Pengantar Ilmu Komunikasi

Oleh Dessy Fatmawati

12 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Pengantar Ilmu Komunikasi

PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI

Oleh
Nama

: Dessy Fatmawati

Nim

: 42130342

Kelas

: 42.1A.01

Kampus

: BSI Margonda

Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika
Jurusan Penyiaran
Jakarta
2013

Negeri 5 Menara (Novel)

Negeri 5 Menara adalah roman karya Ahmad Fuadi yang diterbitkan oleh Gramedia pada
tahun 2009. Novel ini bercerita tentang kehidupan 6 santri dari 6 daerah yang berbeda menuntut
ilmu di Pondok Madani (PM) Ponorogo Jawa Timur yang jauh dari rumah dan berhasil
mewujudkan mimpi menggapai jendela dunia. Mereka adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Alif Fikri Chaniago dari Maninjau
Raja Lubis dari Medan
Said Jufri dari Surabaya
Dulmajid dari Sumenep
Atang dari Bandung
Baso Salahuddin dari Gowa

Mereka sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas 6. Kian hari mereka
semakin akrab dan memiliki kegemaran yang sama yaitu duduk dibawah menara pondok
madani. Dari kegemaran yang sama mereka menyebut diri mereka sebagai Sahibul Menara.

Sinopsis
Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan
tidak pernah menginjak tanah di luar ranah
Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu
durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain
sepak bola di sawah berlumpur dan tentu mandi
berkecipak di air biru Danau Maninjau.
Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari
tiga malam melintasi punggung Sumatera dan
Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur.
Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif
ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia
mengikuti perintah Ibunya, belajar di pondok.
Di kelas hari pertamanya di Pondok
Madani (PM), Alif terkesima dengan “mantera”
sakti man jadda wajada. Siapa yang bersungguhsungguh pasti sukses.

Penulis

Ahmad Fuadi

Ilustrator

Doddy R. Nasution

Seniman sampul

Slamet Mangindaan

Negara

Indonesia

Bahasa

Bahasa Indonesia, Bahasa
Melayu

Genre

Edukasi, Religi, Roman

Penerbit

Gramedia (Jakarta)

Tanggal terbit

Juli 2009

Halaman

416

ISBN

978-979-22-4861-6

Dia terheran-heran mendengar komentator
sepak bola berbahasa Arab, anak menggigau
dalam bahasa Inggris, merinding mendengar ribuan orang melagukan Syair Abu Nawas dan
terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.
Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari
Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa.
Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil
menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu
menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian jiwa muda ini
membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan
impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Pemeran dan Tokoh

