Makalah Aksiologi Pendidikan

Oleh Nurul Khoirotin

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Aksiologi Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Pendidikan sebagai ilmu bersifat multidimensional baik dari segi filsafat maupun secara
ilmiah. Teori yang dianut dalam sebuah praktrek pendidikan sangat penting, karena
pendidikan

menyangkut

pembentukan

generasi

dan

semestinya

harus

dapat

dipertanggungjawabkan.
Proses pendidikan merupakan upaya mewujudkan nilai bagi peserta didik dan pendidik
dan memerlukan pendidikan dapt menghayati nilai-nilai agar mampu menata perilaku
serta pribadi yang semestinya. Sebagai contoh, dalam wacana ke Indonesiaan pendidikan
semestinya barakar dari konteks budaya dan karakteristik masyarakat indonesia, dan
untuk kebutuhan masyarakat indonesia yang terus berubah, hal ini berarti bahwa
sebaiknya pendidikan tidak dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mampu bertanggu
jawab secara rasional, sosial dan moral
Berbicara tentang landasan filosofis pendidikan berarti berkenaaan dengan tujuan filosofit
suatu praktik pendidikan adalah dengan mengunakan pendekatan filsafat ilmu yang
meliputi tiga bidang kajian yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Aksiologi sendiri
mempunyai cakupan yaitu pendidikan karakter, pendidikan dinegara maju, mengemas
pendidikan yang menarik, persaingan antar lembaga pendidikan di Indonesia, dan home
schooling.
1.2 Rumusan masah
1. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan karakter?
2. Bagaimana pendidikan di negara maju?
3. Bagaimana cara mengemas pendidikan yang menarik?
4. Bagaimana persaingan antar lembaga pendidikan di Indonesia?
5. Apakah yang dimaksud dengan home schooling?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pendidikan karakter
2. Untuk mengetahui pendidikan dinegara maju
3. Untuk mengetahui cara mengemas pendidikan yang menarik
4. Untuk mengetahui persingan antar lembaga pendidikan di Indonesia
5. Untuk mengetahui home schooling

1

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

AKSIOLOGI PENDIDIKAN
Aksiologi menyangkut nilai-nilai yang berupa pertanyaan apakah yang baik
atau yang bagus itu. Dalam definisi lain, aksiologi merupakan suatu pendidikan yang
menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia.
Untuk selanjutnya, nilai-nilai tersebut ditanamkan dalam kepribadian anak
(Muhammad Noor Syam, 1986: 95).
Landasan aksiologis pendidikan akan membekali para pendidik berpikir
klarifikatif tentang hubungan antara tujuan-tujuan hidup dan pendidikan sehingga
akan mampu memberi bimbingan dalam mengembangkan suatu program pendidikan
yang berhubungan secara realitas dengan konteks dunia global. Manfaat mendalami
landasan aksiologis pendidikan adalah untuk secara konsisten merumuskan landasan
epistemologis pendidikan. Landasan epistemologis pendidikan akan membantu para
pendidik untuk dapat mengevaluasi secara lebih baik mengenai tawaran-tawaran
teori-teori yang merupakan solusi bagi persoalan persoalan utama pendidikan
(Suharto, 2011:43)
Aksiologi sebagai Cabang Filsafat
Nilai-nilai kebenaran, keindahan, kebaikan, dan religius adalah nilai-nilai
keluhuran hidup manusia. Nilai-nilai keluhuran hidup manusia dibahas oleh cabang
filsafat yang disebut aksiologi. Aksiologi membahas tentang nilai secara teoretis
yang mendasar dan filsafati, yaitu membahas nilai sampai pada hakikatnya. Karena
aksiologi membahas tentang nilai secara filsafati, maka juga disebut philosophy of
value (filsafat nilai). Aksiologi adalah cabang Filsafat yang menganalisis tentang
hakikat nilai yang meliputi nilai-nilai kebenaran, keindahan, kebaikan, dan religius
(Kattsoff, 1996:327). Hakikat nilai adalah kualitas yang melekat dan menjadi ciri
segala sesuatu yang ada di alam semesta dihubungkan dengan kehidupan manusia.
Nilai bukanlah murni pandangan pribadi terbatas pada lingkungan manusia. Nilai
merupakan bagian dari keseluruhan situasi metafisis di alam semesta seluruhnya.
Pengertian nilai apabila dibahas secara filsafati adalah persoalan tentang hubungan
antara manusia sebagai subjek dengan kemampuan akalnya untuk
2

menangkap pengetahuan tentang kualitas objekobjek di sekitarnya. Kemampuan
manusia menangkap nilai didasari adanya penghargaan yang dihubungkan dengan
kehidupan manusia. Fakta yang meliputi keseluruhan alam semesta bersama manusia
menciptakan situasi yang bernilai. Pernyataan tentang nilai tidak dapat dikatakan
hanya berasal dari dalam diri manusia sendiri, tetapi kesadaran manusia menangkap
sesuatu yang berharga di alam semesta (Brennan, 1996:215).
Keberhasilan pendidikan karakter mempunyai 3 kunci pokok, yaitu adanya
pengetahuan, niat, dan pelaksanaan dari nilai-nilai karakter yang ditanamkan. Oleh
karena itu, pendidikan karakter tidak hanya sebatas memberitahu saja, tetapi harus
sampai pada pelaksanaan. Semua komponen terkait di bidang pendidikan (termasuk
guru) seharusnya tidak hanya sibuk mengkampanyekan pendidikan karakter melalui
penyusunan/penyiapan administrasi (perangkat) pembelajaran yang berkarakter saja,
tetapi harus sampai pada contoh pelaksanaan nilai-nilai karakter tersebut. Dalam
proses pembelajaran di kelas, guru harus mampu memberikan contoh/tauladan
tentang karakter-karakter positif yang akan ditanamkan. Pendidikan karakter adalah
kegiatan PEMBIASAAN melakukukan nilai-nilai karakter itu sendiri. Pendidikan
karakter tidak hanya menjadi tanggungjawab guru di sekolah saja, tetapi juga orang
tua, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.
2.2

Pendidikan Karakter
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati,
jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen,
watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat,
dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu
kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations),
dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark”
atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam
bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan
perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang
perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya,
yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis,
analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu,
3

sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati
janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja
keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif,
inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai
waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan
(estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk
berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi
dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif
sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).
Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha
melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan,
bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan
potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya
(perasaannya).
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan
karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life
to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di sekolah,
semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponenkomponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan
penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah,
pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana,
pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu,
pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam
menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.
Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karakter
dimaknai sebagai berikut: “character education is the deliberate effort to help people
understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the
kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to
judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to
be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
4

