Tugas Pendidikan Karakter

Oleh Rizal Farabi

119,5 KB 27 tayangan 3 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Pendidikan Karakter

KATA PENGANTAR Puji melimpahkan ketabahan di KARAKTER TINGGI“ syukur dan terima kasih kehadirat Allah SWT yang telah rahmat dan karunia-Nya serta memberikan kesehatan, pikiran dan dalam meyusun karya ilmiah yang berjudul “ PENDIDIKAN DIBERIKAN SEJAK PRASEKOLAH SAMPAI PERGURUAN Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. H. Sukiyat, SH., M.Siselaku dosen mata kuliah “PENDIDIKAN KARAKTER” 2. Teman-teman Manajemen 2014 yang telah memberikan masukan dalam pengerjaan karyailmiah yang berjudul “PENDIDIKAN KARAKTER DIBERIKAN SEJAK PRASEKOLAH SAMPAI PERGURUAN TINGGI“ 3. Semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses penyesuaian penyusunan karya ilmiah yang berjudul “PENDIDIKAN KARAKTER DIBERIKAN SEJAK PRASEKOLAH SAMPAI PERGURUAN TINGGI” Akhirnya dengan segala kerendahan hati, kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan karya ilmiah. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak, demi tercapainya kesempurnaan pada karya ilmiah ini. Serta kami berharap semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat memberikan manfaat. Gresik,12 Juni 2015 Penyusun i DAFTAR ISI Kata Pengantar.................................................................................................i Daftar Isi.........................................................................................................ii Bab I PENDAHULUAN............................................................................1 1.1 Latar Belakang....................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah...............................................................................2 1.3 Tujuan Masalah...................................................................................2 1.4 Manfaat Penelitian...............................................................................2 Bab II PEMBAHASAN...............................................................................3 2.1 Pengertian Pendidikan Karakter.........................................................4 2.2 Cara Membentuk Karakter..................................................................4 2.3 Pentingnya Pendidikan Karakter.........................................................5 2.4 Tujuan, Fungsi, dan Media Pendidikan Karakter...............................6 2.5 Dampak Pendidikan Karakter.............................................................6 2.6 Prinsip Pendidikan Karakter...............................................................7 2.7 Indikator Pendidikan Karakter............................................................8 2.8 Tips Untuk Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah..................9 Bab III PENUTUP......................................................................................11 3.1 Kesimpulan.......................................................................................11 3.2 Saran.................................................................................................11 Daftar Pustaka...............................................................................................13 ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pendidikan merupakan suatu proses yang terjadi secara terus-menerus yang bertujuan untuk mengubah jati diri seorang siswa untuk lebih maju dan berkembang dalam ilmu pengetahuan. Dengan adanya perkembangan zaman, dunia pendidikan terus berubah secara signifikan sehingga banyak merubah pola pikir banyak orang, dari pola pikir yang masih sederhana menjadi lebih modern. Dan hal ini sangat berpengaruh pada kemajuan pendidikan di Indonesia. Di zaman sekarang ini, banyak sekolah-sekolah yang sudah jarang menerapkan nilai-nilai luhur pancasila terhadap para siswa. Contoh yang paling mudah didapatkan adalah guru sudah tidak dekat dengan murid begitu pun juga dengan halnya siswa-siswi. Banyak di antara mereka yang acuh tak acuh terhadap keberadaan guru. Situasi dan lingkungan yang tidak baik seperti ini akan menjadi faktor pemicu pembentukan karakter seorang siswa ke arah yang menyimpang. Hilangnya nilai saling menghormati, sopan santun, kepedulian, dan lain-lain. Oleh karena itu, tidaklah aneh jika siswa-siswi belakangan ini banyak diberitakan tawuran antarsekolah, bullying, pelecehan seksual, dan sebagainya. Hal inilah yang menyebabkan menurunnya karakter berkebangsaan pada generasi muda sekarang ini. Mungkin hal ini terlihat mengerikan tetapi pada kenyataannya hal inilah yang terjadi dan seharusnya kita menentangnya. