Makalah Klmpk 5

Oleh Jefry Markus

175,3 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Klmpk 5

MAKALAH KONDISI KERJA DAN PSIKOLOGI KEREKAYASAAN Dosen : H. Hamzah Ratman. R.S.sos,Mpsi Mata Kuliah : Character dan Attitude Kelompok 5 Ketua : Jefrianus Markus Anggota : Suherman Novriantika Veronika Lince Aureliana Londa Kata Pengantar: Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan, karena berkat rahmat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan makalah Character dan Attitude ini. Adapun maksud dan tujuan kami disini untuk menyajikan beberapa hal yang menjadi materi dari makalah kami. Makalah ini membahas mengenai Kondisi Kerja dan Psikologi Kerekayasaan. Makalah ini juga menggunakan bahasa yang mudah dimengerti untuk para pembacanya. Kami menyadari bahwa didalam makalah kami ini masih banyak kekurangan, kami mengharapkan kritik dan saran demi menyempurnakan makalah kami agar lebih baik dan dapat berguna semaksimal mungkin. Akhir kata kami mengucapkan Terima Kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan dan penyempurnaan makalah ini. Samarinda, 06 Oktober 2015 Hormat Kami Penyusun DAFTAR ISI: BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………. Latar Belakang…………………………………………………………………... BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………….. A. Pengertian Kondisi Kerja Psikologi Kerekayasaan………………. B. Pendahuluan Psikologi Kerekayasaa…………………………………… 3.1 Kondisi Kerja Fisik……………………………………………………….. 3.2 Kondisi Lama Waktu Kerja…………………………………………… C. Pengaruh Kondisi Kerja Dalam Perilaku Manusia……………….. D. Sistem Mesin-Manusia……………………………………………………….. E. Manfaat Psikologi Kerekayasaan………………………………………… F. Penyajian Informasi………………………………………………………….. G. Fungsi-fungsi Kendali………………………………………………………… BAB III PENUTUP………………………………………………………………………..  Kesimpulan……………………………………………………………………….  Saran………………………………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………….. BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Dalam bidang industri dan organisasi khususnya dalam lingkungan kerja perusahaan tidak di pungkiri bahwa masih banyaknya tingkat kondisi kerja yang tidak sesuai dengan harapan yang di miliki karwayan dalamsebuah perusahaan. Dan itu membuat banyak permasalahan baru yang mucul dalam sebuah perusahaan yang menyebabkan stress kerja dan produktivitas yang menurun dll dan berimbas pada tujuan perusahaan. Bukan hanya permasalahan kondisi kerja namun permasalahan dalam keselamatan kerja dan keserasian antara manusia dan pekerjaannya juga kemampuan dan batasan itu juga sering di abaikan akhirnya memperburuk keadaan dalam perusahaan. Tentunya pengetahuan akan kondisi kerja dan ergonomi sangat di perlukan dalam membentuk kondisi kerja yang baik. seperti contoh salah satu perusahaan di makassar yang mempekerjakan buruh dengan kondisi kerja yang tidak sesuai dan masih banyak lagi kecelakaan kerja lainnya di karenakan pengetahuan masalah ergonomic yang kurang. Di banding perusahaan perusahaan yang ada di jepang dari segi ergonomic mereka sangat memperhatikan. Kita akan membahas ancangan lain terhadap proses interaksi manusia dengan lingkungan kerjanya, yaitu pengaruh timbal balik dari berbagai kondisi kerja dengan tenaga kerjanya dan rancangan pekerjaan (meliputi peralatan kerja, prosedur kerja), rancangan ruang kerja (workspace desaign) yang disesuaikan dengan keterampilan dan keterbatasan manusia/tenaga kerja. Ancangan ini dikenal sebagai psikologi kerekayasaan (engineering psychology). Istilah lain yang berdekatan artinya dengan psikologi kerekayasaan adalah kerekayasaan faktor-faktor manusia (human engineering), biomekanika (bimechanics), ergonomika (ergonomics), psikoteknologi, psikologi eksperimen terapan (Chapanis, 1976). Kerekayasaan faktor-faktor manusia (human factors engineering) atau kerekayasaan manusia (human engineering) merupakan istilah yang digunakan di Amerika Utara. Ditempat lain di dunia digunakan istilah ergonomics. Untuk tujuan praktis, kerekayasaan manusia dan ergonomi/ergonomika dapat dianggap sinonim/sama artinya. