Tugas Antrop 1

Oleh Asep Miftah

12 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Antrop 1

Dapatlah dikatakan ihwal sejarah agamaagama, mulai dari masyarakat primitive sampai modern dibentuk oleh sejumlah besar
hierophany (sesuatu yang sacral menunjukan dirinya pada kita) sekaligus manisfestafi dari
realitas yang sakral.
Konon, dari hierophanny yang paling mendasar misalnya manisfestasi sakral dalam objek
keseharian hadir di sebuah batu, pohon. Untuk hierophany yang tinggi, seperti pada doktrin
Kristen adalah penjelmaan Tuhan dalam Yesus. Semuanya terdapat kontiunitas yang terus
bersambung.
Ingat bagi manusia tradisional (homo religious) kehidupan ini selalu terbuka untuk
memandang dunia sebagai pengalaman yang sakral.
Namun berbeda dengan orang moderent (Barat) yang berkeyakinan soal manusia hanya
dapat membangun dirinya secara utuh ketika ia mendesakralisasikan dirinya dan dunia yang
sakral menjadi profan.
Pelbagai kesulitan dalam menghadapi penjelmaan yang sakral saat mewujud dalam batu,
pepohonan tak dapat diterima kalangan modern ini.
Malahan melahirkan pertanyaan; Benarkah mereka tengah melakukan pemujaan terhadap
batu, pepohonan? Jawaban orang tradisional tidak. Pasalnya mereka menyambah hierophany
yang menunjukan kesucian dan keabadian.
Sakralitas
Mari kita coba belajar arti dan pentingnya sakralitas dalam kehidupan kita dari manusia yang

hidup di masyarakat arkais (archais) cenderung untuk hidup sebisa mungkin dalam
kesakralan atau dekat dengan objek suci.
Tendensi ini sepenuhnya dapat dipahami karena bagi orang primitif kesakralan sama artinya
dengan kekuasaan (kekuatan). Yang sakral identik dengan ada (being). Kekuatan sakral
menunjukan realitas dan pada saat yang sama keabadian dan efektivtas tindakkan.
Sakral erat kaitanya dengan profan. Oposisi ini sering ditunjukan sebagai oposisi antara yang
nyata dan tidak (palsu). Dengan demikian, kesakralan selalu memanisfestasikan dirinya
sebagai sebuahh realitas yang secara keseluruhannya dari realitas-realitas alami. (Mircea
Eliade,2002:2-8 dan 213)
Menurut Daniel L Pals (2001:275) Sakral adalah supernatural yang luar biasa, mengesankan
dan penting; abadi yang penuh dengan subtansi dan relitas; keteraturan dan kesempurnaan
(cosmos), rumah para leluhur, pahlawan dan para Dewa.
Profan merupakan wilayah urusan setiap hari yang biasa, tidak disengaja dan pada umumnya
tidak penting; yang menghilang dan mudah pecah, penuh banyang-banyang; urusan manusia,
yang berubah dan sering kacau (chaos).
Perlu dibedakan sakral Mircea Eliade dengan Emile Durkheim dan Rudolf Otto. Bagi
Durkheim yang sacral memiliki arti bagi klan. Profan hanya memiliki arti individu.
Berkenaan dengan pemujaan terhadap klan ini dimata Eliade jelas-jelas bukan yang ia
pikirkan. Pasalnya, agama menurutnya bersifat supernatural yang jelas, sederhana dan
berpusat pada yang sakral.
Bagi Otto yang sacral tidak diterapkan untuk kebutuhan masyarakat. Sebaliknya ia menulis
suatu jenis pengalaman manusia individual yang dramatis dan khas. Ihwal pemujaan dengan
yang sacral ini Eliade menjelaskan tentang orang-orang yang merasa bersentuhan dengan
sesuatu yang bersifat di luar duniawi. Mereka berasa telah bersentuhan dengan sebuah
realitas.
Pusat kebudayaan yang sacral ini ditandai dengan sebuah tiang, pilar atau objek vertical yang
menancapkan ke tanah dan menghadap kelangit untuk menyatuka tiga wilayah alam (langit,
bumi, alam bawah/neraka). Gejala ini disebut Axis Mundi (tempat berputarnya seluruh dunia).
Ungkapan “Suatu nostalgia yang dalam akan sugra” merupakan sikap mereka yang khas dari
masyarakat yang sacral dengan selogan Kerinduan untuk dekat dengan Dewa. Keinginan
untuk kembali ia wilayah supernatural (Daniel L Pals, 2001:275-284)
Ketiadaan pemahaman yang sacral dalam kehidupan manusia dikeluhkan oleh Clive Erricker,
sebab kebudayaan sebelumnya telah memasukannya ke dalam way of life dan perspektif
mereka tentang realitas. Sesungguhnya, pernyataan ini menandakan perlunya peradaban
modern melaih kembali apa yang telah hilang di tengah upaya kita untuk pencarian kemajuan
yang tak kunjung usai. Ini merupakan pesan kenabian untuk menentuka kembali sifat dasar
yang benar. Dalam The Sacred and Profane (1959:13)
Concent utama kami adalah menunjukan bagaimana orang realigius berupaya tetap berada
dalam dunia sacral dan oleh karenanya pengalam kehidupan totalnya terbukti bila

