Makalah Sejarah Pmri

Oleh Muizz Aziz

211,5 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Sejarah Pmri

Makalah Sejarah PMRI Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendekatan Matematika Realistik Disusun Oleh : 1. Monica Dewi Wulansari (15310167) 2. Meilisa Dea Puspita (15310171) 3. Muhammad Hamdan Aris (15310192) Kelas 6F PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS PGRI SEMARANG 2018 i KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Makalah tentang Sejarah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Matematika Realistik. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukanmasukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini Semarang, Maret 2018 Penyusun 2 DAFTAR ISI Halaman Judul ....................................................................................................i Kata Pengantar ....................................................................................................2 Daftar Isi .............................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang.........................................................................................5 B. Rumusan Masalah....................................................................................5 C. Tujuan Masalah........................................................................................6 BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah RME dan PMRI..........................................................................7 B. Karakteristik PMRI..................................................................................8 C. Prinsip PMRI...........................................................................................10 D. Norma Sosial Dalam Kelas......................................................................11 E. Fakta PMRI..............................................................................................15 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan dan Saran.............................................................................18 DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................19 3 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Makalah tentang Sejarah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Matematika Realistik. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca. Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukanmasukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini Semarang, Maret 2018 Penyusun 4 5 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Banyak pendapat yang mengatakan bahwa pengajaran matematika, khususnya di sekolah dasar, belum menekankan pada pengembangan daya nalar (reasoning), logika dan proses berpikir siswa. Pengajaran matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumus-rumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup terhadap pemahaman siswa. Selain itu, proses belajar mengajar hampir selalu berlangsung dengan metode ceramah yang mekanistik, dengan guru menjadi pusat dari seluruh kegiatan di kelas. Siswa mendengarkan, meniru atau mencontoh dengan persis sama cara yang diberikan guru tanpa inisiatif. Siswa tidak dibiarkan atau didorong mengoptimalkan potensi dirinya, mengembangkan penalaran maupun kreativitasnya. Pembelajaran matematika juga seolah-olah dianggap lepas untuk mengembangkan kepribadian siswa. Pembelajaran matematika dianggap hanya menekankan faktor kognitif saja, padahal pengembangan kepribadian sebagai bagian dari kecakapan hidup merupakan tugas semua mata pelajaran di sekolah. Menghadapi kondisi itu, pembelajaran matematika harus mengubah citra dari pembelajaran yang mekanistis menjadi humanistik yang menyenangkan. Pembelajaran yang dulunya memasung kreativitas siswa menjadi yang membuka kran kreativitas. Pembelajaran yang dulu berkutat pada aspek kognitif