Sejarah Kapitalisme

Oleh Dhavier Fiveers

202,5 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Sejarah Kapitalisme

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan Ideologi Modern yang mulai bermunculan oleh para ahli pikir semakin berpengaruh bagi kehidupan manusia. Gerakan besar individualisme mengilhami empat bidang dalam kehidupan manusia. Pada bidang agama, gerakan ini melahirkan Reformasi. Di bidang penalaran, gerakan ini melahirkan Ilmu Pengetahuan Alam. Di bidang hubungan masyarakat, gerakan ini melahirkan Ilmu – Ilmu Sosial. Kemudian dalam fokus bahasan penulis ialah gerakan individual di bidang ekonomi yang kemudian disebut “ Kapitalisme “. ( Leo, 2013: 69 ) Sejak abad ke-16 sistem baru yang dijuluki “ Kapitalisme “ itu mulai berkembang. Sedangkan barulah pada abad ke – 18, Kapitalisme mulai berkembang pesat serta menjalar ke Eropa dan Amerika. Pemahaman mengenai Kapitalisme banyak dikemukan oleh para ahli pikir atau tokoh –tokoh besar, dalam hemat penulis Kapitalisme adalah sebuah sistem yang didisain untuk mendorong ekspansi komersial melewati batas-batas lokal menuju skala nasional dan internasional. Pengusaha kapitalis mempelajari polapola perdagangan internasional, di mana pasar berada dan bagamana memanipulasi pasar untuk keuntungan mereka. Dalam perkembangannya “Kapitalisme” menaruh pengaruh besar terhadap kehidupan manusia tidak hanya di dunia Barat, melainkan juga dunia Timur termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, penulis akan mengupas pemikiran – pemikiran mengenai “ Kapitalisme “ terkait Apa itu Kapitalisme, Bagaimana Sejarah munculnya Kapitalisme, Seperti apa perkembangan Kapitalisme, Bagaimana Pengaruh Kapitalisme bagi kehidupan manusia, serta Bentuk Kapitalisme di Indonesia. 1 1.2 Rumusan Masalah Dalam perumusan masalah ini akan merumuskan tentang : 1. Bagaimana Konsep Dasar mengenai Kapitalisme ? 2. Bagaimana Fase Perkembangan Kapitalisme ? 3. Bagaimana pengaruh Kapitalisme bagi kehidupan Manusia ? 4. Bagaimana bentuk Kapitalisme di Indonesia ? 1.3 Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk memahami Konsep Dasar mengenai Kapitalisme. 2. Untuk menganalisis Fase Perkembangan Kapitalisme. 3. Untuk menganalisis pengaruh Kapitalisme bagi kehidupan Manusia. 4. Untuk menganalisis bentuk Kapitalisme di Indonesia. 2 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Dasar Kapitalisme Kapitalisme menurut sejarahnya berkembang sebagai satu bagian dari gerakan besar individualisme rasionalis. Dilapangan keagamaan, gerakan itu menghasilkan Reformasi, dibidang pengajaran, pertumbuhan Ilmu-ilmu pengetahuan alam, dalam hubungan manusia, ilmu – ilmu pengetahuan sosial, di bidang pemerintahan yang demokratis. Serta di bidang ekonomi , yaitu sistem Kapitalis ( Ebenstein, 1961: 133). Dalam buku Sejarah Intelektual karangan Leo Agung, Kapitalisme digambarkan dengan : Gerakan Individual Agama Penalaran Hub. Masyarakat Ekonomi IPA Ilmu Sosial Kapitalisme Reformasi Sedangkan Hayek (1978) memandang kapitalisme sebagai perwujudan liberalisme dalam ekonomi. Heilbroner (1991) secara dinamis menyebut kapitalisme sebagai formasi sosial yang memiliki hakekat tertentu dan logika yang historis-unik. Logika formasi sosial yang dimaksud mengacu pada gerakangerakan dan perubahan-perubahan dalam proses-proses kehidupan dan konfigurasi-konfigurasi kelembagaan dari suatu masyarakat. Istilah “formasi sosial” yang diperkenalkan oleh Karl Marx ini juga dipakai oleh Jurgen Habermas. (http://pmiiunisdalamongan.blogspot.co.id/2014/02/sejarah-pemikiranideologi-kapitalisme.html). 