Ubstansi Filsafat Ilmu

Oleh Fuji Rahayu

12 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Ubstansi Filsafat Ilmu

UBSTANSI FILSAFAT ILMU
A. KENYATAAN ATAU FAKTA
1. Kesenjangan Antara Kebenaran dan Fakta
Di zaman dahulu, nilai-nilai kebenaran sangat dijunjung tinggi oleh para orang tua,
pendidik, ulama dan anggota masyarakat dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.Prinsip satu kata dengan perbuatan atau prilaku masih terwujud dalam
fakta yang dapat diamati. Sebagai contoh, keluarga kaum ulama pada zaman dahulu masih
konsisten dalam menjalankan ajaran agama Islam tentang etika bergaul antara pria dan wanita,
etika tata cara berpakaian menurut Islam bagi kaum pria dan wanita, serta etika-etika lainnya
yang semuanya telah diatur dalam Alquran dan Alhadist. Ajaran-ajaran dalam Islam tersebut
merupakan suatu kebaikan dan kebenaran yang sifatnya mutlak. Karena itu, tata cara bergaul
antara pria dan wanita serta tata cara berpakaian antara pria dan wanita Islam di zaman
praglobalisasi penuh dengan nilai-nilai serta etika tentang sopan santun. Fenomena ini terwujud
dalam fakta di masyarakat yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, di era globalisasi, nilai- nilai kebenaran khususnya kebenaran etika bergaul
dan berpakaian antara pria dan wanita menurut Islam sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian
anggota masyarakat remaja yang terwujud dalam fakta. Sebagai contoh ajaran islam ‘larangan
mendekati zina’ sebagai suatu ajaran yang mengandung nilai kebenaran mutlak, kini telah
ditinggalkan oleh sebagian remaja yang berpola pikir kebarat-baratan. Islam juga mengajarkan
nilai sopan santun yang mengandung nilai kebenaran tentang keharusan kaum wanita untuk
menutup aurat, namun dalam faktanya, sebagian remaja kita telah menganggap ajaran itu tidak
benar atau kuno, sehingga mereka berpakaian sangat seksi.Karena itu dapat disimpulkan bahwa
nilai kebenaran agama mengalami krisis dan kesenjangan dengan kenyataan atau fakta yang
diamati dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

2. Cara Mencari Kebenaran Menurut Ilmu, Filsafat, dan Agama
Menurut perspektif sains atau ilmu pengetahuan, kebenaran dapat diperoleh melalui ilmu
penyelidikan dengan menggunakan metode ilmiah, logis untuk mencari bukti empiris dalam

upaya untuk menguji hipotesis menjadi tesis atau tidak dan untuk menarik kesimpulan yang
dapat digeneralisasikan. Dengan kata lain, kebenaran menurut ilmu pengetahuan dapat di cari
dan ditemukan melalui cara-cara yang ilmiah dengan prosedur yang sistematis dan ilmiah dalam
melakukan penyelidikan empiris untuk menarik kesimpulan sebagai suatu kebenaran. Jadi
kebenaran ilmiah dapat dicari dan ditemukan dengan data yang logis dan empiris.
Kebenaran yang diperoleh melalui data ilmiah yang penuh dengan logika dan bukti-bukti
empiris untuk menemukan suatu kesimpulan sebuah kebenaran merupakan kebenaran yang
ilmiah.Kebenaran ilmiah dapat menjadi sebuah teori ilmiah yang membangun ilmu penetahuan.
Salah satu contoh tentang cara mencari kebenaran menurut perspektif ilmu pengetahuan ialah
dengan melakukan penyelidikan untuk mencari dan menemukan data empiris dengan
menggunakan metode dan prosedur yang ilmiah. Sebagai contoh sederhana adalah, apakah benar
pemberian pupuk dapat menyuburkan pertumbuhan tanaman, maka dilakukan eksperimen
dengan membentuk dua kelompok objek penelitian yaitu sekelompok tanaman diberikan pupuk
secukupnya dalam jangka waktu tertentu dengan metode ilmiah, sedangkan kelompok lain tidak
diberikan pupuk, maka dapat dilihat hasil yang diperolehnya.
Dari hasil eksperimen yang dilakukan diatas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa; “ada
pengaruh pupuk terhadap pertumbuhan tanaman”, merupakan sebuah kebenaran ilmiah yang
diperoleh dengan bukti empiris melalui hasil penyelidikan berupa eksperimen dilapangan. Survei
tentang jumlah penduduk disuatu negara dan jenis-jenis pekerjaan yang dilakoni juga merupakan
cara mencari kebenaran tentang data kependudukan. Kesimpulan hasil survei tersebut adalah
juga merupakan sebuah kebenaran ilmiah.
Menurut perspektif agama, suatu kebenaran dapat dicari dan ditemukan, serta diterima
melalui proses ilmiah sebagai basis yang utama. Namun demikian, proses aqliahatau pikiran
(logika) juga dapat digunakan sebagai alat penunjang proses imaniahuntuk memperkuat
kebenaran wahyu sebagai proses imaniah. Contoh kebenaran wahyu atau agama yang hanya
dapat diterima melalui proses imaniahialah peristiwa isra mi’rajnabi besar Muhammad Saw
kesitratul muntaha. Peristiwa ini tidak dapat diterima melalui proses logika, namun ini sebuah
fakta dan kebenaran yang hanya dapat diterima melalui proses imaniah.
Menurut perspektif filsafat, suatu kebenaran dapat dicari, ditemukan, dan diterima
melalui proses logika. Dengan kata lain, filsafat ialah kebenaran yang dihasikan melalui berpikir
radikal. Bukti empiris tidak diperlukan dalam mencari, menemukan, dan menerima suatu

