Makalah Sejarah

Oleh Arofahtin Aini

164,3 KB 8 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Sejarah

SEJARAH INDONESIA (WAJIB) “Pers Membawa Kemajuan” XI MIA 7 / Semester Gasal 2016/2017 Kelompok 2 Alfiani Isa Andragogi (03) Arofahtin Qurrotu Aini (04) Siti Amanah Nur Arifah (32) SMA NEGERI 1 MUNTILAN Jl. Ngadiretno No. 1, Tamanagung, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah KATA PENGANTAR Bismillahirahmanirrahim Assalamualaikum wr. wb. Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah mencurahkan segala rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Karena hanya dengan berkat rahmat dan hidayah-Nya jualah penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah pada mata kuliah Sejarah dan Perbandingan Pers yang berjudul “Sejarah Pers di Indonesia”. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sejarah dan Perbandingan Pers. Dengan selesainya makalah ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu pada proses penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar dapat menjadi acuan untuk dapat membuat makalah selanjutnya yang jauh lebih baik. Wassalamualaikum wr. wb. Muntilan, 31 Oktober 2016 Penyusun ISI A. Pokok Bahasan Pada awal abad ke-20, para priyayi baru menuangkan gagasannya melalui pers (media cetak) terkait dengan peningkatan status rakyat bumiputera dan kemajuan kehidupan di bidang sosial dan lain-lain. Ditandai dengan penerbitan surat kabar Melayu yang mengalami peningkatan. Orang-orang yang aktif diantaranya H.C.O Clockener Brousson dari Bintang Hindia, E.F Wigger dari Bintang Baru, dan G. Francis dari Pemberitaan Betawi. Penerbit bumiputera pada abad ke-20 adalah R.M. Tirtoadisuryo, F.D.J Pangemanan, dan R.M Tumenggung Kusuma Utaya sebagai redaktur Ilmoe Tani, Kabar Perniagaan, dan Pewarta Prijaji. Di Surakarta R.Dirdjoatmojo menyunting Djawi Kanda yang diterbitkan oleh Albert Rusche & co., Di Yogyakarta Dr. Wahidin Sudirahusada sebagai redaktur jurnal berbahsa Jawa, Retnodhoemillah diterbitkan oleh Firma H. Burning. Para jurnalis bumiputra itulah yang memberikan wawasan dan ”embrio kebangsaan” melalui artikel, komentar-komentar mereka dalam surat pembaca. Sementara itu pergerakan kebudayaan “cetak” mulai masuk di beberapa kota kolonial lain, seperti Surabaya, Padang, dan Semarang. 1. Pada tahun 1901, sebuah majalah bulanan Insulinde diterbitkan di Kota Padang dengan guru-guru Belanda di sekolah raja (Kweekschool) Bukittinggi, terutama van Ophuysen. Ketua redaksi majalah itu adalah Dja Endar Muda. Majalah itulah yang pertama memperkenalkan slogan “kemajuan” dan “zaman maju” 2. Tokoh muda dr. Abdul Rivai yang baru datang dari Belanda menganjurkan pada tokoh muda di Hindia untuk membentuk sebuah organisasi. Dalam tulisant-ulisannya dalam Bintang Hindia ia selalu memuat tentang “kemajuan” dan “dunia maju”. 3. Wahidin Soedirohoesodo tertarik dengan tulisan Rivai. Saat itu ia sebagai editor majalah berbahasa Jawa, Retnodhumilah, dalam tulisan itu disarankan agar kaum lanjut usia dan kaum muda membentuk organisasi pendidikan yang bertujuan untuk memajukan masyarakat. Gagasan Wahidin akhirnya terwujud dengan terbentuknya Boedi Oetomo, pada 2 Mei 1908. Wacana kemajuan terus merebak melalui pers. Pers bumiputra juga mempunyai fungsi untuk memobilisasi pergerakan nasional pada saat itu. Harian Sinar