Makalah Fiqh Kel

Oleh Salwa Sabila

11 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Fiqh Kel

1

Kata Pengantar

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga
makalah ini bisa selesai pada waktunya.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah berkontribusi
dengan memberikan ide-ide nya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan
rapi.
Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca.
Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta saran yang bersifat
membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang lebih baik lagi.

Medan, 11 Maret 2020

Tim Penyusun

2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................ 3
B. Rumusan Masalah........................................................... 3
C. Tujuan ............................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian fiqh dan ushul fiqh......................................... 5
2. Ruang lingkup fiqh dan ushul fiqh.................................. 6
3. Object kajian fiqh dan ushul fiqh.....................................8
4. Perbedaan fiqh dan ushul fiqh......................................... 10
5. Sejarah perkembangan fiqh dan ushul fiqh..................... 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan...................................................................... 17
B. Saran................................................................................ 18
DAFTAR PUSTAKA

3

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Kata fiqh jika kita tinjau dari dimensi definisi bahasa yaitu “ paham yang
mendalam” semua kata “faqaha “ yang terdapat dalam al- qur’an mengandung arti ini,
namun yang dimaksud paham yang mendalam disini secara hakikat adalah paham
tentang persoalan yang berkaitan dengan hukum syara’, telah kita ketahui dalam arti
yang menjadi objek dari fiqh adalah persoalan amaliyah dan furu’iyah yang didasarkan
kepada dalil yang tertafsili, dan dalil ini digali dan ditemukan melalui penalaran dan
istidlal yaitu bagaiman menggunakan sebuah dalil,
Tidak banyak kita jumpai tentang keterpurukan ini, baik waktu sholat dan lain
hal yang berkaitan dengan hukum kita temukan, sekarang telah banyak orang yang
mencendrungkan dirinya dalam persoalan dunia yang gampang dan mudah tanpa dasar
hukum yang benar, bahkan cuma ada yang mengamalkan separuh, hal ini cukup
memprihatinkan sekali bila kita renungkan, maka penulis merasa cukup penting untuk
mengangkat persoalan fiqh dalam bentuk makalah sebagi penyokong kesadaran tentang
pentingnya pemahaman yang mendalam seperti yang penulis singgung diatas,
Tidak hanya itu yang perlu kita pahami tetapi juga harus kita ketahui apakah
fiqh dan ushul fiqh dapat dikaji secara ilmiah yang sesuai kaidah yang telah ada
dalam scientific method itu sendiri, maka point ini mencoba, penulis menyingkap
persoalan ini secar ilmiah yang bertujuan bahwa islam juga peduli terhadap
perkembangan peradaban keilmuan yang secara flexibility hal ini juga merupakan ilmu
yang patut kita tuntut berdasarkan kesadaran.
B. Rumusan Masalah
Sebagai sketsa pembahasan pada makalah ini penulis perlu merumuskan hal-hal
yang berkaitan dengan fiqh dan ushul fiqh sebagai kajian ilmiah yaitu sebagai berikut ;
1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian fiqh dan ushul fiqh ?
Ruang lingkup fiqh dan ushul fiqh?
Apakah object kajian fiqh dan ushul fiqh?
Perbedaan fiqh dan ushul fiqh?
Bagaimana sejarah perkembangan fiqh dan ushul fiqh?

4

C. Tujuan
1.
2.
3.

Untuk mengetahui tentang fiqh dan ushul fiqh
Untuk mengetahui sejarah timbulnya ushul fiqh
Untuk mengetahui fiqh dan ushul fiqh sebagai kajian yang ilmiah

