Tugas : Review Buku

Oleh Dony Prasetyo1994

13 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Tugas : Review Buku

Tugas : review buku

Liberalisasi Jasa
Dan Masa Depan Pariwisata Kita

DI SUSUN OLEH
DONY PRASETYO
1210103010114

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH

I.

PENDAHULUAN
Hampir dari semua disiplin Ilmu Sosial pernah dan sering mendengar kata

‘liberalisasi’. Liberalisasi merupakan arus pemikiran yang muncul sebagai respon
perkembangan dunia yang sangat dinamis, progresif dan berkarakter multidimensi.
Liberalisasi sejatinya merupakan sebuah pemikiran yang tak lagi segar, namun juga tidak
pernah mati. Liberalisasi merupakan perwujudan dari turunan konsep liberal demokrasi.
Terlepas dari semua konsep definisi tersebut, faktanya adalah hampir tak ada satu negara pun
yang mampu berlari dari dekapan liberalisasi, mengingat bahwa hikayat manusia itu adalah
sebagai zoon politicon alias makhluk sosial yang dimana sudah pasti menuntut kita untuk
berhubungan dan berinteraksi dengan dunia luar.
Ditinjau dari historisnya, liberalisasi sendri berakar dari gagasan sebuah paham pada
abad XIX yang dipelepori oleh Adam Smith yang menegaskan bahwa teori pembagian kerja
atau spesialisasi dianggap sebagai kunci pertumbuhan ekonomi yang terus menerus. Di dalam
persepsi hukum sendiri menyatakan bahwa sistem liberalisasi bertendensi memberikan ruang
perlindungan yang luas bagi kemerdekaan individu dengan menegakkan prinsip kebebasan (
peinciple of freedom), prinsip persamaan hak (principle of legal equality) serta prinsip timbal
balik ( principle of reciprocity).
Memasuki abad XX, liberalisasi menyebabkan segala sesuatuya berubah. Implikasi
nyatanya yang terlihat adalah munculnya saling ketergantungan multidimensi antar negara.
Liberalisasi juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah berdirinya tiga pilar ekonomi dunia
melalui sistem bretton wood, yaitu IMF, World Bank, dan GATT yang sekarang
bermetamorfosa menjadi WTO. Dari ketiga pilar ekonomi dunia tersebut, sangat dipuja dan
mendapat doktrin bahwa ‘mereka’ dapat meneteskan kesejahteraan bagi negara – negara
dunia ketiga melalui terbukanya kesempatan atau peluang untk dapat mengejar ketinggalan
mereka. Sebagai respon untuk mencapai tujuan liberalisasi dunia. Pada putaran Uruguay
1994 menetapkan aturan main (rule of the game) pada bidang perdagangan jasa. Perjanjian
yang diselenggarakan di Maroko ini lalu dikenal sebagai General Agreement on Trade In
Service (GATS).

GATS itu sendiri meliputi sektor jasa saperti perbankan, telekomunikasi, konsultasi,
pariwisata, dan pengangkutan. Dan negara kita, Indonesia sendiri telah meratifikasi ketentuan
WTO yang didialamnya mencakup GATS. Oleh sebab itu bagaimana selanjutnya di era
sekarang ini bumi pertiwi Indonesia, yang seyogyanya adalah negara berkembang perlu
mempunyai ‘mata elang’ di dalam menyikapi fenomena liberalisasi di bidang jasa dan di
bidang pariwisata khususnya, mengingat bahwa pada dasawarsa terakhir, negara – negara
berkembang sangat menaruh perhatian lebih pada sektor pariwisata. Dan indonesia
khususnya kontribusi pariwisata sangatlah menjanjikan karena berdasarkan fakta pada tahun
2002, pariwisata berhasil menyumbang devisi kedua terbesar setelah ekspor migas.

II.

ISI ( BEBERAPA SUB BAB )
a. BAB I ( PENDAHULUAN )
Pada pembahasan Bab I ini dijelaskan dengan ringan mengenai garis ‘start’ materi pada

buku ini. Pendahuluan buku ini dijabarkan dengan sama – sama mengetahui garis besar
seputar liberalisasi ( baik itu definisi maupun para pemikiran politik pada beberapa ahli
mengenai liberalisasi ). Dilanjutkan dengan perjanjian Bretton Wood yang menghasilkan
GATS sebagai pembahasan atas liberalisasi jasa, yang kemudian dengan perlahan mengarah
terhadap produk ‘pariwisata’ sebagai arah liberalisasi jasa yang diusung negara Indonesia.
b. BAB II ( MENGAPA KITA HARUS MENGIKUTI GATS )
Di bab ini menjelaskan secara tersirat bahwa begitu kuatnya pengaruh pilar 3 raksasa
ekonomi dunia di negara kita, Indonesia. Memaparkan dengan alasan kenapa Indonesia harus
mengikuti GATS dengan beberapa faktor di dalamnya, serta seterusnya memaparkan
bagaimana GATS ini dapat berlangsung di Indonesia.
c. BAB III ( GATS & LIBERALISASI JASA PUN BERGULIR )
Pada Bab ini, sang penulis buku mencoba kembali menegaskan bahwa GATS itu adalah
‘produk’ dari terbitan GATT yang dimana ia sendiri adalah satu dari tiga pilar ekonomi
dunia. Dilanjutkan dengan berbagai materi mengenai komitmen, serta dinamika
liberalisasi jasa Indonesia terhadap GATS.
d. BAB IV ( JASA PARIWISATA MENYONGSONG GATS )

