Revisi Sejarah

Oleh Mellindah Eka

85,5 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Revisi Sejarah

BAB II PEMBAHASAN A. BIOGRAFI NABI MUHAMMAD Nabi Muhammad SAW adalah anggota Bani Hasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku Quraisy. Kabilah ini memegang jabatan siqayah. Nabi Muhammad lahir dari keluarga terhormat yang relatif miskin. Ayahnya bernama Abdullah anak Abdul Muthalib, seorang kepala suku Quraisy yang besar pengaruhnya. Ibunya adalah Aminah binti Wahab dari Bani Zuhrah. Tahun kelahiran Nabi Muhammad dikenal dengan tahun gajah (570 M). Dinamakan demikian karena pada tahun itu pasukan Abrahah, gubernur kerajaan Habsyi (Ethiopia), dengan menunggang gajah menyerbu Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Nabi Muhammad lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya Abdullah, meninggal dunia tiga bulan setelah menikahi Aminah. Nabi Muhammad kemudian diserahkan kepada ibu pengasuhnya, Halimah Sa’diyah. Dalam asuhannya Muhammad dibesarkan sampai usia empat tahun. Setelah itu kurang lebih dua tahun dia berada dalam asuhan ibu kandungnya. Ketika berusia enam tahun, dia menjadi yatim piatu. Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab Nabi Muhammad. Namun, dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal dunia karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Thalib. Dalam usia muda, Nabi Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarga dan kambing penduduk Makkah. Nabi Muhammad ikut untuk pertama kali dalam kafilah dagang ke Syria (Syam) dalam usia baru 12 tahun. Kafilah itu dipimpin oleh Abu Thalib. Pada usia yang kedua puluh lima tahun, nabi Muhammad berangkat ke Syria membawa barang dagangan saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Dalam perdagangan ini, Muhammad memperoleh laba yang esar. Khadijah kemudian melamarnya. Lamaran itu diterima dan perkawinan dilaksanakan. Dari perkawinan tersebut Nabi Muhammad dan Khadijah dikaruniai enam orang anak: Qaim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kulsum, dan Fatimah. Nabi Muhammad tidak kawin lagi sampai Khadijah meninggal ketika usia 50 tahun. Pada tanggal 17 Ramdhan tahun 611 M, Malaikat Jibril turun dihadapannya, menyampaikan wahyu Allah yang pertama. Dengan turunnya wahyu pertama tersebut, berarti Muhammad dipilih Allah sebagai nabi. Kemudian dalam saat menunggu Nabi Muhammad mendapat wahyu kedua untuk menyerukan ajaran Islam. Hal ini dilakukan dengan dakwah secara sembunyi-sembunyi kemudian secara terang-terangan. Pada hari senin, tanggal 12 Rabi’ul Awal 11H/8 Juni632 M, Nabi Muhammad Saw wafat dirumah istrinya, Aisyah.1 B. PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM ERA RASULULLAH SAW Pada masa Rasulullah saw adalah masa peletakan dasar hukum dan perundingan (tasyri). Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad saw dan sabda beliau (hadist) sebagai penguat dan penjelas pernyataan Al-Qur’an dimaksudkan untuk proses tasyri itu. Pernyataan dua sumber utama umat itu tentang tentang aturan kehidupan, termasuk konsep pemikiran ekonomi Islam memiliki kecenderungan sebagai berikut: 1. Mewujudkan kebahagiaan manusia. Bila masyarakat jahiliyah pra Islam mendefinisikan kebahagiaan sebagai rasa materiil murni, aspek spiritual dan kesejahteraan yang komprehensif. Pemikiran ekonomi Rasulullah mencoba mengkolaborasikan aspek spiritual dan material. Seperti yang dinyatakan dalam sebuah hadits. 