dibandingkan dengan pengalam orang tanpa rasa keagamaan yang hidup atau ingin hidup
dalam suatu dunia yang telah terdesakralisasikan.
Untuk mencapai tujuan kami cukuplah sekedar mengamati bahwa desakralisasi merasuk
dalam seluruh pengalamn manusia nonreligius dalam masyarakat modern, konsekuensinya
dia menghadapai kesulitan untuk menemukan kembali dimensi eksistensial manusia yang
terdapat dalam masyarakat kuno. (Peter Connolly [ed], 2002:121)
Sakralitas akan selalu mewujud pada; Pertama, Ruang. Setiap ruang sakral menandakan
adanya hirofani. Kehadiran yang sacral membuat terpisah dari lingkungan kosmik yang
melingkupinya secara qualitatif.
Manusi religious berusaha hidup sedapat mungkin untuk dekat dengan pusat dunia. Dengan
demikian, manusia tradisional hanya dapat hidup dalam komunikasi dengan dunia lain,
transedental secara ritual.
Mari kita tengok proses sakralitas pada ruang yang terjadi dalam pembangunan rumah
(bangunan, tempat ibadah). Bagi masyarakat primitif rumah merupakan manispestasi dari
kosmos.
Sebelum para tukang meletakan batu pertama seorang ahli astronomi akan menunjukan pada
mereka tempat dimana batu harus diletakkan dan tempat ini dianggap terletak di atas ular
yang menyokong dunia. Sang pembuat rumah meruncingkan sebuah tiang panjang dan
mengarahkannya ke tanah yang telah ditunjuk oleh ahli astronomi untuk memaku kepal ular.
Dalam keyakinan mereka ular menyimbolkan kekacauan, ketiadaan bentuk, yang tak
terwujud. Memotong kepalanya sama dengan tindakan penciptaan keadaan dari yang maya
dan tak berbentuk menuju keadaan yang punya bentuk.
Walhasil, rumaha bukanlah sebuah objek “mesin untuk ditinggali”. Melaninkan jagat raya
yang dibangun manusia untuk dirinya sendiri dengan meniru penciptaan paradigmatic dari
dewa-dewa kosmogini.
Untuk orang yang beragama ruang sakral ini hadir dalam Kuil, Bisilika dan Katedral.
Pasalnya, kesucian kuil merupakan bukti melawan segala kerusakan duniawi berdasarkan
bukti-bukti perencanaan arsitektur para dewa yang berada di surga.
Pun Bisilika dan Katedral pada Kristen yang mengambil alih sekaligus meneruskan
simbolisme kosmik. Satu sisi gereja dipahami sebagai tiruan dari Jerusalem surgawi sejak
zaman patristic. Lain sisi gereja adalah perwujudan kerajaan Allah (surga). (Mircea Eliade,
2002: 13-58)
Kedua, Waktu. Pada dasarnya waktu sakral dapat diulang-balik. Yakni penghadiran kembali
waktu mitos (mythical time) primordial. Setiap perayaan keagamaan, waktu peribadatan,
reaktualisasi kejadian-kejadian sacral yang terjadi pada zaman mitos “pada permulaan”.
Partisipasi religious dalam perayaan menandakan perpindahan dari duraasi temporal yang
biasa dan penyatuan dengan waktu mitos yang direaktualisasika dalam perayaan. Dengan
kata lain, peserta perayaan menemukan dalam pesta itu kelahiran pertama dari waktu sakral.

Upaya mereaktualisai kosmogoni hadir dalam tahun baru. Pasalnya meindikasikan waktu
diulang lagi mulai dari awal, yakni retsorsi waktu primordial, murni ada pada saat penciptaan.
Inilah menjadi alasan tahun baru merupakan kesempatan untuk pemurnian untuk
penghapusan dosa, pengusiran setan, sekedar penghapusan dosa.
Pengalaman sakralitas ruang, waktu menunjukkan keinginan untuk bersatu kembali dengan
situasi permulaan saat para dewa-dewa dan leluhur mitos hadir guna menciptakan dunia,
mengaturnya dan menunjukkan fondasi peradaban manusia.
Manusia berkehendaka memperbarui kehadiran aktif para dewa-dewa, leluhur dan
berkeinginan untuk hidup di dunia ini. (Mircea Eliade, 2002: 65-86)
Mengenai Alam. Bagi manusia religious alam tidak hanya sesuatu yang alami, tetapi alam
selalu penuh dengan nilai religious. Hal ini mudah dipahami karena kosmos merupakan
penciptaan illahi; berasal dari kekuasaan dewa-dewa, dunia dipenuhi kesakralan.
Ingat, dunia bukan hanya sakralitas yang dikomunikasikan oleh dewa-dewa dan
mentasbihkan kehadiran ilahiah. Dewa-dewa bertindak memanisfestikan beragama modalitas
dari yang sacral ke dalam setiap struktur dunia dan fenomena kosmik.
Bila posisi Tuhan (Dewa Zeus, Jupiter, Taranis, Perkunnas, Perun, Tien, Ahura Mazda,
Yahweh) selalu menunjukkan ke arah langit, tinggi dan jauh, maka orang primitif menjauh
dari dewa langit yang transdental karena perhatiannya terhadap hierofani kehidupan melalui
penemuan kesuburan tanah yang sakral dan melalui penemuan dirinya sendiri yang
ditampakkan pada pengalam religious yang lebih kongkrit.
Salah satunya terra mater (ibunda bumi). Seorang nabi Indian, Smohalla ketua suku
Wanapun menolak untuk bercocok tanam. Pasalnya ia berkeyakinan sangat berdosa bila kita
melukai dan meneteskan air mata bumi, ibu segala benda.
Ia berkata kamu memintaku membajak tanah? Akankah saya mengambil pisau dan
menyogok payudara ibuku? Ketika saya meninggal, saya tidak dapat masuk ke dalam
tubuhnya untuk dilahirkan kembali. Kamu meminta saya memotong rumput dan membuat
jerami kering dan menjualnya, hingga menjadi kaya seperti orang-orang putih. Namun
bagaimana saya berani memotong rambut ibuku?
Pemahaman ini sering disebut hylogeni, yakni satu keyakinan yang menggap manusia
dilahirkan dari air.
Harus diakui, segala kerusakan yang ada di bumi ini, seperti banjir, longsor, bencana, tsunami
merupakan satu bukti nyata dari segala kerakusan kita dalam mengeksploitasi alam untuk
kepentingan sesaat.
Proses desakralisasi alam cikal bakalnya pelbagai bencana yang seakan-akan enggal lepas
dari kehidupan keseharian kita. Kiranya, kita harus belajar kepada masyarakat tradisional
yang menggapa alam masih memamerkan keramahan, misteri, keagungan. Untuk itu,
menjaga, melestarika alam harus kita pupuk dari sejak dini. (Mircea Eliade, 2002: 117-133)

