Contoh Tugas Isqa

Oleh Yulhan Wahyudin

951,5 KB 12 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Contoh Tugas Isqa

1. TESTABILITY Testability adalah salah satu faktor kualitas software. Makin tinggi testability, makin baik kualitas software.Testability, juga dapat dikatakan sebagai usaha yang diperlukan untuk menguji program dan memastikan bahwa program melaksanakan fungsi yang telah ditetapkan. Testing dilakukan sebelum program didistribusikan kepada user atau customer, tujuaannya untuk menemukan sebanyak-banyaknya kesalahan, error maupun defect. Testing dilakukan dengan mengacu pada test plan dan test cases. Idealnya, testing dilakukan oleh tester, bukan oleh programmer, sehingga lebih obyektif beberapa hal yang dibutuhkan oleh sorang tester dalam menjalankan tugasnya: • Dokumen testing • Dokumen requirement perangkat lunak • Proses bisnis yang ada pada software • Dokumen pengambangan perangkat lunak • dll Contoh Implementasi faktor Testing dalam suatu lingkungan system informasi, testing ini dilakukan di Perusahaan dimana saya bekerja yaitu Toyota dan Honda Astra Motor untuk wilayah Sukabumi ( PT.Selamat Lestari Mandiri ), Program ini digunakan di divisi Bengkel Toyota dengan nama ADMS ( Astra Dealer Management System ).Dari sekian banyak fasilitas – fasilitas yang diberikan, testing hanya dilakukan pada ketersediaan data sparepart didalam database ADMS. Gambar 1. Tampilan awal program ADMS Gambar2. Tampilan Menu dengan menggunakan Level Superuser Gambar3. Tampilan Pencarian Sparepart Toyota Didalam menu pencarian sparepart bisa berdasarkan nama sparepart, kelompok atau group, harga, type partnya, status partnya dan lain-lain. Gambar 4. Pencarian berdasarkan nama sparepart Gambar 5. Hasil Pencarian sparepart apabila ada di database. Sparepart yang tampak seperti di gambar 5 bisa kita lihat history pejualannya, berdasarkan tanggal yang kita inginkan. Gambar6. Hasil pencarian sparepart apabila tidak ada dalam database Gambar 7. Tampilan apabila mencari sparepart tetapi nama partnya dikosongkan Faktor Testing yang dilakukan khususnya untuk pencarian data part didalam database ADMS sudah dilakukan sebelum di implementasikan sehingga sudah sesuai dengan kebutuhan perusahaan, dari tahun 2008 sampai dengan saat ini ADMS sudah digunakan diseluruh Bengkel Resmi Toyota Astra Motor baik nasional maupun internasional. Keterkaitan dengan faktor lain, Testability akan berpengaruh terhadap reliability. Seorang Software Engineer dapat menyimpulkan bahwa suatu software sudah cukup reliable untuk direlease adalah berdasarkan hasil pengujian. Karena itu, testability adalah atribut yang sangat penting dalam pengembagan software. Reliability adalah atribut yang tidak dapat ditawar. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan proses analisis kebutuhan pengguna dengan baik. Dengan menganalisa masalah kebutuhan pengguna, lalu menyimpulkan solusi maka Software Engineer dapat lebih menjamin reliability dari suatu software. Selain dari sisi analisis kebutuhan, Pengujian (testing) S/W yang disebut berhasil adalah pengujian yang berhasil menemukan banyak kesalahan. Artinya, testing yang dirancang berhasil memperbaiki kesalahan pada S/W. Kesalahan akan banyak ditemukan apabila kita mendefinisikan kasus testing yang cukup lengkap, yaitu kasus testing yang mencakup berbagai kondisi: kondisi normal dan kondisi tidak normal. Tester harus bisa memprediksi berbagai kondisi yang mungkin menyebabkan kesalahan. pengujian sistem dengan mekanisme yang baik juga dapat meningkatkan reliability software. Pengujian sistem adalah fase untuk memastikan bahwa sistem sudah dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bagaimana menilai atau mengukur testability ? Berikut poin-poin pentingnya:  Operability; akan mudah diuji jika software bisa dioperasikan dengan baik…  Observabilty; akan membantu pengujian jika banyak yang bisa kita lihat secara visual  Controllability; akan membantu otomasi pengujian jika software lebih mudah dikendalikan.  