Makalah Teknik Pemerahan

Oleh Alexander Oneikepo Tekege

16 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Teknik Pemerahan

Makalah Teknik Pemerahan

DI SUSUN
OLEH :
Nama: Alex Tekege
NIM: 2018-77-020

FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI
DIPLOMA TIGA BUDIDAYA TERNAK ( D III BDT)
UNIVERSITAS PAPUA
MANOKWARI
2019

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Sapi perah adalah ternak yang produksi utamanya adalah air susu. Susu merupakan
hasil akhir dari ternak perah. Kebutuhan akan susu sekarang meningkat sehingga perlu
dilakukan peningkatan produksi susu, namun susu yang hasilkan juga harus higienis, tidak
tercemar dan terjamin kualitasnya. Untuk menghasilkan susu yang terjamin kualitasnya
maka, penanganan, peralatan dan pemerahan harus dilakukan dengan benar untuk
menghindari terjadinya pencemaran terhadap susu, disamping kualitas dan kesehatan susu
akan terjamin.
Proses pemerahan merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini
disebabkan karena susu adalah produk utama dari sapi perah, dan jika tidak ditangani dengan
baik, maka kualitas susu yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Susu sebagai bahan yang kaya dengan kandungan nutrisi menyebabkan mikroba
akan mudah berkembang biak pada susu, demikian juga berbagai pencemer lainnya berupa
material fisik dari lingkungan sekitar, dan juga susu sangat mudah menyerap bau yang ada.
Berdasarkan hal ini, maka dibutuhkan penangan khusus sebelum, ketika, dan setelah proses
pemerahan ternak, demikian juga susu yang dihasilkan, harus segera ditangani dengan baik
dan benar, tentu tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan pada produk susu
yang telah diperah.
Pemerahan pada umumnya masih tradisional atau manual yaitu masih menggunakan
tangan dan jari-jari tangan manusia, sedangkan pemerahan secara mekanik masih jarang
dijumpai, hal ini karena masih rendahnya pemilikan sapi perah yaitu antara 2-5 ekor per
peternak. Begitu pula dalam penggunaan peralatan masih secara tradisional
Tujuan
Untuk mengetahui dan menpelajari cara serta teknik pemerahan susu agar pada proses
pemerahan tidak terjadinya pencemaran terhadap susu serta kualitas susu terjamin

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Manajemen Pemerahan
Pemerahan adalah tindakan mengeluarkan susu dari ambing. Pemerahan bertujuan

untuk mendapatkan produksi susu yang maksimal. Terdapat tiga tahap pemerahan yaitu
pra pemerahan, pelaksanaan pemerahan dan pasca pemerahan (Syarief dan Sumoprastowo,
1990).
Tujuan dari pemerahan adalah untuk mendapatkan jumlah susu yang maksimal dari
ambingnya, apabila pemerahan tidak sempurna sapi induk cenderung untuk menjadi kering
terlalu cepat dan produksi total menjadi menurun (Putra, 2009).
1.

Fase Persiapan
Sebelum

pemerahan

dimulai,

pemerah

mencuci

tangan

bersih-bersih

dan

mengeringkannya, kuku tangan pemerah dipotong pendek agar tidak melukai puting sapi,
sapi yang akan diperah dibersihkan dari segala kotoran, tempat dan peralatan telah
disediakan dan dalam keadaan yang bersih (Muljana, 1985).

Gambar 1.Gambar fase Persiapan.
Sebelum diperah sapi dimandikan terlebih dahulu, ekor diikat ke kakinya agar tidak
mengibas-ibas ketika diperah, pemerah juga harus dalam keadaan sehat serta setiap puting
dicek kesehatannya (Syarief dan Harianto, 2011),
2.