5

BAB II
PEMBAHASAN
FIQIH DAN USHUL FIQIH SEBAGAI DISIPLIN ILMU
1. PENGERTIAN FIQIH DAN USHUL FIQIH


Definisi fiqih

Kata fiqih arti dasarnya “fahm” berarti “paham yang mendalam” (al-fahmu alamiq). Secara terminologi fikih selalu diartikan para ulama : Ilmu tentang hukumhukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan manusia yang digali melakui dalil
yang tafshil. Menurut al-Amidi, fikih adalah : ilmu tentang hukum syara’ yang bersifat
furuiyah didapatkan melalui penalaran dan istidlal.1
Ilmu fiqih menurut syara’ adalah pengetahuan tentang hukum syariah yang
sebangsa perbuatan yang diambil dari dalilnya secara detail. Atau kumpulan hukumhukum syariat yang sebangsa perbuatan yang diambil dari dalil-dalilnya secara detail.2
Fikih atau fiqh secara etimologi berarti paham. Dalam kamus Al-Mishbah AlMunir disebutkan “fiqh (fikih) adalah memahami sesuatu. Ibnu Faris mengatakan
“setiap pemahaman terhadap sesuatu berarti fikih baginya”. Dalam Lisan Al-Arab
dikatakan, “Fikih berarti ilmu tentang sesuatu dan memahaminya. Yang dimaksud ilmu
disini adalah ilmu agama mengingat dominisi, kemuliaan, dan keutamaanya atas semua
ilmu, seperti bintang timur yang mengalahkan bintang kartika.3


Definisi Ushul Fiqih
Definisi Fiqih Secara Terminologi, Adapun ushul fiqih secara

terminology telah di definisikan dengan definisi yang beragam, namun
semuanya hampir sama satu sama lain. Berikut ushul fiqih:

1 Nispul Khoiori, ushul fikih, (Bandung, citapustaka media, 2015), h. 4-5
2 Abdul Wahhab Khallaf, ilmu ushul fikih, (Jakarta, Pustaka Amani, 2003), h.1
3 Musthafa Sa’id Al-Khin, sejarah ushul fikih, (Jakarta, pustaka Al-kautsar, 2014), h.60

6

a) Al-Harawi 89 mendifinisikan ushul fiqih dengan perkataannya, “adapu ushul
fiqih adalah mengetahui sesuatu yang dapat mengantarkan pada pengambilan
(istinbath) hukum fiqih dari dalil dalilnya.
b) Al-Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam mendefinisikannya dengan perkataan “ushul
fiqih adalah dalil-dalil fiqih dan aspek dalalahnya pada hukum-hukum syara’
serta keadaan orang yang menggunakan dalil-dalil ini (mujtahid) secara global,
bukan secara terperinci 90 .”4
Ilmu ushul fiqih menurut istilah syara’ adalah pengetahuan tentang kaidah dan
pembahasannya yang digunakan untuk menetapkan hukum hukum syara’ yang
berhubungan

dengan

perbuatan

manusia

dari

dalil-dalilnya

yang

terperinci.

Atau,kumpulan kaidah dan pembahasannya yang digunakan untuk mentapkan hukumhukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan manusia dari dalil-dalilnya yang
terperinci.5
2. RUANG LINGKUP FIQH DAN USHUL FIQH
a. Ruang Lingkup Fiqh
Secara umum, pembahasan fiqh ini mencakup dua bidang, yaitu fiqh ibadah
yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, seperti shalat, zakat,

haji,

memenuhi nazar, dan membayar kafarat terhadap pelanggaran sumpah. Kedua, fiqh
muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya. Kajiannya
mencakup seluruh bidang fiqih selain persoalan ubudiyah, seperti ketentuan-ketentuan
jual beli, sewa menyewa, perkawinan, jinayah, dan lain-lain. jual beli, sewa menyewa,
perkawinan, jinayah, dan lain-lain. jual beli, sewa menyewa, perkawinan, jinayah, dan
lain-lain. 6
Tujuan diisyaratkannya ketentuan hukum tentang peibadatan ini dalam rangka
memelihara aspek keagamaan. Artinya untuk memenuhi salah satu dari tuntutan
kepercayaan teologis karena menjalankan rangkaian ibadah tersebut juga merupakan
manifestasi dari ketentuan doktrin kepercayaan kepada Allah swt dan Rasul-Nya.
4 Musthafa Sa’id Al-Khin, sejarah ushul fikih, (Jakarta, pustaka Al-kautsar, 2014), h.64
5 Abdul Wahhab Khallaf, ilmu ushul fikih, (Jakarta, Pustaka Amani, 2003), h.2
6 Hafsah, Pembeajaran Fikih, ( Bandung: Citapustaka Media, 2013). Hal.5.