3 Kapitalisme banyak diartikan oleh para ahli pikir di dunia, beberapa pendapat mengenai pengertian Kapitalisme diantaranya sebagai berikut: a. Max Weber ( dalam Berger, 1990 ) mengatakan bahwa kapitalisme adalah suatu kegiatan ekonomi yang ditujukan pada suatu pasar dan dipacu untuk menghasilkan laba dengan adanya pertukaran di pasar. b. Elbenstein, W ( 1987 ) mengatakan Kapitalisme adalah sistem sosial yang menyeluruh lebih dari sekedar tipe tertentu dalam perekonomian. c. J.M. Romein ( 1985 ) mengatakan kapitalisme adalah suatu cara mengadakan produksi dengan dasar mengadang laba. d. Ir. Sukarno ( 1985 ) menyatakan Kapitalisme adalah suatu sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Beberapa pendapat diatas kemudian disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Kapitalisme adalah cara mengadakan produksi dengan dasar mengadang laba. 2.1.1 Ciri – Ciri Kapitalisme a. Pemilikan Perorangan ( Individual Ownership ) Dalam sistem kapitalis, pemilikan alat – alat produksi ( tanah, pabrik, mesin, dsb ). Dikuasai secara perorangan, bukan oleh negara. Namun, prinsip ini tetap mengakui adanya pemilikan negara yang berwujud monopoli yang bersifat alamiah atau yang menyangkut pelayanan jasa kepada masyarakat umum (kantor pos, misalnya). b. Perekonomian Pasar ( Market Economy ) Masyarakat kapitalis mengadakan produksi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan tidak berdasarkan pesanan, tetapi untuk pasar yang belum diketahui. 4 c. Persaingan ( Competition ) Dalam perekonomian kapitalis, faktor utama ialah persaingan. Pengusaha yang dapat membuat barang sebanyak – banyaknya akan dapat menjual dengan harga yang murah dan akan menguasai pasar. d. Keuntungan ( Profit ) Perekonomian Kapitalis memberikan lebih banyak kesempatan untuk meraih keuntungan sebab perekonomian kapitalis dijamin dengan adanya 3 ( tiga ) kebebasan, yakni: Kebebasan berdagang dan menentukan pekerjaan, Kebebasan hak kepemilikan, kebebasan mengadakan kontrak. ( Leo Agung, 2013: 72) Kecenderungan peradaban kapitalis untuk lebih menyukai pemilikan perseorangan atas alat – alat produksi didasarkan atas dua dasar : 1. Pertama : pemilihan atas harta produktif berarti kekuasaan atas kehidupan orang lain lebih disukai bahwa kekuasaan semacam itu dipecah diantara banyak pemilik harta daripada dipegang oleh satu pemilik negara. 2. Anggapan cara berfikir kapitalis ialah bahwa kemajuan di bidang teknologi akan lebih mudah dicapai apabila setiap orang mengurus urusannya sendiri, dan mempunyai dorongan pribadi untuk berbuat demikian. ( Ebenstein, 1961: 134 ) 5 2.2 Sejarah Perkembangan Kapitalisme Bagi Marx, sejarah kapitalisme pada tingkat awal merupakan suatu sejarah meningkatnya keterasingan yang semakin parah bagi produsen kecil dari penguasaan produknya, dengan kata lain, sejarah pengambil alihan alat-alat produksi milik si petani kecil dan akibat berikutnya, yaitu ketergantungan si petani kecil kepada penjualan hasil kerjanya di pasar. ( Giddens, Anthony,1986:37 ) Hancurnya feodalisme dan perkembangan awal dari kapitalisme, terikat dengan tumbuhnya kota-kota. Marx menekankan pentingnya munculnya gerakangerakan kota di dalam abad kedua belas, yang mempunyai “sifat revolusioner”,dan sebagai hasil gerakan-gerakan ini, masyarakat perkotaan akhirnya memperoleh suatu otonomi administratif yang tinggi tingkatnya. Sebagaimana halnya dengan zaman kuno, perkembangan di pusat-pusat perkotaan berjalan bersama-sama dengan pembentukan modal dagang dan modal para lintah darat, dan suatu sistem moneter, yang digunakan oleh mereka bagi perdagangan dan peribaan; sistem ini berperilaku sebagai suatu kekuatan yang meruntuhkan sistem yang berlandasan pertanian. Di samping mungkin ada beberaapa kota yang tetap ada sejak periode kekaisaran Romawi, teapi perkembangan pusat-pusat perkotaan menjadi pusat perdagangan dan kerajinan yang kaya raya, baru mulai di dalam abad kedua belas dan dihuni oleh budak-budak yang telah merdeka. 