Pengantar Ilmu Komunikasi

Oleh Muhammad Raizza

13 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Pengantar Ilmu Komunikasi

MODEL-MODEL KOMUNIKASI

MUHAMMAD RAIZZA
1MA12

1. Model Komunikasi Aristoteles
Mo de l ko mun ika si Aris to tel e s ad a la h sa la h sa tu mo de l ko mun ika si lin ea r ya ng
d itu ju kan u nt u k me n gg a mba rka n a ta u men je la ska n p ro se s pu b lic sp e a kin g . Mod e l
in i me ru pa kan mo de l ko mun ika si p e rt a ma da n me rup a kan mod e l ko mun ika si yan g
d ite r ima se ca ra lu a s d ia nt a ra mod e l ko mu n ika si la in n ya.
a . Kompone n- k ompone n da la m Mode l Komuni k as i Ari s tote le s
Mo de l ko mun ika si A risto t e le s me n it ikbe ra t ka n pa da pe mb ica ra ( sp e a ke r ) d an b ica ra
( sp e e ch ). Mo de l in i me mil iki lima e le men , ya it u sp e a ke r, sp ee ch, o cca sio n ,
a ud ien ce , da n ef fe ct .







P embi ca ra ( s pea ke r ) – o ran g ya ng b e rp e ran a kt if d ala m me mb en tu k d an
me ng ir imka n p e sa n ke pa da kha la ya k.
P es a n ve rba l ( s pee c h ) – pe sa n ya ng d ibe n tu k da n d isa mpa ika n o leh spe a ker.
S i tuas i ( oc ca si on ) – situ a si sa a t p e sa n disa mpa ika n .
Kha l ay ak ( a udie nc e ) – o ra ng yan g me n jad i t a rge t sa sa ran a ta u kh a la ya k sa sa ran
d a la m p ro se s ko mun ika si.
E fek ( e ffec t ) – da mpa k yan g dit imb u lkan d ala m p ro se s ko mu n ika si.
Mo de l ko mun ika si A risto t e le s d iken a l se b ag a i mod e l ko mu n ika si ya n g b e rp u sat
p ad a sp ea ke r at au p e mb ica ra ka re na p e mb ica ra dip an da n g seb a ga i p iha k yan g
a kt if d an be rp e ra n pe nt in g d a la m pro se s pu b lic sp e a kin g ya it u men g irimka n pe san
kep a da kha la ya k.
Da la m mo de l in i, kh a la ya k d ig a mb a rka n be rsif a t p a sif d a la m me ne r ima pe sa n .
I tu la h me n ga pa p ro se s ko mu n ika si da la m mod e l A risto te le s b e rla n g su ng se ca ra
sa tu a ra h ya kn i da ri p en g irim ke p en e rima . Da la m me n ya mp a ikan pe san n ya ,
p e mb ica ra ha ru s men yia p ka n pe sa n se de mik ian ru pa yan g d ise su a ikan d en ga n
t a rge t sa sa ran d an situ a si se h ing ga kha la ya k da pa t d en ga n mud ah d ila ku kan
p e rsu a si mau p un pe ng a ruh me la lu i pe sa n ya n g d isa mpa ika n.
b. Ka ra k te ri s ti k Mode l Komuni ka s i Aris tote l es
Mo de l ko mun ika si A risto t e le s me mi liki b eb e rap a ka ra kte rist ik, d ian t a ran ya ad a la h :










B e rp u sat p ad a p en g irim p e sa n .
K ha la ya k b e rsifa t pa sif .
Tid a k te rla lu fo ku s pa da ko mu n ika si in t ra pe rso na l a ta u ko mu n ika si in t e rpe rso na l.
Fo ku s p ad a in t e ra ksi kh a la ya k da la m ko mu n ika si.
Tid a k te rd ap a t kon se p u mpa n ba lik.
Tid a k ad a kon se p ke ga ga la n ko mu n ika si.
K o mu n ika si be rla ng su ng sa t u ara h.
Ha n ya b isa d igu na ka n d a la m pu b lic sp e a kin g .