Tokoh-tokoh dan watak dalam novel Negeri 5 Menara, yaitu:
1. Amak adalah Seorang wanita separuh baya yang ramah : (“Mukanya selalu mengibarkan
senyum ke siapa saja”). Rela Berkorban : (“Amak terpaksa menjadi guru sukarela yang
hanya dibayar dengan beras selama 7 tahun”). Peduli akan nasib umat Islam : (“Bagaimana
nasib umat Islam nanti?”). Seorang ibu yang konsisten terhadap keputusannya : (“Pokoknya
Amak tidak rela waang masuk SMA!”) Adil : (“Keadilan harus dimulai dari diri sendiri,
bahkan dari anak sendiri. Aturannya adalah siapa yang tidak mau menyanyi dapat angka
merah”)
2. Ayah adalah Seorang pria separuh baya yang membela kebenaran : (“Mungkin naluri
kebapakannya tersengat untuk membela anak dan sekaligus membela dirinya sendiri”). Dapat
dipercaya : (“Amanat dari jamaah surau kami untuk membeli seekor sapi untuk kurban idul
adha minggu depan telah ditunaikan Ayah”)
3. Alif adalah Seorang lelaki yang penurut : (“Selama ini aku anak penurut”). Ragu-ragu :
(“Bahkan sesungguhnya aku sendiri belum yakin betul dengan keputusan ini”). Teliti :
(“Sejenak, aku cek lagi kalau semuanya telah rapi dan licin, tidak ada gombak dan kusut”)
4. Dulmajid adalah Seorang lelaki yang Mandiri : (“Tentu saja saya datang sendiri,”).
Semangat : (“Animo belajarnya memang maut”). Jujur, tegas serta setia kawan : (“Aku
menyadari dia orang paling jujur, paling keras, tapi juga paling setia kawan yang aku kenal”).
5. Raja adalah Seorang lelaki yang Percaya diri : (“Raja Lubis yang duduk di meja paling
depan maju”). Ekspresif : (“Tampak mengayun-ayunkan tinjunya diudara sambil berteriak
Allahu Akbar!”). Pantang menyerah : (“Jangan. Kita coba dulu. Aku saja yang maju
duluan,”)
6. Atang adalah seseorang lelaki yang Menepati Janji : (“Sesuai Janji, Atang yang membayari
ongkos”). Baik : (“Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik dan tersebar
dibeberapa kota seperti Atang dan Said”).
7. Said adalah Seorang lelaki yang memberi motivasi : (“senyum dan cerita yang mengobarkan
semangat”). Berfikir dewasa : (“Perawakan yang seperti orang tua dan cara berpikirnya yang
dewasa membuat kami menerimanya sebagai yang terdepan”). Seorang lelaki yang
mengambil kebaikan dari suatu kejadian : (“Aku sendiri mengagumi caranya melihat segala
sesuatu dengan positif”). Baik : (“Aku bersyukur sekali mempunyai teman-teman yang baik
dan tersebar dibeberapa kota seperti Atang dan Said”)
8. Baso adalah Seorang lelaki yang Disiplin : (“Dia begitu disiplin menyediakan waktu untuk
membaca buku favoritnya”). Rajin : (“Baso anak paling rajin diantara kami”) (Sunguhsungguh : (“Hampir setiap waktu kami melihat Baso membaca buku pelajaran dan Al-Quran
dengan sungguh-sungguh”). Pendiam, Pemalu serta Tertutup : (“Selama ini memang Baso
lah kawan kami yang paling Pendiam, Pemalu dan tertutup”)
9. Ustad Salman adalah Seorang lelaki yang Kreatif : (“Itulah gaya unik Ustad Salman, selalu
mencari jalan kreatif untuk terus memantik api potensi dan semangat kami”)
10. Kyai Rais adalah Seorang lelaki separuh baya yang menjadi contoh di PM : (“yang menjadi
panutan kita dan semua orang selama di PM ini”). Berbakat : (“Kyai Rais adalah sosok yang
bisa menjelma menjadi apa saja”)

Bahasa Yang Dipergunakan

Bahasa yang digunakan dalam novel Negeri 5 Menara ini, menggunakan bahasa yang
biasa dipakai oleh masyarakat umum. Yaitu: Bahasa daerah, Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan
Bahasa Arab merupakan bahasa yang digunakan dalam novel ini. Berlatarbelakang dan
menceritakan tentang kehidupan para santri di daerah jawa, maka bahasa tersebutlah yang
digunakan di dalam dialognya.

Proses Komunikasi Insani
Proses komunikasi insani merupakan komunikasi yang didefinisikan secara luas sebagai
“berbagai pengalaman atau impian” sampai batas tertentu, setiap makhluk dapat dikatakan
melakukan komunikasi dalam pengertian berbagai pengalaman. Yang membuat komunikasi
insani menjadi unik adalah kemampuannya yang istimewa untuk menciptakan dan menggunakan
lambing-lambang sehingga dengan kemampuan ini “manusia dapat berbagai pengalaman secara
tidak langsung maupun memahami pengalaman orang lain”. Dengan demikian komunikasi insani
adalah “merupakan proses pembentukan makna diantara dua orang atau lebih”.
Pada novel Negeri 5 Menara, proses komunikasi insani terjadi pada Alif dan Randai
dimana mereka berdua saling berkomunikasi dan menceritakan impian mereka masing-masing
ketika Lulus MTsN nanti’