Pelaksanan Pemerahan Susu
Proses pemerahan yang baik harus dalam interval yang teratur, cepat, dikerjakan dengan

kelembutan, pemerahan dilakukan sampai tuntas, tengan menggunakan prosedur sanitasi,
serta efisien dalam menggunaan tenaga kerja (Prihadi, 1996).
Berusaha memperoleh hasil air susu sebanyak-banyaknya, merupakan tugas yang pokok
dari keseluruhan pekerjaan bagi usaha ternak perah. Tugas kedua adalah menjaga agar sapi
tetap sehat dan ambing tidak rusak. Pelaksanaan pemerahan yang kurang baik, mudah sekali
menimbulkan kerusakan pada ambing dan puting karena infeksi mastitis, yang sangat
merugikan hasil susu.

Dengan menggunakan 2 teknik pemerahan yaitu teknik pemerahan menggunakan mesin
perah (teknologi) dan teknik pemerahan manual/ tangan.
A. Menggunakan Mesin Perah
Sebelum sapi diperah, kandang dan sapi harus dibersihkan terlebih dahulu
menggunakan air bersih. Yang lebih penting adalah bagian puting ambingnya. Karena jika
puting sapi yang akan diperah dalam keadaan masih kotor, maka mikroba yang menenempel
dapat terbawa dan menyebabkan terjadinya kontaminasi atau pencemaran bakteri. Dalam
waktu yang singkat, mikroba pada susu akan tumbuh dan berkembang lebih cepat dan nilai
kwalitas susu menjadi jelek dan dianggap susu rusak. Jika susu sudah dalam keadaan rusak
dan terkontaminasi bakteri, maka dampaknya pada konsumen yang meminumnya.
Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pemerahan menggunakan mesin
perah yaitu :

5.

1.

Sapi dan kandang dibersihkan dengan air

2.

Ambing harus diperhatikan kebersihannya

3.

Mesin perah disediakan

4.

Listrik dinyalakan

Dengan hati-hati mesin penyedot (vacum leaner) ditempatkan satu-persatu pada bagian
putingnya

6.

Ketika pemerahan sedang berjalan, berilah catatan (recording) pada setiap tabung yang sudah
terisi susu sesuai dengan nomor sapinya.

7.

Setelah pemerahan selesai, maka alat-alat dibersihkan dan disimpan kembali pada tempat
yang tersedia
Kelebihan dan kekurangan
1.

Kelebihan menggunakan mesin perah

a)

Dengan menggunakan mesin perah, maka hasil pemerahan lebih optimal. Karena pada

saat pemerahan susu tidak tercecer kemana-mana
b) Waktu yang dibutuhkan lebih efisien dan relatif cepat
c)

Pekerja tidak terlalu berat dalam memerah

d) Jika waktu pemerahan lebih cepat, maka dampak tercemarnya mikroba lebih kecil
2.

Kekurangan

a)

Biaya untuk membeli mesin terlalu mahal

b) Jika semua mesin dinyalakan maka listrik yang terpakai juga harus besar

Pelaksanan penanganan susu yang baik (Good Handling Practices) memerlukan peralatan
penanganan yang baik dan benar sesuai tempat tahapan penanganan susu dilakukan.
(Anonim, 2011)
Alat Yang Ada Dipemerahan Sapi Antara lain:
a. Ember Susu
Fungsi : Sebagai wadah penampungan susu yang diperah secara manual.
Spesifikasi : SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu
b. Saringan Susu / Strainer
Fungsi : Benda-benda asing yang terikut air susu pada waktu pemerahan (rambut, sel
ephithel, kotoran lain), perlu disaring agar air susu benar-benar bersih.
Spesifikasi : SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu
c. Milk Can
Fungsi : Sebagai alat untuk menampung dan menyimpan sementara susu hasil pemerahan,
untuk segera dikirim ke Koperasi / MCC (Milk Collecting Center) maupun ke Industri
Pengolahan Susu yang jarak dan waktu tempuhnya tidak lebih 2 jam dari proses pemerahan.
Alat ini berbahan stainless steel/aluminium, berpenutup rapat dan umumnya berkapasitas 5,
10, 20, 30, 40, 50 liter.
Spesifikasi : SK Ditjen Peternakan No. 17/1983 tentang wadah susu
d. Mesin Pemerah Susu
Fungsi : Sebagai sarana untuk memerah susu secara pneumatis, dimana pemerahan dilakukan
dengan membuat tekanan vakum pada penampung dan susu diperah kedalam penampung
melalui unit perah . Pemerahan dengan mesin perah akan mengurangi kontak susu dengan
tukang perah dan lingkungan kandang, sehingga susu hasil perahan lebih bersih dan higienis.
Selain itu juga jumlah sapi dan kapasitas pemerahan jauh lebih tinggi
Pada dasarnya semua mesin pemerah susu terdiri atas :
1.