7

Ulama fiqh membagi pembahasan fiqih pada 4 bagian, yaitu:
1. Bagian ibadah yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah manusia
kepada Allah seperti hukum bersuci salat, zakat, puasa, Haji, qurban, aqiqah,
nadzar, dan lain-lain
2. bagian muamalah yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan
manusia dengan sesama manusia tentang harta misalnya jual beli, sewa
menyewa, upah mengupah, utang piutang, gadai, perkongsian, hibah, dan
sebagainya.
3. Bagian munakahat yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan perkawinan
misalnya pelaksanaan perkawinan, perceraian, rujuk, hak dan kewajiban suami
istri dan sebagainya.
4. Bagian jinayah yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan tindak pidana
misalnya hukum membunuh, melukai, mencuri, berzina, rampok, minuman
memabukkan, dan lain-lain termasuk juga hukum-hukum tentang ketatanegaraan
di antaranya hukum pengangkatan kepala negara hukum perang dan
sebagainya.7
b. Ruang lingkup Ushul fiqih.
Adapun yang menjadi bidang pembahasan ilmu Ushul fiqih ialah dalil-dalil
syara sendiri dari segi bagaimana penunjukannya pada suatu hukum secara ijmali (garis
besar). Misalnya Alquran adalah dalil syara yang pertama. Cara penunjukkannya pada
hukum tidak hanya menurut satu bentuk saja, tetapi ada kalanya dengan bentuk kalimat
perintah (sighat amar), kalimat melarang (sighat nahi) dan adakalanya menggunakan
kalimat yang bersifat umum, mutlak, dan sebagainya. Para ahli usul membahas itu
semuanya agar dapat memperoleh ketentuan hukum yang ditunjukkannya atas bantuan
penelitian terhadap gaya dan bahasa bahasa arab dan pemakaiannya dalam syariat. jika
pembahasan mereka dapat menemukan bahwa sighat (bentuk) amar itu mengandung
perintah, sighat nahi itu mengandung petunjuk haram dan kalimat yang bersifat umum

7 Hafsah, Pembeajaran Fikih, ( Bandung: Citapustaka Media, 2013). hal.9.

8

itu harus mencakup pengertian keseluruhan, maka mereka lalu menciptakan kaidahkaidah yang lain. 8

3. OBJEK KAJIAN FIQIH/USHUL FIQIH


OBJEK KAJIAN FIQIH

Yang menjadi objek kajian dalam Fiqh ialah perbuatan mukallaf dilihat dari
sudut hukum Syara’. Perbuatan tersebut dapat dikelompokkan pada tiga kelompok
besar, yaitu:
1. Ibadah
Pada bagian ini tercakup seluruh persoalan pada pokoknya yang berkaitan
dengan urusan akhirat. Artinya, segala perbuatan yang dikerjakan dengan maksud
mendekatkan diri kepada Allah. Seperti shalat, puasa, haji, dan bentuk ibadah lainnya.
2. Mu’amalah
Bagian ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan harta, seperti jual-beli,
pinjam-meminjam, sewa-menyewa, amanah, dan harta peninggalan.
3. Bagian ‘uqubah
Bagian ini mencakup segala persoalan yang menyangkut tindak pidana, seperti
pembunuhan, perampokan, pemberontakan, dan lain-lain.
Kemudian, objek kajian fiqh dapat diperinci dalam delapan bagian, yaitu :
1. Kumpulan hukum yang digolongkan ke dalam ibadah, yaitu shalat, puasa,
haji, zakat, jihad, dan nazar.
2. Kumpulan hukum yang berkaitan dengan masalah keluarga, seperti
perkawinan, talak, nafkah, wasiat, dan pusaka. Hukum seperti ini sering disebut
al-ahwal al-syakhshiyah.