2. Model Komunikasi Lasswell
Harold D. Lasswell (1948) mengembangkan model komunikasi yang dikenal dengan model
komunikasi Lasswell. Model komunikasi Lasswell merupakan salah satu model komunikasi linear atau
model komunikasi satu arah dan merupakan model komunikasi yang sangat berpengaruh.
a. Komponen-komponen dalam Model Komunikasi Lasswell

Model komunikasi Lasswell memiliki 5 (lima) komponen, yaitu :






who (sender) – komunikator atau pengirim atau sumber pesan.
says what (message) – isi pesan.
channel (media) – medium atau media.
to whom (receiver) – penerima pesan atau khalayak.
with what effect (feedback) – umpan balik yang diberikan oleh penerima pesan kepada pengirim
pesan.
Kelima komponen tersebut seringkali dijadikan sebagai bahan analisis atau kajian untuk
mengevaluasi masing-masing komponen dan proses komunikasi secara keseluruhan. Adapun
analisis yang dilakukan terhadap kelima komponen komunikasi tersebut adalah sebagai berikut :







Analisis kontrol, umumnya dilakukan untuk membantu pengirim pesan untuk memiliki seluruh
kekuatan.
Analisis isi, umumnya dikaitkan dengan stereoptipe dan representasi perbedaan kelompok politik
dan berhubungan dengan tujuan pesan yang disampaikan.
Analisis media, umumnya mengkaji pemilihan media yang akan digunakan untuk mencapai khalayak
Analisis khalayak, umumnya mengkali siapa yang menjadi target sasaran.
Analisis efek, umumnya dilakukan sebelum proses dimulai dengan tujuan untuk memprediksi efek
pesan terhadap target sasaran Model komunikasi Lasswell awalnya dikembangkan untuk
menganalisis komunikasi massa khususnya studi tentang media propaganda. Namun, pada
perkembangannya, model ini digunakan pula untuk menganalisis komunikasi interpersonal atau
komunikasi kelompok yang menjadi sasaran diseminasi pesan. Selain itu, Lasswell juga membawa
konsep proses komunikasi yang efektif. Menurutnya, terdapat hubungan antara penyajian fakta-fakta
dengan bagaimana fakta-fakta tersebut dapat menyebabkan efek yang berbeda. Penggunaan konsep
efek membuat model Laswell tidak seperti namanya. Hal ini dikarenakan efek dapat berperan juga
sebagai feedback atau umpan balik

b. Karakteristik Model Komunikasi Lasswell
Mo de l ko mun ika si L asswe ll me miliki be be rap a ka ra kt e rist ik, ya it u :








Komunikasi berlangsung satu arah.
Tidak konsisten karena menyatakan adanya konsep efek.
Tidak menyertakan umpan balik.
Mengabaikan kemungkinan adanya hambatan-hambatan komunikasi
Dipandang sangat umum dan hanya mencakup tema-tema tradisional.Merupakan dasar propaganda
karena lebih menitikberatkan pada hasil keluaran.
Umumnya digunakan untuk media persuasi.

3. Model Komunikasi Shannon dan Weaver
Claude Elwood Shannon dan Warren Weaver (1948) mengembangkan salah satu model
komunikasi linear yang disebut dengan Model Komunikasi Shannon dan Weaver.
a. Komponen-komponen dalam Model Komunikasi Shannon dan Weaver

Dalam model komunikasi Shannon dan Weaver terdapat 6 (enam) elemen yaitu :








