Ilmu Amtsalil Qur'an.doc

Oleh Firda Nisa Syafithri

10 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Ilmu Amtsalil Qur'an.doc

ILMU AMTSALIL QUR’AN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah : Ulumul Qur’an
Dosen : Imam Sucipto, S.Sy, M.Ag

Disusun Oleh :
1. Firda Nisa Syafithri

(1173010057)

2. Imam Saefudin

(1173010069)

3. Moch. Iqbal Fiqri H

(1173010081)

JURUSAN HUKUM KELUARGA (AHWAL SYAKHSIYAH)
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

KATA PENGANTAR
Dalam mengimplementasikan fungsi hudanlinnas, Al-Qur’an mengandung
pokok-pokok ajaran yang bermanfaat dan dibutuhkan manusia yanga mencakup
metode pengajaran dan penyampaian kedalam hati manusia secara mudah dan jelas.
Di antara bentuk pengajarannya adalah dengan menerangkan berbagai perumpamaan.
Perumpamaan itu digunakan oleh Allah swt, pada perkara yang sangat penting,
seperti tauhid dan orang-orang yang konsisten dengannya, masalah syirik dan para
pelakunya, dan berbagai perbuatan mulia dimata masyarakat umum.
Bila kita kaji secara seksama amtsal/perumpamaan al-Qur’an yang
mengandung penyerupaan (tasybih) sesuatu dengan hal serupa lainnya dan
penyamaan antara keduanya dalam hukum, maka amtsal tersebut mencapai jumlah
lebih dari 40 buah. Sebagaimana Allah swt. telah mengemukakan dalam kitabnya
bahwa Ia telah membuat sejumlah amtsal :
Surat al-Hasyr ayat 21 :

َ‫اس لَعَلَّ ُه ْم يَتَفَ َّك ُرون‬
ْ ‫َوتِ ْل َك‬
ِ َّ‫األمثَا ُل نَض ِْربُ َها ِللن‬

“Dan perumpamaan itu dibuatnya untuk manusia supaya mereka berfikir”
Surat al-Ankabut ayat 43 :

ْ َ‫األمثَا ُل ن‬
‫ون‬
+َ ‫اس َو َما يَ ْع ِقلُ َها ِإال ا ْلعَا ِل ُم‬
+ِ َّ‫ض ِربُ َها ِللن‬
ْ َ‫َو ِت ْلك‬

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk mansia dan tidak ada yang
memahami kecuali orang-orang yang berilmu”.1
Oleh karena itu, tamtsil (membuat permisalan, perumpamaan) merupakan
kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan
mantap dalam pikiran, dengan cara menyerupakan sesuatu yang gaib dengan yang
nyata, yang abstrak dengan yang konkrit, dan dengan menganalogikan sesuatu
dengan hal yang serupa. Betapa banyak makna yang baik, dijadikan lebih indah,
menarik, dan mempesona oleh tamtsil. Dengan demikian tamtsil adalah salah satu
uslub al-Qur’an dalam mengungkapkan berbagai penjelasan dan segi-segi
kemukjizatanya.
BAB 1
1

Manna khalil Al-Qaththan, terj. Drs. Mudzakir, MA. Studi Ilmu-ilmuQur’an, Lentera Antar
Nusa, Jakarta, Cet. V hlm. 400-401

PENDAHULUAN
Al Qur’an merupakan firman Allah SWT (kalamullah) yang diwahyukan
kepada nabi Muhammad SAW melalui ruhul Amin, malaikat Jibril untuk dijadikan
pedoman hidup (way of life) bagi makhluknya di setiap ruang dan waktu. Al Qur’an
juga berfungsi sebagai Hudan li al Nas yang akan mengantarkan dan mengarahkan
manusia ke jalan yang lurus.2
Namun, ajaran yang terkandung dalam al Qur’an tidaklah dapat serta merta
3ias dipahami secara jelas. Hal ini disebabkan oleh factor al Quran itu sendiri maupun
factor luar al Qur’an, seperti ke-mujmal-an al Qur’an yang menyebabkan banyak ayat
yang mutasyabihat, lafadz musytarak (lafadz yang memiliki makna ganda), gharabah
al lafdzi (lafadz yang masing asing), al hadf (penggabungan lafadz), ikhtilaf marji’ al
dhamir (adanya perbedaan tempat kembalinya kata ganti), al taqdim wa al ta’khir
( lafadz yang di dahulukan dan yang di akhirkan ), maupun kekeliruan penafsiran al
Qur’an.3
Dengan demikian, dalam memahami al Qur’an sangatlah dibutuhkan ilmu
tersendiri, yang dikenal dengan ulumul Qur’an. Dimana dalam ilmu ini salah satu
disiplinnya adalah ilmu amtsalul Qur’an. Dari sinilah, dalam makalah ini penulis
bermaksud mengeksplor amtsal al Qur’an

untuk lebih memperdalam upaya

pemahaman al Qur’an.