Decomposability; akan mempercepat pengujian jika lingkup pengujian dapat diketahui dengan jelas.  Simplicity; akan mempercepat pengujian jika makin sedikit yang harus diuji…  Stability; akan memperkecil gangguan terhadap proses pengujian jika perubahan makin minimal.  Understandability; akan bisa menguji dengan lebih ‘smart’ jika kita lebih paham software yang sedang diuji. Tehnik mengukur testability yaitu dengan menghitung kertekaitannya dengan factor lain yaitu : auditability, Instrumentation, Modularity, Selft-Documentation, Simplecity Dengan metode penjumlahan dari keseluruhan kriteria dalam suatu faktor sesuai dengan bobot (weight) yang telah ditetapkan [2]. Rumus pengukuran yang digunakan adalah: Selanjutnya tahapan yang harus kita tempuh dalam pengukuran adalah sebagai berikut:  Tahap 1 : tentukan criteria yang digunakan untuk mengukur suatu factor  Tahap 2 : tentukan bobot (w) dari setiap criteria (biasanya 0 <= w <= 1)  Tahap 3 : tentukan skala dari nilai criteria (misalnya, 0 <= nilai criteria <= 10)  Tahap 4 : berikan nilai pada tiap criteria  Tahap 5 : hitunga nilai total dengan rumus F a = w1c1 + w2c2 + …+ wncn 2. FLEXIBILITY Fleksibility adalah upaya yang dibutuhkan untuk memodifikasi program- program operasional sesuai dengan kebutuhan dan tingkat fleksibilitas yang ditetapkan. Hal ini termasuk ke dalam sumber daya yang diperlukan untuk mengadaptasi paket perangkat lunak untuk berbagai pengguna yang memiliki latar belakang yang berbeda. Faktor ini juga mendukung kegiatan pemeliharaan, seperti perubahan dan penambahan pada perangkat lunak untuk meningkatkan layanan dan disesuaikan dengan perubahan teknis perusahaan atau lingkungan komersial Fleksibility terdiri dari factor :  Dialogue initiative . Memberikan kebebasan pada user akan terbatasnya dialog masukan yang disediakan oleh sistem. Sehingga user dapat memilih untuk melakukan operasi apakah dengan dialog dengan metaphora click atau dengan menggunakan command line. Berkaitan dengan prinsip System/User preemptiveness , artinya apakah user dapat memulai interaksi atau hanya menunggu awal interaksi dilakukan oleh sistem. Secara umum biasanya diinginkan bahwa pengguna lebih menentukan saat dimulainya interaksi.  Multi-threading . Kemampuan sistem untuk mendukung interaksi pengguna melakukan task lebih dari satu pada saat yang sama. Sehingga sistem tidak diam setelah user memberikan perintah. Berkaitan dengan prinsip Concurrent vs interleaving , concurent memungkinkan komunikasi simultan untuk task yang berbeda, sedangkan interleaving memungkinkan pelaksanaan task yang berbeda dan pada saat tertentu dapat dilakukan bersamaan, multimodality berkaitan dengan jumlah kanal untuk melakukan interaksi lebih dari satu.  Task migrability . Kemampuan memberikan kendali untuk mengeksekusi tuga tertentu sehingga menjadi pertukaran kendali antara user dan system dapat berlangsung dengan baik. Pengguna dengan mudah menghentikan suatu proses, meneruskan kembali proses tersebut, mengatur proses berjalan di background atau di depan, tanpa harus menunggu sistem menyelesaikan tugasnya.  