Kumpulan Ilmu Inspiratif

Oleh Radikal Arif Shoddiq

13 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Kumpulan Ilmu Inspiratif

Kumpulan Ilmu
Inspiratif
Kamis, 07 April 2016

IKAN NILA SALIN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Potensi perikanan budidaya secara nasional diperkirakan sebesar 15,59 juta ha yang
terdiri atas budidaya air tawar yaitu 2,23 juta ha; air payau 1,22 juta ha; dan budidaya air laut
mencapai 12,14 juta ha. Pemanfaatan potensi perikanan budidaya saat ini baru mencapai 10,1%
untuk budidaya air tawar; 40% budidaya air payau; dan 0,01% untuk budidaya laut. Pemanfaatan
potensi perikanan budidaya yang masih demikian rendah maka diperlukan langkah-langkah
konkrit untuk mendorong peningkatan produksi ikan yang permintaan pasarnya sangat besar baik
untuk konsumsi dalam negeri maupun luar negeri (Ath-thar dan Rudhy, 2010).
Salah satu jenis ikan yang sangat banyak dibudidayakan saat ini adalah ikan nila
(Oreochromis niloticus). Ikan nila berasal dari perairan tawar di Afrika. Perkembangan
selanjutnya ikan nila meluas dan banyak dibudidayakan diberbagai negara, seperti Thailand,
Vietnam, maupun Indonesia (Rukmana, 1997 dalam Safitri et al., 2013). Ikan nila terkenal
sebagai ikan yang tahan terhadap perubahan lingkungan hidup. Ikan nila bersifat euryhaline yang
dapat hidup dilingkungan air tawar, payau, dan laut (Suyanto, 2005 dalam Safitri et al., 2013).
Perkembangan budidaya ikan nila sering ditemui diperairan tawar seperti di perkolaman, waduk,
sungai, maupun danau. Belakangan ini perkembangan budidaya ikan nila telah merambah ke
lokasi perairan payau dan laut. Ikan nila yang dikembangkan di perairan payau dan laut dikenal
dengan ikan nila salin (Mardjono et al., 2011).
Ikan nila salin (O. niloticus) adalah strain dari ikan nila yang toleran terhadap perairan
payau maupun laut dengan salinitas mencapai 20 ppt (BPPT, 2011). Ikan nila salin memiliki

daya tahan tubuh yang tinggi terhadap serangan berbagai macam penyakit, toleran terhadap suhu
rendah maupun tinggi, efisiensi terhadap pakan dan pertumbuhan yang cepat (Setiawati dan
Suprayudi, 2003). Selain itu, ikan nila salin banyak disukai masyarakat karena rasa dagingnya
yang enak. Produksi ikan nila salin dikembangkan guna meningkatkan produksi perikanan
budidaya, karena berdasarkan kebutuhannya banyak disukai masyarakat luas dan di ekspor ke
beberapa negara, sehingga menjadi salah satu komoditas andalan dibidang perikanan. Melihat
keadaan ini upaya pengembangan budidaya ikan nila salin masih sangat terbuka untuk
dikembangkan dalam skala usaha (Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, 2010).
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi benih ikan nila salin yaitu
dengan mengetahui cara pemeliharaan yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan
kelangsungan hidup. Teknik pemeliharaan ikan nila salin pada masa larva, juvenil, dan benih,
manajemen kualitas air maupun pakan sangat penting untuk menunjang keberhasilan budidaya.
Kualitas air untuk budidaya ikan nila salin harus diperhatikan guna menjaga kualitas lingkungan
hidup yang sesuai untuk kebutuhan hidup ikan, sehingga dapat mencegah terjadinya stress
maupun penyakit pada ikan yang dapat menimbulkan penurunan produksi. Selain itu, pakan
untuk ikan nila salin membutuhkan pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami sangat
dibutuhkan pada masa larva dan juvenil, sedangkan pakan buatan diperlukan pada saat ukuran
ikan nila salin saat fase benih. Pemberian pakan yang baik adalah tepat waktu, tepat ukuran, tepat
dosis, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ikan (Agus, 2013).
Upaya yang perlu dilakukan saat ini yaitu terus mengembangkan dan mencari informasi
tentang budidaya ikan nila salin guna meningkatkan produksi ikan nila salin yang memiliki
toleransi terhadap perubahan lingkungan, pertumbuhan cepat, kelangsungan hidup yang tinggi,
daya tahan tubuh yang tinggi terhadap serangan penyakit serta bersifat ekonomis.
1.2 Perumusan Masalah
Ikan nila adalah salah satu spesies ikan konsumsi air tawar. Prospek ikan nila memiliki
keuntungan baik dari segi pemeliharaannya yang relatif mudah, hasil yang tinggi dan ekonomis.
Kendala yang dihadapi jika ikan nila ini dibudidayakan adalah pertumbuhan, sintasan dan
kualitas air. Permintaan ikan nila saat ini sangat tinggi dan sudah merambah ke pasar luar negeri
sehingga kebutuhan menjadi meningkat. Kebutuhan ikan nila dapat ditingkatkan dengan
meningkatkan produksi benih ikan nila yang berkualitas.

Pengembangan budidaya air tawar menurut Komisi Perikanan FAO telah mengalami
persaingan, baik dari segi areal maupun pemanfaatan air. Oleh karena itu, perlunya suatu
pemikiran untuk dapat menggunakan lahan marjinal, terutama di daerah sekitar pantai dan
menerapkan diversifikasi pola usaha pada budidaya perairan payau (Setiawati Dan Suprayudi,
2003). Mengingat permintaan ikan nila yang tinggi, pemanfaatan lahan dan potensi laut yang
masih demikian rendah, maka diperlukanya langkah-langkah pemanfaatan secara optimal.
Salah satu strain ikan nila yang dapat dibudidayakan pada areal tambak maupun pantai
yaitu strain ikan nila salin. Belakangan ini perkembangan budidaya ikan nila salin telah
merambah ke lokasi perairan payau yaitu dipertambakan maupun lokasi atau lahan yang
tergenang air laut, sehingga ketersediaannya akan semakin meningkat. Ikan nila salin cukup tepat
dibudidayakan dalam perairan payau maupun laut karena toleransi yang luas terhadap salinitas
tinggi tanpa banyak mempengaruhi pertumbuhannya (Mardjono et al., 2011).
Tidak semua ikan nila memiliki toleransi yang baik terhadap salinitas tinggi yang
mencapai >20 ppt. Sintasan maupun pertumbuhan dari beberapa strain ikan nila sering terganggu
ketika melebihi salinitas tersebut (Agus, 2013). Selain itu, kualitas air dalam suatu budidaya
merupakan aspek penting, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangbiakan, dan
sintasan ikan (Arnelli dan Ismaryata, 1999).
BBPBAP Jepara merupakan salah satu tempat pengembangan budidaya ikan air payau
yang berupaya menyediakan benih ikan nila salin yang berkualitas untuk budidaya dan
memenuhi permintaan pasar. Kebutuhan dalam produksi ikan nila yang berkualitas yaitu mampu
menghasilkan ikan yang toleransi terhadap salinitas, tingkat pertumbuhan yang cocok untuk
ukuran pasar, keseragaman tinggi dalam tingkat petumbuhan, reproduksi skala besar, daya tahan
tubuh yang tinggi terhadap serangan penyakit dan sintasan yang tinggi (Mardjono et al., 2011).
Adapun rincian perumusan masalah Kerja Praktek ini, yaitu:
1)

Berapa laju pertumbuhan ikan nila salin (O. niloticus) ?

2)

Berapa sintasan ikan nila salin (O. niloticus)?