8 Nurhayati dan Ali Imran Sinaga, Fiqh dan Ushul Fiqh, ( Depok: Prenadamedia Group, 2017). Hal.5.

9

3. Kumpulan hukum mengenai mu’amalah madiyah (kebendaan), seperti
hukum-hukum jual-beli, sewa-menyewa, utang-piutang, gadai, dan lain-lain.
4. kumpulan hukum yang berkaitan dengan harta Negara, yaitu kekayaan yang
menjadi urusan baitul mal, penghasilannya, macam-macam harta yang
ditempatkan di baitul mal, dan tempat-tempat pembelanjaannya.
5. Kumpulan hukum yang dinamai ‘uqubat, yaitu hukum-hukum yang
disyariatkan untuk memelihara jiwa, kehormatan, dan akal manusia, seperti
hukum qisas, had, ta’zir.
6. Kumpulan hukum yang termasuk ke dalam hukum acara, yaitu hukum-hukum
mengenai peradilan, gugatan, pembuktian, dan lain sebagainya.
7. Kumpulan hukum yang tergolong kepada hukum tata Negara, seperti syaratsyarat menjadi kepala Negara, hak-hak penguasa, hak-hak rakyat, dan sistem
permusyawaratan.
8. Kumpulan hukum yang sekarang disebut sebagai hukum Internasional.
Termasuk

kedalamnya

hukum

perdamaian, dan lain sebagainya.


perang,

tawanan,

perampasan

perang,

9

OBJEK KAJIAN USHUL FIQIH

Adapun yang menjadi objek kajian ushul fiqh ialah dalil-dalil syara’ itu sendiri
dari segi bagaimana penunjukannya kepada suatu hukum secara ijmali. Atau secara rinci
bahwa objek kajian ushul fiqh ini kepada pembahasan tentang dalil-dalil, hukum,
kaidah-kaidah, dan ijtihad.10
Secara garis besar ada tiga objek kajian Ushul Fiqih, yaitu :
1. Sumber hukum dengan semua seluk beluknya.
2. Metode pendayagunaan sumber hukum atau metode penggalian hukum dari
sumbernya.
9 Alaiddin Koto, Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, 2009), hlm 5-6
10 Ibid,hlm 7

10

3. Persyaratan orang yang berwenang melakukan istinbath dengan semua
permasalahan nya.
Secara rinci, Muhammad al-Juhaili menyebutkan bahwa objek kajian Ushul Fiqh
ialah:
1. sumber-sumber hukum syara’, baik yang disepakati seperti Alquran dan Sunnah
maupun yang diperselisihkan, seperti istihsan dan maslahah mursalah.
2. pembahasan tentang ijtihad, yakni syarat-syarat dan sifat-sifat orang yang
melakukan ijtihad.
3. Mencarikan jalan keluar dari dua dalil yang bertentangan secara dzahir, ayat
dengan ayat atau sunnah dengan sunnah.
4. Pembahasan hukum syara’ yang meliputi syarat-syarat dan macam-macamnya,
baik yang bersifat tuntutan, larangan, pilihan atau keringanan.
5. Pembahasan kaidah-kaidah yang akan digunakan dalam mengistinbath hukum
dan cara penggunaannya.11

4. PERBEDAAN FIQIH DENGAN USHUL FIQIH
Ilmu fiqih adalah menerapkan hukum-hukum syariat terhadap perbuatan dan
ucapan manusia.jadi ilmu fiqih itu adalah tempat kembali seorang hakim dan
keputusannya,tempat kembali seorang mufti dalam fatwanya,dan tempat kembali
seorang mukallaf untuk dapat mengetahui hukum syara’ yang berkenaan dengan ucapan
dan perbuatan yang muncul dari dirinya.sedangkan ushul fiqih adalah menerapkan
kaidah kaidahnya dan teori-teorinya terhadap dalil-dalil yang rinci untuk menghasilkan
hukum syara’yang dirujuki dalil itu.12

11 Andewi Suhartini, Ushul Fiqh, (Jakarta:Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama
Republik Indonesia, 2009), hlm 7-8.
12H.A.Syafi’I Karim.Fiqih Ushul Fiqih.(Bandung:Pustaka Setia,1997),hlm.20

