Makalah Kepemimpinan Efektif

Oleh Dea Amar Nurhadi

12 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Kepemimpinan Efektif

MAKALAH
KEPEMIMPINAN EFEKTIF
Makalah ini Diajukan Sebagai Salah Satu Mata Kuliah Kepemimpinan &
Kepribadian
Dosen Pengampu : Victor,Drs.,M.Si

Disusun oleh :
Rival Muhammad Jafar

6211151175

Erlang Dwi Adi Putra

6211151198

Ulfie Gunawan

6211151201

Dwi Putri Yunita

6211151211

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JENDRAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah
ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca dalam menambah ilmu pengetahuan tentang kepemimpinan &
kepribadian.
Harapan kami

semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan

pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.
Cimahi, Februari 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
1.1 Latar Belakang........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.....................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................3
2.1 Definisi Kepemimpinan...........................................................................................3
2.2 Kekuasaann dan Wewenang....................................................................................8
2.3 Kriteria Seorang Pemimpin...................................................................................14
2.4 Prilaku Pemimpin..................................................................................................16
2.5 Pengambilan Keputusan........................................................................................18
2.6 Gaya Kepemimpinan Yang Efektif........................................................................20
BAB III PENUTUP.........................................................................................................22
3.1 Simpulan...............................................................................................................22
3.2 Saran......................................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................23

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akhir-akhir ini banyak orang membicarakan masalah krisis kepemimpinan.
Banyak orang mengatakan bahwa pada zaman sekarang sangat sulit mencari
kader-kader pemimpin pada berbagai tingkatan. Orang pada zaman sekarang
cenderung mementingkan diri sendiri dan tidak atau kurang perduli pada
kepentingan orang lain, dan kepentingan lingkungannya. Krisis kepemimpinan ini
disebabkan karena makin langkanya keperdulian pada kepentingan orang banyak,
dan kepentingan lingkungannya. Sekurang-kurangnya terlihat ada tiga masalah
mendasar yang menandai kekurangan ini. Pertama adanya krisis komitmen.
Kebanyakan orang tidak merasa mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk
memikirkan dan mencari pemecahan masalah kemaslahatan bersama, masalah
harmoni dalam kehidupan dan masalah kemajuan dalam kebersamaan Kedua,
adanya krisis kredibilitas. Sangat sulit mencari pemimpin atau kader pemimpin
yang mampu menegakkan kredibilitas tanggung jawab. Kredibilitas itu dapat
diukur misalnya dengan kemampuan untukmenegakkan etika memikul amanah,
setia pada kesepakatan dan janji, bersikap teguh dalam pendirian, jujur dalam
memikul tugas dan tanggung jawab yang dibebankan padanya, kuat iman dalam
menolak godaan dan peluang untuk menyimpang. Ketiga, masalah kebangsaan
dan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Saat ini tantangannya semakin
kompleks dan rumit. Kepemimpinan sekarang tidak cukup lagi hanya
mengandalkan pada bakat atau keturunan. Pemimpin zaman sekarang harus
belajar, harus membaca, harus mempunyai pengetahuan mutakhir dan
pemahamannya mengenai berbagai soal yang menyangkut kepentingan orangorang yang dipimpin. Juga pemimpin itu harus memiliki kredibilitas dan
integritas, dapat bertahan, serta melanjutkan misi kepemimpinannya. Kalau tidak,
pemimpin itu hanya akan menjadi suatu karikatur yang akan menjadi cermin atau
bahan tertawaan dalam kurun sejarah di kemudian hari.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa arti kepemimpinan efektif?
2. Apa saja kriteria pemimpin?
3. Bagaimana perilaku pemimpin?
4. Bagaiman cara mengambil keputusan seorang pemimpin?
5. Bagaimana gaya kepemimpinan yang efektif?

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah :
1. Melatih mahasiswa menyusun paper dalam upaya lebih meningkatkan
pengetahuan dan kreatifitas mahasiswa.
2. Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya
tentang kepemimpinan dan kepribadian.
3. Agar kita bisa lebih memahami apa itu pemimpin dan apa yang harus dimiliki
oleh seorang pemimpin juga apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin
karena setiap dari kita mempunyai potensi untuk menjadi seorang pemimpin.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kepemimpinan
Secara umum, kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mengarahkan dan
mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam kelompok.
Kepemimpinan berarti melibatkan orang lain, yaitu bawahan atau karyawan yang
akan dipimpin. Kepemimpinan juga melibatkan pembagian kekuasaan (Power).
Pemimpin mempunyai power yang lebih besar dibandingkan dengan yang
dipimpin. Power tersebut datang dari beberapa sumber, diantaranya adalah :
Reward power, Coercive power, Legitimate power, Referent power, dan Expert
power.
Manajer secara umum, mempunyai keahlian yang lebih tinggi, dibandingkan
bawahannya, manajer dapat juga mempunyai kekuasaan referensi yang
mendorong bawahan ingin meniru perilaku menejer, meskipun kekuasaan yang
terakhir ini barangkali tidak sebesar kekuasaan sebelumnya.
Pemimpin tidak sama dengan manajer. Pemimpin biasanya dikaitkan dengan
orang yang mempunyai semangat yang tinggi, kharisma yang tinggi, dan
kemampuan memotifasi orang lain yang sangat tinggi. Sementara Manajer
biasanya dikaitkan dengan orang yang mampu merencanakan, mengelola, dan
mengendalikan organisasi dengan baik, tetapi tidak mempunyai kemampuan
memotifasi orang lain dengan baik. Presiden Soekarno barangkali contoh seorang
pemimpin yang efektif, karena hanya dengan pidatonya, beliau mampu
menggerakkan bangsa Indonesia melawan penjajah. Sementara para manajer
biasanya memotifasi karyawannya dengan intensif gaji.
Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan orang lain supaya bekerja sama
di bawah pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai atau melakukan suatu
tujuan. Seorang pemimpin itu adalah berfungsi untuk memastikan seluruh tugas
dan kewajiban dilaksanakan di dalam suatu organisasi. Seseorang yang secara
resmi diangkat menjadi kepala suatu group I kelompok bisa saja ia berfungsi atau