Pompa Vakum

2.

Pulsator

3.

Milk claw

4.

Sedotan puting (Teat cup)

5.

Wadah susu (Bucket)

Dikenal 3 (tiga) macam model mesin perah susu, yaitu :
1.

Sistem Bangsal Pemerahan (Milking parlor system)

Pemerahan berlangsung di suatu bangsal atau ruang khusus yang disiapkan untuk pemerahan.Di
bangsal ini ditempatkan beberapa mesin perah.Setiap satu mesin melayani seekor sapi.Sasu hasil

pemerahan langsung ditampung di tangki pendingin (cooling unit) sesudah melalui tabung
pengukur produksi yang terdapat pada setiap mesin. Sapi yang akan diperah digiring ke bangsal
pemerah melalui suatu tempat (holding area) yang luasnya terbatas dan sapi berdesakan. Di
holding area sapi dibersihkan dengan sprayer dari segala arah, selanjutnya sapi satu per satu
masuk bangsal (milking parlor).
Sistem bangsal perah (milking parlor system) mempeunyai bentuk yang bermacam-macam,
antara lain:
a.

Sistem sirip ikan tunggal atau ganda (single/double heringbone milking, parlor)

b.

Sistem sirip ikan berbentuk wajik (heringbone diamond shaped polygon milking parlor}

c.

Sistem komidi putar (rotary milking parlor)

2.

Sistem ember (Bucket system)

Sistem ember adalah salah satu sistem pemerahan yang menggunakan mesin sebagai pengganti
tangan yang dapat dipindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain. Sitem ini cocok digunakan
untuk petemak kecil.Susu hasil perahan dari sistem ini ditampung di ember yang terdapat di
setiap mesin. Setelah itu, susu hasil perahan setiap ekor sapi ditakar terlebih dahulu, kemudian
dituang di tangkipendingin.
Pemerahan dengan sisitem ini dapat diterapkan di Indonesia pada peternak sapi perah yang
jumlah sapi induk kurang dari 10 ekor atau pada peternak sapi perah rakyat yang kandangnya
berkelompok. Pemerahan dengan sistem ember ini perlu dirintis di Indonesia dengan harapan
dapat menekan kandungan kuman dalam susu.
3.

Sistem Pipa (Pipe line system)

Pada sistem ini, pemerahan langsung juga berada di dalam kandang dimana sapi yang akan
diperah tetap terikat ditempatnya. Mesin perah dipindah dari sapi satu ke sapi berikutnya. Sedang
susu hasil pemerahan langsung dialirkan ke dalam tangki pendingin melalui pipa tanpa
berhubungan dengan udara luar.

B. Pemerahan dengan Tangan/Manual
Pemerahan dengan tangan ini menghendaki suatu pekerjaan yang teliti dan halus,
sebab kalau dilakukan dengan kasar akan buruk pengaruhnya terhadap banyaknya susu yang
dihasilkan. Sebelum melakukan pemerahan sususapi, ada beberapa hal yang harus disiapkan
oleh peternak, diantaranya :


cuci/bersihkan ambing sapi dengan air hangat



kandang sapi sudah dibersihkan



peralatan yang akan digunakan berada dalam keadaan steril

Kegunaan pembersihan ambing dengan air hangat bertujuan untuk :



merangsang keluarnya air susu



mengurangi kemungkinan air susu terkontimanasi oleg bakteri



mengurangi munculnya mastitis (menurunkan produksi susu hingga 30 %.)

