Makalah Berpikir Kritis

Oleh Tika Nurjihan

193,2 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Berpikir Kritis

MAKALAH BERPIKIR KRITIS DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH METODOLOGI KEPERAWATAN Disusun Oleh : NAMA : TIKA NURJIHAN NIM : PO72201171400 KELAS : 1A KEPERAWATAN DOSEN : ADIL CANDRA.,S.Kep.,Ners.,M.Kep KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POTEKKES KEMENKES TANJUNGPINANG PROGRAM STUDI DIII KEPERWATAN 2018 KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT berkat Rahmat, Hidayah dan Karunia-Nya kepada kita semua sehingga tugas Makalah “Berpikir Kritis” ini dapat saya selesaikan. Makalah ini saya buat sebagai kewajiban untuk memenuhi tugas mata Metodologi Keperawatan. Saya berharap semoga Makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi Makalah agar menjadi lebih baik lagi. Saya menyadari Makalah ini tidak luput dari berbagai kekurangan. Penulis mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan dan perbaikannya sehingga akhirnya Makalah ini dapat dikembangkan lagi lebih lanjut. Amiin. Tanjungpinang, 18 Februari 2018 Penulis ii DAFTAR ISI Halaman Judul .................................................................................................................... i Kata Pengantar ................................................................................................................... ii Daftar Isi .............................................................................................................................. iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ................................................................................................................ 4 1.2 Tujuan ............................................................................................................................. 4 1.3 Ruang Lingkup Penulisan ............................................................................................... 5 1.4 Sistematika Penulisan ..................................................................................................... 5 BAB II TEORITIS 2.1 Pengertian Berfikir Kritis ............................................................................................... 6 2.2 Ciri-Ciri Berfikir Kritis ................................................................................................... 7 2.3 Karakteristik dan Indikator Berfikir Kritis ...................................................................... 9 2.4 Tahapan Berfikir Kritis ................................................................................................... 10 2.5 Perbedaan Antara Pemikir Kritis dan Bukan Pemikir Kritis .......................................... 12 2.6 Manfaat Berfikir Kritis .................................................................................................... 12 BAB III KASUS 3.1 Kasus ............................................................................................................................... 13 BAB IV PEMBAHASAN .................................................................................................... 14 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ..................................................................................................................... 20 5.2 Saran ................................................................................................................................ 