6 Perkembangan niaga merangsang pemakaian uang yang senantiasa makin meluas dan mengakibatkan pertukaran komoditi di dalam ekonomi feodal pedesaan yang dulunya swasembada. Hal ini memudahkan pertumbuhan praktek lintah darat di kota-kota, merangsang kemunduran kekayaan para tuan tanah bangsawan, dan memungkinkan para petani kecil makmur hidupnya untuk memenuhi kewajiban-kewajiban mereka pada tuannya dalam bentuk uang, atau sama sekali membebaskan diri dari penguasaan tuannya itu. Pada akhir abad ke empat belas, perbudakan di Inggris benar-benar sudah hilang. Apapun gelarnya dimasa feodal. Massa banyak dari penduduk yang bekerja di negeri Inggris pada waktu itu telah menjadi petani pemilik yang merdeka. Nasib perbudakan di berbagai bagian Eropa tentu berbeda-beda dan di beberapa wilayah perbudakan mengalami masa-masa ‘bangkit kembali’. Walaupun pada awal abad keempat belas telah terdapat ‘permulaan produksi kapitalis di Italia, dan di inggris pada abad kelima belas, namun jangkauan produksi kapitalis itu masih sangat terbatas. Di samping itu, tiada kemungkinan bagi perkembangan kapitalisme, selama mayoritas penduduk yang bekerja itu terdiri dari kaum tani merdeka. Proses akumulasi (penimbunan) yang pertama yaitu pembentukan awal dari cara produksi kapitali, sebagaimana seringkali ditekankan oleh Marx, melibatkan pengambil-alihan alat-alat produksi dari tangan petani, suatu perangkat kejadian yang ditulis dalam sejarah manusia dengan aksara darah dan api. Proses ini terjadi pada periode yang berbeda-beda, dengan berbagai cara di berbagai negeri dan Marx memusatkan perhatiannya tentang hal ini pada Inggris, dimana proses itu tampak dalam ‘bentuk klasik’. Di Inggris, transformasi petani merdeka menjadi buruh penerima upah mulai dengan sungguh-sungguh pada akhir abad kelima belas. Di saat itulah peperangan antar golongan feodal mengakibatkan menurunnya sumber-sumber kekayaan si bangsawan. Kaum bangsawan yang mempunyai tanah semakin tertarik pada suatu ekonomi pertukaran. 7 Selanjutnya pada awal periode abad keenam belas, di Inggris timbul permulaan adanya proletariat, suatu lapisan petani yang kehilangan tanah garapannya, yang merupakan suatu kelompok yang mengambang. Marx menyatakan dengan sinis, bahwa para ahli ekonomi politik menafsirkan gejala ini dalam sorotan yang semata-mata positif, yang mengatakan tentang terbebasnya orang dari ikatan dan pembatasan feodal, dan sama sekali mengabaikan fakta, bahwa kebebasan ini membawa serta ‘pelanggaran yang paling kudus’ dan tindakan kekerasan yang paling buruk terhadap manusia. Ditunjukan oleh Marx, bahwa di dalam kejadian-kejadian itu sendiri, peristiwa-peristiwa ini tidak dapat dianggap sebagai syarat-syarat yang cukup bagi munculnya kapitalisme. Pada peralihan abad keenam belas, sisa-sisa feodalisme yang sedang hancur lebur itu bersikap memilih antara kehancuran terus dan suatu gerakan untuk bentk produksi yang lebih maju: kapitalisme. Suatu faktor yang paling penting dalam rangsangan ke perkembangan kapitalisme adalah perluasan perniagaan lewat lautan yang jauh, yang berlangsung cepat dan berkembang sebagai hasil penemuan-penemuan geografis yang mengejutkan yang diperoleh di dalam bagian terakhir abad kelima belas. Termasuk di dalam penemuanpenemuan geografis ini, terutama penemuan Amerika dan pelayaran mengelilingi Tanjung Harapan. 