Ilmu Kalam

Oleh Nuzulmiqafah Amas Tasya Putri

15 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Ilmu Kalam

A. H.M. Rasjidi (1915-2001)
1. Riwayat Hidup Singkat H.M. Rasjidi
H.M. Rasjidi lahir di kota gede, Yogyakarta, pada 20 mei 1915 atau 4
rajab 1333 H dan wafat 30 januari 2001. Nama kecilnya adalah saridi, tetapi
setelah menjadi murid ahmad syurkati, pimpinan Al-Irsyad, sebelum lulus
dari pelajaranya

saridi diberi nama baru oleh ahmad syurkati sebagai

“Muhammad rasjidin”. Nama baru itu secara resmi digunakan oleh saridi
pasca menunaikan ibadah haji, beberapa tahun kemudian. Ia lahir di tanah
jawa yang kental dengan nuansa keislamanya. Walau pun demikian, praktek
praktek kebatinan masih kental dalam nuansa jawa dalam keluargan dan
lingkunganya pada masakecil. Bahkan, pada masa selanjutnya beliau
mengakui bahwa dirinya berasala dari latar belakang “keluarga abangan”,
yaitu penganut agama islam, namun tidak melakukan ibadah islam dalam
keseharianya sebagaimana mestinya. Keluarga bernaung di rumah joglo,
tempat ia dibesarkan yang pada hari hari tertentu tidak melewatkan adanya
pemasangan sesajen.
Tidak jauh dari rumah rasjidi, terdapat masji dan makam penembahan
senopati dan kiageng pemanahan serta beberapa sumber air yang jarangf
sepi dari praktek-praktek mistik kejawen. Banyak di temukan rakya jelata
yang mempersembahkan sesajen pada penunggu tempat tempat tersebut
seraya mengharapkan berkah tertentu, seperti kekayaan, keberuntungan,
cepat mendapat jodoh, dan sebagainya. Meskipun hidup dalam lingkungan
demikian, pada akhirnya rasjidi menyadari dirinya membutuhkan asupan
rohani yang bersifat keagamaan. Kesadaranya tentang islam kemudian
terbentuk menjadi pandangan hidupnya.
Dalam konteks pertumbuhan kajian akademik islam di Indonesia,
orang akan sulit mengesampngkan arti kehadiran H.M. Rasjidi seorang
lulusan dari Lembaga Pendidikan tinggi dimesir yang melanjutkan keparis,
yang kemudian memperoleh pengalaman mengajar dikanada. Lepas dari
retorika-retorika anti baratnya, orangislam tidak akan luput mendapatkan
bahwa hamper keseluruhan konstruksi akademiknya dibangun atas dasar

lebih banyak unsur unsur yang lebih banyak dari barat, tegasnya, kaum
orientalis dari pada lainya, ia adalah diantara intelektual Indonesia yang
paling banyak memperoleh perkenalan, bahkan penyerapan ramuan ramuan
intelektualdari Gudang orientalisme. Ia yang berpengaruh dalam usaha
mengirimmkan para lulusan IAIN atau sarjana lainya kemontreal. Apa yang
telah dirintisnya kemudian di teruskan dalam sekala yang lebih besar oleh
Munawir Sjadzali.
2. Pemkiran Kalam H.M Rasjidi
Pemikiran kalam rasjidi dapat di telusuri dari keritiknya kepada Harun
Nasution dan Nurcholis Madjid. Secara garis besar pemikiran kalamnya
dapat di kemukakan sebagai berikut.
a. Tentamng Perbedaan Ilmu Kalam Dan Theologi
Rasjidi menolak pandangan harun nasution yang menyamakan ilmu
kalam dengan theologi. Untuk itu, rasjidi berkata “,,,, ada kesan bahwa
ilmu kalam adalah theologi islam dan theologi adalah ilmu kalam
kristen”. Selanjutnya, rasjidi menulusuri sejarah kemunculan theologi.
Menurutnya, kebiasaan orang barat memakai istilah theologi

untuk

menunjukkan tauhid atau kalam karena mereka tidak mengetahui istilah
lain. Theologi terdiri atas dua perkataan yaitu teo (theos)artinya tuhan
dan logos artinya ilmu. Jadi, teologi berarti ilmu ketuhanan, adapunsebab
timbulnya teologi dalam Kristen karena yang pokok dalam agama
Kristen adalah keturunan Nabi Isa. Sebagai salah satu dari tritunggala
taun trinitas. Kata theo kemudian mengandung beberapa aspek agama
Kristen, yang diluar kepercayaan, (yang benar), sehingga teologi dalam
Kristen, tidak sama dengan tauhid atau ilmun kalm.
b. Tema Tema Ilmu Kalam
Salah satu tema ilmu kalam dalam Harun Nasution yang dikritik rasjidi
adalah deskripsia aliran aliran kalam yang sudah tidak releven dengan
kondisi umat islam yang sekarang, khususnya diindonesia. Untuk itu,
rasjidi berpendapat bahwa menonjolkan perbedaan pendapat anatara
Asy’ariah dan mu’tazilah sebagai mana yang telah dilakukan Harun