Pengirim (Sender/Information source) – orang yang membuat pesan, memilih media yang akan
digunakan dan mengirimkan pesan.
Encoder (Transmitter) – orang yang menggunakan mesin yang mengubah pesan ke dalam bentuk
sinyal atau data biner. Dimungkinkan juga encoder merujuk pada mesin itu sendiri.
Media (Channel) – media yang digunakan untuk mengirim pesan.
Decoder (Transmitter) – mesin yang digunakan untuk mengubah sinyal atau data biner ke dalam
bentuk pesan atau penerima pesan yang menginterpretasikan pesan dari sinyal yang diberikan.
Penerima (Receiver/Destination) – orang yang menerima pesan atau tempat dimana pesan harus
dijangkau. Penerima pesan memberikan umpan balik berdasarkan pesan yang dikirimkan oleh
pengirim.
Gangguan (Noise) – gangguan fisik seperti lingkungan, manusia, dan lain-lain yang tidak
membiarkan pesan diterima dengan baik oleh penerima pesan.
Pengirim pesan menyandi pesan dan mengirimkannya kepada penerima pesan melalui media.
Pengirim mengubah pesan ke dalam berbagai kode yang dapat dipahami ke dalam mesin. Pesan
dikirim dalam bentuk kode melalui media. Penerima harus menerima sandi pesan sebelum
memahami dan menginterpretasikannya. Mesin penerima dapat juga berperan sebagai penerima
sandi dalam beberapa kasus. Media dapat mengalami gangguan dan penerima bisa saja tidak
memiliki kapasitas untuk melakukan sandi-awa sehingga menyebabkan masalah dalam proses
komunikasi.
Menurut model ini, terdapat tiga macam permasalahan komunikasi, yaitu masalah teknis, masalah
semantik, dan masalah efektifitas.





Masalah teknis – masalah yang disebabkan oleh channel.
Masalah semantik – adanya perbedaan dalam mengartikan pesan yang dikirim dan diterima.
Masalah efektivitas – reaksi penerima terhadap pesan yang disampaikan.
Model ini pada awalnya ditujukan untuk memperbaiki teknis komunikasi utamanya komunikasi melalui
telepon dengan tujuan memaksimalkan kapasitas telepon dan meminimalkan gangguan. Namun
dalam perkembangannya, model ini kemudian diterapkan bagi seluruh bentuk komunikasi untuk
mengembangkan komunikasi yang efektif

b. Karakteristik Model Komunikasi Shannon dan Weaver
Model komunikasi Shannon dan Weaver memiliki beberapa karakteristik, yaitu :







Komunikasi berlangsung dalam dua proses yang membuatnya sebagai model yang dapat diterapkan
dalam semua bentuk komunikasi.
Konsep gangguan atau noise membantu dalam membuat komunikasi efektif dengan cara
menghilangkan gangguan atau masalah yang menyebabkan berbagai gangguan.
Hanya dapat diterapkan dengan baik pada komunikasi interpersonal dibandingkan dengan
komunikasi massa atau komunikasi kelompok.
Penerima pesan berperan sebagai bagian yang pasif dalam proses komunikasi.
Pengirim pesan berperan aktif dalam mengirim pesan.
Umpan balik tidak begitu penting jika dibandingkan dengan pesan yang dikirimkan oleh pengirim.

4. Model Komunikasi Berlo
David K. Berlo (1960) merumuskan sebuah model komunikasi linear yang merupakan
pengembangan dari model komunikasi Shannon dan Weaver. Model komunikasi dari David K. Berlo
disebut dengan Model Komunikasi SMCR (Sender-Message-Channel-Receiver). Menurut Berlo,
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi berbagai komponen yang dimiliki oleh individu dalam
komunikasi yang membuat komunikasi berlangsung secara lebih efisien. Faktor-faktor tersebut
adalah keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan, sistem sosial, dan budaya.
a. Komponen-komponen dalam Model Komunikasi Berlo

Model komunikasi SMCR juga menitikberatkan pada proses encoding dan decoding yang terjadi
sebelum pengirim mengirim pesan dan sebelum penerima menerima pesan.
Dalam model ini terdapat beberapa komponen yaitu sender, message, channel, dan receiver dimana
masing-masing komponen dipengaruhi oleh beberapa faktor.
1. Pengirim (sender)
Sumber pesan atau orang yang mengorganisasi pesan. Seorang pengirim pesan atau sumber pesan
mengirimkan pesan kepada penerima pesan. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengirim
pesan dan penerima pesan, yaitu :








