Hermeneutika ,ilmu Filsafat

Oleh Zykha Amali

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Hermeneutika ,ilmu Filsafat

HERMENEUTIKA, SEBUAH CARA UNTUK MEMAHAMI TEKS1
MOH. IKROM FADZA
ikromfadsa77@gmail.com
MUHAMMAD ALWI BADRI
alwibadri1999@gmail.com
Abstract
Hermeneutics is a theory that deals with text interpretation. This theory is commonly used as a method to
understand a text although Hermeneutics itself does not explicitly formulate the practical steps to
understand a text. Among the theories of interpretation, Hermeneutics has various subinterpretation
theories. In the perspective of Hermeneutics, the initail stage of interpretation involves the objective
interpretation of a text before symbolization is made. The message of the text is then related to the other
elements of the texts such as the sender of the text, other related disciplines, and socio-cultural aspect of
the text. The understanding of a text will eventually be identical with the quality improvement of the
interpreter’s own self. However, in practice, Hermeneutics can be used to intrepret various texts. This
paper will only discusses the text of artistic and literary work. These two different texts will be analyzed
by using one of the perspectives of Hermeneutics in a simple and applicable formulation.
Key words:
Interpretation, Objective Text Teks, Symbolization, Methapora, Layers Of Meaning, One Own’s Self
Quality.
A. Pendahuluan
Secara etimologis, kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein, yang berarti menafsirkan.
Dalam mitologi Yunani, kata ini sering dikaitkan dengan tokoh bernama Hermes, seorang utusan yang
mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia. Tugas menyampaikan pesan berarti
juga mengalihbahasakan ucapan para dewa ke dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia.
Pengalihbahasaan sesungguhnya identik dengan penafsiran. Dari situ kemudian pengertian kata
hermeneutika memiliki kaitan dengan sebuah penafsiran atau interpretasi. Ada banyak tokoh dalam
hermeneutika. Sebut saja, misalnya, F.D.E Schleiermarcher, Wilhelm Dilthey, Hans-Georg Gadamer,
Jurgen Habermas, dan Paul Ricoeur. Penulis tidak akan menjelaskan pemikiran hermeneutik semua
tokoh tersebut. Dalam tulisan pendek ini metode hermeneutika yang akan disarikan adalah yang
1Tulisan ini mulanya merupakan salah satu bagian dari disertasi penulis di SR ITB bertajuk Narasi
Simbolik dalam Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Untuk kebutuhan tulisan pada jurnal, tentu saja telah
dilakukan berbagai penyesuaian.