3)

Bagaimana kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila salin (O. niloticus) ?
1.3 Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah untuk mengetahui teknik
adaptasi salinitas bertingkat pada ikan nila Salin (Oreochromis niloticus) yang diterapkan
di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara Jawa Tengah.
1.4 Manfaat
Manfaat dari Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan
dan ketrampilan mahasiswa dalam pemeliharaan Ikan Nila khususnya pada teknik adaptasi
salinitas bertingkat pada Ikan Nila Salin (Oreochromis niloticus).
1.5 Waktu dan Tempat
Praktek Kerja Lapangan ini telah dilaksanakan tanggal 13 Februari sampai 1Maret 2015
bertempat di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara Jawa Tengah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Nila
2.1.1

Klasifikasi dan Morfologi
Ikan Nila adalah salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk kedalam famili Cichlidae.
Menurut Kottelat et al. (1993) klasifikasi Ikan Nila sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Osteichthyes

Ordo

: Percomorphi

Family

: Cichlidae

Genus

: Oreochromis

Spesies

: Oreochromis niloticus.

Gambar 1. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

(Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, 2010)
Ikan nila yang terdapat di Indonesia terdiri dari beberapa jenis, yaitu Nila JICA, Nila
Nirwana, Nila Jantibulan, Nila Larasati, Nila Best, Nila Gesit, Nila Srikandi, Nila TA dan Nila
Salin. Nila salin adalah nila hasil inovasi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
(BPPT) menghasilkan ikan nila salin yang toleran terhadap salinitas atau tingkat keasinan air
lebih dari 20 ppt. Bibit nila salin diperoleh dari seleksi nila sifat unggul melalui metode diallel
crossing untuk mengetahui bibit yang tahan salinitas tinggi. Keunggulan nila salin yaitu selain
kuat menghadapi salinitas tinggi juga dapat dipanen lebih cepat dengan tempo 3-4 bulan
dihasilkan nila berukuran 250 g dengan tebar benih awal ukuran 5-10 cm (Afiesh, 2012).
Berdasarkan bentuk morfologinya bagian kepala ikan nila ukurannya relatif kecil dengan
mulut berada diujung kepala. Ikan nila memiliki bentuk mulut yang mengarah keatas, letak
mulut subterminal dan meruncing, mata tampak menonjol, besar dan tepi mata berwarna putih
(Kottelat et al., 1993). Dagu nila jantan berwarna kemerahan atau kehitaman, sedangkan dagu
nila betina berwarna putih (Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, 2010).
Ikan Nila memiliki bentuk badan yang pipih kesamping memanjang. Tubuhnya memiliki
garis linea lateralis yang terputus antara bagian atas dan bawahnya. Linea lateralis bagian atas
memanjang mulai dari tutup insang hingga belakang sirip punggung sampai pangkal sirip
ekor (Kottelat et al., 1993).
Ikan Nila memiliki lima sirip, yaitu sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anus,
dan sirip ekor. Sirip punggung, sirip perut, dan sirip dubur mempunyai jari-jari keras dan tajam
seperti duri. Sirip punggungnya berwarna

hitam dan sirip dadanyajuga

Bagian pinggir sirip punggung berwarna abu-abu atau
memanjang dari bagian atas tutup

hanya satu buah

hitam

hitam.
dan
insang

hingga bagian atas sirip ekor. Adasepasang sirip dada dan sirip
kecil. Sirip anus

tampak

dan berbentuk agak

perut yang berukuran
panjang. Sementara

itu, sirip ekornya berbentuk bulat dan hanya berjumlah satu buah (Amri dan Khairuman, 2002).
Ujung sirip ekor dan sirip punggung berwarna merah ketika musim berkembang biak, khususnya
pada ikan nila jantan (Kottelat et al., 1993)

Berdasarkan kelaminnya, ikan nila jantan
bentuk hidung

dan rahang

biru muda. Sirippunggung dan sirip ekor

ikan

memiliki ukuran

sisik yang lebihbesar,

belakang

melebar serta berwarna

nila

jantan berupa garis putus-putus.

Alat kelamin ikannila
jantan berupa tonjolan agak runcing yang berfungsi sebagai muara urin
dansaluran sperma yang terletak di depan anus. Jika diurut, perut ikan
nila jantanakan mengeluarkan cairan bening (cairan sperma) terutama

pada

saat musimpemijahan. Sementara itu, ikan nila betina memiliki ukuran sisik yang lebih
kecil,bentuk hidung dan rahang belakang agak lancip serta berwarna kuning terang. Ikan nila
betina memiliki sirip punggung dan sirip ekor yang garisnya berlanjut (tidak putus) dan
melingkar.

Ikan

nila

betina mempunyai

lubang genital terpisah denganlubang saluran urin yang terletak di depan anus
2.1.2

(Amri

dan

Khairuman, 2002).
Penyebaran dan Habitat
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies ikan yang berasal dari kawasan
Sungai Nil dan danau-danau disekitar daerah Afrika. Ikan nila saat ini telah tersebar ke Negara
beriklim tropis dan subtropis, sedangkan untuk wilayah yang beriklim dingin ikan ini tidak dapat
hidup dengan baik (Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, 2010). Ikan nila adalah kelompok
famili Cichlidae yang tersebar di Amerika Tengah dan Selatan, Afrika, Asia, India, Srilanka, dan
diintroduksi ke Indonesia dari Afrika pada Tahun 1969. Di Indonesia ikan ini tersebar di
Sumatera, Borneo, Jawa, Sulawesi dan wilayah lainnya (Kottelat et al., 1993).
Ikan nila dapat hidup di air tawar, air payau, dan air laut dengan kadar garam antara 0-35
ppt, karena ikan nila bersifat euryhaline (Fitria, 2012). Ikan Nila dari air tawar yang dipindahkan
ke air asin dengan proses adaptasi bertahap, yaitu dengan menaikan kadar garam sedikit demi
sedikit (Fitria, 2012). Habitat hidupnya cukup beragam, yaitu di sungai, danau, waduk, rawa,
sawah, kolam, hingga tambak (Amri dan Khairuman, 2008).

2.1.3

Kebiasaan Hidup
Ikan nila tergolong dalam ikan yang bersifat omnivora atau pemakan segala. Ikan nila
dapat memakan ikan-ikan kecil lainnya dan banyak jenis asli yang terdapat di Indonesia musnah,

karena dimakan oleh ikan ini (Kottelat et al., 1993). Ketika stadia larva dan benih, makanan yang
disukai ikan nila adalah zooplankton (plankton hewani), seperti Rotifera sp., Moina sp.,
dan Daphnia sp. Ikan nila juga sering memakan alga ataupun lumut yang menempel pada bendabenda dihabitat hidupnya (Rukamana, 1997).
Kebiasaan reproduksi ikan nila memiliki perbedaan dengan ikan lainnya. Secara alami,
ikan nila memijah dapat sepanjang tahun, khususnya didaerah tropis. Frekuensi pemijahan yang
sering terjadi pada waktu musim hujan. Di alam ikan nila memijah 6-7 kali setahun. Berarti
setiap dua bulan sekali ikan ini akan berkembang biak. Masa pemijahan produktif adalah ketika
induk berumur 1,5-2 tahun dengan kisaran bobot rata-rata 500 g/ekor. Sebelum memijah, ikan
nila jantan membuat sarang berupa lekukan berbentuk bulat didasar perairan. Diameter lekukan
setara dengan ukuran ikan tersebut. Sarang ini berfungsi untuk tempat pemijahan dan pembuahan
telur. Larva ikan nila yang sudah menetas diasuh oleh induknya mencapai umur 11 hari atau 8
mm didalam mulut. Larva yang sudah tidak diasuh induknya akan berenang secara bergerombol
diperairan yang dangkal atau dipinggir kolam (Amri dan Khairuman, 2008).
2.2 Osmoregualasi
Osmoregulasi adalah upaya hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara
tubuh dan lingkungannya. Organisme perairan melakukan osmoregulasi, karena menjaga
keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan, membran sel yang semipermeable
merupakan tempat lewatnya beberapa substansi yang bergerak cepat dan adanya perbedaan
tekanan osmose antara cairan tubuh dan lingkungan (Fujaya, 2004 dalam Setyo, 2006).
Ikan nila bersifat euryhalin, maka memiliki konsentrasi cairan tubuh yang mantap,
sehingga bertindak sebagai osmoregulator, memiliki kemampuan untuk mempertahankan
kemantapan osmotik millieu interieur-nya, dengan cara mengatur osmolaritas (kandungan garam
dan air) pada cairan internalnya. Sesuai dengan respon osmotiknya, ikan nila termasuk tipe
osmoregulator (Pullin, et al., 1992 dalam Setyo, 2006). Ikan nila yang dipelihara dimedia buatan
mempunyai kendala, karena osmolaritas media hidupnya belum tentu sesuai dengan osmolaritas
cairan tubuhnya. Untuk mengatasi permasalahan osmotik tersebut, ikan nila untuk menjaga
keseimbangan osmotik, dengan cara mempertahankan kemantapan osmolaritas cairan internal
melalui mekanisme osmoregulasi (Setyo, 2006).
2.3 Pakan

Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan usaha
budidaya perikanan. Pakan dalam dunia perikanan dibagi menjadi dua kelompok yaitu pakan
alami dan pakan buatan. Pakan alami adalah pakan yang berasal dari alam dan dapat
dibudidayakan baik secara selektif maupun non selektif. Pakan buatan adalah pakan yang
dibuat dari berbagai sumber bahan baku dengan komposisi yang dibuat oleh manusia sesuai
dengan kebutuhan ikan (Gusrina, 2005). Selain itu, pakan buatan sengaja dibuat untuk
menggantikan sebagian besar atau keseluruhan pakan alami (Darwisito, 2006). Biaya pakan
dalam

usaha

budidaya

dapat

mencapai 60-70% dari

seluruh

biaya

produksi (Adi,

2011 dalam Zaidin et al., 2013).
Pakan merupakan komponen utama yang dibutuhkan oleh ikan untuk menjaga sintasan
dan pertumbuhannya. Kelengkapan nutrisi dalam pakan mutlak diperlukan untuk menjaga agar
pertumbuhan ikan dapat berlangsung secara normal (Adi, 2011 dalam Zaidin et al., 2013).
Fungsi utama pakan adalah sebagai penyedia energi bagi aktivitas sel-sel tubuh. Karbohidrat,
lemak dan protein merupakan zat gizi yang terdapat dalam pakan yang berfungsi sebagai energi
tubuh. Protein bersama dengan mineral dan air merupakan bahan baku utama dalam
pembentukan sel-sel dan jaringan tubuh, sedangkan protein bersama-sama dengan mineral dan
vitamin berfungsi dalam pengaturan keseimbangan asam basa, pengaturan tekanan osmotik
cairan tubuh, serta pengaturan proses metabolisme dalam tubuh. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan produktifitas ikan dalam budidaya di kolam maupun wadah
lainnya adalah melalui penggunaan pakan buatan, terutama ketika produksi pakan alami sudah
tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan nutrisi ikan yang dipelihara (Wardani et al., 2011).

Pemberian pakan dalam suatu usaha budidaya sangat bergantung kepada beberapa faktor
antara lain adalah jenis dan ukuran ikan, lingkungan ikan itu hidup dan teknik budidaya yang
akan digunakan (Gusrina, 2008). Dosis pemberian pakan sebaiknya sebanyak 3-4% dari berat
keseluruhan ikan yang ada dalam kolam pemeliharaan ikan nila s alin. Manajemen pemberian
pakan ikan nila salin sangat perlu diperhatikan. Pemberian pakan yang baik adalah tepat waktu,
tepat ukuran, dan juga tepat dosis (Agus, 2013).
2.4 Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah perubahan ukuran individu, biasanya pertumbuhan diukur dalam
satuan panjang, berat dan atau energi. Dalam hubungannya dengan waktu pertumbuhan
didefinisikan sebagai ukuran rata-rata ikan pada waktu tertentu (pertumbuhan mutlak) dan
perubahan panjang atau berat pada awal pemeliharaan (pertumbuhan nisbi) (Effendie, 1979).
Pertumbuhan ikan dapat diketahui dari pertumbuhan harian (g/hari) atau laju pertumbuhan ratarata harian yang diukur dari berat ikan. Pertumbuhan ikan juga dapat diukur dari pertambahan
berat yang dihitung dari selisih berat antara berat akhir dikurangi berat awal ikan (pertumbuhan
mutlak) (Sukardi dan Yuwono, 2010).
Pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal misalnya
keturunan, seks, umur, parasit, dan penyakit. Pertumbuhan dipengaruhi oleh kematangan gonad,
apabila ikan dalam fase reproduksi maka akan menyebabkan kecepatan pertumbuhan menjadi
sedikit lambat. Sebagian dari makanan yang dimakan tertuju kepada perkembangan gonad
(Bagenal 1967 dalam Effendie 1979). Faktor eksternal misalnya pakan (nutrisi) (Yolanda et al.,
2013). Tahapari (2010) menambahkan bahwa pertumbuhan ikan juga dipengaruhi beberapa hal
antara lain jenis ikan, jenis kelamin, ukuran, kepadatan dan kondisi lingkungan perairan media
pemeliharaan ikan. Selain itu, beberapa jenis ikan tumbuh lebih cepat dibandingkan jenis yang
lain, misalnya ikan lele, patin, dan nila akan tumbuh relatif cepat dibandingkan ikan gurame.
Beberapa jenis ikan tertentu seperti ikan mas dan nila, perbedaan jenis kelamin akan berpengaruh
nyata terhadap pertumbuhan (sexual dimorphism), sebagai contoh laju pertumbuhan ikan betina
lebih cepat dibandingkan jantan, sedangkan pada ikan nila berlaku kebalikannya.
Pertumbuhan pada ikan dipengaruhi oleh faktor nutrisi. Jumlah nutrisi yang cukup di
dalam pakan tidak hanya mampu memberikan energi untuk kegiatan metabolisme tubuh ikan,
tetapi

juga

mampu

memenuhi

kebutuhan

ikan

nila

untuk

tumbuh

(Aljabbar,

2005 dalam Yolanda et al., 2013). Pertumbuhan ikan dapat terjadi jika jumlah nutrisi pakan yang
dicerna dan diserap oleh ikan lebih besar dari jumlah yang diperlukan untuk pemeliharaan
tubuhnya (Yolanda et al., 2013).
2.5 Kualitas Air
Kualitas air dalam suatu usaha budidaya merupakan aspek yang sangat penting, karena
dapat mempengaruhi pertumbuhan, berkembang biak dan sintasan biota budidaya yang salah

satunya adalah ikan (Arnelli dan Ismaryata, 1999). Kaulitas air dalam budidaya ikan meliputi
beberapa parameter diantaranya suhu, pH, oksigen terlarut, salinitas, dan ammoniak.
Suhu perairan adalah besaran yang menyatakan derajat panas atau dingin suatu perairan.
Suhu yang optimal untuk media hidup ikan nila salin yaitu 25–30 0C dan akan mati jika terjadi
suhu pada 6 0C dan 42 0C. Ikan nila dapat tumbuh dengan normal pada kisaran suhu 14-38 0C
dan suhu optimum untuk pertumbuhannya yaitu 25-30 0C. Pertumbuhan ikan Nila biasanya
terganggu jika suhu habitatnya lebih rendah dari 14 0C atau pada suhu tinggi 38 0C. Ikan nila
dapat memijah secara alami pada suhu 22-370C dan suhu optimum untuk perkembangbiakannya
yaitu 25-30 0C (Amri dan Khairuman, 2008).
pH adalah suatu satuan ukur yang menguraikan derajat tingkat kadar keasaman atau kadar
alkali dari suatu larutan (Nooruril dan Ratna, 2010). Nilai pH sangat penting sebagai parameter
kualitas air karena ikan dan biota air lainnya hidup pada kisaran pH tertentu, dengan
diketahuinya nilai pH maka kita dapat mengetahui apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk
menunjang kehidupan mereka (Hidayah, et al., 2012). Nilai pH air antara 5-11 dapat ditoleransi
ikan nila, tetapi pH optimal untuk perkembangbiakan dan pertumbuhannya yaitu 7-8 (Rukmana,
1997).