mungkin tidak berfungsi sebagai pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang
yang unik dan tidak di wariskan secara otomatis tetapi seorang pemimpin haruslah
memiliki karekteristik tertentu yang timbul pada situasi -situasi yang berbeda
Menurut John. R. Schermer Horn : “Untuk menjadi seorang manajer tidaklah
suatu yang mudah. Untuk menjadi manajer berarti berani untuk bertindak secara
efektif dalam arti menyeluruh dalam perencanaan (planning), organisasi
(organizing), memimpin dan mengendalikan. Kepemimpinan yang sukses adalah
suatu kemauan tetapi bukan dalam kondisi sukses managerial. Seorang manajer
yang baik, maka akan baik pula kepemimpinannya, tetapi seorang yang baik
kepemimpinannya belum tentu baik dalam manajer yang baik manajer.
Kepemimpinan adalah usaha mempengaruhi aktivitas individu atau kelompok
untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ricky W. Griffin membagi pengrtian
kepemimpinan menjadi dua konsep, yakni penerapannya sebagai proses dan
sebagai atribut.
Sebagai proses, kepemimpinan di fokuskan kepada apa yang di lakukan oleh para
pemimpin, yaitu proses yang mengharuskan seseorang pemimpin di dalam
menggunakan pengaruhnya untuk memperjelas tujuan organisasi bagi para
pegawai, atau siapa saja yang dipimpinnya, kemudian memotivasi mereka agar
dapat mencapai tujuan bersama dan membantu penciptaan budaya produktif di
dalam organisasi.
Sebagai atribut, kepemimpinan adalah kumpulan karakteristik yang harus di
miliki oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin dapat didefinisikan
sebagai seseorang yang mempunyai kemempuan untuk mempengaruhui orang lain
tanpa menggunakan kekuatan, sehingga orang-orang yang di pimpin itu menerima
dirinya aebagai sosok yang layak memimpin.
Paradigma secera luas untuk membedakan leader (Pemimpin) dan manajer :
1. Manajer harus menggunakan fungsi-fungsi (proses) manajemen, sedangkan
leader belum tentu menerapkan fungsi-fungsi tersebut.
2. Manajer di batasi oleh aturan-aturan organisasi, sedangkan leader (dalam arti
luas) belum tentu dibatasi.
Contoh :

Ada seseorang yang bertanya kepada karyawan di sebuah perusahaan mengenai
penilaian, “apakah bos-nya itu adalah seorang manajer yang baik?” Karyawan itu
menjawab, “Ya, bos-ku adalah seorang manajer yang baik.” Kemudian seseorang
tersebut bertanya lahi, “Apakah bos-mu adalah juga seorang pemimpin (leader)
yang baik?” Setelah berfikir beberapa saat, karyawan itu merespon, “Saya rasa
tidak.”
Dalam kajian lain yang di tulis oleh Eric Garner, antara leadership (leader) dan
manajemen (Manajer) sebenarnya memiliki sisi-sisi perbedaan yang cukup tajam.
Bisakah seorang leader me-manage? Bisakah seorang manajer memimpin?
Setidaknya ada 7 cara untuk memahami wacana ini :
1. Arah dan Kemudi
Kata leadership konon berasal dari bahasa inggris kuno ‘lad’ yang berarti ‘arah’.
Sebuah kata ‘lad’ atau ‘lode’ dimaknai sebagai garis-garis retakan yang menuju
pada bijih besi, sebuah batu lode (ledostone) adalah sebuah benda yang di
percayai dapat memberikan bimbingan, lode-star adalah nama sebuah bintang
yang di jadikan petunjuk arah oleh para pelaut. Sementara itu, kata manajement
berasal dari bahasa latin ‘manus’ yang berarti ‘tangan’ yang biasa digunakan
manusia untuk memperbaiki berbagai benda. Dengan demikian, leadership itu
ibarat orang yang menunjukkan arah kapal, sedangkan manajemen itu
mempertahnkan tangan untuk memutar roda kemudi kapal.
2. Berkembang dan Bertahan
Organisasi apapun pasti butuh bertahan dan berkembang. Untuk bisa bertahan, di
perlukan kebutuhan-kebutuhan dasar hidup seperti makanan, minuman (air), dan
sandang, bagi manusia. Bagi organisasi, adanya laba, pelanggan, dan programprogram kerja adalah unsur-unsur yang menjadi pertahanan hidup. Sedangkan
berkembang adalah usaha untuk menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya.
Pemeliharaan dan upaya mempertahankan organisasi dapat dilakukan melalui
fungsi-fungsi manajemen seperti pengukuran, penilaian, pengawasan, menjaga
stoc barang, dan mempertimbangkan kebijakan. Di lain sisi, untuk membawa
organisasi dapat lebih maju berkembang, di butuhkanlah leadership yang bertugas
untuk membawa pada arah perubahan dan pemberdayaan.

3. Potensi dan Sumber Daya
Manajemen hanya mengukur apa yang bisa di hitung dan di liahat. Manajemen
hanya berhubungan dengan sumber-sumber daya organisasi di masa lalu dan
bagaimana orang-orang bisa bekerja untuk masa sekarang. Sementara itu,
leadership memandang seseorang sebagai sesuatu yang tidak bisa di ukur, serta
mengerjakan sesuatu yang di anggap kebanyakan orang sebagai tugas yang tidak
mungkin dapat dilakukan. Hal ini berkaitan dengan prospek masa depan dan
bagaimana orang-orang sanggup menyelesaikan pekerjaan bilamana potensi
mereka terealisasikan. Leadeship berfungi mencari potensi dan manajemen
mengelola sumber-sumber daya yang sudah ada.
4. Otak Kanan dan Otak Kiri
Bagian otak kanan manusia adalah letaj dari imajinasi, kreativitas, dan emosi
berfikir. Sedangkan otak kiri adalah sistem yang bekerja untuk operasi logika dan
berfikir rasional. Ketika dua sisi otak ini memiliki karakter yang berbeda, maka
amat beruntung bilamana dapat di gunakan secara bersama-sama dan seimbang.
Otak kiri yang lebih rasional adalah bagian dari kerja manajemen, karena
berhubungan dengan apa-apa yang bisa di hitung, mendetail, kontrol, dominasi,
aksi, analisa, pengukuran, dan tertib teratur. Sementara otak kanan adalah analogi
untuk leadership, karena berdekatan dengan apa-apa yang tidak bisa di hitung,
melihat sesuatu secara holistik menyeluruh, sintesa, kemungkinan-kemungkinan,
kepercayaan, visi, artistik, instuisi, dan imajinasi.
5. Tujuh (7) S
Richard Pascale mengatakan bahwa unsur-unsur yang menentukan jalannya
kinerja dan performance (pelaksanaan) organisasi itu terletak pada tujuh hal :
a. Strategy ( strategi, akal)
b. Structure ( struktur, kerangka)
c. Systems (sistem)
d. Shared Values (Membagi penilaian)
e. Staff (dewan pegawai)
f. Skills (Kepandaian, ketrampilan)
g. Style (gaya bahasa)