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang serta nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti, sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa atau budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik. Munculnya pendidikan karakter ini dilatarbelakangi oleh semakin terkikisnya karakter sebagai bangsa Indonesia, dan sekaligus sebagai upaya pembangunan manusia Indonesia yang berakhlak budi pekerti yang mulia. 1 Maka dari itu, perlu dicetuskan pendidikan karakter bangsa sebagai wujud pendidikan karakter kebangsaan kepada peserta didik. Dalam pelaksanaannya, pendidikan karakter seharusnya tidak berdiri sendiri tetapi berintegrasi dengan pelajan-pelajaran yang ada dengan memasukkan nilai-nilai karakter dan budaya bangsa Indonesia. Pendidikan karakter bangsa dapat dimulai dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada para siswa berdasarkan nilai moral yang luhur serta pembiasaan yang sesuai dengan karakter kebangsaan. Para pelajar seharusnya dipertegas dalam proses pendidikannya agar jati diri atau karakter bangsa tidak hilang. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari karya ilmia ini, antara lain: 1. Apa yang dimakud dengan pendidikan karakter? 2. Bagaimana cara membentuk karakter? 3. Apa saja pentingnya dari pendidikan karakter? 4. Bagaimana proses pengembangan pendidikan karakter ? 5. Apa tujuan, fungsi, dan media pendidikan karakter? 6. Apa dampak dari pendidikan karakter? 7. Bagaimana pinsip pendidikan karakter? 8. Apa saja indicator pendidikan karakter? 9. Bagaimana tips untuk menerapkan pendidikan karakter di sekolah? 1.3 Tujuan Masalah Berdasarkan rumusan masalah yang disusun oleh penulis di atas, maka tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: a. Untuk mengetahui apa itu pendidikan karakter? b. Untuk mengetahui bagaimana cara membentuk karakter? c. Untuk mengetahui apa saja pentingnya dari pendidikan karakter? d. Untuk mengetahui bagaimana proses pengembangan pendidikan karakter ? e. Untuk mengetahui apa tujuan, fungsi, dan media pendidikan karakter? f. Untuk mengetahui dampak dari pendidikan karakter? g. Untuk mengetahui bagaimana pinsip pendidikan karakter? h. Untuk mengetahui apa saja indicator pendidikan karakter? i. Untuk mengetahui bagaimana tips untuk menerapkan pendidikan karakter di sekolah? 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari karya ilmiah ini, antara lain : 1. Siswa dapat menjadi tahu akan pentingnya pendidikan karakter. 2 2. Seorang siswa dapat mempunyai karakter yang baik dengan adanya pendidikan karakter. 3 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pendidikan Karakter Kata karakter berasal dari bahasa Yunani “to mark” yang berarti menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Kata pendidikan berasal dari bahasa Latin “Pedagogi”, yaitu dari kata “paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Jadi, istilah pedagogi dapat diartikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak. Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character development”. Pengertian karakter menurut pusat bahasa Depdiknas adalah bawaan, Hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak adapun berkarakter adalah Berkepribadian, berperilaku, bersifat, bermartabat, dan berwatak. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak yang bertujuan untuk membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Menurut Tadkiroatun Musfiroh ( UNY ,2008 )karakter mengacu kepada serangkaian sikaBerdasarkan pembahasan di atas, dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan normanorma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. 2.2 Cara Membentuk Karakter 4 Membentuk karakter, merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Seorang siswa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula. Ada tiga pihak yang mempunyai peran penting, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam pembentukan karakter, ada tiga hal yang berlangsung secara terintegrasi. Pertama, seorang siswa mengerti baik dan buruk. Ia mengerti tindakan apa yang harus diambil serta mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kedua, ia mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan. Misalnya, seorang siswa tidak mau menyontek ketika ulangan tengah berlangsung. Karena menyontek adalah kebiasaan buruk, ia tidak mau melakukannya. Ketiga, siswa di dalam lingkungannya mampu melakukan kebajikan dan terbiasa melakukannya. Karakter-karakter yang baik harusnya dapat dipelihara. Hal pertama yang dapat dilakukan untuk membentuk karakter seorang siswa adalah dirumah. Ketika usia mereka di bawah tujuh tahun adalah masa terpenting dalam menanamkan karakter pada anak. Dalam hal ini, orang tua (keluarga) perlu menanamkan karakter tersebut sehingga pembangunan watak, akhlak atau karakter bangsa (nation and character building,), mulai tumbuh dan dapat berkembang dalam kesehariannya. Selanjutnya, dalam membangun karakter seorang siswa, pihak sekolah