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu
yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru
membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan
bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana
guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya.
Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna
yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah
membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat,
dan

warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga

masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat

atau

bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh
budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter
dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan
nilai-nilai luhur

yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam

rangka membina kepribadian generasi muda.
Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, yang bersumber
dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga
disebut sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan yang
pasti, apabila berpijak dari nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli
psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan
ciptaann-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih
sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang
menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai,
dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri
dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab;
kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil, dan punya
integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada
nilai-nilai karakter dasar, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang
lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai
dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.
Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan
pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan
pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja
5

dalam masyarakat, seperti perkelahian massal dan berbagai kasus dekadensi moral
lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, gejala tersebut telah sampai pada taraf
yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah
resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam
pembentukan kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas
pendidikan karakter.
Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya
peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada
perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus
pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan
penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di
negara-negara barat, seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan
analisis nilai, dan pendekatan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan
penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial
tertentu dalam diri peserta didik.
Faktor Pendidikan Karakter
Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang
sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses
pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain
pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik
dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode
mengajar. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat
dilakukan melalui strategi :
1.

Keteladanan

2.

Intervensi

3.

Pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten

4.

Penguatan.
Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan

pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran,
pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara
konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur
6

Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan karakter & Nilai-nilai Pembentuk
Karakter
 Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan karakter

Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh,
kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa
patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang
semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan
Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi untuk:
1.

mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan
berperilaku baik

2.

memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur

3.

meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.

Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga,
satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha,
dan media massa.
 Nilai-nilai Pembentuk Karakter

Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan
nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan pendidikan
masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan
pendidikan yang untuk selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18 nilai hasil
kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values) yang
dimaksud
Dalam

antara

rangka

lain

lebih

takwa,

memperkuat

bersih,

rapih,

pelaksanaan

nyaman,
pendidikan

dan
karakter

santun.
telah

teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan
pendidikan nasional, yaitu:
1.

Jujur

10. Cinta Tanah Air

2.

Toleransi

11.

Menghargai Prestasi

3.

Disiplin

12.

Bersahabat/Komunikatif

4.

Kerja keras

13.

Cinta Damai
7

5.

Kreatif

14.

Gemar Membaca

6.

Mandiri

15.

Peduli Lingkungan

7.

Demokratis

16.

Peduli Sosial

8.

Rasa Ingin Tahu

17.

Tanggung Jawab

18.

Religius

9.

Semangat Kebangsaan

(Puskur. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman
Sekolah. 2009:9-10). Nilai dan deskripsinya terdapat dalam Lampiran 1.)
Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan
pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan
nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18
nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu
akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal
itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di
antara berbagai nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari
nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi
masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan
santun.
Pentingnya Pendidikan Karakter
Pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk
memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognitif. Dengan pemahaman seperti
itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari
telah terabaikan.Yaitu memberikan pendidikan karakterb pada anak didik.
Pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif.
Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya
justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang
kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang
tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya
keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.
Ada sebuah kata bijak mengatakan “ ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu
adalah lumpuh”. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan
8

karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan
asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan
dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka
akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain.
Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilainilai karakterpada

anak didik.

Saya

mengutip

empat

ciri

dasar pendidikan

karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman
yang bernama FW Foerster:
1.

Pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai
normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman
pada norma tersebut.

2.

Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan
begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah
terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru.

3.

Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar
sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu
mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar.

4.

Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam
mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar
penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan
menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak
mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan,
saling membantu dan mengormati dan sebagainya.Pendidikan karakter akan
melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja
namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan. Berdasarkan
penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang
tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan
kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang
lain (soft skill).

9

Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard
skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk
melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik. Berpijak pada empat ciri
dasar pendidikan

karakter di

atas,

kita

bisa

menerapkannya

dalam

polapendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman
sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan
dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta
memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan
mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada
anakdidik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas
pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya,
namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita
tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.
Pendidikan

karakter hendaknya

dirumuskan

dalam

kurikulum,

diterapkan

metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan
keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter.
Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari
sistem pendidikan karakter.
2.3

PENDIDIKAN DI NEGARA MAJU
Pendidikan di Amerika Serikat (AS)
Masyarakat di AS tidak mau kalau pendidikan di atur oleh pemerintah pusat,
bahkan oleh pemerintah negara bagian, bahkan oleh pemerintahan lokal sekalipun.
Masyarakat merasa memiliki hak yang sangat kuat untuk menentukan sistem
pendidikan seperti apa yang paling tepat untuk masyarakat mereka. Mereka
menganggap tantangan yang dihadapi oleh setiap komunitas tidaklah sama, jadi
sistem pendidikan juga tidak baloh atau tidak perlu disamakan antara satu kota
dengan kota lain.
Di Indonesia kita mengenal wajib belajar SD dan SMP tetapi sekarang hingga
SMA. Di Amerika kesempatan memperoleh pendidikan bagi seluruh warga sudah
lama diberlakukan. Wajib belajar di Amerika Serikat mulai dari SD sampai SMA.
Tapi pemerintahanmenggratiskan biaya sekolah sejak TK sampai SMA untuk
sekolah-sekolah negeri. Untuk sekolah swasta, pemerintahan dipusat sampai local

10

tidak memberikan anggaran apapun, dan sebaliknya sekolah itupun tidak diwajibkan
mengikuti seluruh kebijakan pemerintah dibidang pendidikan.