Fungsi dan evektivitas dari strategy, structure, dan system hanya bisa berjalan di
atas tangan seorang manajer karena berhubungan dengan benda-benda atau teknik
teknologi, dan manajerlah orang yang tepat untuk mengatasi hal ini. Sedangkan
fungsi dari shared values, staff, skills, dan style, hanya dapat berjalan di atas
tangan seorang leader (pemimpin) karena berhubungan dengan orang-orang.
6. Seni dan Sains (Ilmu)
Johan Adair dalam buku Leadershipnya membandingkan manajemen dan
kepemimpinan dengan dikatomi klasik antara seni dan sains. Manajer berasal dari
kerja pikiran, akurasi, rutinitas, statistikal, dan metodikal. Dengan demikian,
manajeman adalah sebuah sains. Sementara itu, seorang pemimpin tumbuh
berkembang dari semainan jiwa dan semangat (Spirit), yang mencakup
kepribadian dan visi. Jadi, leadership adalah sebuah seni. Keberadaannya para
manajer itu penting, dan keberadaan leadaer itu esensial.
7. Jangka Panjang dan Jangka Pendek
Tatkala sebuah organisasi berfikir tentang masa sekarang dan masa depan dalam
jangka pendek, maka hal itu berfikir tentang diri sendiri sebagai unit produksi.
Sepertihalnya melihat perumpamaan ‘masalah teknik yang membutuhkan jawaban
teknik’. Namun bilaman organisasi berfikir tentang masa depan dalam jangka
panjang, maka hal tersebut berfikir tentang membangun, mempelajari, dan
berkembang. Tidak kalah pentingnya juga untuk mengidentifikasi dan
mengembangkan peluang-peluang. Organisasi yang memerlukan perbaikan secara
cepat dalam jangka pendek itu tergantung pada figur manajer, sedangkan
organisasi yang menginginkan perkembangan dalam jangka panjang di masa
depan itu tergantung pada visi seorang leader.
Perbedaan antara manajemen dan leadeship itu ibarat perbedaan yang menarik di
antara laki-laki dan perempuan, matahari dan bulan, siang dan malam, gemuk dan
khurus, panas dan dingin, datang dan pergi, dan seterusnya. Kedua adalah dua sisi
dari satu buah koin yang sama. Untuk menjadikanya sebagai satu kesatuan yang
utuh, kita tidak bisa hanya melihat satu sisi saja, malainkan harus melihat sisi
yang lainnya juga. Meskipun berbeda dan di bedakan, keduanya adalah bagian

dari keseluruhan. Memang bertentangan secara esensial, tetapi justru di dalam
dinamika pertentangan itulah, keduanya saling memperjelas keberadaan yang lain.
Dapat di simpulkan bahwa kepemimpinan atau pemimpin adalah suatu proses
mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas tugas dari orang-orang dalam
kelompok, biasanya dikaitkan dengan orang yang mempunyai semangat yang
tinggi, kharisma yang tinggi, dan kemampuan memotifasi orang lain yang sangat
tinggi, dan usaha mempengaruhi aktivitas individu atau kelompok untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu, serta meyakinkan orang lain supaya bekerja sama di bawah
pimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai atau melakukan suatu tujuan

2.2 Kekuasaann dan Wewenang
Untuk dapat mengusahakan orang lain bekerjasama dengannya, maka pemimpin
dapat menggunakan kewibawaan tertentu atau diberikan kewenangan/kekuasaan
formal tertentu. Kekuasaan merupakan suatu bagian yang merasuk ke seluruh
sendi kehidupan organisasi. Bahkan dikatakan oleh Mc Clelland kekuasaan
merupakan salah satu kebutuhan manusia. Manager dan non manager
menggunakan kekuasaan dalam aktivitas sehari-harinya. Mereka memanipulasi
kekuasaan untuk mencapai tujuan dan memperkuat kedudukan mereka. Dalam
teori otoritas formil, kewenangan adalah suatu kekuasaan atau hak untuk
bertindak, untuk memerintah atau menurut tindakan oleh orang lain.
Kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai
sesuatu dengan cara yang diinginkan. Studi tentang kekuasaan dan dampaknya
merupakan hal yang penting dalam manajemen. Karena kekuasaan merupakan
kemampuan mempengaruhi orang lain, maka mungkin sekali setiap interaksi dan
hubungan sosial dalam suatu organisasi melibatkan penggunaan kekuasaan. Cara
pengendalian unit organisasi dan individu di dalamnya berkaitan dengan
penggunaan kekuasaan. Kekuasaan manager yang menginginkan peningkatan
jumlah penjualan adalah kemampuan untuk meningkatkan penjualan itu.
Kekuasaan melibatkan hubungan antara dua orang atau lebih. Dikatakan A
mempunyai kekuasaan atas B, jika A dapat menyebabkan B melakukan sesuatu di
mana B tidak ada pilihan kecuali melakukannya. Kekuasaan selalu melibatkan
interaksi sosial antar beberapa pihak, lebih dari satu pihak. Dengan demikian

