Tugas Individu Tehno

Oleh Arientynahdamamulaty 1998

15 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Individu Tehno

TUGAS INDIVIDU
TEHNO SEDIAAN SEMI PADAT

NAMA : Arienty N Mamulaty
NPM : 4820117183
SEMESTER : V (LIMA)
PROGRAM STUDI : FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MALUKU HUSADA
KAIRATU
2019

SEDIAAN SEMI PADAT

A. Teori umum
Sediaan semi solid adalah sediaan setengah padat yang dibuat untuk
tujuan pengobatan topikal melalui kulit. Bentuk sediaan ini dapat bervariasi
tergantung bahan pembawa (basis) yang digunakan. Sediaan semi solid ini
sendiri diantaranya adalah : salep, linimentum, oculenta,dll.
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan
digunakan sebagai obat luar. Salep adalah sediaan setengah padat yang
ditujukan untuk pemakaian topical pada kulit atau selaput lendir. (Depkes,
Farmakope Indonesia IV) .
a) Penggolongan salep
 Berdasar aksi terapi salep dapat digolongkan menjadi salep epidermis,
salep endodermis, salep diadermis.
 Berdasar komposisi (dasar salep) dapat digolongkan sebagai berikut:
 dasar salep hidrokarbon,yaitu terdiri dari antara lain: Vaselin
putih,Vaselin kuning Campuran Vaselin dengan malam putih,
malam kuning Parafin encer, Parafin padat Minyak tumbuhtumbuhan.
 Dasar salep serap,yaitu dapat menyerap air terdiri antara lain:
Adeps lanae Unguentum Simplex Campuran 30 bagian malam
kuning dan 70 bagian minyak wijen.
 Dasar salep dapat dicuci dengan air “Dasar salep” tipe emulsi M/A
= Vanishing cream Emulsiflying ointment BP Hyrophilik ointment.
 Dasar salep larut dalam air Polyethylenglycol ointment USP
Tragacanth PGA
 Berdasar fisik-konsistensi (viskositas = kekentalan) Cairan kental/encer :
linimentum.
B. Contoh sediaan semi padat
a) Salep Kulit 88
Salep Kulit 88 merupakan obat luar yang mengandung salicylic
acid, benzoid acid dan sulfur praecipitatum. Obat ini digunakan untuk
mengatasi penyakit yang disebabkan oleh jamur serta infeksi bakteri

ringan seperti panu, kudis, kurap ,dan kutu air.obat ini dapat meringankan
rasa gatal yang timbul sekaligus membasmi jamur dan bakteri yang
menginfeksi
 Formula atau bahan yang digunakan:
tiap 3,5 gr salep mata mengandung
Kloramfenikol
Lanolin anhidrat

1%
10%

Paraffin cair

10%

Klorabutanol

0,5%

BTH
Vaselin flavum

0,05%
ad 100 %

- Alasan penambahan bahan
a. Lanolin anhidrat
Lanolin digunakan berbagai salep, pada sediaan salep mata yang
mengandung lanolin, dapat menggunakan sterilisasi filtrasi atau dengan radiasi
sinar gamma (Rowe, 2009 :
2.
Lemak bulu domba adalah zat serupa lemak yang dimurnikan
3.
Landin atau disebut juga adeps lanae yang memurnikan bulu domba.
Banyak digunakan pada produk kosmetik dan pelumas, sebagai bahan dasar
oleh kulit, memfasilitasi bahan aktif obat yang dibawa (yahendri. 2012. 423).

b.
Paraffin liquidum
1.
Merupakan campuran hidrokarbon cair dan minyak bumi. Umumnya
transparan dan tidak berbau. Mudah digunakan, mudah disebut, melekat pada
kulit, tidak terasa berminyak dan mudah dibersihkan. Mudah mengalami
oksidasi sehingga dalam penyimpanannya ditambahkan antioksidan seperti
BHT.

