Tugas Mereview Buku

Oleh Dyah Apriliyani Savitri. Hr

14 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Mereview Buku

Tugas Mereview Buku
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Nama

: Dyah Apriliyani Savitri.HR

NIM

: 70100120036

Jurusan

: Farmasi

Dosen

: Zulkifli Makmur, S.Hum, M.A

Email

: zulkifli.makmur@mail.ugm.ac.id

Jenis buku yang akan saya review adalah buku fiksi, yaitu novel.
Judul

: Origami Hati

Penulis

: Boy Chandra

Penyunting

: Dian Nitami

Penyunting akhir

: Agus Wahadyo

Desainer cover

: Budi Setiawan

Penata letak

: Didit Sasono

Ilustrasi

: Olvyanda Ariesta

Diterbitkan pertama kali oleh : mediakita

Origami Hati
“ Jangan berpaling dan membuat kita menjadi dua orang asing. Di hamparan bumi ini ada
banyak sekali orang yang bisa merebutmu, juga mencuri perhatianku.
Namun, aku ingin tetap kamu dan aku saja yang menjadi kita. Aku ingin kamu saja yang menemaniku
membuka pagi hingga melepas senja, menenangkan malam dan membagi cerita.
Tetaplah menjadi seseorang yang membuatku merasa kuat. Jangan biarkan hatimu lepas dari segala
harapan yang aku ikat.
Kelak, jika datang suatu hari yang membuatmu merasa jenuh dan bosan akan aku. Membuatmu
berpikir untuk melepaskanku. Bacalah surat ini kembali, ingat betapa aku ingin kamu tetap menjaga hati.
Betapa ingin aku tetap kamu miliki.”
……
Saya akan menceritakan sedikit tentang novel ini. Novel ini bercerita tentang seorang mahasiswi
jurusan Bahasa Indonesia, Universitas Negeri Padang yang baru saja dikhianati oleh kekasihnya, ia
bernama Aruna. Seseorang yang begitu kita sayangi dan percaya jelas akan menimbulkan luka yang
begitu membekas saat dikhianati olehnya. Saat itu Aruna begitu kalut, akal sehat sudah tidak menyatu lagi
dengan raganya dihujami dengan beribu kekecewaan yang membelenggu hatinya, ditikam belati yang
ditancapkan tepat di hatinya oleh orang lelaki yang mengepingkan harapannya, mencampakkan