No

Aspek yang

Perbandingan pendidikan

dibandingkan

Indonesia

Amerika Serikat

PAUD

Dalam sistem pendidikan di
amaerika serikat terdapat beberapa
pola pendidikan :

1. Jenjang
pendidikan

SD 6-12 tahun
SMP 12 – 15 tahun
SMA 15 – 18 tahun

Perguruan tinggi

2. Masa belajar

9 tahun

 Taman kanak – kanak +
pendidikan dasar “grade” I-8 + 4
tahun SLTA
 Taman kanak – kanak + sekolah
dasar “grade” I-6 tahun + 3
tahun SLTP +3 tahun SLTA
 Taman kanak – kanak + sekolah
dasar “grade” I-4/5 + 4 tahun
SLTP + 4 tahun SLTA
 Setelah menyelesaikan
pendidikan tingkat taman kanak
–kank + 12 tahun pada beberapa
buah negara bagian dilanjutkan 2
tahun pada tingkat akademi
(junior comminity college)
sebagai bagaian dari sistem
pendidikan dasar dan menengah
12 tahun

wajib

3. Tahun akademik Juli sampai juni
4. evaluasi

Ujian nasional
Ujian kenaikan kelas
berdasarkan nilai
harian,sikap,ujian
semester

Anak tidak dituntun untuk ujian
resmi akan tetapi kehadiran murid
atau siswa serta rapornya yang baik
memang menjadi persyaratn untuk
memasuki tingkat selanjutnya

Soal UN pilihan
ganda
5. Konsekuensi
kenaikan

Jika siswa tidak lulus
ujian nasioanl tahap 1,

Anak – anak boleh tinggal kelas
dan mengulang lagi apabila
11

kelas/UN

siswa harus mengikuti
tahap 2, jika masih
saja tidak bisa
ditempu maka ikut
program kerjar paket
A

perfomasinya tidak memuaskan

6. Tujuan
pendidikan

Tertuang dalam
bentuk TIU yang
terdapat dalam silabus
BSNP dan untuk TIK
dapat dikembangkan
oleh guru

Tujuan sistem pendidikan :
a) Untuk mencapai keastuan dalam
kebhinekaan
b) Untuk mengembangkan cita –
cita dan praktik demokrasi
c) Untuk membantu pengembanagn
individu
d) Untuk memperbaiki kondisi
sosial masyarakat
e) Untuk mempercepat kemajuan
nasional

7. Anggaran
pendidikan

20 % dari anggaran
pemerintah

25 % dari anggaran pemerintah

Pendidikan di Inggris
inggris dikenal dengan standar pendidikannya yang tinggi, sistem pendidikan
Inggris telah banyak mempengaruhi banyak Negara dan adalah rumah untuk
beberapa Universitas terkanal.
Sekolah dasar
Pendidikan wajib di inggris dimulai dari nusia 5 tahun dengan sekolah
dasar. Siswa naik dari kelas 1 sampai 6 tanpa ujian, meskipun kemampuan merewka
diuji di usia 7 tahun. Penekanan ada pada belajar secara praktikal dibandingkan
menghafal. Siswa belajar mata pelajaran inti seperti Inggris, matematika dan sains,
juga pelajaran dasat seperti sejarah, geografi, musik, seni dan olahraga.
Sekolah menengah atas
Siswa memulai sekolah menengah pada usia 11 tahun, dimana menjadi
kewajiban untuk 5 tahun berikutnya. Di setiap jenjangnya, siswa memperdalam
pengetahuan mereka pada mata pelajaran inti dan ditambah setidaknya 1 bahasa
asing. Di tahun ke-4, mereka mulai bersiap untuk mengikuti ujian-ujian yang disebut
12

General Certificate of Secondary Education atau GCSE. Siswa akan diuji di 9 atau
10 topik GCSE yang mereka pilih.
A-Levels di sekolah menengah atas
Setelah menytelesaikan ujian GCSE, siswa sekolah menengah dapat
meninggalkan sekolah untuk bekerja, mengikuti program training di sekolah
kejuruan atau teknik, atau melanjutkan 2 tahun lagi untuk menyiapkan diri bagi ujian
masuk universitas, yang dikenal dengan “A-Levels’. Secara umum, siswa yang ingin
masuk ke universitas akan belajar 3-4 subjek untuk ujian A-Levels. Ini kerap
dilakukan di sekolah yang dinamakan Sixth Form Colleges. Makin tinggi nilai ujian
A-Levels, makin baik peluang siswa untuk masuk ke universitas pilihannya.
Program sarjana
Ditingkat sarjana, siswa di Inggris dapat memilih jurusan “art” dan “sciences”.
Program biasanya berlangsung selama 3 tahun dimana selama itu siswa
menyelesaikan pelajaran dan tutorial di bidang masing-masing. Siswa yang akan
lulus biasanya harus mengikuti ujian akhir. Syarat penerimaan bagi siswa
internasional termasuk kefasihan bahasa Inggris (min IELTS 6.0), tambahan 1 tahun
sekolah menengah, dikenal dengan University Fondation Year atau nilai A-Level.
Pascasarjana atau PhD
Pelajaran universitas dapat diteruskan ke tingkat Pascasarjana. Gelas
Pascasarjana tradisional biasanya di bidang “Arts” (MA) atau “Sciences” (MSc).
Gelar pascasarjana yang makin populer adalah Masters in Business Administraion
(MBA). Program Master berlangsung selama satu sampai dua tahun dan
mengharuskan ujian dan tesis untuk syarat kelulusan. Bagi program tertentu,
pengalaman dibidang riset dan bekerja dibutuhkan untuk mengikuti program
doktoral, atau PhD, yang dapat berlangsung selama empat atau 5tahun di sekolah dan
riset serta disertasi.
No

1.

Aspek
dibandingkan
Kurikulum

Perbandingan Pendidikan

yang
Indonesia
KTSP

Inggris
Penekanan

pada

belajar

secara

praktikal dan menganut pola press
schematic maksudnya tidak terlalu
banyak

yang

di

pelajari

tetapi

terfokus dan lebih terspesialisasi,
13

sehingga

kepekaran

ilmunya

mendalam.
2.

Sistem pendidikan PAUD : 1 thn
segi

kelembagaan

dan masa belajar

Sekolah dasar 5 – 11 tahun

SD : 6 thn

Sekolah menengah atas 11 – 16
tahun

SMP:3 thn

A-levels di sekolah menengah atas

SMA:3 thn

usia 16-18 tahun

Perguruan Tinggi :4
thn
3.

Angaran

Hanya

mendapat 40-an billion pounds

pendidikan

20% dari anggaran
pemerintah

4.

