Filsafat Ilmu

Oleh Muhammadfahmiainun Najib

12 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Filsafat Ilmu

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
FILSAFAT ILMU
Oleh Salwinsah
A. Pendahuluan
Konsep dasar filsafat ilmu adalah kedudukan, fokus, cakupan, tujuan dan fungsi serta kaitannya
dengan implementasi kehidupan sehari-hari. Berikutnya dibahas pula tentang karakteristik filsafat,
ilmu dan pendidikan serta jalinan fungsional antara ilmu, filsafat dan agama. Pembahasan filsafat ilmu
juga mencakup sistematika, permasalahan, keragaman pendekatan dan paradigma (pola pikir) dalam
pengkajian dan pengembangan ilmu dan dimensi ontologis, epistomologis dan aksiologis. Selanjutnya
dikaji mengenai makna, implikasi dan implementasi filsafat ilmu sebagai landasan dalam rangka
pengembangan keilmuan dan kependidikan dengan penggunaan alternatif metodologi penelitian, baik
pendekatan kuantitatif dan kualitatif, maupun perpaduan kedua-duanya.
Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun
historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran
bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola
pikir tersebut membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan
teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, baik yang berkaitan
dengan makro kosmos maupun mikrokosmos. Dari sinilah lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang
selanjutnya berkembang menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus
semakin aplikatif dan terasa manfaatnya. Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun
kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan axiologi. Maka
Filsafat Ilmu menurut Jujun Suriasumantri merupakan bagian dari epistimologi (filsafat ilmu
pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Dalam pokok
bahasan ini akan diuraika pengertian filsafat ilmu, dan obyek yang menjadi cakupannya.1)
B. Pembahasan
1. Pengertian Filsafat Ilmu
Istilah filsafat bisa ditinjau dari dua segi, semantik dan praktis. Segi semantik perkataan filsafat
berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, philosophia yang berarti philos =
cinta, suka (loving) dan Sophia = pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi philosopia berarti cinta kepada
kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafah akan menjadi
bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher dalam bahasa Arab disebut
failasuf. Dari segi praktis filsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berpikir.
Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat maknanya berpikir secara mendalam dan
sungguh-sungguh. 2)
Pengertian ilmu yang dikemukakan oleh Mohammad Hatta adalah pengetahuan yang teratur tentang
pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut
kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut hubungannya dari dalam.
Harsojo, Guru Besar antropolog di Universitas Pajajaran mendefinikan ilmu adalah akumulasi
pengetahuan yang disistematisasikan suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh
dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu yang pada prinsipnya dapat
diamati panca indera manusia. Suatu cara menganlisis yang mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk
menyatakan suatu proposisi dalam bentuk: “jika,….maka…” 3)
______________________________
1. http://gurutrenggalek.blogspot.com
2. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 9
3. http://filsafat-ilmu.blogspot.com

Menurut Robert Ackerman filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang
pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang
dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian
cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual. Lewis White Beck, memberi pengertian bahwa filsafat
ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan
pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
Menurut A. Cornelius Benjamin filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafat yang merupakan
telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan
praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan
intelektual. Michael V. Berry berpendapat bahwa filsafat ilmu adalah penelaahan tentang logika
interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang
metode ilmiah.
Menurut May Brodbeck filsafat ilmu adalah analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan
penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu. Peter Caws Filsafat ilmu merupakan suatu bagian
filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh
pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori
tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan
dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai
suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada
penghapusan kesalahan. 4)
_____________________________
4. http: //areknarsis.dagdigdug.com
Filsuf adalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan
mendalam. Ringkasnya filsafat adalah hasil akal seseorang manusia yang memikirkan dan mencari
suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari dengan
sungguh-sungguh hakekat kebenaran segala sesuatu.5)
Stephen R. Toulmin mengemukana bahwa sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba
pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedurprosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, praanggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi
kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika.6)
Dari uraian di atas akan diperoleh suatu gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan
yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis,
epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari
epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti obyek apa
yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara
obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
________________________
5. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 9
6. http: //areknarsis.dagdigdug.com
Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana
prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar?
Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa
yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara
penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah

berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan
operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ?
2. Obyek Filsafat Ilmu
Imam Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan
hakekatnya. Ia terbagi dua, pertama mengetahui inti sesuatu itu, kedua menghukum adanya sesuatu
pada sesuatu yang ada atau menafikan sesuatu yang tidak ada, maksudnya mengatahui hubungan
sesuatu dengan sesuatu.7)
Louis Kattsoff mengatakan bahasa yang dipakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa
hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicarakan
mengenai ilmu pengetahuan dan bukannya dalam ilmu pengetahuan.
_________________________
7. Yusuf Qardawi, 1998, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan
Ilmu Pengetahuan, hal. 88
Namun apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuan mungkin penting pula bagi seorang filsuf.8)
Dari sudut pandang lainnya Raghib al-Asfahani mengatakan bahwa ilmu dapat pula dibagi menjadi
dua bagian yaitu ilmu rasional dan dokrinal. Ilmu rasional adalah ilmu yang didapat dengan akal dan
penelitian, sedangkan ilmu dokrinal merupakan ilmu yang didapatkan dengan memberitakan wahyu
dan nabi.9)
Pada dasarnya setiap ilmu mempunyai dua macam obyek, yaitu obyek material dan obyek formal.
Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh adalah obyek
material ilmu kedokteran. Adapun obyek formalnya adalah metode untuk memahami obyek material
tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif.
Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal juga memiliki obyek material dan obyek
formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada, baik mencakup ada yang tampak maupun
ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedang ada yang tidak tampak
adalah alam metafisika. Sebagian filosuf membagi obyek material filsafat atas tiga bagian, yaitu: yang
ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Adapun
obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala
yang ada.
________________________
8. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 14
9. Yusuf Qardawi, 1998, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan
Ilmu Pengetahuan, hal. 88
Dalam perspektif ini dapat diuraikan bahwa filsafat ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif
dan dua obyek instrumentatif, yaitu:
1. Obyek Subtantif, yang terdiri dari dua hal
a. Fakta (Kenyataan)
Yaitu empiri yang dapat dihayati oleh manusia. Dalam memahami fakta (kenyataan ini ada beberapa
aliran filsafat yang meberikan pengertian yang berbeda-beda, diantaranya adalah positivisme, –ia
hanya mengakui penghayatan yang empirik dan sensual. Sesuatu sebagai fakta apabila ada
korespondensi antara yang sensual satu dengan yang sensual lainnya. Data empirik sensual tersebut
harus obyektif tidakBOLEH masuk subyektifitas peneliti–. Fakta itu yang faktual ada
phenomenology. Fakta bukan sekedar data empirik sensual, tetapi data yang sudah dimaknai atau

diinterpretasikan, sehingga ada subyektifitas peneliti.
Tetapi subyektifitas di sini tidak berarti sesuai selera peneliti, subyektif disini dalam arti tetap selektif
sejak dari pengumpulan data, analisis sampai pada kesimpulan.. Data selektifnya mungkin berupa ide
, moral dan lain-lain. Orang mengamati terkait langsung dengan perhatiannya dan juga terkait pada
konsep-konsep yang dimiliki. Kenyataan itu terkonstruk dalam moral realism, sesuatu itu sebagai
nyata apabila ada korespondensi dan koherensi antara empiri dengan skema rasional.
Mataphisik sesuatu sebagai nyata apabila ada koherensi antara empiri dengan yang obyektif
universal. Yang nyata itu yang riil exsist dan terkonstruk dalam kebenaran obyektif. Empiri bukan
sekedar empiri sensual yang mungkin palsu, yang mungkin memiliki makna lebih dalam yang
beragam. Empiri dalam realisme memang mengenai hal yang riil dan memang secara substantif ada.
Dalam realisme metaphisik skema rasional dan paradigma rasional penting.
Empiri yang substantif riil baru dinyatakan ada apabila ada koherensi yang obyektif universal.
Pragmatis, yang ada itu yang berfungsi, sehingga sesuatu itu dianggap ada apabila berfungsi.
Sesuatu yang tidak berfungsi keberadaannya dianggap tidak ada
Rasionalistik : Yang nyata ada itu yang nyata ada, cocok dengan akal dan dapat dibuktikan secara
rasional atas keberadaanya.10)
b. Kebenaran
Positivisme, benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuatu dengan empiri sensual.
Kebenaran pisitivistik didasarkan pada diketemukannya frekwensi tinggi atau variansi besar. Bagi
positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondensi antara fakta yang satu dengan fakta yang
lain phenomenology, kebenaran dibuktikan berdasarkan diketemukannya yang esensial, pilah dari
yang non esensial atau eksemplar dan sesuai dengan skema moral tertentu. Secara esensial dikenal
dua teori kebenaran, yaitu teori kebenaran korespondensi dan teori kebenaran koherensi. Bagi
phenomenologi, phenomena baru dapat dinyatakan benar setelah diuji korespondensinya dengan
yang dipercaya. Realisme Metaphisik, ia mengakui kebenaran bila yang faktual itu koheren dengan
kebenaran obyektif universal. Realisme, sesuatu itu benar apabila didukung teori dan ada faktanya.
Realisme baru menuntut adanya konstruk teori (yang disusun deduktif probabilisti) dan adanya empiri
terkonstruk pula. Islam, sesuatu itu benar apabila
________________________
10. http://gurutrenggalek.blogspot.com
yang empirik faktual koheren dengan kebenaran transenden berupa wahyu. Pragamatisme, mengakui
kebenaran apabila faktual berfungsi. Rumusan substantif tentang kebenaran ada beberapa teori,
menurut Michael Williams ada lima teori kebenaran, yaitu,
 Kebenaran Preposisi, yaitu teori kebenaran yang didasarkan pada kebenaran proposisinya baik
proposisi formal maupun proposisi materialnya.
 Kebenaran Korespondensi, teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada adanya
korespondensi antara pernyataan dengan kenyataan (fakta yang satu dengan fakta yang lain).
Selanjutnya teori ini kemudian berkembang menjadi teori Kebenaran Struktural Paradigmatik, yaitu
teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada upaya mengkonstruk beragam konsep
dalam tatanan struktur teori (struktur ilmu/structure of science) tertentu yang kokoh untuk
menyederhanakan yang kompleks atau sering
 Kebenaran Koherensi atau Konsistensi, yaitu teori kebenaran yang medasarkan suatu kebenaran
pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih
dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.
 Kebenaran Performatif, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu dianggap benar
apabila dapat diaktualisasikan dalam tindakan.