Misalnya :
Alif dan Randai sepakat, setamat MTsN, mereka akan meneruskan ke SMA yang sama.
Karena menurut mereka ilmu dasar agama dari MTsN sudah cukup sebagai dasar untuk
memasuki kancah ilmu pengetahuan umum. Selanjutnya melanjutkan SMA di kota Bandung dan
kemudian masuk ke Kampus idamannya, yaitu ITB dan terus ke Jerman seperti Pak Habiebie.
Namun mimpi itu sirnah ketika Amaknya menginginkan Alif untuk masuk ke Pondok Madani,
sebuah pesantren di sudut Ponorogo, Jawa Timur. Walau pada awalnya Alif tidak mau, akhirnya
Alif memenuhi pinta orang tuanya, walau dengan setengah hati. Saat itu Randai harus berat hati
menerima kepergiaan sahabatnya Alif dan melanjutkan impiannya sendiri tak bersama dengan
Alif.
Proses komunikasi antara keduanya ini sama seperti proses komunikasi dengan teori
komunikasi model Tubbs. Model ini merupakan model peristiwa komunikasi insani yang paling
mendasar, yang hanya menyangkut 2 orang. Mula-mula kita namakan mereka sebagai
komunikator 1 (pengirim/penerima) dan komunikator 2 (penerima/pengirim). Keduanya
merupakan sumber informasi dan masing-masing memberi serta menerima pesan secara
serentak, keduanya pada saat yang bersamaan saling mempengaruhi.
Contoh lain komunikasi insani dalam novel Negeri 5 Menara ini adalah komunikasi Alif
kepada Ustad Salman, santri ke sesama santri, Kyai Rais terhadapa Santri, dan masih banyak
lagi.

Pesan Verbal dan Non Verbal

Pengertian Pesan Verbal dan Non Verbal. Pesan verbal adalah semua jenis komunikasi
lisan yang menggunakan satu kata atau lebih. Sedangkan, Pesan Non Verbal adalah ekspresi
wajah, sikap tubuh, nada suara, gerakan tangan, cara berpakaian, dan sebagainya. Pesan-pesan
itu meliputi semua pesan yang disampaikan tanpa kata-kata atau selain dari kata-kata yang kita
pergunakan.

Contoh Komunikasi Verbal dalam novel Negeri 5 Menara :
1. Perdebatan antara Alif dengan Amak mengenai masa depan Alif ketika Lulus SMP Alif
ingin melanjutkan ke tingkat SMA sedangkan Amak ingin Alif masuk ke sekolah Agama.
Seperti berikut:
“Amak ingin anak laki-lakiku menjadi seorang pemimpin agama yang hebat dengan
pengetahuan yang luas. Seperti Buya Hamka yang sekampung dengan kita itu. Melakukan amar
ma-ruf nabi Munkar, mengajak orang kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran,” kata
Amak pelan-pelan.
“Tapi Amak, ambo tidak berbakat dengan ilmu agama. Ambo ingin menjadi insinyur dan ahli
ekonomi,” tangkis Alif sengit. Muka Alif merah dan mata terasa panas.
“Menjadi pemimpin agama lebih mulia daripada jadi insinyur, Nak.” Kata Amak
“Amak, kalau memang harus sekolah agama, ambo ingin masuk pondok saja di Jawa. Tidak mau
di Bukittinggi atau Padang,” kata Alif di mulut pintu. Suara cempreng pubertasnya memecah
keheningan Minggu pagi itu.
2. Saat Alif dan Ayahnya tiba di Pondok Madani disambut baik dan ramah oleh Panita
pendaftaran penerimaan Santri baru.
“Bapak, Ibu dan calon murid. Sebentar lagi kita akan sampai d i Pondok Madani. Kami akan
membawa Anda semua untuk langsung mendaftar ke bagian penerimaan tamu. Bagi yang akan
mendaftar jadi murid baru, batas waktu pendaftaran jam lima tepat sore hari ini. Jangan lupa
dengan tas dan semua bawaan Anda,” Ismail memberi pengumuman, kembali dengan senyum
lebarnya.
3. Suasana di kelas pertama, saat Alif disentak oleh teriakan penuh semangat dari Ustad
Salman.
“Man Jadda Wajada! Artinya, Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.”

Selain itu para sahibul menara selalu berpikir visioner dan bercita-cita besar. Mereka
masing-masing memiliki ambisi untuk menaklukan dunia. Dari tanah Indonesia, Amerika, Eropa,
Asia hingga Afrika. Dibawah menara Madani, mereka berjanji dan bertekad untuk bisa
menaklukan dunia dan mencapai cita-cita. Dan menjadi orang besar yang bisa bermanfaat bagi