8 Pemasukan kapital yang cepat, yang berasal dari perniagaan yang tumbuh subur bagaikan jamr, ditambah pula oleh membanjirnya logam-logam mulia ke dalam negeri sejak penemuan mas dan perak, melanda tata sosial dan ekonomi yang telah ada di Inggris. Pabrik-pabrik baru didirikan di kota-kota pelabuhan dan di pusat-pusat negeri. Dengan demikian, kapitalisme modern bermula di tempat yang jauh letaknya dari pusat-pusat perpabrikan lama, yang didasarkan atas perniagaan maritim dan yang melintasi negeri dalam skala besar. Perpabrikan terorganisasi tidak bersumber pada industri pertukangan yang yang dikuasai serikat-serikat sekerja, akan tetapi pada yang disebut Marx ‘operasi-operasi tambahan dari daerah pedesaan’ yang berkaitan dengan permintalan tenun yang memerlukan sedikit sedikit latihan teknis. Masyarakat pedesaan itu merupakan tempat terakhir untuk perkembangan kapitalisme dalam bentuk yang paling murni dan paling logis, namun dorongan pertamanya adalah di situ. ( Giddens, Anthony,1986:42 ) Masyarakat dan perpolitikan di Jerman : Pendirian Marx Menjelang akhir abad kesembilan belas, Jerman terdiri atas tiga puluh smebilan negara bagian yang saling bersaingan. Dua negara bagian terkemuka di Jerman, adalah Prusia dan Austria dan kedua-duanya merupakan bagian terbesar di Eropa: persaingan antara mereka justru merupakan suatu faktor yang menghambat usaha penyatuan Jerman. Austria, sejak tahun 1815, mempunyai lebih banyak penduduk yang non-Jerman dari pada yang Jerman; sedangkan Prusia di bagian timur, menerima sangat banyak penduduk asal Polandia. Akan tetapi faktor yang lebih berperan dalam menghalangi perkembangan Jerman, adalah ciri-ciri khas yang sangat mendasar dari struktur sosial dan struktur ekonomi Jerman. Bila dibandingkan dengan negeri yang paling kapitalis, yaitu Inggris, maka Jerman masih berada pada zaman abad pertengahan, baik jika dikaitkan dengan tingkat perkembangan ekonomi, maupun dengan tingkat rendahnya liberalisasi dalam berbagai bidang di negara Jerman itu. 9 Pada awal abad kesembilan belas, seperti yang telah dikatakan oleh Landes, makin ke timur orang pergi ke Eropa, makin tampak kaum borjuis sebagai suatu ‘tumbuhan liar asing’ bergaya seperti kaum istana di pedesaan suatu golongan tersendiri, yang dipandang rendah dan dicemoohkan oleh kaum bangsawan sendiri dan ditakuti atau dibenci oleh kaum tani, yang masih terikat secara pribadi kepada tuan tanah lokal. Kejadian-kejadian dalam tahun 1848, menandai suatu garis hubungan historis yang langsung antara Marx dan Weber. Bagi Marx hasilnya ialah pembuangan secara badaniah ke Inggris dan suatu pengakuan intelektual atas pentingnya penunjukkan secara terperinci kepada hkm-hukum gerak kapitalisme sebagai suatu sistem ekonomi. Di Jerman sendiri, kegagalan-kegagalan tahun 1848 melicinkan jalan bagi sifat janggalnya politik liberal, yang bila dibandingkan dengan keberhasilan yang meyakinkan dari hegemoni Bismarck, membentuk suatu latar belakang yang penting bagi semua pemikiran weber. Lagi pula struktur politik dan sosial tradisional di Jerman yang tetap bertahan sejak tahun 1848, dengan tegas sekali mempengaruhi peran pergerakan buruh. Dengan demikian, baik kaum sosialis Marxis, maupun kaum liberal di Jerman pada akhir abad kesembilan belas, tidak mempunyai suatu model historis, untuk dapat memahami secara memuaskan kekhususan-kekhususan posisi mereka. Kedua golongan ini memandang, berpaling kepada teori-teori, yang dikembangkan di masa lalu dan yang terutama dilandasi oleh pengalaman Inggris di akhir abad kedelapan belas dan permulaan abad kesembilan belas. Dalam Partai Sosial Demokrat, situasi ini memaksakan munculnya kepermukaan ketegangan yang terdapat antara penitikberatan Marx kepada pengambil-alihan negara kapitalis dengan cara pencapaian suatu hak pilih yang sepenuhnya universal. Karya Bernstein, Die Voraussetzungen des Sozialismus, walaupun karya itu sendiri sebagian didasarkan atas suatu model Inggris, merupakan pengungkapan yang paling konkrit dari kenyataan bahwa kaitan antara perkembangan politik dan ekonomi dari kapitalisme tidak bisa