BAB II
PEMBAHASAN
2
Secara jelas termaktub dalam QS. Al Baqarah: 185 dan QS. al Isra’: 9. lihat : Al-Qur’an dan
terjemahnya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qur’an , Depag. RI, 1989.
3
Quraish Shihab dalam buku ‘Membumikan al Qur’an’ menginventarisir sedikitnya ada enam
factor yang dapat mengakibatkan kekeliruan dalam menafsirkan al Quran : (1) sunyektifitas mufassir
(2) kekeliruan dalam menerapkan metode dan kaidah (3) kedangkalan dalam ilmu alat (4) kedangkalan
pengetahuan tentang materi uraian ayat (5) tidak memperhatikan konteks (6) tidak memperhatikan
siapa pembicara dan terhadap siapa pembicaraan di tujukan. Lihat selengkapnya dalam DR.
Muchoyyar, HS, MA (pengantar) dalam: Nor Ichwan, Memahami Bahasa al Qur’an, Yogyakarta, Pustaka
Pelajar, 2002, hlm.xi.

A. Pengertian Amtsalil Qur’an
Secara etimologi,

‫االمثال‬

‫المثل‬

‫ مثل‬, kata , ‫المثَل‬
‫ الشبه‬,‫ الشبه‬dan ‫ الشيبه‬baik lafadh

adalah bentuk jamak dari

dan‫ المثيل‬adalah sama dengan
maupun maknanya, yang artinya adalah perumpamaan.4

Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat yang mendefinisikan amtsal yaitu :
1. Menurut ulama ahli adab, amtsal adalah ucapan yang banyak menyamakan
keadaan sesuatu yang diceritakan sesuatu yang dituju, maksudnya merupakan
sesuatu (seseorang, keadaan) dengan apa yang terkandung dengan perkataan itu.
Contoh :

‫رب رمية من غير رام‬
“Betapa banyak lemparan panah yang mengena tanpa sengaja”.
2. Menurut istilah ulama ahli bayan, amtsal adalah ungkapan majaz yang disamakan
dengan asalnya karena

‫اخرى‬

adanya persamaan, yang dalam ilmu balaghoh

disebut tasybih. Contoh :

‫مالى راك تقدم رجال وتؤخر‬
“Mengapa aku lihat engkau melangkahkan satu kaki dan mengundurkan kaki yang
lain”.
3. Menurut ulama ahli tafsir, amtsal adalah menampakan pengertian yang abstrak
dalam ungkapan yang indah, singkat dan menarik yang mengena dalam jiwa, baik
dengan bentuk tasybih maupun majaz mursal.5
Adapun Ibnu al-Qoyyim mendefinisikan amtsal al-Qur’an, yaitu :
menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya, dan
mendekatkan sesuatu yang abstrak (ma’qul) dengan sesuatu hal yang inderawi
(mahsus), atau mendekatkan dari dua mahsus dengan yang lain dan menganggap
salah satunya itu sebagai yang lain. Ia mengemukakan contoh sebagai berikut :
a. Sebagaian besar berupa penggunaan tasybih sharih, seperti firman Allah swt. dalam surat Yunus ayat 24 :

ُّ ‫حيَا ِة‬
ْ ‫ل‬
ُ ‫ما ٍء َأ ْن َز ْل َن‬
َّ
َ ‫الد ْنيَا‬
ُ ‫م َث‬
َ ‫الس‬
َ ‫م‬
َ ‫ك‬
َ ‫ال‬
َ ‫ما‬
َ َّ‫ِإن‬
...‫ما ِء‬
‫ن‬
ِ ‫اه‬

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunai itu adalah sepereti air (hujan) yang kami turunkan dari langit”.

b. Sebagian lagi berupa tasybih dhimni (penyerupaan secara tidak langsung, tidak tegas) seperti pada surat al-Hujurat, ayat 12 :
4
5

Manna al-Qaththan, Mabahits fi Ulumil Qur’an, Beirut, Libanon, hlm. 282
Drs. H. Ahmad Syadzali, MA. Dan Drs. H. Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an I, Pustaka setia,
Bandung,,Cet. I, hlm. 35