dikemukakan Ricoeur. Selanjutnya, secara spesifik, metode yang diuraikan diperuntukkan bagi
penelaahan teks seni (termasuk di dalamnya sastra).
B. Hermeneutika Paul Ricoeur
Dalam bukunya, Hermeneutics and The Human Sciences (1981: 43) Ricoeur mendefinisikan
hermeneutika sebagai berikut, “hermeneutics is the theory of the operations of understanding in their
relation to the interpretation of text”. Berdasarkan pengertian ini Ricoeur kemudian mengatakan, “So,
the key idea will be the realisation of discourse as a text; and elaboration of the catagories of the text
will be the concern of subsequent study”.
Discourse (wacana) sendiri, dilihat Ricoeur sebagai sesuatu yang lahir dari tuturan individu. Dalam hal
ini Ricoeur menyinggung teori linguistik Ferdinand de Saussure yang diperbandingkan dengan konsep
Hjemslev. Saussure, dalam Course in Linguistic General (1974) membedakan bahasa dalam dikotomi
tuturan individu (parole) dengan sistem bahasa (langue). Sedangkan Hjemslev mengkategorikannya
dalam skema dan penggunaan. Dari dualitas inilah, menurut Ricoeur, teori tentang wacana (discourse)
lahir. Dalam perspektif Ricoeur, parole atau ujaran individu identik dengan wacana (discourse).
Menurut Ricoeur, wacana berbeda dengan bahasa sebagai sistem (langue). Wacana lahir karena adanya
pertukaran makna dalam peristiwa tutur. Karakter peristiwa sendiri merujuk pada orang yang sedang
berbicara. Ricoeur menulis, “The eventful character is now linked to the person who speaks; the event
consists in the fact that someone speaks, someone expresses himself in taking up speech” (1981: 133).
Selanjutnya dijelaskan bahwa terdapat empat unsur pembentuk wacana, yakni terdapatnya subjek yang
menyatakan, isi atau proposisi yang merupakan dunia yang digambarkan, alamat yang dituju, dan
terdapatnya konteks (ruang dan waktu). Dalam wacana terjadi lalu-lintas makna yang sangat kompleks.
Tindakan pengujaran dan penerimaan gambaran dunia selalu ada dalam temporalitas. Dengan fakta
demikian, tidak ada kebenaran mutlak dalam soal penafsiran atas wacana. Pemaknaan atau penafsiran
yang bersifat temporal (bersifat sementara karena adanya konteks) selalu diantarai oleh sederet penanda
dan, tentu saja, oleh teks. Dengan demikian, tugas hermeneutika tidak mencari kesamaan antara maksud
penyampai pesan dan penafsir. Tugas hermeneutika adalah menafsirkan makna dan pesan seobjektif
mungkin sesuai dengan yang diinginkan teks. Teks itu sendiri tentu saja tidak terbatas pada fakta
otonom yang tertulis atau terlukis (visual), tetapi selalu berkaitan dengan konteks. Di dalam konteks
terdapat berbagai aspek yang bisa mendukung keutuhan pemaknaan. Aspek yang dimaksud menyangkut
juga biografi kreator (seniman) dan berbagai hal yang berkaitan dengannya. Hal yang harus diperhatikan
adalah seleksi atas hal-hal di luar teks harus selalu berada dalam petunjuk teks. Ini berarti bahwa analisis
harus selalu bergerak dari teks, bukan sebaliknya. Hal terpenting dari semua itu adalah bahwa proses

penafsiran selalu merupakan dialog antara teks dan penafsir. Ricoeur, dengan merujuk pada Dilthey,
menyebutnya sebagai lingkaran hermenetik (hermeneutical circle) (1981:
165).
Pertanyaannya, bagaimana objektivitas dapat dicapai atau subjektivitas penafsir bisa dihindari? Ricoeur
menawarkan empat kategori metodologis sebagai jawabannya, yakni objektivasi melalui struktur,
distansiasi melalui tulisan, distansiasi melalui dunia teks, dan apropriasi (pemahaman diri). Dua yang
pertama merupakan kutub objektif. Hal ini penting sebagai prasyarat agar teks bisa mengatakan sesuatu.
Objektivasi melalui struktur adalah usaha menunjukkan relasi-relasi intern dalam struktur atau teks 2 . Di
sini tampak bahwa hermeneutika berkaitan erat dengan analisis struktural.
Analisis struktural adalah sarana logis untuk menguraikan teks (objek yang ditafsirkan).
Namun begitu, analisis hermeneutik kemudian melampaui kajian struktural demikian. Bergerak lebih
jauh dari kajian struktur, analisis hermeneutika melibatkan berbagai disiplin yang relevan sehingga
memungkinkan tafsir menjadi lebih luas dan dalam. Bagaimanapun berbagai elemen struktur yang
bersifat simbolik tidak bisa dibongkar dengan hanya melihat relasi antarelemen tersebut. Oleh sebab itu,
penafsiran dalam perspektif hermeneutika juga mencakup semua ilmu yang dimungkinkan ikut
membentuknya: psikologi, sosiologi, politik, antropologi, sejarah, dan lainlain. Ini yang dimaksud
dengan distansiasi atas dunia teks (objek) dan apropriasi atau pemahaman diri. Dengan perkataan lain,
jika teks (objek) dipahami melalui analisis relasi antar unsurnya (struktural), bidang-bidang lain yang
belum tersentuh bisa dipahami melalui bidang-bidang ilmu dan metode lain yang relevan dan
memungkinkan (Haryatmoko, 2002).
Agar lebih jelas, konsep dan cara kerja metode dan pendekatan yang telah diuraikan di atas dalam
kaitannya dengan karya seni sebagai subjek penelitian, penulis visualisasikan melalui gambar 1.
Dari gambar yang berupa piramida terbalik di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Mula-mula teks (seni) ditempatkan sebagai objek yang diteliti sekaligus sebagai subjek atau pusat
yang otonom. Karya seni diposisikan sebagai fakta ontologi (Rohidi, 2006).
b. Selanjutnya, karya seni sebagai fakta ontologi dipahami dengan cara mengobjektivasi
strukturnya. Di sini analisis struktural menempati posisi penting.
c. Pada tahap berikutnya, pemahaman semakin meluas ketika masuk pada lapis simbolisasi. Hal ini
terjadi sebab di sini tafsir telah melampaui batas struktur.