menjadi yang berkubang pada semua aspek termasuk kepribadian dan sosial. Salah satu inovasi pembelajaran matematika itu adalah pembelajaran yang mendasarkan pada penerapan “Pendidikan Matematika Realistik Indonesia” atau disingkat PMRI. PMRI mendasarkan pada teori pendidikan matematika yang dikembangkan di Belanda yang dinamakan “Realistics Mathematics Educations (RME)”. Kemudian dikembangkan dengan situasi dan kondisi serta konteks di Indonesia, maka ditambahkan kata “Indonesia” untuk memberi ciri yang berbeda. Prinsip dan karakteristik dasar dari PMRI tetap sama mendasarkan pada RME. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sejarah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia ? 6 2. Apa prinsip Pendidikan Matematika Realistik Indonesia? 3. Apa saja karakteristik Pendidikan Matematika Realistik Indonesia? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. 2. Untuk mengetahui prinsip Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. 3. Untuk mengetahui apa saja karakteristik Pendidikan Matematika Realsitik Indonesia. 7 BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah RME dan PMRI RME dikembangkan oleh Freudenthal Instituut, Belanda dan koleganya IOWA. Proyek pertama yang berhubungan dengan RME adalah proyek Wiskobas oleh Wijdeveld dan Goffree. Bentuk dari RME dikembangkan oleh Freudentahl pada tahun 1977. Menurutnya, matematika harus dihubungkan dengan kenyataan, berada dekat dengan siswa dan relevan dengan kehidupan masyarakat agar memiliki nilai manusiawi. Pandangannya menekankan bahwa materi-materi matematika harus dapat ditransmisikan sebagai aktifitas manusia (human activity). Pendidikan seharusnya memberikan kesempatan siswa untuk “re-invent” (menemukan/menciptakan) matematika melalui praktek (doing it). Dengan demikian dalam pendidikan matematika, matematika seharusnya tidak sebagai sistem yang tertutup tetapi sebagai suatu aktivitas dalam proses pematematikaan. Treffer (1978,1987) dalam Bron: Web-Site Freudenthal Institute (http://www.fi.uu.nl) merumuskan dua tipe proses pematematikaan yaitu pematematikaan horisontal dan vertikal. Pematematikaan horisontal adalah siswa dengan pengetahuan yang dimilikinya (mathematical tools) dapat mengorganisasikan dan memecahkan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sedang pematematikaan vertikal adalah proses reorganisasi dalam sistem matematika itu sendiri, sebagai contoh menemukan cara singkat menemukan hubungan antara konsep-konsep dan strategi-strategi, dan kemudian menerapkan strategi-strategi itu. Singkatnya, Freudenthal (1991) mengatakan pematematikaan horisontal berkaitan dengan perubahan dunia nyata menjadi simbolsimbol dalam matematika, sedangkan pematematikaan vertikal adalah pengubahan dari simbol-simbol ke simbol matematika lainnya (moving within the world of symbols). Meskipun perbedaan antara 2 tipe ini menyolok, tetapi tidak berarti bahwa 2 tipe tersebut terpisah sama sekali. Freudenthal menekankan bahwa 2 tipe tersebut sama-sama bernilai. Banyak pihak yang menganggap bahwa Pendidikan Matematika Realistik adalah suatu pendekatan pembelajaran matematika yang harus selalu menggunakan masalah sehari-hari.Pemerintah Belanda mereformasikan pendidikan matematika dengan istilah “realistic” tidak hanya berhubungan dengan dunia nyata saja, tetapi juga menekankan 8 pada masalah nyata yang dapat dibayangkan (to imagine). Kata “to imagine” sama dengan “zich Realise-ren” dalam Bahasa Belanda. Jadi penekanannya pada membuat sesuatu masalah itu menjadi nyata dalam pikiran siswa. Dengan demikian konsep-konsep yang abstrak (formal), dapat saja sesuai dan menjadi masalah siswa, selama konsep itu nyata berada (dapat diterima oleh) pikiran siswa.Menurut Van den Heuvel-Panhuizen, penggunaan kata “realistic” tersebut tidak sekedar menunjukkan adanya suatu koneksi dengan dunia nyata (real-world) tetapi lebih mengacu pada fokus Pendidikan Matematika Realistik dalam menempatkan penekanan penggunaan suatu situasi yang bisa dibayangkan oleh siswa. Kebermaknaan konsep matematika merupakan konsep utama dari Pendidikan Matematika Realistik. Proses belajar siswa hanya akan terjadi jika pengetahuan (knowledge) yang dipelajari bermakna bagi siswa (Freudenthal, 1991). Suatu pengetahuan akan menjadi bermakna bagi siswa jika proses pembelajaran dilaksanakan dalam suatu konteks (CORD, 19919) atau pembelajaran menggunakan permasalahan realistik. Suatu masalah realistik tidak harus selalu berupa masalah yang ada di dunia nyata (real-world problem) dan bisa di temukan dalam kehidupan sehari-hari siswa. suatu masalah disebut “realistik” jika masalah tersebut dapat dibayangkan atau nyata dalam pikiran siswa. Suatu cerita rekaan, permainan atau bahkan bentuk formsl matematika bisa digunakan sebagai masalah realistik. B. Karakteristik PMRI Penggunaan masalah nyata (context problem) sangat signifikan dalam PMRI. Berbeda dengan pembelajaran tradisional, yang menggunakan pendekatan mekanistik, yang memuat masalah-masalah matematika secara formal (“nakedproblems”). Sedangkan jika menggunakan masalah nyata, dalam pendekatanmekanistik, sering digunakan sebagai penyimpulan dari proses belajar. Fungsi masalah nyata hanya sebagai materi aplikasi (penerapan) pemecahan masalah nyata dan menerapkan apa yang telah dipelajari sebelumnya dalam situasi yang terbatas. Dalam PMRI, masalah nyata berfungsi sebagai sumber dari proses belajar masalah nyata dan situasi nyata, keduanya digunakan untuk menunjukkan dan menerapkan konsep-konsep matematika. Ketika siswa mengerjakan masalah-masalah 9 nyata mereka dapat mengembangkan ide-ide/konsep-konsep matematika dan pemahamanya. Pertama, mereka mengembangkan strategi yang mengarah (dekat) dengan konteks. Kemudian aspek-aspek dari situasi nyata tersebut dapat menjadi lebih umum., artinya model atau strategi tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah lain. Bahkan model tersebut memberikan akses siswa menuju pengetahuan matematika yang formal. Untuk menjembatani antara tingkat informal dan formal tersebut, model/strategi harus ditingkatkan dari “model of” menjadi “model for”. Perbedaan lain dari PMRI dan pendekatan tradisional adalah pendekatan tradisional menfokuskan pada bagian kecil materi, dan siswa diberikan prosedur yang tetap untuk menyelesaikan latihan dan sering individual. Pada PMRI, pembelajaran lebih luas (kompleks) dan konsepkonsepnyabermakna. Siswa diperlakukansebagaipartisipanyangaktifdalampembelajaran, sehingga dapat mengembangkan ide-ide matematika. PMRI memiliki 5 karakteristik, yaitu: 1. Menggunakan konteks Konteks adalah lingkungan keseharian siswa yang nyata. Dalam matematika tidak selalu diartikan “konkret”, dapat juga sesuatu yang telah dipahami siswa atau dapat dibayangkan siswa. Belajar matematika adalah membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan yang akan dipelajarinya. 2. Menggunakan model Model diarahkan pada model konkret meningkat ke abstrak atau model dari situasi nyata atau model untuk arah abstrak. Penggunaan model ini memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan penalaran maupun kreativitas. 3. Menggunakan kontribusi siswa Kontribusi yang besar pada proses belajar mengajar diharapkan dari kontsruksi peserta didik sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal mereka ke arah yang lebih formal atau baku. Ciri ini juga mendorong kreativitas maupun penalaran dan kepribadian siswa untuk berani dan mau berbagi pemikiran maupun pendapat dalam menyelesaikan suatu masalah. 