impiannya. Lelaki yang tidak lagi memeluk hati yang ia dekapkan, siapa lagi kalau bukan Haga. Haga
nama lelaki bajingan yang telah mencampakkan Aruna dengan jalan berasama wanita jalang. Tidak
mudah baginya untuk dengan cepat melupakan semuayang baru saja terjadi, bahkan hal terburuk ia
dapatkan, ia tetap saja tidak sepenuhnya mampu melepaskan.
Setelah ditangkap basah oleh Aruna saat bersama dengan wanita selingkuhannya, Haga lalu
mencoba menjelaskan semuanya, tapi sayang, Aruna mengelak. Haga tentu tidak kehabisan akal saat itu.
Haga bersimpuh dihadapan Aruna, memegang jemari perempuan itu. Menundukkan kepala mencoba
meminta maaf lagi, maaf pada perempuan yang sudah kurang lebiih tiga tahun menemaninya, perempuan
yang tidak menduakan hatinya. Haga terus mencoba meminta maaf pada Aruna yang tentu saja mereka
menjadi bahan tontonan orang-orang yang ada disekitar.
Aruna memberi tatapan kebencian kepada Haga, walaupun dihatinya ia masih sangat mencintai
lelaki itu, bahkan lebih dari apa yang dulu dikatakannya kepada Haga. Begitulah perempuan. Sebenci
apapun dia, sesakit apapun perasaannya. Dia tidak pernah benar-benar mampu membenci sepenuh hati.
Selalu ada rasa saying tersembunyi dibalik kata-kata benci yang keluar dari bibirnya. Kata-kata benci
yang meski disampaikan dengan cara memaki.
Sesak yang dirasakan seakan membuat ia ingin mengutuk Haga, mengutuk perasaannya, bahkan
menghempaskan kepalanya kedinding agar ia hilang ingatan. Tapi ia sadar itu hanya akan sia-sia.
Melapaskan kekecewaan dengan cara brutal bukanlah cara terbaik menyembuhkan luka dihati. Ia
berusaha membagikan kesedihannya kepada sahabatnya Citra. Beruntung Aruna memiliki Citra, sang
pendengar setia yang dengan sabar menenangkan hatinya.
Di tengah kekalutannya, Aruna bertemu dengan seorang lelaki yang menurutnya terlalu sok tahu
dengan apa yang dirasakannya. Meski yang diutarakan oleh lelaki itu sebenarnya memang yang sedang
dirasakan oleh Aruna yang sedang patah hati. Lelaki yang penyuka segala hal yang hampir tidak disukai
banyak orang. Ia penyuka senja. Sesekali membidik langit yang mulai menguning dengan kamera yang
ada ditangannya.
Aruna belum bisa terbiasa tanpa Haga. Hingga mau tidak mau ia harus melakukan segalanya
sendirian. Aruna perang batin, ia harus memulai hari baru, bukan dia yang membutuhkan Haga, dia harus
lebih baik dari sebelumnya. Citra berusaha mengajak Aruna untuk mencari kesibukan agar ia tidak
berlarut-larut dalam kesedihannya. Berkat ajakan Citra, Aruna pun ikut bergabung mengikuti kegiatan
koran kampus. Mencari kesibukan lain diyakini bisa jadi cara terbaik untuk mengatasi patah hati. Ada
Putri yang begitu baik hati menyambut Citra dan Aruna dalam kegiatan tersebut.
Tak disangka, sosok pria pengagum senja itu juga anggota kegiatan koran kampus tersebut.
Namanya Bagas, mahasiswa tingkat akhir di Universitas yang sama. Dia penyuka senja. Dulu dia selalu
menikmati senja bersama dengan Anila, mantan kekasih yang juga telah meninggalkannya. Sebenarnya
Bagas ini juga memiliki kesedihan sendiri. Bahkan sosok yang dicintainya dulu mustahil untuk bisa
kembali. Hatinya remuk, raut wajah perempuan yang dicintainya dulu kembali mengingatkannya pada
kejadian lampau yang tidak pernah ia inginkan terjadi. Perempuan itu bernama Anila. Akibat gempa
brutal yang menghantam kota ini merenggut perempuan yang ia cintai.
Kenangan memang suka begitu. Datang melalui hal-hal yang serupa. Lalu mengingatkan lagi
bagaimana sakitnya terluka. Melelahkan dan seringkali berakhir tidak menyenangkan.
Bagas kembali menyambangi pesisir pantai untuk melihat indahnya senja sembari mengambil
gambar, membayangkan Anila diujung bidikan potret itu. Kekasih yang begitu ia cintai. Kekasih yang
membuatnya mengerti bahwa terkadang mencintai bukan hanya perkara sekadar bersama, tetapi juga
tentang kesiapan untuk sebuah perpisahan. Pindah dari jalur sebuah cerita yang tidak sesuai dengan
keinginan kita. Tetapi itulah cerita yang paling baik hakikatnya. Cerita yang sudah menjadi skenario
Tuhan.