Mengenai sejarah agama-agama Mircea Eliade memberikan sumbangan yang besar atas
khazanah studi agama-agama. Pasalnya, ia menetapkan ilmu sejarah agama sebagai cabang
pengetahuan.
Semula yang giat mengkampanyekan ilmu agama-agama, studi perbandingan agama
hanyalah Max Muller. Atas ikhtiar Eliade sejarah agama-agama mendapat ruang.
Kecintaanya terhadap pengetahuan ini melahirkan maha karya Encycloaedia of Religion and
Ethic (13 vol. Eninburgh, 1908-1923)
Kongres internasional pertama tentang ilmu agama-agama digelar pada tahun 1897 di
Stockholm. Baru pada tahun 1900 Congres d’Histoire des Religions dibuka di Paris dengan
tidak menyertakan teologi dan filsafat agama dalam Studi Agama-agama.
Baginya sejarawan agama dibagi kedalam dua wilayah dengan mengunakan orientasi
metodologi yang saling melengkapi. Pertama, Kelompok yang memusatkan perhatianya
kepada karakteristik struktur fenomena agama-agama dan berusaha memahami esensi gama.
Kedua, Golongan yang memilih meneliti konteks historisnya dan berusaha menamukan
sekaligus mengkomunikasikan sejarahnya.
Menurut Mircea Eliade agama merupakan suatu sistem yang timbul dari sesuatu yang
disakralkan (sakral) dan harus dijelaskan sesuai bahasanya sendiri serta diposisikan yang
kostan . Ini terlihat di masyarakat Arkais yang berusaha untuk hidup sedapat mungkin dalam
kesakralan atau dekat dengan objek suci. Pasalnya, kesakralan identik dengan kekuasaan,
kekuatan, dan realitas (being).
Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, (terjemah). (Yogyakarta: Qalam, 2001)
Peter Connolly (ed.), Approachhes to the Study of Religion, Imam Khoiri (terjemah)
(Yogyakarta: LKiS, 2002)
Mircea Eliade. The Sacred and The Profane, Nuwanto (terjemah). (Yogyakarta: Fajar Pustaka
Baru. 2002)

Yang Sakral dan Yang Profan: Pendekatan Tradisi
Perancis dalam Teori Agama
Filed under: My Words, Philosophy — 5 Comments
July 17, 2012
Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul ‘Tiga (dari Tujuh)
Teori Agama‘. Masih merupakan review dari salah satu buku favorit saya, yaitu Seven
Theories of Religion (2011) karya Pals.
Akhirnya saya selesai membaca dua teori agama lainnya selain dari ketiga teori yang pernah
di-review disini. Kali ini, saya ingin me-review teori agama-agama aliran Perancis dimana
dikotomi Sakral dan Profan dianggap penting dalam tinjauan mengenai agama. Dua
teoretikus agama yang membahas dikotomi itu dalam keseluruhan teori mereka adalah Emile
Durkheim, seorang sosiolog yang identik dengan studi-studi kemasyarakatan, dan Mircea
Eliade, filsuf dan sejarawan agama yang menolak segala bentuk reduksi keilmuan dalam
studi agama.
Apa itu yang disebut dikotomi Sakral dan Profan? Durkheim menyebutkan bahwa the Sacred
merupakan pengalaman kemasyarakatan yang menjadi lambang kebersatuan transenden yang
dimanifestasikan dalam simbol-simbol masyarakat, sementara the Profane merupakan
pengalaman individual yang dianggap lebih rendah dari pengalaman sakral. Lebih jauh lagi
akan dibahas dalam teori masing-masing tokoh.
Meskipun keduanya sama-sama membahas dikotomi Sakral dan Profan dalam agama,
pendekatan yang dilakukan keduanya terhadap dikotomi itu cukup berbeda.
Emile Durkheim : Masyarakat yang Sakral
Bagi Durkheim, adalah sia-sia mencoba memahami individu hanya dengan memahami
insting biologis, psikologi individu atau kepentingan pribadi. Untuk memahami agama, ia
berpaling dari studi mengenai individu, dan menyatakan bahwa: “ide tentang masyarakat
adalah roh agama”.

http://www.appuntidiscienzesociali.it/Immagini/Durkheim.jpg
Jika Freud menggunakan dimensi dorongan bawah sadar kepribadian dan aspek dorongan
biologis dalam menjelaskan perilaku manusia, maka Durkheim menggunakan dimensi
interaksi sosial dan kemasyarakatan. Baginya, individu tidak akan pernah bisa lepas dari
masyarakat. Sejak lahir, ia telah melakukan kontak dengan masyarakat, yaitu orangtua dan
pengasuhnya. Dapat dipastikan bahwa seorang individu tidak akan pernah bisa bertahan tanpa
adanya masyarakat. Bahkan, tanpa masyarakat, maka tak ada satu hal pun yang akan muncul
dalam kehidupan manusia.
Durkheim menyatakan bahwa dasar dari kepercayaan terhadap agama bukanlah terletak pada
kepercayaan terhadap hal-hal yang supernatural seperti Tuhan, karena pada banyak agama
tidak ditemukan kepercayaan terhadap Tuhan. Ini berarti, asumsi Tylor & Frazer yang
menyatakan pemahaman akan fenomena alam yang didasari oleh kekuatan supernatural
adalah hakikat dari agama tidaklah tepat. Dasar dari agama bukanlah kepercayaan terhadap
kekuatan supernatural (pembedaan atas apa yang natural dan supernatural), melainkan konsep
The Sacred (Yang Sakral). Pada masyarakat beragama, terdapat dua konsep yang terpisah,
yaitu Yang Sakral dan Yang Profan.
Yang sakral adalah: sesuatu yang tinggi, agung, berkuasa, dihormati, dalam kondisi profan ia
tidak tersentuh dan terjamah. Sementara,
Yang profan adalah: kehidupan sehari-hari yang bersifat biasa saja.
Yang sakral berada dalam masyarakat, sementara yang profan ada dalam konteks individu.
Untuk menjelaskan konsep-konsep ini, Durkheim meneliti mengenai masyarakat dengan
agama totemisme; agama yang dianggap sebagai agama paling tua yang pernah ada dalam
sejarah manusia. Untuk membuktikan asal-usul agama, Durkheim berpendapat bahwa tidak
tepat mengatakan bahwa konsep agama adalah kekuatan personal yang disebut Tuhan,
melainkan sebuah konsep yang tidak personal (impersonal), yang dihormati dan dipuja
sekaligus mengatur masyarakat, tetapi tidak memiliki sosok. Darimana lagi bisa didapatkan
fakta-fakta mengenai asal-usul kepercayaan terhadap kekuatan impersonal jika bukan dari