perlu memperhatikan aturan dan tata tertib yang berlaku disekolah. Di era globalisasi ini, banyak sekolah yang sudah jarang sekali menerapkan nilainilai luhur Pancasila sehingga hubungan antara guru dan siswa tidak begitu akrab. Begitu juga dengan banyaknya siswa yang acuh tak acuh dengan keberadaan guru, tidak menghormati guru, dan lain-lain. Oleh karena itu, pihak sekolah perlu memperhatikan pembinaan sikap dan karakter masingmasing siswa dengan cara membina dan meningkatkan intelektualisme dan profesionalisme. Selain itu, pihak sekolah juga dapat menerapkan nilai-nilai karakter pada siswa dengan membuat aturan dan tata tertib yang dapat menumbuhkan karakter-karakter baik, misalnya dengan membuat kantin kejujuran. Dalam hal ini, sekolah dapat menumbuhkan karakter kejujuran pad setap siswa. 2.3 Pentingnya Pendidikan Karakter Pendidikan karakter sangat baik diterapkan, terutama bagi seorang siswa. Dengan adanya pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang siswa akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan seorang siswa dalam 5 menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Selain itu, pendidikan karakter adalah kunci keberhasilan individu. Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI (kejujuran dan rasa tanggung jawab), PIKIR (kecerdasan), RAGA (kesehatan dan kebersihan), serta RASA (kepedulian) dan KARSA (keahlian dan kreativitas). 2.4 Tujuan ,Fungsi , dan Media Pendidikan Karakter Sebernarnya pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdasarkan takut akan Tuhan. Adapun fungsi-fungsi pendidikan karakter, antara lain: a) Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik , dan berperilaku baik. b) Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur. c) Meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter di lakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga ,satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. 2.5 Dampak Pendidikan Karakter Berdasarkan buletin Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership, diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Begitu juga halnya dengan buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001). Buku ini mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, 6 yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Seorang siswa yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Siswa yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis. 2.6 Prinsip Pendidikan Karakter Berikut ini adalah 11 prinsip-prinsp pendidikan karakter. 1. Komunitas sekolah mengembangkan dan meningkatkan nilai-nilai inti etika dan kinerja sebagai landasan karakter yang baik. 2. Sekolah berusaha mendefinisikan “karakter” secara komprehensif, di dalamnya mencakup berpikir (thinking), merasa (feeling), dan melakukan (doing). 3. Sekolah menggunakan pendekatan yang komprehensif, intensif, dan proaktif dalam pengembangan karakter. 4. Sekolah menciptakan sebuah komunitas yang memiliki kepedulian tinggi. (caring) 5. Sekolah menyediakan kesempatan yang luas bagi para siswanya untuk melakukan berbagai tindakan moral (moral action). 6. Sekolah menyediakan kurikulum akademik yang bermakna dan menantang, dapat menghargai dan menghormati seluruh peserta didik, 7. mengembangkan karakter mereka, dan berusaha membantu mereka untuk meraih berbagai kesuksesan. 8. Sekolah mendorong siswa untuk memiliki motivasi diri yang kuat 9. Staf sekolah ( kepala sekolah, guru dan TU) adalah sebuah komunitas belajar etis yang senantiasa berbagi tanggung jawab dan mematuhi nilai- 7 nilai inti yang telah disepakati. Mereka menjadi sosok teladan bagi para siswa. 10. Sekolah mendorong kepemimpinan bersama yang memberikan dukungan penuh terhadap gagasan pendidikan karakter dalam jangka panjang. 11. Sekolah melibatkan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam upaya pembangunan karakter Secara teratur, sekolah melakukan asesmen terhadap budaya dan iklim sekolah, keberfungsian para staf sebagai pendidik karakter di sekolah, dan sejauh mana siswa dapat mewujudkan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari. 2.7 Indikator Pendidikan Karakter Pendidikan karakter bangsa bisa dilakukan dengan pembiasaan nilai moral luhur kepada siswa dan membiasakan mereka dengan kebiasaan yang sesuai dengan karakter kebangsaan. Berikut 18 indikator pendidikan karakter bangsa sebagai bahan untuk menerapkan pendidikan karakter pada siswa: a. Religius, adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain. b. Jujur, adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagaiorang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. c. Toleransi, adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku,etnis,pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya d. Disiplin, adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. e. Kerja