Makalah Intermediate Training

Oleh Ikin Sodikin

829,8 KB 8 tayangan 1 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Intermediate Training

Makalah Intermediate Training Urgensitas Keseimbangan Iman, Ilmu dan Amal Bagi Manusia Sebagai Kolifah Di Bumi Tema: Esensi Ajaran Islam Tentang Kholifah Fil Ard” Oleh: Ikin Sodikin Kode Makalah: H Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ciputat Kata Pengantar Alhamdulillah segala puji - syukur atas nikmat dan hidayah Allah Swt yang senantiasa memberi kita kesehatan dan kemampuan untuk merealisasikan tugas ke khalifaan di muka bumi. Shalawat dan salam semoga tak lupa kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Urgensitas Keseimbangan Iman, Ilmu dan Amal Bagi Manusia Sebagai Kolifah Di Bumi, merupakan judul makalah yang penulis susun ini. Makalah ini, sebagai prasyarat dalam mengikuti jengjang pengkaderan Intermediate Training (LK-2) Hmi Cabang Sukabumi. Penulis menyadari akan kekurangan dan minimnya kualitas makalah yang saya suguhkan ini. Maka dari itu, saya sangat berharap kritikan dan koreski konstruktif dari saudara (i) untuk menyempurnakan isi makalah ini dan menjadi konsumsi pengetahuan kepada kita semua di masa yang akan datang. Ucapan terimah kasih terkhusus kepada orang tua saya, yang telah mendukung ananda untuk tetap berproses dan menafkahi kehidupan ananda, kepada pengurus cabang HmI Ciputat terkhusus komisariat fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta tempat saya berproses. Terimah kasih. Yakin Usaha Sampai A. Latar Belakang Manusia diciptakan sebagai sebaik-baiknya cipataan Allah, dari segi struktur tubuh manusia adalah makhluk yang lengkap dan paripurna dibanding dengan ciptaan Allah yang lainnya. Sedangkan kelebihan manusia dari makhluk lainnya terletak pada kemampuan akal dan daya psikologisnya. Lewat kemampuan akalnya, manusia mampu mengatasi masalah dan menciptakan berbagai peralatan untuk mencapai tujuan. Dibalik kesempurnaan ini ada tugas yang yang Allah berikan bagi manusia di muka bumi yaitu sebagai Khalifah. Dengan demikian posisi manusia di bumi ini dapat bermanfaat kepada manusia lain dan Perlu diingat kembali bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani, sebagaimana fungsi manusia dijelaskan oleh al-Quran yaitu sebagai Khalifah fi alArdl. Itu adalah modal dasar bagi manusia yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Manusia tidak bisa hidup nyaman ketika mereka melaksanakan hanya sebagi khalifah saja tanpa ia mengarahkan wajahnya ke hadapan Allah. Kedua fungsi tersebut harus seimbang dalam mencapai kehidupan yang ideal. Dalam sejarah penciptaan manusia, dijelaskan bahwa sebelum diciptakannya manusia, Allah Swt telah menyampaikan rencana penciptaan ini kepada para malaikat, agar makhluk ini (manusia) menjadi khalifah (kuasa atau wakil) Allah Swt di bumi (QS 2: 30). Dari sini jelas pula bahwa hakikat wujud manusia dalam kehidupan ini adalah melaksanakan tugas kekhalifahan: membangun dan mengolah dunia ini sesuai dengan kehendak Ilahi. Berangkat dari misi al-Qur’an sebagai petunjuk dari Allah dan sebagai pedoman hidup seluruh manusia, maka tugas umat adalah mengkaji dan memahaminya. Pada dasarnya manusia telah berusaha dan mencurahkan perhatiannya yang sangat besar untuk mengetahui dan memahami dirinya, walaupun manusia memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuan, filosof, sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa. Perlu diingat, bahwa manusia harus menyadari bahwasanya manusia tidak diciptakan sekedar permainan, tetapi untuk melaksanakan sebuah tugas dan harus mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalannya dalam merealisasikan tugasnya. Maka dari itu, kekhalifahan mengharuskan manusia untuk melaksanakan tugasnya sesuai petunjuk Allah yang memberi tugas dan wewenang. Dan apabila keputusan yang diambil manusia tidak sesuai kehendak-Nya, maka manusia tersebut melanggar terhadap makna dan tugas kekhalifahan. B. Pembahasan 1. Definisi Khalifah dalam Al-Qur’an Kata khalifah dalam bentuk tunggal terulang dua kali dalam al-Qur’an yaitu dalam alBaqarah ayat 30 dan Shad ayat 26. Sedangkan dalam bentuk plural ada dua bentuk yang digunakan yaitu: (a) khalaif