2 Pemikiran ini dipetakan Haryatmoko dalam makalah “Memahami Diri Lebih Baik; Hermeneutika
Menurut Paul Ricoeur”, 2002

d. Kode-kode simbolik yang ditafsirkan tentu saja membutuhkan hal-hal yang bersifat referensial
menyangkut proses kreatif seniman dan faktorfaktor yang berkaitan dengannya.
e. Kode simbolik yang dipancarkan teks dan dikaitkan dengan berbagai persoalan di luar dirinya
menuntut disiplin ilmu lain untuk melengkapi tafsir.
f.

Akhirnya, ujung dari proses itu adalah ditemukannya makna atau pesan. Dari skema tampak
bahwa makna dan pesan dalam tafsir hermeneutik berada pada wilayah yang paling luas dan
palingberjauhan dengan teks (karya seni sebagai fakta ontologisnya), tetapi tetap berada di dalam
horizon yang dipancarkan teks.

Gambar 1
Metodologi Pengkajian Hermeneutik
Salah satu bagian yang perlu lebih jauh dijelaskan dalam skema di atas adalah soal simbolisasi.
Teks, yang tidak lain adalah formulasi bahasa, adalah kumpulan penanda yang sangat kompleks.
Saussure mendikotomikan bahasa sebagai penanda (citra akustis, bunyi) versus petanda (konsep).
Bahasa adalah lambang yang paling kompleks dibandingkan dengan berbagai hal lain di
masyarakat. Dalam kaitan dengan hermeneutika, Ricoeur kemudian menyebut metafora (pengalihan
nama, perbandingan langsung, perlambangan) sebagai bagian penting untuk dibahas dalam
hermeneutika. Pemahaman atas teks, menurut Ricoeur, niscaya akan berlanjut kepada pemahaman
tentang metafora. Dalam tanggapan terhadap Thompson yang menerjemahkan bukunya ke dalam
bahasa Inggris, Ricoeur menulis,
“Thompson is perfectly right to underline the difference between this initial definition of
hermeneutics limited to an interpretation of the hidden meaning of symbols, and the subsequent