Keterampilan komunikasi – Jika pengirim pesan memiliki keterampilan komunikasi yang baik, maka
pesan akan lebih mudah dikomunikasikan dibandingkan dengan pengirim pesan yang tidak memiliki
keterampilan komunikasi yang baik. Keterampilan komunikasi mencakup keterampilan berbicara,
keterampilan membaca, keterampilan menulis, keterampilan mendengarkan, dan lain-lain.
Sikap – Sikap yang dimiliki oleh pengirim pesan untuk menciptakan efek pesan.
Pengetahuan – Pengetahuan yang dimiliki oleh pengirim pesan dapat membuat pesan dapat
dikomunikasikan secara lebih efektif.
Sistem sosial – Sistem sosial yang mencakup nilai, kepercayaan, hukum, aturan, agama dan lainlain serta tempat dan situasi mempengaruhi cara pengirim pean dalam mengkomunikasikan pesan.
Hal ini menciptakan perbedaan dalam membuat pesan.
Budaya – perbedaan budaya menyebabkan perbedaan dalam menyampaikan pesan.
2. Pesan (message)
Pesan adalah hal substansif yang dikirimkan oleh pengirim pesan kepada penerima pesan. Pesan
dapat berbentuk suara, teks, video atau lain-lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi pesan adalah :







Isi pesan – Merupakan sesuatu yang terdapat dalam pesan.
Elemen pesan – Elemen pesan merupakan hal-hal yang berkaitan dengan pesan nonverbal yang
melekat dalam isi seperti gesture, tanda,Bahasa sebagai alat komunikasi,dan lain-lain.
Perlakuan – Cara pesan dikirimkan kepada penerima pesan yang menimbulkan efek berupa umpan
balik yang diberikan oleh penerima pesan.
Struktur pesan – Pola pembentukan pesan dapat mempengaruhi efektivitas pesan.
Kode – Bentuk dimana pesan dikirimkan bisa berupa teks, video, dan lain-lain.

3. Media (channel)
Media yang digunakan untuk mengirim pesan misalnya teleponinternet sebagai media komunikasi
dan lain-lain dan biasanya digunakan dalam komunikasi bermedia (media massa atau media baru).
Namun, jika merujuk pada bentuk atau konteks komunikasi lain seperti misalnya komunikasi
interpersonal maka media komunikasi yang dimaksud merujuk pada kelima rasa melalui panca indera
yang dimiliki oleh manusia. Kelima rasa inilah yang turut mempengaruhi arus dan efektivitas
komunikasi. Kelima rasa tersebut adalah mendengarkan, melihat, menyentuh, mencium, dan
merasakan.






Mendengar – pesan yang diterima melalui indera pendengaran.
Melihat – pesan yang diterima melalui indera penglihatan mencakup pesan nonverbal.
Menyentuh – sebagian pesan nonverbal terjadi melalui sentuhan seperti menepuk pundak.
Mencium – pesan yang diterima melalui indera penciuman.
Merasakan – pesan yang diterima melalui indera perasa.
4. Penerima (receiver)
Orang yang menerima pesan yang dikirmkan oleh pengirim pesan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
penerima pesan sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pengirim pesan, yaitu :








Keterampilan komunikasi – Penerima pesan yang memiliki keterampilan komunikasi (keterampilan
berbicara, keetrampilan menulis, keterampilan membaca, kemampuan mendengarkan dan lain-lain)
yang baik akan dapat menerima pesan dengan baik.
Sikap – sikap yang dimiliki oleh penerima pesan untuk menerima pesan.
Pengetahuan – pengetahuan yang dimiliki oleh penerima pesan dapat membuat pesan mudah
diterima dengan baik oleh penerima pesan.
Sistem sosial – Sistem sosial (nilai, kepercayaan, hukum, aturan, agama, dan lain-lain)
mempengaruhi cara menerima pesan yang menyebabkan perbedaan dalam menerima pesan.
Budaya – perbedaan budaya dapat menyebabkan perbedaan dalam menerima pesan.
b. Karakteristik Model Komunikasi Berlo
Model komunikasi Berlo memiliki beberapa karakteristik, yaitu :









Fokus pada proses encoding dan decoding.
Komponen komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Tidak adanya konsep umpan balik.
Efek komunikasi tidak dapat diketahui.
Tidak ada konsep gangguan atau noise atupun berbagai hambatan proses komunikasi lainnya,
Komunikasi berlangsung satu arah.
Baik pemberi pesan atau penerima pesan memiliki kesamaan jika dilihat dari faktor-faktor yang
mempengaruhi keduanya.