agama paling tua yang pernah ada di muka bumi ini? Melalui agama totemisme yang saat ini
masih bertahan di daerah Australia, Durkheim mampu menjelaskan apa fungsi agama.
Pada agama totemisme, simbol-simbol hewan dan tumbuhan dipuja sebagai sesuatu yang
dihormati. Simbol hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan tertentu merupakan lambang dari
klan-klan tertentu pada suku-suku. Hewan-hewan dan tubuhan-tumbuhan itu suci dan tidak
boleh dbunuh, tidak boleh dilukai atau bahkan didekati kecuali dalam perayaan-perayaan
tertentu. Kesucian totem adalah mutlak dalam masyarakat itu. Kesuciannya dapat dirasakan
oleh tiap-tiap individu, terutama dalam perayaan dan ritual-ritual keagamaan. Pada ritualritual dan perayaan-perayaan itu, totem-totem menyusup dan mengatur kesadaran diri
manusia. Saat pemujaan berlangsung dimana tarian-tarian, lagu-lagu, mantera-mantera dan
perasaan tenteram dan tenang merasuk ke dalam tiap individu, maka detik itu juga individu
kehilangan pribadinya dan masuk ke dalam kerumunan massa Yang Sakral. Sebuah perasaan
melayang-layang yang tidak biasa, yang tidak bisa diungkapkan, tetapi nyata dan bersifat
transendental.
Implikasi dari keyakinan terhadap totem itu selanjutnya mampu menjelaskan bagaimana
masyarakat membangun sistem-sistem kepercayaan tertentu melalui metode asosiasi
hubungan-hubungan antar konsep yang berpusat pada Yang Sakral. Termasuk didalamnya
adalah sistem kepercayaan terhadap roh atau jiwa (yang menjadi dasar dari banyak agama).
Roh yang ada dalam diri seseorang merupakan representasi ketergantungan mereka terhadap
masyarakat. Roh bertugas untuk memberitahukan kepada individu untuk mematuhi
kewajiban-kewajiban moral terhadap masyarakat. Roh yang menjadi representasi masyarakat
dalam diri individu merupakan Yang Sakral sementara badan yang bertugas memenuhi
kebutuhan individu saja adalah Yang Profan. Selanjutnya hubungan asosiatif dikembangkan
lebih lanjut mengenai konsep roh yang bersifat abadi. Dari sinilah penyembahan terhadap
Dewa-Dewi dan Tuhan berasal. Roh-roh yang mampu mengatur alam pada akhirnya dituntut
oleh masyarakat sebagai representasi kepribadian tertentu, yang superior, yang disebut Dewa
dan Tuhan.
Kepercayaan terhadap totem-totem yang pada akhirnya menjadi Dewa dan Tuhan itu
bukanlah hal yang paling penting dalam agama menurut Durkheim. Yang paling penting,
adalah perasaan Sakral yang dihasilkan dari ritual-ritual keagamaan. Pemujaan-pemujaan
yang ada dalam ritual-ritual atau perayaan-perayaan dalam setiap agama bertujuan bukan
untuk totem atau Dewa, melainkan untuk mejaga individu-individu agar tidak melupakan arti
penting klan dan memberikan perasan bahwa Yang Sakral adalah sesuatu yang berbeda dan
memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada Yang Profan.
Dari sini, terjawab sudah arti penting ritual-ritual keagamaan dari agama-agama yang pada
saat ini masih ada. Mereka dapat memberikan arti penting suatu masyarakat dalam diri kita
sekaligus memberikan kepada kita perasaan yang transenden, yang tidak terjamah, yang tidak
tercapai dalam kehidupan sehari-hari yang bersifat individual. Ini juga menjelaskan mengapa
pemuka-pemuka agama dan kalangan-kalangan beragama yang taat sangatlah dijunjung
tinggi oleh masyarakat. Karena mereka sudah mengorbankan diri mereka untuk kepentingan
masyarakat. Ia menjadi contoh bagi masyarakat untuk meninggalkan Yang Profan karena
Yang Sakral berada di kepentingan masyarakat. Ini juga menjelaskan mengapa masyarakat
membenci pemuka-pemuka agama yang nampaknya lebih mementingkan kebutuhan Profan
dibandingkan Sakral.

Kritik terhadap Durkheim berasal dari kalangan antropolog yang menyatakan bahwa
interpretasi dan analisa bukti-bukti data yang dikumpulkan olehnya dipenuhi oleh fakta-fakta
yang tidak memuaskan. Selain itu, dalam beberapa masyarakat yang ada diluar tinjauan
Durkheim lebih mengkhususkan pada natural dan supernatural, bukan sakral dan profan.
Mircea Eliade: Hakikat dari yang Sakral
Oleh karena sifatnya yang fungsional dan dependen terhadap psikologi, sosiologi, dan
ekonomi, maka teori-teori agama yang dikemukakan Freud, Durkheim, dan Marx akan
menghasilkan kesimpulan yang bersifat reduksionistik. Penjelasan menganai satu aspek saja
tidak akan mampu memahami agama secara keseluruhan. Untuk itu, Mircea Eliade
melakukan analisis terhadap agama diluar konteks fungsionalis yang menggunakan
pendekatan ilmu tertentu. Agama harus dianggap sebagai sebuah variabel yang independen,
dimana faktor-faktor lainnya menjadi bergantung pada agama dan bukan sebaliknya.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/8/8c/Mircea.eliade.jpg
Dalam studinya mengenai agama, Eliade mengkhususkan pada studi dengan masyarakat
arkhais, yaitu masyarakat pra-sejarah dengan peradaban paling kuno. Mereka berburu,
bercocok tanam, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan alami lainnya. Dalam masyarakat ini,
akan selalu ditemui apa yang disebut sebagai pemisahan antara Yang Sakral dan Yang
Profan.
Yang sakral adalah: Sesuatu yang supernatural, luar biasa, amat penting, dan tidak mudah
dilupakan. Sementara,
yang profan adalah: Sesuatu yang biasa, bersifat keseharian, hal-hal yang dilakukan seharihari secara teratur dan acak, dan sebenarnya tidak terlalu penting.
Yang sakral bersifat abadi, mengandung substansi, dan nyata. Di dalam yang sakral
mengandung kesempurnaan dan keteraturan, dimana di dalamnya bersemayam roh, nenek
moyang, tempat tinggal Dewa-Dewi dan Tuhan. Sementara yang profan bersifat mudah
hilang, terlupakan, dan tidak nyata. Di dalamnya, manusia selalu berbuat salah, manusia