definition which extends the work of interpretation to all phenomena of a textual order and which
focuses less on the notion of hidden meaning than on that of indirect reference (1981: 33)
Selanjutnya, sebagaimana telah disinggung di atas, hermeneutika Ricoeur bersentuhan dengan
metode strukturali, khususnya yang dikemukakan Ferdinand de Saussure yang diperbandingankan
dengan Hjemslev dalam ilmu linguistik. Oleh sebab itu, sebagai pelengkap dalam tulisan ini
disinggung secara selintas teori struktural, khususnya yang dikembangkan oleh Saussure.
Asumsi dasar strukturalisme adalah melihat berbagai permasalahan sebagai sebuah jaringan struktur
atau sistem. Di dalam jaringan struktur, relasi menjadi bagian penting. Membaca dunia, dalam
perspektif strukturalisme, berarti memahami struktur dan makna dunia melalui relasi-relasi. Kerena
melihat segala persoalan sebagai struktur, strukturalisme bersifat statis (anti perubahan), ahistoris
(anti sejarah), dan reproduktif (pengulangan). Pendek kata, strukturalisme melihat berbagai objek
sebagai fakta otonom yang tidak memiliki hubungan keluar objek tersebut.
Strukturalisme yang dipelopori Saussure ini mula-mula digunakan dalam kajian linguistik. Dalam
analisis linguistik, Saussure mengembangkan teori-teori yang bersifat dikotomis. Konsep dikotomis
tersebut adalah langue versus parole, penanda versus petanda, sinkronik versus diakronik, dan
sintagmatik versus paradigmatik. Penjelasan ringkas mengenai konsep-konsep ini sebagai berikut.
Pertama, parole versus langue. Sebelum sampai pada dikotomi ini, Saussure menyebut satu istilah
lain, yakni langage. Istilah-istilah ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Parole adalah seluruh ujaran
individu termasuk seluruh konstruksi individu yang muncul dari pilihan penutur. Karena demikian,
parole bukan fakta sosial. Sedangkan kaidah bahasa adalah seluruh aturan gramatika yang mungkin
digunakan oleh para penutur tersebut. Gabungan antara parole dengan kaidah bahasa itu kemudian
disebut Saussure sebagai langage. Namun, kata Saussure, untuk mempelajari bahasa langage tidak
bisa dijadikan acuan. Masalahnya, dalam langage terdapat ujaran individu. Dalam sebuah
masyarakat, ujaran individu tentu saja sangat banyak, beragam, dan kompleks. Saussure kemudian
menawarkan istilah langue sebagai objek studi bahasa. Langue adalah keseluruhan produk yang
diajarkan masyarakat dan diterima individu secara pasif. Langue bukan kegiatan penutur (Saussure,
1988, hal. 80). Jika langage bersifat heterogen, langue bersifat homogen. Dengan demikian, langue
adalah sebuah sistem, semacam kontrak yang telah dilakukan di antara anggota masyarakat di masa
lalu.
Meskipun demikian, antara langue dan parole terdapat keterhubungan. Langue diperlukan agar
parole dapat dipahami dan menghasilkan segala dampaknya, sedangkan parole diperlukan agar

langue terbentuk. Bagaimanapun sistem diproduksi oleh berbagai elemen yang berkembang
meskipun sifatnya temporal seperti halnya parole. Namun, Saussure tetap membedakan dua hal ini.
Ia menulis, “Kalau perlu kita dapat mempertahankan masing-masing disiplin tersebut dan bicara
tentang linguistic parole. Tetapi jangan sampai disiplin tersebut dirancukan dengan linguistik yang
sebenarnya, yaitu menjadikan langue sebagai objek satu-satunya” (Saussure, 1988, hal. 87).
Kedua, penanda dan petanda. Bahasa adalah sebuah penanda yang berhubungan dengan petanda
lewat sebuah struktur. Relasi antara penanda dengan petanda tidak ditentukan oleh unsur lain di luar
bahasa. Dengan perkataan lain, makna bahasa tidak ditentukan oleh sesuatu yang berada di luar
dirinya, melainkan oleh struktur dalam bahasa itu sendiri. Warna merah dalam sistem lalu lintas,
misalnya, adalah penanda dari petanda berhenti. Dalam konteks itu, berhenti sebagai makna merah
bukan dibentuk oleh sesuatu yang berada di luar bahasa. Merah berarti berhenti karena ada hijau
yang berarti jalan terus atau kuning yang berarti hati-hati. Itulah sebabnya fonem (bunyi) dalam
bahasa berfungsi untuk membedakan makna. Kata kasur berbeda maknanya dengan kasar sebab
yang satu berbunyi akhir u(r), sedangkan yang kedua berbunyi a (r). Demikian Saussure melihat
bahasa sebagai sesuatu yang otonom.
Ketiga, diakronik versus sinkronik. Analisis diakronik adalah cara ilmiah yang mempelajari bahasa
secara historis atau melihat perkembangannya sepanjang massa Menurut para Junggrammatiker,
pada abad ke-19 cara ini merupakan satu-satunya yang bersifat ilmiah. Tapi Saussure menolak
pandangan ini. Menurutnya, terdapat fakta-fakta bahasa yang hanya dapat diperoleh secara
sinkronis saja, yakni dalam satu kurun waktu tertentu (Kridalaksana, 1988, hal. 10). Saussure
mencontohkannya dengan cara menetak pohon secara horizontal (melintang) dan vertikal
(membelah secara memanjang). Dari potongan melintang akan terlihat serat-serat yang saling
berhubungan tempat satu perspektif tergantung pada perspektif yang lain, sedangkan pada potongan
memanjang akan terlihat serat yang membentuk tumbuhan. Namun, apa yang terlihat pada
penampang yang dipotong melintang tidak mungkin terlihat pada potongan memanjang. Dengan ini
Saussure ingin mengatakan bahwa dalam menganalisis bahasa tidak harus melihat fakta sejarahnya.
Setiap hal bisa ditandai semata-mata dengan melihat berbagai elemen yang hadir secara sinkroknis.
paradigmatik. Saussure sebenarnya menggunakan istilah asosiatif untuk paradigmatik, tapi istilah
asosiatif diganti oleh Louis Hjelmslev menjadi paradigmatik dan istilah inilah yang kemudian
digunakan dalam ranah linguistik. Secara sederhana, sintagmatik berarti makna denotatif.
Hubungan sintagmatik adalah hubungan ujaran dalam suatu rangkaian. Hubungan ini bersifat in
praesentia, yakni elemen-elemennya hadir secara faktual dalam rangkaian ujaran itu. Sedangkan