 Kebenaran Pragmatik, yaitu teori kebenaran yang mengakui bahwa sesuatu itu benar apabila
mempunyai kegunaan praktis. Dengan kata lain sesuatu itu dianggap benar apabila mendatangkan
manfaat dan salah apabila tidak mendatangkan manfaat.
2. Obyek Instrumentatif yang terdiri dari dua hal:
a. Konfirmasi
Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau
memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut dengan
menggunakan landasan: asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar. Pemaknaan
juga dapat ditampilkan sebagai konfirmi probabilistik dengan menggunakan metode induktif, deduktif,
reflektif. Dalam ontologi dikenal pembuktian a priori dan a posteriori. Untuk memastikan kebenaran
penjelasan atau kebenaranPREDIKSI para ahli mendasarkan pada dua aspek: (1) Aspek Kuantitatif;
(2) Aspek Kualitatif.Dalam hal konfirmasi, sampai saat ini dikenal ada tiga teori konfirmasi, yaitu,
 Decision Theory, menerapkan kepastian berdasar keputusan apakah hubungan antara hipotesis
dengan evidensi memang memiliki manfaat aktual.
 Estimation Theory, menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar – salah dengan
menggunakan konsep probabilitas.
 Reliability Analysis, menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas evidensi (yang mungkin
berubah-ubah karena kondisi atau karena hal lain) terhadap hipotesis.11)
_________________________
11. http://gurutrenggalek.blogspot.com
b. Logika Inferensi
Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya logika dibangun oleh Aristoteles
(384-322 SM) dengan mengetengahkan tiga prinsip atau hukum pemikiran, yaitu : Principium
Identitatis (Qanun Dzatiyah), Principium Countradictionis (Qanun Ghairiyah), dan Principium Exclutii
Tertii ((Qanun Imtina’). Logika ini sering juga disebut dengan logika Inferensi karena kontribusi utama
logika Aristoteles tersebut adalah untuk membuat dan menguji inferensi. Dalam perkembangan
selanjutnya Logika Aristoteles juga sering disebut dengan logika tradisional. 12)
Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerapkan ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah
besar materi aktual dan deskriptif yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat. Banyak ilmuan
yang juga filsuf. Para filosof terlatih dalam metode ilmiah dan sering pula menuntut minat khusus
dalam beberapa disiplin ilmu.13)
3. Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Pada dasarnya , setiap ilmu memiliki dua macam objek , yaitu objek material dan objek formal. Objek
material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan,seperti tubuh manusia adalah objek
material ilmu kedokteran. Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis
_________________________
12. http://gurutrenggalek.blogspot.com
13. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 14
dan adil juga memiliki objek material dan objek formal. Objek material filsafat adalah segala yang ada.
Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak.
Objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran,
dan yang ada dalam kemungkinan adapun, objek formal,dan rasional adalah sudut pandang yang
menyeluruh, radiakl dan rasional tentang segala yang ada. Setelah berjalan beberapa lama kajian
yang terkait dengan hal yang empiris semakain bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan
spesialisasi dan menampakkan kegunaan yang peraktis.inilah peroses terbentuknya ilmu secara

bersenambungan .Will Durant mengibaratkan filsafat bagaikan pasukan mariner yang merebut pantai
untuk pendaratan pasukan infanteri. 14)
Pada bagian lain dikatakan bahwa filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaanpertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu
pengetahuan dalam usahnya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan
kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut. Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu
pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan.15)
Karena itu filsafat oleh para filosofi disebut sebagai induk ilmu. Sebab,dari filsafat lah, ilmu-ilmu
moderen dan kontemporer berkembang, sehingga manusia dapat menikmati ilmu dan sekaligus
buahnya, yaitu
_____________________________
14. http://bebenbernadi.wordpress.com
15. H.A Mustofa, 2004, Filsafat Islam, hal. 14
teknologi. Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan,tetapi sudah menjadi sektoral.
Contohnya, filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat ilmu adalah bagian dari perkembangan filsafat
yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam satu bidang tertentu.
Di sisi lain, perkembangan ilmu yang sangat cepat tidak saja membuat ilmu semakin jauh dari
induknya,tetapi juga mendorong munculnay arogansi dan bahkan kompartementalisasi yang tidak
sehat antara satu bidang ilmu dengan yang lain. Tugas filsafat di antaranya adalah menyatukan visi
keilmuan itu sendiri agar tidak terjadi bentrokan antara berbagi kepentingan. Falsafat sepatutnya
mengikuti alur filsafat, yaitu objek material yang didekati lewat pendekatan radikal, menyeluruh dan
rasional dan begitu juga sifat pendekatan spekulatif dalm filsafat sepatutnya merupakan bagian dari
ilmu. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memeahami
sumber, hakikat dan tujuan ilmu.15)
Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan,dan kemajuan ilmu di berbagai bidang,sehingga
kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis. Menjadi pedoman bagi
para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan
persoalan yang ilmiah dan non-ilmiah.
Mendorong pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan
mengembangkannya mempertegas bahwa dalam persoalan sumberdan tujuan antara ilmu dan
agama tidak ada pertentangan. Ilmu pada perinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan
dan mensistematiskan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan
pengamatan dalam
_______________________
15. http://bebenbernadi.wordpress.com
kehidupan sehari-hari. Ilmu dapat merupakan suatu metode berfikir secara objektif (objective
thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual.pengetahuan
filsafat, yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif.
Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu.
Pengetahuan mengandung beberapa hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan
tuhan, yang sering juga disebut dengan hubungan vertikal dan cara berhubungan dengan sesama
manusia,yang sering juga disebut dengan hubungan horizontal.
Dari sisi lain Raghib al-Asfahani juga membagi ilmu sebagai ilmu teoritis dan aplikatif. Ilmu teoritis
berarti ilmu yang hanya membutuhkan pengetahuan tentangnya. Jika telah diketahui berarti telah
sempurna, seperti ilmu tentang keberadaan dunia. Sedangkan ilmu aplikatif adalah ilmu yang tidak
sempurna tanpa dipraktikkan, seperti ilmu tentang ibadah, akhlak dan sebagainya.16

Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena manusia
adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Dia
memikirkan hal-hal baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih
dari itu.manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna kepada kehidupan,
manusia” memanusiakan diri dalam hidupnaya” dan masih banyak lagi pernyataan semacam ini,
semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan
tertentu.
________________________
16. Yusuf Qardawi, 1998, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan
Ilmu Pengetahuan, hal. 88
Dengan menjelaskan kesulitan-kesulitan yang terdapat dalam pikiran. Kesulitan tersebut adalah
pendapat yang mengatakan bahwa tiap-tiap kejadian dapat diketahui hanya benar segi subjektif.
Dengan jalan memberi pertimbangan-pertimbangan yang positif, menurut Rasjidi, umumnya orang
beranggapan bahwa tiap-tiap benda mempunyai satu sebab. Contohnya apa yang menyebabkan
Ahmad menjadi sakit.
Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Pada setiap jenis
pengetahuan tidak sama kriteria kebenarannya karena sifat dan watak pengetahuan itu berbeda.
Pengetahuan tentang alam metafisika tentunya tidak sama dengan pengetahuan tentang alam fisik.
Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran namun
masalahnya tidak hanya sampai di situ saja. Problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan
berkembangnya espistemologi.17)
C. Kesimpulan
Filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada [realita] sedangkan obyek
material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada
disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotakkotak dalam disiplin tertentu
Filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu
secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik dan intensif.
______________________
17. http://bebenbernadi.wordpress.com
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis, karena
kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani
dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut
membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori
ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, baik yang berkaitan dengan
makro kosmos maupun mikrokosmos.
Dari sinilah lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang selanjutnya berkembang menjadi lebih terspesialisasi
dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya. Filsafat
sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama,
yaitu ontologi, epistimologi dan axiologi. Maka Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistimologi
(filsafat ilmu pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah).

ENDAHULUAN
Pada artikel ini dideskripsikan tentang filsafat ilmu dalam bidang pendidikan. Deskripsi filsafat
ilmu dalam bidang pendidikan berisi tentang pengertian dan cabang-cabang filsafat, filsafat ilmu,
filsafat ilmu pendidikan, hakekat ilmu pendidikan, dan metode penelitian dalam ilmu pendidikan.

FILSAFAT ILMU
Filsafat
Sebelum sampai pada definisi filsafat ilmu maka terlebih dahulu dideskripsikan pengertian
filsafat. Filsafat adalah disiplin yang mempelajari objek-objek kemanusiaan secara menyeluruh
(komprehensif), merangkum, spekulatif rasional, dan mendalam sampai ke akarnya (radiks),
sehingga diperoleh inti hakiki dari objek yang dipelajari. Masalah-masalah kemanusiaan utama
dalam hidup ini meliputi 3 hubungan penting manusia dalam kehidupannya, yaitu:




Hubungan manusia dengan keberadaan Tuhan.
Hubungan manusia dengan keberadaan alam semesta.
Hubungan manusia dengan keberadaan manusia, baik secara individual maupun kelompok.

Cabang-Cabang filsafat
Cabang-cabang filsafat yang utama adalah sebagai berikut :





Metafisika (ontologi). Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari hakekat realitas
terdalam dari segala sesuatu, baik yang bersifat fisik maupun yang bersifat non fisik.
Epistemologi adalah cabang filsafat yang melakukan penelaahan tentang hakekat
pengetahuan manusia. Secara khusus, dalam epistemologi dilakukan kajian-kajian yang
mendalam tentang hakekat terjadinya perbuatan mengetahui, sumber pengetahuan, tingkattingkat pengetahuan, metode untuk memperoleh pengetahuan, kesahihan pengetahuan, dan
kebenaran pengetahuan.
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari hakekat nilai. Berdasar pada pokok
penekanannya, aksiologi dapat dibagi menjadi etika (filsafat tentang baik buruk perilaku
manusia) atau filsafat moral dan estetika atau filsafat keindahan.