َّ ‫ض‬
َّ َ‫يرا ِمن‬
‫سوا‬
ْ ‫يَا َأيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا‬
َّ ‫الظ ِّن ِإثْ ٌم َوال تَ َج‬
ُ ‫س‬
ً ِ‫اجتَنِبُوا َكث‬
َ ‫الظ ِّن ِإ َّن َب ْع‬
ً ‫ض ُك ْم بَ ْع‬
ُ ‫َوال يَ ْغتَبْ بَ ْع‬
ُ‫ضا َأيُ ِحبُّ َأ َحدُ ُك ْم َأ ْن يَْأ ُك َل لَ ْح َم َأ ِخي ِه َم ْيتًا فَ َك ِر ْهت ُ ُموه‬
‫اب َر ِحي ٌم‬
ٌ ‫َواتَّقُوا هَّللا َ ِإ َّن هَّللا َ ت َ َّو‬
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah kamu
sebagian salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ?,
maka kamu tentunya merasa jijik kepadanya”.
Dikatakan dhimni karena dalam ayat ini tidak terdapat tasybih sharih. 6
Karena Allah mengungkapkan ayat-ayat itu secara langsung, tanpa sumber yang
mendahuluinya maka ayat-ayat yang berisi penggambaran keadaan sesuatu hal
dengan keadaan hal lain, maka penggambaran itu dengan cara isti’aroh maupun
tasybih sharih (penyerupaan yang jelas) ayat-ayat yang menunjukan makna yang
menarik dengan redaksi ringkas dan padat.
B. Unsur-Unsur Amtsalil Qur’an
Di dalam matsal seperti halnya dalam tasybih ada beberapa unsur yang harus
terkumpul sebagai berikut ;
1.

Harus ada yang diserupakan (al-musyabbah ), yaitu sesuatu yang akan
dicerirtakan.

2.

Harus ada asal cerita (al-musyabbah bih ), yaitu sesuatu yang dijadikan tempat
menyamakan.

3.

Harus ada segi persamaannya (wajhul musyabbah), yaitu arah persamaan antara
kedua hal yang disamakan tersebut.

C. Macam-Macam Amtsalil Qur’an
Amtsal dalam al-Qur’an ada tiga macam,7 yaitu :
1. Amtsal Mushorrohah,
Yaitu amtsal yang penjelasannya menggunakan lafadh mitsl (‫ )المثل‬atau sesuatu
yang menunjukan tasybih. Amtsal ini banyak ditemukan dalam al-Qur’an seperti :
a.

Firman Allah swt. mengenai orang-orang munafiq yaitu :
6

7

Manna al-Qaththan, Op. Cit, hlm. 283.

Dr. Muhammad Alawy al-Hasany, Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an, Jeddah, Shorco, tth, hlm. 129-132

ْ ‫ضا َء‬
‫ور ِه ْم‬
ً ‫َمثَلُ ُه ْم َك َمث َ ِل الَّذِي ا ْست َ ْوقَدَ ن‬
َ ‫ت َما َح ْولَهُ ذَه‬
َ ‫َارا فَلَ َّما َأ‬
ِ ُ‫َب هَّللا ُ ِبن‬
ُ ‫َوت َ َر َك ُه ْم ِفي‬
ٍ ‫ظلُ َما‬
‫ َأ ْو‬. َ‫ي فَ ُه ْم ال يَ ْر ِجعُون‬
ُ ‫ص ٌّم بُ ْك ٌم‬
ُ . َ‫ْص ُرون‬
ِ ‫ت ال يُب‬
ٌ ‫ع ْم‬
ُ ‫اء ِفي ِه‬
ٌ ‫ظلُ َم‬
َ‫صا ِبعَ ُه ْم ِفي آذَا ِن ِه ْم ِمن‬
َّ ‫ب ِمنَ ال‬
ِ ‫س َم‬
ٍ ِّ‫صي‬
َ ‫ات َو َر ْعدٌ َوبَ ْر ٌق يَ ْجعَلُونَ َأ‬
َ ‫َك‬
ٌ ‫ت َوهَّللا ُ ُم ِح‬
َ ‫ يَ َكادُ ْالبَ ْر ُق يَ ْخ‬. َ‫يط بِ ْال َكافِ ِرين‬
‫ار ُه ْم‬
ِ ‫ق َحذَ َر ْال َم ْو‬
َّ ‫ال‬
ُ ‫ط‬
َ ‫ف َأ ْب‬
َ ‫ص‬
ِ ‫ص َوا ِع‬
ْ ‫ضا َء لَ ُه ْم َمش َْوا فِي ِه َوِإذَا َأ‬
‫س ْم ِع ِه ْم‬
َ ‫علَ ْي ِه ْم قَا ُموا َولَ ْو شَا َء هَّللا ُ لَذَه‬
َ ‫ظلَ َم‬
َ ‫ُكلَّ َما َأ‬
َ ‫َب ِب‬
‫ِير‬
ٌ ‫َيءٍ قَد‬
َ َ ‫ار ِه ْم ِإ َّن هَّللا‬
َ ‫َوَأ ْب‬
ِ ‫ص‬
ْ ‫علَى ُك ِّل ش‬