Ikan

nila hidup optimal

pada nilai

pH

berkisar

antara 6-8,5

(Cahyono,

2000) dalam (Hidayah, et al., 2012).
Oksigen terlarut (Dissolved Oxgen) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal
dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer atau udara (Hidayah, et al., 2012). Oksigen merupakan
salah satu gas terlarut di perairan alami dengan kadar bervariasi yang dipengaruhi oleh suhu,
salinitas, turbulensi air dan tekanan atmosfir. Oksigen merupakan faktor pembatas bagi
perkembangan dan pertumbuhan ikan. Ikan membutuhkan oksigen untuk respirasi, sehingga
ketersediaannya harus bisa mencukupi kebutuhan ikan yang dibudidaya (Atia et al.,
2012). Selain diperlukan untuk sintasan organisme di perairan, oksigen juga diperlukan dalam
proses dekomposisi senyawa-senyawa organik menjadi senyawa anorganik (Pujiastuti et al.,
2013). Menurut PPRI No. 82 Tahun 2001 Kelas II, nilai baku minimum oksigen terlarut untuk
budidaya perikanan adalah ≤ 4 mg/L.
Salinitas dapat dinyatakan sebagai konsentrasi total dari semua ion yang terlarut didalam
air (Boyd, 1984 dan Nybakken, 1988 dalam Setyo, 2006). Salinitas merupakan salah satu faktor

pembatas bagi organisme perairan. Salinitas yang rendah berbahaya bagi pertumbuhan ikan
karena dapat menurunkan oksigen. Sebaliknya, salinitas yang terlalu tinggi juga tidak baik untuk
pertumbuhan ikan atau organisme yang ada ditambak air payau (Hendrawati et al., 2009). Ikan
nila bersifat eiryhalineyaitu toleransi yang luas terhadap salinitas. Ikan nila dapat hidup pada
kadar salinitas 0-35 ppt, sehingga dapat hidup diperairan tawar, payau, dan laut (Rukmana,
1997). Ikan nila salin toleran terhadap air payau dan laut dengan salinitas mencapai 20 ppt
(BPPT, 2011).

BAB III
MATERI DAN METODE
a.

3.1 Alat dan Bahan
Alat-Alat yang Digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Alat yang digunakan dalam kerja praktek ini meliputi :

NO

NAMA ALAT-ALAT

1

Bak berukuran 40x40 cm

9

Baskom

2

Selang aerasi

10

Ember

3

Styrofom

11

Tissue

4

Selang air

12

Penggaris

5

Seser

13

Timbangan digital

6

Sendok teh

14

Sikat

7

Bak grading

15

Do meter

8

Ph meter

16

Refaktometer

b. Bahan-Bahan yang Digunakan Dalam Praktek Kerja Lapangan

Bahan yang digunakan dalam kerja praktek ini meliputi :


larva ikan nila Salin (Oreochromis niloticus) 3000 ekor



akuades



air laut



air tawar



dan Pakan tepung Ikan serta Rotifer.

3.2 Metode Kerja Lapangan
Metode yang digunakan dalam kerja praktek ini adalah metode survey dengan
pengamatan secara langsung teknik peningkatan salinitas ikan nila salin yang akan digunakan
pada praktek kerja lapangan ini adalah air dengan peningkatan salinitas dari 0 ppt, 5 ppt, 10
ppt ,15 ppt dan 20 ppt. Air yang digunakan sebagai media sebelumnya disaring, diendapkan dan
diaerasi selama semalam.
3.2.1

Variabel Pengamatan
Variabel yang diamati yaitu sintasan ikan nila salin. Parameter yang di amati adalah
Jumlah ikan nila salin yang hidup pada awal dan akhir pengamatan. Parameter kualitas air yang
diukur yaitu suhu, pH, oksigen terlarut dan salinitas.

3.2.2

Persiapan Media Pemeliharaan
Persiapan yang dilakukan berupa persiapan wadah dan alat. Persiapan wadah meliputi
pembersihan wadah, pengisian air, dan pemasangan selang aerasi. Wadah pemeliharaan yang
digunakan berupa bak berukuran 40x40 cm. Wadah dilengkapi dengan pipa pemasukan air laut
dan tawar, pipa pengeluaran, dan sistem aerasi. Pembersihan wadah meliputi penghilangan
lumut, teritip, dan kotoran didasar serta isi bagian dalam wadah. Air yang digunakan adalah air
laut dan tawar yang telah ditampung di Tandon air. Pengisian air setinggi 30-40 cm dengan
bagian pipa pemasukan air dipasang saringan untuk menghindari adanya organisme yang masuk
ke bak pemeliharaan. Air media pemeliharaan disiapkan sesuai kebutuhan salinitas media
pemeliharaaan larva yaitu 5-20 ppt dengan cara mencampur air laut dan air tawar. Pengaturan
salinitas media pemeliharaan dengan cara penambahan dan pengurangan air laut dan tawar
(Mardjono et al., 2011).

3.2.3

Penebaran Ikan Nila Salin

Larva yang digunakan setelah larva berumur 3 hari dari waktu pemanenen larva di kolam
pemijahan. pemindahan larva dengan menggunakan ember atau packing menggunakan plastik.
Ukuran larva dari proses pemijahan biasanya panjang sekitar 7-10 mm/ekor dan berat sekitar 8
mg/ekor. Waktu pemeliharaan larva selama 14 hari. Pemindahan larva ke bak pendederan
dengan metode aklimatisasi terlebih dahulu (Mardjono et al., 2011).
3.2.4

Pemberian Pakan
Pakan yang digunakan pada pemeliharaan larva ikan nila salin terdiri dari dua
jenis pakan yaitu pakan alami Rotifer dan pakan buatan tepung cp.fampro tepung
ikan . Jenis pakan alami yang digunakan untuk larva ikan nila salin adalah Rotifer
jenisBrachionus sp. Rotifer memiliki

pertumbuhan

yang

sangat

cepat,

jika

dibudidayakan setelah penebaran tiga hari kepadatannya sudah blooming, sehingga
pemberian Rotiferpada larva juga harus diperhatikan kondisi airnya. Jika air
pemeliharaan berwarna coklat perlu dihentikan terlebih dahulu pemberian Rotifer,
karena seiring meningkatnya jumlah Rotifer didalam pemeliharaan larva ikan nila salin
dapat menggangu kehidupan ikan yang dibudidayakan (Lisa, 2014). Adapun kandungan
nutrisi Rotifer dapat dilihat pada tabel 1.
Spesifikasi
Nilai Nutrisi
Protein
53,69 %
Lemak
8,12 %
Kadar air
85,70 %
Abu
5,90%
Tabel 1. Kandungan nutrisi Rotifer (Chumaidi, 2009)
Dosis pakan buatan tepung udang yang diberikan pada larva ikan nila salin dilakukan
secara adlibitum (sampai tidak aktif merespon pakan).
Pemberian pakan untuk larva ikan nila salin uji berupa bubuk jenis c.p.Farmpro,
merupakan pakan bubuk. Dosis pemberiannya 2-3% dari berat biomassa ikan dan frekuensi
pemberian 3 kali dalam sehari yaitu pada pukul 07.00, 11.00,dan 15.00 WIB. Cara pemberian
pakan secara langsung ditebar dimedia pemeliharaan larva ikan nila salin.
3.2.5

Pengukuran Kualitas Air

Pengukuran kualitas air terdiri dari beberapa parameter yaitu suhu, pH, oksigen terlarut,
dan salinitas. Pengukuran DO, suhu, dan salinitas dilakukan setiap pergantian air dan
peningkatan salinitas
3.2.5.1

Suhu
Pengukuran suhu, yaitu dengan menggunakan alat elektrik yang berupa gabungan
dengan alat DO meter. Pengukuran dilakukan dengan cara mencelupkan bagian pengukurnya
kedalam air dan dilihat angka yang tertera di alat sampai berhenti beberapa saat. Kemudian
ditulis hasilnya.