atas

Dalam Bab ini penulis lebih menfokuskan terhadap benang merah dari judul buku nya
menegnai pariwisata, bagaimana nantinya pariwisata sebagai liberalisasi jasa akan diusung
oleh negara Indonesia. Berbagai materi dan sub judul mengenai kesiapan Indonesia dari
berbagai aspek juga akan dijelaskan di bab ini.
e. BAB V ( MENEROPONG MASA DEPAN PARIWISATA KITA )
Di dalam bab terakhir ini, penulis mencoba membahas ‘keindonesiaan’ pariwisata secara
mendalam, yang mencakup bermacam produk hukum yang Indonesia yang berkenaan dengan
pariwisata, serta berbagai strategi jangka pendek maupun menengah Indonesia mengenai
liberalisasi jasa berupa pariwisata akan berlangsung.

III.

REVIEW

KELEBIHAN BUKU
Bagi saya pribadi, buku yang berjudul ‘Liberalisasi Jasa dan Masa Depan Pariwisata
Kita’ ini cukup mampu menjawab pertanyaan banyak pihak mengenai apa itu liberalisasi
dalam kasus yang lebih khusus yaitu liberalisasi jasa dalam bentuk pariwisata. Selanjutnya
buku setebal 172 halaman ini dikonsepkan dengan membuat alur buku menjadi tiga
perspektif, yaitu lalu (past ), kini ( present ) dan nanti ( future ). Menarik, karena penulis
seperti membawa kita ke alam imajinasi dari berbagai dimensi waktu yang berbeda. Sebuah
buku yang bagi saya pribadi bisa direkomendasikan sebagai referensi bacaan ilmu sosial kita,
selaku mahasiswa, terlebih untuk mata kuliah demokrasi dalam pemikiran politik namun
dalam jangkauan yang lebih segmented dan ‘kekinian’ dalam bentuk liberalisasi jasa berupa
sektor pariwisata.
KEKURANGAN BUKU
Buku yang ditulis oleh IGN Parikesit Widiatedja ini, juga tidak terlepas dari kekurangan.
Saya pribadi menilai bahwa penulis sudah cukup berhasil memaparkan beberapa bab yang
dapat dimengerti dan sesuai target awal nya mengenai konsep past, present, dan future nya.
Namun asumsi saya adalah alangkah lebih baiknya jika penulis menambahkan satu bab
tambahan, atau beberapa halaman untuk membahas mengenai ‘objek’ nyata pariwisata yang
ada di Indonesia. Kita setuju bahwa Indonesia dikenal dengan keindahan pariwisata Bali nya.
Alangkah lebih menarik jika ada beberapa tambahan halaman yang mengusung pariwisata

Indonesia dengan objek yang lebih real, sehingga tidak melulu hanya bercerita mengenai
teori dan konsep saja.

IV.

KESIMPULAN
Fakta mengatakan bahwa pada tahun 2002, pariwisata merupakan penyumbang devisa

kedua terbesar setelah ekspor migas. Hal ini terbukti bahwa sektor pariwisata memang
menjanjikan sebagai pembangunan pada sebuah negara ataupun daerah. Selain indonesia,
telah banyak negara – negara di kawasan Asia yang serius menangani sektor pariwisatanya,
seperti hal India dengan Incredible India, Malaysia dengan Trully Asia, Thailand dengan
Amazing Thailand, serta Kamboja dengan Kindom of Wonder nya.
Liberalisasi merupakan pemikiran lama, namun hingga saat ini masih digunakan oleh
hampir di setiap negara. Liberalisasi menyebabkan segala sesuatunya berubah., bahkan tak
ada satupun yang bakal menyadari perubahan itu sendiri. Barangkali tepat jika dikatakan
bahwa tak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri.
Liberalisasi jasa merupakan perwujudan dari konsep liberal demokrasi, yang
sebagaimana kita ketahui bersama, ia merupakan sub bab pada mata kuliah ‘Demokrasi
Dalam Pemikiran Politik’ namun ke arah yang lebih segmented. Pariwisata yang merupakan
bagian dari liberalisasi jasa dan juga termasuk ke dalam bagian dari perjanjian GATS dirasa
perlu dipahami secara mendalam, karena pariwisata kelak akan menjadi pondasi baik itu
ekonomi , maupun politik suatu negara untuk dapat berlangsung dengan baik.
Akhir kata di dalam buku ini dijelaskan dan diharapkan untuk lebih dapat membuka
kesempatan yang ada dalam bentuk dan konsep apapun. Kita sama – sama mengetahui bahwa
Indonesia adalah negara yang masih termasuk ke dalam negara ketiga yang masih
mempunyai pekerjaan rumah tangga yang banyak jumlahnya. Seperti salah satu poin teori
yang dekemukakan oleh Wallerstain bahwa “setiap negara yang ingin terlepas dari belenggu
keterbelakangan haruslah berani untuk mengambil setiap kesempatan yang ada” termasuk
sektor pariwisata.
Telah banyak negara – negara yang juga termasuk negara berkembang yang mengusung
pariwisata dengan apik dan sangat serius dapat berhasil meningkatkan devisa negaranya.

Kenapa tidak halnya dengan Indonesia? Sebagai negara yang kaya akan pemandangan alam
yang menakjubkan sudah semestinya kita dapat menjadi salah satu negara sebagai tempat
wisata para turis yang hebat.

Judul: Tugas : Review Buku

Oleh: Dony Prasetyo1994


Ikuti kami