“Perumpamaan (matsal) mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka
setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah swt. menghilangkan cahaya (yang
menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, dan tidak dapat
melihat. Mereka tuli dan buta, tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)
atau seperti (oang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita,
guruh dan kilat... ... –sampai dengan- sesungguhnya Allah berkuasa atas segala
sesuatu (al-Baqarah ayat 17-20).

Dalam ayat ini Allah membuat dua perumpamaan (matsal) bagi orang
munafiq, matsal yang berkenaan dengan api, karena di dalam api terdapat unsur
cahaya,

dan matsal yang berkenaan dengan air atau seperti (orang-orang yang

ditimpa) hujan lebat dari langit, karena di dalam air terdapat unsur kehidupan. Dan
wahyu yang turun dari langitpun bermaksud untuk menerangi hati dan kehidupannya.
Allah swt. menyebutkan juga keadaan dan fasilitas orang-orang munafiq dalam dua
keadaan.
Disatu sisi mereka bagaikan orang-orang yang menyalakan api untuk
penerangan dan kemanfaatan mengingat mereka memperoleh kemanfaatan materi
dengan sebab masuk Islam. Namun disisi lain Islam tidak memberikan pengaruh
“nur-Nya” terhadap hati mereka. Karena Allah swt menghilangkan cahaya (yang
menyinari mereka) dan membiarkan unsur membakar yang ada padanya. Inilah
perumpamaan mereka yang berkenaan dengan api. Mengenai matsal mereka yang
berkenaan dengan air , Allah swt. menyerupakan mereka dengan keadaan orang yang
ditimpa hujan lebat yang disertai gelap gulita, guruh dan kilat, sehingga terkoyaklah
kekuatan orang itu dan ia meletakan jarinya untuk menutup telinga dan memejamkan
mata karena takut petir menimpanya. Inilah mengingat bahwa al-Qur’an dengan
segala peringatan, larangan. Dan kitabnya mereka tidak ubahnya dengan petir yang
sambar-menyambar.

b.

Allah menyebutkan pula dua macam matsal, al-ma’ dan al-nar dalam
surat al-Rad ayat 17 bagi yang haq dan batil,8 yaitu :

ْ َ‫سال‬
‫س ْي ُل زَ بَدًا َرا ِبيًا َو ِم َّما‬
ْ َ‫ت َأ ْو ِديَةٌ ِبقَدَ ِرهَا ف‬
َّ ‫احت َ َم َل ال‬
َّ ‫َأ ْنزَ َل ِمنَ ال‬
ِ ‫س َم‬
َ َ‫اء َما ًء ف‬
ُ ‫ار ا ْبتِغَا َء ِح ْليَ ٍة َأ ْو َمتَاعٍ زَ بَدٌ ِمثْلُهُ َكذَ ِل َك يَض ِْر‬
ُ ‫ب هَّللا‬
َ َ‫يُوقِدُون‬
ِ َّ‫علَ ْي ِه فِي الن‬
ُ ‫اس فَيَ ْم ُك‬
َّ ‫اط َل فََأ َّما‬
‫ث فِي‬
ُ ‫الزبَدُ فَيَ ْذه‬
ِ َ‫ْال َح َّق َو ْالب‬
َ َّ‫َب ُجفَا ًء َوَأ َّما َما يَ ْنفَ ُع الن‬
‫األمثَا َل‬
ُ ‫ض َكذَ ِل َك يَض ِْر‬
ْ
ْ ُ ‫ب هَّللا‬
ِ ‫األر‬

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air dilembahlembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan
dari apa (logam) yang mereka lebur dari dalam api untuk membuat perhiasan atau
alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah swt. membuat
perumpamaan(mitsal) bagi yang haq dan batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai
sesuatu yang tidaak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia,
maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah swt. membuat perumpamaan tersebut”.
2. Amtsal kaminah
Yaitu amtsal yang didalamnya tidak disebutkan kata tamsil, tetapi menunjukan
makna yang tercakup dan rungkas, contohnya :
a. Ayat-ayat yang senada dengan perkataan,
Seperti : (sebaik-baik urusan adalah pertengahannya). Yaitu seperti dalam firman
Allah, diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Surat al-Baqarah ayat 68 tentang sapi betina.