kebenaran melainkan proses pikir dan hasil pikir yang logis merupakan ukuran dalam mencari,
menemukan, dan menerima suatu kebenaran. Karena itu, hakikat kenyataan secara total
(ontologi), hakikat mengetahui kenyataan (epistemologi), dan hakikat menilai kenyataan
(aksiologi) yang berhubungan dengan etika dan estetika menjadi objek dari filsafat.
3. Sifat Kebenaran Menurut Pespektif Ilmu, Agama, dan Filsafat
Kebenaran

yang ditemukan berdasarkan perspektif agama adalah kebenaran yang

bersifat mutlak dan tidak perlu disangsikan kebenarannya karena merupakan kebenaran wahyu
yang diterima melalui proses imaniah dan logika sebagai proses pikir penunjang. Kebenaran
yang ditemukan berdasarkan perspektif sains (ilmu) adalah kebenaran yang bersifat relatif dan
masih perlu disangsikan kebenarannya, melalui penelitian ilmiah hanya sekitar 95 % sampai 99
% atau sifatnya tidak mutlak. Sedangkan kebenaran yang ditemukan berdasarkan perspektif
filsafat juga merupakan kebenaran yang tidak bersifat mutlak dan masih perlu disangsikan
kebenarannya melalui proses logika yang lebih radikal.
4. Keterkaitan antara Fakta dan Kebenaran
Pada uraian terdahulu disinggung sekilas tentang keterkaitan antara kebenaran
dengan fakta dan sebaliknya.Kebenaran adalah sesuatu yang ada secara objektif, logis, dan
merupakan sesuatu yang empiris. Sedangkan fakta merupakan kenyataan yang terjadi yang dapat
diterima secara logis dan dapat diamati secara nyata dengan panca indra manusia.
Kasusjatuhnya pesawat Mandala di Medan beberapa tahun yang lalu merupakan
contoh suatu fakta yang terjadi di lapangan.Kenyataan berupa kasus jatuhnya pesawat ter sebut
merupakan sesuatu kasus yang benar adanya.Dengan kebenaran atas terjadinya kecelakaan
pesawat merupakan suatu fakta yang tidak bisa dibantah lagi atas kebenarannya, baik secara
logika maupun secara empiris. Contoh lain shalat dapat mencegah manusia kepada kemungkaran
merupakan suatu kebenaran wahyu yang tidak dapat dibantah lagi, baik secara logika maupun
secara empiris, karena dalam kenyataanya apabila orang shalatnya baik dan benar maka
perilakunya menjadi bagus di masyarakat.
Dari uraian dan kedua contoh diatas, menunjukan bahwa antara kebenaran dan
fakta merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kata
lain, antara fakta dan kebenaran, dan antara kebenaran dengan fakta merupakan dua hal yang
berkaitan sangat erat.

Sesungguhnya, terdapat berbagai teori tentang rumusan kebenaran.Namun secara
tradisional, kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatik (Jujun
S. Suriasumantri, 1982).
a. Kebenaran koherensi
Kebenaran koherensi yaitu adanya kesesuaian atau keharmonisan antara sesuatu yang lain
dengan sesuatu yang memiliki hirarki yang lebih tinggi dari sesuatu unsur tersebut, baik berupa
skema, sistem, atau pun nilai. Koherensi ini bisa pada tatanan sensual rasional mau pun pada
dataran transendental.
b. Kebenaran korespondensi
Berfikir benar korespondensial adalah berfikir tentang terbuktinya sesuatu itu relevan
dengan sesuatu lain. Koresponsdensi relevan dibuktikan adanya kejadian sejalan atau berlawanan
arah antara fakta dengan fakta yang diharapkan, antara fakta dengan belief yang diyakini, yang
sifatnya spesifik
c.

Kebenaran pragmatik
Yang benar adalah yang konkret, yang individual dan yang spesifik dan memiliki
kegunaan praktis.
http://wiwidmanga.blogspot.com/2012/10/substansi-filsafat-ilmu.html
Astrida wiwid

Judul: Ubstansi Filsafat Ilmu

Oleh: Fuji Rahayu


Ikuti kami