selalu berubah, dan mengalami kekacauan. Dari sini terlihat sebenarnya perbedaan konsep
Yang Sakral antara Durkheim dan Eliade. Sementara Durkheim selalu mengunakan
pendekatan sosial kemasyarakatan yang non-supernatural dalam menentukan apa yang sakral
itu, Eliade berpendapat sebaliknya. Baginya, kekuatan supernatural adalah inti dari yang
sakral itu. Dengan demikian, pemikiran Eliade ini bukanlah bersumber sepenuhnya dari
pemikiran Durkheim meski menggunakan istilah-istilah yang sama, melainkan bersumber
dari seorang teolog yang pernah menjadi pembimbingnya, yaitu Rudolf Otto.
Otto mengartikan perjumpaan dengan yang sakral (The Holy) sebagai mysterium (hal yang
misterius). Baik itu mysterium fascinosum (misterius yang mengagumkan) atau mysterium
tremendum (misterius yang menakutkan), keduanya merupakan perjumpaan dengan yang
sakral. Perjumpaan yang sakral ini memberikan perasaan yang nyata, agung, tinggi, dan
menakjubkan. Perasaan ini tidak sama dengan perasaan-perasaan lainnya yang bersifat
duniawi. Perasaan inilah yang menjadi titik kunci apa yang disebut dengan agama. Eliade
sepenuhnya sepakat dengan hal ini. Ia menyatakan bahwa perjumpaan dengan yang sakral
dapat dialami oleh semua orang. Perasaan ini begitu kuatnya sehingga kekuatan dari yang
sakral itu dianggap sebagai sebuah realitas, sesuatu yang nyata. Kesakralan adalah
keseluruhan realitas yang dahsyat dan abadi. Manusia ingin berada dekat dengan kekuatan
itu. Meskipun benar inilah apa yang dianggap Tuhan oleh agama-agama seperti Yahudi,
Nasrani, dan Islam, namun Eliade meminta untuk tidak menginterpretasikan yang sakral
sebagai Tuhan, karena konsepnya mengenai yang sakral tidak hanya berpusat pada
Tuhan. Segala konsep-konsep yang berada dalam ruang lingkup perjumpaan dengan yang nirduniawi dapat dikatakan sebagai Yang Sakral, dan ini tidak berarti harus selalu dengan Tuhan
yang bersifat personal.
Dengan kepercayaan terhadap kekuatan yang agung dan nir-duniawi yang nyata itu, adalah
mudah menjelaskan bagaimana kepercayaan yang begtu kuatnya pada akhirnya membentuk
sistem-sistem tertentu. Manusia menyerahkan hal-hal yang profan juga kepada yang sakral.
Dongeng-dongeng dan mitologi-mitologi mengenai masyarakat arkhais akan selalu
mengandung konsep penyerahan diri terhadap yang sakral. Yang sakral mampu mengatur
segala aspek kehidupan manusia. Tidak jarang kita dengar kisah-kisah mengenai doa-doa
yang perlu dipanjatkan sebelum memulai suatu pekerjaan, atau aturan-aturan yang
diberlakukan dalam membangun rumah, misalnya. Semuanya tidak terlepas dari yang sakral.
Setiap konsep yang sakral memiliki titik pusatnya yang nyata. Dalam hal ini, merupakan
pusat dunia. Dalam Islam dikenal Ka’bah yang agung, yang menjadi pusat ibadah dari semua
umat muslim, sementara dalam agama Kristen dikenal tangga Yakub, seorang penginjil yang
melihat tangga menuju surga tepat dihadapannya, lalu ia mebentuk batu yang menyerupai
tangga itu. Dalam agama kuno seperti kepercayaan bangsa Norse, terdapat pohon Yggdrasil
yang disebut sebagai pohon kehidupan. Begitu pula dalam kepercayaan-kepercayaan lainnya
sehingga pusat dunia (axis mundi) ini merupakan sesuatu yang universal dan ada di setiap
agama, yang memiliki fungsi sebagai lambang penciptaan dunia. Hal ini jugalah yang
dilakukan oleh simbol-simbol lainnya yang diciptakan manusia. Simbol-simbol itu ada
karena pemaknaan tertentu mengenai yang sakral.
Seluruh pemikiran masyarakat arkhais mengenai yang sakral adalah dorongan akan satu hal:
yaitu dorongan untuk melepaskan diri dari sejarah dan ingin kembali pada waktu ketika seisi
dunia diciptakan. Keinginan ini oleh Eliade dinamakan dengan nostalgia surga firdaus. Jauh
di lubuk hati masyarakat arkhais, mereka ingin meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka
dan segala sesuatu yang sifatnya profan. Yang profan ini merupakan sejarah mereka, sejarah
hidup dan nenek moyang mereka diluar penciptaan bumi dan seisinya. Mereka ingin kembali

ke Surga. Dengan demikian, kehidupan itu sama sekali tidak ada artinya bagi mereka. Mereka
ingin meraih kekekalan, keindahan, kesempurnaan, dan sejarah hanya membawa mereka
pada yang sulit, yang tidak sempurna, dan yang pahit. Dengan kata lain, kehidupan
sebenarnya tidak akan bisa dicapai melalui sejarah.
Berbeda dengan masyarakat arkhais, filsuf-filsuf modern dn masyarakat ilmiah berkeinginan
sebaliknya. Dengan perkembangan dan kemajuan pemikiran yang ada, mereka merasa bahwa
sejarah tidak perlu dihapuskan. Manusia tidak perlu kembali pada yang sakral karena yang
sakral itu sebenarnya tidak ada. Kita saat ini sudah bisa hidup tanpa adanya yang sakral.
Eliade berpihak pada agama, bukan pada filsuf modern.
Banyak kritik-kritik terhadap Eliade ditujukan kepada perbandingan-perbandingan antar
agama yang ia lakukan tidaklah cukup global. Kritik pedas juga mengatakan bahwa teori ini
memiliki bias-nya sendiri karena Eliade dianggap berpihak pada agamanya sendiri, yaitu
Katolik Roma.
Dengan demikian, berakhirlah pembahasan atau review singkat mengenai agama-agama yang
mengkhuuskan pada dikotomi sakral dan profan ini. Jika ditinjau lagi, maka dapat kita lihat
bahwa Durkheim dan Eliade memiliki posisi yang sangat berbeda dalam memandang agama.
Keseluruhan review ini tentu saja tidaklah cukup untuk membahas keseluruhan isi teori
tokoh-tokoh diatas. Jika ingin lebih jauh memahaminya, maka bisa membaca buku Pals yang
akan saya sebutkan di daftar pustaka berikut ini.
Next, saya akan membahas mengenai dua tokoh paling modern yang membahas mengenai
teori agama, yaitu Evans-Pritchard dan Geertz.
Daftar Pustaka:
Pals, Daniel L. (2011). Seven theories of religion: Tujuh teori agama paling komprehensif.
Jogjakarta: IRCiSoD.