5. Model Komunikasi Barnlund
Pada tahun 1970, Dean C. Barnlund mengenalkan sebuah model komunikasi transaksional bagi
dasar komunikasi interpersonal komunikasi antar pribadi yang menggambarkan proses pengiriman
dan penerimaan pesan yang terjadi secara simultan antara partisipan komunikasi. Model komunikasi
Barnlund dikenal dengan nama Model Komunikasi Transaksional Barnlund. Model ini merupakan
respon terhadap model komunikasi linear yang bersifat statis ke model komunikasi yang bersifat
dinamis dan model komunikasi dua arah,Model komunikasi transaksional Barnlund menggambarkan
proses komunikasi yang berlangsung secara berkesinambungan dimana pengirim dan penerima
saling bertukar peran dan bertukar tempat secara seimbang. Pesan berjalan mengambil tempat
dengan umpan balik konstan yang diberikan oleh partisipan komunikasi. Umpan balik yang diberikan
oleh salah satu pihak adalah pesan bagi pihak lainnya.
a. Komponen-komponen dalam Model Komunikasi Barnlund

Dalam model komunikasi Barnlund, terdapat beberapa komponen, yaitu :

o
o
o

Cues – tanda untuk melakukan sesuatu. Terdapat tiga macam cues, yaitu public cues, private
cues, dan behavioral cues.
Public cues – lingkungan, fisik, artifisial atau alamiah.
Private cues – dikenal dengan orientasi obyek pribadi, dapat berupa verbal dan nonverbal.
Behavioral cues – dapat berupa verbal atau non verbal.





Speech act – contoh khusus dalam model komunikasi.
Filter – realitas manusia yang terikat dengan komunikasi.
Noise – masalah yang berkembang dalam arus komunikasi dan mengganggu arus pesan.

b. Karakteristik Model Komunikasi Barnlund
Karakteristik model komunikasi Barnlund adalah sebagai berikut :













Komunikasi bersifat transaksional.
Digunakan dalam komunikasi interpersonal.
Pengirim dan penerima pesan dapat bertukar peran.
Melibatkan peran konteks dan lingkungan.
Melibatkan gangguan dan hambatan-hambatan komunikasi sebagai faktor.
Membahas komunikasi non verbal.
Umpan balik bersifat simultan.
Pengirim pesan dan penerima pesan saling berbagi kedalaman pengalaman.
Fokus pada pengiriman pesan yang simultan, gangguan serta umpan balik.
Dipandang sebagai model komunikasi yang sangat sistematis.
Model komunikasi dipandang sangat kompleks.
Pengirim pesan dan penerima pesan harus mengerti kode-kode yang dikirim oleh masing-masing
pihak.

6. Model Komunikasi Osgood dan Schramm
Model Komunikasi Schramm dikenalkan oleh Wilbur Schramm (1954) yang menggambarkan proses
komunikasi berlangsung secara dua arah baik pengirim pesan atau penerima pesan dapat berganti
peran dalam mengirim dan menerima pesan. Pesan dikirimkan setelah proses encoding karenanya
pengirim pesan juga disebut dengan Encoder. Sementara itu, penerima pesan atau receiver disebut
juga dengan decoder karena pesan yang telah di-encode oleh pengirim pesan kemudian mengalami
proses decoding yang dilakukan oleh penerima pesan atau receiver.
Model komunikasi Schramm diadaptasi dari teori yang dikemukakan oleh Ryan A.
Osgood, karenanya model komunikasi ini disebut dengan Model Komunikasi Osgood dan Schramm
atau Model Komunikasi Encode-Decode. Melalui model ini, Osgood mengganti model komunikasi
linear dengan model proses komunikasi sirkular dan Schramm menambahkan konsep field of
experience ke dalamnya. Yang dimaksud dengan field of experience adalah hal-hal yang
mempengaruhi pemahaman dan mengeinterpretasi pesan yang umumnya meliputi budaya, latar
belakang budaya, kepercayaan, pengalaman, nilai-nilai, dan peraturan.
a. Komponen-komponen Model Komunikasi Osgood dan Schramm

Menurut model komunikasi Osgood dan Schramm, terdapat 9 (sembilan) komponen dalam proses
komunikasi, yaitu sender (transmitter), encoder, decoder, interpreter, receiver, message, feedback,
medium, dan noise.