Keras, adalah perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. f. Kreatif, adalah berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. g. Mandiri, adalah sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. h. Demokratis, adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. i. Rasa ingin tahu, adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar. 8 j. Semangat kebangsaan, adalah cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dankelompoknya. k. Cinta tanah air, adalah cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa l. Menghargai prestasi, adalah sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakui, dan menghormati keberhasilan orang lain. m. Bersahabat/komuniktif, adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. n. Cinta damai, adalah sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya o. Gemar membaca, adalah kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. p. Peduli lingkungan, adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. q. Peduli sosial, adalah sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. r. Tanggung jawab, adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. 2.8 Tips untuk Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah Berikut adalah tips untuk sukses menerapkan pendidikan berbasis karakter di sekolah. a. Memiliki nilai-nilai yang dianut dan disampaikan kepada seluruh stake holder sekolah melalui berbagai media : buku panduan untuk orang tua (dan siswa), news untuk orang tua, pelatihan. b. Staf pengajar dan administrasi termasuk tenaga kebersihan dan keamanan mendiskusikan nilai-nilai yang dianut, Nilai-nilai ini merupakan penjabaran dari nilai-nilai yang diyakini sekolah. c. Siswa dan guru mengembangkan nilai-nilai yang dianut di kelas masingmasing. d. Memberikan dilema-dilema dalam mengajarkan suatu nilai, misalnya tentang kejujuran. 9 e. Pembiasaan penerapan nilai di setiap kesempatan f. Mendiskusikan masalah yang terjadi apabila ada pelanggaran g. Mendiskusikan masalah dengan orang tua apabila masalah dengan anak adalah masalah besar atau masalahnya tidak selesai 10 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Karakter mempunyai banyak arti, diantaranya, kemampuan untuk mengatasi cara efektif situasi sulit, tidak enak atau tidak nyaman, atau berbahaya. Dengan pengertian tersebut karakter menuntut kecerdasan otak, kepekaan nurani, kepekaan diri dan lingkungan, kecerdasan merespon, dan kesehatan, kekuatan, dan kebugaran jasmani. Pembentukan karakter pada anak dimulai sejak anak berusia dini. Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Pembentukan ini juga seiring dengan perkembangan kognitif pada anak, yang pada dasarnya adalah perubahan dari keseimbangan yang telah dimiliki kearah keseimbangan baru yang diperolehnya. Dengan perkembangan itu seorang siswa dengan cepat dapat menerima karakter yang baik. Lingkungan sekolah tentunya berperan besar dalam pembentukan karakter pada anak. Intensitas pertemuan yang hampir setiap hari dengan guru dan teman-teman sekolah tentunya membuat anak mencari-cari dirinya melalui hal yang mereka lihat, rasakan, dengar, dan tiru dari lingkungan sekitar. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang baik terhadap tuhan yang maha esa, dirinya, sesama lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional. Pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi ( pengetahuan ) dirinya dan di sertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya). Dari pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang di rancang dan di laksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan tuhan yang maha esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tatakrama, budaya, dan adat- istiadat. 3.2 Saran Berdasarkankesimpulan di atas, dapatdisarankanbahwa : 11 1. Pendidikan karakter sebaiknya harus ditanamkan sejak kecil pada anak agar karakter-karakter baik dapat bertumbuh dalam dirinya. 2. Lingkungan sekolah yang positif dapat membantu seorang siswa dalam membangun karakternya. Oleh arena itu, pihak sekolah hendaknya menciptakan lingkungan sekolah yang positif. 3. Sebaiknya, guru sebagai orang tuasiswa di sekolah dapat menanamkan pendidikan karakter kepada mereka dengan cara member teladan dan disiplin tentang pendidikan karakter yang baik. 12 DAFTAR PUSTAKA http://www.pendidikankarakter.com/peran-pendidikan-karakter-dalammelengkapi-kepribadian/ http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter/ http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-karakteranak/ Kutipan Prof. Dr. H. Sukiyat, SH., M.Si “Pendidikan Karakter - DASAR MEMBANGUN MORAL BANGSA” http://www.pendidikankarakter.com/membangun-karakter-sejak-pendidikan-anakusia-dini/ 13

Judul: Tugas Pendidikan Karakter

Oleh: Rizal Farabi


Ikuti kami