Dimeja kecil kamar indekosnya ia menyisakan cangkir kopi yang belum ia cuci. Baginya semua
hal memiliki filosofi sendiri. Seperti cangkir kopi itu. Ada kenangan di setiap cangkir kopi. Kenangan
yang tidak perlu dibuang dengan terburu-buru. Biarkan ia tenggelam di hati hingga ditemukan oleh kisah
baru kembali. Atau biarkan kenangan tetap disana, hingga rasa siap dalam diri telah hadir untuk memulai
kisah baru.
Mata Aruna tertuju pada sosok lelaki yang ada berada beberapa meter darinya hingga membuat
Aruna tidak fokus. Lelaki cuek, rambut agak berantakan, meskipun begitu ia terlihat sedikit menarik
perhatian. Siapa lagi kalau bukan Bagas. Ia lalu sedikit berbincang dengan Aruna kemudian berlalu
meninggalkan Aruna.
Bagas kembali melakukan ritual yang tak jarang ia lakukan. Menyisir pantai berjalan pelan,
hingga pada saat malam merenggutnya, membenamkan dalam bibir lautan. Lalu beberapa lampu kapal
mulai menyala ditengah lautan. Lampu-Lampu kapal itu adalah sesuatu yang dihasilkan oleh perpisahan
itu. Setelah perpisahan, selalu ada kemungkinan kisah baru yang datang lebih indah. Kadang kita hanya
tidak melapangkan dada menerima semuanya. Ada halnya justru tidak terlihat, tetapi ia begitu nyata.
Selepas kehilangan, akan selalu ada kedatangan yang lebih indah, atau lebih buruk. Kita tetaplah orang
yang berhak memilih jalan seperti apa yang ingin kita tempuh setelah itu.
Disisi lain Haga tampak mengenang kisahnya dengan Aruna. Menatap fotonya berdua, membaca
surat yang pernah dikirimkan Aruna kepadanya. Perlahan ia menikmati setiap kenangan dari benda-benda
itu. Kenangan yang disuguhkan dengan lembar-lembar surat. Ia telah memiliki kekasih. Tapi hati batin
dan pikirannya selalu ada Aruna didalamnya.
Di bandara Aruna melihat sosok yang dulu dan masih dicintainya akan pergi entah kemana.
Aruna mengetahui Haga akan pergi selepas Citra menelponnya. Ada sosok wanita yang memeluk tubuh
Haga erat. Siapa lagi kalau bukan kekasihnya, Oliv. Hal tersebut membuat Aruna tidak kuat kemudian
berbalik pergi meninggalkan Bagas dan Citra yang menemaninya datang kesana. Ia tidak sanggup melihat
lelaki yang sampai sekarang masih dicintainya sedang memeluk perempuan lain.
Aruna masih belum bisa berlapang dada. Beberapa adegan yang dilakukan Haga dengan kekasih
barunya itu masih teringat jelas dibenaknya. Malam selepas kejadian itu ingin rasanya Aruna menangis
sejadi-jadinya. Sebab tidak ada hal yang lebih menyenangkan untuk dilakukan seseorang yang sedang
patah hatinya selain menangis. Ia menumpahkan seluruh kesedihannya kedalam air mata.
Ia berusaha melawan perasaannya. Satu persatu benda kenangannya bersama Haga ia masukkan
kedalam kotak berwarna hitam. Ia menulis kertas berbentuk kepingan hati itu denga tinta hitam..
Kertasnyapun berwarna hitam. Hampir semua benda yang ia masukkan kedalam kotak hitam itu adalah
benda kesayangannya, Segala kenangan akan disimpan disana, bersama warna gelap kotak itu. Bukan
tentang cemburu, bukan tentang rindu, bukan tentang rasa cinta lagi. Ia paham usaha itu tentang
bagaimana segala sesuatu yang pernah kita miliki harus disimpan dengan rapi dalam ingatan. Karena
tidak ada ingatan yang bisa dihapus sesuka kita. Ingatan hanya bisa disembunyikan di sudut hati. Lalu
diendapkan di ruang gelap pikiran. Kemudian ditaruhnya kotak hitam itu dibawah tempat tidur. Agar ia
tidak mudah mengambilnya. Agar benda itu tidak terlihat oleh matanya. Ia takut saat ia melihat benda itu,
ingatannya tentang hal-hal yang pernah dilalui dengan Haga kembali muncul diingatan.
Bagas mengirim pesan singkat kepada Aruna. Ia mengajak Aruna kesuatu tempat dengan
mengendarai sepeda motor untuk mengibur hati Aruna. Sejak pertama jumpa Bagas sudah tahu bahwa
Aruna adalah perempuan yang sedang terluka hatinya, ia tahu persis dibalik mata Aruna yang tidak bisa
menyembunyikan sakit hatinya itu. Beberapa puluh meter dihadapan mereka diseberang muara ada bukit
yang dihiasi lampu-lampu yang menyala. Aruna menoleh ke kanan, ada lampu-lampu kapal yang menyala
bak bintang diatas hamparan laut. Aruna menatap haru ke arah Bagas. Lelaki itu hanya tersentum kearah