3.2.5.2

pH
Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter yang dicelupkan bagian
pengukur dari alat kedalam air selama beberapa saat, lihat nilai angka yang tertera di alat dan
dicatat hasilnya setelah nilai pada alat berhenti beberapa saat atau munculnya tanda titik tertentu
pada alat.

3.2.5.3

Oksigen Terlarut
Pengukuran oksigen terlarut, menggunakan alat DO meter dengan mencelupkan bagian
pengukur alat tersebut, kemudian di lihat angka yang muncul pada alat. Tetapi sebelumnya perlu
diatur nilai salinitas pada alat sesuai dengan salinitas bak pemeliharaan yang akan diukur nilai
DO nya. Ditulis angkanya setelah pada alat angkanya berhenti beberapa saat.

3.2.5.4

Salinitas
Pengukuran salinitas, menggunakan Hand Refraktometer dengan menetesi air sampel
diatas kaca pada alat ukur, kemudian ditutup dan dilihat nilai salinitas yang tertera dalam skala
alat serta pengukuran harus menghadap ke cahaya.

3.2.5.5 Kelangsungan Hidup Ikan
Pengukuran sintasan diperoleh dengan mengikuti rumus Effendie (1979), yaitu sebagai
berikut :

Dengan :
SR = Sintasan hewan uji (%)
Nt = Jumlah total ikan yang hidup pada akhir percobaan (ekor)
No = Jumlah total ikan pada awal percobaan (ekor)
3.3 Analisis Data
Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel. Data dianalisis secara deskriptif.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapangan
4.1.1 Lokasi BBPBAP Jepara
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara terletak di Desa Bulu,
Kecamatan Jepara, Kabupataen Jepara, Propinsi Jawa Tengah. Letak geografis BBPBAP Jepara
adalah 1100 39’ 11’’ BT dan 60 33’ LS. BBPBAP Jepara terletak di Kelurahan Bulu dengan
batas-batas antara lain sebagai berikut :


Sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur dan selatan berbatasan dengan
Kelurahan Demaan, sebelah utara dengan Kelurahan Kauman. Luas kompleks BBPBAP Jepara
kurang lebih 64,5472 ha yang terdiri dari kompleks balai seluas 10 ha dan tambak seluas 54,5472
ha. Kompleks balai terdiri dari perkantoran, perumahan, asrama, unit pembenihan, unit
pembesaran, lapangan olah raga, auditorium dan laboratorium. BBPBAP Jepara dan sekitarnya

merupakan daerah beriklim tropis dengan musim hujan terjadi pada bulan November-Maret,
musim pancaroba terjadi pada bulan April-Juni dan musim kemarau terjadi pada bulan JuliOktober.
4.1.2 Sejarah Berdirinya BBPBAP Jepara
Rentang sejarah Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara dapat dikatakan
dimulai pada tahun 1971, diawali dengan berdirinya lembaga Research Center Udang (RCU)
yang secara hierarkhi berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan,
Departemen Pertanian.
Sasaran utamanya adalah meneliti siklus hidup udang windu (Penaeus monodon) dari proses
kematangan telur (gonad), perkembangan larva hingga dewasa secara terkendali untuk
selanjutnya dibudidayakan di tambak.
Pada tahun 1978 berdasarkan SK Menteri Pertanian RI No. : 306/Kpts/Org/5/1978
tentang susunan organisasi dan tatalaksana balai, telah diatur dan ditetapkan lembaga yang
semula bernama Research Center Udang menjadi Balai Budidaya Air Payau (BBAP). BBAP
Jepara ini merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada dibawah Direktorat Jenderal
Perikanan, Departemen Pertanian. Seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi
akuakultur, dimana komoditas yang dikembangkan tidak hanya terbatas pada udang windu saja,
tetapi juga komoditas ikan bersirip, ekinodermata dan moluska air.
Pada periode ini BBAP Jepara telah berhasil menorehkan prestasi gemilang yang menjadi
pendorong bagi perkembangan industri udang secara nasional. Keberhasilan yang diraih adalah
dengan diterapkannya teknik pematangan gonad induk udang dengan cara ablasi mata, sehingga
hal tersebut dapat mengatasi kesulitan penyediaan induk matang telur yang pada masa itu
merupakan masalah yang serius. Dengan keberhasilan penemuan teknik ablasi mata tersebut
telah berpengaruh positif terhadap pengembangan usaha pembenihan (hatchery).
Selanjutnya selain keberhasilannya dalam hal teknik ablasi mata, pada periode 1979-1988
BBAP Jepara juga telah berhasil melakukan pengkajian teknologi pembenihan udang skala
rumah tangga (backyard hatchery). Dalam waktu yang singkat usaha backyard hatchery ini telah
berkembang dan meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir & nelayan sekitar Jepara. Sejak
tahun 1993 usaha ini mulai berkembang ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Pada era masa kepemimpinan Presiden KH. Abdulrahman Wahid, telah dibentuk
Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan yang merupakan cikal bakal Kementerian Kelautan
dan Perikanan. Hingga akhirnya berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan No. :
26C/MEN/2001, BBAP Jepara mengalami perubahan nama & status (eselonisasi) menjadi Balai
Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP), peningkatan status dari eselon III menjadi
eselon II.
Kedudukan BBPBAP Jepara merupakan Unit Pelaksana Teknis yang secara administratif
dan teknis bertanggung jawab pada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian
Kelautan & Perikanan.
4.2 Struktur Organisasi BBPBAP Jepara
Berdasarkan SK Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor : KEP. 26 C/MEN/2001
tanggal 1 Mei 2001 tentang organisasi dan tata kerja BBPBAP Jepara yang merupakan unit
pelaksana teknis (UPT) berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal
Perikanan Budidaya Perairan. Di dalam struktur organisasi tersebut, terdapat kelompok jabatan
fungsional

yang

mempunyai

tugas

melaksanakan

kegiatan

perekayasaan,

pengujian,

pembimbingan, penerapan standar teknik alat dan mesin, sertifikasi pembenihan dan
pembudidayaan, penyuluhan hama dan penyakit, pengawasan benih dan kegiatan lain yang
sesuai dengan masing-masing jabatan fungsional berdasarkan peraturan perundang-undangan
yangberlaku.

Gambar 1. Struktur Organisasi
4.2.1 Visi Dan Misi BBPBAP Jepara
Adapun visi dari BBPBAP Jepara yaitu mewujudkan balai sebagai instansi
pemberi pelayanan prima dalam pembangunan dan pengembangan sistem usaha budidaya air
payau yang berdaya saing, berkelanjutan dan berkeadilan.
Adapun misi dari BBPBAP Jepara yaitu mengembangkan rekayasa teknologi budidaya berbasis
agribisnis dan melaksanakan alih teknologi kepada dunia usaha, meningkatkan kapasitas
kelembagaan, mengembangkan sistem informasi IPTEK perikanan, mengembangkan jasa
pelayanan dan sertifikasi, serta memfasilitasi upaya pelestarian sumberdaya ikan dan
lingkungannya.