seorang individu atau kelompok yang terisolasi tidak dapat memiliki kekuasaan
karena kekuasaan harus dilaksanakan atau mempunyai potensi untuk dilaksanakan
oleh orang lain atau kelompok lain.
Kekuasaan amat erat hubungannya dengan wewenang. Tetapi kedua konsep ini
harus dibedakan. Kekuasaan melibatkan kekuatan dan paksaan, wewenang
merupakan bagian dari kekuasaan yang cakupannya lebih sempit. Wewenang
tidak menimbulkan implikasi kekuatan. Wewenang adalah kekuasaan formal yang
dimiliki oleh seseorang karena posisi yang dipegang dalam organisasi. Jadi
seorang bawahan harus mematuhi perintah manajernya karena posisi manajer
tersebut telah memberikan wewenang untuk memerintah secara sah. Unsur yang
ada di dalam wewenang :
1.Wewenang ditanamkan pada posisi seseorang. Seseorang mempunyaiwewenang
karena posisi yang diduduki, bukan karena karakteristik pribadinya;
2.Wewenang tersebut diterima oleh bawahan. Individu pada posisi wewenang
yang sah melaksanakan wewenang dan dipatuhi bawahan karena dia memiliki hak
yang sah; serta
3.Wewenang digunakan secara vertikal. Wewenang mengalir dari atas ke bawah
mengikuti hierarkii organisasi. Konsep lain yang sangat dekat dengan kekuasaan
adalah pengaruh. Pengaruh merupakan suatu transaksi sosial di mana seseorang
atau sekelompok orang yang lain untuk melakukan kegiatan sesuai dengan
harapan orang atau ke!ompok yang mempengaruhi. Dengan demikian kita bisa
mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan untuk mempunyai pengaruh.
Pembedaan kekuasaan dengan pengaruh akan lebih memperjelas pemahaman atas
konsep ini. Tetapi para penulis juga sering menggunakan konsep pengaruh dengan
maksud menjelaskan kekuasaan, begitu sebaliknya. Dalam modul ini istilah
pengaruh dan kekuasaan bisa dipakai secara bergantian.
Basis Kekuasaan
Kekuasaan dapat berasal dari berbagai sumber. Bagaimana kekuasaan tersebut
diperoleh dalam suatu organisasi sebagian besar tergantung jenis kekuasaan yang
sedang dicari. Kekuasaan dapat berasal dari basis antar pribadi, struktural, dan
situasi.

1. Kekuasaan Antar pribadi
John R.P. French dan Bertram Raven mengajukan lima basis kekuasaan antar
pribadi sebagai berikut : kekuasaan legitimasi, imbalan, paksaan, ahli, dan
panutan.
a) Kekuasaan Legitimasi
Kekuasaan legitimasi adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang
lain karena posisinya. Seorang yang tingkatannya lebih tinggi memiliki kekuasaan
atas pihak yang berkedudukan lebih rendah. Dalam teori, orang yang mempunyai
kedudukan sederajat dalam organisasi, misalnya sesama manajer, mempunyai
kekuasaan legitimasi yang sederajat pula. Kesuksesan penggunaan kekuasaan
legitimasi ini sangat dipengaruhi oleh bakat seseorang mengembangkan seni
aplikasi kekuasaan tersebut. Kekuasaan legitimasi sangat serupa dengan
wewenang. Selain seni pemegang kekuasaan, para bawahan memainkan peranan
penting dalam pelaksanaan penggunaan legitimasi. Jika bawahan memandang.
penggunaan kekuasaan tersebut sah, artinya sesuai dengan hak-hak yang melekat,
mereka akan patuh. Tetapi jika dipandang penggunaan kekuasaan tersebut tldak
sah, mereka mungkin sekali akan membangkang. Batas-batas kekuasaan ini akan
sangat tergantung pada budaya, kebiasaan dan sistem nilai yang berlaku dalam
organisasi yang bersangkutan.
b) Kekuasaan Imbalan
Kekuasaan imbalan didasarkan atas kemampuan seseorang untukmemberikan
imbalan kepada orang lain (pengikutnya) karena kepatuhan mereka. Kekuasaan
imbalan digunakan untuk mendukung kekuasaan legitimasi. Jika seseorang
memandang bahwa imbalan, baik imbalan ekstrinsik maupun imbalan intrinsik,
yang ditawarkan seseorang atau organisasi yang mungkin sekali akan diterimanya,
mereka akan tanggap terhadap perintah. Penggunaan kekuasaan imbalan ini amat
erat sekali kaitannya dengan teknik memodifikasi perilaku dengan menggunakan
imbalan sebagai faktor pengaruh.
c) Kekuasaan Paksaan
Kekuasaan imbalan seringkali dilawankan dengan kekuasaan paksaan, yaitu
kekuasaan untuk menghukum. Hukuman adalah segala konsekuensi tindakan

yang dirasakan tidak menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Pemberian
hukuman kepada seseorang dimaksudkan juga untuk memodifikasi perilaku,
menghukum perilaku yang tidak baik/merugikan organisasi dengan maksud agar
berubah menjadi perilaku yang bermanfaat. Para manajer menggunakan
kekuasaan jenis ini agar para pengikutnya patuh pada perintah karena takut pada
konsekuensi tidak menyenangkan yang mungkin akan diterimanya. Jenis
hukuman dapat berupa pembatalan pemberikan konsekwensi tindakan yang
menyenangkan; misalnya pembatalan promosi, pembatalan bonus; maupun
pelaksanaan hukuman seperti skors, PHK, potong gaji, teguran di muka umum,
dan sebagainya. Meskipun hukuman mungkin mengakibatkan dampak sampingan
yang tidak diharapkan, misalnya perasaan dendam, tetapi hukuman adalah bentuk
kekuasaan paksaan yang masih digunakan untuk memperoleh kepatuhan atau
memperbaiki prestasi yang tidak produktif dalam organisasi.
d) Kekuasaan Ahli
Seseorang mempunyai kekuasaan ahli jika ia memiliki keahlian khusus yang
dinilai tinggi. Seseorang yang memiliki keahlian teknis, administratif, atau
keahlian yang lain dinilai mempunyai kekuasaan, walaupun kedudukan mereka
rendah. Semakin sulit mencari pengganti orang yang bersangkutan, semakin besar
kekuasaan yang dimiliki.Kekuasaan ini adalah suatu karakteristik pribadi,
sedangkan kekuasaan legitimasi, imbalan, dan paksaan sebagian besar ditentukan
oleh organisasi, karena posisi yang didudukinya. Seorang montir mungkin sekali
memiliki kekuasaan ahli karena dia mengetahui seluk beluk mesin secara rinci,
lebih dari orang lain.
e) Kekuasaan Panutan
Banyak individu yang menyatukan diri dengan atau dipengaruhi oleh seseorang
karena gaya kepribadian atau perilaku orang yang bersangkutan. Karisma orang
yang bersangkutan adalah basis kekuasaan panutan. Seseorang yang berkarisma ;
misalnya seorang manajer ahli, penyanyi, politikus, olahragawan; dikagumi
karena karakteristiknya. Derajat kekuasaan panutan ditentukan oleh kekuatan
pengaruh karisma terhadap orang lain. Dengan demikian basis kekuasaan antar
pribadi dapat dikategorikan menjadi dua macam, organisasi dan pribadi.

