Tugas Uas Jepang

Oleh Bella Iskandar

23 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Uas Jepang

Nama

: Pradana Abimantra

NIM

: 2011-22-088

Mata Kuliah

: Peran Internasional Jepang

Judul Skripsi

: EVALUASI HUBUNGAN JEPANG - AMERIKA SERIKAT DARI SEGI MILITER

OLEH

: ACHMAD FIRDAUS H. (E13110273)

Program studi : JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
Universitas

: UNIVERSITAS HASANUDDIN

KESMPULAN
Jepang memiliki perjanjian keamanan bersama Amerika Serikat (AS) dimulai pada tanggal 8
September 1951. Perjanjian tersebut dikenal sebagai perjanjian San Fransisco, yang merupakan wujud
kerjasama keamanan pasca Perang Dunia II, agar Jepang tidak kembali sebagai kekuatan militer dan
lebih memikirkan pembangunan ekonominya yang hancur akibat Perang. Perjanjian tersebut
menyebabkan Jepang tergantung pada jaminan keamanan ke AS. Jepang menekankan dua kebijakan
penting yaitu kebijakan luar negeri omni-directional, dan kebijakan comprehensive security. Kedua
kebijakan tersebut turut mendasari kebijakan pertahanan Jepang yang menekankan hubungan yang baik
dengan setiap negara serta menekankan keutuhan keamanan nasional. Walaupun konstitusi pasal 9
tidak memperbolehkan Jepang memiliki pasukan militer, namun Jepang membentuk Self Defense Forces
(SDF), sebagai hak untuk membela diri dan menjaga keamanan nasional.
Di tahun 1976, melalui “National Defense Program Outline” (NDPO), konsep pertahanan
nasional dari sisi kepentingan Jepang mengalami kemajuan, karena sudah diarahkan untuk melindungi
Jepang dari sasaran agresi bersenjata, selain tetap menyimpulkan bahwa Mutual Security Treaty (MST)
masih cukup mampu melindungi wilayah Jepang menghadapi kemungkinan konflik di Asia Timur.
Ketentuan pokok yang masih tetap diberlakukan adalah larangan untuk memiliki, memproduksi dan
menggunakan wilayah Jepang sebagai transit senjata nuklir. NDPO 1976 juga, untuk pertama kalinya
dilakukan konfirmasi ke publik mengenai struktur kekuatan, tingkat kemampuan pertahanan yang
dimiliki Jepang pada masa damai. Namun perubahan sistem internasional dan meningkatnya potensi
ancaman di kawasan menyebabkan Jepang merasa perlu mengantisipasinya dengan mengubah
kebijakan pertahanan. Terdapat kesepakatan antara Jepang dan AS tentang perlunya peningkatan
kerjasama bilateral untuk mempromosikan aktivitas-aktivitas militer di tingkat regional maupun di
global. dalam hubungan keamanan bilateralnya dengan AS, Jepang tidak banyak menentang tuntutan
AS. Kesepakatan antara JepangAS dalam masalah ini tercermin dalam revisi kerja sama pertahanan
Jepang-AS yang dimulai pada tahun 1996. Revisi tersebut pada hakikatnya mendorong Jepang untuk
berperan lebih aktif dalam menangani masalah keamaran Jepang dan menjaga stabilitas kawasan Asia
Pasifik.

Keselarasan Jepang dan AS di bidang ini dapat dimengerti mengingat adanya implikasi regional
dan global yang penting dalam hubungan keamanan bilateral tersebut, dicapai kesepakatan yang
disebut “US-Japan Defense Guideline” yang menetapkan “comprehensive planning mechanism‖ yang
lebih menekankan kerja sama bilateral yang bukan hanya terfokus pada pertahanan wilayah Jepang saja,
tetapi juga untuk mengantisipasi gangguan keamanan regional. Menghadapi ancaman nuklir Korea
Utara dan penculikan warga Jepang oleh agen Korea Utara, serta masih pekanya hubungan Jepang RRC,
meningkatkan sikap nasionalisme di masyarakat dan menguatnya keinginan untuk merevisi konstitusi
1947, agar Jepang segera menjadi negara normal.
Dari seluruh perjanjian yang kedua negara sepakati, seluruh perjanjian setiap tahun mengalami
revisi dan itu semakin meningkat yang menguntungkan Jepang sebagai aliansi yang dibantu oleh
Amerika serikat untuk menjamin keamanan Jepang dari agresi atau ancaman yang dilakukan oleh
Negara di kawasan Asia Timur dan serta Amerika memiliki keuntungan yang membuat keeksistensinya
tetap ada di Kawasan Asia Pasifik. Serta, perjanjian-perjanjian yang kedua Negara lakukan itu sangat
mengikat. Seperti contoh pada NDPO 1976 menegaskan bahwa jika terjadi situasi darurat seperti konflik
militer di kawasan Asia Timur walau tidak menimpa Jepang secara langsung, maka Jepang dengan
bantuan AS akan turut berupaya menghadapi situasi darurat tersebut. Situasi keamanan di Asia Timur
setelah penyusunan NDPO 1996 ternyata semakin mengalami perkembangan. Namun, Potensi ancaman
berupa proliferasi nuklir, senjata pemusnah massal dan perkembangan militer di kawasan semakin
meningkat. Salah satunya adalah RRC, negara yang berada satu kawasan dengan Jepang yang melakukan
peningkatan kemampuan militernya. Timbulnya kekuatan baru di kawasan Asia Timur seperti RRC dan
Korea Utara yang mengaktifkan rudal dan roket jarak jauh yang menimbulkan kekhawatiran yang besar
bagi Jepang serta terjadi peningkatan ancaman regional. Situasi ini membuat pemerintah Jepang
menginginkan adanya tindakan peran Jepang dalam aliansi dengan AS, tidak hanya sekedar sebagai
partner junior tetapi lebih sebagai mitra yang sejajar dalam beraliansi. Stagnansi dalam aliansi
pertahanan dan keamanan Amerika Serikat dan Jepang sudah mulai terjadi dalam hubungan kedua
negara. Aliansi Jepang dan Amerika sejak pendudukan sekutu lebih banyak berfokus pada sektor
ekonomi. Dalam bidang pertahanan dan keamanan sering muncul pola berpikir Amerika Serikat selalu
membuat aturan main sendiri (dari Jepang) dan Jepang terlalu pasif hingga menjadi beban aliansi (dari
Amerika Serikat). Hal ini membuat peneliti sangat tertarik untuk membahas masa depan aliansi untuk
kedua Negara. Dikarenakan dinamisnya struktur internasional membuat aliansi ini untuk 5-10 tahun
yang akan mendatang secara perlahan aliansi ini akan melemah dan bubar. Ini ditandai beberapa faktor
beserta alasannya seperti amandemen pasal 9 dan tekanan anggaran ekonomi yg menjerat
perekonomian AS yang membuat aliansi ini tidak akan bertahan lama jika faktor ini dijadikan barometer
sampai tahun 2020.

Judul: Tugas Uas Jepang

Oleh: Bella Iskandar


Ikuti kami