MEMBACA NALAR STUDI AGAMA SAKRAL DAN
PROFAN KARYA MERCIA ELIADE
16 f 2009 pada 5:09 am (Agama)
Tags: Pendidikan
Buku “Sakral Dan Profan” adalah sebuah dokumen yang sangat mendasar tentang
pemahaman manusia tentang agama dan bagaimana ia menguji kualitas hidupnya. Mircea
Eliade (1907-1986) tidak membuang-buang waktu dengan berupaya menjelaskan atau
mendefinisikan pengalaman yang sakral dalam kerangka disiplin-disiplin yang lain.
Misalnya, yang sakral sebagai sebuah pengalaman psikologis (Campbell) atau yang sakral
sebagai sebuah fenomena sosiologis (Burkert). Sebaliknya, ia menganalisa yang sakral
sebagai yang sakral. Eliade menunjukkan bagaimana ruang dan waktu yang sakral adalah
sungguh-sungguh ruang dan waktu yang riil, nyata, permanen dan abadi; kebalikan dengan
ruang dan waktu yang labil, selalu berubah-ubah dari dunia profan. Kalangan homo religiusus
(orang-orang tradisional) menghidupkan kembali kebaikan-kebaikkan primordial dari dewadewa dan ritus-ritusnya, tentu saja tidak seperti manusia modern, dalam semua tingkah
lakunya, karena tindakan-tindakan primordial itulah yang sesungguhnya nyata. Dengan
demikian, merambahnya fenomena sakral ke dalam ruang profan menciptakan ruang yang
sakral, ruang yang tercipta, yang abadi, yang nyata.
Dalam buku fenomenal “Sakral Dan Profan” ini, Eliade mendeskripsikan dua macam
perbedaan mendasar dari pengalaman: tradisional dan modern. Manusia tradisional atau
“homo religius” selalu terbuka untuk memandang dunia sebagai pengalaman yang sakral.
Sedangkan manusia modern tertutup bagi pengalaman-pengalaman semacam ini. “manusia
…hanya dapat membangun dirinya secara utuh ketika ia mendesakralisasikan dirinya dan
dunia”.[1] Baginya, dunia hanya dialami sebagai yang profan. Yang menjadi Blue Print buku
ini kemudia adalah menunjukan apakah pengalaman-pengalaman yang berlawanan secara
mendasar ini pada setiap tahapannya memang konsisten. Manusia tradisional seringkali
mengekspresikan pertentang ini seabagai nyata versus tidak nyata atau pseudoreal dan ia
berusaha sebisa mungkin untuk hidup dalam yang sakral, agar sepenuhnya dapat
menghempaskan dan menyempurnakan dirinya dalam realitas. Menurut Eliade, yang sakral
diketahui oleh manusia karena ia memanifestasikan dirinya secara berbeda dari dunia profan.
Manifestasi dari yang sakral ini disebut Eliade sebagai “hierofani”.[2] Bagi Eliade, ini adalah
konsep fundamental dalam mengkaji yang sakral dan berkali-kali buku ini selalu merujuk
kepada konsep ini.
Eliade memperkenalkan konsep hierofani, sebuah konsep di mana yang sakral
memanifestasikan dirinya pada diri manusia, pengalaman dari orde realitas lain yang
merasuki pengalaman manusia. Ia memaparkan ide tentang ruang yang sakral, yang
mengambarkan bagaimana satu-satunya ruang yang “nyata” adalah ruang sakral, yang
dikelilingi oleh satu medan tanpa bentuk. Ruang sakral menjadi kiblat bagi ruang yang
lainnya. Ia mendapatkan bahwa manusia mendiami sebuah dunia tengah (midland), antara
dunia-luar yang kacau dan dunia-dalam yang sakral, yang diperbaharui lagi oleh praktik dan
ritual sakral. Dengan mentahbiskan satu tempat dalam dunia profan, kosmologi direkapitulasi
dan yang sakral menjadi mungkin diakses. Ini menjadi sentra dari dunia primitif. Ritual
mengambil tempat dalam ruang sakral ini, dan menjadi satu-satunya cara partisipasi dalam
kosmos yang sakral ketika berupaya menghidupkan dan menyegarkan kembali dunia profan.