Suhu air yang digunakan untuk mencuci ambing sapi berada diantara 48 – 57 derajat celcius,
dan lebih baik jika air mengandung disenfektan.
Setelah fase pemerahan Ada 3 cara pemerahan dengan tangan yaitu :
1.

Whole hand (tangan penuh)

Cara ini adalah yang terbaik, karena puting tidak akan menjadi panjang olehnya. Cara ini
dilakukan pada puting yang agak panjang sehingga dapat dipegang dangan penuh tangan.
Caranya tangan memegang puting dengan ibu jari dan telunjuk pada pangkalnya. Tekanan
dimulai dari atas puting diremas dengan ibu jari dan telunjuk, diikuti dengan jari tengah, jari
manis, dan kelingking, sehingga air dalam puting susu terdesak ke bawah dan memancar ke
luar. Setelah air susu itu keluar, sekluruh jari dikendorkan agar rongga puting terisi lagi
dengan air susu. Remasan diulangi lagi berkali-kali.
Jika ibu jari dan telunjuk kurang menutupi rongga puting, air susu tidak akan memancar
keluar, tetapi masuk lagi ke dalam ambing dan sapi akan kesakitan. Sedapat mungkin semua
pemerahan dilakukan dengan sepenuh tangan.

Teknik ini dilakukan dengan cara

menggunakan kelima jari. Puting dipegang antara ibu dari dan keempat jari lainnya, lalu
ditekan dengan keempat jari tadi (Syarief dan Harianto, 2011).
2.

Stripping (perah jepit)

Puting diletakkan diantara ibu jari dan telunjuk yang digeserkan dari pangkal puting ke
bawah sambil memijat. Dengan demikian air susu tertekan ke luar melalui lubang puting.
Pijatan dikendorkan lagi sambil menyodok ambing sedikit ke atas, agar air susu di dalam
cistern (rongga susu). Pijatan dan geseran ke bawah diulangi lagi. Cara ini dilakukan hanya
untuk pemerahan penghabisan dan untuk puting yang kecil atau pendek yang sukar
dikerjakan dengan cara lain.
3.

Knevelen (perah pijit)

Cara ini sama dengan cara penuh tangan, tetapi dengan membengkokan ibu jari, cara ini
sering dilakukan jika pemerah merasa lelah.. Lama-kelamaan bungkul ibu jari menebal lunak
dan tidak menyakiti puting. Teknik ini hanya dilakukan pada sapi yang memiliki puting
pendek. (Syarief dan Harianto, 2011).
Gambar 2. Pemerahan dengan tangan
3.

Pasca Pemerahan

Selesai diperah, ambing dilap menggunakan kain yang telah dibasahi oleh desinfektan.
Kemudian dilap kembali dengan kain yang kering. Setelah itu ,puting juga dicelupkan ke
dalam cairan desinfektan selama 4 detik. Semua peralatan yang digunakan untuk memerah
juga harus dibersihkan, kemudian dikeringkan. Susu hasil pemerahan juga harus segera
ditimbang, dicatat, kemudian disaring agar kotoran saat pemerahan tidak ikut masuk ke
dalam susu (Syarief dan Harianto, 2011).
Sesudah pemerahan sebaiknya bagian puting dicelupkan dalam larutan desinfektan untuk
menghindari terjadinya mastitis (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).
4.