Kekuasaan legitimasi, imbalan dan paksaan terutama ditentukan oleh organisasi,
posisi, kelompok formal atau pola interaksi khusus. Kekuasaan legitimasi
seseorang dapat diubahdengan mengalihtugaskan orang yang bersangkutan,
merumuskan kembali uraian pekerjaan atau mengurangi kekuasaan orang yang
bersangkutan dengan menata kembali organisasi. Di lain pihak, kekuasaan
panutan dan kekuasaan ahli sangat bersifat pribadi, tidak tergantung pada posisi
dalam organisasi. Kelima jenis kekuaaan antara pribadi di atas tidaklah berdiri
sendiri atau terpisah-pisah. Seseorang dapat menggunakan basis kekuasaan
tersebut secara efektif melalui berbagai kombinasi. Mungkin juga penggunaan
basis kekuasaan tertentu dapat mempengaruhi jenis kekuasaan yang lain.
Misalnya, seorang manajer yang menggunakan kekuasaan paksan untuk
menghukum seorang bawahan mungkin akan kehilangan kekuasaan panutannya
karena kebanyakan orang tidak menyukai atau tidak mengagumi manajer yang
menghukumnya.
2. Kekuasaan Struktural dan Situasional
Kekuasaan terutama ditentukan oleh struktur didalam organisasi.Struktur
organisasi di pandang sebagai mekanisme pengendalian yang mengatur
organisasi. Dalam tatanan struktur organisasi, kebijaksanan ngambilan keputusan
dialokasikan keberbagai posisi. Selain itu struktur membentuk pola komunikasi
dan arus informasi. Jadi struktur organisasi menciptakan kekuasaan dan
wewenang

formal,

dengan

menghususkan

orang-orang

tertentu

untuk

melaksanakan tugas pekerjaan dan mengambil keputusan tertentu dengan
memanfaatkan kekuasaan informal mungkin timbul karena truktur informasi dan
komunikasi dalam sistem tersebut . Posisi formal dalam organisasi amat erat
hubungannya dengan kekuasaan dan wewenang yang melekat. Tanggung jawab,
wewenag dan berbagai hak-hak yang lain tumbuh dari posisi seseorang. Bentuk
lain kekuasaan struktur timbul karena sumber daya, pengambilan keputuan, dan
informasi.
Sumber Daya
Seorang ahli mengemukakan bahwa kekuasaan struktur seorang berasal dari:
pertama, penggunaan sumber daya, informasi, dan dukungan ; kedua, kemampuan

memperoleh kerjasama untuk melakukan pekerjaan yang penting. Kekuasan
terjadi jika seseorang mempunyai saluran terbuka atas sumber daya, dana tenaga
kerja, teknologi, bahan mentah, pelanggan dan sebagainya. Dalam organisasi
sumber daya vital dialokasikan dibawah sepanjang garis hierarki organisasi.
Manejar tingkat atas mempunyai kekuasaan lebih banyak untuk mengalokasikan
sumber daya dibandingkan dengan manajer tingkat bawahannya. Manajer tingkat
yang lebih rendah memperoleh sumber daya yang diberikan oleh manajer tingkat
yang lebih atas. Untuk menjamin pencapaian tujuan manajer tingkat yang lebih
atas mengalokasikan sumber daya atas dasar prestasi dan kepatuhan. Jadi, seorang
manejer tingkat atas biasanya mempunyai kekuasaan atas manajer yang lebih
rendah harus menerima sumber daya dari atas untuk mencapai tujuan. Hubungan
ketergantungan hierarki tersebut terjadi karena keterbatasan sumber daya yang
terbatas harus dialokasikan seoptimal mungkin demi pencapaian tujuan. Tanpa
kepatuhan yang cukup tujuan dan permintaan top manajer, manajer pada tingkat
yang lebih rendah tidak dapat menerima sumber daya yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan. Pebagian pekerjaan, misalnya posisi dalm hirarki
organiasi, memberikan hak istimewa kepada mnajemen pada tingkat yang lebih
tinggi untuk mangalokasikan sumber daya.
3. Kekuasaan Pengambilan Keputusan
Derajat sesorang atau sub unit dapat mempengaruhi pengambilan keputusan akan
menentukan kadar kekuasaan. Sesorang atau sub unit yang memiliki kekuasaan
dapat mempengaruhi jalannya proses pengembalian keputusan, alternatif apa yang
seyogyanya dipilih dan kapan keputusannya diambil.
Kekuasaan Informasi
Memiliki akses atau (jangkauan) atas informasi yang relevan dan penting
merupakan kekuasan. Gambaran yang benar tentang kekuasan seseorang tidak
hanya disediakan oleh posisi orang yang bersangkutan, tetapi juga oleh penguasan
orang yng bersangkutan, tetapi juga oleh penguasan orang yang bersangkutan atas
informasi yang relevan. Seseorang akuntan dalam struktur organisasi umumnya
tidak memiliki basis kekuasaan antar pribadi khusus yang kuat atau jelas dalam
struktur

orgnisasi,

tetapi

mereka

memiliki

kekuasan

karena

mereka

mengendalikan informasi yang penting. Selanjutnya situasi organisasi dapat
berfungsi sebagai sumber kekuasaan atau ketidakkekuasaan. Manajer yang sangat
berkuasa muncul karena ia mengalokasikan sumber daya yang dibutuhkan,
mengambil keputusan yang penting, dan memiliki jgkun informsi yang penting.
Dialah yang memungkinkan banyak hal yang terjadi dalam organisasi.
Sebaliknya, manajer yang tidak mempunyai kekuasan tidak mempunyai sumber
daya atau jangkuan informsi atau hak-hak prerogatif dalam pengambilan
keputusan yang diperlukan agar produktif.

2.3 Kriteria Seorang Pemimpin
Siapa orang yang bisa diangkat atau dipilih untuk menjadi pemimpin. Untuk
menjawab pertanyaan ini perlulah kita menentukan kriteria yang akan dipakai
untuk memilih pimpinan tersebut. Seorang pemimpin itu haruslah paling sedikit
mampu untuk memimpin para bawahan untuk mencapai tujuan organisasi dan
juga mampu untuk menangani hubungan antar karyawan. Mempunyai interaksi
antar personnel yang baik dan mempunyai kemampuan untuk bisa menyesuaikan
diri dengan keadaan Sebagai sifat yang berguna bagi pemimpin yang dapat
dipertimbangkan adalah :
1. Keinginan Untuk Menerima Tanggung Jawab
Apabila seseorang pemimpin menerima kewajiban untuk mencapai suatu tujuan,
berarti ia bersedia untuk bertanggung jawab kepada pimpinannya atas apa-apa
yang dilakukan bawahanya.Disini pemimpin harus mampu mengatasi bawahanya,
mengatasi tekanan kelompok informal, bahkan kalau perlu juga harus serikat
buruh .Hampir semua pemipin merasa bahwa pekerjaan lebih banyak
menghabiskan energi daripada jabatan bukan pimpinan
2. Kemampuan Untuk Bisa”Perceptive”
Perceptive menunjukan Kemampuan untuk mengamati atau menemukan
kenyataan dari suatu lingkungan. Setiap pimpinan haruslah mengenai tujuan
organisasi sehingga mereka bisa bekerja untuk membantu mencapai tujuan
tersebut. Disini ia memerlukan kemampuan untuk untuk memahami bawahan,
sehingga ia dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka serta juga berbagai
ambisi yang ada. Di samping itu pemimpin harus juga mempunyai persepsi