yang terulang sebanyak empat kali terdapat dalam surah alAn’am ayat 165, Yunus ayat 14 dan 73 dan Fathir ayat 39; (b) khulafa’ terulang sebanyak tiga kali pada surah al-A’raf ayat 69 dan 74 dan al-Naml ayat 62. Keseluruhan kata tersebut pada berakar dari kata khalafa yang pada mulanya berarti “di belakang”. Dari sini kata khalifah sering kali diartikan sebagai “pengganti”.1 M. Quraish Shihab, dalam tafsir fenomenalnya Al-Misbah mendefinisikan kata khalifah pada mulanya berarti yang menggantikan, atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Berdasarkan arti tersebut, maka dapat dipahami bahwa khalifah maksudnya yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya, tapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Allah Swt, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan.2 Dari salahsatu definisi ini bisa kita lihat bagaimana tugas kita sebagai manusia yang Allah ciptakan di muka bumi, tugas kita sudah jelas sebagai manusia untuk menjadi penebar kebaikan dan kemaslahatan bagi penghuni muka bumi ini bukan justru sebaliknya. Hampir senada denga perkataan M. Quraisy Shihab, Ar-Ragib al-Asfahani, dalam Mu’jam Mufradat fi Gharibil Quran Makna kata Khalifah artinya “pengganti”, menjelaskan bahwa menggantikan yang lain berarti melaksanakan sesuatu atas nama yang digantikan, baik bersama yang digantikannya maupun sesudahnya. Lebih lanjut, Al-Asfahani menyebutkan bahwa kekhalifahan tersebut dapat terlaksana akibat ketiadaan di tempat, kematian atau ketidakmampuan orang yang digantikan, dan dapat juga akibat penghormatan yang diberikan kepada orang yang menggantikan”.3 Posisi kekhalifahan manusia jika dilihat dari pengertian yang dikemukakan oleh ArRagib al-Isfahani berada pada posisi suatu kasih sayang Allah pada manusia, hingga Ia mempercayakan manusia sebagai penjaga dan pemimpin di muka bumi ini. Jelas bahwa 1 Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat,(Bandung: Mizan, 2007) hlm. 157 2 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, volume I, cet. Ke-2, (Jakarta: Lentera Hati, 2004), hlm. 142. 3 Al-Ragib Al-Ashfahani, tt. Mu’jam Mufradat alfad al-Quran hal 156, Bairut, Lubnan : Darul Fikr. keberadaan manusia di muka bumi bagi seorang muslim bukan hanya sekedar mendiami dan hidup dialamnya, tapi tentu ada konsekuensi yang ia tanggung dari amanat Allah pada dirinya. Konekuensi tersebut berupa upaya yang ia harus lakukan sebagai seorang hamba atau abid, perpaduan antar kedua hal ini yang kadang manusia lupakan, antara hubungan ia dengan Allah sebagai yang menciptakan dan hubungan dengan manusia dan seluruh isi bumi sebagai ekosistem dimana ia hidup. 2. Kekhalifahan Manusia di Bumi Setelah sedikit banyaknya kita tahu akan definisi khalifah dari pesan Allah Swt dalam Al-quran menurut pandangan para ulama, tentu kita harus tahu akan tugas kita sebagai kalifah di muka bumi ini. Lebih jauh kita akan berbicara tentang esensi kehidupan manusia yang sangat singkat ini, seperti yang penulis sampaikan di atas bahwa manusia mendapat mandat dan perintah dari Allah Swt sebagai khalifah dan abid yang anatara keduanya saling berkesinambungan dan ada keterkaitan. Islam sebagai agama yang sempurna mengajarkan manusia untuk selalu seimbang dalam berbagai hal, idelanya manusia haruslah menjadi penyeimbang keberadaan seisi bumi ini, karena hanya manusialah yang diberi kelebihan dan keutamaan oleh Allah Swt berupa akal untuk berfikir dan membedakan anatara yang baik dan buruk. Namun tidak dapat kita nafikan keberadaan manusia banyak yang lupa akan tugas yang diembannya, justru ia yang merusak dan membuat tatanan kehidupan yang tidak baik bagi seisi bumi. Meskipun malaikat merupakan makhluk-makhluk suci yang tidak mengenal dosa, tetapi mereka tidak wajar menjadi khalifah, karena yang bertugas menyangkut sesuatu harus memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek pengetahuan yang berkaitan dengan tugasnya. Khalifah yang akan bertugas di bumi, harus mengenal apa yang ada di bumi, paling sedikit nama-namanya atau bahkan potensi yang dimilikinya. Hal ini tidak diketahui oleh malaikat, tetapi Adam mengetahuinya. Karena itu, dengan jawaban para malaikat sebelum ini dan penyampaian Adam