Pengaturan Waktu Pemerahan

a) Musim Sapi yang melahirkan di musim dingin atau musim gugur umumnya produksi
susunya lebih tinggi dibandingkan yang melahirkan di musim panas. Jadi pada cuaca yang
panas produksi susu sapi umumnya menurun. Pada sapi yang digembalakan, umumnya
produksi susunya menurun pada musim kemarau dibandingkan pada musim hujan, ini
hubungannya dengan ketersediaan hijauan makanan ternak.
b) Frekuensi Pemerahan
Pada umumnya sapi diperah 2 kali sehari ialah pagi dan sore hari. Pemerahan yang dilakukan
lebih dari 2 kali sehari hanya dilakukan pada sapi yang dapat berproduksi susu tinggi,
misalnya pada sapi yang produksi susunya 20 liter per hari dapat diperah 3 kali sehari;
sedangkan sapi yang berproduksi susu 25 liter atau lebih per hari dapat diperah 3 kali sehari.
Pada sapi yang berproduksi tinggi bila diperah 3 – 4 kali sehari produksi susunya lebih tinggi
dibandingkan dengan yang hanya diperah 1 – 2 kali sehari. Pemerahan 3 kali sehari akan
meningkatkan produksi susu sebanyak 10 – 25 % dibandingkan dengan pemerahan 2 kali
sehari. Peningkatan produksi susu tersebut karena pengaruh hormon prolaktin yang lebih
banyak dihasilkan dari pada yang diperah 2 kali sehari. Bila sapi diperah dua kali sehari
dengan selang waktu yang sama antara pemerehan tersebut, maka sedikit sekali terjadi
perubahan kualitas air susu. Bila sapi diperah 4 kali sehari, kadar lemak akan tiggi pada
besok paginya pada pemerahan pertama. Makin sering sapi diperah, produksi susu akan naik
seperti yang ditunjukkan oleh penelitian dari Kendrik (1953). Kenaikan hasil susu itu
tergantung pada kemampuan sapi itu untuk perproduksi, makanan dan manajemen.
C. Menghadapi sapi yang sukar diperah
Persiapan pemerahan yang perlu diperhatikan oleh para petugas antara lain adalah
menenangkan sapi yang akan diperah, membersihkan kandang, membersihkan bagian tubuh

bagi sapi yang akan diperah, mengikat sapi, pencucian tangan petugas dan upaya melicinkan
puting.
a. Menenangkan sapi
Dalam rangka pemerahan, langkah pertama yang harus diperhatikan adalah usaha
menenangkan sapi yang akan diperah supaya proses pemerahan dapat dilakukan dengan
lancar. Usaha untuk menenangkan sapi pada umumnya ditempuh dengan cara:
- Memberikan makanan penguat terlebih dahulu bagi sapi-sapi yang akan diperah.
- Petugas mengadakan pendekatan dengan cara memegang-megang bagian tubuh sapi
- Menghindarkan lingkungan kandang terjadi kegaduhan seperti adanya sekelompok tamu
masuk ke dalam kandang, atau berlalu-lalang di sekitar kandang, suara-suara asing yang
mengejutkan, dan lain sebagainya.
b. Membersihkan kandang dan bagian tubuh sapi
Usaha membersihkan kandang dan bagian tubuh sapi berkaitan erat dengan
kebersihan dan kesehatan hasil susu yang akan dipasarkan kepada para konsumen. Usaha
membersihkan tempat/kandang dan bagian-bagian tubuh sapi yang dapat mengotori hasil
pemerahan dapat dilakukan dengan cara:
- Mencuci lantai kandang dengan menyemprotkan air yang bertekanan tinggi. Dengan cara
demikian sisa-sisa makanan yang telah basi dan berbau tercuci bersih, sehingga susu tidak
tercemari oleh kotran yang berada di dalam kandang.
- Apabila menjelang pemerahan sapi belum sempat dimandikan, maka kotoran yang melekat
pada bagian-bagian tubuh tertentu seperti pada lipatan paha, ambing, dan puting dicuci
terlebih dahulu.
- Mencuci ambing dan puting dengan air hanga tdan desinfektan; ambing digosok dengan
spon, kemudian dikeringkan dengan kain lap yang lunak. Pada saat itu ambing sedikit
dimasase pelan-pelan. Pencucian ambing dengan air hangat dan desinfektan ini ialah untuk
menjaga kebersihan air susu dan mengurangi pencemaran. Sedangkan dilakukan masase
adalah untuk merangsang keluarnya air susu.
- Setelah puting dikeringkan dengan kain satu per satu, kemudian satu atau dua pancaran
perahan awal (stripping) dari setiap puting dibuang atau ditampung di tempat tertentu untuk
pengamanan. Air susu hasil stripping itu kotor, maka tidak boleh dicampur dengan hasil susu
perahan berikutnya yang bersih. Sehabis dilakukan pemerahan saluran susu pada puting
selalu terbuka, maka harus diusahakan agar tidak kemasukan kotoran ataupun bakteri.
Hasil perahan yang terkena infeksi mastitis tidak boleh dicampur dengan air susu lainnya
yang sehat. Sebab, air susu yang kena infeksi mastitis tidak boleh dikonsumsi.