ٌ ‫ع َو‬
‫ان بَيْنَ ذَ ِل َك‬
ٌ ‫ار‬
َ ‫ض َوال ِب ْك ٌر‬
ِ َ‫بَقَ َرة ٌ ال ف‬

“Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu “.
2)

Surat al-Furqan ayat 67 tentang nafkah.

‫َوالَّذِينَ ِإذَا َأ ْنفَقُوا لَ ْم يُس ِْرفُوا َولَ ْم يَ ْقت ُ ُروا َو َكانَ بَيْنَ ذَ ِل َك قَ َوا ًما‬

“Dan mereka yang apabila membelanjakan (harta) mereka tidak lebih-lebihan dan
tidak pula kikir dan pembelanjaan itu ditengah-tengah antara yang demikian itu”.
b. Ayat-ayat yang senada dengan perkataan.
Seperti : (khabar itu tidak sama dengan menyaksikan sendiri ), misal firman Allah
swt. tentang Ibrahim dalam surat al-Baqarah ayat 260.

ْ َ‫قَا َل َأ َولَ ْم تُْؤ ِم ْن قَا َل بَلَى َولَ ِك ْن ِلي‬
‫ط َمِئ َّن قَ ْلبِي‬
8

Mahmud Bin Syarif, Al-Amtsl Fil Qur’an , Dar al-Ma’arif, Makkah, tth. Hlm. 63-64

”Allah berfirman, apakah kamu belum percaya ?Ibrahim menjawab ; saya telah
percaya, akan tetapi agar bertambah teguh hati saya."
c. Ayat yang senada dengan perkataan
Seperti : (Sebagaimana kamu menghutangkan, maka kamu akan dibayar), seperti
firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 123.

‫سو ًءا يُ ْجزَ ِب ِه‬
ُ ‫َم ْن يَ ْع َم ْل‬

“Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan
kejahatan itu. "
3. Amtsal Mursalah
Yaitu, kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafadh tasybih secara jelas.
Tetapi kalimat-kalimat itu berlaku secara matsal, seperti firman Allah swt. yaitu ;
a. Surat Yusuf ayat 51.

ْ ‫قَا َل َما خ‬
‫اش هَّلِل ِ َما َع ِل ْمنَا َعلَ ْي ِه‬
ُ ‫َطبُ ُك َّن ِإ ْذ َر َاو ْدت ُ َّن يُو‬
َ ‫س‬
َ ‫ف َع ْن نَ ْف ِس ِه قُ ْلنَ َح‬
‫ع ْن نَ ْف ِس ِه‬
ِ َ‫سوءٍ قَال‬
ْ ‫يز اآلنَ َح‬
ُ ‫ِم ْن‬
َ ُ‫ص ْال َح ُّق َأنَا َر َاو ْدتُه‬
َ ‫ص َح‬
ِ ‫ت ْام َرَأة ُ ْالعَ ِز‬
َ‫صا ِدقِين‬
َّ ‫َوِإنَّهُ لَ ِمنَ ال‬

“Raja berkata (kepada wanita-wanita itu): "Bagaimana keadaanmu ketika kamu
menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" Mereka berkata: Maha
Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan daripadanya. Berkata
istri Al Aziz: "Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk
menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang
benar“.
b. Surat al-Najm ayat 58

ِ ‫ُون هَّللا‬
َ ‫ لَي‬...
ِ ‫ْس لَ َها ِم ْن د‬

“Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah”.
c. Surat Yusuf ayat 41.

‫ان‬
ْ ‫ي‬
ِ ُ‫ق‬
ِ َ‫األم ُر الَّذِي فِي ِه ت َ ْست َ ْفتِي‬
َ ‫ض‬

“ Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya kepadaku”.9
D. Sighat Amtsalil Qur’an
Sighat amstalil Qur’an terdiri dari beberapa bentuk :
1. Sighat tasybih yang jelas (tasybih ash-sharih)

Yaitu sighat atau perumpamaan yang jelas, didalamnya erungkap kata-kata matsal
(perumpamaan). Contohnya seperti surat Yunus ayat 24
9

Manna al-Qaththan, Ibid, hlm. 284-286

ُّ ‫حيَا ِة‬
ْ ‫ل‬
ُ ‫ما ٍء َأ ْن َز ْل َن‬
َّ
َ ‫الد ْنيَا‬
ُ ‫م َث‬
َ ‫الس‬
َ ‫م‬
َ ‫ك‬
َ ‫ال‬
َ ‫ما‬
َ َّ‫ِإن‬
...‫ما ِء‬
‫ن‬
ِ ‫اه‬

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunai itu adalah sepereti air (hujan) yang kami turunkan dari langit”.
Dalam ayat tersebut jelas tampak adanya lafal al-matsal yang berarti perumpamaan.

