Makalah Deforestrasi Oleh

Oleh Yulianti Pratama

460,9 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Deforestrasi Oleh

MAKALAH DEFORESTRASI Oleh: Nama : Elisabeth Yulianti Pratama NIM : 1804020118 Dosen PA : Ir.M.R.Pellokila,Mp.Ph.d Kelas : Agribisnis III Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana Kupang 2020 Kata Pengantar Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan izin dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul.“Deforestrasi”.Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kepada pembaca dan melengkapi materi yang tak di bahas secara mendetail di buku. Makalah ini dibuat sebagai referensi sekaligus menjadi salah satu penilaian dari dosen.Diharapkan makalah ini dapat memberikan sekaligus menambah pengetahuan pembaca.Makalah ini berisi informasi tentang deforestrasi. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata,saya ucapkan selamat membaca semoga bermanfaat dan menambah wawasan. Kupang, Mei 2020 Penulis ii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………i KATA PENGANTAR………………………...………………………………………..ii DAFTAR ISI………………………………………..………………………………….iii BAB I PENDAHULUAN……………………………………………….………………1 1.1 Latar Belakang …………………………………….…………………………..1 1.2 Tujuan Penulisan………………………………………………………….……1 1.3 Manfaat Penulisan…………………………………………………….…...….2 BAB II KAJIAN PUSTAKA…………………………………………………………....3 BAB III PEMBAHASAN…………………………………………………….………....6 3.1 Deforestrasi Hutan ………………….…..…………………………………..….6 3.2 Dampak Deforestrasi………………………………………………………..….7 3.3 Upaya Yang Dilakukan………………………………………………………...8 BAB IV PENUTUP…………………………………...…………………………….….10 4.1 Kesimpulan…………………………………………………..………………...10 4.2. Saran……………………………………………………..……………………11 DAFTAR PUSTAKA……………………………….…………………………………12 iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhanlainnya. Hutan merupakan sistem penggunaan lahan yang tertutup dan tidak ada campur tanganmanusia, masuknya kepentingan manusia secara terbatas seperti pengambilan hasil hutan untuk subsistem tidak mengganggu hutan dan fungsi hutan. Tekanan penduduk dan tekanan ekonomi yangsemakin besar, mengakibatkan pengambilan hasil hutan semakin intensif (penebangan kayu).Penebangan hutan juga dilakukan untuk kepentingan yang lain, misalnya untuk mengubah menjadiladang pertanian atau perkebunan. Akibat dari gangguan gangguan hutan tersebut akanmenyebabkan terjadinya perubahan fungsi hutan. Perubahan perubahan tersebut lebih menekankankearah fungsi ekonomi dengan mengabaikan fungsi sosial atau fungsi ekologis.konsep pengelolaan hutan secara bijaksana, harus mengembalikan fungsi hutan secaramenyeluruh (fungsi ekologis, fungsi sosial dan fungsi ekonomi) dengan lebih menekankan kepadaperan pemerintah, peran masyarakat dan peran swasta. "angkah langkah yang sinergi dari ke tigakomponen (pemerintah, masyarakat dan swasta) akan mewujudkan fungsi hutan secara menyeluruh yang menciptakan pengamanan dan pelestarian hutan 1.2 Tujuan Penulisan Untuk mengetahui apa itu deforestrasi,dampaknya serta upaya penganggulangannya 1 1.3 Manfaat Penulisan Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan ini adalah: 1.Bagi pemerintah agar dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah untuk melakukan peninjauan pada kementrian kehutanan Indonesia agar menerapkan kebijakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. 2.Bagi masyarakat adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi deforestasi di Indonesia. 3.Bagi penulis adalah penelitian ini dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan penulis tentang teori dan permasalahan deforestasi di Indonesia. Penelitian ini juga berguna dalam penerapan teori-teori yang pernah penulis dapat ketika perkuliahan dengan keadaan yang sebenarnya. 