dipahami secukupnya, dalam arti kata dipandang oleh sebagian besar kaum Marxis sebagai tesis-tesis utama dari Capital: 10 kemajuan dalam pembentukan suatu masyarakat dua kelas, pemfakiran dari sejumlah besar rakyat, serta keruntuhan kapitalisme yang sudah menampak dalam bentuk suatu krisis akhir yang membawa mala petaka. ( Giddens, Anthony,1986:232 ) Perancis dalam abad kesembilan belas : Marx dan pertumbuhan Marxisme. Marx dan Marxisme merupakan bagian dari alam kehidupan intelektual Max Weber, dalam suatu taraf yang tidak ada dalam kasus Durkheim. Marx adalah seorang Jerman, dan kebanyakan dari karya besarnya ditulis dalam bahasa itu; dan tidak ada negara lain dalam abad kesembilan belas yang mempunyai suatu partai Marxisme yang sama besarnya atau sama pentingnya secara politik dengan Partai Sosial Demokrat Jerman. Kendatipun fakta bahwa Durkheim itu dalam suatu periode menghabiskan waktunya belajar di Jerman pada bagian dini dari kariernya, namun pandangan intelektualnya ke masa depan, hampir tetap tegar berwarna Perancis. Walaupun demikian, konteks pertumbuhan sosial dan politik, di dalam mana Durkheim mengembangkan sosiologinya, dalam kaitan-kaitan penting tertentu, bisa dibandingkan dengan konteks pertumbuhan sosial dan politik yang mempengauhi Weber. Sikap Marx terhadap Perancis dalam tahun 1840-an, cukup wajar tentunya, didominasi oleh suatu kesadaran atas keunggulan relatif tentang tingkat kemajuan politik dari negara tersebut itu, bila dibandingkan dengan Jerman. Apa pun kekuatan reaksi yang timbul terhadap Revolusi Perancis, namun tampak jelas nahwa pengalaman-pengalaman politik dari para pemikir sosialis bangsa Perancis, berakar pada suatu struktur sosial, yang telah memutuskan perhubungannya secara memastikan dengan masa feodal yang telah lampau. 11 2.2.1 Fase Perkembangan Kapitalisme Asal usul lembaga Kapitalisme sudah terdapat di zaman kuno, sementara berkembangnya Kapitalisme adalah diakhir abad pertengahan. Runtuhnya lembaga – lembaga ekonomi pada abad pertengahan berakibat pada meningkatnya volume perdagangan jarak jauh yang membuat industri semakin pesat melayani perdagangan jaraktg jauh antar kota dagang. Lambat laun fenomena ini memperlemah struktur intern pertanian yang mengandalkan perbudakan, sehingga muncullah tipe masyarakat ekonomis yang baru. Taruhlah misalnya, di Flanders pada abad ke-13 dan Florence pada abad ke -14 yang merupakan dua kantong kapitalis penting yang menggambarkan perkembangan kapitalis di Inggris ( walaupun merupakan contoh yang gagal, karena masalah perbenturan sosial). ( Leo Agung, 2013: 75 ). Pada fase ini, merupakan zaman baru perkembangan Kapitalisme taraf pertama yang kemudian disebut Kapitalisme Dagang. Industri yang berkembang di Abad Pertengahan dan Awal Eropa Modern adalah perdagangan jarak jauh wool dan sandang. Hal ini sekaligus menandai perkembangan pesat perdagangan pada saat para saudagar ( kompeni dagang ) memperbesar kapitalnya dengan transaksi dagang dan laba yang diperolehnya untuk mengadakan transaksi lagi dan seterusnya. 1. Kapitalisme Awal ( 1500-1750 ) Inggris menjadi wilayah industri sandang terbesar di Eropa dalam abad pertengahan. Peristiwa Revolusi Industri Inggris ini menandai peningkatan dari Kapitalisme Dagang menuju Kapitalisme Industri. 12 Selama abad ke-16, 17, dan abad ke-18 industri wol mempelopori kapitalisme sebagai sistem sosial dan ekonomi serta untuk pertama kalinya berakar ditanah Inggris. Reformasi Protestan pada abad ke-16 dan ke-17 yang disertai perubahan – perubahan ekonomi mengakibatkan berkembangnya kapitalisme di Eropa Barat, khusunya Belanda dan Inggris. Perilaku kehidupan membiara dipraktikkan dalam suasana perniagaan dan insdustri yang terus berkembang. Barangkali dalam hemat penulis, reformasi Protestan yang menumbuhkan agama baru itu ikut serta menandai jiwa materialistik yang sangat berhubungan dengan usaha untuk terus menambah kekayaan. 