2. Sighat taysbih yang terselubung (tasybih adh-dhimni)
Yaitu sighat atau bentuk perumpamaan yang terselubung atau tersembunyi,
didalam perumpamaan itu tidak terdapat kaa al-amtsal, tetapi perumpamaan itu
diketahui dari segi artinya. Contoh surat Al Hujurat ayat 12

َّ ‫ض‬
َّ َ‫يرا ِمن‬
‫سوا‬
ْ ‫يَا َأيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا‬
َّ ‫الظ ِّن ِإثْ ٌم َوال تَ َج‬
ُ ‫س‬
ً ِ‫اجتَنِبُوا َكث‬
َ ‫الظ ِّن ِإ َّن بَ ْع‬
ً ‫ض ُك ْم بَ ْع‬
ُ ‫َوال يَ ْغتَبْ بَ ْع‬
ُ‫ضا َأيُ ِحبُّ َأ َحدُ ُك ْم َأ ْن يَْأ ُك َل لَ ْح َم َأ ِخي ِه َم ْيتًا فَ َك ِر ْهت ُ ُموه‬
‫اب َر ِحي ٌم‬
ٌ ‫َواتَّقُوا هَّللا َ ِإ َّن هَّللا َ ت َ َّو‬

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah kamu
sebagian salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ?,
maka kamu tentunya merasa jijik kepadanya”.
Dalam ayat tersebut tidak terdapat kata-kata al-matsal (perumpamaan), tetapi arti itu
jelas menerangkan perumpamaan, yaitu mengumpamakan menggunjing orang lain
yang disamakan dengan makan daging bangkai saudara sendiri.
3. Sighat Majaz Mursal
Yaitu sighat dengan bentuk perumpamaan yang bebas, tidak terikat dengan asal
ceritanya. Contoh surat al Hajj ayat 73

‫ُون هَّللا ِ لَ ْن‬
ُ ‫اس‬
ُ َّ‫يَا َأيُّ َها الن‬
َ ‫ض ِر‬
ِ ‫ب َمث َ ٌل فَا ْست َ ِمعُوا لَهُ ِإ َّن الَّذِينَ تَ ْدعُونَ ِم ْن د‬
‫ف‬
َ ‫اب‬
ْ ‫يَ ْخلُقُوا ذُبَابًا َولَ ِو‬
ُ َ‫اجت َ َمعُوا لَهُ َوِإ ْن يَ ْسلُ ْب ُه ُم الذُّب‬
َ ُ‫ش ْيًئا ال يَ ْست َ ْن ِقذُوهُ ِم ْنه‬
َ ُ ‫ضع‬
ْ ‫ب َو ْال َم‬
َّ
‫وب‬
ُ ُ‫طل‬
ُ ‫الطا ِل‬

”Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu
perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali
tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk
menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka
dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat
lemah (pulalah) yang disembah.”
4. Sighat Majaz Murakkab
Yaitu sighat dengan bentuk perumpamaan ganda yang segi persamaanya diambil
dari dua hal yang berkaitan, dimana kaitannya adalah perserumpamaan yang telah
biasa digunakan dalam ucapan sehari-hari yang berasal dari isti’arah tamstiliyah.

Contohnya seperti melihat orang yang ragu-ragu akan pergi atau tidak, maka
diucapkan saya lihat kamu itu maju mundur saja. Dalam Al Qur’an contohnya surat
Al Jumu’ah ayat 5

‫ارا‬
ً َ‫ار يَ ْح ِم ُل َأ ْسف‬
ِ ‫َمث َ ُل الَّذِينَ ُح ِّملُوا الت َّ ْو َراة َ ث ُ َّم لَ ْم يَ ْح ِملُوهَا َك َمث َ ِل ْال ِح َم‬
َّ ‫ت هَّللا ِ َوهَّللا ُ ال يَ ْهدِي ْالقَ ْو َم‬
َ‫الظا ِل ِمين‬
ِ ‫س َمث َ ُل ْالقَ ْو ِم الَّذِينَ َكذَّبُوا ِبآيَا‬
َ ‫ِبْئ‬

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka
tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.
Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan
Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang dzalim.”
5. Sighat Isyti’arah Tamtsiliyah
Yakni dengan bentuk perumpamaan sampiran atau lirik. Bentuk ini hampir sama
dengan majaz murakkab karena memang merupakan asalnya. Contohnya seperti
sebelum memanah harus dipenuhi atau diisi dulu tempat anak panahnya. Contoh
dalam surat Yunus ayat 24

