Sejarah Forensik

Oleh Cici Pernici

105,5 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Sejarah Forensik

Take Home Perkembangan Ilmu forensik dan Akuntansi Forensik Reviewer by : Agung Widiyarti 15919051 Magister Akuntansi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta 2017 Ilmu Forensik Ilmu forensik adalah penerapan ilmu pengetahuan untuk hukum pidana dan perdata, terutama - di pihak kriminal - selama penyelidikan kriminal, sebagaimana diatur oleh standar hukum dari bukti yang dapat diterima dan prosedur pidana. Ilmuwan forensik mengumpulkan, melestarikan, dan menganalisis bukti ilmiah selama penyelidikan. Sementara beberapa ilmuwan forensik melakukan perjalanan ke tempat kejadian untuk mengumpulkan bukti itu sendiri, yang lain menempati peran laboratorium, melakukan analisis terhadap objek yang dibawa oleh orang lain.¹ Selain peran laboratorium mereka, ilmuwan forensik bersaksi sebagai saksi ahli dalam kasus pidana dan perdata dan dapat bekerja baik untuk jaksa penuntut atau pembela. Sementara bidang apapun secara teknis dapat bersifat forensik, beberapa bagian telah berkembang dari waktu ke waktu untuk mencakup sebagian besar kasus terkait forensik. Kata forensik berasal dari istilah Latin forensis, yang berarti "dari atau sebelum forum ". Sejarah istilah ini berasal dari zaman Romawi, di mana tuntutan pidana berarti mempresentasikan kasus tersebut di hadapan sekelompok orang publik di forum tersebut. Baik orang yang dituduh melakukan kejahatan dan pendakwa akan memberikan pidato berdasarkan sisi cerita mereka. Kasus ini akan diputuskan untuk mendukung individu dengan argumen dan pengiriman terbaik. Asal ini merupakan sumber dari dua penggunaan kata forensik modern - sebagai bentuk bukti hukum dan sebagai kategori presentasi publik. Dalam dunia modern, istilah forensik di tempat ilmu forensik dapat dianggap benar, karena istilah forensik secara efektif merupakan sinonim untuk hukum atau terkait dengan pengadilan. Namun, istilah ini sekarang sangat erat kaitannya dengan bidang sains sehingga banyak kamus termasuk makna yang menyamakan kata forensik dengan ilmu forensik. Forensik berasal dari bahasa Yunani ” Forensis ” yang berarti debat atau perdebatan. Forensik adalah bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses penegakan keadilan melalui proses penerapan ilmu sains. Forensik biasanya selalu dikaitkan dengan tindak pidana (tindakan yang melawan hukum). Dalam buku-buku ilmiah forensik pada umumnya ilmu forensik diartikan sebagai penerapan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan. Dalam Penyidikan suatu kasus kejahatan, observasi terhadap bukti fisik dan interprestasi dari hasil analisis (pengujian) barang bukti merupakan alat utama dalam penyidikan tersebut. Ilmu forensik dikategorikan kedalam buku ilmu pengetahuan alam dan dibangun berdasarkan metode ilmu alam. Dalam pandangan ilmu alam sesuatu dianggap ilmiah jia didasarkan pada fakta atau pengalaman (empirisme), kebenaran ilmiah harus dapat dibuktikan oleh setiap orang melalui indranya (positivisme), analisis dan hasilnya mampu dituangkan secara masuk akal, baik deduktif maupun induktif dalam struktur bahasa tertentu yang mempunyai makna (logika) dan hasilnya dapat dikomunikasikan ke masyarakat luas dengan tidak mudah atau tanpa tergoyahkan (kritik ilmu) (Purwadianto 2000). Dewasa ini dalam penyidikan suatu tindak kriminal merupakan suatu keharusan menerapkan pembuktian dan pemeriksaan bukti fisik secara ilmiah. Sehingga diharapkan tujuan dari hukum acara pidana yang menjadi landasan proses peradilan pidana dapat tercapai yaitu mencari kebenaran materiil. Tujuan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kehakiman