kepada mereka terbuktilah kewajaran makhluk yang diciptakan Allah itu untuk menjadi khalifah di dunia. Kekhalifahan di bumi adalah kekhalifahan yang bersumber dari Allah SWT, yang antara lain bermakna melaksanakan apa yang dikehendaki Allah menyangkut bumi ini. Dengan demikian pengetahuan atau potensi yang dianugerahkan Allah itu merupakan syarat sekaligus modal utama untuk mengolah bumi ini. Tanpa pengetahuan atau pemanfaatan potensi berpengetahuan, maka tugas kekhalifahan manusia akan gagal meskipun seandainya dia tekun ruku’, sujud dan beribadah kepada Allah. Melalaui kisah ini, Allah SWT bermaksud menegaskan bahwa bumi dikelola bukan semata-mata hanya dengan tasbih dan tahmid tetapi juga dengan amal ilmiah dan ilmu amaliah. Allah mengisyaratkan kepada kita dengan kisah awal mula penugasan Adam ke bumi sebagai khalifah, allah tdak srta merta menugaskan Adam kala itu, sebab sebelumnya Adam diajarkan dahulu tentang pengetahuan yang tidak diketahui oleh para malaikat dan jin. Kita hendaknya bisa mengambil intisari dari hal tersebut bahwa memang kita haruslah belajar agar kita bisa menjadi khalifah yang seutuhnya sesuai yang diharapkan Allah Swt. Maka sebenarnya sudah pas jika HmI menanamkan misi pada setiap kadernya untuk menjadi insan akademis kemudian pencipta dan sebagai pengabdi. Sebab mana bisa kita mengelola dan menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi jika tanpa ilmu, disinilah poin yang sangat penting yang harus benar-benar disadari oleh setiap orang khususnya kader HmI untuk meningkatkan kualitas dan kapasitasnya sebagai insan yang akademis dan siap menjadi pewarna dalam kehidupan di lingkungan untuk agama dan bangsanya. Sebagai khalifah, manusia bertugas mengatur dunia ini. Dalam melaksanakan tugas ini sesungguhnya ia akan diuji apakah akan melaksanakan tugasnya dengan baik atau sebaliknya. Mengurus dengan baik adalah mengurus dunia ini sesuai dengan kehendak Allah, sesuai dengan pola yang ditentukan-Nya agar kemanfaatan alam semesta dan segala isinya dapat dinikmati oleh manusia dan makhluk lainnya. Kalau sebaliknya, pengurusan itu tidak baik, artinya tidak sesuai dengan pola yang ditetapkan oleh Allah SWT. Untuk dapat melaksanakan tugasnya menjadi khalifah Allah, manusia diberi akal pikiran dan kalbu yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Dengan akal pikirannya, manusia mampu mengamati alam semesta. Menghasilkan dan mengembangkan ilmu yang benihnya telah “disemaikan“ Allah sewaktu mengajarkan nama-nama (benda) kepada manusia asal, waktu Allah menjadikan manusia (Adam) menjadi khalifah-Nya di muka bumi ini dahulu. Dengan akal dan pikirannya yang melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia diharapkan mampu mengemban amanah sebagai khalifah Allah. Dengan mengabdi kepada Allah dan mengemban amanah sebagai khalifahnya di bumi, manusia diharapkan akan dapat mencapai tujuan hidupnya memperoleh keridha’an ilahi di dunia ini, sebagai bekal mendapatkan keridha’an Allah di akhirat nanti. Manusia sebagai khalifah di bumi bertugas untuk memakmurkan bumi. Tugas memakmurkan bumi artinya mensejahterakan kehidupan di dunia ini. Untuk itu manusia wajib bekerja, beramal shaleh yaitu berbuat baik yang bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat dan lingkungan hidupnya, serta menjaga keseimbangan alam dan bumi yang didiaminya, sesuai dengan tuntunan yang diberikan Allah melalui agama. Sebagai khalifah, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas tugasnya dalam menjalankan mandat Allah. Adapun mandat yang dimaksud adalah:4 a. Patuh dan tunduk sepenuhnya pada titah Allah serta menjauhi laranganNya. b. Bertanggung jawab atas kenyataan dan kehidupan di dunia sebagai pengemban amanah Allah. c. Berbekal diri dengan berbagai ilmu pengetahuan, hidayah agama dan kitab suci. d. Menerjemahkan segala sifat-sifat Allah SWT pada perilaku kehidupan sehari- hari dalam batas-batas kemanusiaannya (kemampuan manusia) atau melaksanakan sunah-sunah yang diridhai-Nya terhadap alam semesta. e. Membentuk masyarakat Islam yang ideal yang disebut dengan “ummah“, yaitu suatu masyarakat yang sejumlah perseorangannya mempunyai keyakinan dan tujuan yang sama. f. Mengembangkan fitrahnya