Selain cabang-cabang utama filsafat di atas, terdapat cabang-cabang filsafat lain yang bersifat
khusus. Cabang filsafat khusus itu antara lain adalah: filsafat manusia, filsafat ketuhanan, filsafat
agama, filsafat sosial dan politik, dan filsafat pendidikan.

Filsafat Ilmu
Psillos & Curd (2008) menjelaskan bahwa filsafat ilmu adalah filsafat yang berhubungan dengan
masalah-masalah filosofis dan fundamental yang terdapat dalam ilmu. Dalton dkk. (2007)
menjelaskan bahwa filsafat ilmu mengacu pada keyakinan seseorang tentang esensi
pengetahuan ilmiah, esensi metode dalam pencapaian pengetahuan ilmiah, dan hubungan
antara ilmu dan perilaku manusia.
Lacey (1996) mengajukan definisi filsafat ilmu sebagai suatu studi filosofis yang sangat luas dan
mendalam tentang ilmu. Studi filosofis yang sangat luas dan mendalam tentang ilmu itu pada
dasarnya mencakup bahasan-bahasan seperti:







Hakekat ilmu.
Tujuan ilmu.
Metode ilmu.
Bagian-bagian ilmu.
Jangkauan ilmu.
Hubungan ilmu dengan masalah-masalah kehidupan yang lain (nilai, etika, moral,
kesejahteraan manusia).

Dalam konteks yang bersifat melengkapi, Rudner (1966) mengemukakan bahwa filsafat ilmu
adalah bagian dari epistemologi yang memiliki fokus pada kajian tentang karakteristik
pengetahuan ilmiah. Selanjutnya, Rudner (1966) juga menyatakan bahwa filsafat ilmu pun
memiliki bagian-bagian yang berkembang tersendiri berdasar pada objek-objek spesifiknya.
Bagian-bagian itu antara lain adalah filsafat ilmu-ilmu sosial, filsafat ilmu-ilmu alam, filsafat ilmu
pendidikan, dan filsafat ilmu fisika.
Menurut French & Saatsi (2011) sejarah filsafat ilmu sebagai disiplin yang bersifat mandiri
(memiliki jurnal, komunitas ilmiah, dan pertemuan ilmiah) termasuk masih muda dengan usia
sekitar 80 tahun. Namun demikian, sebenarnya keberadaan filsafat ilmu telah ada sejak
berkembangnya ilmu itu sendiri pada masa Aristoteles yang dapat dianggap sebagai ilmuwan
pertama. Filsafat ilmu melakukan penelaahan terhadap isu-isu metode ilmiah, hakekat teori
ilmiah dan bagaimana hubungan teori dengan realitas, dan tujuan-tujuan ilmu.
Berdasar berbagai definisi tentang filsafat ilmu yang telah diuraikan kemudian dapat disimpulkan
pengertian singkat filsafat ilmu:


Filsafat ilmu adalah sebagai cabang filsafat, khususnya epistemologi, yang mempelajari
tentang hakekat pengetahuan ilmu (Hanurawan, 2012).
Keterangan: banyak filsuf memberi penekanan filsafat ilmu sebagai bagian dari filsafat
pengetahuan (epistemologi) karena filsafat ilmu banyak melakukan kajian tentang salah satu
jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan keilmuan atau pengetahuan ilmiah.
Dalam filsafat ilmu terdapat pembagian filsafat ilmu menjadi filsafat ilmu umum dan filsafat ilmu
khusus (Psillos & Curd, 2008). Filsafat ilmu umum adalah filsafat ilmu untuk semua ilmu,
sedangkan filsafat ilmu secara individual adalah filsafat ilmu tentang ilmu-ilmu tersendiri, seperti
filsafat ilmu psikologi, filsafat ilmu-ilmu sosial, dan tentu saja filsafat ilmu pendidikan.
Filsafat ilmu umum lebih menekankan konsep-konsep filosofis ilmu dan ciri-ciri umum metode
ilmiah yang digunakan oleh semua ilmu. Ini berarti dalam filsafat ilmu umum yang menjadi objek
telaah adalah semua ilmu. Sedangkan dalam filsafat ilmu khusus lebih menekankan pada telaah
konsep-konsep filosofis pada ilmu-ilmu tertentu dan ciri-ciri metode ilmiah yang digunakan oleh
ilmu-ilmu khusus (matematika, biologi, ekonomi, psikologi, fisika, dan ilmu pendidikan).

FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN
Pengertian
Berpijak pada beberapa definisi tentang filsafat ilmu itu maka kemudian dapat dibuat aplikasi
pengertian filsafat ilmu dalam bidang pendidikan, yang dapat disebut dengan istilah filsafat ilmu
pendidikan. Filsafat ilmu pendidikan adalah filsafat, khususnya adalah cabang dari filsafat
pengetahuan (epistemologi), yang secara mendalam, spekulatif, dan komprehensif mempelajari
tentang hakekat ilmu pendidikan.
Apabila dilihat secara lebih mendalam, yaitu karena filsafat ilmu pendidikan termasuk cabang
dari filsafat maka dapat dikemukakan bahwa dasar-dasar berpikir dalam melakukan perenungan
filsafat ilmu pendidikan harus mengacu pada dasar-dasar filsafat yang utama, yaitu dasar
metafisika (ontologi), dasar epistemologi, dan dasar aksiologi,
Dasar metafisika ilmu berarti bahwa suatu ilmu pendidikan harus memiliki dasar eksistensi untuk
dapat menetapkan realitas dirinya dalam dunia pengetahuan ilmiah secara khusus dan dunia
pengetahuan pada umumnya. Keberadaan ilmu pendidikan biasanya dihubungkan dengan

pandangan metafisika dan objek utama yang menjadi kajian ilmu. Pandangan metafisika itu
misalnya terkait dengan pertanyaan-pertanyaan:




Apakah hakekat keberadaan ilmu itu bersifat monis (satu) di seluruh dunia atau bersifat
plural?
Selanjutnya, apabila bersifat monis timbul pertanyaan lanjutan: Apakah hakekat keberadaan
ilmu bersifat material atau spiritual?
Selanjutnya, apabila bersifat plural timbul pertanyaan lanjutan: Bagaimana hubungan hakekat
keberadaan ilmu yang bersifat material, kejiwaan, dan spiritual?

Dalam bidang ilmu pendidikan, dasar metafisika yang terkait dengan objek ilmu pendidikan
dapat ditemui dalam keberadaan aliran-aliran besar dalam ilmu pendidikan. Aliran-aliran besar
dalam ilmu pendidikan itu misalnya dapat ditemui dalam aliran pendidikan behavioristik yang
menganut paham monisme materialistik dan aliran pendidikan transpersonal yang cenderung
bersifat plural.
Dasar epistemologi ilmu atau dasar filsafat pengetahuan ilmu berarti bahwa suatu ilmu harus
memiliki kriteria dasar bagi penentuan suatu pengetahuan dapat disebut sebagai pengetahuan
ilmiah. Dalam bidang ilmu pendidikan, dasar epistemologi ilmu terkait dengan objek kajian ilmu
pendidikan, metode pemerolehan pengetahuan dalam ilmu pendidikan, batas-batas
pengetahuan ilmu pendidikan, dan validitas pengetahuan ilmiah dalam ilmu pendidikan (kriteria
kebenaran suatu pengetahuan ilmiah).
Dasar aksiologi ilmu berarti bahwa ilmu harus dapat menetapkan kriteria yang seharusnya ada
tentang hubungan antara ilmu dan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan itu mencakup
nilai etika dan nilai keindahan. Dalam ilmu pendidikan, dasar aksiologi terkait dengan penerapan
prinsip etika dan estetika dalam penelitian dan praktek ilmu pendidikan.

Ruang Lingkup Filsafat Ilmu Pendidikan
Berdasar dasar-dasar metafisika, epistemologi, dan aksiologi ilmu maka secara umum, ruang
lingkup yang menjadi bidang kajian filsafat ilmu adalah sebagai berikut:





Masalah-masalah metafisika atau eksistensi realitas yang berhubungan dengan keberadaan
suatu ilmu.
Masalah-masalah epistemologis atau metode pencapaian pengetahuan yang berhubungan
dengan ilmu.
Masalah-masalah etika atau moralitas yang berhubungan dengan aktivitas pencapaian ilmu
dan penerapan ilmu dalam kehidupan masyarakat.
Masalah-masalah estetika atau keindahan yang berhubungan dengan ilmu.

Selain tinjauan ruang lingkup yang bersifat umum berdasar cabang-cabang utama yang menjadi
dasar landasan ilmu, secara lebih teknis ruang lingkup yang menjadi bidang kajian filsafat ilmu
dapat dipilah berdasar topik-topik yang bersifat lebih khusus. Dalam hal ini seperti telah
termaktub dalam pendapat Lacey (1996) tentang pengertian filsafat ilmu sebelumnya, maka
ruang lingkup filsafat ilmu dapat dipilah menurut topik-topik sebagai berikut:




Hakekat ilmu
Tujuan aktivitas keilmuan
Metode keilmuan





Bagian-bagian ilmu
Jangkauan ilmu
Hubungan ilmu dengan masalah-masalah kehidupan lain di luar ilmu.

Dalam konteks yang hampir sama dengan pendapat Lacey (1996), Earle (1992) secara tersirat
mengemukakan bidang-bidang kajian yang menjadi ruang lingkup perenungan filsafat ilmu,
yaitu:








Pengertian ilmu
Tujuan ilmu
Masalah metodologi dalam kegiatan keilmuan
Penggolongan ilmu
Pengembangan teori, model, dan paradigma keilmuan
Ilmu dan kesejahteraan manusia
Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat ilmu.