11

Dari uraian diatas terlihat perbedaan yang nyata antara fiqih dan ushul fiqih.jika
ilmu fiqih berbicara tentang hukum dari sesuatu perbuatan,maka ilmu ushul fiqih bicara
tentang metode dan proses bagaimana menemukan hukum itu sendiri.Atau dilihat dari
sudut aplikasinya,fiqih akan menjawab pertanyaan “Apa hukum dari suatu perbuatan?” ,
dan ushul fiqih akan menjawab pertanyaan “bagaimana cara atau proses menemukan
hukum yang digunakan sebagai jawaban permasalahan yang dipertanyakan tersebut”.
Oleh karena itu fiqih lebih bercorak produk sedangkan ushul fiqih lebih bermakan
metodologis.dan oleh sebab itu,fiqih terlihat sebagai koleksi produk hukum,sedangkan
ushul fiqih merupakan koleksi metodis yang sangat diperlukan untuk memproduksi
hukum.
Objek pembahasan dalam ilmu fiqih adalah perbuatan mukallaf ditinjau dari segi
hukum syara’yang tetap baginya.sedangkan,ilmu ushul fiqih adalah dalil syar’I yang
bersifat umum ditinjau dari segi kete[atan-ketepatan hukum yang bersifat umum pula.
Ringkasnya,ushul

fiqih

membahas

hukum

syar’I

dari

segi

hakikat,khasiat,macam-macamnya membahas hakim dari segi memperhatikan dalildalil

yang menegaskan bahwa hukum itu benar datang dari hakim yang berhak

menetapkan hukum dan membahas simahkum’alaihi dan ijtihad.13

5. SEJARAH PERKEMBANGAN FIQH DAN USHUL FIQH
Ilmu ushul fiqih bersamaan munculnya dengan ilmu fiqih, meskipun dalam
penyusunannya ilmu fiqih dilakukan lebih dahulu

dari ushul fiqih. Sebenarnay

keberadaan fiqh harus didahului oleh ushul fiqih, karena ushul fiqih adalah ketentuan
atau kaidah yang harus diikuti mujtahid pada waktu yang menghasilkan fiqhnya. 14


Sejarah fiqih

a. Zaman Rasulullah Saw
1) Periode Mekkah (610 M-623)

13 T.M.Hasbi.Ilmu Fiqih.(Djakarta:Cv.Mulya,1974),hlm.155
14 Musthafa Sa’id Al-Khin, Sejarah Ushul Fikih (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2014)

12

Periode Mekkah ini istilah fiqh belum dikenal, tetapi banyak menekankan pada
keyakinan akidah islam yang berbentuk kepercayaan pada keesaan Allah SWT,
Malaikat, Nabi dan Rasul, kitab-kitabnya, hari kiamat, serta qada dan qadar sehingga
nyaris tidak berbicara mengenai aturan-aturan hukum beribadah.
Pada masa ini Nabi Muhammad SAW hanya mengonfirmasi dirinya sebagai
utusan Allah, sedangkan aturan-aturan akhlak belum dijadikan institusi keagamaan.
Menurut Hudair Bik, salat yang diberlakukan ketika di Mekkah hanya terbatas pada dua
rakaat yang dilakukan pagi dan sore hari. Awalnya bukanlah merupakan kewajiban,
tetapi hanya seruan-seruan biasa, tetapi kemudian secara bertahap salat menjadi
kewajiban dan belum menerangkan secara jelas bilangan rakaat. Kemudian, Rasulullah
SAW menetapkan tata cara salat,waktu, dan bilangannya sebelum melakukan hijrah.
2) Periode madinah (623M-12 Rabiul Awwal 11 H/8 Juni 632 M)
Periode ini ditandai dengan adanya pengaturan hidup sebagai hamba dan sebagai
anggota masyarakat. Hukum yang dipakai berdasarkan wahyu dan ditafsirkan secara
ketat oleh Nabi Muhammad SAW sendiri dengan bimbingan dan arahan dari Allah
SWT.
Pembinaan hukum pada era Mekkah bersifat global (mujmali) yang hanya
sedikit saja Al-Qur’an mengemukakan hukum-hukum secara detail. Menurut Ignaz
Goldziher, ciri khas dari periode Madinah ini dapat dilihat dari sisi, antara lain:
1. Kemunculan Hadis-hadis yang menguatkan keberadaan Al-Qur’an sebagai
wahyu dari Allah SWT.
2. Islam telah menjadi sebuah institusi yang dapat mengorganisasi perjuangan
umat sebagai dasar pengembangan agama selanjutnya.
3. Keberadaan Nabi Muhammad SAW meluruskan kembali kitab-kitab suci
terdahulu yang telah dicemari oleh umat-ummat nya sendiri.
4. Pembentukan persaudaraan keimanan islam dengan mengatur hukum sipil
dan hukum agama, hal-ikhwal kehidupan secara praktis, urusan kepribadian,
rumah tangga, dan kemasyakatan berdasaekan wahyu.

