori ini dimaksudkan dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa saling pengertian
dalam rangka mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien. Fungsi dari penerapan teori ini
adalah untuk menjaga stabilitas informasi agar tercipta penyesuaian sikap yang memadai antar
bagian dalam organisasi.

Baca :

Teori Media Baru
Sistem Komunikasi Indonesia
26. Teori Connectionism (Thorndike)

Teori ini disebut juga dengan teori Trial and Error. Menurut teori ini, masing – masing organisme
apabila bertemu dengan situasi yang baru akan melakukan beberapa tindakan yang bersifat

coba-coba secara terus menerus. Kemudian, jika dalam usaha coba coba tersebut secara tidak
sengaja timbul perbuatan yang dirasa memenuhi situasi, maka perbuatan tersebut akan terus
diterapkan sebagai salah satu tindakan yang dinilai cocok dalam situasi tersebut. Dengan percobaan
yang dilakukan secara berkelanjutan, maka perbuatan tersebut menjadi suatu kebiasaan dan
semakin efisien untuk diterapkan.

Kemudian, berikut proses belajar menurut Thorndike, yaitu Law of Effect

Law of Effect

Proses ini merupakan bentuk tingkah laku yang memberi kepuasan sesuai tuntutan situasi yang ada.
Kemudian, tingkah laku tersebut akan selalu diingat dan dipelajari dalam kurun waktu yang lama.
Sebaliknya, semua tingkah laku yang memberi dampak negatif perlahan akan ditinggalkan. Proses
tingkah laku ini terjadi secara alamiah. Dan juga, dapat dilatih berdasarkan syarat -syarat yang
berlaku.

Kemudian, Thorndike memiliki pandangan bahwa organisme adalah suatu mekanismus. Ia hanya
akan melakukan gerakan atau tindakan apabila terdapat rangsangan yang memiliki pengaruh
terhadap dirinya. Gerakan tersebut terjadi secara otomatis. Terjadinya otomatisme menurut
Thorndike dikarenakan adanya law of effect.

Kemudian, dalam kehidupan sehari-hari, law of effect dapat dilihat saat pemberian penghargaan
atau ganjaran, dan juga pemberian hukuman dalam pendidikan. Karena adanya law of effect, timbul
reaksi antara hubungan (connection) atau asosiasi antara tingkah laku reaksi yang menghasilkan
sesuatu yang kemudian disebut dengan dampak atau hasil (effect). Karena, adanya relasi antara
reaksi dengan dampaknya itu, maka teori Thorndike disebut juga Connectionism.

Baca juga:

Konteks Komunikasi
Peran Media Komunikasi Politik
Efek Media Sosial
27. Teori Systematic Behavior (Hull)

Clark C Hull mendalami teori Thorndike dalam usahanya mengembangkan teori belajar dalam
komunikasi. Beberapa prinsip yang digunakan memilki kesamaan dengan prinsip para behaviorus
yang berdasarkan adanya stimulus dan respon serta motivasi.
Teori ini mengungkapkan bahwa suatu kebutuhan atau keadaan terdesak oleh motif tujuan, maksud
tertent, harus dimiliki dalam seseorang yang sedang belajar. Kebutuhan tersebut harus ada sebelum
suatu respon yang dapat diperkuat oleh dasar pengurangan kebutuhan. Kemudian, dalam hal
efisiensi belajar, tergantung pada besarnya tingkat pengurangan serta kepuasan motif. Lalu timbul
usaha belajar dari keberadaan respon tersebut. Di sisi lain, setiap obyek atau situasi dapat memiliki
nilai motivasi apabila hal itu berhubungan dengan penurunan terhadap kekurangan pada diri
individu tersebut.
Baca juga:

Komunikasi Pembelajaran
Jenis- jenis Interaksi Sosial
28. Teori Operant Conditioning (Skinner)

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Skinner (1904-1990). Skinner menganggap penghargaan dan
motivasi adalah dua faktor penting dalam pembelajaran. Tak hanya itu, Skinner berpendapat bahwa
tujuan psikologi dalam komunikasi adalah untuk mengontrol tingkah laku. Pada teori ini, seorang
guru memberikan penghargaan hadiah atau nilai tinggi yang bertujuan agar anak menjadi lebih rajin.
Di sisi lain, Operant conditioning merupakan suatu proses pemberian motivasi terhadap suatu
perilaku yang kemudian mengakibatkan perilaku tersebut dapat terulang atau menghilang sesuai
keinginan.

Kemudian, Operant conditing menjamin respon terhadap stimuli. Bila tidak ada tanda – tanda
keberadaan stimuli, maka guru tidak bisa membimbing siswa untuk mengarahkan perilakunya.
Dalam proses ini, guru mempunyai peran untuk mengontrol dan membimbing siswa dalam suatu
proses belajar. Hal ini bertujuan untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan.

