Sejarah Islam

Oleh Roni Patihan

265,9 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Sejarah Islam

PERTUMBUHAN PERADABAN ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW (1-10 H/622-632 M) (Makalah ini dipresentasikan dalam perkuliahan Sejarah Peradaban Islam) Disusun oleh: Roni Patihan Sarani NIM. 088142158 Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Maidir Harun KONSENTRASI HUKUM KELUARGA PROGRAM PASCA SARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI IMAM BONJOL PADANG TAHUN AKADEMIK 2014/2015 0 PERTUMBUHAN PERADABAN ISLAM PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW (1-10 H/622-632 M) A. Pendahuluan Tiga tahun lamanya Rasulullah SAW melakukan dakwah secara rahasia dan sembunyi-sembunyi. Kemudian turunlah firman Allah SWT, surat al-Hijr: 94 yang memerintahkan agar Rasulullah berdakwah secara terangterangan. Pertama kali seruan yang bersifat umum ini beliau tujukan pada kerabatnya, kemudian kepada penduduk Makkah baik golongan bangsawan, hartawan maupun hamba sahaya. Setelah itu kepada kabilah-kabilah Arab dari berbagai daerah yang datang ke Makkah untuk mengerjakan haji. Sehingga lambat laun banyak orang Arab yang masuk Agama Islam. Dengan makin banyaknya orang Arab yang masuk Agama Islam, pemimpin Quraisy mencoba menghalangi dakwah Nabi dengan mengatur siasat yaitu membuat ketentuan tertulis dengan pemboikotan total terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muttalib. Pemboikotan ini berhenti setelah para pemimpin Quraisy sadar terhadap tindakan mereka yang terlalu kejam. Namun selang beberapa waktu sesudah itu, Abu Thalib meninggal dunia, tiga hari kemudian istrinya yang sangat dicintainya, Siti Khodijah pun wafat. Tahun ini kemudian terkenal dalam sejarah sebagai ‘Am al- Huzni (tahun duka cita). Sepeninggal dua orang pendukung tersebut kaum Quraisy tak segansegan melampiaskan amarahnya. Karena kaum Quraisy tersebut Nabi berusaha menyebarkan Islam keluar kota, salah satunya ke kota Thaif. Namun Nabi malah diejek, bahkan dilempari batu hingga Nabi terluka di bagian kepala dan badan. Untuk menghibur Nabi, maka pada tahun kesepuluh kenabian, Allah mengisra’ mi’rajkannya. Meninggalnya Abu Thalib menyebabkan semakin besarnya tekanan kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin di Makkah, sehingga gerak dakwah yang dilakukan amatlah sulit, tidak jarang ditemukan penindasan demi penindasan terhadap kaum muslimin, bahkan sampai kepada rencana pembunuhan terhadap Nabi sendiri. 1 Nabi SAW mulai menyeru peziarah haji ke Makkah pada bulan-bulan suci bagi mereka, mereka itu terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Sehingga pada tahun 621 M. dua belas orang yang mewakili suku Khazraj dan Aus menyampaikan sumpah setia kepada Nabi. Pada tahun 622 M delegasi yang terdiri dari 75 orang warga Madinah meminta Nabi untuk datang ke Madinah seraya menyampaikan sebuah sumpah yang dikenal dengan Bai’ah Aqabah. Setelah adanya Bai’ah Aqabah yang kedua maka Nabi Muhammad SAW mulai memerintahkan sebahagian kaum muslimin untuk hijrah ke Yastrib, sementara beliau sendiri masih tetap tinggal di Makkah sembari menunggu turun wahyu yang membolehkan Nabi SAW hijrah ke Madinah. Orang-orang yang hijrah ke Madinah kemudian dipersaudarakan dengan kaum Ansar, selanjutnya Nabi mulai mengatur tatanan sosial kemasyarakatan dan mengatur langkah-langkah dakwah selanjutnya termasuk urusan pemerintahan. Makalah ini akan menjelaskan tentang latar belakang historis hijrah ke Madinah, faktor-faktor Nabi SAW diterima dengan baik di Madinah, pengangkatan Nabi menjadi pemimpin di Madinah, dan bagaimana Nabi membentuk Negara Madinah serta kebijakan apa saja yang diambil Rasulullah SAW dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial-politik dan militer. B. Latar Belakang Historis Hijrah ke Madinah Pemboikotan total terhadap keluarga Nabi, disebabkan adanya empat kejadian besar di mata orang-orang Quraisy yaitu, Hamzah masuk Islam, kemudian umar bin Khatab menyusulnya, Muhammad menolak tawaran mereka dan kesepakatan bersama yang dijalin oleh Bani Hasyim, baik yang kafir maupun muslim untuk melindungi beliau. Pemboikotan itu berlangsung selama tiga tahun. Tidak lama setelah pembatalan terhadap lembar perjanjian, Abu Thalib kemudian setelah itu Khadijah berpulang ke rahmatullah. Tahun ini disebut dengan tahun kesedihan (Amul Huzni). 2 Sesudah kehilangan dua orang yang selalu membelanya itu, Muhammad melihat Quraisy makin keras mengganggunya. Karena merasa tertekan, pada tahun 619 M Nabi pergi ke Tha’if dengan tiada seorangpun yang mengetahuinya. Ia pergi ingin mendapatkan dukungan dan suaka dari Bani Ttsaqif terhadap masyarakatnya sendiri, dengan harapan mereka pun akan dapat menerima Islam. Tetapi mereka menolaknya dengan secara kejam sekali. Nabi Muhammad juga berusaha mencari dukungan kalangan Badui, namun sekali lagi usahanya tidak membawa hasil. Sekitar tahun 620 M, beberapa orang bangsa Yasrib datang ke Makkah dan bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada festival Ukaz dan merasa terkesan oleh setiap perkataanya, mereka mempercayai kenabiannya dan mengucapkan sumpah setia bai’at antara Nabi Muhammad SAW dengan orang-orang Yasrib, yang berisikan pernyataan bahwa orang-orang Yasrib menerimanya sebagai Nabi dan mematuhi perintahnya serta menjauhi diri dari perbuatan dosa. Sumpah setia bai’at kedua terjadi pada tahun 622 M berisikan pernyatan bahwa mereka tidak hanya menerima Muhammad SAW sebagai Nabi, tetapi juga sanggup berperang membela agama Tuhan dan Rasul-Nya. Untuk itu, dapat dikatakan, yang melatarbelakangi hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta sahabatnya antara lain: 1) Kondisi kota Makkah yang tidak lagi aman bagi kaum muslimin. Ini disebabkan karena makin besarnya tekanan yang dilakukan oleh kaum Quraisy. Hal ini terjadi karena meninggalnya orang-orang yang disegani oleh kafir Quraisy. 2) Tawaran dan undangan kepada Nabi Muhammad SAW untuk hijrah ke Madinah. Jauh sebelum peristiwa hijrah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya, sejumlah pemimpin kabilah di Madinah dari Bani Khuraidhah dan bani Khuzraj pernah mendatangi Rasulullah SAW. yang menyatakan bahwa masyarakat Madinah sanggup melindungi Rasul 3 maupun pengikutnya. karena merekalah yang telah menolong Nabi dan para sahabatnya sesampai di Madinah. 3) Turunnya perintah kepada Nabi Muhammad SAW. Untuk melakukan hijrah. Sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah para sahabat telah terlebih dahulu melaksanakan hijrah ke Madinah dengan cara sembunyisembunyi sampai turunnya perintah dari Allah SWT. C. Pelajaran yang Dapat Diambil dari Peristiwa Hijrahnya Nabi Agar sejarah tidak hanya menjadi khazanah untuk bernonstalgia saja, maka patut kiranya kita mengambil pelajaran-pelajaran dari hikmah-hikmah terjadinya suatu kejadian dalam sejarah. Sejarah bisa saja terulang, jika kita tidak dapat mengambil pelajaran darinya. Dalam konteks hijrah, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil. Di antaranya: Pelajaran pertama, ketika Islam terus mendapat tekanan dan teror, ketika Islam tidak dapat lagi diamalkan dengan baik, maka alangkah baiknya kita mencari kawasan dakwah lain yang barangkali akan dapat menerima dakwah Islam dengan sungguh-sungguh. Nabi telah berjuang menyampaikan dakwah di kota Makkah selama tidak kurang dari sepuluh tahun. Dimulai dari keluarga terdekatnya, kemudian sukunya dan kemudian masyarakat Makkah secara umum. Dari kalangan hamba sahaya yang lemah sampai kepada