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kondisi Kerja dan Psikologi Kerekayasaan Kondisi karyawan akan lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan mereka apabila kondisi kerja mendukung (seperti bersih,lingkungan menarik), tetapi jika kondisi kerja tidak mendukung (seperti panas,lingkungan rebut,tidak nyaman) pegawai akan sukar untuk melaksanakan tugasnya. Disamping itu, salah satu faktor pendukung utama personalia dalam melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan nyaman yaitu melalui perbaikan kondisi kerja. Sepeti yang diungkapkan sedarmayanti (2000:22) bahwa: “manusia akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga dicapai suatu hasil yang optimal, apabila ditunjang suatu kondisi kerja yang sesuai. Kondisi kerja dikatakan naik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan kegiatannya secara optimal, sehat, aman dan nyaman. kondisi kerja, biografi pribadi dan karakteristik pekerjaan merupakan faktor utama yang meningkatkan motivasi kerja antara pemegang jabatan Menurut studi Schepers et al. (2005), sementara Toode et al. (2011) mengemukakan karakteristik pribadi, kondisi kerja, karakteristik tempat kerja dan keadaan psikologis internal sebagai faktor utama untuk memotivasi pegawai terhadap pekerjaan. Menurut (Djumadi, 2006) kondisi kerja (working condition) adalah kondisi tempat kerja, dimana karyawan melakukan tugas pekerjaannya. Istilah Ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu Ergos (kerja) dan Nomos (hukum alam) dan dapat didefenisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan perancangan atau desain. Ergonomi secara khusus mempelajari keterbatasan dan kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk buatannya. Ilmu ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki batas-batas kemampuan baik jangka pendek maupun jangka panjang, pada saat berhadapan dengan lingkungan sistem kerja yang berupa perangkat keras atau hardware (mesin, peralatan kerja) dan perangkat lunak atau software (metode kerja, sistem). Ergonomi dikenal juga dengan istilah Psikologi Kerekayasaan, kerekayasaan faktor manusia, kerekayasaan manusia, biomekanika, psikoteknologi, psikologi eksperimen terapan. 1. 2. 3. 1. 2. Ergonomi adalah satu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan pekerjaannya. Ilmu ini menempatkan manusia sebagai unsur pertama, terutama kemampuan, kebolehan, dan batasannya. Ergonomi bertujuan membuat pekerjaan, peralatan, informasi, dan lingkungan yang serasi satu sama lainnya. Metodenya dengan menganalisis hubungan fisik antara manusia dengan fasilitas kerja. Manfaat dan tujuan ilmu ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan pada saat bekerja. Dengan demikian Egonomi berguna sebagai media pencegahan terhadap kelelahan kerja sedini mungkin sebelum berakibat kronis dan fatal. Peran ergonomi dalam kehidupan sehari-hari dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu: Perancangan produk. Meningkatkan keselamatan dan higiene kerja. Meningkatkan produktivitas kerja. Sasaran dari Ergonomi yaitu meningkatkan para pengguna agar dapat mencapai prestasi kerja yang tinggi dalam kondisi yang nyaman, aman dan tenteram. Mengapa Perlu Ergonomi ? Manusia adalah mahluk pekerja. Dengan bekerja mereka akan menghasilkan suatu hasil kerja. Dalam melaksanakan tugas-tugasnya itu manusia bisa saja memakai peralatan kerja dan berada dalam lingkungan kerja tertentu. Peralatan kerja harus sesuai dengan manusia pemakai, lingkungan kerjanya harus mendukung fungsi tubuh yang sedang bekerja. Hal itulah yang dituju dalam pelaksanaan ergonomic di tempat kerja. Ada beberapa bidang yang menjadi garapan ergonomi, yaitu: Kondisi lingkungan Yaitu aspek lingkungan kerja sangat menentukan prestasi kerja manusia. Lingkungan yang tidak kondusif untuk bekerja akan memberikan beban tambahan bagi tubuh; pada hal tubuh sedang melaksanakan beban utama yaitu tugas yang sedang dilaksanakan. Demikian juga lingkungan dingin, kelembaban relatif, penipisan kadar oksigen, adanya zat pencemar dalam udara semuanya akan mempengaruhi penampilan kerja manusia. Itulah yang menjadi fokus kajian ergonomi. Penerangan tempat kerja, adanya kebisingan, lingkungan kimia, biologi dan lingkungan sosial di tempat kerja berpengaruh terhadap prestasi dan produktivitas kerja dan karyawan pun akan merasa kurang nyaman sehingga dapat menimbulkan stress kerja dan membuat lebih banyak kesalahan. Kondisi waktu Yaitu lama jam kerja per hari atau per minggu penting untuk dikaji untuk mencegah adanya kelelahan berlebihan. Berapa jam per minggu seorang tenaga kerja harus bekerja. Jika dibebankan dengan waktu yang lama maka efeknya adalah pekerjaan terbengkalai dan emosi terkuras. 