Selanjutnya, Eliade mengaitkan waktu sakral dengan mitologi. Ketika “waktu profan” adalah
linear, waktu sakral kembali pada permulaan manakala segalanya nampak lebih “nyata”
daripada keadaannya sekarang. Lagi-lagi ritual memainkan peran penting. Waktu digerakkan
kembali dengan menjadikannya baru kembali sementara ritual-ritual mengikat kembali para
penganut kepada keaslian kosmos yang sakral. Maka, siklus satu tahun menjadi paradigma
bagi pembaharuan kembali masyarakat dan dunia genesis yang sakral.
Ia lalu menganalisa bagaimana sejumlah unsur alam secara khusus bermain di dalam
pengalaman yang sakral. Ia melihat air, pohon sakral, rumah dan tubuh. Ia mencatat bahwa
“tidak ada tubuh manusia modern, seateis apapun, yang sepenuhnya tidak merasakan daya
tarik alam”.[3] Simbolisme kosmik menambahkan satu nilai baru kepada objek atau tindakan
tanpa mengeser nilai-nilai yang inheren. Manusia religius mendapatkan dalam dirinya
kesucian yang sama dengan yang ia temukan dalam kosmos. “keterbuikaan terhadap dunia
memungkinkan manusia religius untuk mengenal dirinya dalam pengenalannya akan dunia –
dan pengetahuan ini berharga baginya karena inilah cara beragama, karena hal ini berkaitan
dengan being”.
Di bagian terakhir buku “Sakral Dan Profan” ini, Eliade memaparkan perbedaan antara homo
religiosus dan manusia profan. Manusia non-religius mendapatkan bahwa segala sesuatu
telah didesakralisasi. Ini akan merusak sekaligus juga memiskinkan karena semua tindakan
dan kejadian telah tercerabut dari signifikansi spritualnya. Ia menunjukkan kehilangan yang
besar dalam kristen:
“kepekaan religius dari penduduk kota sangatlah dangkal dan miskin. Liturgi kosmik,
disertakannya misteri alam dalam darama kristologis, tidak dapat diakses lagi pada kehidupan
orang kristen di kota modern. Pengalaman religius mereka tidak lagi terbuka bagi kosmos.
Dalam analisa terakhir, ia adalah pengalaman yang sangat privat; keselamatan adalah sebuah
persoalan yang menguras perhatian manusia untuk mengurusi tuhannya; kebanyakan manusia
mengakui bahwa ia bukan hanya bertanggung jawab kepada tuhan. Namun hubungan
manusia-tuhan-sejarah ini tidak meluangkan tempat sama sekali bagi kosmos. Dari sini akan
kelihatan bahwa, bahkan bagi seorang kristen tulen, dunia tidak lagi dipahami sebagai karya
tuhan”.[4]
Fenomena pengalaman religius tersebut tidak menyisakan perdebatan apapun. Eliade
menganalisa bahwa karakteristik dari fenomenologi ini bertentangan dengan yang telah
dialami manusia selama puluhan ribu tahun dengan agama modern; agama yang telah
dilucuti, dirasionalisasi. Jelas sekali, buku ‘Sakral Dan Profan’ menunjukan apa yang hilang
dari agama-agama “modern”. Harga yang telah mereka bayar untuk menjadi modern
mencabut mereka dari fenomena mendasar yang senantiasa memperkuat pengalaman spritual
di masa lalu. Dan lokus utama dari buku Sakral Dan Profan adalah “menunjukan dalam hal
mana manusia religius berusaha untuk bertahan sebisa dan selama mungkin dalam sebuah
semesta yang sakral, dan oleh karena itu keseluruhan pengalaman hidupnya disajikan sebagai
perbandingan dengan pengalaman dari orang yang tidak memiliki kepekaan religius, orang
yang hidup –atau akan hidup – dalam sebuah dunia yang terdesakralisasikan”.
Tinjuan terhadap buku pengantar klasik dalam studi agama ini sebenarnya cukup
mengkhawatirkan karena sangat terbatasnya isi kepala tentang subjek ini. Terlepas dari pada
hal itu, yang ingin diuji adalah bagaimana hubungan Eliade dengan telaahnya terhadap
kategori pengalaman religius. Pembahasan Eliade mengenai pengalaman relius
menampakkan keterkaitan yang menarik dengan perdebatan-perdebatan perenialisme /

kontektualisme. Akan nampak dalam kaitannya dengan persoalan sifat pengalaman religius
bahwa Eliade, selemah apapun, adalah seorang perenialis. Lebih dari sekedar menganggap
bahwa semua pengalaman religius atau mistis bertemu dengan realitas yang sama
(perenialisme), Eliade mengatakan bahwa pengalaman yang sakral adalah bagian alami dari
pengalaman manusia (apa yang akan saya sebut perenialisme lemah). Simak saja kutipan
ungkapan Eliade berikut ini:”adalah berbeda pengalaman religius yang dijelaskan melalui
perbedaan-perbedaan dalam bidang ekonomi, budaya dan organisasi sosial – atau singkatnya
oleh sejarah. Kendati demikian, antara para pemburu yang nomaden dan petani yang
menetap, ada kesamaan perilaku yang bagi kita nampak sangat penting daripada perbedaanperbedaannya: keduanya hidup dalam sebuah kosmos yang sakral, keduanya sama-sama
berada dalam sakralitas kosmis yang manifestasinya sama seperti dalam dunia binatang dan
dunia tumbuh-tumbuhan”.
Eliade melihat karyanya sebagai penerus dari proyek yang dimulai oleh Rudolft Otto dalam
Das Heilige.[5] Eliade berusaha mengeksplorasi kekuatan eksplanatif dalam analisa Otto
mengenai pengalaman religius. Eliade memfokuskan diri untuk menunjukkan bahwa ide
pengalaman religius – sangat membantu membangkitkan rasa hormat sekaligus rasa takut
ketika berjumpa dengan entitas sakral yang sama sekali asing dari dunia kehidupan lahir –
adalah eksplorasinya terhadap signifikansinya religius dari objek natural, proses kehidupan,
ruang sakral (tempat-tempat suci agama), dan waktu sakral (ritual keagamaan). Keistimewaan
dari pendekatan Eliade adalah pengintegrasiannya atas pengalaman religius “biasa” dan
pengalaman yang “luar biasa” atau abnormal ke dalam satu pandangan yang menyeluruh
tentang pengalaman religius.
Teori Eliade adalah reduksionis (seperti semua teori yang berkaitan dengan fenomenanya). Ia
berusaha menunjukkan bagaimana sejumlah pengalaman atau aktivitas religius
menyimbolkan perjumpaan manusia dengan hal yang sama sekali lain (yaitu yang sakral).
Mungkin inilah perbedaan antara kontektualis dan prenialis dalam kaitanya dengan
pengalaman religius. Perbedaan utama antara Eliade dan beberapa kalangan kontektualis
yang bermunculan setelahnya adalah bahwa Eliade jelas-jelas mempercayai perjumpaan
dengan yang sakral sebagai sebuah aspek yang normal dan beraturan (kendati itu pun natural)
dalam kehidupan manusia. Kalangan kontektualis tidak terlalu menolak padangan ini sepertri
ketika mereka abstain menyikapi kecenderungan yang mengeneralisasi watak dan perilaku
manusia. Dengan mengingat hal itu, ia memungkasi bukunya dengan beberapa refleksi atas
mengejalanya pengalaman-pengalaman pseudoreligius di kalangan nonreligius (sehingga
menunjukkan kekuatan penjelas yang signifikan dengan teorinya). Dalam bukunya ini, Eliade
mengadopsi bentuk perenialisme lemah untuk mengembangkan teorinya tentang pengalaman.
Setuju atau tidak, orang patut memuji betapa cemerlang teori yang dikemukakannya.
Sakral Dan Profan terbagi ke dalam empat judul yang terkait dengan ruang (space), waktu
(time), alam (nature) dan manusia (man). Ditambahkan pula pada bagian akhir yang terpisah
dari tema buku “Survey Kronologis dari Sejarah Agama Sebagai Cabang Ilmu”. Pada bagian
pertama, Eliade mengeksplorasi “keragaman ruang pengalaman religius”. Dalam
pengalamanya, manusia modern cenderung merasa bahwa semua ruang adalah sama. Ia telah
mematematisasi ruang, menyeragamkannya dengan mereduksi setiap ruang pada
kesepadanan dari begitu banyak unit ukuran. Apa yang menjadi perbedaan antara tempattempat yang ada di sana, biasanya hanya karena pengalaman yang diasosiasikan individu
dengan sebuah tempat bukanlah tempat itu sendiri, misalnya tempat kelahiran saya, tempat
yang saya sukai, dan sebagainya. Namun manusia religius tidak memiliki satu ruang dalam
pemahaman ini. Menurutnya, beberapa ruang berbeda secara kualitatif. Ruang yang sakral,