13

Nabi Muhammad SAW dengan hadis/sunnahnya telah menjadikan posisi dirinya
sebagai sumber hukum kedua setelah wahyu Al-Qur’an. Beliau sebagai penjelas
(bayyin), penafsir, dan pembuat hukum baru yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an.
Posisi ini telah dilegasikan wahyu dalam banyak ayat-ayat yang tercantum dalam AlQur’an.
b. Zaman Khulafa’ al-Rasyidin (11 H/632 M-41 H/662 M)
Sepeninggalan Rasulullah SAW kaum muslimin di pimpin oleh empat khalifah
secara bertahap, yaitu Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali
bin Abi Thalib. Pada era kepemimpinan mereka disadari banyak persoalan hukum yang
muncul tanpa bimbingan Nabi mereka lagi. Mereka berusaha mencari jalan
keluar/ijtihad dari persoalan yang dibutuhlkan masyarakat.
Dan kondisi seperti inilah, bermunculan mujtahid-mujtahid fardiy (parsial) dari
kalangan sahabat-sahabat,. Ada yang menyelesaikan hukum secara sendiri dan ada pula
yang mereka musyawarahkan. Sebagian saahabat yang menerima hadis dari Nabi SAW
dahulu menjadikan hal itu sebagai istinbath hukumnya, sedangkan sahabat yang tidak
menerima hadis dengan sendirinya bertanya kepada sahabat yang lebih mengetahui
hadis yang berkenaan dengan persoalan hukum yang dihadapi masyarakat.
Kenyataan diatas memberi gambaran bahwa pada periode ini telah bermunculan
sahabat-sahabat menjadi mujtahid sekaligus bermunculan murid-murid mereka seperti
sahabat kecil dan tabi’in yang berprofesi sama. Namun kualitas mereka berijtihad sangat
dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya hadis yang mereka terima dari Rasulullah
SAW, sahabat kecil.
c. Zaman Abad l Hijriah (41 H/662 M) Sampai dengan Abad VII Hijriah (656
H/1258 M)
Ketika pemeritahan dipegang oleh bani Umayyah, sebagian sahabat pergi
meninggalkan kota madinah menuju kota-kota yang baru dibangun seperti Kufah,
Mekkah, Basrah, Syam, Mesir, dan lain-lain. Di kota-kota ini mereka mengajarkan
fiqih, mengembangkan agama dan meriwayatkan hadis-hadis. Hasil dari itu melahirkan
banyak tabi’in yang pandai dan pintar menyamai gurunya, bahkan melebihi dalam

14

urusan fiqh dan hukum islam. Dengan periode inilah fiqh dipandang sebagai suatu ilmu
yang berdiri sendiri.
Kondisi ini menimbulkan pertentangan di kalangan tabi’in sehingga dibagilah
mereka ke dalam dua golongan besar, yaitu :
1. Golongan Ahl al-Hadis yang mengeluarkanhukum ddari hadis-hadis yang
mereka telah yang mengeluarkan hukum dari Hadis-hadis yang mereka telah
terima saja dan tidak mau menggunakan ra’yul qiyas terhadap persoalan yang
tidak didapati hadis.
2. Golongan Ahl ar-Ra’yu(Ahl al-Qiyas) yang menetapkan hukum dengan hadis.
Jika tidak mereka dapati hadis yang mereka terima, maka menggunakan Qiyas.
Setelah periode ini, mulailah kemampuan ijtihad berangsur-angsur menurunkn
kualitasnya sampai menuju pertengahan abad VII Hijriyah(656 H/1258 M-1198 H/1800
M).15