Demikianlah beberapa pemikiran tentang ruang lingkup yang menjadi bidang kajian filsafat ilmu.
Apabila diperbandingkan ruang lingkup-ruang lingkup tersebut satu dengan yang lain maka
kemudian dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya beberapa uraian tentang ruang
lingkup itu bersifat saling melengkapi dan memiliki inti yang kurang lebih sama.
Apabila ruang lingkup filsafat ilmu itu diterapkan dalam ilmu pendidikan maka diperoleh rumusan
ruang lingkup filsafat ilmu dalam ilmu pendidikan adalah sebagai berikut:





Masalah-masalah metafisika atau eksistensi realitas yang berhubungan dengan keberadaan
ilmu pendidikan.
Masalah-masalah epistemologis atau metode pencapaian pengetahuan yang berhubungan
dengan ilmu pendidikan
Masalah-masalah etika atau moralitas yang berhubungan dengan aktivitas pencapaian ilmu
dan penerapan ilmu pendidikan dalam kehidupan masyarakat.
Masalah-masalah estetika atau keindahan yang berhubungan dengan ilmu pendidikan.

Selain itu, ruang lingkup filsafat ilmu yang diterapkan dalam ilmu pendidikan juga dapat
dirumuskan sebagai sebagai berikut:








Pengertian ilmu pendidikan
Tujuan ilmu pendidikan
Masalah metodologi dalam kegiatan keilmuan pendidikan
Penggolongan dalam ilmu pendidikan
Pengembangan teori, model, dan paradigma keilmuan dalam ilmu pendidikan
Hubungan ilmu pendidikan dan kesejahteraan manusia
Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat ilmu pada ilmu pendidikan.

HAKEKAT ILMU PENDIDIKAN
Pengertian Ilmu
Sebelum sampai pada pengertian ilmu pendidikan maka perlu dideskripsikan terlebih dahulu
pengertian ilmu. Marczyk dkk. (2005) mengemukakan definisi ilmu sebagai suatu pendekatan
metodologis dan sistematik untuk memperoleh pengetahuan baru. Sprinthall dkk. (1991)
mendefinisikan ilmu sebagai suatu pengetahuan yang teorganisir dan sekumpulan teknik

sistematik untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Definisi ini memberikan penegasan bahwa
ilmu merupakan pengetahuan yang bersifat sistematik dan tidak dapat dipisahkan dari metode
ilmiah sebagai teknik untuk memperoleh pengetahuan ilmiah.
Syarat-Syarat Ilmu
Giorgi (1995) menjelaskan bahwa tidak semua ragam pengetahuan dapat diklasifikasikan
sebagai pengetahuan ilmiah. Suatu jenis pengetahuan dapat memiliki status sebagai
pengetahuan ilmiah karena memenuhi empat syarat. Empat syarat itu adalah bahwa
pengetahuan itu harus bersifat sistematis, metodis, kritis, dan universal.


Pengetahuan ilmiah bersifat sistematis berarti aspek-aspek berbeda yang menjadi bagian
dari suatu pengetahuan memiliki potensi untuk terkait satu dengan yang lain dalam konteks
sebuah sistem. Aspek-aspek berbeda yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah tidak
merupakan suatu keadaan yang tidak beraturan, melainkan harus menuruti pola dan struktur
tertentu.
 Pengetahuan ilmiah bersifat kritis berarti bahwa pengetahuan itu terbuka bagi studi lebih
lanjut. Dalam konteks ini, suatu pengetahuan ilmiah, misalnya suatu teori atau hukum umum,
yang dikembangkan oleh seorang ilmuwan tidak diterima begitu saja tanpa syarat namun
ilmuwan lain diperbolehkan untuk menguji atau bahkan melakukan perlawanan terhadap teori
itu. Perkembangn sifat kritis dalam dunia ilmiah sangat terbantu oleh kemauan para ilmuwan
untuk melakukan sosialisasi teori dalam suatu komunitas ilmiah, sehingga suatu teori akan
mendapat kesempatan untuk dikritisi dalam publik yang lebih luas. Sosialisasi itu dapat
melalui forum-forum ilmiah, seperti penerbitan berkala atau jurnal ilmiah, buku ilmiah,
seminar, dan promosi hasil penelitian.
 Pengetahuan ilmiah bersifat metodis berarti bahwa metode atau cara untuk mengumpulkan
dan menganalisis data secara intersubjektif harus tersedia. Hasil karya seorang jenius yang
tidak menggunakan metode mungkin saja dapat dinilai sangat mengagumkan, namun hasil
karya itu tidak dapat diklasifikasikan sebagai pengetahuan ilmiah. Hasil karya itu tidak dapat
diklasifikasikan sebagai pengetahuan ilmiah karena orang lain secara intersubjektif tidak
mungkin untuk melakukan itu lagi dalam cara-cara yang secara relatif kurang lebih serupa.
 Pengetahuan ilmiah bersifat universal berarti bahwa hasil-hasil pengetahuan ilmiah memiliki
kemampuan untuk diterapkan secara umum pada konteks dan situasi yang kurang lebih
sama. Universalitas ini akan menjamin hasil-hasil penelitian sebagai suatu kegiatan ilmiah
memiliki kemampuan generalisasi eksternal terhadap konteks dan situasi yang memiliki ciriciri sama.
Berdasar uraian tentang hakekat ilmu maka itu berarti bahwa keberadaan ilmu pendidikan
sebagai sebuah ilmu pun dapat ditinjau berdasar syarat-syarat yang telah dideskripsikan itu.
Pengertian Ilmu Pendidikan
Pengertian pendidikan yang dapat ditawarkan oleh penulis adalah sebagai berikut:


Pendidikan adalah ilmu tentang proses transformasi cara berpikir, berperasaan, dan
berperilaku dari generasi tua kepada generasi muda dalam suatu komunitas.