c. Mengikat sapi
Sapi yang akan diperah diikat dengan tali yhang pendek di suatu tempat yang sudah
dipersiapkan. Tujuan pengikatan sapi ini adalah agar sapi tidak berontak.
Disamping sapi itu diikat, kaki belakang dan ekornya pun perlu diikat pula, terutama
sapi-sapi yang nakal, suka berontak atau menyepak. Sedangkan pengikatan ekor
dimaksudkan agar sapi tidak mengibas-ngibaskan ekornya sehingga mengotori air susu dalam
ember. Caranya ialah ujung ekor diikat dengan salah satu kaki belakang. Dan apabila petugas
memerah di sebelah kanan, maka pengikatan ekor berada di sebelah kiri.
d. Mencuci tangan
Semua petugas yang akan melaksanakan pemerahan harus mencuci tangan terlebih dahulu
dengan air bersih agar air susu hasil perahan sehat dan bersih, tidak tercemar oleh kotoran
dari tangan pemerah. Menurut Prof. Dr. Soewarno T. Soekarno, pada telapak tangan manusia
ada ribuan hingga puluhan ribu mikroorganisme per cm2. Pencucian tangan hendaknya
menggunakan air hangat yang bersih, menggunakan sabun dan desinfektan. Kemudian
dikeringkan dengan kain lap dan tangan diolesi dengan minyak kelapa, agar pemerahan dapat
lebih lembut, sapi tidak merasa sakit.
e.

Melicinkan puting
Puting dari sapi yang akan diperah perlu diolesi minyak kelapa atau vaselin agar
menjadi licin sehingga memudahkan proses pemerahan dan sapi tidak merasakan sakit. Jika
puting licin dan tangan petugas pun lembut karena diolesi minyak, maka sapi yang diperah
tidak akan berontak, terutama bagi sapi yang baru pertama kali berproduksi.

f.

Merangsang keluarnya air susu melalui pedet dan pemerahan bertahap
Khusus bagi sapi-sapi yang baru pertama kali berproduksi kadang-kadang masih sulit
diperah. Jika petugas menghadapi kasus smacam itu dapat dicoba dengan cara:
- Menyusukan pedet pada induk yang akan diperah sebagai langkah awal pemerahan,
sehingga proses pemerahan selanjutnya dapat dilaksanakan secara lancar
- Melakukan pemerahan bertahap, yakni sapi diperah sedikit demi sedikit. Dengan demikian
sapi menjadi terbiasa untuk diperah. Bagi sapi-sapi yang telah terbiasa diperah jika didekati
tenang dan siap untuk diperah.

g. Perlengkapan dan peralatan
Sebelum melaksanakan pemerahan, petugas harus mempersiapkan perlengkapan dan
peralatan yang diperlukan terlebih dahulu. Perlengkapan dan peralatan tersebut antara lain:
ember tempat pemerahan, tali pengikat kaki, tali pengikat ekor (jika hal ini diperlukan),milk-