Pendidikan tinggi:

 Durasi
S1

S1

program
umumnya

adalah 4 tahun

adalah 3 thn
 Salah satu syarat penerimaan

 Salah satu syarat
penerimaan

mahasiswa adlah nilai A level
siswa

mahasiswa
adalah

 Durasi program S1 umumnya

melalui

 Jenis gelar S1 misal BA,BSc dll

testing
 Jenis

gelar

S1

misalnya
S.Pd.I,S.H.I dll
Gelar S2



Mahasiswa
yang

 Mahasiswa yang berasal dari

berasal

negara lain umumnya harus

dari negara lain

mengikuti program sertifikasi

umumnya tidak

foundation

ada

sebelum memulai program S1

megikuti

program
sertifikasi

 Mahasiswa

selama

harus

1

tahun

sudah

foundation
14

selama 1 tahun


mempunyai gelar S1
 Durasi

Mahasiswa
harus

umumnya

adalah 1 tahun

mempunyai

 Kualifikasi S2 yang merupakan

gelar S1


program

program

Durasi program
umumnya

taught

course

termasuk : MBA,Mres,Mphil dll

2

tahun


Kualifikasi

S2

yang
merupakan
program taught
course
termasuk

:

MA,MSc dll
Gelar S3

 Mahasiswa

 Mahsiswa

telah

telah

mempunyai

gelar S1 dan S2

mempunyai
gelar S1 dan S2
 Durasi program
adalah 3 tahun

 Durasi program adalah 3tahun
 Biasanya mahasiswa melakukan
proyek riset atau membuat desertasi

 Doctor of Philosophy

 Biasanya
mahasiswa
melakukan
proyek
atau

risey
membuat

desertasi
 Jenis

gelar

Doctor
5

Anggaran

Hanya mendapat 20 40-an billion pounds

pendidikan

%anggaran
15

pemerintah
Pendidikan di jepang
Sistem pendidikan jepang pada dasarnya adalah Sekolah Dasar (SD) 6 tahun,
Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 tahun, Sekolah Menengah Atas (SMA) 3 tahun,
Universitas 4 tahun, dan Lembaga Pendidikan Tinggi 2 tahun. Wajib belajar adalah
dari SD sampai SMP.
Pendidikan Prasekolah
TK di jepang menerima murid berusia 3 sampai 5 tahun untuk lama pendidikan
1 sampai 3 tahun. Anak berusia 3 tahun diterima dan mengikuti pendidikan selama 3
tahun, sedangkan anak berusia 4 tahun mengikuti pendidikan selama 2 tahun dan
bagi pendaftar berusia 5 tahun hanya menempuh pendidikan prasekolah selama 1
tahun.
Pendidikan Wajib
Wajib sekolah berlaku bagi anak usia 6 sampai 15 tahun. Tiap anak bersekolah
di SD pada usia 6 tahun hingga 12 tahun, lalu SMP hingga usia 15 tahun. Pendidikan
wajib ini bersifat Cuma-Cuma bagi semua anak, khususnya biaya sekolah dan buku.
Seorang anak yang telah tamat SD diwajibkan meneruskan pendidikannya ke jenjang
SMP. Dengan demikian, sekolah wajib ditempuh selama 9 tahun; 6 tahun di SD dan
3 tahun di SMP.
Pendidikan Menengah Atas
Jurusan di SMA dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan pola
kurikulum, yaitu jurusan umum (akademis), pertanian, teknik, perdagangan,
perikanan, home economic, dan perawatan. Untuk masuk ke salah satu jenis sekolah
tersebut, siswa harus mengikuti ujian masuk dan membawa surat referensi dari SMP
tempat ia lulus sebelumnya.
Pendidikan Tinggi
Ada tiga jenis lembaga pendidikan tinggi, yaitu: universitas, junior colloge
(akademi), dan technical colloge (akademi teknik). Di universitas terdapat
pendidikan sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2 dan S-3). Pendidikan S-1 berlangsung
selama 4 tahun, junior college memberikan pendidikan selama 2 atau 3 tahun bagi
para lulusan SMA, lulusan sekolah menengah (setingkat SMP) dapat masuk ke
technical college (akademi teknik). Pendidikan di lembaga ini berlangsung selama 5
tahun (fill time) untuk mencetak tenaga teknisi.
16

Ada lima jenis pendidikan tinggi yang bisa dipilih mahasiswa asing di Negara
Jepang ini, yaitu: program sarjana, pascasarjana, diploma (nongelar), akademi, dan
sekolah kejuruan. Program sarjana menerima tiga macam mahasiswa, yaitu:
mahasiswa regular, mahasiswa pendengar, dan mahasiswa pengumpul kredit.
Mahasiswa regular adalah mereka yang belajar selama 4 tahun, kecuali jurusan
kedokteran yang harus menempuh 6 tahun. Mahasiswa pendengar adalah mahasiswa
yang diijinkan mengambil mata kuliah tertentu dengan syarat dan jumlah kredit yang
berbeda di setiap universitas tetapi kredit itu tidak diakui. Adapun mahasiswa
pengumpul kredit hampir sama dengan mahasiswa pendengar, tetapi kreditnya
diakui.
usia
28
27

Doctor’s

26

Degree (S-3)

25

Fakultas

24

Kedokteran

23

Pendidikan Tinggi

Gigi/

Master

Degree (S-2) Kedokteran
Hewan

22
21

Pendidikan Sarjana
(S-1)

20
19
18
17 Pendidikan Menengah Atas

14
13

College
(S-1)
Technical

Sekolah Menengah Atas

college

(SMA)

16
15 Pendidikan Wajib

Junior

Sekolah Menengah Pertama
(SMP)

12

Sekolah Dasar

11

(SD)

10
9
8
17

7
6
5
4

Taman Kanak-Kanak

Pra Sekolah

(TK) dan Play Group (PG)

3

No

1

Aspek

Perbandingan Pendidikan

yang

Dibandingkan

Indonesia

Jepang

Tujuan

Tertuang dalam bentuk TIU Mengutamakan perkembangan

Pendidikan

yang terdapat dalam silabus kepribadian

secara

dari BSNP dan untuk TIK Menghargai
dapat

dikembangkan

oleh

Kurikulum

KTSP

nilai-nilai

individual dan menanamkan
jiwa yang bebas

Guru.
2

utuh,

(Kurikulum

Tingkat Kurikulum

Satuan Pendidikan)

Jepang

membebani

tidak

anak,

karena

anak tidak diberikan materi
pelajaran

secara

kognitif

tetapi lebih pada pengenalan
dan

latihan

hidup,

keterampilan

yang

dibutuhkan

untuk kehidupan sehari-hari.
3

Sistem

Baru dalam proses peralihan Sudah

Administrasi

dari

sentralisasi

lama

menerapkan

ke kombinasi antara sentralisasi

desentralisasi dan juga baru dan
diberlakukan MBS/ MBM

desentralisasi,

Manajemen
Sekolah,

Berbasis
dan

partisipasi

masyarakat
4

Anggaran

20% dari anggaran pemerintah

5,270,5 bilion yen

Pendidikan
5

Pendidikan

Pendidikan agama adalah mata Tidak

memasukkan

mata

Agama

pelajaran yang wajib untuk pelajaran agama di semua
18

setiap jenjang pendidikan

jenjang
(memisahkan

persekolahan
pendidikan

agama dengan persekolahan)