Sender (transmitter) – orang yang mengirimkan pesan.
Encoder – orang yang mengubah pesan ke dalam bentuk kode.
Decoder – orang yang mendapatkan pesan yang telah di-encode yang telah dikirimkan oleh encoder
dan mengubahnya ke dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh orang lain.
Interpreter – orang yang mencoba untuk memahami dan menganalisa pesan. Pesan diterima setelah
interpretasi. Interpreter dan receiver adalah orang yang sama.
Receiver – orang yang menerima pesan yang melakukan proses decoding dan menginterpretasikan
pesan-pesan aktual.
Message – data yang dikirimkan oleh pengirim pesan dan informasi yang diterima oleh penerima
pesan.
Feedback – proses merespon pesan yang diterima oleh penerima pesan.
Medium – media atau saluran yang digunakan oleh pengirim pesan untuk mengirim pesan.
Noise – gangguan yang terjadi selama proses komunikasi berlangsung. Gangguan juga dapat berupa
gangguan semantic dimana terjadi perbedaan dalam pemaknaan pesan yang dikirimkan oleh
pengirim pesan dan pemaknaan pesan yang diinterpretasi oleh penerima pesan.
Menurut Schramm, latar belakang individu yang terlibat dalam proses komunikasi memainkan
peranan yang sangat penting dalam komunikasi. Sebagaimana diketahui, setiap orang memiliki latar
belakang pengetahuan, pengalaman, serta budaya yang berbeda satu sama lain. Perbedaan latar
belakang ini mempengaruhi setiap individu dalam menginterpretasi pesan yang diterima.

b. Karakteristik Model Komunikasi Osgood dan Schramm
Model komunikasi Osgood dan Schramm memiliki beberapa karakteristik, yaitu :


















Fokus pada encode dan decode.
Komunikasi berlangsung dua arah.
Adanya konsep field of experience yang merupakan efek psikologis dapat membantu untuk
memahami proses komunikasi.
Umpan balik bersifat tidak langsung dan lambat.
Terdapat konsep umpan balik sehingga memudahkan bagi pengirim pesan untuk mengetahui apakah
pesan diinterpretasi dengan baik oleh penerima pesan.
Tidak diabaikannya konsep gangguan atau noise.
Penerima pesan dan pengirim pesan dapat bertukar peran dalam menyampaikan dan menerima
pesan.
Bersifat dinamis dan berguna secara praktis.
Gangguan semantik atau semantic noise merupakan konsep yang dapat membantu memahami
permasalah yang dapat terjadi selama pesan diinterpretasi.
Konsep interpretatif membuat komunikasi menjadi efektif.
Konsep konteks membuat faktor lingkungan dapat dimasukkan ke dalam interpretasi pesan dan
membuat perubahan dalam nilai pesan.
Tidak sesuai atau tidak cocok untuk diterapkan dalam proses komunikasi yang sangat kompleks.
Hanya terdapat dua sumber utama yang berkomunikasi. Banyaknya sumber justru akan membuat
proses komunikasi mengalami komplikasi dan model komunikasi tidak dapat diimplementasikan
dengan baik.
Dimungkinkan terjadinya perbedaan interpretasi terhadap pesan yang dikirimkan dan pesan yang
diterima
Digunakan untuk media
Dapat menjadi model komunikasi linear jika penerima pesan tidak memberikan tanggapan.

REFERENSI: https://pakarkomunikasi.com/model-model-komunikasi

Judul: Pengantar Ilmu Komunikasi

Oleh: Muhammad Raizza


Ikuti kami