Sejarah Ushul Fiqih

Pada abad I Hijriyah ilmu Ushul Fiqh belum tumbuh menjadi suatu disiplin
ilmu. Kemunculannya terjadi pada abad II Hijriyah dengan kondisinya yang masih
bercampur dengan pembahasan ilmu fiqh. Hal ini disebabkan karena Rasulullah SAW
dalam menentukan hukum selalu mengandalkan turunnya wahyu dan ilham dari Tuhan.
Sepeninggalan Rasulullah SAW, para sahabat berfatwa dan memberikan
keputusan suatu masalah menurut nash yang mereka pahami melalui penguasannya
dalam bahasa arab. Mereka tidak memerlukan kaidah-kaidah bahasa (qaidah allugawiyah). Mereka menerapkan penghayatan terhadap asbab al-nuzul dan asbab alwurud dan memanfaatkan pengamatannya dari tujuan-tujuan syar’i dalam memberikan
beban hukum kepada mukalaf.
Dalam pertumbuhan pada tingkat pertama ilmu ushul fiqih belum merupakan
ilmu yang berdiri sendiri, melainkan ia masih berserak-serak dalam kitab-kitab fiqh
yang difungsikan oleh fuqaha’ sebagai argumentasi menetapkan hukum fiqh serta
untuk menerangkan cara-cara mengambil hukum dari dalil-dalil yang dikembalikan.

15Nurhayati, Ali Imran, Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta: Prenadamedia Group,2019)

15

Orang yang pertama-tama mengumpulkan tulisan ushul fiqh yang masih
bercampur dengan kodifikasi fiqh islam menjadi suatu perangkat ilmu yang terpisah lagi
berdiri sendiri (menurut ibnu Nadim) adalah Abu Yusuf, salah seorang murid imam
Abu Hanifah.
Adapun orang yang pertama mengodifikasikan pembahasan dan kaidah-kaidah
ilmu ushul fiqh dalam suatu kitab yang sangat berharga dan dapat dikaji oleh generasi
sekarang ialah Imam Muhammad Idris al-Syafi’i.
Kemudian, muncullah beberapa ulama untuk meneruskan menyusun ilmu ushul
fiqh. Sebagian mereka menyusun kembali ilmu ini lebih sempurna dan sebagian lain ada
yang memberikan komentar secara luas kitab-kitab ushul fiqh yang terdahulu, ada yang
mengumpulkan beberapa kitab ushul fiqh dalam suatu kitab dan ada pula yang
meringkasnya. Mereka itu ialah :
1. Imam Abu Hanif al-Ghazali
2. Imam Saifuddin al-Amidi
3. Imam Muzaaffaruddin al-Bagdadi al-Hanafi dan lain lain
Dalam perkembangannya ushul fiqh memiliki beberapa aliran. Adapun beberapa
aliran yang dikenal dalam ushul fiqh adalah sebagai berikut :
1. Aliran Jumruh Ulama Ushul Fiqih
Aliran yang dikenal juga dengan aliran Syafi’iyah atau aliran Mutakallimin.
Aliran ini dikenal dengan aliran jumruh ulama dari kalangan Malikiyah,
Syafi’iyah, dan Hanabilah terutama dalam cara penulisan ushul fiqh.
Contohnya : kitab al-Amd, dll
2. Aliran Fuqaha atau Aliran Hanafiyah
Aliran Fuqaha adalah aliran yang dikembangkan oleh kalangan ulama
Hanafiyah. Disebut aliran fuqaha (ahli-ahli fiqh) karena dalam sistem
penulisannya banyak diwarnai oleh contoh-contoh fiqh. Dalam merumuskan
kaidah ushul fiqh mereka berpedoman kepada pendapat-pendapat fiqh Abu
Hanifah dan pendapat-pendapat para muridnya serta melengkapinya dengan
contoh-contoh. Contohnya: kitab Ta’sis al-Nazhar, dll
3. Aliran yang menggabungkan antara dua aliran diatas