pemimpin-pemimpin Quraisy yang kuat secara ekonomi dan politik. Tapi hasilnya belum lagi seperti yang diharapkan. Dakwah Nabi malah mendapat tantangan dan ancaman, baik kepada Nabi sendiri, maupun kepada pengikutnya. Di Madinah-lah dakwah beliau mendapatkan penerimaan yang besar. Bahkan, setelah Rasulullah dan para sahabat hijrah, dari kota Madinah jugalah cahaya Islam kian terang, dakwah Islam semakin meluas, dan tatanan masyarakat seperti yang diinginkan al-Qur’an dimungkinkan dapat dilakukan. Pelajaran kedua, sabar adalah kunci kemenangan. Berkali-kali sahabat Rasulullah meminta Rasulullah, ketika mereka masih di Makkah dan 4 ancaman serta siksaan dari kafir Quraisy semakin tinggi, agar diizinkan berperang guna membela agama Islam. Rasulullah belum mengizinkan hal itu karena memang belum mendapat perintah berperang dari Allah. Rasulullah malah menyuruh mereka menguatkan keimanan dan bersabar seperti umatumat sebelum mereka. Rasulullah melihat ketika itu umat Islam belum lagi memiliki kekuatan yang setara dengan kekuatan kafir Quraisy. Barulah ketika kaum muslimin sudah melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah), umat Islam dizinkan untuk berperang yang, awalnya, hanya diizinkan untuk membela diri. Ketika Islam sudah kuat, kemenangan demi kemenangan dalam peperangan diraih oleh kaum Muslimin. Andai dulu mereka tidak bersabar, tentu komunitas Islam yang kecil ketika itu dengan mudah dapat dihancurkan. Pelajaran ketiga, tentang kesetiakawanan dan rela berkorban. Kiranya Abu Bakar ra. sangat layak kita acungi jempol sebagai sahabat dan karib Rasulullah yang sangat setia, jujur dan rela berkorban. Dia tidak hanya menyediakan dirinya untuk membantu hijrahnya Rasulullah, akan tetapi anakanak beliau dan pembantunya juga memberikan andil yang besar dalam peristiwa hijrah. Beliau juga menyediakan dua ekor untanya untuk digunakan selama hijarah ini. Adalah Abdullah bin Abu Bakar, seperti yang dituturkan Aisyah, seorang pemuda yang cerdas dan pandai, yang bertugas menjadi intel dan mata-mata bagi Rasulullah. Dia menelusup ke tengah-tengah Quraisy untuk mencari tahu rencana mereka terkait Rasulullah dan mengabarkannya kepada Rasulullah di malam hari. Pembantu beliau, Amir bin Fuhairah bertugas mengembala domba di sekitar mulut goa sehingga mereka berdua bisa mengambil air susunya. Sedangkan anak Abu Bakar yang lain, Asma’, membawakan rangsum makanan untuk perjalan mereka berdua. Begitulah besarnya perjuangan dan peran Abu Bakar dalam konteks hijrah ini. Yang, kemudian, menjadi salah satu alasan dan pertimbangan para 5 sahabat ketika suksesi kepemimpinan dilakukan untuk memilih pengganti Rasulullah pasca meninggalnya. Pelajaran keempat, cerdas dalam bertindak dan berbuat. Hidup ini butuh perencanaan yang matang. Apalagi peristiwa besar seperti hijrah, tentulah butuh sebuah rencana terukur dan rapi agar memperoleh hasil yang diinginkan. Hanya ada dua jalan menuju Madinah, dan Rasulullah secara sengaja memilih jalan lain, berbelok ke Selatan terlebih dahulu, tinggal di gua Hira selama beberapa hari, kemudian menyusuri pantai Laut Merah, dan menempuh jalur perjalanan yang belum ditempuh orang. Semua itu agar kepergian Rasulullah tidak mudah dilacak dan hijrah berhasil dengan baik. Pelajaran kelima, selalu mengikuti wahyu adalah kunci kesuksesan. Walau perintah untuk hijrah bagi sahabat telah dikeluarkan, dan telah banyak dari kalangan sahabat yang melakukannya, namun Rasulullah sendiri belum melakukan hijrah lantaran belum adanya wahyu yang secara khusus menyebut perintah berhijrah buat beliau sendiri. Beliau SAW malah memerintahkan Abu Bakar untuk menunda hijrahnya demi bisa bersamasama melakukan hijrah. Tapi beberapa persiapan penting untuk keperluan hijrah tetap dilakukan Rasulullah. Barulah setelah adanya wahyu dari Malaikat Jibril terkait perintah hijrah, maka Rasulullahpun melakukan hijrah. Pelajaran pentingnya adalah bahwa jika hari ini kaum Muslimin dijauhkan dari keberuntungan, dizhalimi, teraniaya, mengalami ketertinggalan, miskin dan lemah, barangkali salah satu sebabnya adalah karena telah lama kita meninggalkan wahyu. Berdasarkan penuturan dari Bapak Prof. Maidir Harun, MA., sangat sedikit hari ini kaum Muslimin yang membaca dan memahami kitab sucinya. Tambah sedikit lagi yang menjadikannya sebagai tuntunan dan pedoman hidup. Maka untuk mengembalikan kejayaan umat ini, kita tidak dapat berlepas diri dari wahyu. Bahkan wahyulah yang menuntun kita dari satu kesuksesan ke kesuksesan yang lain. 6 D. Pembentukan Negara Madinah Setelah sampai Nabi di Madinah, Nabi mempunyai kedudukan yang istimewa bukan saja sebagai pemimpin agama, namun juga sebagai kepala negara, dengan kata lain dalam diri Nabi terkumpul dua kekuasaan yaitu spiritual dan duniawi. Kedudukan Nabi sebagai Rasul secara otomatis merupakan sebagai kepala Negara, maka dari itu Nabi mulai menata kehidupan masyarakat dengan beberapa usaha yakni: 1) Pembangunan Masjid Masjid yang awalnya difungsikan sebagai tempat beribadat, kemudian juga berkembang menjadi tempat belajar (madrasah), mengadili perkara-perkara, tempat berkumpul dan bermusyawarah guna merundingkan masalah-masalah yang dihadapi. Bahkan Nabi juga menggunakan masjid sebagai pusat pemerintahannya. 2) Ukhuwah Islamaiyyah Karena kaum muslimin Makkah yang hijrah ke Madinah (kaum Muhajirin) itu sebagian besar meninggalkan harta mereka di Makkah, maka hiduplah mereka di kota baru Madinah dalam kemiskinan dan serba kekurangan. Yang mereka miliki hanyalah iman dan keyakinan yang kuat di dada mereka masing-masing. Rasul melihat untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang kuat maka perlulah ada sebuah ikatan persaudaraan yang kuat antar penduduknya. Atas dasar pemikiran inilah kemudian kaum Muhajirin dipersaudarakan dengan kaum penduduk Madinah (Anshar). Dengan demikian beban kehidupan kaum Muhajirin yang berat pada awalnya dapat sama dipikul bersama saudaranya dari kalangan Anshar. Persaudaraan jenis ini terbukti cukup kuat dan ampuh dalam pembinaan masyarakat, karena ia tidak lagi berlandaskan suku atau qabilah, akan tetapi dasarnya adalah Akidah Islamiyyah. 3) Mengadakan perjanjian untuk bahu-membahu antara sesama Muslim dan bukan Muslim. 7 Sesudah peristiwa hijrah maka penduduk Madinah terdiri dari tiga golongan, yaitu kaum Muslimin, kaum Yahudi dan bangsa Arab yang belum menganut Islam dan masih menganut ajaran nenek moyang. Rasulullah ingin menciptakan sebuah masyarakat yang dapat hidup saling berdampingan, saling bahu-membahu dan memiliki sifat toleransi. Oleh sebab Nabi mengeluarkan sebuah piagam perjanjian yang menjamin semua itu. Isi piagam itu, antara lain, semua golongan masyarakat memiliki hak dalam berpolitik dan beragama, dan setiap golongan wajib saling bantu membantu untuk menangkis serangan musuh dari luar Madinah. Dalam piagam itu juga disebutkan bahwa Nabi memiliki otoritas tertinggi sebagai kepala pemerintahan, yang mana kepada beliualah segala perselisihan dan perkara akan diadukan dan diselesaikan. Piagam ini, dalam konteks ketatanegaraan, sering disebut Konstitusi Madinah. 4) Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi dan sosial bagi masyarakat yang baru. Jika dilihat ayat-ayat yang diturunkan pada periode Madinah ini, maka akan kita lihat bahwa kebanyakan mereka lebih banyak berbicara tentang pembinaan hukum dan syariat. Baik tentang ekonomi, sosial politik, sosial kemasyarakatan, tatanan sosial, dan lain-lain. Ayat-ayat inilah (juga hadist-hadist Nabi sendiri), menurut penulis, yang kemudian menjadi acuan Nabi dalam menata dan meletakkan dasardasar hidup dalam bernegara. E. Tahapan Pengembangan Negara Madinah Kemunculan peradaban Madinah berlangsung dalam beberapa tahap. Tahap pertama dapat disebut sebagai tahap konsolidasi internal umat dan komunitas Madinah. Tahap ini Nampak dari usaha Nabi untuk mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshor, dan usaha Nabi mengadakan sebuah perjanjian antara golongan Muslim dan Yahudi yang kemudian tertuang dalam Piagam Madinah. 8 Tahap kedua adalah ketika kaum Muslimin mulai terlibat dalam konflik ideologis dengan komunitas non-Muslim. Sejarah mencatat terjadi berkali-kali kontak fisik dan peperangan antara kaum Muslimin dengan golongan non-Muslim. Seperti perang Badr (2 H/623 H), perang Uhud (3 H/625 M) dan perang Khandaq (5 H/627 M). Termasuk juga dalam periode ini konflik antara kaum Muslimin dan beberapa kabilah Yahudi yang melanggar Piagam Madinah. Tahap ketiga, kaum Muslimin mulai keluar Madinah, yang tujuan awalnya adalah melaksanakan ibadah umrah. Meski perjalanan umrah itu tidak berhasil karena dicegat oleh Quraisy, namun Rasulullah berhasil mengadakan perjanjian dengan mereka, yang kemudian terkenal dalam sejarah sebagai Perjanjian Hudaibiyah. Isi perjanjian itu secara implisit mengindikasikan kemenangan Islam, karena dengan perjanjian itu Rasulullah dimungkin untuk mendakwahkan Islam ke kawasan yang lebih luas lagi, tanpa adanya ancaman dan gangguan dari Quraisy. Tahap keempat, adalah ketika kaum Muslim berhasil menguasai seluruh Jazirah Arabia. Setelah penaklukan Quraisy secara telak pada peristiwa Fathu Makkah, praktis seluruh Jazirah Arab telah dikuasai, meski masih ada beberapa suku atau kabilah yang belum menganut Islam, kepada mereka diwajibkan membayar jizyah, sebagai jaminan atas keselamatan mereka di tanah kaum Muslimin. Berikut gambaran kaum Muslimin periode Makkah dan periode Madinah. No. Periode Makkah Periode Madinah 1. Terpinggirkan Memimpin peradaban 2. Kehidupan ekonomi yang minim Kehidupan ekonomi lebih baik 4. Terpencar-pencar Bersatu dan kuat 5. Tertindas Merdeka 6. Sebagian miskin Kesejahteraan meningkat 9 7. Tidak memiliki kekuasaan Memiliki sistem politik dan pemerintahan 8. Peletakan dasar-dasar akhlak Pengembangan akhlak mulia F. Faktor Penyebab Diterima Nabi dengan Baik di Madinah Dari bahan-bahan bacaan yang berhasil penulis himpun, penulis menyimpulkan, setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan Nabi diterima dengan baik di Madinah. Faktor pertama, masyarakat Yasrib telah mengenal agama wahyu karena sebelum Islam datang, mereka telah pernah mendengar tentang Allah, wahyu, sorga dan neraka, hisab, dan lain-lain. Ini membuat pemahaman mereka terhadap Islam jauh lebih baik ketimbang penduduk Makkah yang pagan. Faktor kedua, masyarakat Yasrib sendiri memerlukan seorang pemimpin yang mampu mempersatukan suku-suku yang saling bermusuhan, terutama antara suku Aus dan Khazraj. Di antara mereka telah lama muncul persaingan, silang sengketa dan, bahkan, juga permusuhan yang berujung pada peperangan. Hadirnya Rasul diharapkan dapat mempersatukan mereka, yang sebenarnya, dulu adalah bersaudara. Faktor ketiga, dan ini, yang menurut penulis yang terpenting, adalah berasal dari pribadi Rasulullah sendiri, yaitu: ketinggian budi dan akhlak Rasulullah, juga kecemerlangan dan kebrilianan akal fikirannya. Kesabaran, kasih sayang, kedermawanan, kepintaran Rasulullah dalam mengatur siasat dan menyelesaikan masalah, kebersahajaan Rasul dan sifat-sifat luhur Rasulullah yang lain, yang dengan mudah dapat penduduk Madinah lihat dan rasakan, menurut penulis, inilah faktor terpenting keberhasilan dakwah Rasul dan diterimanya Rasul secara bulat sebagai pemimpin di negeri yang bukan tanah kelahirannya, Madinah. Ketinggian akhlak inilah yang membuat orang 10 menurut dengan keputusan beliau, dan patuh akan perintah yang beliau sampaikan. G. Kebijakan Rasulullah dalam Bidang Pendidikan, Sosial-Politik, Ekonomi dan Militer Selain sebagai pengemban risalah kenabian, setelah hijrah, peran Rasulullah kemudian meluas, juga sebagai pemimpin politik yang di tangannya segala aturan dan tatanan masyarakat Islam yang baru terbentuk diatur. Hanya kepadanyalah segala persoalan dan pertikaian diminta untuk diselesaikan. Kepadanya juga segala macam permasalahan dicarikan solusi dan pemecahan. Rasulullah juga mengutus beberapa utusan untuk melakukan dakwah ke daerah sekitar Madinah dan mengirimi surat kepada beberapa raja untuk menyeru mereka ke dalam Islam. Dalam bidang ekonomi ayat-ayat tentang wajibnya zakat, haramnya riba, kemudian turun dan diamalkan oleh masyarakat Islam Madinah. Dalam bidang pendidikan, Rasulullah juga membuat beberapa kebijakan penting yang sangat berpengaruh dalam mempercepat terjadinya transformasi ilmu pengetahuan di kalangan kaum Muslimin. Di antaranya adalah Beliau membolehkan para tawanan perang Badr untuk ditebus dengan mengajar tulis-baca warga Madinah. Untuk melihat lebih jauh kebijakan-kebijakan Rasulullah dalam berbagai aspek seperti yang telah disebutkan di atas serta pengaruhnya, berikut penulis paparkan lebih rinci pada sub-bab berikut ini. 1. Kebijakan Rasulullah dalam Bidang Pendidikan Pendidikan di dalam Islam memiliki peran yang sangat tinggi. Itulah mengapa wahyu yang pertama kali turun bukanlah berkenaan dengan akaidah atau ibadah, akan tetapi adalah perintah untuk menuntut ilmu. Begitu pentingnya pendidikan ini sehingga Rasulullah mendorong umatnya untuk terus belajar dan menuntut ilmu. Dalam rangka itu pula 11 Rasulullah SAW membuat kebijakan bagi tawanan perang Badr jika ingin bebas dapat ditebus dengan membayar uang tebusan atau mengajari tulisbaca anak-anak Madinah. Rasulullah meyakini bahwa derjat dan martabat umat yang selama ini lemah dan miskin akan terangkat jika mereka mampu menguasai tulis-baca. Masjid sebagai pusat ibadah, kemudian dikembangkan juga sebagai pusat pendidikan Di masjidlah pengajaran agama Islam banyak dilangsungkan, dimana para sahabat begitu bersemangat mendengarkannya. Namun lembaga pendidikan di masa Rasulullah bukan hanya masjid. Berikut lembaga-lembaga pendidikan pada masa Rasulullah: a) Dar al-Arqam Pada masa permulaan Islam, pada periode Makkah, Rasulullah menggunakan rumah Arqam bin Abi al-Arqam di al-Safa sebagai tempat pertemuan dan pengajaran. Di tempat inilah Rasulullah mengajarkan wahyu yang baru diterimanya, dan membimbing para sahabat untuk menghafal, menghayati dan mengamalkannya. b) Masjid Setelah hijrah pendidikan dan pengajaran kemudian dipusatkan di masjid. Di masjidlah Rasulullah mengajar, memberi khutbah dalam bentuk halaqah dimana para sahabat duduk mengelilingi beliau untuk mendengar dan dan melakukan tanya-jawab berkaitan dengan urusan agama dan kehidupan sehari-hari. c) Suffah Suffah diartikan sebagai ruang atau bangunan yang bersambung dengan masjid. Suffah dapat dilihat sebagai sekolah karena kegiatan pengajaran dan pembelajaran dilakukan secara sistematik. Tempat ini juga berfungsi sebagai asrama bagi para sahabat belum memiliki tempat tinggal yang permanen. Mereka ini kemudian dikenal dengan Ahl alShuffah. 