2.4

Mengemas pendidikan yang menarik
Pendidikan adalah konsep mendidik yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan
atau cara mendidik yang dilakukan oleh manusia pada umumnya. Dalam dictionary
of educatian (Idris, dalam Harun Al Rasyid, 2014:1) education adalah kumpulan
semua proses yang memungkinkan seseorang mengembangkan kemampuan sikap,
dan tingkah laku yang bernilai positif didalam masyarakat. Tujuan pendidikan adalah
kegiatan memberikan pengetahuan agar kebudayaan dapat diteruskan dari generasi
ke generasi berikutnya (Djumberansyah, 1994:19). Proses pendidikan terutama
pendidikan di sekolah perlu disesuaikan dengan perkembangan pemikiran rasional
yang ditandai kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi teori-teori ilmu dan teknologi
yang akan disampaikan perlu mempertimbangkan peningkatan dan martabat
manusia. Permasalahan utama yang dihadapi dalam proses pendidikan ialah
pemilihan nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam diri anak didik (Arifin,
2000:75). Pendidikan seharusnya tetap terpadu dengan keseluruhan sistem nilai dan
norma moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pendidikan lebih menarik,
diantaranya sebagai berikut:
1.

Perencanaan pendidikan yang tepat
Perencanaan merupakan serangkaian proses kegiatan dalam rangka menyiapkan
keputusan mengenahi apa yang diharapkan menjadi peristiwa, keadaan, suasana,
dan lain-lain.
Tahapan proses perencanaan terdiri dari empat komponen yaitu: tahap pertama
environmental, Tahap kedua formulation, tahap ketiga plan implementation, dan
keempat tahap plan evaluation (Didin Kurniadin, 2012: 173)

2.

Sistem pendidikan harus selalu bersifat dinamis, konstektual, dan selaluk terbuka
kepada tuntutan relevasi di semua bidang kehidupan. Sistem pendidikan nasional
tidak perlu berisi aturan pelaksanan terperinci karena yang penting mempunyai
kejelasan konsep dasar dan nilai-nilai budaya yang menjadi landasan di setiap
pelaksanan jenjang pelaksanan (Tilaar, 2010:10)
19

3.

Proses pendidikan terutama pendidikan di sekolah perlu disesuaikan dengan
perkembangan pemikiran rasional yang ditandai dengan kemajuan ilmu dan
teknologi yang akan disampaikan perlu mempertimbangkan peningkatan dan
martabat manusia. Permasalahan utama yang dihadapi dalam proses pendidikan
ialah pemilihan nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam diri anak didik
(Arifin, 2000:75)

Ada beberapa hal yang menunjang agar pendidikan lebih menarik dari segi
pembelajaran:
1.

Adanya timbal balik antara pendidik dan peserta didik
Pada saat pembelajaran berlangsung timbal balik antara pendidik dan perserta
didik sangatlah diperlukan karena hal tersebut dapat memberikan motifasi
belajar dan para peserta didik lebih tertarik untuk belajar, mereka tidak merasa
diacuhkan.

2.

Penggunaan metode, strategi dan model pembelajaran yang sesuai
Sebelum penyampaian materi pelajaran seorang pendidik seharusnya sudah
menyusun metode, strategi dan model pembelajaran yang sesuai materi yang
disampaikan dan sesuai dengan kondisi peserta didik.

2.5

3.

Sarana dan prasarana harus mendukung

4.

Media pembelajaran dalam penyampaian materi haruslah ada

Persaingan Antar Lembaga Pendidikan di Indonesia
Persaingan adalah fastabiqul khairat. Suatu keselarasan, bukan saling
menjatuhkan. Justru sebagai kompetitor yang memunculkan ide-ide baru,
membangkitkan motivasi pada komponen sekolah khususnya guru serta karyawan.
Akhirnya, terciptalah iklim sekolah yang dinamis dan kreatif.
Persaingan sekolah yang semakin ketat, menjadikan persiapan harus matang
terutama dalam menghadapi penerimaan peserta didik baru. Dengan melakukan
pengamatan calon peserta didik sehingga dapat ditentukan beberapa strategi
diantaranya unggulan – harga – distribusi – promosi dengan tidak melupakan
positioning dan diferensiasi.
20

Tahun demi tahun calon orang tua peserta didik akan lebih detil atau teliti
untuk memilihkan sekolah untuk anak mereka. Calon orang tua peserta didik saat ini
lebih kritis untuk menitipkan anaknya ke sekolah yang baik dalam segala bidang,
mulai unggulan sekolah, sistem, fasilitas hingga kegiatan yang menjadikan anak
mereka berkepribadian baik dan cerdas. Lebih selektif itulah yang membuat kita
sebagai lembaga pendidikan swasta harus lebih inovatif. Beberapa tahapan inilah
calon orang tua peserta didik untuk memutuskan memilih sekolah yang dinginkan.
Pertama, calon orang tua peserta didik mecari informasi di sekolah
diantaranya, ungulan sekolah, program sekolah, jenis ektrakurikuler, sistem atau
management sekolah, prosentase lulusan serta menanyakan fasilitas yang dimiliki
sekolah, calon orang tua peserta didik melakukan pengamatan secara langsung.
Kedua, calon orang tua peserta didik mencari informasi tambahan sekolahsekolah lain yang tidak terlalu jauh berbeda kwalitasnya perihal biaya, unggulan
sekolah tak ketinggalan brand atau merek sekolah.
Ketiga, calon orang tua peserta didik mengevaluasi beberapa informasi yang
mereka dapatkan dari berbagai sekolah dan akhirnya sampai pada sebuah keputusan
menentukan pilihan sekolah yang tepat untuk anaknya.
Keempat, tahap terakhir adalah calon orang tua peserta didik, memutuskan
apakah ia akan memilih sekolah yang dikehendaki sudah sesuai dengan keinginannya
? setelah selektif membuang dan memilih yang baik, maka saat itulah mereka akan
berani untuk langsung mengikuti prosedur sekolah mulai admistrasi dan kegiatan
yang akan dilakukan.