21 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 22 iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Berpikir kritis telah lama menjadi tujuan pokok dalam pendidikan sejak 1942. Penelitian dan berbagai pendapat tentang hal itu, telah menjadi topik pembicaraan dalam sepuluh tahun terakhir ini (Patrick, 2000:1). Definisi berpikir kritis banyak dikemukakan para ahli. Kember (1997) menyatakan bahwa kurangnya pemahaman pengajar tentang berpikir kritis menyebabkan adanya kecenderungan untuk tidak mengajarkan atau melakukan penilaian ketrampilan berpikir pada siswa. Seringkali pengajaran berpikir kritis diartikan sebagai problem solving, meskipun kemampuan memecahkan masalah merupakan sebagian dari kemampuan berpikir kritis (Pithers RT, Soden R., 2000). 1.2 Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1.2.1 Tujuan Umum  Membahas lebih dalam tentang berpikir kritis 1.2.2 Tujuan Khusus  Mengetahui definisi berfikir kritis  Mengetahui ciri-ciri seseorang berfikir kritis  Mengetahui apa saja karakteristik dan indikator kemampuan berfikir kritis  Mengetahui tahapan berfikir kritis  Mengetahui perbedaan antara pemikir kritis dan bukan pemikir kritis  Mengetahui manfaat berfikir kritis  Mengetahui contoh kasus yang menerapkan berpikir kritis 4  Mengetahui pembahasan mengenai kasus tersebut 1.3 Ruang Lingkup Penulisan Dalam makalah ini ditulis dengan batasan informasi yang didapat tentang Berpikir Kritis Dalam Keperawatan. 1.4 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari 3 Bab utama. Bab I Pendahuluan, Bab II Teoritis, Bab III Pengkajian, Bab IV Pembahasan, Bab V Penutup. 5 BAB II TEORITIS 2.1 Pengertian Berfikir Kritis Proses belajar diperlukan untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari. Dalam proses belajar terdapat pengaruh perkembangan mental yang digunakan dalam berpikir atau perkembangan kognitif dan konsep yang digunakan dalam belajar. Beberapa pengertian mengenai keterampilan berpikir kritis diantaranya: 1. Menurut Beyer (Filsaime, 2008: 56) berpikir kritis adalah sebuah cara berpikir disiplin yang digunakan seseorang untuk mengevaluasi validitas sesuatu (pernyataanpenyataan, ide-ide, argumen, dan penelitian)’ 2. Menurut Screven dan Paul serta Angelo (Filsaime, 2008: 56) memandang berpikir kritis sebagai proses disiplin cerdas dari konseptualisasi, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi aktif dan berketerampilan yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi sebagai sebuah penuntun menuju kepercayaan dan aksi. 3. Rudinow dan Barry (Filsaime, 2008: 57) berpendapat bahwa berpikir kritis adalah sebuah proses yang menekankan sebuah basis kepercayaan-kepercayaan yang logis dan rasional, dan memberikan serangkaian standar dan prosedur untuk menganalisis, menguji dan mengevaluasi. 4. Menurut Halpern (Rudd et al, 2003 : 128) mendefinisikan critical thingking as ‘...the use of cognitive skills or strategies that increase the probability of desirable outcome.’ 5. Sedangkan menurut Ennis (1996). “Berpikir kritis adalah sebuah proses yang dalam mengungkapakan tujuan yang dilengkapi alasan yang tegas tentang suatu kepercayaan dan kegiatan yang telah dilakukan.” Berpikir kritis tidak sama dengan mengakumulasi informasi. Seorang dengan daya ingat baik dan memiliki banyak fakta tidak berarti seorang pemikir kritis. Seorang pemikir kritis mampu menyimpulkan dari apa yang diketahuinya, dan mengetahui cara memanfaatkan informasi untuk memecahkan masalah, and mencari sumber-sumber informasi yang relevan untuk dirinya. 6 Berpikir kritis tidak sama dengan sikap argumentatif atau mengecam orang lain. Berpikir kritis bersifat netral, objektif, tidak bias. Meskipun berpikir kritis dapatdigunakan untuk menunjukkan kekeliruan atau alasan-alasan yang buruk, berpikir kritis dapat memainkan peran penting dalam kerja sama menemukan alasan yang benar maupun melakukan tugas konstruktif. Pemikir kritis mampu melkukan introspeksi tentang kemungkinan bias dalam alasan yang dikemukakannya Berdasarkan pengertian-pengertian keterampilan berpikir kritis di atas maka dapat dikatakan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir yang melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk berpikir reflektif terhadap permasalahan. 