can untuk menmpung air susu, dan kain bersih untuk menyaring susu terhadap kotoran dan
bulu sapi pada saat susu dituangkan ke dalam milk-can.
Semua alat yang digunakan sebelum dan sesudah dipakai harus selalu dalam keadaan
bersih atau steril. Agar semua peralatan yang dipakai menjadi steril, alat-alat ersebut harus
dicucihmakan dengan cara merendam dalam larutan desinfektan, lalu dicuci dengan air,
selanjutnya dibilas dengan air panas dan dijemur.
Walaupun sapi dapat diperah beberapa kali sehari namun pada umumnya hanya
dilaksanakan dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Setiap proses pemerahan dilakukan dengan
secepat mungkin, sebab pemerahan yang terlalu lama akan menimbulkan efek yang kurang
baik bagi sapi yang diperah.
Awal pemerahan harus dilakukan dengan hati-hati, lembut, dan pelan, kemudian
dilanjutkan sedikit lebih cepat, sehingga sapi yang diperah tidak terkejut atau takut.
D.

Pemerahan darurat sebelum melahirkan
Jika ingin mendapatkan air susu segar, padahal sapi kita sedang bunting, maka

pemerahan air susu yang baik adalah 15 hari sebelum melahirkan dan 7 hari setelah
melahirkan.
Mengapa harus kita lakukan demikian ?sebab 15 hari sebelum partus (melahirkan) komposisi
air susunya belum seperti apa yang kita inginkan. Kemudian air susu pada awal laktasi,
sebelum 7 hari masih berupa kolestrum.
Susu yang masih banyak mengandung kolestrum ini sangat tidak baik diminum, hanya sangat
baik buat anak sapi itu sendiri. Karena susu tersebut masih banyak mengandung antibody.
Yaitu zat – zat penguat bagi anak sapi supaya lebih tahan terhadap penyakit. (Muljana, W.
1985)

KESIMPULAN
Pemerahan dilakukan 2 kali dalam sehari yaitu pada pagi hari jam 06.00 WIB dan
sore hari jam 16.00 WIB. Persiapan yang dilakukan yaitu sapi digiring ke tempat pemerahan
kemudian sebelum diperah ambingnya dibersihkan terlebih dahulu dengan menyemprotkan
air menggunakan selang serta memberikannya konsentrat agar sapi tenang. Hal ini sesuai
dengan pendapat Muljana (1985) yang menyatakan bahwa sebelum pemerahan dimulai,
pemerah mencuci tangan bersih-bersih dan mengeringkannya, kuku tangan pemerah
dipotong pendek agar tidak melukai puting sapi, sapi yang akan diperah dibersihkan dari
segala kotoran, tempat dan peralatan telah disediakan dan dalam keadaan yang bersih.
Syarief dan Harianto (2011) menambahkan bahwa sebelum diperah sapi dimandikan
terlebih dahulu, ekor diikat ke kakinya agar tidak mengiba-ibas ketika diperah, pemerah
juga harus dalam keadaan sehat serta setiap puting dicek kesehatannya.

DAFTAR PUSTAKA
Muljana, W. 1985.Pemeliharaan dan Ternak Kegunaan Sapi Perah. Aneka Ilmu. Semarang.
Prihadi.1996. Tata Laksana dan Produksi Sapi Perah. Fakultas Peternakan Universitas Wangsa
Manggala. Yogyakarta.
Putra, A. 2009. Potensi Penerapan Produksi Bersih Pada Usaha Peternakan Sapi erah (Studi Kasus
Pemerahan susu sapi Moeria Kudus Jawa Tengah). Magister Ilmu Lingkungan Universitas
Diponegoro, Semarang
Syarief, M. Z. dan C. D. A. Sumoprastowo.1990. Ternak Perah. CV. Yasaguna. Jakarta.
Syarif, E dan Harianto, B. 2011.Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Perah. Agromedia Pustaka,
Jakarta.
http://devirisandi.blogspot.com/2008/12/syarat-syarat-pemerhan-sapi-perah.html
http://cukupnurohmat.blogspot.com/2012/11/manajemen-sapi-perah.html
http://indobeta.com/tata-cara-pemerahan-susu-sapi/12603/

Judul: Makalah Teknik Pemerahan

Oleh: Alexander Oneikepo Tekege


Ikuti kami