2. Tujuan kesejahteraan yang ingin diciptakan oleh pemikiran ekonomi Islam adalah yang selaras dan maqashid syariah (tujuan-tujuan syariah). Artinya, kesejahteraan itu terletak pada perlindungan terhadap perlindungan terhadap agama (addin), keselamatan nyawa manusia (nasi), harta benda (maal). Parameter bagi kemajuan ekonomi bukan pada tingkat pertumbuhan material, melainkan pada sejauh mana lima aspek maqashid syariah itu telah diciptakan oleh ekonomi. Maka dijumpai pada periode tasyri’ tersebut turun ayat-ayat atau hadist-hadist Rasul yang menyatakan keharaman praktik-praktik social yang tidak mendukung pencapaian tujuan-tujuan syariat. Praktik-praktik semisal judi, iktikar, riba, transaksi-transaksi yang berpotensi penipuan (gharar) dan membahayakan (dlarar) diharamkan oleh syariat. 3. Pemikiran ekonomi yang dibangun oleh Rasulullah berlandaskan syariah yang sacral doktriner, berupa kaidah dan prinsip umum yang global, memiliki dua sisi profail, di 1 Dr. Yatim Badri, M.A, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2010, hlm. 16-33. mana manusia bebas berkreasi menciptakan mekanisme yang tepat guna merealisasikan maqhasid tersebu. Atau lebih tepatnya bahwa ilmu ekonomi Islam menegaskan, karakternya dalam rumusan kaidah fiqh yang berbunyi: a) Pada dasarnya sesuatu praktek muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya atau dalil yang meniadakan kebolehannya. b) Setiap muslim terikatdengan syarat yang disepakatinya kecuali syarat yang menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Dan kaidah yang dijadikan landasan dalam aktifitas muamalah ekonomi digali dari kecenderungan dan sifat muamalah yang terbuka, serta praktik Rasulullah saw dalam proses (peletakan hukum-hukum ekonomi (tasyri,Tasyri Iqtishady) dibangun oleh Rasulullah saw melalui: a) Rekonstruksi, membangun konsep dan praktik ekonomi baru yang sebelumnya belum ada, melalui dalil-dalil Al-Qur’an atau praktek ekonomi yang dilakukan oleh nabi Muhammad saw terakhir ini. Seperti syariat zakat, fai’(upeti yang diperoleh dari pihak lawan tanpa peperangan) dan harta rampasan perang(ghanimah), pajak hasil bumi (kharaf), sebagai pos pendapatan kenegaraan. b) Dekontruksi, menghapus praktek-praktek ekonomi yang telah berlaku ditengah masyarakat dikarenakan ketidaksesuaiannya dengan prinsip dan tujuan syariah, bahkan berpotensi menganggu pelestarian maqashid syariah tujuan syariat. Seperti judi, riba, ihtikar, ijon, penipuan dan sebagainya. c) Akomodasi dan modifikasi, dan ini yang terbanyak. Praktik-praktik ekonomi yang legal dalam pandangan syariat, mayoritas dibangun melalui metode ini, dimana praktik-praktik ekonomi tersebut telah membudaya sebelum Islam datang. Selanjutnya Islam mengakui keberadaanya dengan melakukan sedikit perubahan. Praktik jual beli saham, mudharabah, syirkah, rahn, adalah kegiatan ekonomi yan telah ada sebelum Islam. Hanya kemudian dilakukan perubahan pada beberapa prakteknya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.2 C. SUMBER PENDAPATAN PADA MASA RASULULLAH SAW. 2 1. Sumber Pendapatan Primer Pendapatan utama bagi negara di masa Rasulullah saw adalah zakat dan ushr. Keduanya berbeda dengan pajak dan tidak diberlakukan seperti pajak. Zakat dan Ushr merupakan kewajiban agama dan termasuk salah satu pilar Islam. Pengeluaran untuk zakat tidak dapat dibelanjakan untuk pengeluaran umum negara. Lebih jauh lagi zakat secara fundamental adalah pajak lokal. Dengan demikian pemerintah pusat berhak menerima keuntungan hanya bila terjadi surplus yang tidak dapat didistribusikan lagi kepada orang-orang yang berhak, dan ditambah kekayaan yang dikumpulkan