No. M.01.07.03 tahun 1983 yaitu : untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapanya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum secara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan. Adanya pembuktian ilmiah diharapkan polisi, jaksa dan hakim tidaklah mengandalkan pengakuan dari tersangka atau saksi hidup dalam penyidikan dan menyelesaikan suatu perkara. Karena saksi hidup dapat berbohong atau disuruh berbohong, maka dengan hanya berdasarkan keterangan saksi yang dimaksud, tidak dapat dijamin tercapainya tujuan penegakan kebenaran dalam proses perkara pidana dimaksud. Dalam pembuktian dan pemeriksaan secara ilmiah, kita mengenal ilmu forensik dan kriminologi. Secara umum ilmu forensik dapat diartikan sebagai aplikasi atau pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan. Sejarah Akuntansi Forensik Di Indonesia kebutuhan akan akuntansi forensik muncul pasca Krisis Moneter 1997 yang menghancurkan perekonomian dan rezim orde baru yang berkuasa berimbas ke berbagai aspek dari ekonomi, politik, hukum dan tata negara, reformasi yang dilakukan pemerintah setelah orde baru memberikan harapan akan adanya perubahan dari sisi demokrasi kepempimpinan melalui pemilihan umum langsung dan pemilihan kepala daerah, distribusi prekonomian dengan lebih merata dengan diberlakukannya otonomi daerah maupun transparansi dan akuntabilitas pemerintah yaitu dengan diberlakukannya Undang – Undang No 28 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan yang bebas KKN, Undang – Undang No 31 Tahun 1999 Tentang Tindak Pidana Korupsi, dan Undang-Undang No 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara. Namun harapan tersebut seakan jauh panggang dari api, kasus korupsi di Indonesia seakan semakin berkembang dengan metode baru yang lebih canggih. Pemberantasan korupsi dilakukan selama ini kurang memberikan efek jera yang diharapkan timbul dari terpidananya pelaku koruptor. Kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme seakan menjadi penyakit baru dari tingkat Pemerintah Pusat sampai ke DPR yang menyebar luas ke tingkat daerah dari pemimpin, penyelenggara pemerintahaan sampai DPRD yang seakanakan berjamaah melakukan tindak pidana korupsi. Namun apabila dilihat dari data-data yang ada, sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Usaha pemberantasan korupsi di Indonesia sedikit demi sedikit telah memperbaiki citra Indonesia. Indeks persepsi korupsi (CPI) yang dikeluarkan oleh Transparency International menunjukkan bahwa telah terjadi perbaikan signifikan selama kurun waktu 1998 – 2007 dimana skor CPI Indonesia meningkat dari 2,0 menjadi 2,3 . Ini berarti Indonesia telah menempuh setengah jalan untuk menjadi negara yang kondusif untuk pemberantasan korupsi (skor CPI 5,0). Persepsi publik terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia juga telah menunjukkan tren perbaikan, sedikit banyak hal tersebut karena gebrakan Komisi Pemberantasan Korupsi yang gencar memburu koruptor. Definisi korupsi dalam penelitian diatas berarti penyalahgunaan jabatan oleh pegawai negeri dan kaum politisi untuk kepentingan pribadi, seperti penyuapan dalam proses pengadaan barang dan jasa di pemerintahan dengan tidak membedakan korupsi yang bersifat administratif, politis atau antara korupsi besar dan kecil-kecilan. Pengertian Akuntansi Forensik Forensik, menurut Merriam Webster’s Collegiate Dictionary (edisi ke 10) dapat diartikan ”berkenaan dengan pengadialan” atau ”berkenaan dengan penerapan pengetahuan ilmiah pada masalah hukum”. Oleh karena itu akuntasi forensik dapat diartikan penggunaaan ilmu akuntansi untuk kepentingan hukum. Menurut D. Larry