intropektif ( menilai diri sendiri ) sehingga ia bias mengetahui kekuatan,
kelemahan dan tujuan yang layak baginya. Inilah yang disebut kemampuan
“Perceptive”.
3. Kemampuan untuk bersikap Objektif
Objektivitas adalah kemampuan untuk melihat suatu peristiwa atau merupakan
perluasan dari kemampuan perceptive.Apabila perceptivitas menimbulkan
kepekaan terhdap fakta, kejadian dan kenyatan-kenyatan yang lain. Objektivitas
membantu pemimpin untuk meminimumkan faktor-faktor emosional dan pribadi
yang mungkin mengaburkan realitas.
4. Kemampuan Untuk Menentukan Perioritas
Seorang pemimpin yang pandai adalah seseorang yang mempuanyai kemampuan
untuk memiliki dan menentukan mana yang penting dan mana yang tidak.
Kemampuan ini sangat diperlukan karena pada kenyataanya sering masalahmasalah yang harus dipecahkan bukan datang satu per satu tetapi seringkali
masalah datang bersamaan dan berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
5. Kemampuan untuk berkomunikasi
Kemamapuan untuk memberikan dan menerima informasi merupakan keharusan
bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang bekerja dengan
menggunakan bantuan orang lain, karena itu pemberian perintah, penyampaian
informasi kepada orang lain mutlak perlu dikuasai. Sementara itu menurut study
yang dilakukan Kurt Lewin dan temn-temn di Jowa State University
Mengemukakan kriteria-kriteria seorang pemimpin:

2.4 Prilaku Pemimpin
Pemimpin yang efektif kelihatannya tidak mempunyai sifat-sifat yang berbeda
dengan mereka yang tidak efektif sehingga para ahli perilaku management tidak
lagi meneliti tentang apa persayaratan ( kriteria ) seorang pemimpin yang efektif
melainkan para ahli ini meneliti tentang hal-hal yang dilakukan oleh pemimpin
yang efektif.Bagaimana mereka mendelegan tugas,bagaimana mereka mengambil
keputusan, bagaimana mereka berkomunikasi dan memotivasi para bawahan
Seorang pemimpin memang harus memiliki Kwalitas tertentu ( Kriteria tertentu )
namun disamping itu ada suatu cara terbaiak untuk memimpin tidak seperti

kwalitas pemimpin, maka perilaku pemimpin merupakan sesuatu yang dapat
dipelajari, jadi seseorang yang dilatih dengan kepemimpinan yang tepat akan bisa
menjadi pemimpin yang efektif. Perilaku pemimpin ini disebut juga Gaya
Kepemimpinan ( Style of Leadership ). Berbagai gaya kepemimpinan telah diteliti
dan ditemukan bahwa setiap pemimpin telah diteliti dan ditemukan bahwa setiap
pemimpin bisa mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda antara yang satu
dengan yang lain, dan tidak mesti suatu gaya kepemimpinan yang satu lebih baik
atau lebih jelek daripada gaya kepemimpinan yang lainya. Para ahli mencoba
mengelompokkan gaya kepemimpinan dengan menggunakan sutu dasar tertentu.
Dasar yang sering dipergunakan adalah tugas yang dirasakan harus dilakukakan
oleh pemimpin, Kewjiban yang pimpinan harapakan diterima oleh bawahan dan
falsafah yang dianut oleh pimpinan untuk pengembangan dan pemenuhan harapan
para bawahan. Ada berbagai gaya kepemimpinan antara lain :
1. The anthocratic leader
Seorang pemimpin yang otokratik menganggap bahwa semua kewajiban untuk
mengambil keputusan, untuk menjalankan tindakan, dan untuk mengarahkan
tindakan, dan untuk mengarahkan, memberi motivasi dan mengawasi bawahanya
terpusat ditanganya. Seorang pemimpin yang otokratik mungkin memutuskan, dan
punya perasaan bahwa bawahanya tidak mampu untuk baranggapan mempunyai
posisi yang kuat untuk mengarahkan dan mengawasi pelaksanaan pekerjaaan
dengan maksud untuk meminimumkan penyimpangan dari arah yang ia berikan.
2. The Paticipative Leader
Apabila seseorang pemimpin menggunakan gaya partisipasi ia menjalankan
kepemimpinan dengan konsultasi. Ia tidak mendelegasikan wewenangnya untuk
membuat keputusan akhir dan untuk memberikan pengarahan tertentu kepada
bawahanya. Tetapi ia mencari berbagai pendapat dan pemikiran dari pada
bawahanya mengenai keputusan yang akan diambil. Ia akan secara serius
mendengarkan dan menilai pikiran –pikiran para bawahanya dan menerima
sumbangan

pikiran

mereka

.Sejauh

pemikiran

tersebut

bias

dipraktekan .Pemimpin dengan gaya partisipatif akan mendorong kemampuan
mengambil keputusan dari pada bawahanya sehingga pikiran –pikiran mereka

akan selalu meningkat dan makin matang . Para bawahanya juga didorong agar
meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dan menerima tanggung jawab
yang lebih besar. Pemimpin akan lebih “ Supportive” dalam kontak dengan para
bawahan dan bukan menjadi bersikap diktator. Meskipun tentu saja. Wewenang
terakhir dalam penganbilan keputusan terletak pada pimpinan.
3. The Free Rein Leader
Dalam gaya kepemimpinan “ Free rein “ pemimpin mendelegasikan wewenang
untuk mengambil keputusan kepada para bawahanya dengan agak lengakap. Pada
prinsipnya pimpinan akan mengatakan “ inilah pekerjaan yang harus saudara
lakukakan. Saya tidak peduli bagaimana kalau mengerjakannya, asal kan
pekerjaan tersebut bisa diselesaikan dengan baik “. Disini pimpinan menyerahkan
tanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan tersebut kepada para bawahanya.
Dalam artian pimpinan menginginkan agar para bawahan bisa mengendaliakan
diri mereka sendiri di dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Pimpinan tidak
akan membuat peraturan-peraturan tentang pelaksanaan pekerjaan tersebut, dan
hanya para bawahan dituntut untuk memiliki kemampuan/keahlian yang tinggi .