‫األم ِس‬
ْ ‫َكَأ ْن لَ ْم ت َ ْغنَ ِب‬
“Seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin.”
E. Kegunaan Amtsalil Qur’an
Ungkapan-ungkapan dalam bentuk amtsal dalam al-qur’an mempunyai beberapa
faidah diantaranya :
1. Pengungkapan pengertian yang abstrak dengan bentuk yang konkrit yang dapat
ditangkap dengan indera manusia, misal dalam firman Allah swt. dalam surat alBaqarah ayat 264

‫ص ْلدًا ال يَ ْقد ُِرونَ َعلَى‬
ٌ ‫ان َعلَ ْي ِه ت ُ َر‬
َ ُ‫صابَهُ َوا ِب ٌل فَت َ َر َكه‬
َ ‫اب فََأ‬
َ ‫فَ َمثَلُهُ َك َمث َ ِل‬
ٍ ‫ص ْف َو‬
‫سبُوا‬
َ ‫َيءٍ ِم َّما َك‬
ْ ‫ش‬

“Maka perumpamaan itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian
batu itu ditimpakan hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih atau tidak bertanah,
mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan”.

Dapat mengungkapan kenyataan dan mengkonkritkan hal yang abstrak .2
3. Dapat mengungkapkan makna yang menarik lagi indah.
Dapat mendorong giat beramal, melakukan hal-hal yang menarik dalam .4
al-Qur’an, seperti firman Allah swt. pada surat al-Baqarah ayat 261

ْ َ ‫س ِبي ِل هَّللا ِ َك َمث َ ِل َحبَّ ٍة َأ ْنبَت‬
‫سنَا ِب َل فِي ُك ِّل‬
َ ‫س ْب َع‬
َ ‫ت‬
َ ‫َمث َ ُل الَّذِينَ يُ ْن ِفقُونَ َأ ْم َوالَ ُه ْم فِي‬
‫ع ِلي ٌم‬
ُ
ُ ‫ضا ِع‬
َ ‫ف ِل َم ْن يَشَا ُء َوهَّللا ُ َوا ِس ٌع‬
َ ُ‫س ْنبُلَ ٍة ِماَئةُ َحبَّ ٍة َوهَّللا ُ ي‬
“ Perumpamaan (nafkah yang keluarkan) oleh orang-orang yang menafkahkan
harta mereka dijalan Allah swt. adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah
melipatgandakan pahala bagi siapa yang dikehendaki. Dan Allah maha luas
karunia-Nya lagi maha mengetahui”.

5. Menghindarkan diri dari perbuatan tercela, misal firman Allah tentang larangan
untuk tidah bergunjing, firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat 12

ً ‫ض ُك ْم بَ ْع‬
ُ ‫َوال يَ ْغتَبْ بَ ْع‬
ُ‫ضا َأيُ ِحبُّ َأ َحدُ ُك ْم َأ ْن يَْأ ُك َل لَ ْح َم َأ ِخي ِه َم ْيتًا فَ َك ِر ْهت ُ ُموه‬
‫اب َر ِحي ٌم‬
ٌ ‫َواتَّقُوا هَّللا َ ِإ َّن هَّللا َ ت َ َّو‬

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah
seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka
tentunya kamu merasa jijik”

BAB III
PENUTUP
A. Analisa
Setelah mengetahui seluk beluk amtsal Al-Qur’an dari aspek pengertian,
jenis-jenis, pembagian serta faedahnya, penulis dapat menemukan hal-hal yang