Nasution,akan melemahan iman para masiswa. Tidak ada agama yang
menggunakan akal seperti islam, tetapi dapat menggambarkan bahwa
akal dapat mengetahui yang baik dan buruk, sedangkan wahyu yang
hanya membuat nilai yang hanya dihasilkan manusia yang bersifat
Absolute- Universal, berarti ,menganggap sepettyi ayat-ayat al qur’an,
seperti”wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun”(dan allah lah yang maha
mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui)(QS Al-Baqarah: 232)
rasjidi kemudianmenegaskan bahwa sekarang dibarat sudah dirasakan
bahwa akal tidak mampu mengetahui abik dan buruk. Buktinya adalah
kemunculan eksistensialisme sebagai reaksi terhadap aliran rasionalisme.
Rasjidi mengakui bahwa soal soal yang pernah diperbincangkan pada
zaman 12 abanyang lalu ada yang masih releven untuk masa sekarang,
tetapi ada pula yangb sudah tidak releven. Pada waktu sekarang,
demikian rasjidi menguraikan, yang masih dirasakan oleh umat islam
pada umumnya adalah keberadaan syi’ah
c. Hakikat Iman
Pointer ini merupakan kritik rasjidi terhadap deskripsi iman yang
diberikan nurcholis madjid yitu “percaya dan menaruh kepercayaan
kepada tuhan. Sikap apresiatif kepada tuhan merupakan inti pengalaman
keagamaan seseorang, sikap ini disebut takwa . takwa diperkuat dengan
kontak

yangkontinyu

dengan

tuhan

….

Apresiasi

ketuhanan

menumbuhkan kesadaran ketuhanan yang menyeluruh, sehingga
menumbuhkan keadaan bersatunya hamba dengan tuhan.” Menanggapi
pernyataan diatas, menanggapi bahwa iman bukan sekedar memuncak
pada bersatunya manusia dengan tuhan, tetapi dapat dilihat dalam
dimensi konsekuensial atau hubungan manusia dengan manusia, Yaitu
hidup dalam masyarakat.perl;lu dijelaskan disini bahwa bersatunya
seseorang dengan tihan bukan merupakan aspek yang mudah di capai,
mungkin seseorang dari sejuta. Jadi, yang lebih penting dari aspek
penyatuan adalah kepercayaan, ibadah, dan kemasyarakatan.

B. Harun Nasution (1919-1998)
1. Riwayat Hidup Singkat Harun Nasution
Harun Nasution lahir pada hari selasa 23 september 1919 di Sumatra.
Ayahnya, Abdul Jabar Ahmad adalah seorang ulama yang mengetahui
kitab-kitab jawi . Pendidikan formalnya di mulai di sekolah Belanda HIS.
Setelah tujuh tahun di HIS, ia meneruskan ke Moderne Islamietische
Kweekschool (MIK ) di Bukkittinggi pada tahun 1934. Pendidikannya di
teruskan ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Sambil kuliah di Al-Azhar, ia
jugankuliah di Universitas

Amerika di Mesir. Pendidikannya lalu di

lanjutkkan Mc. Gill, Kanada, pada tahun1962.
Setibanya di tanah air pada tahun 1969, Harun Nasution langsung
bergabung dalam bidang Akademis dengan menjadi dosen di IAIN Jakarta,
IKIP Jakarta, dan di Universitas Nasutioan. Kegiatan Akademis di rangkap
dengan kegiatan administrasi (tetapi tetap dalam rangka akademis), ketika ia
Memimpin IAIN, Ketua Lembaga Pembina Pendidikan

Agama IKIP

Jakarta, dan terakhir pimpinan Fakultas Pascasarjana IAIN Jakarta. Dengan
bekal ph.D. yang di raihnya pada tahun 1968 di McGill University, ia pun
mempunyaibekal yang berbeda dari pakar yag sebelumnya di indonesia
tentang Studi Islam.
Harun Nasution adalah figur sentral jaringan intelektual yang
terbentuk di kawasan IAIN Ciputat semenjak paruh kedua dasawarsa 70-an.
Sentralitas Harun Nasution di dalam jaringan itu di potong oleh kapasitas
intelektualnya, kemudian oleh kedudukan formalnya sebagai rektor
sekaligus seorang pengajar di IAIN. Dalam kapasitas terakhir ini, ia
memegang

beberapa

mata

kuliah

terutama

menyangkut

sejarah

perkembangan pemikiran yang terbukti menjadi salah satu sarana awal
menuju pembentukan jaringan antara Harun Nasution dan Mahasiswanya.