2 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Degradasi Hutan Menurut Lamb (1994), degradasi hutan memiliki arti yang berbeda tergantung pada suatu kelompok masyarakat. Rimbawan memiliki persepsi yang bervariasi terhadap arti degradasi. Sebagian mengatakan bahwa hutan yang terdegradasi adalah hutan yang telah mengalami kerusakan sampai pada suatu point/titik dimana penebangan kayu maupun non kayu pada periode yang akan datang menjadi tertunda atau terhambat semuanya. Sedangkan sebagian lainnya mendefinisikan hutan yang terdegradasi sebagai suatu keadaan dimana fungsi ekologis, ekonomis dan sosial hutan tidak terpenuhi. Sedangkan menurut Oldeman (1992) mengatakan bahwa degradasi adalah suatu proses dimana terjadi penurunan kapasitas baik saat ini maupun masa mendatang dalam memberikan hasil (product). Penebangan hutan yang semena-mena merupakan degradasi lahan. Selain itu tidak terkendali dan tidak terencananya penebangan hutan secara baik merupakan bahaya ekologis yang paling besar. Kerusakan lahan atau tanah akan berpengaruh terhadap habitat semua makhluk hidup yang ada di dalamnya dan kerusakan habitat sangat berpengaruh terhadap kelangsungan makhluk hidup yang disangganya. Dan menurut Angelsen, A (2010), adalah perubahan didalam hutan yang merugikan susunan atau fungsi tegakan hutan atau kawasan hutan sehingga menurunkan kemampuannya untuk menyediakan berbagai barang atau jasa. Dalam hal Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD), degradasi paling mudah diukur dalam hal berkurangnya cadangan karbon di hutan yang dipertahankan sebagai hutan. Menurut Tryono, Slamet (2010), ada dua faktor penyebab terjadinya degradasi hutan, pertama penyebab yang bersifat tidak langsung dan kedua penyebab yang bersifat langsung. 3 Faktor penyebab tidak langsung merupakan penyebab yang sangat dominan terhadap kerusakan lingkungan, sedangkan yang bersifat langsung, terbatas pada ulah penduduk setempat yang terpaksa mengeksploitasi hutan secara berlebihan karena desakan kebutuhan. Faktor penyebab bersifat tidak langsung antara lain: 1) pertambahan penduduk, 2) kebijakan pemerintah yang berdampak negatif terhadap lingkungan, 3) dampak industrialisasi perkayuan, perumahan dan industri kertas, 4) reboisasi dan reklamasi yang gagal, 5) meningkatnya penduduk miskin di pedesaan, 6) lemahnya penegakan hukum dalam sektor kehutanan dan lingkungan, 6) tingkat kesadaran masyarakat yang rendah terhadap pentingnya pelestarian hutan. 2.2. Deforestasi Menurut Nawir, A.A., dkk. (2008), bahwa hilangnya tutupan hutan secara permanen ataupun sementara merupakan deforestasi. Secara sederhana, deforestasi adalah istilah untuk menyebutkan perubahan tutupan suatu wilayah dari berhutan menjadi tidak berhutan, artinya dari suatu wilayah yang sebelumnya berpenutupan tajuk berupa hutan (vegetasi pohon dengan kerapatan tertentu) menjadi bukan hutan (bukan vegetasi pohon atau bahkan tidak bervegetasi). Masih menurut Nawir, A.A., dkk. (2008), bahwa faktor penyebab deforestasi di Indonesia tidak jauh berbeda dengan penyebab degradasi hutan. Penyebab deforestasi ada 2 yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung meliputi: 1) kebakaran hutan, 2) banjir, 3) kondisi morfologi dan curah hujan yang tinggi, 4) penebangan untuk pembukaan lahan perkebunan, 5) perambahan hutan, 6) program transmigrasi, 7) pengelolaan lahan dengan teknik konservasi tanah dan air yang tidak sesuai, serta 8) pertambangan dan pengeboran minyak. Sedangkan penyebab tidak langsung antara lain: 1) kegagalan pasar akibat harga kayu hasil hutan yang terlalu rendah, 2) kegagalan kebijakan dalam memberikan ijin pengusahaan hutan dan program transmigrasi, 4 3) kelemahan pemerintah dalam penegakan hukum, 4) penyebab sosial