2. Kapitalisme Klasik ( 1750-1914 ) Abad ke-18, fokus pembangunan kapitalis di Inggris bergeser dari perdagangan ke industri. Kapitalisme menjadi penggerak kuat bagi peruabahan teknologi baru ( dari akumulasi modal ) yang tidak mungkin dilakukan oleh masyarakat miskin. Karya besar Adam Smith, Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations ( 1776 ) mencerminkan ideologi kapitalis klasik. Smith menganjurkan untuk membongkar birokrasi negara dan menyerahkan keputusan – keputusan ekonomi pada kekuatan pasar yang bebas. Pada abad ke-19 kebijaksanaan Smith ( laissser faire : perdagangan bebas, keuangan yang kuat dengan standar emas, anggaran belanja berimbang, dan bantuan kemiskinan minimum ) mulai dijalankan, para industrialis Inggris memperoleh perdagangan bebas dan pada gilirannya menjadi faktor utama dalam periode ekspansi ekonomi yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Smith berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh kemakmuran adalah dengan membiarkan individu-individu mengejar kepentingan-kepentingan mereka sendiri tanpa keterlibatan perusahaanperusahaan negara. Awal abad 20 kapitalisme harus menghadapi berbagai tekanan dan ketegangan yang tidak diperkirakan sebelumnya. 13 Munculnya kerajaan-kerajaan industri yang cenderung menjadi birokratis uniform dan terjadinya konsentrasinya pemilikan saham oleh segelintir individu kapitalis memaksa pemerintah (Barat) mengintervensi mekanisme pasar melalui kebijakan-kebijakan seperti undang-undang antimonopoli, sistem perpajakan, dan jaminan kesejahteraan. Fenomena intervensi negara terhadap sistem pasar dan meningkatnya tanggungjawab pemerintah dalam masalah kesejahteraan sosial dan ekonomi merupakan indikasi terjadinya transformasi kapitalisme. Transformasi ini, menurut Ebenstein, dilakukan agar kapitalisme dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan ekonomi dan sosial. Lahirlah konsep negara kemakmuran (welfare state) yang oleh Ebenstein disebut sebagai “perekonomian campuran” (mixed economy) yang mengkombinasikan inisiatif dan milik swasta dengan tanggungjawab negara untuk kemakmuran sosial. Menjelang Perang Dunia 1 para kritisi mengembangkan teori Imperialisme Ekonomi. Menurut doktrin ini, persaingan antara perusahaan kapitalis cenderung membuat semua tersisih, kecuali perusahaan besar. Walaunpun demikian doktrin ini tidak pasti dibuktikan atau ditolak. 14 3. Fase Lanjut ( Sejak 1914 ), titik awal Kapitalisme Keuangan. Perang Dunia 1 menandai titik balik perkembangan kapitalisme khsusunya di Eropa. Periode 1914 menjadi pembalikan minat publik pada Kapitalisme. Namun, sesudah Perang Dunia 1, kecenderungan itu berbalik arah. Standar emas ditinggalkan, hegemoni perbankan berpindah dari Eropa ke Amerika Serikat, Rakyat Asia dan Afrika berhasil melawan kolonialisme eropa, dan sebagainya. Terlebih saat Revolusi Rusia menentang keunggulan organisasi Kapitalis, membuat laisser faire yang menjadi kesepakatan abad-19 pudar.( Leo Agung, 2013: 82) Para negarawan dan kaum bisnis di negara kapitalis lambat menyadari pembalikan arah tersebut. Pasca PD 1, pada 1920-an negara negara kapitalis berusaha “ kembali ke keadaan normal pra-perang”. Inggris gagal. Sedangkan negara kapitalis lain menikmati kemakmuran singkat di periode 1920-an dan pada 1930-an dihadapkan pada depresi besar besaran akibat laisser faire mendapat pukulan telak dari New Deal – nya Amerika Serikat. 