4. Interaktivitas 10 Dalam pembelajaran konstruktif diperhatikan interaksi, negosisasi secara eksplisit, intervensi, kooperasi dan evaluasi sesama peserta didik, peserta didik-guru, dan guru-lingkungannya. Proses belajar mengajar berlangsung secara interaktif, dan siswa menjadi fokus dari semua aktifitas di kelas. Kondisi ini mengubah otoritas guru yang semula sebagai satu-satunya pusat dan sumber pengetahuan menjadi seorang pembimbing. Guru harus melatih otoritas ini dengan cara memilih kegiatankegiatan instruksional yang akan dilaksanakan,melaksanakan dan membimbing pelaksanaan diskusi, dan menyeleksi kontribusi-kontribusi yang diberikan siswa (untuk dibahas secara klasikal). Dalam proses ini pembelajaran matematika mengembangkan aspek-aspek afektif, seperti demokrasi, menghargai pendapat, antusias, aktif dan berbagi-berdiskusi dengan teman lain ataupin guru. 5. Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya Dalam pembelajaran menggunakan pendekatan holistik, artinya bahwa topiktopik belajar dapat dikaitkan dan diintegrasikan sehingga memunculkan pemahaman suatu konsep atau operasi secara terpadu. Hal ini memungkinkan efisiensi dalam mengajarkan beberapa topik pelajaran. C. Prinsip PMRI PMRI mempunyai tiga prinsip kunci, yaitu: 1. Guided Reinvention (menemukan kembali) /Progressive Mathematizing (matematisasi progresif): Peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama sebagaimana konsep-konsep matematika ditemukan. Pembelajaran dimulai dengan suatu masalah kontekstual atau realistik yang selanjutnya melalui aktifitas siswa diharapkan menemukan “kembali” sifat, definisi, teorema atau prosedur-prosedur. Masalah kontekstual dipilih yang mempunyai berbagai kemungkinan solusi. Perbedaan penyelesaian atau prosedur peserta didik dalam memecahkan masalah dapat digunakan sebagai langkah proses pematematikaan baik horisontal maupun vertikal. Pada prinsip ini siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan berpikir kreatifnya untuk memecahkan masalah, sehingga menghasilkan 11 jawaban maupun cara atau strategi yang berbeda (divergen) dan “baru” secara fasih dan fleksibel. 2. Didactical Phenomenology (fenomena didaktik): Situasi-situasi yang diberikan dalam suatu topik matematika disajikan atas dua pertimbangan, yaitu melihat kemungkinan aplikasi dalam pengajaran dan sebagai titik tolak dalam proses pematematikaan. Tujuan penyelidikan fenomena-fenomena tersebut adalah untuk menemukan situasi-situasi masalah khusus yang dapat digeneralisasikan dan dapat digunakan sebagai dasar pematematikaan vertikal. Pada prinsip ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan penalaran (reasoning) dan kemampuan akademiknya untuk mencapai generalisasi konsep matematika. 3. Self-developed Models (pengembangan model sendiri): Kegiatan ini berperan sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Model dibuat siswa sendiri dalam memecahkan masalah. Model pada awalnya adalah suatu model dari situasi yang dikenal (akrab) dengan siswa. Dengan suatu proses generalisasi dan formalisasi, model tersebut akhirnyamenjadi suatu model sesuai penalaran matematika. Prinsip ini memberikan kontribusi untuk pengembangan kepribadian siswa yang yakin, percaya diri, dan berani mempertahankan pendapat (bertanggung jawab) terhadap model yang dibuat sendiri serta menerima kesepakatan atau kebenaran dari pendapat teman lain. Prinsip ini juga mendorong kreativitas siswa untuk membuat model sendiri dalam memecahkan masalah. D. Norma Sosial dalam Kelas Norma sosial di masyarakat dibedakan menurut aspek- aspek tertentu, tetapi aspek-aspek itu saling mempengaruhi satu sama lain, antara lain (1) norma kesopanan, yaitu sekumpulan peraturan sosial yang mengarah pada hal-hal yang berkenaan dengan bagaimana seseorang harus bertingkah laku yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapatkan celaan, 12 kritik, dan lain-lain, tergantung pada tingkat pelanggaran; (2) Norma kesusilaan, peraturan sosial yang berasal dari hati nurani. Norma ini menghasilkan akhlak, sehingga seseorang dapat membedakan apa yang