Seni Tari Makalah

Oleh Zaenal Ladin

231,9 KB 8 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Seni Tari Makalah

BAB I PENDAHULUAN 1. A. Latar Belakang Tarian Daerah Indonesia dengan beraneka ragam jenis tarian indonesia seni tari membuat indonesia kaya akan adat kebudayaan kesenian. Dengan mengenal lebih banyak Tarian adat di seluruh provinsi di indonesia mudah-mudahan membuat kita lebih mencintai negeri kita ini. Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Terdapat lebih dari 700 suku bangsa di Indonesia: dapat terlihat dari akar budaya bangsa Austronesia dan Melanesia, dipengaruhi oleh berbagai budaya dari negeri tetangga di Asia bahkan pengaruh barat yang diserap melalui kolonialisasi. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri; Di Indonesia terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Tradisi kuno tarian dan drama dilestarikan di berbagai sanggar dan sekolah seni tari yang dilindungi oleh pihak keraton atau akademi seni yang dijalankan pemerintah. BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. A. Pengertian Tari tradisional adalah tari yang telah melampaui perjalanan perkembangannya cukup lama, dan senantiasa berfikir pada pola-pola yang telah mentradisi. 1. B. Tari Tradisional Sebelum bersentuhan dengan pengaruh asing, suku bangsa di kepulauan Indonesia sudah mengembangkan seni tarinya tersendiri, hal ini tampak pada berbagai suku bangsa yang bertahan dari pengaruh luar dan memilih hidup sederhana di pedalaman, misalnya di Sumatra (Suku Batak, Nias, Mentawai), di Kalimantan (Dayak, Punan, Iban), di Jawa (Badui), Sulawesi (Toraja, Minahasa), Kepulauan Maluku dan Papua (Dani, Asmat, Amungme). Banyak ahli antropologi percaya bahwa tarian di Indonesia berawal dari gerakan ritual dan upacara keagamaan. Tarian semacam ini biasanya berawal dari ritual, seperti tari perang, tarian dukun untuk menyembuhkan atau mengusir penyakit, tarian untuk memanggil hujan, dan berbagai jenis tarian yang berkaitan dengan pertanian seperti tari Hudoq suku Dayak. Tarian lain diilhami oleh alam, misalnya Tari Merak dari Jawa Barat. Tarian jenis purba ini biasanya menampilkan gerakan berulang-ulang seperti tari Tor-Tor suku Batak dari Sumatra Utara. Tarian ini juga bermaksud untuk membangkitkan roh atau jiwa yang tersembunyi dalam diri manusia, juga dimaksudkan untuk menenangkan dan menyenangkan roh-roh tersebut. Beberapa tarian melibatkan kondisi mental seperti kesurupan yang dianggap sebagai penyaluran roh ke dalam tubuh penari yang menari dan bergerak di luar kesadarannya. Tari Sanghyang Dedari adalah suci tarian istimewa di Bali, dimana gadis yang belum beranjak dewasa menari dalam kondisi mental tidak sadar yang dipercaya dirasuki roh suci. Tarian ini bermaksud mengusir roh-roh jahat dari sekitar desa. Tari Kuda Lumping dan tari keris juga melibatkan kondisi kesurupan. Tari tradisional Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman bangsa Indonesia. Beberapa tradisi seni tari seperti ; tarian Bali, tarian Jawa, tarian Sunda, tarian Minangkabau, tarian Palembang, tarian Melayu, taruan Aceh, dan masih banyak lagi adalah seni tari yang berkembang sejak dahulu kala, meskipun demikian tari ini tetap dikembangkan hingga kini. Beberapa tari mungkin telah berusia ratusan tahun, sementara beberapa tari berlanggam tradisional mungkin baru diciptakan kurang dari satu dekade yang lalu. Penciptaan tari dengan koreografi baru, tetapi masih di dalam kerangka disiplin tradisi tari tertentu masih dimungkinkan. Sebagai hasilnya, munculah beberapa tari kreasi baru. Tari kreasi baru ini dapat merupakan penggalian kembali akar-akar budaya yang telah sirna, penafsiran baru, inspirasi atau eksplorasi seni baru atas seni tari tradisional. 1. C. Jenis Tari Tradisional 1. 1. Tari Keraton Tari keraton adalah tari yang semula berkembang dikalangan kerajaan dan bangsawan. Tarian di Indonesia mencerminkan sejarah panjang Indonesia. Beberapa keluarga bangsawan; berbagai istana dan keraton yang hingga kini masih bertahan di berbagai bagian Indonesia menjadi benteng pelindung dan pelestari budaya istana. Perbedaan paling jelas antara tarian istana dengan tarian rakyat tampak dalam tradisi tari Jawa. Strata masyarakat Jawa yang berlapis-lapis dan bertingkat tercermin dalam budayanya. Jika golongan bangsawan kelas atas lebih memperhatikan pada kehalusan, unsur spiritual, keluhuran, dan keadiluhungan. Masyarakat kebanyakan lebih memperhatikan unsur hiburan dan sosial dari tarian. Sebagai akibatnya tarian istana lebih ketat dan memiliki seperangkat aturan dan disiplin yang dipertahankan dari generasi ke generasi, sementara tari rakyat lebih bebas, dan terbuka atas berbagai pengaruh. Perlindungan kerajaan atas seni dan budaya istana umumnya digalakkan oleh pranata kerajaan sebagai penjaga dan pelindung tradisi mereka. Misalnya para Sultan dan Sunan dari Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta terkenal sebagai pencipta berbagai tarian keraton lengkap dengan komposisi gamelan pengiring tarian tersebut. Tarian istana juga terdapat dalam tradisi istana Bali dan Melayu. Seperti di Jawa juga menekankan pada kehalusan, keagungan dan gengsi. Tarian Istana Sumatra seperti bekas Kesultanan Aceh, Kesultanan Deli di Sumatra Utara, Kesultanan Melayu Riau, dan Kesultanan Palembang di Sumatra Selatan lebih dipengaruhi budaya Islam, sementara Jawa dan Bali lebih kental akan warisan budaya Hindu-Buddhanya. 1. 2. Tari Rakyat Tari Rakyat merupakan tari yang hidup dan berkembang dikalangan rakyat. Tarian Indonesia menunjukkan kompleksitas sosial dan pelapisan tingkatan sosial dari masyarakyatnya, yang juga menunjukkan kelas sosial dan derajat kehalusannya. Berdasarkan pelindung dan pendukungya, tari tradisional adalah tari yang dikembangkan dan didukung oleh rakyat kebanyakan, baik di pedesaan maupun di perkotaan. Dibandingkan dengan tari istana (keraton) yang dikembangkan dan dilindungi oleh pihak istana. Tari rakyat Indonesia relatif lebih bebas dari aturan yang ketat dan disiplin tertentu, meskipun demikian beberapa langgam gerakan atau sikap tubuh yang khas seringkali tetap dipertahankan. Tari rakyat lebih memperhatikan fungsi hiburan dan sosial pergaulannya daropada fungsi ritual. Tari Ronggeng dan tari Jaipongan suku Sunda adalah contoh yang baik mengenai tradisi tari rakyat. Keduanya adalah tari pergaulan yang lebih bersifat hiburan. Seringkali tarian ini menampilkan gerakan yang dianggap kurang pantas jika ditinjau dari sudut pandang tari istana, akibatnya tari rakyat ini seringkali disalahartikan terlalu erotis atau terlalu kasar dalam standar istana. Meskipun demikian tarian ini tetap berkembang subur dalam tradisi rakyat Indonesia karena didukung oleh masyarakatnya. Beberapa tari rakyat tradisional telah dikembangkan menjadi tarian massal dengan gerakan sederhana yang tersusun rapi, seperti tari Poco-poco dari Minahasa Sulawesi Utara, dan tari Sajojo dari Papua. 