d Madinah, ibukota negara. Pada masa Rasulullah, zakat dikenakan pada hal-hal berikut ini: a. Benda logam yang terbuat dari emas seperti koin, perkakas, ornamen, atau dalam bentuk lainnya. b. Benda logam yang terbuat dari perak, seperti koin, perkakas, ornamen, atau dalam bentuk lainnya. c. Binatang ternak, seperti unta, sapi, domba dan kambing. d. Berbagai jenis barang dagangan termasuk budak dan hewan. e. Hasil pertanian termasuk buah-buahan. f. Luqta, harta benda yang ditinggalkan musuh. g. Barang temuan . Zakat emas dan perak ditentukan berdasarkan beratnay Binatang ternak yang digembalakan bebas ditentukan berdasarkan jumlahnya. Barang dagangan bahan tambang dan luqta ditentukan berdasarkan nilai jualnya dan hasil pertanian dan buahbuahan ditentukan berdasarkan kuantitasnya. Zakat atas hasil pertanian dan buahbuahan inilah yang disebut ushr. 2. Sumber Pendapatan Sekunder Diantara sumber-sumber pendapatan sekunder yang memberikan hasil adalah: 1. Uang tebusan untuk para tawanan perang, hanya dalam kasus perang badar pada perang lain tidak disebutkan jumlah uang tebusan tawanan perang. 2. Pinjaman-pinjaman setelah menaklukan kota Mekkah untuk pembayaran uang pembebasan kaum muslimin dari Judhayma. 3. Khums atau Rikaz harta karun temuan pada periode sebelum Islam. 4. Amwal Fadhia, berasal dari harta benda kaum muslimin yang meninggal tanpa ahli waris atau barang-barang kaum muslim yang meninggalkan negaranya. 5. Wakaf, harta benda yang diindikasikan kepada umat Islam yang disebabkan Allah dan pendapatannya akan didepotasikan di Baitul Mal. 6. Nawaib, pajak yang jumlahnya cukup besar yang dibebanan pada kaum muslimin yang kaya dalam rangka menutupi pengeluaran negara selama masa darurat dan ini pernah terjadi pada masa perang Tabuk. 7. Zakat Fitrah, zakat yang ditarik di masa bulan Ramadhan dan dibagi sebelum shalat id. 8. Bentuk shadaqah seperti qurban dan kaffarat. Kaffarat adalah denda atas kesalahan yang dilakukan seorang muslim pada acara keagamaan, seperti berburu pada musim haji. Dana yang terkumpul digunakan untuk berbagai kegiatan seperti penyebaran Islam, pendidikan dan kebudayaan, pengembangan infrastruktur, pembangunan armada perang dan keamanan dan pengembangan layanan kesejahteraan masyarakat. Pada zaman nabi baitul mal belum merupakan suatu tempat yang khusus, hal ini disebabkan harta yang masuk pada waktu itu belum begitu banyak dan selalu habis dibagikan kepada kaum muslim, serta dibelanjakan untuk pemeliharaan urusan Negara. Catatan hasil penerimaan Negara secara keseluruhan pada masa nabi Muhammad Saw, tersebut tidak bias dilacak. Begitu juga dengan catatan pengeluaran secara rinci sulit ditemukan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal berikut ini: 1. Minimnya jumlah orang Islam yang bisa membaca, menulis dan mengenal aritmatika sederhana. 2. Sebagian besar bukti pembayaran dibuat dalam bentuk yang sederhana. 3. Sebagian besar zakat hanya didistribusikan secara local. 4. Bukti penerimaan dari berbagai daerah yang berbeda tidak umum digunakan. 5. Pada banyak kasus, ghonimah digunakan dan didistribusikan setelah peperangan tertentu. Dengan demikian, pada masa Rasulullah SAW baitul mal belum melembaga karena harta yang ada di Baitul Mal selalu habis seketika pada hari diperolehnya harta tersebut karena dibagikan ataupun dibelanjakan untuk kepentingan masyarakat muslim.3 3 Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam, Yogyakarta: CV Adipura, hlm. 122-125.

Judul: Revisi Sejarah

Oleh: Mellindah Eka

Ikuti kami