Substitutively . Memungkinkan pemberian nilai masukan yang ekuivalen. Misal entah menggunakan pemilihan list file, atau memasukkan nama file. Begitu juga sebaliknya. Sehingga di sinilah berperannya penilaian atas kemampuan user interface menangani regular expression . Berkaitan dengan prinsip Representation multiplicatiy, equal opportunity  Customizability , kemudahan user interface dimodifikasi oleh pengguna atau oleh sistem. Sehingga user tidak terbatas dengan menggunakan metaphora ataupun mekanisme tunggal. Sistem harus secara eksibel dapat dengan mudah dikustomisasi. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip adaptitivy adalah proses pengubahan yang initiatif dilakukan oleh pengguna dan adaptability adalah proses pengubahan yang intiiatif dilakukan oleh sistem. Flexibilty dilakukan bisa pada saat setelah faktor testability, dimana didalamnya terjadi perubahan atau penambahan atau modifikasi terhadap perangkat lunak yang akan digunakan, tetapi bisa juga dilaksanakan ketika perangkat lunak di implementasikan artinya ada penambahan modul atau feature-feature baru setelah perangkat lunak berjalan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Contoh Implementasi faktor flexibility dalam suatu lingkungan system informasi, khususnya di Toyota dan Honda Astra Motor Sukabumi . Implementasi ini dilakukan di salah satu system integrasi yang digunaka di Honda. Gambar 1.Tampilan gambar menu login program Gambar 2. Tampilan Program Setelah memasukkan Username dan Password Gambar 3. Tampilan Dash Board atau Papan Kontrol Penjualan Motor Honda Pada saat pertama kali program Integrasi Unit Honda ini di implementasikan , fasilitas dash board ini belum ada, tetapi seiring dengan kebutuhan system sehingga terjadi modifikasi dan perubahan atau penambahan pada system perangkat lunak yang digunakan salah satunya adalah Dash Board. Dash Board ini memberikan informasi dari mulai supply kendaraan, pencairan dari leasing, pencapain penjualan terhadap target salesman, stok kendaraan dll. Sehingga mempermudah untuk mengontrol, menganalisa aktifitas kerja secara real time. dalam hal ini faktor flexibility dari kualitas program sudah terpenuhi. Beberapa hubungan (saling menguatkan) dapat kita ketahui dari faktor metric dari model McCall dan model alternative adalah :  Flexibiliy ≤ Expandability ≤ Portability ≤ Reusability Sub-sub faktor yang termasuk dalam flexibility juga termasuk dalam expandability, tetapi ada sub-sub faktor yang termasuk dalam expandability tidak termasuk dalam flexibility, dan begitu seterusnya. Dengan demikian apabila kita menilai kualitas software berdasarkan faktor reusability, maka kita secara tidak langsung telah melakukan penilaian berdasarkan faktor yang ada didalamnya seperti portability. Hal ini menjadikan kegiatan penentuan kualitas software lebih efektif jika dilakukan dengan urutan yang sesuai. Beberapa sub-faktor yang sering digunakan untuk penentuan kriteria software quality factors adalah :  Modularity Modularity adalah independensi fungsional dari komponen program. Ada 7 faktor yang menggunakan modularity sebagai sub-faktornya.  Simplicity Simplicity merupakan derajat suatu program dapat dimengerti tanpa banyak kesulitan. Ada 5 faktor yang menggunakan simplicity sebagai sub-faktornya.  Self-descriptiveness  Ada 5 faktor yang menggunakan Self-descriptiveness sebagai sub-faktornya.  Generality  Ada 4 faktor yang menggunakan Generality sebagai sub-faktornya. Faktor-faktor yang memiliki kesamaan sub-faktor pada umumnya bersifat saling menguatkan. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah maintainability dengan veriviability dan correctness, maintainability dengan flexibility, portability, reusability dan expandability. Terdapat beberapa faktor yang memiliki sub-faktor yang hanya dimiliki oleh faktor tersebut, misal efficiency, intregity, usability, safety dan manageability. Faktorfaktor ini dapat bersifat netral (tidak melemahkan maupun menguatkan) terhadap yang lain maupun melemahkan terhadap yang lain.Jelas bahwa eksibilitas untuk melakukan kustomisasi adalah berperan penting untuk menjaga disain yang baik Pengukuran mengenai faktor-faktor kualitas software dapat dilakukan dengan melakukan penilaian dan pengukuran secara objektif seperti. Pengukuran biasanya dalam bentuk checklist dengan menggunakan skala 0-10. McCall menetapkan beberapa pengukuran yang dapat digunakan, diantaranya: a. Auditability, kemudahan yaitu penyesuaian terhadap standar yang dapat diperiksa. b. Accuracy, ketepatan perhitungan dan kontrol. c. Communication commonality, tingkatan dimana interface standar, protokol dan bandwidth digunakan. d. Completeness, tingkatan dimana implementasi lengkap dari fungsi yang dibutuhkan telah tercapai. e. Conciseness, kepadatan program dalam jumlah baris kode. f. Consistency, penggunaan rancangan dan teknik dokumentasi dalam satu bentuk diseluruh proyek pengembangan software. g. Data commonality, penggunaan struktur dan tipe data standar diseluruh program. h. Error tolerance, kerusakan yang muncul ketika program menemukan kesalahan/kegagalan. i. Execution efficiency, performa run-time suatu program. j. Expandability, tingkatan dimana rancangan arsitektural, data atau prosedur dapat dikembangkan. k. Generality, lingkup aplikasi potensial dari suatu komponen program. l. Hardware independece, tingkatan dimana software dipisahkan dari hardware yang mengoperasikannya. m. Instrumentation, tingkatan dimana pengawasan program memiliki operasi tersendiri dan mengidentifikasikesalahan yang terjadi. n. Modularity, kemandirian fungsional dari suatu komponen program. o. Operability, kemudahan pengoperasian program. p. Security, ketersediaan mekanisme yang mengontrol atau menproteksi program dan data. q. Self-documentation, tingkatan dimana kode sumber menyediakan dokumentasi yang berarti. r. Simplicity, tingkatan dimana program dapat dimengerti tanpa kesulitan. s. Software system independence, tingkatan dimana program mandiri terhadap feature bahasa pemrograman nonstandar, karakteristik sistem operasi, dan batasanbatasan lingkungan lainnya. t. Traceability, kemampuan penelusuran ulang representasi rancangan atau komponen program yang sesungguhnya dengan kebutuhan awal (requirements). u. Training, tingkatan dimana software membantu dalam user yang baru dalam penerapan sistem. Sumber : Tanggal 7 Juli 2012 Jam :14:36 http://darwana70.file.wordpress.com Tanggal 7 Juli 2012 Jam :14:36 http://ednan47.blogstudent.mb.ipb.ac.id/files/2012/03/SIM-UAT-EDNAN.pdf Tanggal 7 Juli 2012 Jam :14:36 http://bagibagi.v3yanti.web.id/artikel/detail/5/software-testability Tanggal 14 Jam 15:11 http://dir.unikom.ac.id/s1-final-project/fakultas-teknik-dan-ilmu-komputer/manajemeninformatika/2011/jbptunikompp-gdl-arininurul-24519/2-babii-n-w.pdf/pdf/2-babii-n-w.pdf Tanggal 10 juli 2012 10:38 http://www.slideshare.net/seyfert130/review-ta-software-quality-factors/download Tanggal 14 Juli 2012 14:38 syaha88.files.wordpress.com/2010/04/ Tanggal 14 Juli 2012 14:40 Souheil Khaddaj,G Horgan. The Evaluation of Software Quality Factors in Very Large Information Systems. 2004. London : Kingston University Pr. Available:http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download? doi=10.1.1.64.1026&rep=rep1&type=pdf Tanggal 21 Juli 2012 : 15:00 Roger S. Pressman, “Software Engineering : A Practitioner’s Approach”(European Adaption), Ch.19, Fifth Edition, 2000

Judul: Contoh Tugas Isqa

Oleh: Yulhan Wahyudin


Ikuti kami