ekonomi dan politik yang lebih luas, seperti: krisis ekonomi, era reformasi, kepadatan dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, dan penyebaran kekuatan ekonomi dan politik yang tidak merata. Deforestasi memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat dan lingkungan. Kegiatan penebangan yang mengesampingkan konversi hutan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan dan akan meningkatkan peristiwa bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir. Dampak lain akibat kerusakan hutan adalah terancamnya kelestarian satwa dan flora endemik. Sebagaimana adanya issue perubahan iklim pencegahan deforestasi menjadi alternatif utama dengan maksud untuk menurunkan emisi gas yang dapat mengurangi pemanasan global. Badan Ilmiah dari Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim Change/UNFCCC) (UnitedNation membuat Framework konsep dengan Convention memberi on kompensasi Climate kepada pemerintah. sektor swasta, dan para pemilik hutan untuk melindungi hutan akan mendatangkan nilai ekonomi yang positif untuk mempertahankan hutan dan menekan penggundulan hutan untuk kepentingan lain untuk penurunan Emisi dari Deforestasi (“Reduced Emissions fromDeforestation”/RED). UnitedNation Framework Convention on Climate Change/UNFCCC dalam keputusannya No. 11/CP.7 menyebutkan, deforestasi didefenisikan sebagai akibat langsung dari adanya pengaruh manusia melalui konversi lahan berhutan menjadi tidak berhutan. Kebijakan untuk mengurangi deforestasi yang tidak direncanakan dilakukan melalui alokasi lahan terdegradasi dan lahan yang secara komersial tidak produktif untuk membangun silvikultur intensif. Penerapan tata ruang yang efektif, termasuk penegakan hokum merupakan salah satu upaya untuk mengurangi konversi hutan menjadi lahan perkebunan sawit. Selanjutnya untuk menghindari terjadinya deforestasi yang direncanakan, Departemen Kehutanan telah menghentikan pemberian ijin untuk penggunaan hutan produksi konversi bagi pembangunan perkebunan yang melebihi luas areal paduserasi yang telah disetujui (Dephut, 2010). 5 BAB III PEMBAHASAN 1.1 Deforestrasi Hutan Penggundulan hutan atau deforestasi adalah kegiatan penebangan hutan atau tegakan pohon (stand of trees) sehingga lahannya dapat dialihgunakan untuk penggunaan nir-hutan (non-forest use), yakni pertanian, peternakan atau kawasan perkotaan. Deforestasi merupakan suatu kondisi saat tingkat luas area hutan yang menunjukkan penurunan secara kualitas dan kuantitas. Kerusakan hutan (deforestasi) masih tetap menjadi ancaman di Indonesia. Menurut data laju deforestasi (kerusakan hutan) periode 2003-2006 yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan, laju deforestasi di Indonesia mencapai 1,17 juta hektar pertahun. Bahkan kalau menilik data yang dikeluarkan oleh State of the World‟s Forests 2007 yang dikeluarkan The UN Food & Agriculture Organization (FAO), angka deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 1,8 juta hektar/tahun. Laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record memberikan „gelar kehormatan‟ bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak hutan tercepat di dunia. Selain itu, 25 persen lainnya atau setara dengan 48 juta hektar juga mengalami deforestasi dan dalam kondisi rusak akibat bekas area HPH (hak penguasaan hutan). Dari total luas htan di Indonesia hanya sekitar 23 persen atau setara dengan 43 juta hektar saja yang masih terbebas dari deforestasi (kerusakan hutan) sehingga masih terjaga dan berupa hutan primer. Laju deforestasi hutan di Indonesia paling besar disumbang oleh kegiatan industri, terutama industri kayu, yang telah menyalahgunakan HPH yang diberikan sehingga mengarah pada pembalakan liar. Penebangan hutan di Indonesia mencapai 40 juta meter kubik setahun, sedangkan laju penebangan yang sustainable(lestari berkelanjutan) sebagaimana direkomendasikan oleh Departemen Kehutanan menurut World Bank adalah 22 juta kubik meter setahun. 