Crumbley, editor-in-chief dari Journal of Forensic Accounting (JFA), mengatakan secara sederhana, akuntansi forensik adalah akuntansi yang akurat (cocok) untuk tujuan hukum. Artinya, akuntansi yang dapat bertahan dalam kancah perseteruan selama proses pengadilan, atau dalam proses peninjauan judicial atau administratif”. Bologna dan Liquist (1995) mendefinisikan akuntansi forensik sebagai aplikasi kecakapan finansial dan sebuah mentalitas penyelidikan terhadap isu-isu yang tak terpecahkan, yang dijalankan di dalam konteks rules of evidence. Sedangkan Hopwood, Leiner, & Young (2008) mendefinisikan Akuntansi Forensik adalah aplikasi keterampilan investigasi dan analitik yang bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah keuangan melalui cara-cara yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pengadilan atau hukum. Dengan demikian investigasi dan analisis yang dilakukan harus sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pengadilan atau hukum yang memiliki yurisdiksi yang kuat. Hopwood, Leiner, & Young (2008), menyatakan bahwa Akuntan Forensik adalah Akuntan yang menjalankan kegiatan evaluasi dan penyelidikan, dari hasil tersebut dapat digunakan di dalam pengadilan hukum. Meskipun demikian Akuntan forensik juga mempraktekkan keahlian khusus dalam bidang akuntansi, auditing, keuangan, metode-metode kuantitatif, bidang-bidang tertentu dalam hukum, penelitian, dan keterampilan investigatif dalam mengumpulkan bukti, menganalisis, dan mengevaluasi materi bukti dan menginterpretasi serta mengkomunikasikan hasil dari temuan tersebut. Tugas Akuntansi Forensik Akuntan forensik bertugas memberikan pendapat hukum dalam pengadilan (litigation). Disamping tugas akuntan forensik untuk memberikan pendapat hukum dalam pengadilan (litigation) ada juga peran akuntan forensik dalam bidang hukum diluar pengadilan (non itigation) misalnya dalam membantu merumuskan alternatif penyelesaian perkara dalam sengketa, perumusan perhitungan ganti rugi dan upaya menghitung dampak pemutusan / pelanggaran kontrak. Akuntansi forensik dibagi ke dalam dua bagian : jasa penyelidikan (investigative services) dan jasa litigasi (litigation services). Jenis layanan pertama mengarahkan pemeriksa penipuan atau auditor penipuan, yang mana mereka menguasai pengetahuan tentang akuntansi mendeteksi, mencegah, dan mengendalikan penipuan, dan misinterpretasi. Jenis layanan kedua merepresentasikan kesaksian dari seorang pemeriksa penipuan dan jasa-jasa akuntansi forensik yang ditawarkan untuk memecahkan isu-isu valuasi, seperti yang dialami dalam kasus perceraian. Sehingga, tim audit harus menjalani pelatihan dan diberitahu tentang pentingnya prosedur akuntansi forensik di dalam praktek audit dan kebutuhan akan adanya spesialis forensik untuk membantu memecahkan masalah. Agar dapat membongkar terjadinya fraud (kecurangan) maka seorang akuntan forensik harus mempunyai pengetahuan dasar akuntansi dan audit yang kuat, pengenalan perilaku manusia dan organisasi (human dan organization behaviour), pengetahuan tentang aspek yang mendorong terjadinya kecurangan (incentive, pressure, attitudes, rationalization, opportunities) pengetahuan tentang hukum dan peraturan (standar bukti keuangan dan bukti hukum), pengetahuan tentang kriminologi dan viktimologi (profiling) pemahaman terhadap pengendalian internal, dan kemampuan berpikir seperti pencuri (think as a theft). Referensi : https://roseakatsuki.wordpress.com/2013/12/26/pengantar-ilmu-forensik/ https://milamashuri.wordpress.com/akuntansi-forensik-di-indonesia/ https://aniekrachma.wordpress.com/2015/04/11/sejarah-akuntansi-forensik/

Judul: Sejarah Forensik

Oleh: Cici Pernici


Ikuti kami