2.5 Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah pekerjaan mental setiap orang yang disebut
manajer (pimpinan), untuk memecahkan masalah-masalah yang selalu timbul
setiap hari dan setiap saat. Kegiatan pengambilan keputusan diperlukan dalam
setiap organisasi apapun, baik organisasi yang besar maupun yang kecil. Hal ini
berarti kegiatan pengambilan keputusan diperlikan di dalam perusahaan, instasi
pemerintah, kemiliteran, bahkan dalam organisasi yang terkecil yaitu keluarga.
Seorang manajer atau pimpinan yang dalam pengambilan keputusan cepet dan
tepat, maka manajer atau pimpinan tersebut dapat dinilai berhasil, dan sebaliknya
bila keputusan yang diambil kurang cepat dan tepat maka dapatlah diambil suatu
kesimpulan bahwa manajer atau pimpinan itu kurang berhasil.
Pengambilan keputusan dapat dilihat sebagai salah satu fungsi seorang pemimpin
Dalam pelaksanan kegiatan untuk menerjemahkan berbagi keputusan berbagai
alternatif dapat dilakukan dan untuk itu pemilihan harus dilakukan. Pengambilan
keputusan adalah soal yang berat karena sering menyangkut kepentingan banyak

orang.Tidak ada sesuatu yang pasti dalam pengambilan keputusan . Pemimpin
harus memilih diantara alternatif yang ada dan kemungkianan implikasi atau
akibat suatu pengambilan keputusan tertentu.
1. Hakekat Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan pada hakekatnya adalah suatu pendekatan yang sistematis
terhadap hakekat suatu masalah . Pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan
yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan – tindakan
yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Dari pengertian
ini dapat diartikan beberapa hal.
a. Dalam proses pengambilan keputusan tidak ada hal yang terjadi secara
kebetulan.
b. Pengambilan keputusan harus didasarkan kepada sistematika tertentu, antara
lain : dengan mempertimbangkan kemampuan organisasi, personnel yang
tersedia, situasi lingkungan yang akan digunakan untuk melaksanakan
keputusan yang diambil.
c. Sebelum suatu masalah dapat dipecahkan dengan baik, hakekat dari masalah
tersebut harus diketahui dengan jelas.
d. Pemecahan masalah tidak dapat dilakukan dengan coba-coba tetapi harus
didasarkan pada fakta yang terkumpul secara sistematis, baik dan dapat
dipercaya.
e. Keputusan yang baik adalah keputusan yang diambil dari berbagi alternatif
yang ada setelah alternatif-alternatif itu dianalisa secara matang.
2. Langkah-langkah Pengambilan Keputusan
Masalah yang dihadapi oleh seorang pemimpin terikat pada suatu tempat, situasi,
orang dan waktu tertentu. Masalah dalam pengambilan keputusan senantiasa
dihubungkan dengan tujuan yang jelas. Jenis-jenis masalah yang dihadapi oleh
seorang pemimpin berdasarkan internitas masalahnya dapat digolongkan menjadi
masalah yang sederhana dan masalah yang komplek. Masalah yang sederhana
ialah masalah yang mengandung ciri-ciri : kecil, berdiri sendiri dan tidak/kurang
mempunyai kaitan dengan masalah lain. Pemecahannya biasanya tidak

memerlukan pemikiran yang luas tetapi cukup dilakukan secara individual, yang
umumnya didasarkan kepada pengalaman, informasi yang sederhana dan
wewenang yang melekat pada jabatan. masalah yang komplek yaitu masalah yang
mempunyai ciri-ciri : besar, tidak berdiri sendiri sendiri, berkaitan dengan
masalah-masalah lain, dan, mempunyai akibat yang luas. Pemecahannya
umumnya dilakukan bersamaan antara pimpinan dengan stafnya Dilihat dari
faktor penyebabnya, masalah yang dihadapi dapat berupa masalah yang jelas
penyebabnya (structure problem) dan masalah yang tidak. Jelas penyebabnya
(unstructured problem). Masalah yang jelas penyebabnya, faktor penyebabnya
jelas. bersifat rutin dan biasanya timbul berulang-ulang, sehingga pemecahannya
dapat dilakukan dengan proses pengambilan keputusan yang bercorak rutin dan
dibakukan. Proses pengambilan keputusannya pada dasarnya telah ditentukan
langkah-langkah tertentu, relatif mudah untuk memperhitungkan hasil serta
akibat-akibatnya. Masalah yang tidak jelas penyebabnya yaitu masalah yang
timbul sebagai kasus yang menyimpang dari masalah organisasl yang bersifat
umum, faktor penyebabnya tidak jelas. Tehnik pengambilan keputusannya disebut
non-programmed decision making technique, dimana diperlukan informasi
tambahan, analisa, daya cipta, pertimbangan serta penilaian kasus. Pengambilan
keputusan antara lain juga diartikan sebagai suatu tehnik memecahkan suatu
masalah dengan mempergunakan tehnik-tehnik ilmiah. Secara singkat dapat
dikatakan bahwa ada 7 langkahyang perlu diambil dalam usaha memecahkan
masalah dengan mempergunakan teknik-teknik ilmiah. Langkah-langkah itu
adalah (Siagian SP, 1973) :
1. Mengetahui hakekat dari pada masalah yang dihadapi, dengan perkataan lain
mendefinisikan masalah yang dihadapi itu dengan setepat-tepatnya;
2. Mengumpulkan fakta dan data yang relevant
3. Mengolah fakta dan data tersebut;
4. Menentukan beberapa alternatif yang mungkin ditempuh;
5. Memilih cara pemecahan dari alternatif-alternatif yang telah diolah dengan
matang;
6. Memutuskan tindakan apa yang hendak dilakukan ;

7. Menilai hasil-hasil yang diperoleh sebagai akibat daripada keputusan yang telah
diambil.
Ketujuh langkah tersebut seolah-olah mudah untuk diambil, akan tetapi dalam
kenyataannya yang telah diuji melalui berbagai eksperimendan penelitian,
pengambilan ketujuh langkah itu tidaklah mudah. Implikasinya ialah setiap
pimpinan

harus

terus

berusaha

untuk

meningkatkan

kemampuannya

mempergunakan tehnik-tehnik ilmiah dimaksud.