4.2.2 Tugas Pokok Dan Fungsi BBPBAP Jepara
Balai Besar Pengenbangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara adalah Unit Pelaksana
Teknis (UPT) Departemen Kelautan dan Perikanan berada dibawah dan bertanggungjawab
kepada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan
dan Perikanan Republik Indonesia, No. KEP. 26C/MEN/2001 tanggal 1 Mei 2001 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara mempunyai
tugas, fungsi sebagai berikut :
A. Tugas Pokok
BBPBAP Jepara mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan penerapan teknik
perbenihan, pembudidayaan, pengelolaan kesehatan ikan dan pelestarian lingkungan budidaya.
B. Fungsi


Identifikasi dan perumusan program pengembangan teknik budidaya air payau;



Pengujian standar perbenihan dan pembudidayaan ikan;



Pengujian alat, mesin, dan teknik perbenihan, serta pembudidayaan ikan;



Pelaksanaan bimbingan penerapan standar perbenihan dan pembudidayaan ikan;



Pelaksanaan sertifikasi sistem mutu dan sertifikasi personil perbenihan dan pembudidayaan
ikan;



Pelaksanaan produksi dan pengelolaan induk penjenis dan induk dasar;



Pengawasan perbenihan, pembudidayaan ikan, serta pengendalian hama dan penyakit ikan;



Pengembangan teknik dan pengujian standar pengendalian lingkungan dan sumberdaya induk
dan benih;



Pengelolaan sistem jaringan laboratorium penguji dan pengawasan perbenihan dan
pembudidayaan ikan;



Pengembangan dan pengelolaan sistem informasi dan publikasi pembudidayaan;



Pengelolaan keanekaragaman hayati;



Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

C. Fungsi lain


Tempat pendididikan calon tenaga ahli madya sarjana dan magister dan doctor dalam ilmu
perairan



Pusat informasi ilmu dan teknologi perikanan budidaya.



Pusat penyediaan tenaga ahli untuk supervise teknis usaha budidaya.



Pusat jasa layanan analisis laboratorium.
Kita sadar sepenuhnya bahwa IPTEK akan menjadi penentu kemampuan bersaing dalam
berbagai aspek. Sebagai salah satu instansi pusat pengembangan ilmu perikanan air payau
(Akuakultur), BBP-AP telah menjadi salah satu pioneer dalam kancah ilmiah Akuakultur di
Indonesia.
Walaupun sebagai salah satu pusat pengembangan IPTEK di bidang Akuakultur
BBPBAP tidak berorentasi sebagai menara gading yang tidak tersentuh oleh masyarakat luas.
Keberhasilan BBPBAP justru diukur dari manfaat yang dapat disumbangkan kepada masyarakat.
Dengan demikian kemajuan teknologi yang ditemukan dapat diterapkan oleh masyarakat luas
melalui diseminasi.
Sistem diseminasi yang diterapkan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain
pelatihan formal, magang atau praktek kerja lapang, dan demonstrasi langsung di lokasi
masayrakat pengguna.
Pelatihan formal dilaksanakan mengikuti kegiatan yang telah direncanakan atau kegiatan
magang dapat diikuti oleh perorangan atau kelompok. Mereka biasanya mengikuti kegiatan
ujicoba produksi selama beberapa bulan.
Sementara kegiatan demonstrasi dilakukan dengan menerapkan paket teknologi budidaya
bersama-sama dengan kontak tani andalan atau calon petani. Dengan cara memberi contoh dan
praktek teknologi budidaya bersama-sama dengan kontak tani andalan atau calon petani. Dengan
cara memberi contoh dan praktek langusng, diharapkan adopsi teknologi dapat diserap lebih
cepat dan dapat menumbuhkan keyakinan petani akan manfaat teknologi tersebut.

4.3 Hasil dan Pembahasan
Adapun hasil Praktek Kerja Lapangan di BBPBAP Jepara Jawa Tengah adalah sebagai
berikut:
4.3.1 Tahap Persiapan

Persiapan sarana dan prasarana teknik adaptasi salinitas bertingkat pada Ikan Nila
Salin (Oreochromis niloticus) antara lain :
1. Pembersihan Kolam
Gambar 2. Pembersihan
Kolam
Pertama

bersihkan

dahulu

pada

kolam

sudah

disiapkan

yang
dengan

ukuran kolam 4x4 m

ini

bertujuan agar semua kotoran
atau endapan yang ada pada
kolam dapat dibersihkan.

2. Pemasangan Saluran Pembuangan

Gamar
3.Saluran Pembuangan
Kegunaan dalam pemasanga
saluran ini adalah untuk dapat
memudahkan pembuangan air
selama
pemeliharaan.Saluran
pembuangan air juga berfungsi
untuk
mengatur
ketinggia
permukaan air kolam serta sebagai saluran penguras air saat dilakukan pengeringan ataupun
pembersihan kolam.

3.

Pemasangan Aerasi

Gambar 4.Pemasangan Aerasi
Pemasangan Aerasi menggunakan selang kecil yang dibentuk dengan ukuran panjang dan
di letakkan pada titik-titik yang di perlukan . Hal ini bertujuan supaya supplay oksigen yang
dihsilkan oleh aerasi tersebut dapat tersalurkan secara merata.
4.3.2. Persiapan Media

Persiapan media pada teknik adaptasi salinitas bertingkat pada Ikan Nila(Oreochromis
niloticus) Salin antara lain :
1.

Pengisian Air

Gam
bar
Kolam

5

Pengisian

Air

Tahap pengisian air pada kolam yang dilakukan dalam praktek kerja lapangan ini
( PKL ) adalah dengan menggunakan rumus pengenceran salinitas yaitu Nilai salinitas untuk
percobaan ini diperoleh dengan cara pencampuran air laut dan air tawar, dengan rumus
menurut (Sjafrie, 1998). sebagai berikut :
V1 X N1 = V2 X N2
Dimana :
V1 = volume air laut
N1 = salinitas air laut mula-mula
V2 = volume setelah pengenceran

N2 = salinitas setelah pengenceran
KA = Kedalaman air yang diinginkan
VT = Volume air tawar
Tahap perhitugan pengenceran salinitas sebagai berikut :
a) Salinitas 5ppt
V1 X N1 = V2 X N2
V1.30ppt = 1600.5ppt
= 8000
V1
= 8000
30ppt
= 267 liter
Volume Air Tawar
V2 – Jumlah liter air
1600 – 267 = 1333 liter
V2 X VT
KA
X
1600 X 1333
40
X
1600 . X = 53320
X = 53320
1600
= 33,325 Dibulatkann 33 cm
Volume Air Laut
KA – air tawar
40 – 33 = 7cm

b) Salinitas 10ppt
V1 X N1 = V2 X N2
V1.30ppt = 1600.10ppt
= 16000

V1

= 16000
30ppt
= 533 liter

Volume Air Tawar
V2 – Jumlah liter air
1600 – 533 = 1067 liter
V2 X VT
KA
X
1600 X 1067
40
X
1600 . X = 42680
X = 42680
1600
= 26,7 Dibulatkann 27 cm
Volume Air Laut
KA – air tawar
40 – 27= 13cm

c) Salinitas 15ppt
V1 X N1 = V2 X N2
V1.30ppt = 1600.15ppt
= 24000
V1
= 24000
30ppt
= 800 liter
Volume Air Tawar
V2 – Jumlah liter air
1600 – 800 = 800 liter
V2 X VT
KA
X
1600 X 800
40
X
1600 . X = 32000
X = 32000
1600
= 20 cm
Volume Air Laut
KA – air tawar

40 – 20=20 cm

d) Salinitas 20ppt
V1 X N1 = V2 X N2
V1.30ppt = 1600.20ppt
= 32000
V1
= 32000
30ppt
= 1067 liter
Volume Air Tawar
V2 – Jumlah liter air
1600 – 1067 = 533 liter
V2 X VT
KA
X
1600 X 533
40
X
1600 . X = 21.320
X = 21.320
1600
= 13 cm
Volume Air Laut
KA – air tawar
40 – 13=27 cm

2.