12 Diantara para sahabat yang pernah menginap di suffah ini, yang kemudian menjadi sahabat besar dan ulama besar di kemudian hari adalah: Abu Hurairah, Salman al-Farisi, Abu Zar al-Ghifari, Muadz bin Jabal, Imran bin Husain, Abu Abdullah bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Hudzaifah bin Yaman, Bilal bin Rabah dan Suhaib ar-Rumi. 2. Kebijakan Rasulullah dalam Bidang Sosial-Politik Usaha-usaha Rasulullah dalam bidang sosial-politik antara lain: a) Mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar. Persaudaran jenis ini telah menghapus asas persaudaraan masa Jahiliyyah yaitu fanatisme kesukuan. Persaudaraan ini juga meruntuhkan asas persudaraan yang berdasarkan warna kulit, asal daerah dan bangsa. Persaudaraan ini, sampai batas-batas tertentu, telah berhasil menciptakan kerukunan, saling tolong menolong dan ukhuwah islamiyyah yang berdasarkan takwa. b) Konstitusi Madinah. Isi Konstitusi Madinah secara umum menjamin hak yang sama setiap warga negara dalam beragama, berpendapat dan juga hak dalam berpolitik. Piagam ini juga menyebut Rasulullah sebagai pemimpin politik, karena setiap konflik dan perselisihan diselesaikan secara musyawarah, jika tidak putus, penyelesaiannya diserahkan kepada Rasulullah. c) Mengadakan perjanjian Hudaibiyah. Ini adalah salah satu bentuk keberhasilan politik luar negeri Rasulullah. Meski kaum Quraisy merasa mereka menang, tapi fakta sesungguhnya dari perjanjian itu, seperti yang disebut dalam alQur’an adalah fathan mubina (kemenangan yang nyata) bagi kaum Muslimin. Hal itu dikarenakan beberapa hal. Pertama, ini merupakan kali pertama kaum Quraisy mengakui Rasulullah sebagai seorang pemimpin, bukan sebagai orang sesat, pendusta atau kemasukan roh 13 jahat, seperti yang selama ini mereka kira. Kedua, perjanjian ini meningkatkan posisi tawar kaum Muslimin dan kota Madinah sebagai poros kekuatan politik baru di Arabia. Ketiga, dengan adanya genjatan senjata memberi peluang dan kesempatan bagi kaum Muslimin untuk menyebarkan Islam lebih luas lagi. d) Mengutus utusan-utusan diplomatik. Selama dalam masa gencatan senjata, Rasulullah gencar melakukan dakwah dengan mengajak pemimpin-pemimpin di sekitar Jazirah Arab untuk memeluk Islam. Hal itu dilakukan dengan mengirimi mereka surat lewat beberapa orang utusan, yang berstempelkan “Muhammad Rasullah”, sebagai cap resmi kenegaraan. Berikut tabel utusan-utusan diplomatik Rasulullah. No. Nama Penguasa Nama Hasil yang Dicapai Utusan 1 Najasyi (Abisinia) Amr bin Najasyi memeluk Islam, dia juga Umayyah membekali kaum Muhajirin pertama untuk pulang ke negerinya. 2 3 Al-Munzir bin Sawa, Al-‘Ala bin Al-Munzir membalas surat Rasulullah pemimpin Bahrain al-Hadrami dengan balasan yang baik. Kisra (Persia) Abdullah Kisra merobek-robek surat Rasulullah bin SAW. Hudhafah 14 4 Heraklius (Romawi) Dihyah Kalbi 5 Muqauqis (Mesir) Hatib Balta’ah al- Hiraklius sangat menghormati Islam dan Muhammad SAW. bin Muqauqis menyambut utusan Rasulullah dengan baik. Dia juga mengirim dua budak sebagai hadiah, yang salah Qibtiyyah satunya, diambil Mariah sendiri aloleh Rasulullah. 6 Penguasa Oman Amr ‘Ash 7 Haudzah bin Ali, Sulait pemimpin Yamamah 8 Amr Al-Harits bin Abu al- Syuja’ Ghassani, bin Dia membalas surat Rasulullah dengan kasar. bin Dia bersedia masuk Islam asal dia diangkat menjadi gubernur. bin Dia menolak ajakan Rasulullah. pemimpin Wahb Damaskus 3. Kebijakan Rasulullah dalam Bidang Ekonomi Pasar dan pertanian penduduk Madinah lebih banyak dikuasai oleh Yahudi, yang terkenal mahir mengolah pertanian dan melakukan aktifitas perekonomian. Pada saat yang sama penduduk Madinah semakin bertambah dengan terus berdatangannya kaum Muhajirin. Berikut kebijakan ekonomi Rasulullah secara ringkas. a) Melarang riba, gharar, ihtikar dan tadlis Pelarangan riba dijelaskan al-Qur’an dalam beberapa ayat. Beliau SAW turun langsung untuk menghapus praktek ini. Bahkan dalam kesempatan haji Wada’, hal ini juga disinggung dalam khutbah beliau. 15 Gharar adalah ketidakpastian dalam sebuah transaksi karena ketidaklengkapan informasi mengenai kualitas, kuantitas atau harga barang. Ihtikar tindakan yang dapat mempengaruhi ketersedian barang secara tidak wajar, seperti penimbunan barang. Tadlis adalah perilaku ekonomi yang tidak dilandasi dengan kejujuran dalam bertransaksi. Semua ini dilarang oleh Rasulullah SAW. b) Mengelola sumber penerimaan dan pengeluaran Negara Pada permulaan Islam, sumber pemasukan Negara berasal dari zakat, khums, dan jizyah. Khums adalah seperlima dari harta rampasan perang yang menjadi haknya Allah dan Rasul-Nya. Oleh Rasulullah khums ini dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk dirinya dan keluarganya, satu bagian untuk kerabatnya, dan satu bagian lagi untuk anak yatim dan orang yang membutuhkan. Jizyah adalah pembayaran yang dilakukan oleh Ahlul Kitab sebagai jaminan atas perlindungan jiwa, tempat ibadah, dan bebas dari kewajiban militer. Jizyah ini dipungut sekali setahun terhadap kaum laki-laki saja, sementara kaum perempuan, anak-anak, pendeta dan lanjut usia terbebaskan dari kewajiban ini. Sumber-sumber pemasukan Negara ini, dan juga beberapa sumber yang lain, meskipun belum dicatat dan dikelola dengan cara sederhana, sesungguhnya telah memperlihatkan cikal bakal pengelolaan keuangan Negara yang efektif, adil, transparan, akuntabel, dan mensejahterakan. Rasulullah sendiri sebagai kepala Negara tidak menerima upah dari pekerjaan ini. Pengeluaran Negara yang bersifat primer diperuntukkan untuk menggaji gubernur, amir, guru, imam, dan pejabat lainnya. Sedangkan yang bersifat sekunder 16 berupa bantuan kepada para pelajar-pelajar Islam yang mulai berdatangan ke Madinah, penyambutan tamu, atau biaya perjalanan para delegasi yang ditugaskan Rasulullah. Jika pengeluaran tidak memadai dari pemasukan, terkadang Rasulullah, untuk menutupi keungan Negara, meminta bantuan kepada kaum Muslimin, atau meminjam kepada orang non-Muslim. 4. Kebijakan Rasulullah dalam Bidang Militer Pada periode Makkah ketikamana penganut Islam masih sedikit dan kebanyakan berasal dari golongan lemah yang tidak memiliki sekutu yang dapat membela harta dan jiwa mereka, penindasan dan siksaan terhadap Rasulullah dan pengikutnya tak dapat dielakkan. Namun melakukan upaya membalas kekerasan dengan kekerasan adalah dilarang oleh Rasulullah pada periode ini. Rasulullah melihat saat itu kaum Muslimin belum lagi memiliki kekuatan. Alih-alih membalas, bisa jadi komunitas Islam yang masih kecil itu dapat dibinasakan. Maka nasehat Nabi dalam hal ini adalah bersabar dan menahan diri. Barulah pada periode Madinah ayat tentang perintah berjihad guna mempertahankan agama turun. Perang Badr al-Kubra, yang merupakan peperangan pertama kaum Muslimin dengan kaum Musyrik Makkah tercatat dalam sejarah sebagai peperangan terpenting dalam sejarah Islam, yang sangat menentukan bagi perkembangan dan kemajuan dakwah Islam di masa berikutnya. Akan tetapi musuh Islam yang dapat mengadakan gangguan ke kota Madinah, sesungguhnya, tidak hanya Kafir Quraisy Makkah. Ada juga komunitas Yahudi di luar Madinah yang merasa memiliki keterikatan emosi dengan saudara Yahudi mereka di Madinah, yang, menurut mereka, semakin terjepit pasca hijrahnya Rasulullah bersama para sahabatnya. Ada juga Kerajaan Romawi (Bizantium) dan Persia yang kemudian merasa 17 khawatir dengan terus meluasnya pengaruh kaum Muslimin di Jaziarah Arabia. Melihat besarnya ancaman-ancaman ini, maka Rasulullah mengambil kebijakan untuk membentangkan kekuasaan kaum Muslimin di jalur perdangan dari Makkah ke Syam (Syiria). Langkah-langkah yang ditempuh beliau antara lain: a) Mengadakan perjanjian perdamaian dengan kabilah-kabilah yang tinggal di antara kedua jalur perdangan itu. b) Mengadakan ekspedisi-ekspedisi secara bergantian ke jalur-jalur tersebut. Strategi militer ini terbukti cukup berhasil. Musuh-musuh Islam kemudian