3. Kondisi sosial Termasuk di dalamnya bagaimana pekerja diorganisir dalam melaksanakan tugas-tugasnya, interaksi sosial sesama pekerja, khususnya menghadapi teknologi baru. Di samping itu pekerjaan yang dilaksanakan bila tidak sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya akan menimbulkan stress psikologis dan problema kesehatan. Karenanya kondisi sosial ini banyak seharusnya dimanfaatkan oleh pimpinan tempat kerja untuk membina dan membangkitkan motivasi kerja, seperti sistem penghargaan bagi yang berhasil dan hukuman bagi yang salah dan lalai bekerja. 4. Sikap kerja Sikap kerja yang bertentangan dengan sikap alami tubuh akan menimbulkan kelelahan dan cedera otot-otot. Dalam sikap yang tidak alamiah tersebut akan banyak terjadi gerakan otot yang tidak seharusnya terjadi sehingga gerakan itu akan boros energi. Hal itu akan menimbulkan strain dan cedera otot-otot. 5. Interaksi manusia-mesin atau peralatan kerja Tujuannya untuk menentukan keserasian antara manusia dengan mesin atau peralatan kerjanya. Bagaimana manusia dapat mengontrol mesin-mesin melalui display dan control. Ketidakserasian antara kedua faktor tersebut akan menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan tubuh. Setelah kita membahas tentang seleksi dan penempatan serta diadakan pelatihan dan pengembangan. Pada bab ini kita akan membahas tentang proses interaksi manusia dengan lingkungan kerjanya atau pengaruh timbale balik dari berbagai kondisi kerja dengan tenaga kerjanya dan rancangan pekerjaan (meliputi peralatan kerja, prosedur kerja), rancangan ruang kerja yang disesuaikan dengan keterampilan dan keterbatasan manusia atau tenaga kerja. Ancangan di atas dikenal dengan psikologi kerekayasaan. Menurut Chapanis, psikologi kerekayasaan terutama memperhatikan penemuan dan penerapan informasi tentang perilaku manusia dalam kaitannya dengan mesin-mesin, peralatan, pekerjaan dan lingkungan kerja. Tujuan kita mempelajari psikologi kerekayasaan ini adalah supaya kita mengetahui bagaimana rancangan dari peralatan, tugas-tugas, tempat kerja, lingkungan kerja, dikondisikan sedemikian rupa sehingga menunjang kemampuan dan keterbatasan tenaga kerja. Psikologi kerekayasaan memandang tenaga kerja sebagai suatu konstanta psikologis dan biologis yang mempunyai kecakapan dan keterbatasan-keterbatasan karena pembawaan. Tugas psikologi kekerasaan psikologi ialah mengubah: a. Mesin-mesin dan alat-alat yang digunakan manusia dalam bekerja, atau b. Lingkungannya tempat ia bekerja, untuk membuat pekerjaannya lebih sesuai bagi manusia B. Pendahulu Psikologi Kerekayasaan a) Manajemen ilmiah, Frederick w. Taylor yang menekankan efisiensi dalam melaksanakan tugas pekerjaannya yang membuat berbagai macam peralatan yang disesuaikan dengan bentuk dan fungsi anggota badan. Contohnya: dibuat sekopsekop untuk tenaga bangunan b) Analisis waktu dan gerak, Golbert. Menganalisa gerak tangan dan lengan dari tukang pasang batu tenbok untuk mengurangi “gerak yang tidak perlu” c) Kondisi kerja (eksperimen tentang lingkungan kerja fisik), untuk mengetahui efek pencahayaan terhadap produktifitas 3. Kondisi Kerja 3.1 kondisi kerja fisik Lingkungan kerja fisik mencakup setiap hal dari fasilitas parkir diluar gedung sampai lokasi dan rancangan gedung sampai jumlah cahaya dan suara yang menimpa meja kerja atau ruang kerja seorang tenaga kerja. Contohnya: lapangan parkir yang sempit dapat menimbulkan kejengkelan tenaga kerja dan tamu perusahaan dan terbawa pada pekerjaannya sehingga dapat merugikan perusahaan. Lalu lokasi kerja yang jauh menyebabkan ketidakdisiplinan kerja dan turunya produktifitas. 3.2 Kondisi Lama Waktu Kerja a) Jam Kerja Jumlah jam kerja dalam satu minggu, di Indonesia, pada umumnya 40 jam. Ada organisasi-organisasi kerja yang membagi 40 jam kerja ke dalam 6 hari kerja, ada yang membaginya kedalam 5 hari kerja (setiap hari kerja bekerja selama 8 jam). Berikut ini beberapa hasil penelitian yang membahas oleh Schultz (1982): Suatu kajian dri 5.000 lebih pekerja tata usaha dari sepuluh perusahaan yang berbeda-beda menunjukan bahwa dari 37,5 jam kerja perminggu, tidak lebih dari 20 jam yang digunakan untuk benar-benar bekerja. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hamper setengah dari minggu kerja merupakan waktu yang hilang bagi perusahaan. Akibat tambahan dari perpanjangan jam kerja nominal ialah naiknya secara mencolok angka kecelakaan, sakit dan absensi. b) Kerja Paro Waktu Tetap yang termasuk kedalam kelompok ini adalah para tenaga kerja yang menyukai gaya hidup lentur dan yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang telah menjalani usia pension (karena dapat meningkatkan pendapatan dan dapat memnuhi kebutuhan akan aktivitas). Pekerjaan ini juga diminati oleh ibu-ibu rumah tangga yang ingin bekerja tetapi berjalan seimbang dengan pekerjaan rumah tangga. Selain itu orang cacat jasmani (yang mengahadapi masalah waktu pergi dan pulang pada pekerjaan) dan orang-orang yang tidak bersedia bekerja full-time. c) 4 Hari Perminggu Kerja Dari hasil penelitian pada perusahaan, 4 hari seminggu kerja lebih dapat meningkatkan produktivitas dan efiensi pekerja dan mengurangi jumlah absensi tenaga kerja. Jadi dalam 4 hari kerja tetap dengan 40 jam tetapi ada juga yang 36 jam. Pertengahan tahun 1970-an banyak pabrik, kantor dan badan pemerintah di Amerika Serikat mengubah jumlah hari kerja perminggu menjadi 4 hari kerja perminggu. Ada yang mempertahankan 40 jam perminggu (10 jam kerja sehari) ada yang menetapkan 36 jam jerja perminggu (9 jam kerja sehari). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, secara keseluruhan, penerapan 4 hari kerja perminggu pada kebanyakan kasus (perusahaan) merupakan suatu keberhasilan, namun bukan tanpa kritik. Ada tanda-tanda yang menunjukan adanya sedikit penurunan dari penerapan 4 hari kerja perminggu, di gantikan dengan pengaturan waktu kerja yang lain, yaitu jam-jam kerja lentur. d) Jam Kerja Lentur Amerika dan Jerman, waktu kerja yang ditetapkan adalah 4 hari perminggu, karyawan dapat melappor kerja antara jam 7:30-09.00 dan pulang antara pukul 16.00-17.30. dengan kata lain tenaga kerja bekerja minimal 6,5 jam/ hari dan maksimal 9,5 jam/hari. Penetapan berapa lama setiap pekerja akan bekerja tergantung perorangan dalam setiap bagian atau seksi. Penerapan jan kerja lentur ternyata berhasil dan memberi beberapa keuntungan terutama maslah kemacetan dan karyawan akan merasa senang dan tenag memulai kerja Penerapan system ini sangat sulit ditetapkan pada system kerja shift (karena ada keterkaitan dengan tenaga kerja lainnya) Hasil penelitian pada perusahaan-perusahaan yang menggunakan jadwal jam kerja lentur menunjukan keuntungan berikut: 1. Produktivitas naik pada hamper separo dari perusahaan. 2. Angka absensi berkurang pada lebih dari 75% dri perusahaanperusahaan. 3. Keterlambatan dating berkurang pada 84% dari perusahaanperusahaan. 4. Angka keluar-masuk tenaga kerja berkurang pada lebih dari 50% dari perusahaan-perusahaan. 5. Semangat kerja tenaga kerja meningkat pada hamper semua perusahaan. Keuntungan bagi tenaga kerja sangat banyak, contohnya: 1. Bebas dari aturan waktu. 2. Adanya waktu untuk belanja. 3. Mampu menepati janji. 4. Tidak mungkin datang terlambat. 5. Dapat memanfaatkan cuaca yang bagus. 6. Dapat menyesuaikan jam-jam kerja apabila tidak enak badan. 7. Mengurangi konflik antara kerja dan keluarga. 8. Lebih mudah pergi ked an pulang dari pekerjaan. 9. Dapat menumpuk cuti. 10. Mempunyai waktu untuk hobi atau kegemaran. 11. Mempunyai waktu untuk kehidupan sosial. 12. Memiliki rasa tanggung jawab. 13. Meningkatkan jumlah atau mutu kerja. 