6 Penyebab deforestasi terbesar kedua di Indonesia, disumbang oleh pengalihan fungsi hutan (konversi hutan) menjadi perkebunan. Konversi hutan menjadi area perkebunan (seperti kelapa sawit), telah merusak lebih dari 7 juta ha hutan sampai akhir 1997. 1.2 Dampak Deforestasi. Deforestasi (kerusakan hutan) memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat dan lingkungan alam di Indonesia. Kegiatan penebangan yang mengesampingkan konversi hutan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya meningkatkan peristiwa bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir. Dampak buruk lain akibat kerusakan hutan adalah terancamnya kelestarian satwa dan flora di Indonesia utamanya flora dan fauna endemik. Satwa-satwa endemik yang semakin terancam kepunahan akibat deforestasi hutan misalnya lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan merak (Pavo muticus), owa jawa (Hylobates moloch), macan tutul (Panthera pardus), elang jawa (Spizaetus bartelsi), merpati hutan perak (Columba argentina), dan gajah sumatera (Elephant maximus sumatranus). Kerugian yang diderita negara akibat laju deforestasi hutan di Indonesia diperkirakan dapat mencapai hingga sekitar Rp71 triliun, menurut lembaga swadaya masyarakat Indonesia Corruption Watch. Berdasarkan data riset ICW yang diterima di Jakarta, kerugian dari aspek laju deforestasi hutan pada periode 2005-2009 mencapai 5,4 juta hektare atau setara Rp71,28triliun. Jumlah tersebut, terdiri atas kerugian nilai tegakan (Rp64,8 triliun) dan provisi sumberdaya hutan (Rp6,48 triliun). Kerugian tersebut masih ditambah tidak diterimanya dana reboisasi. ICW juga memaparkan bahwa lembaga swadaya masyarakat Human Rights Watch pernah meluncurkan riset pada 2009 yang menyebutkan bahwa praktik korupsi dan mafia sektor kehutanan setidak-tidaknya merugikan negara rata-rata Rp 20 triliun per tahun. 7 1.3 Upaya Yang Dilakukan Pemerintah Indonesia melalui keputusan bersama Departemen Kehutanan dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan sejak tahun 2001 telah mengeluarkan larangan ekspor kayu bulat (log) dan bahan baku serpih. Selain itu, Pemerintah juga telah berkomitmen untuk melakukan pemberantasan illegal logging dan juga melakukan rehabilitasi hutan melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang diharapkan di tahun 2008 akan dihutankan kembali areal seluas tiga juta hektar. Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain: 1. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna Tanah. 2. Menerbitkan UU No. 23 Tahun 1997, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 3. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan). Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan pokoknya: a) Menanggulangi kasus pencemaran. b) Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3). c) Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL). Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon. Jeda penebangan hutan atau Moratorium Logging adalah suatu metode pembekuan atau penghentian sementara seluruh aktifitas penebangan kayu skala besar (skala industri) untuk sementara waktu tertentu sampai sebuah kondisi yang diinginkan tercapai. Lama atau masa diberlakukannya moratorium biasanya ditentukan oleh berapa lama waktu yang 8 dibutuhkan untuk mencapai kondisi tersebut (Hardiman dalam Hutan Hancur, Moratorium Manjur). Sebagai langkah awal dalam pencegahan kerusakan hutan nasional, metode ini dapat dilaksanakan oleh berbagai pihak. Bentuknya dapat berupa reformasi hutan yang dilaksanakan oleh semua pihak sebgai bentuk partisipasi pemerintah, privat, dan masyarakat dalam melindungi hutan dari kerusakan. Moratorium Logging dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, diantaranya: 1. Pemerintah mendapatkan manfaat berupa jangka waktu dalam melakukan restrukturisasi dan renasionalisasi industri olahan kayu nasional, mengkoreksi over kapasitas yang dihasilkan oleh indsutri kayu, serta mengatur hak-hak pemberdayaan sumber daya hutan, dan melakukan pengawasan illegal logging bersama sector private dan masyarakat. 