Manajemen Sekolah
Sebagai salah satu salah satu komponen utama dalam sistem pendidikan,
sekolah sudah selayaknya memberikan kontribusi yang nyata dalam meningkatkan
kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini tidak terlepas dari seberapa baik
sekolah itu dikelola. Apabila sekolah dianalogikan sebagai mesin produksi, maka
kualitas output akan relevan sekali dengan kualitas mesin tersebut.
Pengelolaan Pendidikan bermutu tidak terlepas dari fungsi-fungsi manajemen
secara umum yaitu: Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing),
Pengarahan (Directing) dan Pengendalian (Controlling). Fungsifungsi manajerial
tersebut hendaknya dilakukan oleh setiap pengelola sekolah secara efektif dan
efisien, dimana pimpinan (kepala sekolah) secara khusus merupakan orang yang
21

bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya sekolah yaitu: SDM, siswa,
metode, sarana prasarana dan pasar. Manajemen sekolah berbasis kualitas (Quality
Education) merupakan dasar efektifitas dari segala keberhasilan program-program
sekolah. Pendidikan yang bermutu merupakan standar kesesuain tampilan
(performance)

terhadap

atribut-atribut

yang

dianggap

penting

oleh

para

pelanggan/pengguna jasa pendidikan. Atribut-atribut mutu tersebut hendaknya
diketahui oleh penyelenggara sekolah sehingga dalam operasionalisasi kegiatan
dapat mengacu pada kepentingan mutu pelanggan.
Kegiatan pendidikan di sekolah sebagai salah satu bentuk pelayanan jasa
(service) memiliki bentuk proses yang sirkuler bukan linier atau sekedar jual beli.
Dalam sistem pendidikan, sekolah hendaknya dapat memberikan inisiatif peran yang
dapat memancing peran positif komponen sisitem pendidikan lainnya seperti
tergambar sebagai berikut:
Strategi Pengelolaan Sekolah
Masyarakat mengharapkan sekolah dapat memberikan penyediaan pelayanan
pendidikan secara maksimal. Harapan yang besar pada sekolah memerlukan energi
yang besar. Untuk itu diperlukan banyak dukungan dari berbagai pihak. Di negaranegara maju, perlakuan khusus kepada lembaga yang menyelenggarakan pendidikan
umum sudah sangat kondusif. Tentunya tidak terlepas dari kemampuan
pemerintahnya.
Sekolah dalam menjalankan kegiatan pendidikan sangat tergantung kepada tiga
jenis sumber pemasukan keuangan, yaitu: (1) pemilik organisasi, (2) masyarakat
pengguna dan (3) pihak ketiga. Masalah yang sering timbul adalah bagaimana
jaminan ketersediaan dana tersebut secara jelas dan kontinyu, tanpa mengganggu
kelangsungan kegiatan operasional sekolah. Masalah lain yang dapat timbul adalah
ketika para penyandang dana memiliki kepentingan yang berbeda Adalah sangat
penting untuk sekolah mencari sumber-sumber dana yang tidak memiliki
kepentingan yang saling berbenturan. Tentunya sangat adil ketika visi dan misi
sekolah diawali dari tujuan lembaga pembentuknya (pemerintah atau yayasan).
Dalam kondisi tertentu, sekolah-sekolah yang mempunyai keterbatasan sumber
daya yang dimiliki, maka strategi alliances merupakan jawaban dalam meningkatkan
kapasitas dan kualitas pelayanan. Stategi alliance merupakan bentuk kerjasama
dengan lembaga lain yang paling aman dijalankan dibandingkan metode kerjasama
lainnya (piggybacking dan merger), ketika identitas organisasi tersebut masih terjaga.
22

Hal ini sangat logis ketika kompetensi dan kolaborasi antar lembaga pendidikan akan
menjadi semakin dinamis, maka untuk materi-materi tertentu (seperti ketrampilan
dan seni), sekolah dapat bekerjasama dengan mitra yang kompeten. Sebagai contoh
untuk penyediaan pendidikan ketrampilan komputer bisa menggandeng lembaga
pendidikan komputer yang sudah ada. Namun perlu diperhatikan bahwa strategi ini
memiliki konsekuensi terpengaruhnya imej sekolah oleh lembaga mitra. Untuk itu
diperlukan penetapan mitra yang memiliki visi dan misi yang sejalan serta reputasi
yang baik.
Pola persaingan antar sekolah dapat disikapi sebagai suatu iklim yang kondusif
dalam pertumbuhan penyelenggaraan pendidikan. Isu-isu komersialisasi pendidikan
merupakan konsekuensi logis dari tidak meratanya pasar yang terlayani oleh sekolah
yang ada. Timbulnya sekolah favorit adalah akibat atribut-atribut sekolah yang
secara panca indra tertangkap sebagai sekolah yang dapat memenuhi kebutuhan
pasar. Atribut-aribut sekolah antara lain visi dan misi, sarana prasarana fisik, reputasi
pendidik, prestasi siswa dan lulusan.
Di lain pihak perlu pengelompokan pasar pengguna jasa pendidikan yang luas
ke dalam beberapa segmen. Sekolah dapat lebih menajamkan strategi pengelolaan
sehubungan dengan pasar yang menjadi segemennya. Akan lebih baik sekolah
menjadi yang terbaik di kelasnya.
Manajemen Pemasaran Sekolah
Kotler mendefinisikan Pemasaran sebagai suatu proses sosial dan manajerial di
mana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan
menciptakan, menawarkan dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain. Dengan
demikian pemasaran produk dan jasa, termasuk sekolah akan terkait kepada konsep:
permintaan, produk, nilai dan kepuasan pelanggan.
Konsep produk dalam dunia pendidikan terbagi atas jasa kependidikan dan
lulusan. Jasa kependidikan sendiri terbagi atas jasa: kurikuler, penelitian,
pengembangan kehidupan bermasyarakat, ekstrakurikuler dan administrasi. Bentuk
produk-produk tersebut hendaknya sejalan dengan permintaan pasar atau keinginan
pasar yang diikuti oleh kemampuan dan kesediaan dalam membeli jasa
kependidikan.
Sekolah hendaknya dapat berorientasi kepada kepuasan pelanggan. Selain itu
juga perlu mencermati pergeseran konsep ‘keuntungan pelanggan’ menuju ‘nilai’
(value) dari jasa yang terhantar. Sekolah mahal tidak menjadi masalah sepanjang
23

manfaat yang dirasakan siswa melebihi biaya yang dikeluarkan. Dan sebaliknya
sekolah murah bukan jaminan akan diserbu calon siswa apabila dirasan nilainya
rendah.
2.6