14. Dapat mrnyesuaikan jam-jam kerja dengan waktu sedang sibuk atau tidak sibuk kerja. Pendekatan yang lentur terhadap penjadwalan kerja tampaknya merupakan pengaturan yang adil dan masuk akal serta memberikan banyak keuntungan baik pemilik/pimpinan maupun bagi para karyawannya. C. Pengaruh Kondisi Kerja dalam Perilaku Manusia Kondisi kerja secara fisik, Rancangan kantor memberikan pengaruh pada produktivitas. Masalah yang biasa dihadapi selain masalah perparkiran, lokasi, ruang kantor, tampaknya perlu juga diperhatikan faktor-faktor lingkungan spesifik seperti penerangan atau iluminasi, warna, kebisingan dan musik. a) Iluminasi (penerangan) Beberapa faktor yangperlu diperhatikan dalam iluminasi adalah kadar cahaya, distribusi cahaya dan sinar yang menyilaukan. Kadar cahaya tergantung kebutuhan pekerjaan yang sedang dilakukan Pengaturan yang ideal adalah jika cahaya dapat didistribusikan secara merata pada keseluruhan lapangan visual. Memberikan cahaya penerangan pada suatu daerah kerja yang lebih tinggi kadar cahayanya daripada daerah yang mengelilinginya akan menimbulkan kelelahan mata setelah jangka waktu tertentu. Pada daerah yan terang pupil mata mengecil. Kalau melihat sekeliling yang lebih gelap (hal yang wajar dilakukan) pupil mata membesar. Kegiatan pupil mata ini yang menyebabkan timbulnya kelelahan mata. Sinar yang menyilaukan merupakan faktor yang mengurangi efisiensi visual dan meningkatkan ketegangan mata. Sinar dirasakan sebagai silau karena intensitas cahaya melebihi dari intensitas cahaya yang biasa diterima oleh mata. Sinar yang menyilaukan dapat ditimbulkan langsung oleh sumber cahayanya atau oleh bidangbidang yang memiliki pemantulan sinar yang tinggi. Silau juga dapat meningkatkan kesalahan dalam kerja rinci selama waktu 20 menit. Selain ketegangan mata, silau juga dapat mengaburkan pandangan. Silau ditempat kerja dapat diatasi dengan berbagai cara. Sumber cahaya yang sangat terang dapat “ditutupi” dengan pelindung, atau diletakkan di luar bidang pandang pekerja. Cara lain ialah dengan memberikan semacam kelep topi (visor) atau pelindung mata (eyeshader) b) Warna Warna erat kaitannya dengan iluminasi yaitu penggunaan warna pada ruangan dan peralatan kerja. Banyak orang memberikan makna yang tinggi kepada pengguna warna atau kombinasi warna yang tepat untuk ruangan-ruangan di rumah, dikantor, dan di pabrik. Mereka berpendapat bahwa penggunaan warna atau kombinasi warna yang tepat dapat meningkatkan produksi, menurunkan kecelakaan dan kesalahan, dan meningkatkan semangat kerja.namun pandangan diatas tidak ditunjang oleh hasil- hasil penelitian. Hal ini tidaklah berarti bahwa warna tidak mempunyai makna dalam pekerjaan. Warna dapat digunakan sebagai: 1. Alat sandi atau coding device (Schultz, 1982), atau sebagai pencipta kontras warna (Suyanto, 1985). Misalnya alat pemadam kebakaran berwarna merah, peralatan pertolongan pertama berwarna hijau. Untuk bagian-bagian yang kecil pada mesin tetapi penting dapat digunakan warna-warna kuat, sehingga kontras warna yang ada memudahkan penglihatan. 2. Upaya untuk menghindari timbulkanya ketegangan mata. Pantulan cahaya dapat berbeda-beda tergantung dari warna yang digunakan. 3. Alat untuk menciptakan ilusi tentang besar dan suhu ruangan kerja. Warna Biru Hijau Efek jarak Jauh Jauh Efek suhu Sejuk Sangat sejuk Merah Dekat Panas Efek psikis Menenangkan Sangat menenangkan Sangat mengganggu Orange Sangat dekat Sangat panas Merangsang c) Bising Bising biasanya dianggap sebagai bunyi atau suara yang tidak diinginkan, yang mengganggu, yang menjengkelkan. Namun batasan tersebut kurang memuaskan karena tidak ada dasar yang jelas untuk menyatakan kapan suatu bunyi tidak diinginkan. Burrows dalam Mc Cormick berpendapat bahwa dalam rangka teori informasi, maka bising ialah that auditory stimulus or stimuli bearing no informational relationship to the presence or completion of the immediate task. McCormick selanjutnya menggabungkan aspek bunyi yang tidak diinginkan dengan batasan dari Burrows dengan mengatakan bahwa tampaknya masuk nalar dengan mengatakan bahwa bunyi atau suara yang tidak diinginkan ialah bunyi yang tidak memiliki hubungan informasi dengan tugas atau aktivitas yang dilaksanakan. Bising dalam lingkungan kerja membuat kita menjadi mudah marah, gelisah dan tidak bisa tidur, bahkan dapat membuat kita menjadi tuna rungu. McCormick membedakan antara tuna rungu syarat (nerve deafness) dan tuna rungu konduksi (conduction deafness). Kehilangan pendengaran pada tuna rungu syaraf pada umumnya terjadi karena frekuensi yang tinggi hingga besar daripada frekuensi yang rendah. Pengurangan normal pendengaran pada proses menua biasa merupakan tuna rungu syaraf. Hal tersebut juga terkait