dianggap baik apa yang dianggap jelek. Norma kesusilaan bersandar pada suatu nilai kebudayaan. Pelanggaran terhadap norma ini berakibat sanksi pengucilan secara fisik (diusir) ataupun batin (dijauhi). Norma sosial penting bagi manusia karena merupakan pedoman bertingkah laku dalam hidup bermasyarakat. Norma sosial memiliki fungsi sebagai berikut. a. Sebagai aturan atau pedoman tingkah laku dalam masyarakat. b. Sebagai alat untuk menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial. c. Sebagai sistem kontrol sosial dalam masyarakat. Dengan adanya norma kita mengerti apa yang boleh kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Interaksi Menurut Ali dalam (Setianingsih), terdapat berbagai bentuk interaksi siswa, yaitu: (1) Kerja sama, ialah bentuk interaksi yang dilakukan orang-orang atau kelompok- kelompok untuk bekerja sama (saling membantu) untuk mencapai tujuan bersama. Misal, bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kelompok; (2) Persaingan, yaitu bentuk interaksi yang dilakukan orang-orang atau kelompok- kelompok untuk berlomba meraih tujuan yang sama; (3) Pertentangan, yaitu bentuk interaksi yang berupa perjuangan yang langsung dan sadar antara orang dengan orang atau kelompok dengan kelompok untuk mencapai tujuan mereka; (4) Persesuaian, ialah proses penyesuaian yang dilakukan orang-orang atau kelompok- kelompok yang sedang bertentangan. Mereka bersepakat untuk menyudahi pertentangan tersebut atau setuju untuk mencegah pertentangan yang berlarut-larut dengan melakukan interaksi damai, baik bersifat sementara maupun bersifat kekal; (5) Akomodasi, mempunyai arti yang lebih luas dari persesuaian, yaitu penyesuaian antara orang yang satu dengan orang yang lain, antara seseorang dengan kelompok, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Dalam akomodasi, terdapat argumentasi yang mampu mewadahi pertentangan yang terjadi; 13 (6) Perpaduan¸ adalah suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan, yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan yang terdapat di antara individu atau kelompok dengan cara memadukan ide yang bertentangan. Selain itu, juga merupakan usahausaha untuk mempertinggi kesatuan tindakan, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan bersama. Hasil penelitian Rini Setianingsih, bahwa norma-norma sosial yang muncul secara dominan tercermin dalam kegiatan sebagai berikut: 1. Berpartisipasi aktif dalam diskusi kelompok maupun setting kelas 2. Menjelaskan solusi dan cara berfikir atau cara memperoleh solusi 3. Menawarkan cara berfikir metode, representasi, dan, solusi yang berbeda 4. Mendengarkan dan mencoba memahami ide-ide dan solusi siswa lainnya 5. Bertanya, mendebat ide-ide orang lain, dan melakukan refleksi. Rini Setianingsih menyimpulkankan dalam hasil penelitiannya, bahwa kegiatan guru dalam pembelajaran keterkaitannya dengan karakteristik PMRI, antara lain: 1. Guru memberikan wawasan tentang pentingnya interaksi dalam rangka berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Hal ini dilakukan dalam rangka merealisasikan peran guru sebagai guidance dalam membimbing siswa agar bersemangat untuk mewujudkan karakteristik keempat PMRI yaitu interaktivitas. Kemudian, guru memberikan masalah kontekstual yang memungkinkan siswa dapat memperoleh jawaban atau cara yang berbeda dan dapat menimbulkan pertentangan antar siswa. Pemberian masalah ini didasarkan pada karakteristik pertama PMRI yaitu menggunakan konteks dunia nyata. 2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan tentang hal yang belum dipahami pada masalah kontekstual yang diberikan. Ini dilakukan untuk melaksanakan karakter keempat PMRI yakni interaktivitas. Selanjutnya guru meminta siswa untuk berdiskusi dalam kelompok kecil untuk memecahkan masalah. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong siswa untuk melakukan interaksi dalam bentuk kerja sama, sehingga terdapat kontribusi siswa di sana, dan mencerminkan karakteristik ketiga 14 PMRI, yakni student contributions. 3. Pada saat bekerja dalam kelompok, siswa memodelkan permasalahan yang disajikan. Tahap ini sesuai dengan prinsip self developed models karena siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan model mereka sendiri. Selain itu juga termasuk karakter kedua PMRI, yakni the use of models. 4. Dalam pembelajaran, guru meminta salah satu kelompok memaparkan hasil penyelesaian dan meminta kelompok lain membandingkan jawabannya. Cara ini dilakukan dalam rangka mendorong siswa untuk berinteraksi dengan siswa yang lain. Dalam situasi ini juga memunculkan bentuk interaksi pertentangan, persesuaian dan lain- lain yang mampu memberi gambaran nyata pada siswa tentang bentuk-bentuk interaksi yang dapat terjadi. Karakteristik yang terlihat adalah karakter keempat PMRI, yakni interactivity. 5. Selanjutnya, guru bersama siswa membuat simpulan dan melakukan koreksi terhadap interaksi yang kontra produktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Cara ini dilakukan sebagai upaya untuk menekankan konsepkonsep yang perlu dipahami, termasuk dalam hal keterkaitan antar konsep. Dalam hal ini karakter kelima PMRI yakni Interwinment terlihat. Untuk koreksi terhadap interaksi yang kontra produktif selama pembelajaran berlangsung diberikan sebagai bahan refleksi diri agar siswa semakin dapat berinteraksi dengan baik di kelas. 6. Secara keseluruhan siswa aktif dalam interaksi di kelas. Dalam segi kerjasama, persaingan, pertentangan terlihat sering dilakukan saat proses pembelajaran. Hal ini dapat dibuktikan dalam hal terjadinya persaingan antar siswa untuk mendapat kesempatan melakukan tanya jawab dengan guru tentang permasalahan yang disampaikan. Karakteristik PMRI keempat sangat terlihat di sini yakni interaksi persaingan. Persaingan terjadi juga karena karakteristik ketiga muncul yaitu kontribusi siswa dalam merespon pertanyaan maupun intruksi dari guru. Pada tahap ini juga terlihat interaksi siswa dengan guru dalam tanya jawab. Proses persaingan terjadi saat beberapa siswa berebut menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Siswa 15 juga bersaing dalam membuat bangun persegipanjang dengan beragam ukuran sesuai intruksi yang diberikan E. Fakta-Fakta PMRI Untuk menunjukkan fakta-fakta kaitan PMRI dengan pengembangan penalaran, kreativitas maupun kepribadian siswa, akan dikutip beberapa pengalaman dan pendapat guru SD/MI, pengamat ujicoba, konsultan maupun pengembang yang terlibat dalam proyek PMRI berikut. (a) Hj. Muzenah Fachir, S.Pd (Guru SD Islam Sabilal Muhtadin, Bandung): Mengajar konsep perkalian dengan tutup botol bekas sebagai media membuat siswa menemukan sendiri konsep dasar perkalian dan pembelajaran menjadi bermaknadan menyenangkan. (Buletin PMRI, Juni 2005) (b) Tatag Y.E. Siswono (Dosen UNESA): Hasil wawancara dan observasi mengindikasikan bahwa pembelajaran PMRI memberi dampak pengiring (tak langsung) bagi siswa, yaitu mereka menjadi tertib, berani mengungkapkan pendapat dan mengajukan pertanyaan, berpikir kreas dan antusias. (Buletin PMRI, Juni 2005) (c) Widawati, S.Si (Guru SD Al Hikmah Surabaya): PMRI memanglah tidak mudah tapi akhirnya memberikan hasil yang luar biasa. Karena anak didik terbiasa berani menyampaikan pendapat yang disertai alasan. Anak terbiasa menghargai pendapat orang lain, berani berkata salah atau benar yang disertai alasan. (Buletin PMRI, Januari 2004) (d) Mardiati, S.Pd (Guru SD Laboratorium Unesa): Saya dapat bernafas lega setelah berkenalan dengan PMRI....Sehingga muncul perubahan-perubahan yang berarti, (1) anak didik lebih senang pada matematika dan ceria (tanpa ada tekanan batin), (2) anak lebih disiplin dan teratur (tanpa ada ultimatum yang menakutkan), (3) anak bisa berpikir kreatif, (4) anak berani menuangkan yang ada dipikirannya, (5) yang paling penting meningkatkan budi pekerti yang luhur (Siswa bisa menyadari kekeliruan yang sudah diperbuatnya sendiri). 