15 2.3 Pengaruh Kapitalisme bagi kehidupan Manusia Imperialisme modern yang berbasis ekonomi kapitalis telah menimbulkan berbagai masalah sosial. Berbagai issu muncul berbagai apakah imperialism itu bagi tanah jajahan semata-mata bersifat eksploitatif dengan menciptakan tenagatenaga buruh yang murah, miskin dan tidak mempunyai jaminan sosial. Sebagian tokoh humanis berpendapat bahwa secara moral, imperialism modern telah mengenalkan hal-hal yang positif dari hasil peradapan barat dari tanah jajahan Apabila kita mau jujur menilai imperialism eropa ke berbagai benua lain, selain memang berdampak negative ternyata juga memiliki sebagian unsure-unsur positif. Pertimbangan kita tidak selamanya negative terhadap pengaruh imperialism modern, didasarka pada kajian sejarah, bukan berdasar pertimbangan etihs. Dalam sejarah colonial eropa, memerintah tanah jajahan dengan cara-cara modern dan menjalankan perusahan dengan secermat-cermatnya lebih banyak membutuhkan tenaga terampil, dari pada yang dapat didatangkan dari eropa. Maka, timbullah sekolah-sekolah lanjutan, universitas dengan tujuan mendidik pemangku jabatan, pegawai, insinyur, dan dokter. ( Sundoro, 2007: 206 ) Kaum kapitalis, utamanya para bankir, sangat tertarik dalam bidangbidang industry hingga timbul trust kartel, dan terbentuk gabungan perusahaan sejenis berubah menjadi perusahaan besar. Sistem kapitalisme telah menghasilkan barang dagangan yang melimpah sehingga membutuhkan pemasaran barang. Untuk hal itu para kapitalis sangat mendukung Negara mencari tanah-tanah jajahan. 16 Dalam ekonomi kapitalisme diakuinya kepemilikan harta pribadi secara penuh dan tidak ada kebebasan yang sempurna. Sebagian dapat memperoleh kebebasan yang lebih daripada yang lain. Pada sistem ini juga memberikan kebebasan menentukan jenis pekerjaan yang ingin mereka lakukan, jenis usaha yang ingin mereka kembangkan, dan jenis barang yang ingin mereka beli dari pendapatan yang mereka peroleh. Sehingga penganut sisitem ini meminimaliskan andil pemerintah dalam perkembangan perekonomian, sehingga pasar bebas dan mekanisme pasar dapat menciptakan efesiensi yang cukup tinggi dalam mengatur perekonomian negara. Sistem ini juga memberikan pendapat bahwa sumber daya manusia itu tidak terbatas, sedangkan sumberdaya alam di dunia ini terbatas, sehingga manusia selalu berusaha mengeruk sumber daya alam tersebut untuk meningkatkan kekayaan mereka. Pada masa permulaannya, Kapitalisme memberikan semangat usaha, berani mengambil resiko, persaingan dan keinginan untuk mengadakan inivasi. Tata nilai yang dominin pada sistem ini adalah individualisme, kemanfatan material dan kebebasan politik. Setiap system pasti memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tak dapat dipungkiri bahwa kapitalisme telah memberikan banyak hasil positif bagi peradaban umat manusia, fasilitas hidup, perkembangan tekhnologi, variasi produk, infrastruktur bahwa kapitalisme menunjukan perannya yang signifikan dalam sejarah peradaban umat manusia. Jika dilihat dari sisi positif pada sisitem ini, dengan mekanisme pasar yang bebas dapat menningkatkan motivasi kerja, inovasi dan produktifitas guna memenangkan kompetisi perekonomian disetiap Negara.Inilah rangsangan bagi mereka untuk meningkatkan diri dalam mengembangkan usaha mereka, karena fitrah dalam diri manusia selalu ingin menjadi yang terbaik dari yang lain. Terlepas dari semua hal itu, tidak salah jika analisa dibalik kesuksesan itu ada kerancuan, sisi negatif, kelemahan.Hal ini tampak pada penumpukan harta, distribusi kekayaan tidak merata. 17 Selama abad 20 , selain megahnya pembangunan fisik ekonomi ternyata terdapat data-data yang jelas menunjukan bahwa system kapitalisme memberikan goncangan-goncangan ekonomi dan implikasi- implikasi negatif.Jeratan hutang di hampir seluruh Negara berkembang termasuk Indonesia pada masa krisis moneter yang menyebabkan kemiskinan yang menyebabkan kemiskinan yang makin luas di nagara dunia ketiga. Kekayaan yang tidak merata karena persaingan bebas menyebabkan para pengusaha yang dapat mengembangkan usahanya terus ingin menjadikan diri nya lebih dari siapapun, namun bagi pengisaha yang belum dapat mengembangkan usahanya menyebabkan dirinya terpuruk dan susah bangkit. 