tentu saja lebih kokoh dan bermakna. Ruang lainya adalah profan, kacau dan tanpa makna.
Manusia tradisional tidak mampu hidup dalam dunia profan, karena ia tidak
mengoreintasikan dirinya. Untuk mencapai orientasi ia pertama kali harus memiliki satu
sentral. Sentral tersebut tidak datang dengan putusan yang spekulatif atau arbriter namun ia
adalah given. Wahyu dari yang sakral, hirofani membentuk sentral dan sentral membentuk
dunia karena setiap ruang yang lain menderivasikan maknanya yang sentral.
Bab dua berkaitan dengan waktu sakral. Di sini, Eliade secara singkat mengupas materi yang
ia banyak cakupkan dalam “The Myth of the Eternal Return”. Seperti pengalaman ruangnya,
manusia religius memahami pengalaman waktu sebagai sakral sekaligus profan. Waktu yang
sakral, waktu perayaan, adalah kembali pada waktu mistis yang mengawali permulaan segala
sesuatu, inilah yang oleh Eliade disebut sebagai “in illo tempore”. Manusia religius
mengharapkan untuk selalu hidup dalam waktu yang kokoh ini. Ini adalah kehendak untuk
“kembali pada kehadiran dewa-dewa, untuk memulihkan kekuatan, kesegaran dunia sejati
yang eksis “in illo tempore”. Menurut Eliade, waktu sakral atau waktu perayaan tidak
mungkin didapatkan oleh manusia modern, karena manusia modern melihat waktu profan
adalah keseluruhan hidupnya dan ketika ia meninggal hidupnya juga binasa.
Bab tiga bertajuk “Sakralitas Alam Dan Agama Kosmik”. Di sini Eliade menjelaskan bahwa
bagi manusia religius alam, tidak semata-mata “alami” namun selalu mengungkapkan sesuatu
di luar dirinya. Baginya, dunia adalah simbolis atau transparen; dunia dewa-dewa bersinarterang melalui dunianya. Alam raya dilihat sebagai sebuah semesta yang tertata yang
memanifestasikan modalitas yang berlainan dari being dan dari yang sakral. Eliade lalu
mengeksplorasikan beberapa simbol khusus menjadi simbol-simbol kunci dari yang sakral:
langit, air, tanah, tumbuhan, dan bulan. Dalam kategori-kategori ini, Eliade memberikan
perhatian khusus pada baptisme Kristen dan Pohon Kehidupan. Kesimpulannya, watak khas
modernitas adalah desakralisasi alam.
Bab empat dan terakhir mencakup penyucian kehidupan manusia. Penyucian memungkinkan
manusia religius untuk hidup dalam eksistensi yang terbuka. Ini berarti manusia tradisional
mengarungi kehidupannya dalam dua dunia. Ia hidup dalam kesehariannya, namun ia juga
berbagi hidup di luar dunia hidupnya sehari-hari, kehidupan kosmos atau dewa-dewa. “Dunia
yang ganda” dari kehidupan manusia dan kosmis ini secara tepat terekspresikan dalam
pengalaman manusia tradisinal sendiri dan tempat tinggal mereka sebagai mikrokosmos atau
semesta kecil. Sebagaian besar dari bab ini berkaitan dengan triple “tubuh-rumah-kosmos”
dan dengan makna inisiasi. Inisiasi adalah cara manusia tradisional menyucikan hidupnya. Ia
mengandung pandangan keagamaan yang junik tentang dunia, karena manusia tradisional
melihat dirinya belum lengkap atau belum sempurna. Maka kelahiran alaminya harus
disempurnakan dengan serangkaian kelahiran kedua atau kelahiran spritual. Hal ini
disempurnakan dengan “ritus-ritus perjalanan” yaitu inisiasi. Inisiasi adalah semacam
kelahiran, namun ia selalu disertai dengan kematian menuju ruang-waktu setelahnya.
Keleban dari Sakral Dan Profan adalah ada pada kombinasinya atas keringkasan dan
kedalaman wawasan yang menakjubkan. Eliade menulis secara sederhana dan jelas
(walaupun dengan berbagai peristilahan tehnis yang cukup rumit) tentang persoalanpersoalan yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Inilah karya akademis yang sangat
cemerlang. Sebelum Houston Smith, Eliade-lah agaknya sang penulis sesungguhnya tentang
agama. Tulisan-tulisannya sangat dalam dan indah, mengeksplorasi apa yang profan dan apa
yang sakral khususnya melalui evolusi mitos dan agama awal. Buku Sakaral Dan Profan
merupakan buku yang sangat hebat. Ia memaparkan unsur-unsur dasar pengalaman religius,

dan memunkinkan pembaca untuk mencatat manakah yang hilang dari pengalaman itu yang
bisa dirasakan dalam masyarakat modern dan kehidupanya sendiri.
[1] Mircea Eliade. Sakral Dan Profan. Nuwanto (Terj.). Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
2002. Hal: 213
[2] Ibid. Hal: 14
[3] Ibid. Hal: 157
[4] Ibid. Hal: 181
[5] Ibid. Hal: 8

Judul: Tugas Antrop 1

Oleh: Asep Miftah


Ikuti kami