Aruna, ia menggandeng tangan Aruna. Hebatnya orang yang jatuh cinta diam-diam. Ia bisa
menyembuntikan perasaannya dibalik senyuman.
Di kampus, Aruna menceritakan semua apa yang dilakukannya bersama Bagas. Citra menduga
Aruna dan Bagas telah resmi berpacaran nyatanya belum. Cuaca pagi ini begitu cerah, matahari mulai
hangat. Begitu pula perasaan Aruna, ada getar bahagia didadanya. Seakan sedih kemarin telah hilang.
Ternyata ada benarnya, seseorang yang hatinya sedang bahagia akan lebih bisa menganggap semuanya
menjadi lebih indah.
Ada dua hal yang kini menjadi alasan untuk ia menulis dilembar kertas warna-warni yang
dimasukkannya kedalam sebuah toples baru. Pertama tentang Haga yang tidak bisa ia bohongi dari hati
kecilnya sendiri. Ia masih belum bisa melupakan lelaki itu, tetapi tetap bertekad untuk melupakan lelaki
itu. Dan kedua tentang Bagas. Lelaki yang akhir-akhir ini memenuhi rahasia malam-malamnya. Lelaki
yang suatu ketika begitu ramah, hangat, namun suatu waktu terasa asing, dingin dan sedikit aneh.
Kembali Bagas mengajak Aruna kesuatu tempat berada kurang lebih 50 kilometer dari Padang
kota, arah ke Kawasan Lubuk Alung. Bukit yang terbentuk dari tanah bebatuan memiliki tinggi sekitar 50
meter. Berjarak tempuh sekitar 20 menit dari pemukiman penduduk disekitar area bawah bukit. Tidak
banyak orang yang datang kesana, sebab memang tidak banyak yang tahu.
Mereka menghabiskan banyak waktu disana hanya untuk memandangi pantai dari kejauhan.
Pemandangan yang begitu indah bak surge, hingga tak sadar waktu sudah hampir gelap. Cahaya lampulampu jalan samar membuat wajah Aruna terlihat cantik. Ada bahagia di dada Bagas dan Aruna. Bagas
menyadari sekarang dikepalanya ada Aruna. Seseorang yang hadir dan membuatnya merasa kembali
nyaman, merasakan kembali bagaimana rasanya memikirkan seseorang. Aruna bagaikan kiriman Tuhan
yang membuat Bagas mengerti lagi, bahwa jatuh cinta bisa datang saat hati telah sangat remuk sekalipun.
Aruna saat ini sedang bingung. Bagaimana tidak, wajar saja sebab seseorang yang terjebak
dimasa lalu akan selalu kebingungan saat bertemu dengan cinta yang baru. Ia hanya perlu waktu untuk
memahami dan menerima diri. Ia meyakinkan diri agar tidak terlalu bimbang dalam urusan hati.
Saat hatinya baru saja ada sesuatu untuk Bagas, kenapa tiba-tiba bayang-bayang Haga kembali
menyapa, ia tak mengerti mengapa perasaannya begitu rumit. Disatu sisi ia ingin melupakan Haga dan
membiarkan Bagas membuka hatinya. Disisi lain, nyatanya ia masih teringat akan Haga. Perasaannya
begitu labil. Hingga akhirnya Bagas dan Aruna saling memiliki namun memutuskan untuk tidak
memperlihatkan hubungan kedekatan mereka di sekretariat.
Ditempat lain, Haga sibuk dengan kehidupan barunya, teman-teman baru dan kehidupan liar yang
tak pernah terlepas darinya. Entah karena ia memiliki paras yang tampan atau karena dia termasuk lelaki
yang suka bersenang-senang. Banyak perempuan yang mendekatinya. Bahkan beberapa kali perempuan
menyatakan suka padanya.
Haga merasakan ada yang berbeda dari dirinya. Ia merindukan seseorang yang tak sama dari
kebanyakan perempuan yang ia temui. Perempuan yang ia sakiti, perempuan yang ia tinggalkan demi
wanita lain. Berakhir sudah hubungan yang sudah mereka bina selama tiga tahun. Aruna menepi dengan
segala sakit. Siapa yang tidak remuk hatinya saat ia melihat orang yang ia cintai sepenuh hati berkhianat?
Sakit. Satu hal yang diputuskan Aruna, membawa hatinya yang hancur, meski cinta tak pernah benarbenar habis.
Haga merasa sepi. Saat ingatan tentang Aruna seolah menghakimi. Saat kenangan yang ia
tinggalkan seolah datang menyapa. Haga membiarkan kenangan itu menyiksanya. Membiarkan semua
yang telah ia buat menghakiminya. Akhir-akhir ini Haga tidak bisa tidur akibat sosok perempuan yang ia
rindukan. Menuntutnya dengan segala kenangan yang dihadirkan sebagai saksi dari sebuah kerinduan
yang ia pendam.