berfikir ulang untuk menyerang atau mengganggu kaum Muslimin. Setelah kemenangan yang sangat menentukan di perang Badr, ekspedisi-ekspedisi militer masih tetap dikirimkan Rasulallah SAW untuk melumpuhkan beberapa ancamann yang dapat membahayakan Madinah. Beberapa diantara ekspedisi ini dipimpin langsung oleh Rasulullah sendiri, sedang yang lainnya diamanahkan kepada seorang sahabat. H. Faktor yang Membawa Kemajuan Kemajuan Madinah di Masa Rasulullah disebabkan karena keutuhan nabi Muhammad sebagi pemimpin umat. Beliau juga sebagai seorang tokoh dunia yang berhasil mengubah keadaan masyarakatnya melalui pemerintahan beliau dan perubahan sosial yang dilakukan beliau sudah diakui di seluruh dunia dan tertoreh dalam tulisan pujangga dan filosofis dunia. Seperti Muhammad Iqbal dan Michael Hart yang menuliskan pujian yang sangat agung. Bahkan M. Hart meletakkan Nabi Muhammad Saw sebagai tokoh nomor satu di antara seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Di samping itu beliau juga menjadi pendiri bangsa, dengan mendirikan sebuah bangsa dengan menyatukan para pemeluknya, lalu beliau merancang sebuah imperium yang dibangun berdasarkan kesepakatan dan 18 kerjasama berbagai kelompok yang terkait. Pada masa itu, Nabi Muhammad Saw berhasil mendirikan sebuah Negara Madinah, yang semula hanya terdiri dari suatu kelompok masyarakat yang saling bermusuhan. Beliau juga menjalin hubungan diplomatik dengan mengirim utusanutusan ke berbagai daerah di dalam dan di luar Tanah Arab seperti Habasyah,, Ghassan, Hirah, dan lain sebagainya. Sebagai pimpinan politik beliau mampu menjalin kerjasama dengan membuat berbagai perjanjian, diantaranya Perjanjian Madinah. Di bidang militer Rasulullah juga memiliki pasukan yang kuat. Di bidang Ekonomi, beliau juga memerhatikan ekonomi masyarakat dengan menggerakkan di bidang perniagaan dan pertanian. Penulis berpendapat, kesuksesan kemajuan Islam di Madinah dan hasil-hasil yang dicapainya, semua itu, adalah karena seluruh aspek kehidupan dibangun oleh Rasulullah. Mulai dari bidang politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan sampai kepada kekuatan militer. I. Penutup 1. Kesimpulan Dakwah yang dilakukan Rasulullah pada periode Makkah di tanah kelahirannya tidaklah membawa hasil yang diharapkan. Walau usaha dan kiat yang dilakukan Rasul sudah maksimal. Yang semakin meningkat kemudian malah rintangan, siksaan dan halangan dari beberapa kalangan Quraisy untuk menghentikan Rasul. Bahkan Rasul sendiri pernah diboikot selama tiga tahun dari masyarakatnya. Pada saat yang sama penduduk Madinah, yang terletak di Utara Makkah menerima dakwah Rasulullah. Bahkan mereka meminta Rasulullah untuk hijrah ke kota mereka. Rasul kemudian memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, sedang beliu sendiri tetap tinggal beberapa lama sembari menunggu wahyu yang memerintahkan beliu untuk hijrah. Dalam sejarah kita ketahui bahwa hijrahnya Nabi dan sahabatnya ke Madinah, memberikan dampak positif bagi umat Muslim. Setelah kaum 19 muslimin yang awalnya lemah dan teraniaya, kemudian menjelma menjadi masyarakat yang solid dan kuat secara ekonomi, politik dan militer, bahkan memimpin peradaban selama beberapa qurun. Peristiwa hijrahnya Nabi dianggap sebagai tonggak sejarah terpenting dalam sejarah Islam, dimana disitulah Nur Islam itu semakin terang. Dia juga sarat dengan I’tibar, nilai-nilai, pelajaran dan hikmah. 2. Saran Penulis sangat menyadari keterbatasan kemampuan dan kurangnya latar belakang keilmuan dalam menulis makalah ini. Yang, seperti yang dengan mudah dapat dilihat, banyak sekali kurang dan cacatnya. Banyak tema yang belum penulis bahas secara mendalam dalam makalah sederhana ini, khususnya bagaimana Rasulullah membangun militer yang kuat dan hasil yang dicapai dalam bidang ini, belum dibahas sekitpun dalam makalah ini. Apalagi penulis diminta menulis makalah di awal dan mempresentasikannya di kelas, padahal belum ada buku panduan dan contoh yang dapat dijadikan sebagai acuan. Untuk itu penulis berharap adanya masukan pemikiran yang bersifat konstruktif-edukatif atau saran untuk kesempurnaan makalah ini. Akhirnya, tiada gading yang tak retak, mohon maaf atas kesalahan dan terima kasih atas segala saran dan kritikannya, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi penulisnyan sendiri. 20 ‫‪Lampiran I‬‬ ‫‪Teks Asli Piagam Madinah‬‬ ‫ُبَاتِك‬ ‫ِّيِبَّنلا‬ ‫ِمْسِب‬ ‫ِهَّللا‬ ‫ِنَمْحَّرلا‬ ‫ِميِحَّرلا‬ ‫ٌباَتِكاَذَه‬ ‫ٍدَّمَحُمْنِم‬ ‫ِّيِبَّنلا‬ ‫ىَّلَص‪-‬‬ ‫ُهَّللا‬ ‫ِهْيَلَع‬ ‫َمَّلَسَو‬‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫َنيِمِلْسُمْلاَو‬ ‫ٍشْيَرُقْنِم‬ ‫َبِرْثَيَو‬ ‫ْمُهَعِبَتْنَمَو ‪،‬‬ ‫َقِحَلَف ‪،‬‬ ‫ْمِهِب‬ ‫َدَهاَجَو ‪،‬‬ ‫ْمُهَعَم‬ ‫‪.‬‬ ‫‪1‬‬ ‫ْمُهَّنإ‬ ‫ٌةَّمُأ‬ ‫ٌةَدِحاَو‬ ‫ِساَّنلاِنوُدْنِم‬ ‫‪.‬‬ ‫‪2‬‬ ‫َنوُرِجاَهُمْلا‬ ‫ٍشْيَرُقْنِم‬ ‫ىَلَع‬ ‫مهِتَعْبِر‬ ‫َنوُلَقاَعَتَي‬ ‫ْمُهَنْيَب‬ ‫نودفَيْمُهَو ‪،‬‬ ‫مهيناَع‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِب‬ ‫طسِقلاو‬ ‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫‪.‬‬ ‫‪3‬‬ ‫وُنَبَو‬ ‫ٍفْوَع‬ ‫ىَلَع‬ ‫مهتعْبِر‬ ‫َنوُلَقاَعَتَي‬ ‫‪2‬مهَلِقاعم‬ ‫‪،‬ىَلوُأْلا‬ ‫ٍةَفِئاَطُّلُك‬ ‫يدفَت‬ ‫اَهَيِناَع‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِب‬ ‫ِطْسِقْلاَو‬ ‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫‪.‬‬ ‫‪4‬‬ ‫وُنَبَو‬ ‫َةَدِعاَس‬ ‫ىَلَع‬ ‫مهتَعْبِر‬ ‫َنوُلَقاَعَتَي‬ ‫مهَلقاعم‬ ‫ةفئاطلكوىلوألا‬ ‫يدْفَتمهنم‬ ‫اهيناع‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِب‬ ‫ِطْسِقْلاَو‬ ‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫‪.‬‬ ‫‪5‬‬ ‫‪21‬‬ ‫وُنَبَو‬ ‫ِثِراَحْلا‬ ‫ىَلَع‬ ‫مهتعْبِر‬ ‫َنوُلَقاَعَتَي‬ ‫مهَلقاعم‬ ‫‪،‬ىَلوُأْلا‬ ‫ُّلُكَو‬ ‫ٍةَفِئاَط‬ ‫يدفَت‬ ‫اَهَيِناَع‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِب‬ ‫ِطْسِقْلاَو‬ ‫َنْيَب‬ ‫‪َ.‬نيِنِمْؤُمْلا‬ ‫‪6‬‬ ‫وُنَبَو‬ ‫مهتعْبِرىلعمَشُج‬ ‫نولقاعتي‬ ‫ةفئاطلكو‪،‬ىلوألامهلقاعم‬ ‫ْمُهْنِم‬ ‫يدْفَت‬ ‫اَهَيِناَع‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِب‬ ‫ِطْسِقْلاَو‬ ‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫‪.‬‬ ‫‪7‬‬ ‫وُنَبَو‬ ‫ِراَّجَّنلا‬ ‫ىَلَع‬ ‫مهتَعْبِر‬ ‫َنوُلَقاَعَتَي‬ ‫مهَلقاعم‬ ‫ىَلوُأْلا‬ ‫ُّلُكَو ‪،‬‬ ‫ٍةَفِئاَط‬ ‫ْمُهْنِم‬ ‫يِدْفَت‬ ‫اَهَيِناَع‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِب‬ ‫ِطْسِقْلاَو‬ ‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫‪.‬‬ ‫‪8‬‬ ‫وُنَبَو‬ ‫ِنْبورْمَع‬ ‫ىَلَعفْوَع‬ ‫مهتَعْبِر‬ ‫َنوُلَقاَعَتَي‬ ‫مهَلقاعم‬ ‫ىَلوُأْلا‬ ‫ُّلُكَو ‪،‬‬ ‫ٍةَفِئاَط‬ ‫يدْفَت‬ ‫اَهَيِناَع‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِب‬ ‫ِطْسِقْلاَو‬ ‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫‪.‬‬ ‫‪9‬‬ ‫وُنَبَو‬ ‫تيِبَّنلا‬ ‫مهتعْبِرىلع‬ ‫نولقاعتي‬ ‫مهَلقاعم‬ ‫ةفئاطلكو ‪،‬ىلوألا‬ ‫يدْفَت‬ ‫اَهَيِناَع‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِب‬ ‫ِطْسِقْلاَو‬ ‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫‪.‬‬ ‫‪10‬‬ ‫وُنَبَو‬ ‫ىَلَعسْوألا‬ ‫مهتعْبِر‬ ‫َنوُلَقاَعَتَي‬ ‫ْمُهَلِقاَعَم‬ ‫‪،‬ىَلوُأْلا‬ ‫ُّلُكَو‬ ‫ٍةَفِئاَط‬ ‫ْمُهْنِم‬ ‫يدْفت‬ ‫اَهَيِناَع‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِب‬ ‫ِطْسِقْلاَو‬ ‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫‪.‬‬ ‫‪22‬‬ ‫‪11-12‬‬ ‫َفِلاَحُياَلْنَأَو‬ ‫ىَلْوَمٌنمؤم‬ ‫ٍنِمْؤُم‬ ‫هَنود‬ ‫‪13‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫َنيِقَّتُمْلا‬ ‫ىَلَع‬ ‫ىَغَبْنَم‬ ‫ْمُهْنِم‬ ‫ىَغَتْباْوَأ ‪،‬‬ ‫َةَعيِسَد‬ ‫ٍمْثإْوَأ ‪،‬ملُظ‬ ‫ٍناَوْدُعْوَأ ‪،‬‬ ‫ٍداَسَفْوَأ ‪،‬‬ ‫َنْيَب‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ْمُهَيِدْيَأ‬ ‫ِهْيَلَع‬ ‫اًعيِمَج‬ ‫ْوَلَو ‪،‬‬ ‫ْمِهِدَحَأَدلَوَناَك‬ ‫‪.