Terdapat beberapa Prinsip belajar Skinners, diantaranya:

Hasil belajar harus segera disampaikan pada siswa. Jika salah dibenarkan jika benar diberi motivasi.
Proses belajar harus mengikuti pola dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem
modul.

Dalam proses pembelajaran, lebih mementingkan aktivitas sendiri, sedangkan hukuman tidak
berlaku. Untuk itu, lingkungan perlu di modifikasi untuk menghindari hukuman.
Tingkah laku yang sesuai dengan keinginan pendidik layak diberikan penghargaan, dan sebaliknya.
Dalam pembelajaran menggunakan shapping.
29. Teori Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)

Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Ivan Petrovich Pavlo. Menurut teori ini, belajar merupakan
suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions). Kemudian syarat –
syarat tersebut akan menimbulkan reaksi atau respon. Lalu, untuk membuat seseorang itu belajar,
keberadaan syarat – syarat tersebut dibutuhkan. Di sisi lain, fokus dalam teori ini adalah
pembelajaran yang terjadi secara otomatis setelah latihan – latihan yang dilakukan terus menerus.

Beberapa penganut teori ini menjelaskan bahwa segala bentuk tingkah laku manusia adalah hasil
daripada conditioning. Hasil tersebut berasal dari latihan atau kebiasaan, yang kemudian bereaksi
terhadap rangsangna tertentu dalam kehidupan sehari – hari.

Teori ini juga memiliki kelemahan. Karena teori ini menganggap bahwa belajar hanya terjadi secara
otomatis, maka keaktifan dan penentuan pribadi pun diabaikan. Dalam bertindak atau berbuat
sesuatu, individu tidak semata – mat mengandalkan pengaruh dari luar. kepribadian juga memiliki
peranan penting dalam memililih atau menentukan perbuatan dan reaksi apa yang akan
dilakukannya.

Baca juga:

Komunikasi Asertif
Komunikasi Pertanian
30. Teori Standpoint (Sikap)

Teori ini menilai bahwa pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki individu, sebagian besar
dibentuk oleh kelompok sosial dimana mereka cenderung aktif berkomunikasi.Teori ini dikemukakan
oleh Wood, J. T. (1982), dalam West, R., & Turner, L. H., (2000). Melalui pendapat ini, dapat terlihat
kerangka tentang sistematika pengaruh kekuatan untuk pembentuk identitas.

Teori sikap (standpoint theory-ST), membentuk kerangka agar dapat memahami sistem kekuasaan.
Teori kerangka ini dibangun berdasarkan pengetahuan yang berasal dari kehidupan sehari-hari.
Individu-individu adalah konsumen aktif dari realitas. Kemudian, perspektif individu-individu adalah
sumber informasi yang terpenting terkait pengenalan terhadap pengalaman mereka (Riger,1992).
Bahkan, teori ini mengakui bahwa pengalaman, pengetahuan, dan perilaku komunikasi individu
sebagian besar terbentuk oleh kelompok sosial dimana individu berpartisipasi.

Baca juga:

Komunikasi Islam
Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Manajemen Komunikasi
Pola Komunikasi Organisasi
Sistem Komunikasi Indonesia
Manfaat Mempelajari Teori Komunikasi
Sebagaimana dijelaskan pada pembuka artikel ini, bahwasanya komunikasi menjadi hal yang sangat
penting dalam kehidupan manusia sebagai mahkluk sosial yang senantiasa berhubungan dengan
orang lain. Dimana komunikasi menjadi jembatan bagi manusia untuk menjalin hubungan dengan
orang lain. Oleh karenanya komunikasi menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tak
terpisahkan satu dengan yang lainya. Sehingga teramat penting bagi kita untuk mempelajari teoriteori komunikasi.

Apa manfaatnya ketika kita mempelajari teori komunikasi berdasarkan Teori Komunikasi Menurut
Para Ahli? secara teoritis manfaat pertama yang kita peroleh tentu adalah pandangan ilmu yang luas
mengenai studi komunikasi itu sendiri. Berbagai teori komunikasi ini tercetuskan melalui proses
kajian dan penelitian mendalam oleh para ilmuan sosial yang tentu saja secara praktis terdapat
dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, setelah kita mempelajari teori komunikasi, apalagi Teori Komunikasi Menurut Para
Ahli, kita paham berbagai macam teori, dan mampu menjadi pribadi yang dapat berkomunikasi
dengan baik. Lebih dari itu, kita mampu memantapkan diri dan tidak mudah terbawa arus dengan
komunikasi yang bermuatan negatif.

Judul: Perkembngan Ilmu Komunikasi

Oleh: Okta Viani


Ikuti kami