1. D. Tari Tradisional di Nusantara Berikut ini beberapa contoh nama-nama tari Tradisional di seluruh Indonesia. 1. Tarian Daerah Provinsi Bali 1. Tari Kecak 2. Tari Legong 3. Tari Barongan 4. Tari Pendet 2. Tarian Daerah Banten 1. Tari Prajurit 3. Tarian Daerah Provinsi Bengkulu 1. Tari Andun 2. Tari Bidadari Terminang Anak 3. Tari Ganau 4. Tarian Daerah Provinsi DI Aceh 1. Tari Saman 2. Tari Seudati 5. Tarian Daerah Propinsi DI Yogyakarta 1. Tari Bedaya Pangkur 2. Tari Serimpi 6. Tarian Daerah Gorontalo 1. Tari Dana-Dana 7. Tarian Daerah DKI Jakarta 1. Tari Betawi 2. Tari Yapong 8. Tarian Daerah Jambi 1. Tari Sekapur Sirih 2. Tari Selampir Delapan 9. Tarian Daerah Provinsi Jawa Barat 1. Tari Jaipong 2. Tari Topeng 10. Tarian Daerah Provinsi Jawa Tengah 1. Tari Bambang Cakil 2. Tari Sintren 11. Tarian Daerah Provinsi Jawa Timur 1. Tari Gandrung Banyuwangi 2. Tari Remo 3. Tari Reog Ponorogo 12. Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Barat 1. Tari Monong 2. Tari Zapin 13. Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Selatan 1. Tari Babujugan 2. Tari Radap Rahayu 14. Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Tengah 1. Tari Dadas dan Bawo 2. Tari Giring-Giring 15. Tarian Daerah Provinsi Kalimantan Timur 1. Tari Gong 16. Tarian Daerah Kepulauan Riau 1. Tari Tandak, 2. Tori Joged Lambak 17. Tarian Daerah Propinsi Lampung 1. Tari Bedana 2. Tari Jangget 3. Tari Malinting 18. Tarian Daerah Propinsi Maluku 1. Tari Cakalele 2. Tari Lenso 3. Tari Nahar Iaa 4. Tari Perang 5. Tari Tidetide 19. Tarian Daerah Propinsi Nusa Tenggara Barat 1. Tari Batu Nganga 2. Tari Mpaa Lenggogo 20. Tarian Daerah Propinsi Nusa Tenggara Timur 1. Tari Gareng Lameng 2. Tari Perang 21. Tarian Daerah Propinsi Papua 1. Tari Musyoh 2. Tari Selamat Datang 3. Tari Sojojo Papua 4. Tari Papua 5. Tari Perang 6. Tari Suanggi 22. Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Selatan 1. Tari Bosara 2. Tari Kipas 3. Tari Pakarena 23. Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Tengah 1. Tari patuddu 2. Tari Dero Poso 3. Tari Lumense 4. Tari Pamonte 5. Tari Peule Cinde 6. Tari Torompio 24. Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Tenggara 1. Tari Balumpa 2. Tari Dinggu 3. Tari Lumense 4. Tari Manguru 25. Tarian Daerah Propinsi Sulawesi Utara 1. Tari Katrili 2. Tari Maengket 3. Tari Polo-Palo 26. Tarian Daerah Propinsi Sumatra Barat 1. Tari Lilin 2. Tari Payung 3. Tari Piring 27. Tarian Daerah Propinsi Sumatra Selatan 1. Tari Gending Sriwijaya 2. Tari Putri Bekhusek 3. Tari Tanggai 28. Tarian Daerah Propinsi Sumatra Utara 1. Tari Serampang Dua Belas 2. Tari Tor Tor BAB III SIMPULAN DAN SARAN 1. A. SIMPULAN 2. Tari tradisional adalah tari yang telah melampaui perjalanan perkembangannya cukup lama, dan senantiasa berfikir pada pola-pola yang telah mentradisi. 3. Para ahli antropologi percaya bahwa tarian di Indonesia berawal dari gerakan ritual dan upacara keagamaan dan juga alam. 4. Jenis Tari Tradisional ada dua : a) Tari keraton adalah tari yang semula berkembang dikalangan kerajaan dan bangsawan. b) Tari Rakyat merupakan tari yang hidup dan berkembang dikalangan rakyat. 1. Setiap daerah provinsi di Indonesia masing-masing memiliki tarian tradisional. 1. B. SARAN Tari Tradisional belum tentu bernilsi klasik, sebab tari klasik selain mempunyai ciri tradisional harus pula memiliki nilai artistik yang tinggi. Dengan mengenal lebih banyak Tarian adat di seluruh provinsi di indonesia mudah-mudahan membuat kita lebih mencintai negeri kita ini. Sekolah seni tertentu di Indonesia seperti Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Bandung, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di Jakarta, Institut Seni Indonesia (ISI) yang tersebar di Denpasar, Yogyakarta, dan Surakarta kesemuanya mendukung dan menggalakkan siswanya untuk mengeksplorasi dan mengembangkan seni tari tradisional di Indonesia. Beberapa festival tertentu seperti Festival Kesenian Bali dikenal sebagai ajang ternama bagi seniman tari Bali untuk menampilkan tari kreasi baru karya mereka. DAFTAR PUSTAKA Kayam Umar. (1981). Seni Tradisi Masyarakat. Jakarta ; Sinar Harapan. Wibowo, Fred. (1981). Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta ; Liberty. http://id.wikipedia.org http://tiaraantik.com/macam-macam-tarian-daerah-indonesia.html DAFTAR ISI BAB l 1. : PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB II : PEMBAHASAN II.1. Materi Pembelajaran Apresiasi Seni Tari 2 II.2. Pengertian, Tujuan, dan Aspek - Aspek Apresiasi II.3. Materi pembelajaran Kreasi Seni Tari 6 2 BAB III : PENUTUP KESIMPULAN DAN SARAN 11 DAFTAR PUSTAKA 12 Pasted from seni%20tariNew%20Microsoft%20Office%20Word%20Document.docx> BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Setiap siswa memiliki keanekaragaman baik secara fisik,psikis, intelektual, sikap, minat, bakat dan sebagainya. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan segala upaya dan ketabahan serta kesabaran yang maksimal. Sering terdapat sisiwa yang kurang antusias atau kurang serius dalam melakukan gerakan-gerakan, hal semacam ini sesungguhnya amat menjengkelkan dan membosankan. Namun demikian masalah seperti itu perlu dihadapi penuh kesabaran dan ketenangan, sambil diupayakan mencari berbagai solusi untuk mengatasi masalah dan hambatan yang ada. Guru seni harus berupaya semaksimal mungkin untuk memotivasi dan mengajak siswa dalam keikutsertaannya pada kegiatan pembelajaran seni tari. Hal tersebut dimaksudkan supaya seni tari tidak menjadi momok yang menakutkan dan dibenci siswa. Sebaliknya, seni tari justru harus menjadi suatu kegiatan yang menyenangjan dan sekaligus sebagai ajang kreasi dan rekreasi bagi siswa. Oleh karena itu, kegiatan apresiasi ini merupakan stimulus bagi siswa untuk mencintai kekayaan khasanah seni budaya kita. BAB II PEMBAHASAN II.1 Materi Pembelajaran Apresiasi Seni Tari Pembelajaran apresiasi seni tari ini merupakan rangkaian materi lanjutan modul pembelajaran seni budaya dan keterampilan. Setiap siswa memiliki keanekaragaman baik secara fisik, psikis, intelektual, sikap, minat, bakat dan sebagainya. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan segala upaya dan ketabahan serta kesabaran yang maksimal. Sering terdapat siswa yang kurang antusias atau kurang serius dalam melakukan gerakan-gerakan, hal semacam ini sesungguhnya amat menjengkelkan dan membosankan. Namun demikian masalah seperti itu perlu dihadapi penuh kesabaran dan ketenangan, sambil diupayakan mencari berbagai solusi untuk mengatasi masalah dan hambatan yang ada. Guru seni harus berupaya semaksimal mungkin untuk memotivasi dan mengajak siswa dalam keikut sertaannya pada kegiatan pembelajaran seni tari. Dengan demikian seni tari justru harus menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan dan sekaligus berbagai ajang kreasi dan rekreasi bagi siswa. Oleh karena itu, kegiatan apresiasi ini merupakan merupakan stimulus bagi siswa untuk mencintai kekayaan khasanah seni budaya kita. II.2 Pengertian, Tujuan, dan Aspek - Aspek Apresiasi Pengertian Apresiasi Apresiasi seni tari didalamnya mengandung tiga unsur seni dalam berapresiasi yaitu karya seni, aktivitas penciptaan,dan aktivitas penghayatan seni.Ketiga tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Secara etimologi apresiasi berasal dari kata asing ”Appreciation” (inggris), ”appreciatia” (belanda) dan “appreciatus” (latin), yang berarti (latin), yang berarti menghargai. Pada umumnya persoalan apresiasi itu sendiri di antaranya adalah memberikan penilaian dan penghargaan.antara lain: Apresiasi Seni Masyarakat Apresiasi seni di masyarakat pada dasarnya terbagi atas dua golongan yaitu golongan masyarakat apresiasi rendah dan golongan apresiasi tinggi. Yang dimaksud dengan golongan masyarakat rendah adalah daya apresiasinya yang rendah, sedangkan yang dimaksud golongaan masyarakat tinggi adalah masyarakat yang daya apresiasinya tinggi. a. Fungsi Apresiasi Tari Fungsi tari apresiasi tari yaitu memberikan penghargaan, penikmatan, penilaian terhadap seni tari atau kesadaran terhadap seni tari. Penilaian fungsinya untuk mencari nilai-nilai seni tari,memahami isi dan pesan serta mengadakan perbandingan-perbandingan sehingga mendapatkan kesimpulan. Dalam proses apresiasi karya seni akan menimbulkan rasa puas,kecewa,senang dan lain sebagainya kepada penikmat. b. Maksud Apresiasi Tari Maksud dari apresiasi karya seni tari adalah penikmatan terhadap karya seni tari, dengan adanya pengertian yang baik. Selain itu pula maksud apresiasi seni tari adalah kesanggupan mengenal memahami suatu nilai yang terhadap pada sesuatu yang sangat agung atau luhur. c. Tujuan Apresiasi Tari Apresiasi tari mempunyai tujuan untuk mendapatkan pengalaman estetis yang didasari pengalaman si pengamat dalam kesanggupan menerima karya seni yang terarah dan bertujuan didapat dari seni murni atau seni pakai. Untuk mengembangkan daya apresiasi seni tari kita dapat memanfaatkan sumber belajar baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan sumber belajar secara langsung untuk menambah daya apresiasi seni tari,misalnya melihat secara langsung pertunjukan-pertunjukan atau pergelaran-pergelaran tari,mengadakan kunjungan ke sanggar-sanggar tari atau kunjungan ke para seniaman tari. Pemanfaatan sumber belajar secara tidak langsung untuk menambahkan daya apresiasi seni tari,misalnya melalui menonton TV,film,gambar atau foto tari. Aktivitas yang penting dalam karya seni khususnya dalam karya seni tari adalah: Aktivitas kreatif (proses kreatif),proses yang berkenaan dengan proses penciptaan atau pembuatan karya seni,yang dilakukan oleh seniman. Aktivitas apresiatif (proses apresiatif),proses yang berkenaan dengan penikmatan suatu karya seni dan dilakukan oleh para penikmat seni atau apresiator. Kegiatan seni sering disebut juga sebagai proses komunikasi antara seniman yang menyampaikan pesan melalui karya seninya dengan penikmat sebagai apresiatornya yang berusaha menerima pesan dari karya seniman.  Langkah - Langkah Pembelajaran Kegiatan Apresiasi Dalam kegiatan pembelajaran apresiasi seni tari, guru dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut: Memberikan pengarahan dalam kegiatan apresiasi agar anak mempunyai sikap menyenangi/mengagumi dan menghargai karya tari.Penyusunan rencana kegiatan yang dapat dilakukan di luar kelas (jika di sekitar sekolah ada sangga/pertunjukkan tari),yaitu rencana kunjungan ke sanggar tari atau melihat tari-tarian.Memberikan cara penilaian terhadap karya tari yang bersifat obyektif.artinya cara memberikan penilaian secara mudah yang dapat dikerjakan anak.Proses kegiatan apresiasi yang dapat dilakukan dengan cara: Pengenalan terhadap seniman dan karya tari Indonesia Melakukan penilaian karya tari yang mencakup penalaran, penafsiran dan pembahasan/ ulasan. Mengisi formal evaluasi. Tahapan-tahapan dalam apresiasi:  Pengamatan  Penghayatan  Penilaian dan penghargaan  Empati  Aspek - Aspek Apresiasi Aspek-aspek yang ada dalam proses apresiasi, yaitu: Karya seni Jenis berkaitan dengan klasifikasi umum atas karya. Contoh: tari tradisional atau tari kreasi baru (tari tunggal, tari berpasangan, atau tari kelompok) Fungsi, berkaitan dengan kondisi diperuntukan untuk apakah karya tari tersebut, contoh: termasuk tari untuk upacara, tari untuk hiburan, tari untuk pergaulan, atau tari untuk tontonan.Media, berkaitan dengan bahan dan teknik yang disajikan. Contoh: penarinya dan teknik-teknik gerak yang dilakukan penari.            