2. Private/investor mendapatkan keuntungan dengan meningkatnya harga kayu di pasaran, sumber daya (kayu) kembali terjamin keberadaannya, serta meningkatkan efisiensi pemakaian bahan kayu dan membangun hutan-hutan tanamannya sendiri. 3. Masyarakat mendapatkan keuntungan dengan kembali hijaunya hutan disekeliling lingkungan tinggal mereka, serta dapat terhindar dari potensi bencana akibat kerusakan hutan. 9 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kerusakan hutan adalah kegiatan pembalakan hutan, merupakan kegiatan yang merusak kondisi hutan setelah penebangan, karena di luar dari perencanaan yang telah ada. Kerusakan hutan kita dipicu oleh tingginya permintaan pasar dunia terhadap kayu, meluasnya konversi hutan menjadi perkebunan sawit, korupsi dan tidak ada pengakuan terhadap hak rakyat dalam pengelolaan hutan. Deforestasi merupakan suatu kondisi saat tingkat luas area hutan yang menunjukkan penurunan secara kualitas dan kuantitas. Laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record memberikan „gelar kehormatan‟ bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak hutan tercepat di dunia. Kerusakan hutan telah menimbulkan perubahan kandungan hara dalam tanah dan hilangnya lapisan atas tanah yang mendorong erosi permukaan dan membawa hara penting bagi pertumbuhan tegakan. Terbukanya tajuk iokut menunjang segara habisnya lapisan atas tanah yang subur dan membawa serasah sebagai pelindung sekaligus simpanan hara sebelum terjadinya dekomposisi oleh organisme tanah. Terjadinya kerusakan hutan, apabila terjadi perubahan.yangmenganggu fungsi hutan yang berdampak negatif, misalnya: adanya pembalakan liar (illegal logging) menyebabkan terjadinya hutan gundul, banjir, tanah lonsor, kehidupan masyarakat terganggu akibat hutan yang jadi tumpuhan hidup dan kehidupanya tidak berarti lagi serta kesulitan dalam memenuhi ekonominya. 10 4.2 Saran Konsep pengelolaan hutan secara bijaksana, harus mengembalikan fungsi hutan secara menyeluruh (fungsi ekologis, fungsi sosial dan fungsi ekonomi) dengan lebih menekankan kepada peran pemerintah, peran masyarakat dan peran swasta. Langkahlangkah yang sinergi dari ke tiga komponen (pemerintah, masyarakat dan swasta) akan mewujudkan fungsi hutan secara menyeluruh yang menciptakan pengamanan dan pelestarian hutan. 11 DAFTAR PUSTAKA https://sathista.blogspot.com/2015/11/makalah-deforestasi-penggundulan-hutan.html http://repo.unand.ac.id/1813/3/bab%25201.pdf https://www.scribd.com/doc/316002861/MAKALAH-DEFORESTASI http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/31467/Chapter%20II.pdf?sequence=4 &isAllowed=y https://faridillah.wordpress.com/makalah-pendidikan-lingkungan-hidup-plh/ http://taufik-ardiyanto.blogspot.co.id/2011/07/makalah-penggundulan-hutan-deforestasi.html http://www.antaranews.com/berita/474271/fwi--laju-deforestasi-indonesia-tertinggi http://alamendah.org/2010/03/09/kerusakan-hutan-deforestasi-di-indonesia/ Soemarwoto, O. 1994. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Bandung: Djambatan, 365 hal. Soeriaatmadja, R. E. 1989. Ilmu Lingkungan. Bandung: Penerbit ITB. 133 hal. 12

Judul: Makalah Deforestrasi Oleh

Oleh: Yulianti Pratama

Ikuti kami