berkaitan dengan permasalahan amtsal Al-Qur’an. Secara alamiyah bisa kita pahami
bahwa missi Islam dimuka bumi ini adalah menjaga harkat, martabat serta jiwa
manusia. Manusia bermacam-macam bentuk dan karakternya, ada yang kuat ada yang
lemah, ada yang suka kebaikan dan juga keburukan, pendendam dan lain sebagainya.
Pendek kata manusia itu bermacam-macam. Semua bentuk karakter manusia oleh AlQur’an telah disebutkan di dalamnya.
Manusia yang beriman yang telah sampai kepadanya ajaran-ajaran Tuhan
tetap berpegang teguh pada aqidahnya serta beriman kepada-Nya, juga meyakininya
dengan berketetapan hati untuk memahami ayat-ayat Tuhan. Sikap dan jiwa manusia
yang demikian itu telah dididik oleh Al-Quir’an secara khusus untuk mencapai
sebuah kebahagiaan hidup baik didunia maupun di akherat kelak yang jauh dari
kegelapan dan kesesatan.
Dari sinilah penulis dapat mengatakan bahwa amtsal Al-Qur’an adalah
merupakan salah satu dari bentuk hidayah yang bersifat ilahiyah yang menuntun
manusia menuju jalan kebaikan, atau dapat mencegah manusia dari perbuatan dosa
untuk menuju sebuah kemuliaan, atau juga mencegah dari kekurangan-kekurangan
yang secara alamiyah dimiliki oleh manusia.
Demikian juga amtsal al-Qur’an dalam memberikan bimbingan manusia
lebih menitik beratkan kepada dua hal (keadaan) yang saling berlawanan dari pesan
yang disampaikan, misalnya perumpamaan iman dan kufur, orang-orang yang
mendustakan agama (al-mukazdzdibun) dan orang-orang yang membenarkan agama
(al-mushaddiqun), air dan api, yang haq dan yang batil, yang buruk (al-khabits) dan
yang baik (al-Thayyib), mukmin dan kafir dan lain sebagainya.
Jika penulis perhatikan beberapa amtsal al-Qur’an yang disebutkan oleh para
pengarang ulumul Qur’an, ternyata merangkum ayat-ayat al-Qur’an yang
mempersamakan keadaan sesuatu dengan sesuatu yang lain, baik yang berbentuk
isti’arah, tasybih, ataupun yang berbentuk majaz mursal, yang tidak ada kaitannya
dengan asal cerita. Jadi, beberapa amtsal di dalam al-Qur’an, tidak selalu ada asal
ceritanya (musyabbah bih) nya, tidak seperti apa yang terdapat di dalam al-Qur’an,
tidak selalu ada asal ceritanya (muyabbah bih) nya, tidak seperti apa yang terdapat
pada amtsal dari para ahli bahasa, para ahli bayan dan sebagainya.

Para ahli bahasa Arab mensyaratkan sahnya amtsal harus memenuhi empat
syarat, sebagai berikut :
a. Bentuk kalimatnya harus ringkas
b. Isi maknanya harus mengena dengan tepat
c. Perumpamaannya harus baik.
d. Kinayahnya harus indah.
B. Kesimpulan
Dari uraian tersebut di atas, mengenai amtsal al-Qur’an dapat ditarik kesimpulan
bahwa itu, tamtsil (membuat parmisalan, perumpamaan) merupakan kerangka yang
dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantap dalam
pikiran, dengan cara menyerupakan sesuatu yang gaib dengan yang nyata, yang
abstrak dengan yang konkrit, dan dengan menganalogikan sesuatu dengan hal yang
serupa. Betapa banyak makna yang baik, dijadikan lebih indah, menarik, dan
mempesona oleh tamsil. Karena itulah maka tamsil lebih dapat mendorong jiwa
untuk menerima makna yang dimaksudkan dan membuat akal merasa puas
dengannya. Dan tamsil adalah salah satu uslub al-Qur’an dalam mengungkapkan
berbagai penjelasan dan segi-segi kemukjizatan.
Disamping itu tamtsil/amtsal al-Qur’an banyak mengandung pelajaran dan hikmah
yang dapat kita petik sebagai bahan perenungan dalam menghayati arti hidup menuju
kebahagiaan dunia dan akherat. Tentang difinisi amtsal al-Qur’an, para ulama
berbeda pendapat dalam memberikan pengertian serta membaginya dalam tiga
macam seperti yang telah dipaparkan di atas

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Hasany, Dr. Muhammad Alawy. Tth. Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an. Jeddah :
Shorco.

Al-Qaththan, Manna Khalil. terj. Drs. Mudzakir, MA. Studi Ilmu-ilmuQur’an, Jakarta
: Lentera Antar Nusa.
Al-Qaththan, Manna. Tth. Mabahits fi Ulumil Qur’an. Libanon : tp.
Bin Syarif, Mahmud. Tth. Al-Amtsl Fil Qur’an . Makkah : Dar al-Ma’arif.
Ichwan, Nor. 2002. Memahami Bahasa al Qur’an. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Syadzali, Drs. H. Ahmad, MA. Dan Drs. H. Ahmad Rofi’i. Tth. Ulumul Qur’an I.
Bandung : Pustaka setia.
http://myrealblo.blogspot.co.id/2015/11/ulumul-quran-ilmu-amtsalil-quran.html?=1

Judul: Ilmu Amtsalil Qur'an.doc

Oleh: Firda Nisa Syafithri


Ikuti kami