banyak orang. Perbincangan mereka merupakan komunikasi verbal yang menyampaikan pesan
dengan lisan dan langsung.
Contoh Komunikasi Non Verbal dalam novel Negeri 5 Menara :
Saat awal musim ujian tiba, Kyai Rais kembali tampil di podium aula dengan gaya
motivator yang membakar semangat para Santri. Kyai Rais memakai kemeja putih, berdasi,
bercelana hitam, sepatu mengkilat dan memakai kopiah hitam. Penampilannya cocok sekali
sebagai seorang administrator pendidikan yang terpandang. Matanya mendelik-delik lincah,
mengingatkan Alif pada salah satu cita-cita profesinya dulu, menjadi Habibie. Setelah
mendengar Kyai Rais berbicara, rasanya apa saja bisa Aliftterjang dan pelajari.
Selain itu ketika para Santri Pondok Madani kembali berkumpul di aula, yang saat itu
sudah dirombak dari kavling kelompok belajar menjadi kursi dan meja yang berjejer-jejer. Muka
belajar santri yang tegang kini berganti gelak dan tawa yang pecah di sana-sini. Kiai Rais dan
para guru duduk di panggung, menghadap kearah Santri. Kebiasaan di Pondok Madani, sebuah
ujian dibuka dan ditutup dengan pertemuan yang dipimpin Kiai Rais. Inilah Malam Syukuran
Ujian Akhir. Dengan wajah bercahaya, Kiai Rais mengangkat kedua tangan seakan menyambut
pahlawan dari medan perang.
Dari aktivitas tersebut merupakan aktivitas komunikasi non verbal, di mana para tokoh
menyampaikan pesan tidak secara langsung, melainkan dengan suatu tindakan/tingkah laku.

Hubungan Gradasi Intensitas
Gradasi intensitas adalah tingkat kekuatan pesan yang sampai kepada komunikan.
Gradasi Intensitas berhubungan dengan peralatan tubuh manusia terdiri dari dua jenis, yaitu
peralatan jasmani (bersifat konkret) dan peralatan rohani (bersifat abstrak). Telinga, mata, mulut,
hidung, kaki, tangan, dll adalah bagian dari peralatan jasmani manusia. Akal, budi, naluri, hati
nurani adalah bagian dari peralatan ruhani manusia. Keduanya selalu beriringan dan tidak ada
yang lebih dominan di antara keduanya. Peralatan rohani manusia berkembang berdasarkan
kondisi lingkungan, pendidikan, baik formal maupun informal, dan interaksi kontinyu antara
manusia dengan lingkungannya.
Hubungan Gradasi Intensitas yang telah tercapai dalam novel Negeri 5 Menara yaitu
Gradasi Intensitas Indoktrinasi dengan sasaran Isi Pernyataannya adalah akal, budi, naluri dan
hati nurani sebagai berikut :
 Akal adalah salah satu peralatan rohani manusia yang berfungsi untuk membedakan mana
yang salah dan mana yang benar, mengingat, menghubungkan, menganalisis dan
menyimpulkan. Kemampuan akal manusia tergantung kepada luas pengalaman dan tingkat
pendidikannya, formal maupun informal. Tidak ada yang betul-betul sama.

Contoh :

Waktu Alif berumur 6 tahun Ayah datang untuk mengambil rapor melihat matanya
sampai terbelalak. Sebuah angka merah tertulis di rapornya, pelajaran kesenian dapat angka 5.
Dan nilai itu dari Amak sendiri!
“Bang, ambo ingin berlaku adil, dan keadilan harus ada dari diri sendiri, bahkan dari anak
sendiri. Aturannya adalah siapa yang tidak mau praktek menyanyi dapat angka merah,” kata
Amak ketika Ayah bertanya, kok tega memberi angka merah buat anak sendiri.
“Tapi ini kan hanya masalah kecil, cuma pelajaran kesenian,” bela Ayah.
“Justru karena ini hal kecil. Jangan sampai dia meremehkan suatu hal, sekecil apa pun.
Semuanya pilihan hidupnya ada konsekuensi, walau hanya sekadar pelajaran kesenian. Itu juga
supaya dia belajar bahwa tidak ada yang diistimewakan. Semuanya harus berdasarkan usaha
sendiri,” timpal Amak.
 Budi : berfungsi untuk membedakan mana yang baik dan buruk (etika), indah atau tidak
indah (estetika), sopan atau tidak sopan (etiket atau perasaan tata krama kesopanan), adil
atau tidak adil (perasaan keadilan). Budi adalah fungsi perasaan, anda dapat menyatakan
bahwa keputusan yang diambil sudah seadil-adilnya, tapi tidak menurut orang lain.