2.2 Ciri-Ciri Berfikir Kritis 1. Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan relevan terhadap kondisi yang ada. 2. Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi, implikasi, dan konsekuensi yang logis. 3. Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang kompleks. Berpikir kritis merupakan cara untuk membuat pribadi yang terarah, disiplin, terkontrol, dan korektif terhadap diri sendiri. Hal ini tentu saja membutuhkan kemampuan komunikasi efektif dan metode penyelesaian masalah serta komitmen untuk mengubah paradigma egosentris dan sosiosentris kita.Saat kita mulai untuk berpikir kritis, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan disini, yaitu: a. Mulailah dengan berpikir apa dan kenapa, lalu carilah arah yang tepat untuk jawaban dari pertanyaan tersebut. b. Tujuan pertanyaan akan apa dan kenapa. c. Informasi yang spesifik untuk menjawab pertanyaan diatas. d. Kriteria standar yang ditetapkan untuk memenuhi jawaban atas pertanyaan. e. Kejelasan dari solusi permasalahan/pertanyaan. f. Konsekuensi yang mungkin terjadi dari pilihan yang kita inginkan. g. Mengevaluasi kembali hasil pemikiran kita untuk mendapatkan hasil yang maksimal. 7 Beberapa kriteria yang dapat kita jadikan standar dalam proses berpikir kritis ini adalah kejelasan (clarity), tingkat akurasi (accuracy), tingkat kepresisian (precision) relevansi (relevance), logika berpikir yang digunakan (logic), keluasan sudut pandang (breadth), kedalaman berpikir (depth), kejujuran (honesty), kelengkapan informasi (information) dan bagaimana implikasi dari solusi yang kita kemukakan (implication). Kriteria-kriteria di atas tentunya harus menggunakan elemen-elemen penyusun kerangka berpikir suatu gagasan atau ide. Sebuah gagasan/ide harus menjawab beberapa hal sebagai berikut. Tujuan dari sebuah gagasan/ide. 1. Pertanyaan dari suatu masalah terhadap gagasan/ide. 2. Sudut pandang dari gagasan/ide. 3. Informasi yang muncul dari gagasan/ide. 4. Interpretasi dan kesimpulan yang mungkin muncul. 5. Konsep pemikiran dari gagasan/ide tersebut. 6. Implikasi dan konsekuensi. 7. Asumsi yang digunakan dalam memunculkan gagasan/ide tersebut. Dasar-dasar ini yang pada prinsipnya perlu dikembangkan untuk melatih kemampuan berpikir kritis kita. Jadi, berpikir kritis adalah bagaimana menyeimbangkan aspek-aspek pemikiran yang ada di atas menjadi sesuatu yang sistemik dan mempunyai dasar atau nilai ilmiah yang kuat. Selain itu, kita juga perlu memperhitungkan aspek alamiah yang terdapat dalam diri manusia karena hasil pemikiran kita tidak lepas dari hal-hal yang kita pikirkan. Sebagaimana fitrahnya, manusia adalah subjek dalam kehidupan ini. Artinya manusia akan cenderung berpikir untuk dirinya sendiri atau disebut sebagai egosentris. Dalam proses berpikir, egosentris menjadi hal utama yang harus kita hindari. Apalagi bila kita berada dalam sebuah tim yang membutuhkan kerjasama yang baik. Egosentris akan membuat pemikiran kita menjadi tertutup sehingga sulit mendapatkan inovasi-inovasi baru yang dapat hadir. Pada akhirnya, sikap egosentris ini akan membawa manusia ke dalam komunitas individualistis yang tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Bukan menjadi solusi, tetapi hanya menjadi penambah masalah. Semakin sering kita berlatih berpikir kritis secara ilmiah, maka kita akan semakin berkembang menjadi tidak hanya sebagai pemikir kritis yang ulung, namun juga sebagai pemecah masalah yang ada di lingkungan. 8 2.3 Karakteristik dan Indikator Berfikir Kritis Wade (1995) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis, yakni meliputi: 1. kegiatan merumuskan pertanyaan, 2. membatasi permasalahan, 3. menguji data-data, 4. menganalisis berbagai pendapat dan bias, 5. menghindari pertimbangan yang sangat emosional, 6. menghindari penyederhanaan berlebihan, 7. mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan 8. mentoleransi ambiguitas. Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer (1995: 12- 15) secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu: a. Watak Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandanganpandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik. b. Kriteria Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang. c. Argumen Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen. 9 d. Pertimbangan atau pemikiran Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data. e. Sudut pandang (point of view) Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini, yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda. f. Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria) Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengidentifikasi perkiraan-perkiraan. Pada dasarnya keterampilan berpikir kritis (abilities) Ennis (Costa, 1985 : 54) dikembangkan menjadi indikator-indikator keterampilan berpikir kritis yang terdiri dari lima kelompok besar yaitu: 1. Memberikan penjelasan sederhana (elementary clarification). 2. Membangun keterampilandasar (basic support). 3. Menyimpulkan (interference). 4. Memberikan penjelasan lebih lanjut (advanced clarification). 5. Mengatur strategi dan taktik (strategy and tactics). 2.4 Tahapan Berfikir Kritis 1. Keterampilan Menganalisis Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut . Dalam keterampilan tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci. Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi langkahlangkah logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada sudut kesimpulan (Harjasujana, 1987: 44). Kata-kata diantaranya: operasional menguraikan, yang mengindikasikan membuat diagram, menghubungkan, memerinci, dan sebagainya. 10 keterampilan mengidentifikasi, berpikir analitis, menggambarkan, 2. Keterampilan Mensintesis Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru. Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya. Pertanyaan sintesis ini memberi kesempatan untuk berpikir bebas terkontrol (Harjasujana, 1987: 44). 3. Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah Keterampilan ini merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker, 2001:15). 4. Keterampilan Menyimpulkan Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, 1988: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu : deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru. 5. Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu (Harjasujana,1987:44). Dalam taksonomi belajar, menurut Bloom, keterampilan mengevaluasi merupakan tahap berpikir kognitif yang paling tinggi. Pada tahap ini siswa ituntut agar ia mampu mensinergikan aspek-aspek kognitif lainnya dalam menilai sebuah fakta atau konsep. 11 2.5 Perbedaan antara pemikir kritis dan bukan pemikir kritis Pemikir kritis  Cepat mengidentifikasi informasi yang relevan, memisahkannya dari informasi yang irelevan  Dapat memanfaatkan informasi untuk merumuskan solusi masalah atau mengambil keputusan, dan jika perlu mencari informasi tambahan yang relevan Bukan pemikir kritis  Mengumpulkan fakta dan informasi, memandang semua informasi sama pentingnya  2.6 Tidak melihat, menangkap, maupun memikirkan masalah inti. Manfaat berfikir kritis 1. Membantu memperoleh pengetahuan, memperbaiki teori, memperkuat argumen 2. Mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas 3. Mengumpulkan, menilai, dan menafsirkan informasi dengan efektif 4. Membuat kesimpulan dan menemukan solusi masalah berdasarkan alasan yang kuat 5. Membiasakan berpikiran terbuka 6. Mengkomunikasikan gagasan, pendapat, dan solusi dengan jelas kepada lainnya 12 BAB III KASUS