Visual, berkenan dengan hal yang paling penting yaitu unsure visual dan prinsip desain. Contoh: gerak, penguasaan ruang, penggunaan tenaga, rias, busana/ kostum, pola lantai. Seniman dan latar belakang.Aspek yang kedua dalam proses apresiasi ini adalah menyangkut seniman dan latar belakangnya. Dalam hal ini yang menyangkut seniman dan latar belakang penciptaannya disebut ekstraestetis.Tanggapan ekstraestetis adalah berkenaan dengan upaya pemahaman dari pengamat atau apresiator terhadap hal-hal yang melatarbelakangi munculnya karya seni tersebut. Seniman dan karya seni tari Pengertian seniman Pada dasarnya pengertian seniman tari sama dengan pengertian seniman secara umum,yaitu orang yang menghasilkan karya seni,seniman dalam bidang tari hasilnya berupa sebuah karya tari,predikat seniman tari berbeda dengan penari atau pelaku tari. Seorang seniman tari tugasnya adalah menciptakan suatu karya tari,maka dapat dikatakan bahwa seniman tari adalah koreografer.Seorang koreografer harus mampu mengekspresikan ide-idenya atau imajinasinya ke dalam bahasa gerak,karena tari itu merupakan media komunikasi melalui gerak yang ritmis antar penikmat dengan koreografernya. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa seniman tari antara lain harus memiliki: Imajinasi yang tinggi Kemampuan untuk mengekspresikan imajinasinya melalui bahasa gerak Mempunyai daya kreativitas yang tinggi Mempunyai kepekaan rasa keindahan yang tinggi. Pengertian karya seni tari Pengertian karya seni pada prinsipnya sama,yaitu tentang hasil ciptaan manusia,sedangkan karya seni tari,hasilnya berupa seni pertunjukkan (suatu karya seni tari). Ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam meningkatkan pengalamkan usaha untuk menambah kekayaan dan kemantapan profesi berkarya seni tari antara lain: Kemantapan profesi Kepekaan estetik Keterampilan perbuatan estetik II.3 Materi pembelajaran Kreasi Seni Tari Pertumbuhan jiwa seni pada setiap anak berbeda, tergantung lingkungan yang kondusif dan dan peran orang tua. Pengaruh tersebut menyebabkan jiwa seni yang dimiliki oleh setiap orang berbedabeda intensitas dan kualitasnya. Dengan demikian proses kreatif akan terjadi bila kegiatan pembelajarannya dikondisikan dalam aktivitas kerja sama serta memiliki keberanian didalam merefleksikan sikap dalam bentuk kreativitas tari Pengembangan Kreativitas Dalam membantu mewujudkan kreativitas anak, mereka perlu dilatih keterampilan tertentu sesuai dengan minat pribadinya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat atau talenta mereka. Untuk menumbuhkan motivasi intrinsic pada anak, sebaiknya anak diberikan kebebasan berpikir dengan menyediakan sarana dan prasarana yang merangsang minat anak, sehingga dorongan ke arah kreativitas menjadi semakin kuat. Kreativitas anak dapat dihambat dengan suasana emosional yang mencerminkan rasa permusuhan, penolakan atau rasa terpisah. Tetapi keterikatan emosional yang berlebih juga tidak menunjang pengembangan kreativitas anak, mungkin karena kurang memberi kebebasan kepada anak untuk tidak tergantung kepada orang lain dalam menentukan pendapat atau minat. Untuk mewujudkan kemampuan potensial mereka diperlukan pelayanan khusus dari guru yang memiliki karakteristik khusus dan mendapat pelatihan khusus.. Membangkitkan Kreativitas Siswa Proses pendidikan adalah mempelajari situasi pendidikan dengan focus utama interaksi pendidikan, yaitu interaksi antara peserta didik dengan peserta didik yang berlangsung dalam lingkungan belajar. Syaodih (2003:31 dalam Sagala, 2005:120) mengatakan bahwa seluruh kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa, yaitu membantu pengembangan semua potensi dan kecakapan yang dimilikinya setingi-tingginya. Guru mempunyai dampak yang besar tidak hanya pada prestasi pendidikan anak, tetapi juga pada sikap anak terhadap sekolah dan terhadap belajar pada umumnya. Namun guru juga dapat melumpuhkan keingintahuan anak, merusak motivasi, harga diri, dan kreativitas anak. Bahkan guru-guru dapat mempengaruhi anak melebihi orang tua. Hal ini disebabkan guru lebih banyak kesempatan untuk merangsang atau menghambat kreativitas anak ketimbang orang tua. Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Cara yang paling baik bagi guru untuk mengembangkan kreativitas tari anak ialah dengan mendorong motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik akan tumbuh,bila guru memungkinkan anak bisa diberi otonomi sampai batas tertentu dikelas. Untuk lebih menggali potensi peserta didik dalam menari anak diberi kebebasan mengembangkan dan mengekspresikan daya imajinasinya, sehingga potensi yang ada pada dirinya dapat betul-betul berkembang. Dalam proses kreatif ini guru berperan sebagai motivator dan fasilitator, anak didorong untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri atau mengaktualisasikan diri melalui karya kreatifnya. Tari dalam konteks pendidikan menurut Yulianti Parani (1984), merupakan kegiatan yang kreatif dan konstruktif,serta menumbuhkan intensitas emosional dan makna-makna. Ia dapat menjadi aktivitas rekreasi, tetapi juga dapat menjadi alat ekspresi dan laku estetis, dan disinilah letak nilainya bagi anak-anak. Dalam pendidikan, gerak tari harus kita amati dari watak ekspresinya sebab inilah yang mencerminkan nilai imajinasi anak. Pada anak usia SD/MI,SMP dan SMA juga masih tergolong pada masa peniruan, karena anak lebih suka menirukan gerak-gerik oranng dewasa dan objek apapun tidak lolos dari pengamatannya yang kemudian dijadikan bahan peniruannya. Tindakan meniru ini adalah awal anak belajar, sehingga dalam susunan tarian anak-anak sifatnya lebih kepada peniruan atau imitatif. Melalui pembelajaran seni tari di diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas siswa, sehingga kelak dikemudian hari ia mampu berdiri diatas kaki sendiri. Komposisi Tari Komposisi pada dasarnya dilakukan melalui percobaan-percobaan (trail and error) dengan landasan pengetahuan kepekaan, dan intuisi. Pengetahuan komposisi adalah pengetahuan yang harus diketahui oleh seseorang yang bermaksud hendak mencipta atau menata tari. Sejak mengolah, memilih, dan menyusun/menata gerak selaras dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk keberhasilan pementasan didepan penonton (Sal Murgiyanto, 1981:6). Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam rangka mencapai sebuah komposisi adalah adanya prinsip-prinsip bentuk seni, diantaranya yaitu: Kesatuan yang utuh (Unity), Keragaman (Variasi), Pengulangan (Repetisi), Kontras, Transisi, Urutan (Sequence), Klimaks, Keseimbangan (Balance), dan harmoni.        