Objek Kajian Ilmu Pendidikan
Ilmu adalah studi yang bersifat sistematis dan intersubjektif tentang suatu fenomena yang
memiliki tata aturan tersendiri. Objek-objek utama yang menjadi bidang kajian ilmu pendidikan
antara lain adalah:





Belajar, pengajaran, dan pelatihan,
Metode belajar, pengajaran, dan pelatihan.
Perilaku guru dan siswa.
Media pengajaran dan belajar

Tujuan Ilmu Pendidikan
 Mendeskripsikan aktivitas mental dan perilaku manusia.
 Memahami aktivitas pendidikan.
 Meramal aktivitas pendidikan.
 Mengendalikan aktivitas pendidikan.
 Memecahkan masalah-masalah pendidikan.

Metode dalam Ilmu Pendidikan
Dalam upaya untuk mencapai tujuan-tujuan ilmu pendidikan itu, ilmu pendidikan sebagai salah
satu bidang ilmiah memiliki metode penelitian yang disesuaikan dengan objek-objek kajian
pendidikan. Metode-metode penelitian pendidikan itu antara lain adalah:






Positivistik (kuantitatif). Tujuan penelitian adalah untuk menetapkan objektivitas berdasar
pada bukti-bukti empiris dan hukum-hukum yang dapat digeneralisasi tanpa memperhatikan
atau tanpa dipengaruhi oleh konteks tempat penelitian dilakukan. Objektivitas hasil penelitian
sangat ditentukan oleh peminimalan kesalahan dalam proses pengukuran. Tujuan penelitian
adalah deskripsi, penjelasan, kontrol, dan prediksi. Contoh aliran pendidikan yang
menggunakan metode positivistik adalah pendidikan behavioristik.
Interpretif (kualitatif). Tujuan penelitian adalah pemahaman terhadap bahasa dan perilaku
yang bersifat sehari-hari atau bersifat alamiah yang berujung pada temuan-temuan makna
dan keyakinan yang ada dalam diri partisipan. Hubungan antara ilmu, metode penelitian, dan
proses penelitian dengan nilai adalah lekat nilai atau bermuatan nilai (value-laden). Dalam
hal ini pengetahuan ilmiah sebagai hasil dari penelitian metode penelitian interpretif termuat
di dalamnya nilai-nilai personal dan sosial budaya partisipan penelitian. Contoh aliran
pendidikan yang menggunakan metode interpretif adalah psikologi humanistik atau bidangbidang pendidikan yang berhubungan dengan konteks budaya.
Penelitian kritis memberi kesempatan kepada peneliti, praktisi, dan partisipan menjelaskan
dan menantang sumber-sumber dominasi dan eksploitasi yang ada dalam kehidupan sosial
budaya tempat hidup seseorang. Penelitian kritis merupakan penelitian yang bertujuan
pemberdayaan terhadap individu-individu atau kelompok-kelompok dalam masyarakat yang
mengalami penindasan (oppressed). Oleh karena itu, penelitian kritis memiliki sifat-sifat:
terbuka ideologi, kritik sosial, terbuka politik, dan orientasi emansipatori (Connole dkk., 1993).
Tujuan penelitian kritis adalah untuk melakukan pemberdayaan (empowerment) berupa:
pengembangan kesadaran kritis dan pengembangan tindakan (action) pada individu-individu
atau kelompok-kelompok yang tertindas (perempuan, buruh, dan siswa). Contoh aliran
pendidikan yang menggunakan metode penelitian kritis adalah pendidikan kritis.

KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan terkait deskripsi filsafat ilmu dalam bidang pendidikan adalah sebagai
berikut:




Filsafat ilmu adalah sebagai cabang filsafat, khususnya epistemologi, yang mempelajari
tentang hakekat pengetahuan ilmu.
Filsafat ilmu pendidikan adalah filsafat, khususnya adalah cabang dari filsafat pengetahuan
(epistemologi), yang secara mendalam, spekulatif, dan komprehensif mempelajari tentang
hakekat ilmu pendidikan.
Masalah-masalah filsafat ilmu pendidikan adalah: pengertian ilmu pendidikan, tujuan ilmu
pendidikan, masalah metodologi dalam kegiatan keilmuan pendidikan, penggolongan dalam
ilmu pendidikan, pengembangan teori, model, dan paradigma keilmuan dalam ilmu
pendidikan, hubungan ilmu pendidikan dan kesejahteraan manusia, dan aliran-aliran yang
terdapat dalam filsafat ilmu pada ilmu pendidikan




Hakekat ilmu pendidikan adalah ilmu tentang proses transformasi cara berpikir, berperasaan,
dan berperilaku dari generasi tua kepada generasi muda dalam suatu komunitas.
Metode-metode penelitian pendidikan adalah positivistik, interpretif, dan kritis.

Judul: Filsafat Ilmu

Oleh: Muhammadfahmiainun Najib


Ikuti kami