2. Pemikiran Kalam Harun Nasution
a. Peranan Akal
Harun Nasution memilih problematika akal dalam sistem teologi
Muhammad Abdul sebagai bahan kajian disertasinya di Universitas
McGill, Montreal, kanada. Besar kecilnya peranan akal dalam sistem
teologi suatu aliran sangat menentukan dinamis atau tidaknya
pemahaman seseorang tentang ajaran Islam.Berkenaan dengan akal ini,
Harun Nasution menulis “Akal melambangkan kekuatan manusia.Karena
akal,manusia mempunyai kesanggupan untuk menaklukkan kekuatan
mahluk lain di sekitar nya.Bertambah tinggi akal manusia, bertambah
tinggi kesanggupannya untuk mengalahkan mahluk lainnya.Bertambah
lemah kekuatan akal manusia, bertambah rendah pula kesanggupannya
menghadapi kekuatan-kekuatan lain.”
Tema Islam agama Rasional dan Dinamis sangatt kuat bergema
dalam tulisan-tulisan Harun Nasution. Terutama dalam buku Akal dan
Wahyu dalam Islam, Teologi Islam: Aliran-aliran, sejarah, Analisis
perbandingan,

dan

Muhammad

Abdul

dan

Teologi

Rasioonal

Muhammad Abdul.
Dalam ajaran Islam, akal mempunyai kedudukan tinggi dan banyak
d gunakan,
kebudayaan,

bukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
melainkan

juga

dalam

perkembangan

ajran-ajaran

keagamaan Islam.Penggunaan akal dalam islam diperintahkan Al-Quran.
Bukan tidak ada dasar jika ada penulis-penulis, baik di kalangan Islam
maupun di kalangan non-Islam, yang berpendapat bahwa Islam adalah
agama rasional.

b. Pembaharuan Theologi

pembaharuan teologi yang menjadi predikat Harun Nasution, pda
dasarnya di bangun di atas asumsi bahwa keterbelakangan dan
kemunduran umat Islam Indonesia disebabkan “ada yang salah” dalam
teologi mereka. Pandangan ini serupa dengan pandangan kaum modernis
pendahulunya (Muhammad Abdul, Rasyid Ridha, Al-Afghani, Syaid
Amer Ali, dan lainnya) yang memandang perlu untuk kembali pada
teologi Islam yang sejati.Retorika ini mengandung pengertian bahwa
umat islam dengan teologi fatalistik, irasional,predeterminisme, serta
penyerahan nasib telah membawa nasib mereka menuju kesengsaraan
dan keterbelakangan. Dengan demikian, jika ingin mengubah nasib umat
Islam, Menurut Harun Nasution, Umat Islam hendak mengubah teologi
mereka menuju teologi yang berwatak free-will, rasional, serta mandiri.
Tidak heran jika teologi modernisasi menemukan teologi dalam
khazanah Islam klasik, yaitu teologi Mu’tazilah.

c. Hubungan Akal Dan Wahyu
Salah satu focus pemikiran harun nasution adalah hubungan antara
akal dan wahyu. Ia menjelaskan bahwa hubungan antara wahyu dan akal
menimbulkan pertanyaan tetapi keduanya tidak bertentangan. Akal
mempunyai kedudukan yanmg tinggidalam ak-Qur’an. Orang yang
beriman tidak perlu menerima bahwa wahyu tidak mengandung segala
galanya. Wahyu tidak menjelaskan semua keagamaan.
Dalam pemikiran islam baik dibidang filsafat dalam ilmu kalam, apa lagi
dibidang ilmu fiqih. Akal tidak pernah mambatalkan wahyu. Akal twetap
tunduk kepada teks wahyu. Teks wahyu tetap diangggap mutlak dan
benar. Akal digunakan hanya untuk memahami teks wahyu sesuai
dengan

kecenderungan

dan

kesanggupan

pemberi

interpretasi.

Pertentangan terhadap sejarah pemikiran islam sebenarnya bukan akal
dengan wahyu, melainkan penafsiran tertentu dari teks wahyu dengan
penafsiran lain dengan teks wahyu tertentu itu. Jadi, yang bertentangan

sebenarnya dalam islam adalah pendapat akal ulama tertentu dengan
pendapat akal ulama lain.

Judul: Ilmu Kalam

Oleh: Nuzulmiqafah Amas Tasya Putri


Ikuti kami