2.6 Gaya Kepemimpinan Yang Efektif
Mengatur orang (dalam istilah karenanya ”memimpin orang”) adalah suatu hal
yang ’gampang-gampang susah’, karena orang yang diatur (bawahan) dan orang
yang mengatur (pemimpin / manajer) sering mempunyai pendapat, dan
pengalaman, kematangan jiwa, kemauan dan kemampuan menghadapi situasi
yang berbeda. Kemauan dan kemampuan bawahan berfareasi yaitu :
1. Ada bawahan yang tidak mau dan tidak mampu.
2. Ada bawahan yang mau, tetapi tidak mampu.
3. Ada bawahan yang tidak mau, tetapi mampu, dan
4. Ada bawahan yang mau dan mampu.
Bagaimana seorang manajer mengatur bawahan yang mempunyai kemauan dan
kemampuan yang berbeda-beda tersebut? Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita
dapat berpaling pada teori kepemimpinan menurut situasi yang dikemukakan oleh
Paul Hersey dan Ken Blanchard.
Menurut kedua pakar tersebut, tidak satu cara yang terbaik untuk mempengeruhi
perilaku orang-orang. Gaya kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan
yang disesuaikan dengan tingkat kedewasaan bawahan yang akan dipengaruhi
pemimpin.
Ada pemimpin yang cenderung berperilaku tugas atau mengarahkan (Task /
Directive behavior), yaitu selalu memberi petunjuk kepada bawahan. Pemimpin
jenis ini selalu menerapkan komunikasi satu arah dengan menjelaskan hal-hal
yang perlu dilakukan anggota staf serta bilamana, diman, dan bagaiman cara
pelaksanaannya. Dan ada pula pemimpin yang cenderung berperilaku sportif /

hubungan (Suportive / Relationship behavior), yaitu pemimpin tersebut
menerapkan komunikasi dua arah dengan memberikan dukungan sosio-emosional
(Socioemotional

suport),

sambaran-sambaran

psikologis

/

semangat

(psychological strokes), dan pemudahan perilaku (Facilitating behaviors).
Dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin adalah apabila ia dapat
mengidentifikasikan tingkat kedewasan individu atau kelompok bawahan yang
hendak ia pengaruhinya, dan menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai.
Dengan kata lain, efektifitas seseorang menajer dalam memimpin bawahannya
banyak tergantung dari situasi dan kematangan bawahannya, tidak ada gaya
kepemimpinan yang paling baik dan tidaklah tepat menerapkan gaya
kepemimpinan yang sama p-ada setiap saat / situasi yang di hadapinya. Konsep
kepemimpinan situasional ini telah dapat membekali manager dengan pedoman
untuk menentukan hal-hal yang perlu mereka lakukan terhadap bawahan dalam
berbagai situasi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Seorang pemimpin yang efektif harus mempunyai keberanian untuk mengambil
keputusan dan memikul tanggung jawab atas akibat dan resiko yang timbul
sebagai konsekwensi daripada keputusan yang diambilnya Tentunya dalam
mengambil

keputusan.

Seorang

pemimpin

harus

punya

pengetahuan,

keterampilan, informasi yang mendalam dalam proses menyaring satu keputusan
yang tepat. Disamping itu, seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang
dapat mempengaruhi dan mengarahkan segala tingkah laku dari bawahan
sedemikian rupa sehingga segala tingkah laku bawahan sesuai dengan keinginan
pimpinan yang bersangkutan. Untuk itu seorang pemimpin setidaknya harus
memiliki kriteria-kriteria tertentu, misalnya kemampuan bisa "perceptive" dan
objektif. Dalam mengarahkan dan memotivasi bawahan agar melakukan pekerjaan
dengan sesuai, seorang pemimpin bisa memilih suatu gaya kepemimpinan tertentu
apakah gaya autokratis, gaya partisipatif dan bahkan gaya Free Rein yang sesuai
dengan situasi dan lingkungan para bawahan. Hanya dengan jalan demikian
pencapaian tujuan dapat terlaksana dengan efisien dan efektif.

3.2 Saran
Marilah kita menjadi pribadi-pribadi yang perbedaannya adalah kemampuan
untuk mengubah yang biasa, menjadi yang luar biasa. Perhatikanlah, sebuah
organisasi, tidak mungkin bisa bergerak mendekati bentuk kreatifitas apapun, bila
sang pemimpin menjadikan dirinya sendiri sebagai contoh utama dalam penolakan
cara-cara yang lebih baik.
Dari mana memulainya Seperti dalam hal apapun,Mulailah dari diri kita
sendiri.Anda adalah seorang khalifah

DAFTAR PUSTAKA
Aun Falestian Faletehan. 2006. Dasar-dasar manajemen. Fakultas Dakwah. IAIN
Sunan Ampel Surabaya.
Drs. Mamduh. M Hanafi, MBA. 1987. Manajemen. Yogyakarta : Percetakan
akademi manajemen perusahaan YKPN
Drs.Amin Tunggal Ak MBA. 2002 Manajemen Sutatu Pengantar. Jakarta : PT
Rineka Cipta.
Heidjrachman Ranupandojo. Suad Husnan. 1996. Manajemen Personalia, BPFE.
Yogyakarta :
Drs. Ec. Alex S. Natisemito. 1989. Manajemen Statu Dasar danPengantar.
Yakarta : Balai Aksara. Yudhistira. dan Pustaka Saadiyah.
Robert J. Thie Rauf, 1984. Effective Management Information Systems. E. Merril
Publishing Co. Ohio. USA.
Robert Albanese, David D. Van Fleet, 1984. Organizational Behavior. A
Managerial Viewpoint. Dryden Press. Texas.
M. Manulang. 1990. Manajemen Personalia. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Saul. W. Gellerman, 1983. Manajer dan bawahan, Seri Manajemen No 83,
Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen. (LPPM).
Winardi, 1990. Manajemen Personalia, Bandung : Abardin,
Miftah Thoha, 1985. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta : CV. Rajawali.
James. L. Gibson, John M. Ivancevich, James H. Donnely, 1994. organisasi dan
Manajemen. Jakarta : Erlangga.

Judul: Makalah Kepemimpinan Efektif

Oleh: Dea Amar Nurhadi


Ikuti kami