Djawa, memuat tentang perlunya rakyat kecil untuk terus menuntut ilmu setinggi mungkin. Surat kabar yang paling mendapat perhatian pemerintah kolonial saat itu adalah De Express. Surat kabar itu memuat berita-berita propaganda ide-ide radikal dan kritis terhadap sistem pemerintahan kolonial. Puncaknya saat Cipto Mangunkusumo, Suwardi Surjaningrat, dan Abdul Muis mendirikan Komite Boemipoetera (1913). Tujuan panitia itu untuk mengumpulkan dana dari rakyat untuk mendukung perayaan kemerdekaan Belanda. Di balik itu tujuan panitia adalah mengkritik tindakan pemerintah kolonial yang merayaan kemerdekaannya di tanah jajahan dengan mencari dana dukungan dari rakyat. Kritik tajam yang ditujuan oleh Suwardi Surjaningrat dengan menulis di brosur yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Saya Menjadi Seorang Belanda). Pada 30 Juli 1913, polisi Belanda menangkap Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat. Kemudian menyusul Adbul Moeis untuk diasingkan ke luar Jawa. Cipto mulanya diasingkan ke Bangka, kemudian ke Belanda. Seorang jurnalis bumiputera yang gigih memperjuangkan kebebasan pers dikenal dengan nama Semaun. Ia mengkritik beberapa kebijakan kolonial melalui Sinar Hindia. Kritikannya mengenai haatzaai artikelen, yang menurutnya sebagai sarana untuk membungkam rakyat dan melindungi kekuasaan kolonial dan kapitalis asing. Atas kritikannya itulah ia diadili dan dijebloskan ke penjara. Dengan demikian, pers dapat berfungsi sebagai alat perjuangan bangsa. Bagi bangsa Indonesia pada masa pergerakan nasional itu, pers dapat berfungsi sebagai alat propaganda demi kepentingan bangsa Indonesia. B. Motivasi “Orang kecil tidak bisa di kalhakan karena mereka bersatu”. Jadi, seperti media pers jaman dahulu, yang awalnya kecil namun para tokoh pembangunnya bertekad untuk memajukan bangsa diiringi dengan doa dan usaha, mereka berhasil, meskipun harus ada beberapa hal yang di korbankan. Maka, mari kita lanjutkan tekad dan usaha par pejuang dahulu. Jika mereka bisa mengapa kita tidak. PENUTUP A. SIMPULAN Pers memiliki peranan yang sangat penting untuk bangsa ini mulai dari zaman kemerdekaan hingga saat ini, itu disebabkan karena antara pemerintah dan warga negara memerlukan komunikasi dan media yang dapat menghubungkan keduanya. Apalagi saat ini perkembangan pers di Indonesia sudah maju dengan pesat. Dengan adanya berita melalui koran, tabloid, majalah, radio, televisi, dan internet, masyarakat dapat dengan cepat mengetahui suatu kebijakan pemerintah. Penyajian berita atau kejadian melalui pers dapat diketahui masyarakat dengan cepat, akurat, dan efektif. Tanpa adanya pers bisa-bisa kita akan menjadi bangsa yang terbelakang karena media sangatlah dibutuhkan. Dapat disimpulkan bahwa fungsi & peranan pers di Indonesia antara lain: 1. media untuk menyatakan pendapat dan gagasan-gagasannya. 2. media perantara bagi pemerintah dan masyarakat. 3. penyampai informasi kepada masyarakat luas. 4. penyaluran opini publik. B. SARAN Setelah mengetahui arti dan peranan pers di Indonesia, penulis mengharapkan bahwa hendaknya kita sebagai bangsa Indonesia meyakini bahwa keberadaan pers sangat dibutuhkan dalam memperoleh suatu informasi, akan tetapi kita juga harus lebih pandai dalam memilah informasi yang disampaikan oleh media.

Judul: Makalah Sejarah

Oleh: Arofahtin Aini


Ikuti kami