dengan akibat dari seringnya individu secara intensif berada pada tingkat kebisingan yang tinggi. Tuna rungu syaraf jarang dapat disembuhkan. Tidak demikian dengan tuna rungu konduksi yang merupakan tuna rungu sementara. Berikut ini akibat-akibat lain dari tingkat kebisingan yang tinggi: a. Timbulnya perubahan fisiologis Penelitian menunjukkan bahwa pada orang-orang yang mendengarkan bising pada tingkat 95-110 desibel, terjadi penciutan dari pembuluh darah, perubahan detak jantung, dilatasi dari pupil-pupil mata. Penyempitan dari pembuluh darah tetap berlangsung beberapa waktu setelah tidak ada bising lagi dan mengubah persediaan darah untuk seluruh tubuh. Satu paparan (exposure) yang bersinambungan terhadap bising yang keras dapat meningkatkan tekanan darah dan dapat ikut mengakibatkan tekanan darah dan dapat ikut mengakibatkan sakit jantung. Bising yang keras juga meningkatkan ketegangan otot. b. Adanya dampak psikologi Bising dapat mengganggu kesejahteraan emosional. Mereka bekerja dalam lingkungan yang ekstrem bising lebih agresif, penuh curiga dan cepat jengkel dibandingkan dengan mereka yang bekerja dalam lingkungan yang sepi. Bising yang konstan atau tetap berbeda pengaruhnya dengan bising yang tidak tetap. Dengan situasi bising yang konstan atau kebisingan yang tidak tetap namum teratur, kita dapat menyesuasikan diri. Misalnya orang yang tinggal di dekat rel kereta api. Tetapi perlu diperhatikan bahwa penyesuaian hanya berlangsung pada taraf sadar, sedangkan dampak fisiologis tetap berlangsung. Meskipun pekerja tidak merasa secara sadar akan kebisingan, tetapi pendengarannya menderita (secara mendadak mengetahui ketajaman pendengarannya berkurang), pembuluh darah menyempit dan lebih banyak tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan tempo kerja yang sama (sehingga marasa sangat lelah dan lekas marah). Ciri-ciri bising lain yang memiliki potensi mengganggu ialah kenalan (familiarity), nada dan keharusan adanya bising pada pekerjaan. Bunyi yang tidak dikenal lebih mengganggu dari pada bunyi-bunyi yang telah dikenal. Nada yang sangat tinggi dan nada yang sangat rendah leibh mengganggu dan menjengkelkan daripada nada-nada dari rentang tengah. Bunyi menjadi tidak mengganggu jika merupakan bagian dari pekerjaan yang harus dilakukan. Berdasarkan penjabaran diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam kondisi kerja berpengaruh secara signifikan pada perilaku manusia (dalam hal ini adalah para pekerja dalam organisasi atau perusahaan). Kondisi kerja yang kondusif, aman, dan nyaman dapat membuat perilaku manusia sesuai apa yang prioritaskan organisasi atau perusahaan. Dan hal ini berkontribusi terhadap kemajuan organisasi atau perusahaan. d) Musik dalam bekerja Memperdengarkan musik pada saat bekerja memiliki pengaruh yang positif dan negative.. hal tersebut tergantung dengan jenis pekerjaannya. Akan berpengaruh positif bila diterapkan pada pekerjaan yang sederhana, rutin dan monoton, sedangkan akan berdampak negative bila diterpkan pada pekerjaan yang lebih membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Jenis musik klasik memberikan dampak yang kurang baik, pada umumnya jenis musik ringan yang dimainkan dengan instrument saja (instrumentalia) yang digunakan sebagai musik pengiring kerja. Suyatno (1985), berpendapat bahwa musik pengiring kerja harus disesuaikan dengan pertimbangan sebagai berikut: a. Musik dalam bekerja harus menciptakan efek yang menguntungkan pikiran b. Musik tidak akan bernilai bila ada suara yang lebih keras c. Musik meriah diperdengarkan secara singkat pada saat memulai pekerjaan akan meningkatkan gairah dan diakhir pekerjaan d. Tempo waktu jangan terlalu lambat tetapi juga jangan terlalu cepat. D. Sistem Mesin-Manusia Adalah system dimana kedua komponen harus bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Masing-masing komponen tidak akan ada artinya pabila tidak ada komponen lain sebagai pelengkapnya. Ada dua system mesinmanusia yaitu system ikal-terbuka dan system ikal-tertutup i. Sistem ikal-terbuka Yaitu suatu masukan memasuki system tertentu, membuat suatu mekanisme kendali bekerja dan terjadilah suatu kegiatan tertentu). contoh: system alat pengaman kebakaran, masukan: derajat panas dalam ruangan, jika suhu panas melampaui batas tertentu, panasnya akan melelehkan sumbat tembaga dalam pipa air dan membiarkan air keluar, setelah suhu ruangan kembali normal system ini tidak akan berhenti dengan sendirinya tetapi harus dibantu oleh operator manusia. 