2.
Paraffin liqudum, zat cair yang mengandung minyak, tidakberwarna
dantak berbau, jernih, tidak berfluoresensi (farmakope Mederland. 1976 : 254)
3.
Pentrolatum /paraffin liquidum, merupakan bahan baku yang umumnya
paling banyak digunakan sebagai pembawa dalam salep. Bahan ini mengingat
konsistensinya, kelunakkannya dan sifatnya yang netral serta kemampuan
menyebarnya yang mudah pada kulit. (lachman. 2008 : 1112)
c.
Vaselin kuning
1.
Veselin kuning merupakan basis salep hidrokkarbon (dasar bersifat
lemak /bebas air. Preparat yang berair mungkin dapat dicampurkan hanya dalam
jumlah sedikit saja, bila lebih minyak sukar bercampur. Dasar hidrokarbon
dipakai terutama untuk efek emolin. (Ansel, 1989 :502-503)
2.
Vaselin kuning adalah campuran yang dimurnikan dari hidrokarbon
setengah padat yang diperoleh dan minyak bumi. Dapat mengandung penstabil
(lina Winarti. 2013:23)
3.
Vaselin kuning adalah umumnya digunakan sebagai emolfsrmasilient
salep dalam formulasi farmasi. Penggunaan untuk emollient digunakan antara
konsentrasi 10-30% untuk salep digunakan diatas 100% (excipient. 2009 :482)
d.
Klorobutanol
1.
Klorobutanol utamanya digunakan pada sediaan oftalmik atau pada dosis
parenteral sebagai antimikroba/pengawet dengan konsentrasi 10-30% untuk
alep digunakan diatas 100%(Excipient.2009 :482).
2.
Bahan pengawet ditambahkan pada sediaan padat untuk mencegah
kontaminasi, kemunduran dan kerusakan oleh bakteri serta jamur, karena
sebagian besar komponen dalam sediaan besar komponen dalam sediaan ini
dapat bertindak sebagai substrat bagi mikroorganisme ini (lachman. 2008.
1122). Range konsentrasi penggunaan yaitu 0,25-0,5%.
3.
Salep mata haru mengandung bahan yang cocok atau campuran bahan
untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang ada
ketika wadah dibuka selama pemakaian. Bahan antimikroba biasa digunakan
adalah klorobutanol (RPS.18th : 1585).
e.
Alfatokoferol
1.
Vitamin E secara fungsional digunakan sebagai antioksidan (excipient,
2009:764) alfatokoferol sebagai antioksidant mempunyai keuntungan yaitu pada

suhu yang tinggi dan asam tidak mempengaruhi stabilitas vitamin E (seymon,
okk :951)
2.
Campuran yang dimurnikan dri hidrokarbon semisoliddiperoleh dari
petrolatum distabilkan dengan penambahan alfatokoferol (scoville’s
341)
3.
Suhu yang tinggi dan asam tidak mempengaruhi stabilitas vitamin E
(prescription 951).

 Pengujian orgnoleptik sampai tahap edaran
a. Uji Organoleptis: Uji organoleptis dilakukan dengan mengamati
bentuk, warna dan bau dari sediaan salep. Sediaan salep yang baik
adalah dengan bentuk setengah padat, berwarna kekuning
kuningan, dan berbau khas.
b. Uji homogenitas : uji homogenitas pada sediaan salep yang
diperoleh menunjukkan bahwa bahan aktif dan bahan tambahan
lainnya tercampur merata pada saat salep dioleskan dan memiliki
warna yang seragam.
c. Uji daya sebar : uji daya sebar yang dilakukan menunjukan bahwa
sediaan salep memenuhi parameter daya sebar dimana diameter
daya sebar yang baik.
d. Uji pH : uji PH memenuhi persyaratan untuk suatu sediaan topikal.
Jadi bisa dikatakan bahwa salep ekstrak Pliek U tidak
menyebabkan iritasi jika diaplikasikan pada kulit.
e. Stabilitas. Tujuan pemeriksaan kestabilan obat adalah untuk
menjamin bahwa setiap batch obat yang didistribusikan tetap
memenuhi persyaratan yang ditetapkan meskipun sudah cukup
lama dalam penyimpanan.
f. Uji batas mikroba. Uji batas mikroba dapat menentukan apakah
suatu produk memenuhi standar kandungan mikroba atau tidak.
g. Pada tahap edaran ini maksudnya adalah semua pengujian yang
dilakukan dan sudah fiks maka sediaan tersebur
diedar(pasara,apotek bahkan industi)
 Cara sediaan masuk ketahap uji bpom dan pasaran :
Untuk suatu sediaan agar masuk uji bpom dan mendapatkan izin
edar dipasaran harus memenuhi beberapa tahapan pendaftaran produk,
yaitu :

1. Fotokopi izin industry dari departemen perindustrian dan
perdagangan atau badan koordinasi penanaman modal ( bkpm ).
2. Berkas asli hasil uji laboratorium yang berhubungan dengan produk
dan terdiri dari klaim gizi, zat yang diklaim pada label, uji kimia,
cemaran mikrobiologi dan cemaran logam. Hasil analisa lab tersebut
berlaku selama enam bulan.
3. Rancangan label sesuai dengan yang akan diedarkan sekaligus contoh
produknya.
Selain itu sediaan juga harus memenuhi persyaratan yang sudah
ditentukan, yaitu :
 Bahan tambahan yang boleh digunakan bertujuan untuk
meningkatkan stabilitas dan kegunaan ( kecuali jika dilarang ),
tidak boleh mempengaruhi efek terapi atau respon pada
penetapan kadar dan pengujian spesifik, tidak boleh
ditambahkan zat warna untuk pewarnaan sediaan akhir,pada
penambahan pengawet untuk sediaan multiguna perlu
dilakukan:
 Uji aktivitas pengawet antimikroba
 Organoleptis
 Kandungan zat aktif mikroba
 Sterilisasi dan jaminan sterilits bahan kompendia
 Uji sterilitas
 Stabilitas
 Keseragaman sediaan
 Kemasan wadah dan penutup wadah krim hidrokortison
tidak boleh berinteraksi, baik secara kimia maupun fisika
dengan sediaan krim lainnya

Judul: Tugas Individu Tehno

Oleh: Arientynahdamamulaty 1998


Ikuti kami