16 (Buletin PMRI, Januari 2004). (e) Mustari Admini (Guru SD BOPKRI III Yogyakarta): Pelajaran berlangsung dalam suasana yang hidup dan menyenangkan dimana siswa terlihat aktif, kreatif, dan bersemangat. (Buletin PMRI, Oktober 2004) (f) Mulyono (Guru SD Negeri timbulharjo Sleman): PMRI merupakan pendekatan pengajaran matematika yang didalamnya terkandung nilai saling menghargai, sehingga PMRI dapat dipakai sebagai media belajar berdemokrasi. (Buletin PMRI, Oktober 2004) (g) Denny Dwi Setyawan (Mahasiswa USD Yogyakarta): Dengan pendekatan PMRI, pembelajaran matematika memberikan kebebasan siswa dalam menyelesaikan masalah....Ternyata mengajarkan matematika melalui kegiatan mengaktifkan memunculkan kreativitas siswa dalam membedakan bangunbangun. (Buletin PMRI, Oktober 2004). (h) Annie Makkink (Anggota samenwerkingIndonesie mitra (PBSI)): PMRI dari Pembelajaran Project Bilaterale matematika yang membebaskan anak berkeasi(dalam hal ini PMRI) merupakan cara untuk mengenal adanya keragaman dan perbedaan kepada anak. (Kompas, Jum’at, 28 januari 2005). (i) Prof. R. Soedjadi (Tim PMRI Unesa Surabaya): Disadari atau tidak PMRI secara bertahap mengubah “budaya guru mengajar” dan “budaya siswa belajar”. Marilah kita sadari perlunya PMRI untuk menyongsong masa depan Indonesia yang lebih baik. (Buletin PMRI, Oktober 2003). 17 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pengembangan pembelajaran yang berorientasi PMRI dapat dilakukan guru dengan memperhatikan dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan siswa. Dalam penerapannya harus dilakukan secara bertahap dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. PMRI yang optimal untuk mengembangkan penalaran, kreativitas maupun kepribadian mensyarat perubahan budaya guru yang selama ini sudah mendarah daging. Sehingga diperlukan kerja keras, ketekunan, kesabaran dan keiklasan untuk memberi manfaat kepada siswa yang sebesar-besarnya. Sebaiknya kita ingat, sebaik apapun alat atau kendaraan yang kita pakai, tetap tergantung pada pelaku atau sopir yang memakai ataupun mengarahkannya. Semoga tulisan ini dapat menjadi wacana pembaca untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran. B. Saran Seorang pendidik khususnya guru matematika harus mengetahui dan dapat menetapkan pendekatan matematika realistik dalam mengajar matematika agar pendidikan matematika di Indonesia semakin maju dan menghasilkan peserta didik yang unggul. Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui serta menambah wawasan mengenai PMRI khususnya sejarah, prinsip, karakteristik, dan norma sosial dalam kelas PMRI. Dalam pembuatan makalah ini, pembaca menyadari masih banyak kekurangan dalam menulis maupun lainnya. Kritik dan saran kami butuhkan untuk memperbaiki makalah selanjutnya. 18 DAFTAR PUSTAKA Bron: Web-site Freudenthal Institute. http://www.fi.uu.nl Diakses Pada 4 Maret 2018 Ningsih, S. (2014). REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION:MODEL ALTERNATIF PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH. JPM IAIN Antasari, Vol.01 No.2, h.73-94. Siswono, Tatag Yuli E. (t.thn.). Pembelajaran Matematika Yang Mengembangkan Penalaran, Kreativitas dan Kepribadian Siswa.FPMIPA UNESA Surabaya. Sembiring, R. K. (2010). PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI):PERKEMBANGAN DAN TANTANGANNYA. IndoMS.J.M.E, Vol.1 No.1, pp 11-16. Y, Marpaung. Karakteritik PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia). yang diakses di https://www.usd.ac.id/fakultas/pendidikan/pen_matematika/f1l3/Karakteristik%20PMRI %20pmriusd.blogspot.com.pdf Di akses tanggal 4 Maret 2017 19

Judul: Makalah Sejarah Pmri

Oleh: Muizz Aziz


Ikuti kami