Pemasangan Jaring

Gambar 6 Pemasangan Jaring
Dalam praktek kerja lapangan ini saya menggunakan jaring untuk pemeliharaan benih
ikan nila salin yang bermanfaat agar dapat mempermudah dalam pemanenan benih ikan ketika
akan dilakukan pergantian air ataupun peningkatan salinitasnya.

4.3.3

Pengecekan Kualitas Air

Gambar 7 Pengecekan Kualitas Air
Suhu sangat mempengaruhi kehidupan ikan yang dibudidayakan. Menurut Pratama
(2009) fluktuasi suhu yang terlalu besar menyebabkan ikan akan mengalami stress yang dapat
mengakibatkan kematian pada ikan. Effendie (2003) menambahkan peningkatan suhu perairan
sebesar 100C, menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme akuatik
termasuk ikan sebanyak dua sampai tiga kali lipat, serta perubahan suhu juga berakibat pada
peningkatan dekomposisi bahan-bahan organik oleh mikroba. Berdasarkan hasil pengamatan
fluktuasi suhu tidak lebih dari 100C.

Standar baku nilai pH menurut PPRI No. 82 Tahun 2001 adalah 6-9. Derajat keasaman
(pH) merupakan satu dari parameter kimia perairan yang dapat dijadikan indikasi kualitas
perairan (Sari, et al., 2012). Nilai pH suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan
basa didalam air. Menurut Cheng et al. dalam Suparjo (2008) bahwa pH yang baik untuk
kehidupan ikan ataupun udang adalah 7-8,5. Sitanggang dan Sarwono (2000) menambahkan
bahwa pH yang baik untuk kelangsungan hidup ikan adalah 6,5-7,5 atau 6-8. Nilai pH diluar
ambang batas dapat menyebabkan menurunnya daya tahan terhadap stress, sehingga pengelolaan
pH harus diperhatikan.
4.3.4

Pemilihan Benih dan Penebaran Benih

Gambar 8 Penebaran Benih

Penebaran benih pada kolam dilakukan dengan cara aklimatisasi yang dimaksud
dengan proses penyesuaian dua kondisi lingkungan yang berbeda sehingga perubahan kondisi tersebut
tidak menimbulkan stress bagi benur. Kegiatan ini perlu dilakukan secara cermat dan penuh kesabaran
agar tingkat stress benur terhadap perubahan lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin sehingga
secara kualitas dan kondisi benur dapat dipertahankan secara optimal (Arber A. 1950).

4.3.5

Manajemen Pakan

Gambar 9 Pakan yang di Pakai
Menurut Setiawati dan Suprayudi (2003) konsumsi pakan ikan nila relatif sama pada
berbagai salinitas, hal ini menunjukan bahwa perubahan salinitas secara bertahap tidak
menyebabkan ikan stress serta tidak berpengaruh terhadap nafsu makan dan banyaknya pakan
yang dikonsumsi sesuai dengan kapasitas lambungnya. Namun nilai laju pertumbuhan harian
rata-rata ikan nila semakin meningkat dengan meningginya kadar salinitas mulai dari 10 ppt.
Laju pertumbuhan harian tertinggi yaitu pada salinitas 20 ppt, tetapi tidak berbeda dengan ikan
yang dipelihara pada media salinitas 10 ppt dan 15 ppt. Ikan nila yang dipelihara pada media
bersalinitas lebih baik dalam memanfaatkan sumber energi pakannya.
Pemberian pakan pada pemeliharaan ikan Nila Salin (O.niloticus) ini dalam sehari dengan
3 kali pemberian pada pukul 07.00, 11.00,dan 15.00 WIB dengan dosis yang dipakai adalah pada
minggu pertama 9gr/3000 ekor dalam sehari,sedangkan pada minggu ke dua 36 gr/3000 ekor
dalam sehari.

4.3.6 Sintasan Ikan Nila Salin
Berdasarkan hasil pengamatan sintasan ikan nila salin yang dipelihara selama 14
hari dari pengamatan menunjukan hasil yang tertera pada tabel 1.
NO
1

Hari/Tanggal
Senin 16 Feb
2015

Parameter Air
Salinitas
0 ppt
Suhu
28,7 0c
Do
5,65 ppm
pH
8

Kematian
0

2

Selasa 17 Feb
2015

3

Rabu 18 Feb 2015

4

Kamis 19 Feb
2015

5

Jum’at 20 Feb
2015

6

Saptu 21 Feb
2015
Minggu 22 Feb
2015
Senin 23 Feb
2015
Selasa 24 Feb
2015
Rabu 25 Feb 2015

7
8
9
10
11
12
13
14

Kamis 26 Feb
2015
Jum’at 27 Feb
2015
Sabtu 28 Feb
2015
Minggun 1 Maret
2015
Kematian yg tidak
terhitung
Jumlah

Salinitas
Suhu
Do
pH
Salinitas
Suhu
Do
pH
Salinitas
Suhu
Do
pH
Salinitas
Suhu
Do
pH

5 ppt
28,5 0c
5,42 ppm
7
10 ppt
28,5 0c
4,15 ppm
15 ppt
27,8 0c
5,57 ppm
20 ppt
28,1 0c
6,25 ppm
-

0

19

35

48

12
15
12
11
10
12
14
16
18
12
66
300

Dengan hasil pengamatan yang sudah dilaksanakan bahwa hasilnya adalah sebagai berikut :

SR = 90%

Tingkat kelulusan hidup dihitung secara keseluruhan benih yang pelihara adalah
Berdasarkan hasil pengamatan sintasan ikan nila salin yang dipelihara selama 14 hari dari setiap
pengamatan menunjukan hasil yang sangat baik. Nilai sintasan ikan yang lebih baik pada
pengamatan ini yaitu 90%. Menurut Fitria (2012) jenis ikan nila Larasati yang dipelihara pada
salinitas 15 ppt memiliki sintasan tertinggi yaitu mencapai 83,33±2,88%, sedangkan yang
dipelihara pada salinitas 20 ppt yaitu 80,00±5% dan pada salinitas 30 ppt mencapai
73,33±2,88%. Hal ini menunjukan media pemeliharaan dengan kadar salinitas yang cukup tinggi
tidak efektif dalam meningkatkan kelulusan hidup benih. Perubahan kadar salinitas
mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, sehingga ikan melakukan penyesuaian atau
pengaturan kerja osmotik internalnya agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat bekerja
secara normal kembali. Apabila salinitas semakin tinggi ikan berupaya terus agar kondisi
homeostasis dalam tubuhnya tercapai hingga pada batas toleransi yang dimilikinya. Kerja
osmotik memerlukan energi yang lebih tinggi pula.
Sintasan ikan juga dipengaruhi pakan yang diberikan. Pemberian pakan tunggal dengan
tepung udang menghasilkan sintasan ikan yang rendah. Hal ini disebabkan jika tepung udang
tidak dikonsumsi ikan secara keseluruhan akan menimbulkan sisa pakan yang akan mengendap
didasar wadah dan menimbulkan bau busuk sehingga terjadi penurunan kualitas air kemudian
dapat mengakibatkan ikan menjadi mati. Menurut Lisa (2014) ikan nila salin yang diberi pakan
alami Rotifer golongan Brachionus sp. dapat meningkatkan sintasan ikan nila salin mencapai 80
% sampai ukuran larva 2-3 cm, sehingga dapat diketahui sintasan ikan nila salin dipengaruhi
ukuran dan juga jenis pakan yang digunakan. Menurut Redjeki (1999) Rotifer merupakan
zooplankton yang sering digunakan sebagai pakan awal larva ikan laut. Rotifer sebagai pakan
alami mempunyai keuntungan, yaitu mudah dicerna ikan, mempunyai ukuran yang sesuai
dengan mulut larva ikan, mempunyai gerakan yang sangat lambat sehingga mudah ditangkap
ikan, mudah dikultur secara massal, pertumbuhan dan perkembangannya sangat cepat dari siklus
hidupnya, tidak menghasilkan racun atau zat lain yang dapat membahayakan kehidupan larva
serta memiliki gizi yang baik untuk pertumbuhan larva. Selain itu, menurut Chumaidi et al,
(2009) kandungan nutrisi pakan alami Rotifer terutama asam lemak tak jenuh dapat
meningkatkan sintasan, pertambahan panjang dan berat pada larva ikan. Menurut Agus (2015)