Ditengah kebahagiaan Bagas dan Aruna. Haga lalu datang menyambangi Aruna. Hati siapa yang
tak akan kembali hancur. Saat kamu berusaha melupakannya sepenuh hati, saat kamu berusaha
menjauhkan semua ingatanmu tentangnya. Saat kamu menikmati hidupmu yang baru. Demi
melupakannya. Demi menghibur rindu yang masih saja tumbuh padanya. Kini, dia hadir dihadapanmu.
Luka itu kembali menganga. Hatinya kembali hancur berkeping-keping. Didalam lubuk hatinya ia masih
mencintai Haga. Seketika hatinya semakin remuk saat ingatannya menghadirkan Bagas. Ia tak akan bisa
mencintai dua hati dalam waktu yang bersamaan. Ia sangat merindukan Haga. Namun tetap memilih
Bagas sebagai pelabuhan hatinya.
……

Origami Hati ini mengusung konflik yang mungkin pernah atau sebagian besar dialami orang
yang pernah jatuh cinta. Mulai dari betapa sakitnya hati saat dikhianati seseorang yang begitu berarti,
perjuangan untuk bisa melanjutkan hidup yang baru meski masih terluka, belajar membuka hati yang baru
untuk seseorang yang mungkin masih cukup asing, soal betapa beratnya bertahan dalam usaha mencintai
dalam diam, hingga membuat keputusan kepada siapa hati ini akan diberikan.
Bahasa novel ini cukup ringan. Konflik, alur, dan penyelesaiannya juga mudah diikuti. Kita juga
akan diajak untuk menikmati keindahan pantai dan senja yang sangat disukai salah satu tokohnya. Novel
ini tidak terlalu tebal sehingga tidak butuh waktu lama untuk kita membacanya. Gaya bahasa yang dipakai
tidak membosankan dan sangat puitis. Disetiap bab tedapat beberapa quotes yang bisa dikutip, yang
memiliki makna yang cukup dalam. Novel ini sangat cocok dibaca oleh mereka yang sedang patah hati.
Tulisan Boy Candra ini mampu membuat kita seakan merasakan apa yang Aruna alami . Karakter
tokoh yang digambarkan sangat jelas sehingga kita mampu dengan menghayati suasana yang sedang
dipaparkan . Ada satu kalimat indah diantara banyak kalimat dalam novel ini, yakni setelah perpisahan
akan ada kisah baru yang mungkin akan menyenangkan.
Dari Aruna kita belajar untuk tidak menaruh hati terlalu dalam kepada seseorang yang bahkan
sangat kita cintai, jangan pula menaruh ekspektasi atau harapan yang terlalu tertinggi kepadanya, karena
sesungguhnya yang membuat kita sakit hati bukan dia tetapi harapan kita yang terlalu tinggi atasnya. Dari
Haga kita belajar untuk tidak mencari tempat nyaman lain hanya karena perasaan bosan. Perasaan itu
hanya sementara. Yang selalu sabar atas dirimu akan tetap meninggalkanmu jika perasaannya kau
sepelekan, hingga membuat dirimu jatuh ke lembah penyesalan. Dari Bagas kita belajar untuk
mengikhlaskan lapang dada untuk seseorang yang tidak ditakdirkan Tuhan atas dirimu. Karena suatu saat
yang pergi akan digantikan dengan yang lebih baik yang pasti untuk diri kita sendiri. Sangat banyak
pelajaran yang dapat diambil dari novel ini, tentang pengorbanan cinta, kesabaran dalam menghadapi
masa lalu yang suram, dan bagaimana mengikhlaskan orang yang sangat kita cintai menjadi milik orang
lain. Karena sesungguhnya puncak yang paling tinggi dari mencintai adalah merelakan dia pergi dengan
pilihannya, meski pilihannya itu bukan dirimu.

Selesai

Judul: Tugas Mereview Buku

Oleh: Dyah Apriliyani Savitri. Hr


Ikuti kami