1) 2) 3) 4) 5) ii. system ikal- tertutup merupakan system yang dapat manusia atur sendiri. Contoh: AC Sistem mesin-manusia, secara umum digambarkan prosesnya sebagai berikut: tenaga kerja menerima masukan dalam bentuk perintah atau instruksi, informasi diterima dari indra penglihatan dan pendengaran. Masukan diolah, terjadi proses berfikir, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan Tenaga kerja melaksanakan perintahnya, melaksanakan tugasnya dengan mengoprasikan alat atau mesin dengan menggunakan alat-alat operasi atau kendali seperti tombol atau hendel dll. Mesin melakukan apa yang ia lakukan Lewat peraga penglihatan/ peraga pendengarab dapat diketahui bagaimana mesin berfungsi. Hasil kerja mesin merupakan keluaran sedangkan bagaimana mesin bekrja merupakan masukan. Jadi yang perlu diperhatikan adalah apakah keterangan dalam alat peraga dapat ditangkap dengan tepat dan cermat oleh operator manusia. System mesinmanusia juga digunakan untuk merancang ruang kerja dengan berdasarkan prinsip ekonomi atau penghematan gerak serta dari ukuran struktur fisik dari badan manusia. Schult memberikan 3 prinsip umum dalam rancangan ruang kerja, yaitu: 1. Semua bahan, peralatan, dan persediaan harus terletak berurutan sesuai dengan urutan penggunaannya 2. Alat-alat harus diletakkan sedemikian rupa sehingga mereka siap diambil untuk digunakan 3. Semua suku cadang dan alat-alat harus berada dalam jarak raih yang udah dan menyenangkan. E. Manfaat Psikologi Kerekayasaan Manfaat psikologi kerekayasaan dalam membuat kondisi kerja yang kondusif, aman, dan nyaman merupakan salah satu manfaat yang terlihat F. Penyajian Informasi Alat indra yang paling banyak digunakan dalam bekerja yaitu indra pendengaran dan penglihatan. Dalam merancang konstruksi mesin yang berpengaruh besar terhadap efisiensi kerja, ialah keputusan yang harus diambil tentang peraga apa yang akan digunakan (peraga penglihatan dan pendengaran) sebagai saluran komunikasi antara mesin dan manusia. Penetapan dari saluran komunikasi antara mesin dan manusia tergantung pada: a. Jenis informasi yang harus dialihkan. b. Dengan cara bagaimana informasi akan digunakan. c. Lokasi dari tenaga kerja. d. Lingkungan tempat tenaga kerja beroperasi. e. Sifat dari alat indra itu sendiri (sifat kuping dan mata). Chapanis (1976) mengemukkan bahwa pada umumnya alat-alat komunikasi visual (seperti TV, teletype, radar, cakara angka atau dials, dan sebagainya) sesuai untuk digunakan jika: 1. Pesan yang harus disampaikan adalah pesan majemuk atau abstrak, atau mengandung istilah-istilah teknikal atau ilmiah. 2. Pesan yang harus disampaikan adalah panjang. 3. Pesan kelak perlu diacu (perlu digunakan lagi di kemudian hari). 4. Pesan berkaitan dengan orientasi ruang atau dengan lokasi dari titik-titik diruang (memperlihatkan seseorang bagaimana ia dapat pergi ke B dari A lebih mudah dengan menggunakan peta daripada hanya berbicara saja). 5. Kondisi suatu system (temperature, tekanan, besarnya arus) harus dibandingkan dengan sesuatu garis dasar atau kondisi operasi normal. 6. Tidak adanya keadaan yang mendesak dalam menyampaikan pesan. 7. Saluran-saluran audio/pendengaran yang ada telah terlalu besar bebannya. 8. Lingkungan audio tidak sesuai untuk menyampaikan komunikasi secara aiditif (misalnya pesan visual lebih sesuai untuk menyampaikan informasi di tempat-tempat yang ramai). 9. Pekerjaan operator memungkinkan dia untuk tetap berada di satu tempat (untuk menerima pesan visual, penerima harus memusatkan matanya pada unit penerima ata harus cukup dekat dengannya sehingga ia dapat melihat pesannya pada saat pesan dating). 10. Keluaran mesin atau system terdiri dari berbagai macam informasi (misalnya temperature mesin, tekanan silinder, RPM, kecepatan, penggunaan bensin) yang harus diperagakan secara simultan dipantau, dan ditanggapi dari waktu ke waktu. Chapanis membuat daftar tentang alat-alat komunikasi auditif (bunyi telepon, system penyiaran, bel, tanda-tanda peringatan, sirene, gong, dan sebagainya) yang tepat untuk digunakan, yaitu jika: 1. Pesan sederhana dan tidak majemuk. 