hubungan paradigmatik merupakan hubungan yang bersifat in absentia. Dalam hubungan in
absentia, hubungan terjadi secara asosiatif. Menurut Saussure, bentuk-bentuk bahasa dapat
diuraikan secara cermat dengan meneliti dua hubungan tersebut (Kridalaksana, 1988, hal. 17).
Demikianlah makna bahasa dilihat dari perspektif struktural Saussurian. Pola-pola linguistik ini
ternyata kemudian dipakai dalam membedah berbagai gejala kebudayaan dan kemasyarakatan.
Dalam bidang kebudayaan dan kemasyarakatan, strukturalisme melihat realitas masyarakat sebagai
sebuah sistem dan kurang menghargai peran individu. Individu ditempatkan pada posisi subjek
dalam arti sebagai agen, pekerja dalam perusahaan makna. Dalam situasi ini, individu sebenarnya
merupakan subjek sekaligus objek. Ia menjadi agen sekaligus juga sasaran dari aturan main, dari
sistem. Strukturalisme juga tidak memperhatikan kausalitas, ia lebih melihat relasi-relasi dalam
struktur. Strukturalisme lebih berkonsentrasi pada relasi dalam totalitas daripada mempersoalkan
sejarah.
Sebab sifatnya yang demikian, dalam kaitan dengan hermeneutika, sekali lagi, metode struktural
hanya berfungsi untuk mengobjektivasi struktur saja. Dengan perkataan lain, penggunaan metode
ini berhenti pada pembacaan teks yang otonom untuk mendukung (mengobjektivasi) pemaknaan
yang dihasilkan dalam tafsir hermeneutik.
C.

DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Akhyar Yusuf. (2015). Filsafat Lmuklasik Hingga Kontemporer. Jakarta: Rajawali Perss.
Kaelan, MS. (2002). Filsafat Bahasa. Yogyakarta: Pradige.
K. Bertens (1981). Filsafat Barat Dalam Abad XX. Jakarta: Gramedia
Loen Bagus (1991) Theologi And Critical Theory. Abigdon Press
P. Wiliam Alaston (1964) Philoshophy Of Liguage Prantice Hall. London: Inc
R. Rubner (1981) Modern Jerman Phiosophy. Cambrigh: Cambigh University
Presswasito Poespoprojo (1987) Interpretasi Remaja Karya. Bandun: CV.

Judul: Hermeneutika ,ilmu Filsafat

Oleh: Zykha Amali


Ikuti kami