‬‬ ‫‪14‬‬ ‫ُلتقَياَلَو‬ ‫ٌنِمْؤُم‬ ‫اًنِمْؤُم‬ ‫يِف‬ ‫‪ٍ،‬رِفاَك‬ ‫ُرصنياَلَو‬ ‫اًرِفاَك‬ ‫ىَلَع‬ ‫ٍنِمْؤُم‬ ‫‪.‬‬ ‫‪15‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َةَّمِذ‬ ‫ِهَّللا‬ ‫ٌةَدِحاَو‬ ‫ريجُي‬ ‫ْمِهْيَلَع‬ ‫ْمُهاَنْدَأ‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫ْمُهُضْعَب‬ ‫يِلاَوَم‬ ‫ٍضْعَب‬ ‫ِساَّنلاَنوُد‬ ‫‪.‬‬ ‫‪16‬‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫اَنَعِبَتْنَم‬ ‫َدوُهَيْنِم‬ ‫َّنِإَف‬ ‫ُهَل‬ ‫َرْصَّنلا‬ ‫ةَوْسُأْلاَو‬ ‫َرْيَغ ‪َ،‬‬ ‫َنيِموُلْظَم‬ ‫َنيِرَصاَنَتُماَلَو‬ ‫ْمِهْيَلَع‬ ‫‪.‬‬ ‫‪17‬‬ ‫َمْلِسَّنإو‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫ٌةَدِحاَو‬ ‫ُمَلاَسُياَل‬ ‫ٌنِمْؤُم‬ ‫يِفٍنمؤمَنوُد‬ ‫ٍلاَتِق‬ ‫يِف‬ ‫ِليِبَس‬ ‫ِهَّللا‬ ‫ىَلَعاَّلإ ‪،‬‬ ‫ٍءاَوَس‬ ‫ٍلْدَعَو‬ ‫ْمُهَنْيَب‬ ‫‪.‬‬ ‫‪18‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ٍةَيِزاَغَّلُك‬ ‫ْتَزَغ‬ ‫اَنَعَم‬ ‫بقعُي‬ ‫اَهُضْعَب‬ ‫اًضْعَب‬ ‫‪.‬‬ ‫‪19‬‬ ‫‪23‬‬ ‫نينمؤملا نإو‬ ‫ءيبي‬ ‫ْمُهُضْعَب‬ ‫ىَلَع‬ ‫ٍضْعَب‬ ‫اَمِب‬ ‫يِف مهَءامدَلاَن‬ ‫ِليِبَس‬ ‫ِهَّللا‬ ‫َّنِإَو ‪،‬‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫َنيِقَّتُمْلا‬ ‫ىَلَع‬ ‫ِنَسْحَأ‬ ‫ِهِمَوْقَأَويْدَه‬ ‫‪.‬‬ ‫‪20‬‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫ُريِجُياَل‬ ‫ٌكِرْشُم‬ ‫شيرقلاًلاَم‬ ‫اًسفنالو‬ ‫ُلوُحَياَلَو ‪،‬‬ ‫ُهَنوُد‬ ‫ىَلَع‬ ‫ٍنِمْؤُم‬ ‫‪.‬‬ ‫‪21‬‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫َطَبَتْعاْنَم‬ ‫اًنِمْؤُم‬ ‫اًلْتَق‬ ‫ةنيَبْنَع‬ ‫ُهَّنِإَف‬ ‫ٌدَوَق‬ ‫ِهِب‬ ‫ىَضْرَيْنَأاَّلإ‬ ‫ُّيلو‬ ‫ِلوُتْقَمْلا‬ ‫َّنِإَو ‪،‬‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلا‬ ‫ِهْيَلَع‬ ‫ٌةَّفاَك‬ ‫ُّلِحَياَلَو ‪،‬‬ ‫ْمُهَل‬ ‫ٌماَيِقاَّلإ‬ ‫ِهْيَلَع‬ ‫‪.‬‬ ‫‪22‬‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫ُّلِحَياَل‬ ‫ٍنِمْؤُمِل‬ ‫َّرَقَأ‬ ‫اَمِب‬ ‫يِف‬ ‫ِهِذَه‬ ‫ِةَفيِحَّصلا‬ ‫ِهَّللَاِبَنَمآَو‬ ‫ِمْوَيْلاَو‬ ‫ِرِخآْلا‬ ‫َرُصْنَيْنَأ ‪،‬‬ ‫اًثِدْحُم‬ ‫ِهيِوْؤُياَلَو‬ ‫‪،‬‬ ‫ُهَّنَأَو‬ ‫ُهَرَصَنْنَم‬ ‫َّنِإَف ‪ُ،‬هاَوآْوَأ‬ ‫ِهْيَلَع‬ ‫َةَنْعَل‬ ‫ِهَّللا‬ ‫ُهَبَضَغَو‬ ‫َمْوَي‬ ‫ِةَماَيِقْلا‬ ‫ُذَخْؤُياَلَو ‪،‬‬ ‫ُهْنِم‬ ‫ٌفْرَص‬ ‫‪ٌ.‬لْدَعاَلَو‬ ‫‪23‬‬ ‫ْمُكَّنِإَو‬ ‫ْمُتْفَلَتْخااَمْهَم‬ ‫ِهيِف‬ ‫ٍءْيَشْنِم‬ ‫َّنِإَف ‪،‬‬ ‫هَّدرم‬ ‫ِهَّللاىَلإ‬ ‫َّزَع‬ ‫َّلَجَو‬ ‫ىَلِإَو ‪،‬‬ ‫ٍدَّمَحُم‬ ‫ىَّلَص‪-‬‬ ‫ُهَّللا‬ ‫ِهْيَلَع‬ ‫َمَّلَسَو‬‫‪24‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َدوُهَيْلا‬ ‫َنوُقِفْنُي‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلاَعَم‬ ‫َنيِبَراَحُماوُماَد اَم‬ ‫‪.‬‬ ‫‪25‬‬ ‫‪24‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َدوهي‬ ‫يِنَب‬ ‫ٌةَّمُأفْوَع‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلاَعَم‬ ‫ِدوُهَيْلِل‬ ‫ْمُهُنيِد‬ ‫ِنْيَمِلْسُمْلِلَو ‪،‬‬ ‫ْمُهُنيِد‬ ‫ْمِهيِلاَوَم‬ ‫ْمُهُسُفْنَأَو‬ ‫ْنَماَّلإ ‪،‬‬ ‫مِثأوملَظ‬ ‫ُهَّنِإَف ‪.‬‬ ‫غِتوُياَل‬ ‫هَسفناَّلإ‬ ‫ِهِتْيَبَلهأو ‪،‬‬ ‫‪.‬‬ ‫‪26‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ِدوُهَيِل‬ ‫يِنَب‬ ‫ِراَّجَّنلا‬ ‫َلْثِم‬ ‫ِدوُهَيِل اَم‬ ‫يِنَب‬ ‫‪.‬فْوَع‬ ‫‪27‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ِدوُهَيِل‬ ‫يِنَب‬ ‫ِثِراَحْلا‬ ‫َلْثِم‬ ‫ِدوُهَيِل اَم‬ ‫يِنَب‬ ‫‪.‬فْوَع‬ ‫‪28‬‬ ‫دوهيل نإو‬ ‫ينب‬ ‫َلْثِم ةدعاس‬ ‫ِدوُهَيِل اَم‬ ‫يِنَب‬ ‫‪.‬فْوَع‬ ‫‪29‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ِدوُهَيِل‬ ‫يِنَب‬ ‫َلْثِممَشُج‬ ‫ِدوُهَيِل اَم‬ ‫يِنَب‬ ‫‪.‬فْوَع‬ ‫‪30‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ِدوُهَيِل‬ ‫يِنَب‬ ‫َلْثِمسْوألا‬ ‫ِدوُهَيِل اَم‬ ‫يِنَب‬ ‫‪.‬فْوَع‬ ‫‪31‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ِدوُهَيِل‬ ‫يِنَب‬ ‫ةبلْعَث‬ ‫َلْثِم‬ ‫ِدوُهَيِل اَم‬ ‫يِنَب‬ ‫مِثأوملَظْنَماَّلإ ‪،‬فْوَع‬ ‫ُهَّنِإَف ‪،‬‬ ‫غتوُياَل‬ ‫ُهَسْفَناَّلإ‬ ‫َلْهَأَو‬ ‫ِهِتْيَب‬ ‫‪.‬‬ ‫‪25‬‬ ‫‪32‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َةنْفَج‬ ‫ٌنْطَب‬ ‫َةَبَلْعَثْنِم‬ ‫ْمِهِسُفْنَأَك‬ ‫‪.‬‬ ‫‪33‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫يِنَبِل‬ ‫ةبْيَطُّشلا‬ ‫َلْثِم‬ ‫ِدوُهَيِل اَم‬ ‫يِنَب‬ ‫َّنِإَو ‪،‬فْوَع‬ ‫َّرِبْلا‬ ‫ِمْثِإْلاَنوُد‬ ‫‪34‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َيِلاَوَم‬ ‫َةَبَلْعَث‬ ‫ْمِهِسُفْنَأَك‬ ‫‪.‬‬ ‫‪36‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َةَناَطِب‬ ‫َدوُهَي‬ ‫ْمِهِسُفْنَأَك‬ ‫‪.‬‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫ُجَرْخَياَل‬ ‫ْمُهْنِم‬ ‫ِنْذِإِباَّلإٌدَحَأ‬ ‫ٍدَّمَحُم‬ ‫ىَّلَص‪-‬‬ ‫ُهَّللا‬ ‫ِهْيَلَع‬ ‫َمَّلَسَو‬‫ُهَّنِإَو‬ ‫ُزَجَحْنُياَل‬ ‫‪،‬حْرُج رانىلع‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫َكَتَفْنَم‬ ‫ِهِسْفَنِبَف‬ ‫‪َ،‬كَتَف‬ ‫ِلْهَأَو‬ ‫‪ِ،‬هِتْيَب‬ ‫‪َ،‬مَلَظْنِماَّلإ‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َهَّللا‬ ‫ىَلَع‬ ‫ِّرَبَأ‬ ‫اَذَه‬ ‫‪37‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ىَلَع‬ ‫ِدوُهَيْلا‬ ‫مهَتقفن‬ ‫ىَلَعَو‬ ‫َنيِمِلْسُمْلا‬ ‫مهَتقفن‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ْمُهَنْيَب‬ ‫َرْصَّنلا‬ ‫ىَلَع‬ ‫هذه لهأ براحْنَم‬ ‫ةفيحصلا‬ ‫مهنيب نإو ‪،‬‬ ‫َحْصُّنلا‬ ‫َةَحيِصَّنلاَو‬ ‫َّرِبْلاَو ‪،‬‬ ‫مثِإلاَنوُد‬ ‫ُهَّنِإَو ‪،‬‬ ‫ْمَثْأَيْمَل‬ ‫ِهِفيِلَحِبٌؤُرْما‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َرْصَّنلا‬ ‫ِموُلْظَمْلِل‬ ‫‪.‬‬ ‫‪38‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َدوُهَيْلا‬ ‫َنوُقِفْنُي‬ ‫َنيِنِمْؤُمْلاَعَم‬ ‫َنيِبَراَحُماوُماَد اَم‬ ‫‪.‬‬ ‫‪39‬‬ ‫‪26‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َبِرْثَي‬ ‫ٌماَرَح‬ ‫اَهُفْوَج‬ ‫ِلْهَأِل‬ ‫ِهِذَه‬ ‫ِةَفيِحَّصلا‬ ‫‪.‬‬ ‫‪40‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َراَجْلا‬ ‫ِسْفَّنلاَك‬ ‫َرْيَغ‬ ‫ٌمِثآاَلَوراضُم‬ ‫‪41‬‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫راجُتاَل‬ ‫ِنْذِإِباَّلإةمرُح‬ ‫اَهِلْهَأ‬ ‫‪.‬‬ ‫‪42‬‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫َنْيَبَناَك اَم‬ ‫ِهِذَهِلْهَأ‬ ‫ِةَفيِحَّصلا‬ ‫ٍراَجِتْشاْوَأٍثَدَحْنِم‬ ‫فاخُي‬ ‫‪ُ،‬هُداَسَف‬ ‫َّنِإَف‬ ‫هَّدرم‬ ‫ِهَّللاىَلإ‬ ‫َّزَع‬ ‫‪َّ،‬لَجَو‬ ‫ىَلِإَو‬ ‫ٍدَّمَحُم‬ ‫هللالوسر‬ ‫هللاىلص‪-‬‬ ‫هيلع‬ ‫َهَّللا نإو‪-‬ملسو‬ ‫ىَلَع‬ ‫ىَقْتَأ‬ ‫يِف اَم‬ ‫ِهِذَه‬ ‫ِةَفيِحَّصلا‬ ‫ِهِّرَبَأَو‬ ‫‪.‬‬ ‫‪43‬‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫راجُتاَل‬ ‫ٌشْيَرُق‬ ‫اَهَرَصَنْنَماَلَو‬ ‫‪.‬‬ ‫‪44‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫ْمُهَنْيَب‬ ‫َرْصَّنلا‬ ‫ىَلَع‬ ‫َبِرْثَيَمَهَدْنَم‬ ‫‪.‬‬ ‫‪45‬‬ ‫ٍحْلُصىَلإاوعُداَذِإَو‬ ‫ُهَنوُحِلاَصُي‬ ‫‪ُ،‬هَنوُسَبْلَيَو‬ ‫ْمُهَّنِإَف‬ ‫ُهَنوُحِلاَصُي‬ ‫‪ُ،‬هَنوُسَبْلَيَو‬ ‫ْمُهَّنِإَو‬ ‫ِلْثِمىَلإاوعُد اَذإ‬ ‫َكِلَذ‬ ‫ُهَّنِإَف‬ ‫ْمُهَل‬ ‫ىَلَع‬ ‫‪َ،‬نيِنِمْؤُمْلا‬ ‫يِفَبَراَحْنَماَّلإ‬ ‫‪ِ،‬نيِّدلا‬ ‫ىَلَع‬ ‫ٍساَنُأِّلُك‬ ‫مهتصح‬ ‫يف‬ ‫ْمِهِبِناَج‬ ‫يِذَّلا‬ ‫مهلَبِق‬ ‫‪.‬‬ ‫‪46‬‬ ‫‪27‬‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َدوُهَي‬ ‫ِسْوَأْلا‬، ‫ْمُهَيِلاَوَم‬ ‫ْمُهَسُفْنَأَو‬، ‫ىَلَع‬ ‫ِلْثِم‬ ‫ِلْهَأِل اَم‬ ‫ِهِذَه‬ ‫ِةَفيِحَّصلا‬، ‫ِّرِبْلاَعَم‬ ‫ِضْحَمْلا‬ ‫ْنِم‬ ‫ِهِذَهِلْهَأ‬ ‫ِةَفيِحَّصلا‬ ‫َّنِإَو‬ ‫َّرِبْلا‬ ‫ِمْثِإْلاَنوُد‬ 47 ‫ُبِسْكَياَل‬ ‫ىَلَعاَّلإٌبِساَك‬ ‫ِهِسْفَن‬، ‫َّنِإَو‬ ‫َهَّللا‬ ‫ىَلَع‬ ‫ِقَدْصَأ‬ ‫يِف اَم‬ ‫ِهِذَه‬ ‫ِةَفيِحَّصلا‬ ‫ِهِّرَبَأَو‬ ‫ُهَّنِإَو‬ ‫ُلوُحَياَل‬ ‫ُباَتِكْلااَذَه‬ ‫ٍمِلاَظَنوُد‬ ‫ٍمِثآَو‬، ‫ُهَّنِإَو‬ ‫َجَرَخْنَم‬ ‫َدَعَقْنَمَوٌنِمآ‬ ‫ِةَنيِدَمْلاِبٌنِمآ‬، ‫مِثأْوَأملَظْنَماَّلإ‬، ‫َّنِإَو‬ ‫َهَّللا‬ ‫َّرَبْنَمِلٌراَج‬ ‫ىَقَّتاَو‬، ‫ٌدَّمَحُمَو‬ ‫ُلوُسَر‬ ‫ِهَّللا‬ -‫ىَّلَص‬ ‫ُهَّللا‬ ‫ِهْيَلَع‬ ‫َمَّلَسَو‬ Lampiran II Terjemahan Piagam Madinah ke dalam Bahasa Indonesia MUKADDIMAH Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Dan Maha Penyayang Inilah piagam tertulis dari Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Sallam di kalangan orang-orang beriman dan memeluk Islam (yang berasal) dari Quraisy dan Yatsrib, dan orang-orang yang mengikuti mereka, mempersatukan diri dan berjuang bersama mereka I. PEMBENTUKAN UMMAH Pasal 1 Sesungguhnya mereka adalah satu bangsa-negara (ummah), bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia lainnya. II. HAK AZAZI MANUSIA 28 Pasal 2 Kaum Muhajirin dari Quraisy tetap mempunyai hak asli (former condition) mereka; (yaitu) saling tanggung-menanggung membayar dan menerima uang tebusan darah (diyat) di antara mereka (karena suatu pembunuhan), dengan cara yang baik dan adil di antara orang-orang beriman. Pasal 3 1. Bani Auf (dari Yatsrib) tetap mempunyai hak-hak asli mereka; tanggungmenanggung membayar dan menerima uang tebusan darah. 