Desain Lantai Yang dimaksud dengan desain lantai atau floor design adalah garis-garis dilantai yang dibentuk oleh seorang penari, atau garis-garis dilantai yang terbentuk oleh formasi penari kelompok. Secara garis besar terdapat dua pola garis dasar pada lantai, yaitu pola garis lurus dan pola garis lengkung (Purwatiningsihm 1998/1999:144). Sementara itu menurut La Meri (Dalam Soedarsono, 1975:4), desain lantai adalah pola yang dilintasi oleh gerak-gerak darikomposisi diruang tari.Ruang Tari (Dancing Space)Daerah yang paling kuat dalam ruang tari ialah dead center. Secara urut kekuatan ruang dalam tari ada enam daerah, yaitu up center, down-center, up-right, up-left,down-right, dan down left.Daerah yang paling lemah dari stage ialah bagian-bagian samping. Daerah lemah lainnya ialah down stage: antara pusat dari kanan serta pusat dari kiri; right-stage:antara up dan down; leftstage: antara up dan down; up-stage dari pusat (tengah) kekiri dan kanan.Untuk masuk dan keluar, tempat yang paling kuat ialah center-up (back). Tempat lainnya adalah empat susut (up-right dan up-left, down-right dan down left).Pola-Pola Garis DasarGaris lurus dapat bergerak ke up-stage atau down stage, menyilang atau menyudut (serong).Dasar dari desain V atau kebalikan dari V, dari segitiga, dan desain T atau kebalikannya, dari kaca jam dan zig-zag. Desain Atas Desain atas (Air design) menurut La Meri dalam Soedarsono (1976:23), adalah design yang berada di udara di atas lantai, yaitu design yang dilihat olelh penonton terlintas pada back drop. Purwatiningsih (1998/1999:173) menyatakan bahwa desain atas (air design) adalah desai yang berada diatas lantai, yang dilihat oleh penonton yang tampak terlukis pada ruang yang berada diatas lantai. Dalam desain air terdapat elemen-elemen dasar yang menurut La Meri ada 16 elemen dasar, sedangkan menurut Purwatiningsih ada 19 elemen dasar yang masing-masing memiliki sentuhan emosional tertentu terhadap penonton. Elemen-elemen dasar itu antara lain: Datar Dalam Vertikal Horizontal Kontras        Murni Statis Lurus Lengkung Bersudut Spiral Desain Dramatik Desain dramatik dari sebuah komposisi adalah tanjakan emosional, dinamika dan jatuhnya keseluruhan. Desain dramatik juga mempunyai arti sebagai pengaturan dan perkembangan emosional dan sebuah komposisi untuk me ncapai klimaks serta pengaturan bagaimana cara menyelesaikan atau mengakhiri sebuah tarian. Untuk mendapat keutuhan garapan tari baik yang berbentuk tari solo maupun tari kelompok, harus diperhatikan desain dramatiknya. Satu garapan tari yang utuh ibarat sebuah ceritera yang memiliki pembuka, klimaks, dan penutup. Dalam menata desain dramatik, ada dua buah desain garisyang dapat diikuti,yaitu desain yang berbentuk kerucut tunggal dan desain yang berbentuk kerucut ganda.Desain kerucut tunggal,Desain kerucut ganda. Contoh Seni Tari BAB III PENUTUP KESIMPULAN DAN SARAN Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa : Dalam apresiasi seni tari mengandung tiga unsur seni, yaitu karya senni, ktivitas penciptaan, dan aktivitas penghayatan seni. Adapun aspek – aspek dalam seni tari yaitu karya seni, seniman, dan karya seni tari.Seniman tari harus memiliki imajinasi yang tinggi, kemampuan untuk mengekspresikan imajinasinya melalui bahasa gerak, mempunyai daya kreativitas dan kepekaan rasa keindahan yang tinggi.Untuk lebih menggali potensi peserta didik guru dapat memberikan kebebasan pada anak untuk mengembangkan imajinasinya sendiri tanpa campur tangan guru. Seluruh kegiatan kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa. Desain lantai atau floor design adalah garis-garis di lantai yang dibentuk oleh seorang penari, atau garis-garis dilantai yang dibentuk oleh formasi penari kelompok. Sedangkan design atas adalah desian yang berada diudara di atas lantai,yaitu desain yang dilihat oleh penonton terlintas pada back drop. Elemen – elemen dasar dalam desain atas, yaitu: desain datar, desain dalam, desain vertikal, desain horizontal, desain kontras, desain murni, desain statis, desain lurus, desain lengkung, desain bersudut, desain spiral, desain tinggi, desain medium, desain rendah, desain terlukis,desain tertunda, desain lanjutan, desain simetris, dan desain asimetris. Pembelajaran seni tari tidak terlepas dari komponen-komponen pembelajaran seperti tujuan, bahan/materi, metode dan alat/media, dan penilaian. Pembelajaran tari dapat dibagi menjadi dua, yaitu pembelajaran praktek dan pembelajaran apresiatif.Bahan ajar ialah isi yang diberikan kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Bahan ajar terdiri atas bahan cetak, bahan ajar audio, bahan ajar pandang dengar (audio visual) bahan ajar interaktif. DAFTAR PUSTAKA A.M. Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Cahyono, Agus. 2003. Materi dan Pembelajaran Kertakes SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Hidayat, Robby. 2005. Menerobos Pembelajaran Tari Pendidikan. Malang: Banjar Seni Gantar Gumelar. Karyati, Dewi dkk.2005. Pengantar Bahan Ajar Pendidikan Seni Tari dan Drama. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Purwatiningsih, Ninik Hartini. 1999. Pendidikan Seni Tari-Drama. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Soedarsono. 1978. Tari-Tarian Indonesia I. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sudjana, Nana. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Menngajar. Bandung: Sinar Baru. Tisnasomantri, Akub. 1990. Metode Pengajaran Praktek Tari. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Pasted from seni%20tariseni%20tari.docx> BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar belakang Setiap siswa memiliki keanekaragaman baik secara fisik,psikis, intelektual, sikap, minat, bakat dan sebagainya. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan segala upaya dan ketabahan serta kesabaran yang maksimal. Sering terdapat sisiwa yang kurang antusias atau kurang serius dalam melakukan gerakan-gerakan, hal semacam ini sesungguhnya amat menjengkelkan dan membosankan. Namun demikian masalah seperti itu perlu dihadapi penuh kesabaran dan ketenangan, sambil diupayakan mencari berbagai solusi untuk mengatasi masalah dan hambatan yang ada. Guru seni harus berupaya semaksimal mungkin untuk memotivasi dan mengajak siswa dalam keikutsertaannya pada kegiatan pembelajaran seni tari. Hal tersebut dimaksudkan supaya seni tari tidak menjadi momok yang menakutkan dan dibenci siswa. Sebaliknya, seni tari justru harus menjadi suatu kegiatan yang menyenangjan dan sekaligus sebagai ajang kreasi dan rekreasi bagi siswa. Oleh karena itu, kegiatan apresiasi ini merupakan stimulus bagi siswa untuk mencintai kekayaan khasanah seni budaya kita. BAB II PEMBAHASAN II.1 Materi Pembelajaran Apresiasi Seni Tari Pembelajaran apresiasi seni tari ini merupakan rangkaian materi lanjutan modul pembelajaran seni budaya dan keterampilan. Setiap siswa memiliki keanekaragaman baik secara fisik, psikis, intelektual, sikap, minat, bakat dan sebagainya. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan segala upaya dan ketabahan serta kesabaran yang maksimal. Sering terdapat siswa yang kurang antusias atau kurang serius dalam melakukan gerakan-gerakan, hal semacam ini sesungguhnya amat menjengkelkan dan membosankan. Namun demikian masalah seperti itu perlu dihadapi penuh kesabaran dan ketenangan, sambil diupayakan mencari berbagai solusi untuk mengatasi masalah dan hambatan yang ada. Guru seni harus berupaya semaksimal mungkin untuk memotivasi dan mengajak siswa dalam keikut sertaannya pada kegiatan pembelajaran seni tari. Dengan demikian seni tari justru harus menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan dan sekaligus berbagai ajang kreasi dan rekreasi bagi siswa. Oleh karena itu, kegiatan apresiasi ini merupakan merupakan stimulus bagi siswa untuk mencintai kekayaan khasanah seni budaya kita. II.2 Pengertian, Tujuan, dan Aspek - Aspek Apresiasi Pengertian Apresiasi Apresiasi seni tari didalamnya mengandung tiga unsur seni dalam berapresiasi yaitu karya seni, aktivitas penciptaan,dan aktivitas penghayatan seni.Ketiga tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Secara etimologi apresiasi berasal dari kata asing ”Appreciation” (inggris), ”appreciatia” (belanda) dan “appreciatus” (latin), yang berarti (latin), yang berarti menghargai. Pada umumnya persoalan apresiasi itu sendiri di antaranya adalah memberikan penilaian dan penghargaan.antara lain:  Apresiasi Seni Masyarakat Apresiasi seni di masyarakat pada dasarnya terbagi atas dua golongan yaitu golongan masyarakat apresiasi rendah dan golongan apresiasi tinggi. Yang dimaksud dengan golongan masyarakat rendah adalah daya apresiasinya yang rendah, sedangkan yang dimaksud golongaan masyarakat tinggi adalah masyarakat yang daya apresiasinya tinggi. a. Fungsi Apresiasi Tari Fungsi tari apresiasi tari yaitu memberikan penghargaan, penikmatan, penilaian terhadap seni tari atau kesadaran terhadap seni tari. Penilaian fungsinya untuk mencari nilai-nilai seni tari,memahami isi dan pesan serta mengadakan perbandingan-perbandingan sehingga mendapatkan kesimpulan. Dalam proses apresiasi karya seni akan menimbulkan rasa puas,kecewa,senang dan lain sebagainya kepada penikmat. b. Maksud Apresiasi Tari Maksud dari apresiasi karya seni tari adalah penikmatan terhadap karya seni tari, dengan adanya pengertian yang baik. Selain itu pula maksud apresiasi seni tari adalah kesanggupan mengenal memahami suatu nilai yang terhadap pada sesuatu yang sangat agung atau luhur. c. Tujuan Apresiasi Tari Apresiasi tari mempunyai tujuan untuk mendapatkan pengalaman estetis yang didasari pengalaman si pengamat dalam kesanggupan menerima karya seni yang terarah dan bertujuan didapat dari seni murni atau seni pakai. Untuk mengembangkan daya apresiasi seni tari kita dapat memanfaatkan sumber belajar baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemanfaatan sumber belajar secara langsung untuk menambah daya apresiasi seni tari,misalnya melihat secara langsung pertunjukan-pertunjukan atau pergelaran-pergelaran tari,mengadakan kunjungan ke sanggar-sanggar tari atau kunjungan ke para seniaman tari. Pemanfaatan sumber belajar secara tidak langsung untuk menambahkan daya apresiasi seni tari,misalnya melalui menonton TV,film,gambar atau foto tari. Aktivitas yang penting dalam karya seni khususnya dalam karya seni tari adalah: Aktivitas kreatif (proses kreatif),proses yang berkenaan dengan proses penciptaan atau pembuatan karya seni,yang dilakukan oleh seniman. Aktivitas apresiatif (proses apresiatif),proses yang berkenaan dengan penikmatan suatu karya seni dan dilakukan oleh para penikmat seni atau apresiator. Kegiatan seni sering disebut juga sebagai proses komunikasi antara seniman yang menyampaikan pesan melalui karya seninya dengan penikmat sebagai apresiatornya yang berusaha menerima pesan dari karya seniman.  Langkah - Langkah Pembelajaran Kegiatan Apresiasi Dalam kegiatan pembelajaran apresiasi seni tari, guru dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut: Memberikan pengarahan dalam kegiatan apresiasi agar anak mempunyai sikap menyenangi/mengagumi dan menghargai karya tari.Penyusunan rencana kegiatan yang dapat dilakukan di luar kelas (jika di sekitar sekolah ada sangga/pertunjukkan tari),yaitu rencana kunjungan ke sanggar tari atau melihat tari-tarian.Memberikan cara penilaian terhadap karya tari yang bersifat obyektif.artinya cara memberikan penilaian secara mudah yang dapat dikerjakan anak.Proses kegiatan apresiasi yang dapat dilakukan dengan cara: Pengenalan terhadap seniman dan karya tari Indonesia Melakukan penilaian karya tari yang mencakup penalaran, penafsiran dan pembahasan/ ulasan. Mengisi formal evaluasi. Tahapan-tahapan dalam apresiasi:  Pengamatan               Penghayatan Penilaian dan penghargaan Empati Aspek - Aspek Apresiasi Aspek-aspek yang ada dalam proses apresiasi, yaitu: Karya seni Jenis berkaitan dengan klasifikasi umum atas karya. Contoh: tari tradisional atau tari kreasi baru (tari tunggal, tari berpasangan, atau tari kelompok) Fungsi, berkaitan dengan kondisi diperuntukan untuk apakah karya tari tersebut, contoh: termasuk tari untuk upacara, tari untuk hiburan, tari untuk pergaulan, atau tari untuk tontonan.Media, berkaitan dengan bahan dan teknik yang disajikan. Contoh: penarinya dan teknik-teknik gerak yang dilakukan penari. Visual, berkenan dengan hal yang paling