Contoh :
Percakapan Alif dengan Amak mengenai masa depan Alif setelah lulus MTsN.
“TapiAmak, ambo tidak berbakat dengan ilmu agama. Ambo ingin menjadi insinyur dan ahli
ekonomi,” tangkis Alif sengit. Muka Alif merah dan mata terasa panas.
“Menjadi pemimpin agama lebih mulia daripada jadi insinyur, Nak.” Kata Amak
 Naluri : yaitu dorongan yang dibawa manusia sejak lahir untuk berprilaku tertentu. Naluri
sering disebut juga instink, salah satu naluri misalnya adalah naluri ketuhanan, naluri
kebahagiaan, naluri sosial, naluri ingin tahu, dan naluri komunikasi.

Contoh :
Sebelum meninggalkan rumah, Alif mencium tangan Amak sambil minta doa dan minta
ampun atas kesalahannya lalu Amak Alif berkata :
“Baik-baik di rantau urang, Nak. Amak percaya ini perjalanan untuk membela agama. Belajar
ilmu agama sama dengan berjihad di jalan Allah,” kata beliau.

 Hati nurani adalah peralatan rohani manusia yang berfungsi sebagai pedoman manakala
akal, budi, naluri tidak dapat memutuskan dan manusia berada dalam kebimbangan.

Hati nurani pada dasarnya adalah anggukan universal : pelanggaran terhadapnya adalah
perendahan harkat dan martabat manusia. Ia berlaku dimanapun, kapanpun, tanpa mengenal
ras, golongan, maupun agama.
Hati nurani bersifat personal : berkaitan erat dengan individu yang bersangkutan.
Mewarnai kepribadian, hati nurani berkembang bersamaan dengan perkembangan usia,
pendidikan dan pengalaman hidup manusia. Hati Nurani hanya berbicara atas nama manusia
pemiliknya.

Contoh :
Tidak jelas benar dalam pikiran Alif, seperti apa Pondok Madani itu. Walau begitu,
akhirnya Alih memutuskan menuruti keinginan Amak walau dengan setengah hati. Bukannya
gembira, tapi ada rasa nyeri yang aneh bersekutu di dada Alif mendengar persetujuan mereka. Ini
jelas bukan pilihan utamanya. Bahkan sesungguhnya Alif sendiri belum yakin betul dengan
keputusan ini. Ini keputusan setengah hati.

Kesimpulan
Dalam komunikasi meciptakan proses hubungan antar manusia (apabila terjadi
komunikasi antar manusia dengan manusia), komunikasi kepada hewan (komunikasi manusia
dengan hewan dengan bahasa non verbal). Proses hubungan antar manusia pasti khusus terjadi
pada komunikasi antar manusia. Di mana komunikasi itu sendiri adalah kegiatan menyampaikan
pesan, maka secara tidak langsung hubungan itupun terjadi.
Dalam novel Negeri 5 Menara ini kita dapat melihatnya dalam adegan awalnya Alif lebih
sering menyendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, Alif mulai bersahabat dengan temanteman satu kamarnya, yaitu Baso dari Gowa, Atang dari Bandung, Said dari Surabaya, Raja dari
Medan, dan Dulmajid dari Madura.
Mereka berenam selalu berkumpul di menara masjid dan menamakan diri mereka Sahibul
Menara alias para pemilik menara. Mereka masing-masing memiliki ambisi untuk menaklukan
dunia. Dari tanah Indonesia, Amerika, Eropa, Asia hingga Afrika. Dibawah menara Madani,
mereka berjanji dan bertekad untuk bisa menaklukan dunia dan mencapai cita-cita. Dan menjadi
orang besar yang bisa bermanfaat bagi banyak orang
Maka di sini dapat diketahui bahwa dalam suatu kegiatan komunikasi, proses hubungan
antar manusia secara otomatis dapat terjalin. Baik yang berbentuk komunikasi verbal maupun
non verbal, maka hubungan tersebut akan tercipta dengan sendirinya. Sehingga pada akhirnya
tercapailah Gradasi Intensitas Indoktrinasi yang terdapat pada novel Negeri 5 Menara.

Judul: Pengantar Ilmu Komunikasi

Oleh: Dessy Fatmawati


Ikuti kami