18 2.4 Bentuk Kapitalisme di Indonesia Kapitalisme terus berkembang di Indonesia. Kekayaan sumber daya Indonesia masih dieksploitasi oleh negara-negara lain. Selain itu, terdapat banyak fenomena yang menggambarkan bahwa kapitalisme masih eksis di Indonesia, di antaranya banyak pemilik modal yang mengeruk kekayaan untuk kepentingannya sendiri sehingga menyebabkan kesenjangan yang semakin besar antara kelas-kelas sosial yang ada. Penulis menyimpulkan bahwa pada awalnya, struktur kapital di Indonesia masih prematur atau rentan. Seiring berjalannya waktu, serta dengan pengaruh yang datang dari luar maupun dalam Indonesia, kapitalisme terus berkembang, bahkan sampai saat ini. Salah satu faktor yang memengaruhi berkembangnya pemikiran dan praktik kapitalisme adalah ‘contoh’ yang dapat kita lihat pada masa penjajahan Belanda. Perkembangan kapitalisme pada zaman modern ini juga terjadi karena pengaruh neoliberalisme yang semakin kuat. Gencarnya pasar bebas dan masalah Freeport adalah beberapa contoh semakin berkuasanya modal asing di Indonesia. Kebaikan system kapitalis bagi Indonesia adalah memungkinkan Indonesia untuk mendapatkan suntikan dana investasi dari Negara kapitalis. Investasi ini sangat menguntungkan karena kita secara financial tidak dirugikan oleh investasi para kapitalis ini, jadi mereka memberikan uang (investasi) untuk dikelola oleh kita. Kalau ternyata kita bisa menggunakan uang tersebut dengan baik dan memperoleh laba, kita bagi-bagi uang labanya dengan si kapitalis tersebut 19 Terlepas dari itu semua, Secara umum penulis tidak setuju terhadap perkembangan Kapitalisme di Indonesia. Sebagai contoh nyata yang terdekat dengan kita adalah hadirnya swalayan, supermarket, mall, atau yang biasa kita sebut sebagai pasar modern. Secara umum, keberadaan itu semua menimbulkan lumpuhnya perekonomian pasar tradisional. Masyarakat yang memiliki modal besar semakin kaya, sementara ekonomi rakyat menengah kebawah semakin memprihatinkan. 20 BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Kapitalisme sebagai ideologi dapat diartikan sebagai sistem pemikiran dan keyakinan yang dipakai oleh kelas dominan untuk menjelaskan pada diri mereka sendiri bagaimana sistem sosial mereka beroperasi dan apa prinsipprinsip yang diajukannya, ideologi ini melihat pencarian laba (kapital) sebagai fokus kegiatannya. Adapun Ciri – Ciri Kapitalisme menurut Leo Agung; a. Pemilikan Perorangan ( Individual Ownership ) b. Perekonomian Pasar ( Market Economy ) c. Persaingan ( Competition ) d. Keuntungan ( Profit ) Sementara Kapitalisme menurut hemat ini dibagi dalam beberapa fase perkembnangan antara lain : a. Kapitalisme Awal ( 1500-1750 ) b. Kapitalisme Klasik ( 1750-1914 ) c. Fase Lanjut ( Sejak 1914 ) Dalam ekonomi kapitalisme diakuinya kepemilikan harta pribadi secara penuh dan tidak ada kebebasan yang sempurna. Sebagian dapat memperoleh kebebasan yang lebih daripada yang lain. Pada sistem ini juga memberikan kebebasan menentukan jenis pekerjaan yang ingin mereka lakukan, jenis usaha yang ingin mereka kembangkan, dan jenis barang yang ingin mereka beli dari pendapatan yang mereka peroleh. Sehingga penganut sisitem ini meminimaliskan andil pemerintah dalam perkembangan perekonomian, sehingga pasar bebas dan mekanisme pasar dapat menciptakan efesiensi yang cukup tinggi dalam mengatur perekonomian negara. 21

Judul: Sejarah Kapitalisme

Oleh: Dhavier Fiveers

Ikuti kami