Homeschooling
Secara etimologis, homeschooling adalah sekolah adalah sekolah yang
diadakan dirumah, akan tetapi, secara harkiki, homeschooling adalah sebuah sekolah
alternatif yang menempatkan anak-anak sebagai subjek dengan pendekatan
pendidikan secara “at home”. Dengan pendekatan at home inilah anak-anak merasa
nyaman belajar karena mereka bisa belajar apa saja sesuai dengan keinginannya,
kapan saja dimana saja seperti ia berjalan dirumahnya. Jadi, meskipun disebut
homeschooling, tidak berarti anakharus belajar terus menerus dirumah, tetapi anakanak bisa belajar di mana saja dan kapan aja asal situasi dan kondisinya benar-benar
nyaman seperti at home, sehingga jam pelajaran fleksibel, mulai dari bangun tidur
sampai berangkat tidur kembali (Mulyadi, dalam Harun Al Rasyid, 2014:131).
Rumah merupakan lingkungan terdekat anak dan tempat belajar yang paling
baik buat anak. Di rumah anak bisa belajar selaras dengan keinginannya sendiri. Ia
tidak perlu duduk menunggu sampai bel berbunyi, tidak perlu harus bersaing dengan
anak-anak lain, tidak perlu ketakutan menjawab salah di depan kelas, dan langsung
bisa mendapat penghargaan atau pembetulan kalau membuat kesalahan.
Disini peran orang tua menjadi sangat penting, karena tugas utama dan
pertama bagi orang tua sebetulnya adalah mendidik anak. Pertanyaan yang kemudian
muncul adalah bagaimana dengan saran belajar anak? Di dalam rumah banyak sekali
sarana-sarana yang bisa dipakai untuk pembelajaran anak. Anak dapat belajar banyak
sekali konsep tentang benda, warna, bentuk dan sebagainnya sembari bermain dan
diawasi langsung oleh orang tua.
Oleh sebab itu, rumah merupakan lingkungan yang tepat dalam
penyenggaraan

pendidikan

untuk

anak.

Dengan

menggunakan

metode

homeschooling potensi anak-anak dapat dioptimalkan dengan pengawasan langsung
keluarga. Keluarga juga dapat menamkan nilai-nilai luhur yang dianut, yang kelak
akan sangat berguna bagi kelangsungan hidup anak. Di samping itu, lingkungan
sosial yang menjadi tempat bagi anak untuk bergaul dan bersosalisasi dapat terjaga,
artinya lingkungan sosial yang menjadi tempat bagi anak untuk bergaul dan
bersosialisasi dapat terjaga, artinya lingkungan yang memberikan pengaruh buruk
bagi anak dapat kita minimalisir.
24

Homeschooling

merupakan

pendidikan

yang

berbasis

rumah,

yang

memungkinkan anak berkembang sesuai dengan potensi diri mereka masing-masing.
Teori multiple intelligences atau kecerdasan majemuk telah membuka mata kita
bahwa ada begitu banyak cara untuk membuat anak-anak memahami suatu materi
pelajaran. Kita harus menyadari bahwa anak-anak mungkin bisa belajar dengan
sangat baik dengan cara mereka sendiri.
Menurut pakar psikologi pendidikan anak, Hawadi (dalam Harun Al Rasyid,
2014:133) menyatakan bahwa homeschooling memungkinkan pendidikan anak yang
efisien, dalam arti tidak memerlukan biaya tinggi, anak memperoleh kurikulum
spesifik dan teknik mengajar yang sesuai dengan kebutuhan anak. Di samping itu,
anak-anak akan mendapatkan teladan yang lebih baik dari orang tua (Kho dalam
Harun Al Rasyid, 2014:133)
Homeschooling dipilih sebagai alternatif pendidikan karena dinilai memiliki
kelebihan-kelebihan berikut:
a. Efisien. Homeschooling jauh lebih efisien karena anak bisa memiliki waktu yang
lebih banyak untuk belajar dan mengerjakan sesuatu dibanding di sekolah. Dengan
belajar dirumah anak tak perlu lagi menghabiskan waktu yang tak efektif untuk
perjalanan menuju ke dan kembali dari sekolah dan melakukan persiapan-persiapan
rutin lainnya.
b. Mencegah pelajaran berulang. Dalam kurikulum sekolah konvensional, seringkali
anak-anak dihadapkan pada bahan pelajaran yang disampaikan berulang-ulang dalam
waktu cukup lama.
c. Kesempatan memperoleh perhatian yang lebih personal. Dengan homeschooling
orang tua dapat mudah memberikan bantuan lebih personal pada anak-anaknya,
misalnya dengan memberikan perhatian lebih pada mata pelajaran yang masih sulit
untuk dikuasai dan mengurangi waktu untuk mempelajari hal-hal yang sudah
dikuasai dengan baik oleh anak. Walaupun memiliki

banyak kelebihan

homeschooling yang mengambil tempat belajar di rumah sering menimbulakan
kekhawatiran orang tua pada kemampuan anak bersosialisasi.
Model Homeschooling
Homeschooling sebagaimana bentuk-bentuk pendidikan alternatif lainnya, memiliki
beberapa jenis model. Beberapa jenis Homeschooling ini juga terbagi atas dua
karakteristik.

Karakteristik

yang

pertama

adalah

berdasarkan

pada

cara

penyelenggaraannya, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
25

1.

Model sekolah dirumah (school-at-home). model ini merupakan metode yang
paling mahal dan mempunyai tingkat kegagalan yang paling tinggi. Peserta
program membeli suatu set kurikulum dengan buku-buku, jadwal belajar,
tingkat kelas beserta cara evaluasinya. Mereka juga akan berhubungan dengan
penyedikan kurikulum untuk menyerahkan tugas-tugas yang dimuat untuk
dinilai dan dievaluasi. Peserta yang memakai model ini juga bisa membuat
rencana dan materi pelajaran sendiri. Keuntungan modek ini adalah, peserta
tahu dengan pasti apa yang akan diajarkan dan kapan mengajarkannya.
Sebaliknya, kurugiannya adalah, model ini memerlukan pekerjaan dan
perhatian yang lebih banyak dari orang tua atau pengajar. Selain itu, besar
kemungkinan pelajaran yang diberikan tidak terlalun menyenangkan bagi anakanak.

2.