faktor yang sangat menentukan kelulusan hidup pada pemeliharaan larva ikan nila salin adalah
pakan, kualitas air (salinitas, DO, pH, suhu), ukuran ikan dan teknik pemeliharaannya.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil kerja praktek yang dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan :
1. Ikan nila salin yang dipelihara pada salinitas 0-20 ppt dengan pakan Rotifer dantepung
udang menunjukan bahwa sintasan ikan nila salin yang dipelihara selama 14 hari dari setiap
pengamatan menunjukan hasil yang sangat baik. Nilai sintasan ikan yang lebih baik pada
pengamatan ini yaitu 90%.
2. Pada pemeliharaan nila salin ini juga dipengaruhi oleh penambahan pakan yang diberi adalah
pakan alami Rotifer sehingga dapat meningkatkan tingkat kehidupan nila salin.
3. Kualitas air ikan nila salin terdiri dari parameter suhu yaitu 25-29 0C; pH yaitu 7,40-8,70; DO
yaitu 5,65-6,25 ppm, dan salinitas yaitu 0-20 ppt. Nilai kualitas air sesuai dengan standar baku
budidaya perikanan.
5.2 Saran
Disarankan untuk budidaya ikan nila salin agar terus dikembangkan guna memperbesar
skala produksi dibidang perikanan. selain itu, berdasarkan hasil kerja praktek pakan
kombinasi Rotifer dan tepung udang memberikan pengaruh yang lebih baik dalam pertumbuhan
dan sintasan ikan.Teknik budidaya ikan nila salin dapat dikelolah dengan baik dalam
pengelolaan kualitas air, manajemen kesehatan ikan serta faktor-faktor lainnya guna
menghasilkan produksi yang optimal pada budidaya perikanan.

DAFTAR PUSTAKA
Adi, Y. S. 2011. Sintasan Larva Rajungan (Portunus pelagicus) Stadia Zoea pada Berbagai Frekeunsi
Pemberian Pakan Alami Jenis Brachionus plicatilis. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas
Muhammadiyah. Makassar.
Agus. 2015. Wawancara Tentang Budidaya Ikan Nila Salin di Balai Besar Pengembangan Air Payau
(BBPBAP) Jepara. Praktikum Budidaya Payau dan Laut tanggal 20 Februari 2015 di BBPBAP
Jepara.

Aljabbar, I. 2005. Penggunaan Tepung Bungkil Kedelai sebagai Pengganti Tepung Ikan dalam Pakan
Juvenil Kerapu Bebek. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Bogor. 25 hlm.
Amri, K., Khairuman. 2008. Budidaya Ikan Nila Secara Intensif. PT Agro Media Pustaka, Jakarta.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 2011. BBPT Kembangkan Ikan Nila Salin Untuk
Berdayakan 600.000 Ha Tambak Terlantar. Artikel Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi.
Cahyono, B. 2000. Budidaya Ikan Air Tawar. Kanisius, Yogyakarta.
Darwisito, S. 2006. Kinerja Reproduksi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Mendapat Tambahan
Minyak Ikan dan Vitamin E dalam Pakan yang Dipelihara pada salinitas media berbeda. Tesis.
Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor.
Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng. 2010. Petunjuk Teknis Pembenihan dan Pembesaran Ikan Nila
(Oreochromis niloticus). Dinas Perikanan dan Kelautan. Sulawesi Tengah. 29 hal.
Effendie, I. 1979. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Utama. 163 hlm.
. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan.
Kanisius, Yogyakarta. 231 hal.
Fitria, A. S. 2012. Analisis Kelulushidupan dan Pertumbuhan Benih Ikan Nila Larasati (Oreochromis
niloticus) F5 D30-D70 pada Berbagai Salinitas. Jurnal Of Aquaculture Management and
Technology, 1 (1) : 18-34.
Hendrawati., Tri, H.P., Nuni, N.R. 2009. Analisis Kadar Phosfat dan N-Nitrogen (Amonia, Nitrat,
Nitrit) padaTambak Air Payau akibat Rembesan Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.
Program Studi Kimia FST UIN Syarif Hidayatullah. Badan Riset Kelautan dan Perikanan,
Jakarta. 9 hal.
Kottelat, M., Anthony, J.W., Sri, N.K., Soetikno, W. 1993. Freswater Fishes of Western Indonesia and
Sulawesi. Periplus Editions, Jakarta. 293 hal.
Mardjono, M., M. Soleh., Lisa. R., Agus, B., Aris, S., Subianto., Teguh, I. 2011.Produksi Calon Induk
dan Benih Ikan Nila Salin Unggul Melalui Pemeliharaan Dalam Media Air Payau. Laporan
Kegiatan. BBPBAP Jepara. 15 hal.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air. Seketaris Negara Republik Indonesia. Jakarta.
Pujiastuti, P., Bagus, I., Pranoto. 2013. Kualitas dan Beban Pencemaran Perairan Waduk Gajah
Mungkur. Jurnal EKOSAINS, 5 (1) : 59-75.
Ruliaty, Lisa. 2014. Wawancara Tentang Teknik Budidaya Ikan Nila Salin dan Pengembangan
Budidaya Perikanan di BBPBAP Jepara. Kegiatan Praktek Kerja Lapangan di BBPBAP Jepara
28 Januari-22 Februari 2014.
Safitri, D., Sugito., Sumarti, S. 2013. Kadar Hemoglobin Ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang Diberi
Cekaman Panas dan Pakan yang Disuplementasi Tepung Daun Jaloh (Salix
tetrasperma Roxb). Jurnal Medika Veterinaria, 7 (1) : 39-41.

Setyo, B. P. 2006. Efek Konsentrasi Kromium (Cr+3) dan Salinitas Berbeda Terhadap Efisiensi
Pemanfaatan Pakan Untuk Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Tesis. Program
Pascasarjana. Universitas Diponegoro, Semarang. 103 hal.
Suwoyo, Damar. 2015. Wawancara Tentang Teknik Peningkatan Salinitas Ikan Nila Salin di BBPBAP
Jepara. Kegiatan Praktek Kerja Lapangan di BBPBAP Jepara 13 Januari-3 Februari 2014.

Diposkan oleh dwi anggun di 08.19
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

1 komentar:
1.
elli lailatul18 April 2016 09.44
terimakaih kakaaaa informainyaaaaa hehe
Balas

Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Mengenai Saya

dwi anggun
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

o


▼ 2016 (1)
▼ April (1)
IKAN NILA SALIN
Template Tanda Air. Diberdayakan oleh Blogger.

Judul: Kumpulan Ilmu Inspiratif

Oleh: Radikal Arif Shoddiq


Ikuti kami