Kebanyakan cedera terjadi sebagai hasil keadaan yang tidak diperkirakan atau kecelakaan. Sebagian besar orang biasanya tidak segera siap dengan kotak P3K. Jika begini, kita harus merawat luka atau cedera dengan apa pun yang ada hingga bisa pergi ke apotek untuk membeli plester dan perlengkapan lain, atau ke rumah sakit untuk merawat trauma yang lebih serius. Demi memenuhi kebutuhan pertolongan pertama mendasar, yaitu dengan menstabilkan fungsi-fungsi vital tubuh, mencegah infeksi, mengontrol perdarahan, serta menahan gerakan semua bagian yang mungkin retak, Anda harus "berpikir kritis" dan memanfaatkan benda-benda yang tersedia atau ada di dekat Anda. Anda juga harus mempertimbangkan meningkatkan pengetahuan P3K dengan mengikuti kelas-kelas pelatihan ini serta CPR/pernapasan buatan dari lembaga kesehatan/sosial setempat. 3.1 Kasus Seorang perawat berada dalam situasi ketika pasien mengalami luka atau cedera dan dia ingin menolong pasien. Tetapi tidak adanya peralatan yang lengkap, namun perawat tersebut harus tetap memenuhi kebutuhan pertolongan dengan berpikir kritis. 13 BAB IV PEMBAHASAN Demi memenuhi kebutuhan pertolongan pertama mendasar, seorang perawat melakukan yaitu dengan menstabilkan fungsi-fungsi vital tubuh, mencegah infeksi, mengontrol perdarahan, serta menahan gerakan semua bagian yang mungkin retak dan memanfaatkan benda-benda yang tersedia atau ada di dekat perawat. Perawat juga harus mempertimbangkan meningkatkan pengetahuan P3K dengan mengikuti kelas-kelas pelatihan ini serta CPR/pernapasan buatan dari lembaga kesehatan/sosial setempat. Memeriksa Tanda-Tanda Vital 1. Evaluasi fungsi-fungsi vital tubuh. Ini termasuk ABC: Airway (jalur udara), Breathing (kemampuan bernapas), dan Circulation (sirkulasi). Baringkan pasien secara telentang dan dekatkan diri ke kepala serta lehernya untuk mengevaluasi fungsi-fungsi vital ini.  Jika pasien berada dalam keadaan sadar, mulailah bekerja, namun pastikan perawat juga berbicara dengannya agar ia tenang dan detak jantungnya lebih lambat. Jika memungkinkan, jauhkan pandangan mata pasien agar ia tidak bisa melihat lukanya. 2. Periksa jalur udara Jika seseorang tidak sadar dan ia kemungkinan mengalami cedera leher atau tulang belakang, letakkan satu tangan di dahinya dan tangan satunya di bawah dagu orang tersebut. Tekan dahi dengan lembut dan angkat sedikit dagunya agar saluran udara orang ini terbuka. Pastikan ia selalu berada dalam keadaan seperti ini, periksa bagian dalam mulut untuk menyingkirkan halangan.  Jika korban berada dalam keadaan sadar, ia mungkin bisa menunjukkan apakah jalur udaranya terblokir atau tidak.  Jika Anda mencurigai adanya cedera leher atau tulang belakang, gunakan metode penarikan rahang. Sesuai namanya, Anda akan menarik rahang pasien di kedua sisi untuk membuka jalur udara tanpa membahayakan leher atau tulang belakangnya. Mencegah Infeksi 1. Bersihkan lukanya. Bersihkan luka dengan air apa pun yang Anda punya. Air minum adalah pilihan pertama karena aman untuk dikonsumsi sehingga juga cocok untuk kegunaan lainnya. Jika tidak ada 14 stok air segar, Anda juga bisa menggunakan minuman berkarbonasi seperti Coca Cola. Jika Anda punya pembersih tangan, bersihkan luka dengan menggunakan zat tersebut.  Jangan pakai apa pun yang mungkin meningkatkan risiko infeksi, misalnya jus, minyak, atau susu, begitu juga dengan air dari kolam yang terlihat kotor atau air dari sumber-sumber sungai. Jika Anda berada di dekat pantai, bilaslah luka di laut. Air laut yang mengandung garam bisa berfungsi sebagai larutan saline untuk mengatasi luka. 2. Siram luka dengan air mengalir. Melakukan hal ini disarankan sebagai salah satu langkah terbaik untuk mencegah infeksi.  Jika ada air segar yang tersedia, cobalah mengalirkannya di atas luka selama beberapa menit. Gunakan sekitar 2 liter air, yaitu kira-kira seukuran botol soda besar. 