2. Dan setiap keluarga (thai’fah) dari mereka membayar bersama uang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang beriman. Pasal 4 1. Bani Sa’idah (dari Yatsrib) tetap mempunyai hak-hak asli mereka; tanggungmenanggung membayar dan menerima uang tebusan mereka. 2. Dan setiap keluarga (thai’fah) dari mereka membayar bersama uang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang beriman. Pasal 5 1. Bani al-Harts (dari Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka; tanggung-menanggung untuk membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka. 2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan dengan baik dan adil di kalangan orang-orang beriman. Pasal 6 1. Bani Jusyam (dari Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka; tanggung-menanggung untuk membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka. 29 2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan dengan baik dan adil di kalangan orang-orang beriman. Pasal 7 1. Bani Najjar (dari Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka; tanggung-menanggung untuk membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka. 2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan dengan baik dan adil di kalangan orang-orang beriman. Pasal 8 1. Bani Amr bin Auf (dari Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka; tanggung-menanggung untuk membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka. 2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan dengan baik dan adil di kalangan orang-orang beriman. Pasal 9 1. Bani an-Nabit (dari Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka; tanggung-menanggung untuk membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka. 2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan dengan baik dan adil di kalangan orang-orang beriman. Pasal 10 1. Bani al-Aus (dari Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka; tanggung-menanggung untuk membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka. 2. Setiap keluarga (thaifah) dapat membayar tebusan dengan baik dan adil di kalangan orang-orang beriman. III. PERSATUAN SEAGAMA Pasal 11 30 Sesungguhnya orang-orang yang beriman tidak akan melalaikan tanggung jawabnya untuk memberi sumbangan bagi orang-orang yang berutang karena membayar uang tebusan darah dengan baik dan dan adil di kalangan orang-orang beriman. Pasal 12 Tidak seorangpun dari orang-orang beriman dibolehkan membuat persekutuan dengan teman sekutu dari orang beriman lainnya, tanpa persetujuan terlebih dahulu darinya. Pasal 13 1. Segenap orang-orang beriman yang bertakwa harus menentang setiap orang yang berbuat kesalahan, melanggar ketertiban, penipuan, permusuhan atau pengacauan di kalangan masyarakat orang-orang beriman. 2. Kebulatan persatuan mereka terhadap orang-orang yang bersalah merupakan tangan yang satu, walaupun terhadap anak-anak mereka sendiri. Pasal 14 1. Tidak diperkenankan seorang mukmin membunuh mukmin lainnya karena disebabkan seorang yang tidak beriman. 2. Tidak pula diperkenankan seorang mukmin membantu seorang kafir untuk melawan mukmin lainnya. Pasal 15 1. Jaminan Allah adalah satu dan merata, melindungi nasib orang-orang yang lemah. 2. Segenap mukmin harus jamin-menjamin dan setia kawan sesama mereka daripada (gangguan) manusia lainnya. IV. PERSATUAN SEGENAP WARGA NEGARA Pasal 16 Bahwa kaum Yahudi yang setia kepada (negara) kita, berhak 31 mendapat bantuan dan perlindungan, tidak boleh dikurangi haknya dan tidak boleh diasingkan dari pergaulan umum. Pasal 17 1. Perdamaian dari orang-orang yang beriman adalah satu. 2. Tidak diperkenankan segolongan orang yang beriman membuat perjanjian tanpa ikut sertanya segolongan lainnya dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar persamaan dan adil di antara mereka. Pasal 18 Setiap penyerangan yang dilakukan terhadap kita merupakan tantangan terhadap semuanya, yang harus memperkuat persatuan antara segenap golongan. Pasal 19 1. Segenap mukmin harus memberikan pembelaan atas tiap-tiap darah yang tertumpah di jalan Allah. 2. Setiap mukmin yang bertakwa harus berteguh hati atas jalan yang baik dan kuat. Pasal 20 1. Perlindungan yang diberikan oleh seorang musyrik terhadap harta dan jiwa seorang musuh Quraisy tidaklah diakui. 2. Campur tangan apa pun tidaklah diizinkan atas kerugiannya seorang beriman. Pasal 21 1. Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan cukup bukti atas perbuatannya, harus dihukum mati atasnya, kecuali kalau wali dari si korban bersedia dan rela menerima ganti kerugian. 2. Segenap mukmin harus bersatu bulat bersatu mengutuk perbuatan itu, dan tidak diizinkan selain daripada menghukum kejahatan itu. Pasal 22 32 1. Tidak diperkenankan bagi setiap orang yang mengakui piagam ini dan percaya kepada Allah dan Hari Akhir untuk membantu orang-orang yang salah dan memberi tempat kediaman bagi mereka. 2. Siapa yang memberikan bantuan dan memberi tempat tinggal bagi penghianat-penghianat Negara atau orang-orang yang salah, akan mendapat kutukan dan kemurkaan Allah di Hari Kiamat nanti, dan tidak akan diterima segala pengakuan dan persaksiannya. Pasal 23 Apabila timbul perbedaan pendapat di antara kamu dalam satu soal, kembalikanlah penyelesaiannya kepada Allah dan Muhammad SAW. V. GOLONGAN MINORITAS Pasal 24 Warga Negara (dari golongan) Yahudi memikul biaya bersama-sama orang beriman, selama Negara dalam peperangan. Pasal 25 1. Kaum Yahudi dari suku Bani Auf adalah bagian dari bangsa-negara (ummah), bersama (warga Negara) orang-orang mukmin. 2. Kaum Yahudi bebas memeluk agama mereka sebagaimana kaum muslimin bebas memeluk agama mereka. 3. Kebebasan ini juga berlaku juga bagi pengikut-pengikut sekutu-sekutu mereka, dan diri mereka sendiri. 4. Kecuali jika ada yang mengacau dan berbuat kejahatan, maka ganjaran dari pengacauannya dan kejahatannya itu menimpa diri orang yang bersangkutan dan keluarganya. Pasal 26 33 Kaum Yahudi dari Bani Najjar diperlakukan sama seperti Yahudi dari Bani Auf. Pasal 27 Kaum Yahudi dari al-Harts diperlakukan sama seperti Yahudi dari Bani Auf Pasal 28 Kaum Yahudi dari Sa’idah diperlakukan sama seperti Yahudi dari Bani Auf Pasal 29 Kaum Yahudi dari Bani Jusyam diperlakukan sama seperti Yahudi dari Bani Auf Pasal 30 Kaum Yahudi dari Bani Aus diperlakukan sama seperti Yahudi dari Bani Auf Pasal 31 1. Kaum Yahudi dari Bani Tsa’labah diperlakukan sama seperti Yahudi dari Bani Auf. 2. Kecuali jika ada yang mengacau dan berbuat kejahatan, maka ganjaran dari pengacauannya dan kejahatannya itu menimpa dirinya dan keluarganya. Pasal 32 Suku Jafnah adalah bertali darah dengan Yahudi dari Bani Tsa’labah, diperlakukan sama seperti Bani Tsa’labah. Pasal 33 1. Bani Syutaibah diperlakukan sama seperti kaum Yahudi Bani Auf. 2. Sikap yang baik harus dapat membendung beberapa penyelewengan. Pasal 34 34 Sekutu dari Tsa’labah diperlakukan sama seperti Bani Tsa’labah Pasal 35 Segala pegawai dan pembela Yahudi diperlakukan sama seperti kaum Yahudi VI. TUGAS WARGA NEGARA Pasal 36 1. Tidak seorangpun warga Negara diperbolehkan keluar (kota) kecuali atas seizin Muhammad SAW. 2. Seorang warga Negara dapat membalas kejahatan luka yang dilakukan orang kepadanya. 