16

Dalam perkembangan selanjutnya, muncullah aliran ketiga yang dalam
penulisan ushul fiqh menggabungkan dua aliran tersebut. Contohnya: kitab
Badi’ al-Nizam16

BAB III
16 Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqih, (Bandung: Cv Pustaka Setia, 2010)

17

PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan yang telah kami sajikan diatas dapat disimpulkan bahwa Fiqh
dan Ushul fiqh merupakan sebuah ilmu yang turun-temurun . Dan hal tersebut tetap
dipegang teguh dengan rasa cinta yang tulus dan ikhlas, sedangakan Fiqh adalah sebuah
ilmu yang memiliki cakupan yang cukup luas (mother of science), sehingga agama juga
menjadi sub menu dalam kajiannya.
Hubungan antara Fiqh dan Ushul fiqh merupakan satuan makna yang terpisah
secara bahasa, yang sebenarnya tidak memilki pertentangan, bahkan semuanya
mendukung dalam menghadirkan Ultimate reality, sehingga keragu-raguan akan hilang
secara perlahan dengan pemahaman tanpa hijab tentang agama yang dalam filsafat
adalah sebuah keindahan murni.
Dengan

adanya

keterkaitan

semacam

ini,

bila

kita

mengikuti

amar Kalamullah yaitu Tafakkaru fii kholqillah akan semakin menanamkan dan
merekonstruksi kembli nilai-nilai serta paradigma yang hampir terkikis oleh
modernization.

B. Saran-saran
Bila Fiqh dan Ushul fiqh merupakan sebuah ilmu berarti telah jelas juga bahwa
al-qur’an adalah cahaya yang akan menerangi kita dalam kegelapan ” al- ilm nuurun
” dan perlu kita lestarikan dalam upaya merehabilitasi peradaban yang telah lepas landas
dari nilai riil dan pokok ajaran al-qur’an.
Pada point di atas penyusun mengharapkan pada para pembaca untuk senantiasa
meningkatkan daya serta upaya untuk selalu membaca dan membaca, karena disamping
membaca adalah sebuah peroses pembendaharaan pengetahuan, membaca juga
merupakan terapi atas keterpurukan yang kita sandang saat ini.

18

Bagi para pembaca umumnya, jangan merasa malas untuk membaca, apapun itu, karena
membaca adalah pengiring pertama menuju ridho-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

19

Al-Khin, Sa’id Musthafa. Sejarah Ushul Fikih. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2014)
Nurhayati. Imran, Ali. Fiqh dan Ushul Fiqh. (Jakarta: Prenademedia,2019)
Syafe’i, Rachmat. Ilmu Ushul Fiqih. (Bandung: Cv Pustaka Setia, 2010)
Khoiri. Nispul. ushul fikih. (Bandung, citapustaka media, 2015)
Khallaf. Wahhab Abdul, ilmu ushul fikih, (Jakarta, Pustaka Amani, 2003)
Hafsah. Pembeajaran Fikih. ( Bandung: Citapustaka Media, 2013)
Imran Ali Sinaga dan Nurhayati. Fiqh dan Ushul Fiqh. ( Depok: Prenadamedia Group,
2017)
Koto Aladdin. Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqh. (Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, 2009
Suhartini Andewi. Ushul Fiqh. (Jakarta:Direktorat Jendral Pendidikan Islam
Departemen Agama Republik Indonesia, 2009)
Karim, Syafi’I H.A. Fiqih Ushul Fiqih .(Bandung:Pustaka Setia,1997)
Hasbi, T.M. Ilmu Fiqih.(Djakarta:Cv.Mulya,1974)

Judul: Makalah Fiqh Kel

Oleh: Salwa Sabila


Ikuti kami