penting yaitu unsure visual dan prinsip desain. Contoh: gerak, penguasaan ruang, penggunaan tenaga, rias, busana/ kostum, pola lantai. Seniman dan latar belakang.Aspek yang kedua dalam proses apresiasi ini adalah menyangkut seniman dan latar belakangnya. Dalam hal ini yang menyangkut seniman dan latar belakang penciptaannya disebut ekstraestetis.Tanggapan ekstraestetis adalah berkenaan dengan upaya pemahaman dari pengamat atau apresiator terhadap hal-hal yang melatarbelakangi munculnya karya seni tersebut. Seniman dan karya seni tari Pengertian seniman Pada dasarnya pengertian seniman tari sama dengan pengertian seniman secara umum,yaitu orang yang menghasilkan karya seni,seniman dalam bidang tari hasilnya berupa sebuah karya tari,predikat seniman tari berbeda dengan penari atau pelaku tari. Seorang seniman tari tugasnya adalah menciptakan suatu karya tari,maka dapat dikatakan bahwa seniman tari adalah koreografer.Seorang koreografer harus mampu mengekspresikan ide-idenya atau imajinasinya ke dalam bahasa gerak,karena tari itu merupakan media komunikasi melalui gerak yang ritmis antar penikmat dengan koreografernya. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa seniman tari antara lain harus memiliki: Imajinasi yang tinggi Kemampuan untuk mengekspresikan imajinasinya melalui bahasa gerak Mempunyai daya kreativitas yang tinggi Mempunyai kepekaan rasa keindahan yang tinggi. Pengertian karya seni tari Pengertian karya seni pada prinsipnya sama,yaitu tentang hasil ciptaan manusia,sedangkan karya seni tari,hasilnya berupa seni pertunjukkan (suatu karya seni tari). Ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam meningkatkan pengalamkan usaha untuk menambah kekayaan dan kemantapan profesi berkarya seni tari antara lain: Kemantapan profesi Kepekaan estetik Keterampilan perbuatan estetik II.3 Materi pembelajaran Kreasi Seni Tari Pertumbuhan jiwa seni pada setiap anak berbeda, tergantung lingkungan yang kondusif dan dan peran orang tua. Pengaruh tersebut menyebabkan jiwa seni yang dimiliki oleh setiap orang berbedabeda intensitas dan kualitasnya. Dengan demikian proses kreatif akan terjadi bila kegiatan pembelajarannya dikondisikan dalam aktivitas kerja sama serta memiliki keberanian didalam merefleksikan sikap dalam bentuk kreativitas tari Pengembangan Kreativitas Dalam membantu mewujudkan kreativitas anak, mereka perlu dilatih keterampilan tertentu sesuai dengan minat pribadinya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat atau talenta mereka. Untuk menumbuhkan motivasi intrinsic pada anak, sebaiknya anak diberikan kebebasan berpikir dengan menyediakan sarana dan prasarana yang merangsang minat anak, sehingga dorongan ke arah kreativitas menjadi semakin kuat. Kreativitas anak dapat dihambat dengan suasana emosional yang mencerminkan rasa permusuhan, penolakan atau rasa terpisah. Tetapi keterikatan emosional yang berlebih juga tidak menunjang pengembangan kreativitas anak, mungkin karena kurang memberi kebebasan kepada anak untuk tidak tergantung kepada orang lain dalam menentukan pendapat atau minat. Untuk mewujudkan kemampuan potensial mereka diperlukan pelayanan khusus dari guru yang memiliki karakteristik khusus dan mendapat pelatihan khusus.. Membangkitkan Kreativitas Siswa Proses pendidikan adalah mempelajari situasi pendidikan dengan focus utama interaksi pendidikan, yaitu interaksi antara peserta didik dengan peserta didik yang berlangsung dalam lingkungan belajar. Syaodih (2003:31 dalam Sagala, 2005:120) mengatakan bahwa seluruh kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa, yaitu membantu pengembangan semua potensi dan kecakapan yang dimilikinya setingi-tingginya. Guru mempunyai dampak yang besar tidak hanya pada prestasi pendidikan anak, tetapi juga pada sikap anak terhadap sekolah dan terhadap belajar pada umumnya. Namun guru juga dapat melumpuhkan keingintahuan anak, merusak motivasi, harga diri, dan kreativitas anak. Bahkan guru-guru dapat mempengaruhi anak melebihi orang tua. Hal ini disebabkan guru lebih banyak kesempatan untuk merangsang atau menghambat kreativitas anak ketimbang orang tua. Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Cara yang paling baik bagi guru untuk mengembangkan kreativitas tari anak ialah dengan mendorong motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik akan tumbuh,bila guru memungkinkan anak bisa diberi otonomi sampai batas tertentu dikelas. Untuk lebih menggali potensi peserta didik dalam menari anak diberi kebebasan mengembangkan dan mengekspresikan daya imajinasinya, sehingga potensi yang ada pada dirinya dapat betul-betul berkembang. Dalam proses kreatif ini guru berperan sebagai motivator dan fasilitator, anak didorong untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri atau mengaktualisasikan diri melalui karya kreatifnya. Tari dalam konteks pendidikan menurut Yulianti Parani (1984), merupakan kegiatan yang kreatif dan konstruktif,serta menumbuhkan intensitas emosional dan makna-makna. Ia dapat menjadi aktivitas rekreasi, tetapi juga dapat menjadi alat ekspresi dan laku estetis, dan disinilah letak nilainya bagi anak-anak. Dalam pendidikan, gerak tari harus kita amati dari watak ekspresinya sebab inilah yang mencerminkan nilai imajinasi anak. Pada anak usia SD/MI,SMP dan SMA juga masih tergolong pada masa peniruan, karena anak lebih suka menirukan gerak-gerik oranng dewasa dan objek apapun tidak lolos dari pengamatannya yang kemudian dijadikan bahan peniruannya. Tindakan meniru ini adalah awal anak belajar, sehingga dalam susunan tarian anak-anak sifatnya lebih kepada peniruan atau imitatif. Melalui pembelajaran seni tari di diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas siswa, sehingga kelak dikemudian hari ia mampu berdiri diatas kaki sendiri. Komposisi Tari Komposisi pada dasarnya dilakukan melalui percobaan-percobaan (trail and error) dengan landasan pengetahuan kepekaan, dan intuisi. Pengetahuan komposisi adalah pengetahuan yang harus diketahui oleh seseorang yang bermaksud hendak mencipta atau menata tari. Sejak mengolah, memilih, dan menyusun/menata gerak selaras dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk keberhasilan pementasan didepan penonton (Sal Murgiyanto, 1981:6). Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam rangka mencapai sebuah komposisi adalah adanya prinsip-prinsip bentuk seni, diantaranya yaitu: Kesatuan yang utuh (Unity), Keragaman (Variasi), Pengulangan (Repetisi), Kontras, Transisi, Urutan (Sequence), Klimaks, Keseimbangan (Balance), dan harmoni. Desain Lantai Yang dimaksud dengan desain lantai atau floor design adalah garis-garis dilantai yang dibentuk oleh seorang penari, atau garis-garis dilantai yang terbentuk oleh formasi penari kelompok. Secara garis besar terdapat dua pola garis dasar pada lantai, yaitu pola garis lurus dan pola garis lengkung (Purwatiningsihm 1998/1999:144). Sementara itu menurut La Meri (Dalam Soedarsono, 1975:4), desain lantai adalah pola yang dilintasi oleh gerak-gerak darikomposisi diruang tari.Ruang Tari (Dancing Space)Daerah yang paling kuat dalam ruang tari ialah dead center. Secara urut kekuatan ruang dalam tari ada enam daerah, yaitu up center, down-center, up-right, up-left,down-right, dan down left.Daerah yang paling lemah dari stage ialah bagian-bagian samping. Daerah lemah lainnya ialah down stage: antara pusat dari kanan serta pusat dari kiri; right-stage:antara up dan down; leftstage: antara up dan down; up-stage dari pusat (tengah) kekiri dan kanan.Untuk masuk dan keluar, tempat yang paling kuat ialah center-up (back). Tempat lainnya adalah empat susut (up-right dan up-left, down-right dan down left).Pola-Pola Garis DasarGaris lurus dapat bergerak ke up-stage atau down stage, menyilang atau menyudut (serong).Dasar dari desain V atau kebalikan dari V, dari segitiga, dan desain T atau kebalikannya, dari kaca jam dan zig-zag.  Desain Atas Desain atas (Air design) menurut La Meri dalam Soedarsono (1976:23), adalah design yang berada di udara di atas lantai, yaitu design yang dilihat olelh penonton terlintas pada back drop. Purwatiningsih (1998/1999:173) menyatakan bahwa desain atas (air design) adalah desai yang              berada diatas lantai, yang dilihat oleh penonton yang tampak terlukis pada ruang yang berada diatas lantai. Dalam desain air terdapat elemen-elemen dasar yang menurut La Meri ada 16 elemen dasar, sedangkan menurut Purwatiningsih ada 19 elemen dasar yang masing-masing memiliki sentuhan emosional tertentu terhadap penonton. Elemen-elemen dasar itu antara lain: Datar Dalam Vertikal Horizontal Kontras Murni Statis Lurus Lengkung Bersudut Spiral Desain Dramatik Desain dramatik dari sebuah komposisi adalah tanjakan emosional, dinamika dan jatuhnya keseluruhan. Desain dramatik juga mempunyai arti sebagai pengaturan dan perkembangan emosional dan sebuah komposisi untuk me ncapai klimaks serta pengaturan bagaimana cara menyelesaikan atau mengakhiri sebuah tarian. Untuk mendapat keutuhan garapan tari baik yang berbentuk tari solo maupun tari kelompok, harus diperhatikan desain dramatiknya. Satu garapan tari yang utuh ibarat sebuah ceritera yang memiliki pembuka, klimaks, dan penutup. Dalam menata desain dramatik, ada dua buah desain garisyang dapat diikuti,yaitu desain yang berbentuk kerucut tunggal dan desain yang berbentuk kerucut ganda.Desain kerucut tunggal,Desain kerucut ganda. BAB III PENUTUP KESIMPULAN DAN SARAN Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa : Dalam apresiasi seni tari mengandung tiga unsur seni, yaitu karya senni, ktivitas penciptaan, dan aktivitas penghayatan seni. Adapun aspek – aspek dalam seni tari yaitu karya seni, seniman, dan karya seni tari.Seniman tari harus memiliki imajinasi yang tinggi, kemampuan untuk mengekspresikan imajinasinya melalui bahasa gerak, mempunyai daya kreativitas dan kepekaan rasa keindahan yang tinggi.Untuk lebih menggali potensi peserta didik guru dapat memberikan kebebasan pada anak untuk mengembangkan imajinasinya sendiri tanpa campur tangan guru. Seluruh kegiatan kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa. Desain lantai atau floor design adalah garis-garis di lantai yang dibentuk oleh seorang penari, atau garis-garis dilantai yang dibentuk oleh formasi penari kelompok. Sedangkan design atas adalah desian yang berada diudara di atas lantai,yaitu desain yang dilihat oleh penonton terlintas pada back drop. Elemen – elemen dasar dalam desain atas, yaitu: desain datar, desain dalam, desain vertikal, desain horizontal, desain kontras, desain murni, desain statis, desain lurus, desain lengkung, desain bersudut, desain spiral, desain tinggi, desain medium, desain rendah, desain terlukis,desain tertunda, desain lanjutan, desain simetris, dan desain asimetris. Pembelajaran seni tari tidak terlepas dari komponen-komponen pembelajaran seperti tujuan, bahan/materi, metode dan alat/media, dan penilaian. Pembelajaran tari dapat dibagi menjadi dua, yaitu pembelajaran praktek dan pembelajaran apresiatif.Bahan ajar ialah isi yang diberikan kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Bahan ajar terdiri atas bahan cetak, bahan ajar audio, bahan ajar pandang dengar (audio visual) bahan ajar interaktif. DAFTAR PUSTAKA A.M. Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Cahyono, Agus. 2003. Materi dan Pembelajaran Kertakes SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Hidayat, Robby. 2005. Menerobos Pembelajaran Tari Pendidikan. Malang: Banjar Seni Gantar Gumelar. Karyati, Dewi dkk.2005. Pengantar Bahan Ajar Pendidikan Seni Tari dan Drama. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Purwatiningsih, Ninik Hartini. 1999. Pendidikan Seni Tari-Drama. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Soedarsono. 1978. Tari-Tarian Indonesia I. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sudjana, Nana. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Menngajar. Bandung: Sinar Baru. Tisnasomantri, Akub. 1990. Metode Pengajaran Praktek Tari. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Pasted from seni%20tariseni%20tari.docx> KATA PENGANTAR Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “NARKOBA” Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas di sekolah .Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini. Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin. TTD PENULIS Pasted from seni%20tarikta%20pngntar.docx>

Judul: Seni Tari Makalah

Oleh: Zaenal Ladin


Ikuti kami