3. Ketuk-ketuk area yang cedera hingga kering. Cari sesuatu untuk mengeringkannya, misalnya sehelai kain, handuk, atau bahan lembut lainnya. Hindari apa pun yang menggumpal dan bisa meninggalkan fragmen atau tersangkut pada luka. 4. Bersihkan debu dari luka. Jika Anda tidak punya air atau cairan, atau sedang berada di area gurun, gunakan bagian kecil dari pakaian untuk menggosok debu dari luka Anda. Cobalah mencari area kaus atau celana yang paling bersih untuk digunakan. Mengontrol Perdarahan 1. Inspeksi lukanya. Cari tahu berapa banyak darah yang keluar. Segera setelah membersihkan luka, periksa kedalamannya dan tanda-tanda kerusakan pembuluh, misalnya darah memuncrat atau mengalir dalam pola tertentu. Rata-rata manusia memiliki sekitar delapan liter darah yang terus tersirkulasi; kehilangan 10 persen di antaranya bisa menyebabkan konsekuensi serius, termasuk hilang kesadaran dan kekurangan suplai darah pada organ-organ vital. 15  Ambil peluang ini untuk mengevaluasi tingkat kedalaman luka, karena luka sedalam satu sentimeter atau lebih biasanya memerlukan penjahitan setelah pertolongan pertama.  Jangan keluarkan suatu objek jika tertanam pada luka. Biarkan tetap berada di dalamnya, objek tersebut bisa berfungsi sebagai penghalang perdarahan. Mengangkatnya malah akan meningkatkan aliran darah yang keluar. Para tenaga medis profesional lebih mampu melakukan ini tanpa merusak organ internal atau mengakibatkan kehilangan darah dalam jumlah yang besar. 2. Hentikan perdarahan. Karena Anda tidak punya perban atau plester, tekanlah luka secara perlahan dengan memanfaatkan material bersih dan mudah menyerap, misalnya kaus, handuk, atau kaus kaki. Jika benda ini dipenuhi darah, jangan lepaskan terlebih dahulu atau gumpalan-gumpalan darah yang mulai terbentuk akan terganggu. Akan tetapi, letakkan material lainnya di atas yang sudah bergelimang darah dan tetaplah menekan bagian luka.  Jika masih ada objek di dalam luka, tekanlah area sekitarnya untuk membantu memperlambat aliran darah.  Jika luka melebar dan perdarahan terus terjadi, cobalah mengganjalnya dengan handuk atau selimut, atau tampon jika tersedia, kemudian tekan. Saat ini, yang terpenting adalah menghentikan perdarahan, bukan mencegah infeksi.  Beberapa jenis latihan P3K menyarankan menggunakan pinggiran kartu kredit untuk "menyegel" luka. Kartu kredit merupakan benda berguna yang dimiliki oleh banyak orang. Hal ini bukan saja akan membantu aliran darah, tetapi juga dapat mencegah kerusakan paru-paru (dengan mencegah udara tidak mengenai luka) bila cedera terjadi di bagian dada.  Jika luka terus berdarah, tekanlah pembuluh arteri besar yang tersambung ke areanya. Gunakan tangan Anda yang lain untuk menekan luka. Area-area ini disebut "titik tekan". Sebagai contoh, untuk memperlambat perdarahan di lengan, tekan bagian dalamnya, tepat di atas siku atau di bawah ketiak. Jika luka berada di betis, tekan tepat di belakang lutut atau selangkangan.  Dalam beberapa situasi, Anda mungkin harus menggunakan turniket. Turniket hanya boleh dipakai pada tangan atau kaki dan jika seseorang mengalami kondisi yang mengancam kelumpuhan serta tidak bisa ditangani dengan tekanan biasa. 16 Atau, ia mengalami cedera yang mengancam nyawa pada tangan/kaki, misalnya karena terpotong atau berubah bentuk. 3. Atur ulang posisi korban agar luka berada di area yang lebih tinggi dari jantungnya. Dengan begini, perdarahan bisa ditekan. Jika korban tidak dapat duduk, minta ia bergerak untuk setegak mungkin, kemudian bantulah jika memungkinkan.  Pastikan pasien tidak berjalan. Berjalan, terutama berlari, bisa menjadi pompa kedua bagi sistem sirkulasi, sehingga membebani jantung. 