Ilmu Ukur Tambang

Oleh Samuel Tamba

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Ilmu Ukur Tambang

SUDUT, AZIMUT, DAN BEARING
Bacaan sudut pada tedolit ada dua yaitu:
1. Bacaan lingkaran vertikal, digunakan untuk menentukan besarnya
sudut vertikal.
2. Bacaan lingkaran horisontal, digunakan untuk menentukan besarnya sudut
horisontal.

Gambar : Pengukuran sudut dengan teodolit
Sudut Vertikal

Bacaan lingkaran vertikal bisa merupakan sudut vertikal (z) maupun sudut miring ()
0
Pada kedudukan biasa
 = 90 – z
0
Pada kedudukan luar biasa  = z - 270

Sudut vertikal, yaitu sudut yang ditentukan dari garis tegak (vertikal).
Jika pembacaan sudutnya dari arah zenit (atas) maka disebut
sudut zenit (z), jika dari arah nadir (bawah) maka disebut sudut
nadir (n).

Sudut miring, yaitu sudut yang ditentukan dari garis mendatar
(horisontal) ke arah atas atau ke arah bawah.
Jika pembacaan sudutnya ke arah atas maka disebut sudut elevasi
(), jika ke arah bawah maka disebut sudut depresi ().

Sudut vertikal maupun sudut miring digunakan untuk menghitung jarak datar.

Gambar : sudut vertikal
Sudut Horizontal
Bacaan lingkaran horisontal pada teodolit merupakan arahhorisontal teropong ketitik bidik
tertentu.
• Sudut horisontal adalah selisih antara dua arah horisontal yang berlainan (bacaan FS –
bacaan BS).
• Sudut horisontal digunakan untuk menghitung azimut
sisi poligon.

Sudut horisontal dibedakan menjadi:
1. Sudut dalam (interior angle)adalah sudut yang terletak di bagian dalam
poligon tertutup.
2. Sudut luar (eksterior angle) adalah pelingkar sudut dalam pada
poligon tertutup.
3. Sudut ke kanan(angle to the right) adalah sudut menuju FS dengan putaran
searah jarum jam.
4. Sudut ke kiri(angle to the left) adalah sudut menuju FS dengan putaran berlawanan
jarum jam.
5. Sudut defleksi adalah sudut miring antara sebuah garis dan perpanjangan garis
sebelumnya.
- Sudut defleksi kiri = sudut defleksi yang belok ke kiri.
- Sudut defleksi kanan = sudut defleksi yang belok ke kanan.

Gambar : Sudut horizontal

Azimut (Sudut Jurusan)
Azimut ialah sudut yang dimulai dari utara berputar searah jarum jam ke titik yang
0
0
dituju.Besarnya azimut antara 0 -360 .
Macam-macam azimut yaitu:
a. Azimut sebenarnya, yaitu sudut yang dibentuk antara utara geografis dengan titik yang
dituju.
b. Azimut magnetis, yaitu sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan
titik yang dituju.
c. Azimut peta, yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara peta dengan
titik yang dituju.
Back azimuth (BAz) adalah besar sudut kebalikan dari fore azimuth (FAz).
0
0

jika FAz<180 maka BAz = FAz + 180
0
0

jika FAz>180 maka BAz = FAz – 180

Gambar: Azimuth
Contoh:
Azimut:
OA = 54

Back azimut:

0

OB = 133

0
0
0
AO = 54 + 180 = 234
0
0
0
BO = 133 + 180 = 313
0
0
0
CO = 211 - 180 = 31
0
0
0
DO = 334 - 180 = 154

0

0
OC = 211
OD
0
= 334

B

earing (Sudut Arah)
Bearing adalahsudut yang ukur dari utara maupun selatan berputar searah jarum jam
0

0

ataupun berlawanan jarum jam ke titik yang dituju. Besarnya bearing antara 0 -90 dan
ditulis dengan dua huruf arahnya.
Back bearing (BBr) adalah besar sudut kebalikan dari fore bearing (FBr).
BBr diperoleh dari FBr dengan cara mengganti huruf awal arah N menjadi S (S menjadi N),
dan huruf akhir E menjadi W (W menjadi E), sedangkan besar sudutnya tetap

Gambar : Bearing (sudut arah)
Bearing :

Back bearing :

0

0

OA = N 54 E

AO = S 54 W

0

BO = N 47 W

0

0

CO = N 31 E

OB = S 47 E

0

OC = S 31 W
0

0

OD = N 26 W

DO = S 26 E

Hubungan Azimut dan Bearing
0
Jika azimut ≤ 90 ,
maka
0

Gambar : Back azimut dan back bearing

0

Jika 90 < azimut ≤ 180 ,
0
0
Jika 180 < azimut ≤ 270 ,

maka
maka

azimut = Bearing N-E
0

(180 - azimut) = Bearing S-E
0
(azimut - 180 ) = Bearing S-W

0

0

Jika 270 < azimut ≤ 360 ,

maka

Gambar : Hubungan azimut dan bearing
Contoh:
Azimut:
0

37 30’
0
112 45’
0
195
0
315

Bearing:
0

0

(360 - azimut) = Bearing N-W

N 37 30’ E
0
0
0
(180 - 112 45’) = N 67 15’ E
0
0
0
(195 - 180 ) = S 15 W
0
0
0
(360 - 315 ) = N 45 W

Judul: Ilmu Ukur Tambang

Oleh: Samuel Tamba


Ikuti kami