2. Pesan yang arus disampaikan pendek. 3. Kecepatan penyampaian penting (misalnya kalau mau member tanda “awas” kepada seseorang, maka pesan auditif merupakan cara yang terbaik). 4. Pesan tidak perlu diacu kembali di kemudian hari. 5. Saluran-saluran komunikasi visual sedang terlalu besar bebannya. Sistem komunikasi oral atau auditory dapat dikelompokkan kedalam 2 kelompok besar yaitu: 1. Sistem tanda nada seperti gong, bel, lonceng, terompet, peluit, sirene, dan sebagainya. 2. Sistem komunikasi berbicara (speech communication system). Pada umumnya system tanda nada digunakan jika: 1. Pesannya sangat sederhana. 2. Penerima/pendengar terlatih dalam memahami arti tanda-tanda sandi. 3. Pesan memerlukan tindakan segera. 4. Tanda-tanda bicara terlalu membebani pendengar. Kondisi tidak sesuai untuk menerima tanda berbicara. Tanda nada dapat didengar dalam suara yang bising. G. Fungsi –fungsi kendali Sama pentingnya dengan penggunaan peraga yang tepat pada rancangan dan konstruksi mesin ialah penggunaan alat-alat operasi atau alat-alat kendali pada rancangan dan konstruksi mesin. Dalam kebanyakan sistem mesin manusia, operator menerima informasi melalui beberapa alat indranya, mengolah informasi ini dengan berbagai macam cara, untuk kemudian mengambil suatu tindakan. Tindakan ini biasanya dilakukan melalui suatu kendali, misalnya suatu tombol, kenop, engkol atau oengungkit. Hasil penelitian dan pengalaman menunjukan bahwa dengan cara apa alat-alat kendali dirancang dapat mempunyai dampak yang penting terhadap kecepatan dan kecermatan tindakan tenaga kerja dalam mengoperasikan mesin. Dengan kata lain jika alat kendali kurang tepat dapat saja tenaga kerja kurang cepat atau kurang cermat menggunakan alat kendali tersebut sehingga memberikan akibat yang merugikan. Dalam merancang alat kendali yang tepat perlu diperhatikan beberapa hal seperti: a. Mencocokkan alat kendali dengan anggota-anggota tubuh (tangan kaki) jangan sampai ada satu anggota yang bebannya terlalu besar. b. Mencocokkan alat kendali dengan gerakan. Misalnya pengungkit yang ke atas dan ke bawah hendaknya memberikan gerakan yang sama. c. Mencocokkan alat kendali dengan lingkungan kerjanya. d. Memperhatikan population stereotypes, dugaan-dugaan manusia tentang arah gerak sesuai dengan jarum jam. Dengan menggerakkan dan memutar alat kendali ke arah jarum jam, diharapkan terjadi gerakan yang sesuai. Peraga dan alat kendali yang dirancang dan dikonstruksi dengan tepat pada mesin yang merupakan bagian dari system Mesin-Manusia, maka dapatlah diharapkan bahwa tenaga kerjanya dapat menjalankan mesinnya dengan efisien dan efektif sehingga prestasi kerjanya tinggi. BAB III PENUTUP  Kesimpulan Ergonomic adalah salah satu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan pekerjaannya karena ergonomic adalah mengantisipasi pada pemahaman terhadap kecakapan sumber daya manusia dalam kaitanya dengan sistem manusia dengan mesin, termasuk rancangan peralatan kerja dan permesinan untuk meningkatkan produktivitas dan keamanan para pegawai. Dengan memperhatikan ergonomic maka akan membuat kondisi kerja yang baik.  Saran Ergonomic dalam sebuah perusahaan sangat penting dapat mempengaruhi produktivitas kerja mempermudah manusia dalam melakukan pekerjaanya jadi kami berpikir bahwa ergonomic ini harus di aplikasikan kedalam perusahaan supaya perusahaan dapat mencapai target yang di inginkan. DAFTAR PUSTAKA: Industrial Accident Prevention Association IAPA (2006). Lighting at Work. Website: www.iapa.ca. Work Safe Buletin No 188. (1997), Ergonomics In The Garment Manufacturing Industry Psikologi industri & organisasi oleh sutarto wijono edisi revisi -Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE) September 2012, Hal. 142 152 PENINGKATAN KINERJA SDM MELALUI KONDISI KERJA, KONTEN PEKERJAAN DAN PENGEMBANGAN KARIR DENGAN MEDIASI MOTIVASI KERJA - Jurnal Analisis Perbaikan kondisi lingkungan kerja dengan menggunakan Ergonomics Psikologi industri dan organisasi oleh ashar sunyoto munandar

Judul: Makalah Klmpk 5

Oleh: Jefry Markus

Ikuti kami