4. Selubungi lapisannya. Karena Anda tidak punya perban atau plester, gunakan sepotong pakaian (kaus, mantel, kaus kaki, dll.) atau material lainnya (misalnya dari tenda, rakit, dst.) untuk menyelubungi luka setelah perdarahannya berhenti atau melambat. Sebagai alternatif, Anda juga bisa menggunakan tanaman hidup. Carilah yang memiliki daun cukup besar untuk menutupi luka. Tergantung pada keadaan flora dan fauna di wilayah Anda, mungkin ada beberapa tanaman yang memiliki manfaat medis, misalnya Comfrey atau Ki.  Hindari kertas tisu atau tisu toilet. Kedua jenis material ini cukup rapuh dan mungkin mengontaminasi luka dengan robekannya. Semua kain yang bisa menyerap darah bisa digunakan untuk menekan secara efektif.  Jangan angkat atau membuang lapisan karena hal ini akan mengganggu formasi penggumpalan darah dan kembali memicu perdarahan. Jika lapisan ini terendam terlalu parah, tambahkan material kain lain di atasnya.  Berhati-hatilah pada luka dada. Selubungi dengan sesuatu seperti lembaran dapur, kantung plastik atau pelapis transparan. Tutupi hanya tiga sisi pada luka dada dan biarkan salah satunya tidak dibalut. Udara harus bisa keluar dari sisi luka agar tidak masuk ke dalam saluran pleural dalam dada. Jika ini terjadi, paru-paru bisa rusak. 5. Kencangkan balutan. Gunakan tali, selotip, tambang, atau potongan-potongan pakaian untuk mengikatnya. Jangan mengikat terlalu kencang sehingga aliran darah ke area yang luka terpotong.  Jika Anda tidak punya material apa pun untuk mengencangkan balutan, teruslah menekan. Dengan begini, penggumpalan darah akan terbantu. 17 Menahan Gerakan pada Area yang Mungkin Mengalami Keretakan 1. Buat umban. Jika area yang cedera berada di bagian atas tubuh, misalnya lengan, buatlah umban bahu dengan kaus. Gerakkan lengan yang tidak cedera agar keluar dari lengan baju korban secara berhati-hati dan pertahankan kausnya di sekitar leher. Tarik dalam posisi siku yang ditekuk 90 derajat dan sangga siku di ujung kaus yang terangkat. Dengan begini, keretakan pada bahu, siku, lengan depan, dan pergelangan tangan akan dijaga.  Anda juga bisa membuat umban yang lebih tradisional menggunakan kaus atau kain lainnya, misalnya sarung bantal jika Anda punya gunting, atau peralatan memasak. Potong kain menjadi sebentuk persegi besar (sekitar 100 cm) kemudian lipat secara diagonal hingga membentuk segitiga. Salah satu ujungnya harus menggantung di atas bahu yang cedera serta melalui lengan di bawahnya, sementara ujung lainnya harus melewati bahu pada sisi tubuh yang berlawanan. Ikatkan kedua ujungnya di belakang leher.  Umban bukan saja akan meredakan rasa sakit secara signifikan, tetapi juga mencegah fragmen-fragmen tulang berpindah tempat. 2. Belat lengan atau betis yang patah untuk menyangganya. Jangan coba-coba meratakan tulangnya. Untuk membuat belat, Anda bisa menggunakan material yang tersedia secara langsung atau berada di dekat Anda. Carilah bahan kuat untuk membuat belat, misalnya papan, tongkat, koran yang digulung, dsb.  Atur posisi belat agar melewati sendi di atas serta di bawahnya. Misalnya, jika betis bagian bawah patah, belat harus melewati lutut serta pergelangan kaki.  Kardus merupakan pilihan yang baik untuk menahan gerakan pada tubuh bagian bawah, misalnya di betis. Anda harus menyesuaikannya dengan merobek atau memotong sisi-sisinya agar pas dengan area yang terluka. Letakkan kotak di permukaan dan selipkan di balik betis. Selubungi seluruh sisi betis dengan kardus ini. Amankan posisinya dengan selotip, tali, atau potongan pakaian. Pastikan Anda melipat ujung kotak di bagian bawah untuk menyangga sendi pergelangan kaki agar tidak bergerak bebas dan mengayun. Jika tidak, korban bisa kesakitan. Jangan 18 mencoba menggerakkan bagian yang cedera. Biarkan bagian ini tetap berada di posisi yang paling membuat korban merasa nyaman. 