Model unit pengajaran (unit studies). model ini memakai minat masingmasing anak dalam suatu subjek dan kemudian menyatukan dalam bidangbidang lain seperti matematika, bahasa pengetahuan umum, sejarah, dan
sebagainya. Misalnya bila anak berminat mempelajari negara Mesir, menulis
karangan tentang Mesir, membuat art project tentang piramida sekaligus
meneliti benda-benda kuno Mesir dan sebgainya. Model ini dapat menjadi
metode pembelajaran yang santai sambil bereksplorasi berdasarkan minat
melalui suatu objek atau pendekatan alamiah yang terdapat dalam paket unit
pengajaran. Keuntungan model ini terletak pada minat anak. Pada
kenyataannya, anak akan belajar lebih baik bila ia memiliki minat pada topik
itu. Kekurangannya, menurut Utami, kadang-kadang orang tua selalu
bersemangat dan berlebihan dalam membahas subjek ini. Akibatnya, anak
menjadi takut membicarakan subjek yang lain yang ia minati.

3.

Model ekletik merupakan metode Homeschooling yang santai dan paling
banyak digunakan. Pada dasarnya model ini mengunakan sedikit perlengkapan
juga bahasa dan pendekatan yang bebas. Dengan metode ini orang tua dapat
merasakan subjek-subjek apa yang menurutnya paling penting seraca
keseluruhan. Peserta dapat memilih buku-buku membuat karya wisata dan ikut
serta dalam kelas-kelas yang cocok dengan keperluan dan minatnya.

4.

Model unschooling dikenal sebagai metode pembelajaran alamai yang
pratiknya dilakukan berdasarkan minat dan keinginan anak. Peserta belajar dari
pengalaman sehari-hari dan tidak menggunakan jadwal sekolah atau kurikulum
formal. Dengan demikian, anak-anak mempunyai cukup waktu dan
26

kemampuan dalam meneliti sehingga mereka akan menjadi ahli dalam bidang
yang diminati, namun model ini juga memiliki kerugian karena sulit bagi
merekan dalam mengikuti penyetaraaan tingkatan atau kelas apabila ingi
memasuki sistem sekolah umum.
Karakteristik kedua adalah berdasarkan pada kelompok belajarnya. Berdasarkan pada
karakteristik ini, model homeschooling yang diselenggarakan antara lain berbentuk:
1.

Sekolah rumah tunggal, merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh
orang tua atau wali terhadap seorang anak atau lebih terutama dirumahnya
sendiri, atau di tempat-tempat lain yang menyenangkan bagi peserta didik

2.

Sekolah rumah majemuk merupakan layanan pendidikan yang dilakukan oleh
para orang tau atau wali terhadap anak-anak dari suatu lingkungan yang tidak
selalu bertalian dalam keluarga, yang diselenggarakan di beberapa rumah atau
di tempat atau fasilitas pendidikan yang ditentukan oleh suatu komunitas
pendidikan yang dibentuk atau dikelola secara lebih teratur dan terstruktur
(Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Harun Al Rasyid, 2014:143 )

Kurikulum homeschooling
Orang tua yang ingin menyelenggarakan homeschooling bagi anaknya dapat
menggunakan sumber-sumber apapun yang ada dekat dengan limgkungannya. Di AS
dikenal istilah All-in-one Curricula atau lebih dikenal dengan School in a Box yang
isinya paket pelajaran lengkap dengan buku tulis dan pensil untuk setahun penuh.
Materi yang diberikan dikembangkan untuk lingkungan sekolah, namun dapat
dipakai dalam lingkup rumah. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu ingin pindah ke
sekolah formal, transisi akan mudah dilakukan. Cara ini mungkin paling mahal
namun paling mudah diterapkan dan tidak banyak persiapan apapun. Di samping itu
program ini juga meliputi tes yang standar sehingga anak akan memperoleh ijazah
yang terakreditasi.
Di indonesia, kurikulum yang digunakan sangat bervariasi, mulai dari
kurikulum lokal, nasional, kecuali standar penilaian, akan disetarakan dengan
pendidikan jalur formal dan nonformal sebagaimana yang dinyatakan dala Undangundang No. 20 tahun 2003 pasal 27 ayat (2). Memang belum ada standar mengenai
kurikulum yang digunakan. Dengan demikian untuk kesetaraan untuk anak-anak usia
sekolah.
27

BAB III
PRNUTUP
Kesimpulan
Aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua
nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Landasan aksiologis pendidikan akan membekali
para pendidik berpikir klarifikatif tentang hubungan antara tujuan-tujuan hidup dan
pendidikan sehingga akan mampu memberi bimbingan dalam mengembangkan suatu program
pendidikan yang berhubungan secara realitas dengan konteks dunia global. Pendidikan
karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang
28

meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut. Pendidikan di negara maju mempunyai strategi yang berbeda-beda dalam
memajukan pendidikan di negaranya masing-masing.
Tujuan pendidikan adalah kegiatan memberikan pengetahuan agar kebudayaan dapat
diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya (Djumberansyah, 1994:19). Proses pendidikan
terutama pendidikan di sekolah perlu disesuaikan dengan perkembangan pemikiran rasional
yang ditandai kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi teori-teori ilmu dan teknologi yang akan
disampaikan perlu mempertimbangkan peningkatan dan martabat manusia.
Homeschooling

adalah sebuah sekolah alternatif yang menempatkan anak-anak

sebagai subjek dengan pendekatan pendidikan secara “at home”. Dengan pendekatan at home
inilah anak-anak merasa nyaman belajar karena mereka bisa belajar apa saja sesuai dengan
keinginannya, kapan saja dimana saja seperti ia berjalan dirumahnya.

Daftar Pustaka
Arifin, H.M. 2000. Kapita Selekta Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara.
Djumberansyah, Indar. 1994. Filsafat Pendidikan.Surabaya: Karya Abditama.
Kurniadin, Didin dan Imam Machali.2012.Manajemen Pendidikan.Jogjakarta.Ar-Ruzz Media.
RasyidJalaluddin & Idi Abdullah. 2013. FILSAFAT PENDIDIKAN (Manusia, Filsfat, dan
Pendidikan). Jakarta: Rajawali Pers.
Kotler, Philip. (2000). Marketing management, 10th edition. Upper Saddle River: Prentice
Hall, Inc.
Harun AL dan Mujtahidin. 2014. Ilmu Pendidikan.Bangkalan.UTM.
29

Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Suharto, Toto. 2011. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Tilaar. 2001. Manajemen Pendidikan Nasional.Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Jalaluddin & Idi Abdullah. 2013. FILSAFAT PENDIDIKAN (Manusia, Filsfat, dan
Pendidikan). Jakarta: Rajawali Pers.
http://dakwahmuhammadiyah.blogspot.co.id/2013/02/persaingan-terbuka-antar-sekolah.html
.

30

Judul: Makalah Aksiologi Pendidikan

Oleh: Nurul Khoirotin


Ikuti kami