3. Siapa yang berbuat kejahatan, maka ganjaran kejahatan itu menimpa dirinya dan keluarganya, kecuali untuk membela diri. 4. Tuhan melindungi orang-orang yang bersetia pada piagam ini. Pasal 37 1. Kaum Yahudi memikul biaya Negara, seperti halnya kaum Muslimin memikul biaya Negara. 2. Di antara segenap warga Negara (Muslimin dan Yahudi) terjalin pembelaan untuk menentang setiap musuh Negara yang memerangi setiap peserta dari piagam ini. 3. Di antara mereka harus terdapat saling nasehat-menasehati dan berbuat kebajikan, dan menjauhi segala dosa. 4. Seorang warga Negara tidaklah dianggap bersalah, karena kesalahan yang diperbuat sahabat/sekutunya. 35 5. Pertolongan, pembelaan dan bantuan harus diberikan kepada orang/golongan yang teraniaya. Pasal 38 Warga Negara kaum Yahudi memikul biaya bersama-sama warga Negara yang beriman selama peperangan masih terjadi. VII. MELINDUNGI NEGARA Pasal 39 Kota Yatsrib ibukota Negara, tidak boleh dilanggar kehormatannya oleh setiap peserta piagam ini. Pasal 40 Segala tetangga yang berdampingan rumah harus diperlakukan seperti diri sendiri, tidak boleh diganggu ketentramannya, dan tidak diperlakukan salah. Pasal 41 Tidak seorangpun tetangga wanita boleh diganggu ketentraman dan kehormatannya, melainkan setiap kunjungan harus dengan seizin suaminya. VIII. PIMPINAN NEGARA Pasal 42 1. Setiap kali terjadi suatu peristiwa di antara peserta piagam ini, atau terjadi pertengkaran, harus segera dilaporkan dan diserahkan penyelesaiannya kepada Allah dan Muhammad SAW. 2. Allah berpegang teguh kepada piagam ini dan orang-orang yang setia padanya. Pasal 43 Quraisy tidak boleh dilindungi, begitu juga 36 segala yang membantu mereka. Pasal 44 Di kalangan warga Negara sudah terikat janji pertahanan bersama untuk menentang setiap agresor terhadap kota Yatsrib IX. POLITIK PERDAMAIAN Pasal 45 1. Apabila mereka diajak kepada perdamaian (dan) membuat perjanjian damai, mereka tetap setia untuk berdamai dan membuat perjanjian damai. 2. Setiap kali ada ajakan perdamaian seperti demikian, kaum beriman harus melakukannya, kecuali terhadap orang/Negara yang menunjukkan permusuhan terhadap agama (Islam). 3. Kewajiban atas setiap warga Negara mengambil bagian dari pihak mereka untuk perdamaian itu. Pasal 46 1. Kaum Yahudi dari Aus dan segala sekutu serta simpatisan mereka mempunyai kewajiban yang sama dengan segala peserta piagam untuk kebaikan (perdamaian) itu. 2. Sesungguhnya kebaikan (perdamaian) dapat menghilangkan segala kesalahan. X. PENUTUP Pasal 47 1. Setiap orang (warga Negara) yang berusaha, segala usahanya adalah atas dirinya. 2. Allah menyertai segala peserta dari piagam ini yang menjalankannya dengan jujur dan sebaik-baiknya. 3. Tidaklah boleh piagam ini dipergunakan untuk melindungi orang-orang yang dzalim dan bersalah. 4. (Mulai saat ini), orang-orang yang bepergian (keluar) adalah aman. 37 5. Dan orang yang menetap adalah aman pula, kecuali orang-orang yang dzalim dan berbuat salah. 6. Allah melindungi orang (warga Negara) yang baik dan bersikap taqwa (waspada). 7. Dan (akhirnya) Muhammad adalah pesuruh Allah, semoga Allah mencurahkan shalawat dan kesejahteraan atasnya. Lampiran 3 Klausal Bai’at al-‘Aqabah yang Pertama Beserta Terjemahannya ‫َةدابُعْنَع‬ ‫ِنْب‬ ‫ِتِماَّصلا‬ ، ‫َلاَق‬: ‫ُتْنُك‬ ‫ْنَميِف‬ ‫َرَضَح‬ ‫َةَبَقَعْلا‬ ‫ىَلوُأْلا‬ ، ‫اَّنُكَو‬ ‫ْيَنْثا‬ ‫َرَشَع‬ ‫اًلُجَر‬ ، ‫اَنْعَياَبَف‬ ‫َلوُسَر‬ ‫ِهَّللا‬ -‫ىَّلَص‬ ‫ُهَّللا‬ ‫ِهْيَلَع‬ ‫َمَّلَسَو‬‫ىَلَع‬ ‫ِةَعْيَب‬ ‫ِءاَسِّنلا‬ ، ‫َكِلَذَو‬ ‫َلْبَق‬ ‫َضِرَتْفُتْنَأ‬ ، ‫ىَلَع‬ ‫َكِرْشُنَّالَأ‬ ‫ِهَّللَاِب‬ ‫اًئْيَش‬ ، ‫َقِرْسَناَلَو‬ ، ‫َيِنْزَناَلَو‬ ، ‫َلُتْقَناَلَو‬ ‫َبْرَحْلا‬ ‫اَنَدَالْوَأ‬ ، ‫َيِتْأَناَلَو‬ ‫ِناَتْهُبِب‬ ‫ِهيِرَتْفَن‬ ‫ِنْيَبْنِم‬ ‫اَنيِدْيَأ‬ ‫اَنِلُجْرَأَو‬ ، ‫ُهَيِصْعَناَلَو‬ ‫يِف‬ ‫ٍفْوُرْعَم‬ : "‫ْنِإَف‬ ‫ْمُتْيَفَو‬ ‫ْمُكَلَف‬ ‫َةَّنَجْلا‬ ، ‫ْنِإَو‬ ‫ْمُتْيِشَغ‬ ‫اًئْيَشَكِلَذْنِم‬ ‫ْمُكُرْمَأَف‬ ‫ِهَّللاىَلإ‬ ‫َّزَع‬ ‫َّلَجَو‬ ، ‫"َرَفَغَءاَشْنِإَوبَّذَعَءاَش ْنإ‬ Terjemahannya Dari Ubadah bin Shamit, dia berkata, “Saya termasuk yang hadir dalam ‘Aqabah yang pertama, dan kita semuanya ada 12 orang laki-laki, maka Rasulullah SAW mengambil bai’at dari kami, sepertimana Beliau mengambil bai’at dari kaum 38 wanita, dan itu sebelum diwajibkannya perang (jihad), bahwa kami tidak akan menyukutukan Allah dengan sesuatupun, tidak akan mencuri, berzina, tidak akan membunuh anak-anak kami, tidak akan membuat suatu kejahatan yang kami usahakan dengan kaki-kaki kami dan kami tidak akan bermaksiat kepada Allah dengan cara yang ma’ruf. Rasulullah kemudian bersabda, ‘Jika kalian memenuhi perjanjian ini maka bagi kalian sorga sebagai balasannya, jika kalian mencuranginya maka urusan kalian diserahkan kepada Allah, jika Dia menghendaki kalian akan diazab atau diampuni.” Lampiran 4 Klausal Bai’at al-‘Aqabah yang Kedua Beserta Terjemahannya ‫ِرِباَجْنَع‬ ‫اَنْلُق‬ : ‫َلوُسَراَي‬ ‫ِهَّللا‬ ‫ىَلَع‬ ‫؟َكُعِياَبُن اَم‬ ‫ َلاَق‬: ‫ىِنوُعِياَبُت‬ ‫ىَلَع‬ : 1. ‫ِعْمَّسلا‬ ‫ِةَعاَّطلاَو‬ ‫ىِف‬ ‫ِطاَشَّنلا‬ ‫ِلَسَكْلاَو‬ . 2. ‫ِةَقَفَّنلاو‬ ‫ىِف‬ ‫ِرْسُعْلا‬ ‫ِرْسُيْلاَو‬ . 3. ‫ىَلَعَو‬ ‫ِفوُرْعَمْلاِبِرْمَألا‬ ‫ِىْهَّنلاَو‬ ‫ِرَكْنُمْلاِنَع‬ . 4. ‫اوُلوُقَتْنَأَو‬ ‫ىِف‬ ‫ِهَّللا‬ ‫َنوُفاَخَتَال‬ ‫َةَمْوَل‬ ‫ٍمِئَال‬ . 5. ‫ىَلَعَو‬ ‫ىِنوُرُصْنَتْنَأ‬ ‫ُتْمِدَقاَذِإ‬ ‫ْمُكْيَلَع‬ ‫ىِنوُعَنْمَتَو‬ ‫َنوُعَنْمَتاَّمِم‬ ‫ُهْنِم‬ ‫ْمُكَسُفْنَأ‬ ‫ْمُكَجاَوْزَأَو‬ ‫ْمُكَءاَنْبَأَو‬ ‫ُمُكَلَو‬ ‫ُةَّنَجْلا‬ . Dari Jabir, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah untuk hal apa kami berbaiat kepada Engkau?’ Rasulullah bersabda, ‘Kalian membaiatku untuk: 1. Untuk mendengar dan taat tatkala bersemangat dan malas. 2. Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah. 39 3. Untuk menyuruh kepada yang ma’aruf dan mencegah dari yang mungkar. 4. Untuk tegak berdiri karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela kerana Allah. 5. Hendaklah kalian menolongku jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana melindungi diri, istri dan anak-anak kalian, dan bagi kalian surga. 40 DAFTAR KEPUSTAKAAN Ahmad, Zainal Abidin. (2014). Piagam Madinah; Konstitusi Tertulis Pertama di Dunia. Jakarta: Pustaka al-Kautsar. Ali, Ibrahim Al-‘. (1415 H/1995 M). Shahîh al-Sîrah al-Nabawiyyah. Jordan: Dâr al-Nafais. Antonio, Muhammad Syafii. (2007). Muhammad SAW; The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia Multimedia & ProLM Centre. Buthi, Muhammad Said Ramadhan Al-. (2008 M/1429 H). Fiqh al-Sîrah. Damaskus: Dâr al-Salâm. Ghazali, Muhammad Al- (1409 H/1989 M). Fiqh Sirah. Isakandariyyah: Dâr alDa’wah. Haekal, Muhammad Husen. (tanpa tahun terbit). Hayatu Muhammad. Kairo: Dâr al-Ma’arîf. Hisyam, Ibnu. al-Sîrah al-Nawawiyyah. Syarikah al-Thiba’ah al-Faniyah alMuttahidah (al-Maktabah al-Syamilah). Khudari Bik, Muhammad Al-, (1372 H/1953 M). Nur al-Yakîn fi Sîrati Sayd alMurasalîn. Kairo: Mathba’ah al-Istiqâmah. Mubarakfuri, Shafiyyurrahman Al-. (tanpa tempat dan tahun terbit). ar-Rahîq alMakhtûm. Dâr al-Ihyau at-Turâts). Syalabi, Ahmad. (1979). Sejarah Kebudayaan Islam, Jilid I. Jakarta: Pustaka Alhusna. Watt, W. Montgomery. (1982). Muhammad, Prophet dan Statesman, diterjemahkan Djohan Effendi dengan judul Muhammad Nabi dan Negarawan. Jakarta: Pustaka Kencana. Yatim, Badri. (2011). Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. 41

Judul: Sejarah Islam

Oleh: Roni Patihan

Ikuti kami