3. Siapkan bantalan pada bidai. Gunakan pakaian, handuk, selimut, bantal, atau benda lainnya yang empuk. Pasang bidai pada area cedera. Gunakan sabuk, tali, tali sepatu, atau apa pun yang berguna untuk mempertahankan posisi bidai. Berhati-hatilah agar Anda tidak menyebabkan cedera lebih lanjut. Pasang bidai dengan baik agar tidak memberikan tekanan tambahan pada area yang cedera, melainkan hanya membatasi gerakannya 4. Minimalkan pembengkakan. Jika ada es, misalnya dari kotak atau pak es, gunakan pada area yang cedera untuk meminimalkan pembengkakan. Anda bisa menggunakan apa pun yang dingin, misalnya kaleng minuman soda. 19 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan berpikir yang melibatkan proses kognitif dan mengajak siswa untuk berpikir reflektif terhadap permasalahan. Ciri-ciri berfikir kritis : 1. Mampu membuat simpulan dan solusi yang akurat, jelas, dan relevan terhadap kondisi yang ada 2. Berpikir terbuka dengan sistematis dan mempunyai asumsi, implikasi, dan konsekuensi yang logis. 3. Berkomunikasi secara efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang kompleks. Wade (1995) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis, yakni meliputi: 1. kegiatan merumuskan pertanyaan, 2. membatasi permasalahan, 3. menguji data-data, 4. menganalisis berbagai pendapat dan bias, 5. menghindari pertimbangan yang sangat emosional, 6. menghindari penyederhanaan berlebihan, 7. mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan 8. mentoleransi ambiguitas. Tahapan berfikir kritis meliputi : 1. Keterampilan menganalisis 2. Keterampian mensintesis 3. Keterampilan mengenal dan memecahkan masalah 4. Keterampilan menyimpulkan 5. Keterampilan mengevaluasi dan menilai Keterampilan berfikir kritis meliputi : interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, penjelasan, regulasi diri, Memahami hubungan-hubungan logis antar gagasan, Mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum dalam pemberian alasan, serta Mengidentifikasi, mengkontruksi, dan mengevaluasi argument, dll 20  Pemikir kritis  Cepat mengidentifikasi informasi yang relevan, memisahkannya dari informasi yang irelevan  Dapat memanfaatkan informasi untuk merumuskan solusi masalah atau mengambil keputusan, dan jika perlu mencari informasi tambahan yang relevan  Bukan pemikir kritis  Mengumpulkan fakta dan informasi, memandang semua informasi sama pentingnya  Tidak melihat, menangkap, maupun memikirkan masalah inti. Manfaat berfikir kritis adalah : 1. Membantu memperoleh pengetahuan, memperbaiki teori, memperkuat argumen 2. Mengemukakan dan merumuskan pertanyaan dengan jelas 3. Mengumpulkan, menilai, dan menafsirkan informasi dengan efektif 4. Membuat kesimpulan dan menemukan solusi masalah berdasarkan alasan yang kuat 5. Membiasakan berpikiran terbuka 6. Mengkomunikasikan gagasan, pendapat, dan solusi dengan jelas kepada lainnya 5.2 Saran Akhir dari penulisan makalah ini besar harapan penulis agar makalah yang berjudu Berfikir Kritis ini berguna untuk menambah pemahaman dan wawasan bagi pembaca, terlebih lagi sebagai bekal untuk melakukan proses pembelajaran sebagai calon guru. Selain itu juga diharapkan agar selalu berusaha terus memenuhi rasa ingin tahu hasil dari kegiatan yang telah dilakukan. 21 DAFTAR PUSTAKA http://rhanoanakke3.blogspot.com/2012/11/konsep-berfikir-kritis.html http://muhamadilafifqozwini.wordpress.com/2013/01/16/konsep-berfikir-kritis-dalamkeperawatan/ http://yadnoyahoocom.blogspot.com/2011/10/berfikir-kritis-dalam-keperawatan.html http://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-berpikir-kritis-menurut-para-ahli/ Maryam, Siti R.2008.Buku Ajar Berpikir Kritis dalam Proses Keperawatan.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran Perry dan Potter.2005.fundamental keperawatan.Jakarta.EGC. 22

Judul: Makalah Berpikir Kritis

Oleh: Tika Nurjihan


Ikuti kami