sebagai khalifatullah yang mempunyai kehendak, komitmen dengan tiga dimensi yaitu: kesadaran, kemerdekaan dan kreatifitas. Ketiga kehendak ditopang oleh ciri idealnya, yaitu: kebenaran, kebajikan dan keindahan. g. Menjadi penguasa untuk mengatur bumi dengan upaya memakmurkan dan mengelola negara untuk kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang dijanjikan kepada seluruh masyarakat yang beriman bukan kepada seseorang atau suatu kelas tertentu. h. Mengambil bumi dan isinya sebagai alat untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat dalam semua aspek kehidupan, serta dalam rangka mengabdi kepada Allah. i. Membentuk suasana aman, tentram, dan damai di bawah naungan ridha Allah SWT, sebagaimana yang digambarkan dalam al-Qur’an, yaitu negara Saba’ sebagai negara yang memiliki predikat “Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafur”. 4 Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, ( Jakarta : Trigenda Karya, 1993 ), hlm. 61 Manusia sebagai khalifah, bertanggung jawab atas segala perbuatannya yang dinilai dengan pahala dan dosa. Tanggung jawab ini bersifat pribadi, tidak dapat dibebankan kepada orang lain atau diwariskan. Apabila amanah dan tanggung jawab itu dilaksanakan dengan iman dan amal saleh menurut ketentuan- ketentuan yang telah ditetapkan-Nya, jadilah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang mulia dan sempurna. Sebagai pemegang amanah yang bertanggung jawab, manusia sebagai khalifah memang mempunyai kemerdekaan untuk memilih apa yang diyakini atau yang tidak diyakininya, merdeka untuk berkehendak, berbuat, berpikir, berpendapat atau mengembangkan krearifitasnya. Namun kemerdekaan itu harus dipertanggung jawabkan kelak, karena kemerdekaan yang diberikan oleh Allah itu tidak boleh melampaui batasbatas amanah dan tanggung jawab yanag telah ditentukan-Nya baik yang terdapat dalam alam semesta maupun yang terkandung dalam firman-firman-Nya dalam al-Qur’an.5 Dengan demikian hakekat makna khalifah adalah bahwa: a. Manusia sebagai khalifah harus sadar, bahwa dia sebagai pemegang mandat dari Allah yang wajib mengikuti apa yang diinginkan oleh sang pemberi mandat (Allah) dan tidak boleh mengabaikannya. b. Manusia sebagai khalifah, harus berusaha menghiasi diri dengan ilmu karena tidak mungkin ia dapat melaksanakan amanah tanpa ilmu. Allah mengajarkan atau memberikan kemampuan pada manusia untuk memformulasikan apa yang ada di muka bumi atau alam semesta ini. c. Menjadi khalifah bukan sekedar pekerjaan rutin tetapi harus siap menghadapi problematika kehidupan yang senantiasa mengalami perubahan karena tidak selamanya kehidupan manusia selalu mulus. Karena di balik kesenangan juga tersimpan kesedihan dan di balik kesuksesan terkandung juga sebuah kegagalan. d. Manusia sebagai khalifah harus mengetahui bahwa kekhalifahan itu amanah yang harus dipertahankan. Dengan demikian, pendidikan merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia. Dengan memperoleh pendidikan manusia akan memiliki berbagai macam pengetahuan yang akan dapat menjadi bekal bagi dirinya untuk melaksanakan tugasnya sebagai khalifah. Karena hanya manusia terdidiklah yang dapat mengemban anamat dari Allah, 5 Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta : Rajawali Pers, 1997 ), hlm 70 apabila sebaliknya yaitu tanpa pendidikan, tugas kekhalifahan yang diemban manusia itu akan gagal. 3. Keseimbangan Antara Iman, Ilmu dan Amal Penulis merasa penting memasukan poin inti dari nilai dasar perjuangan (NDP) pada pembahasan ini, sebab seperti diawal bahwa manusia akan mampu menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi jika ia terlandaskan keimanan dan petunjuk berupa ilmu dan amal yang nantinya akan menjadi aksi dalam upaya menjaga dan menjalankan tugasnya di muka bumi ini. Dalam poin NDP ini ada kesinambungan anatara iman, ilmu dan amal sperti yang dipaparkan dalam berbagai kesempatan pengkaderan HmI tiga pon ini yang harus diperjuangkan oleh semua manusia agar ia bisa menjadi benar-benar sebagai khalifah di muka bumi sesuai kehendak Allah Swt. Hidup yang benar dimulai dengan iman yang benar. Iman yang benar adalah percaya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, disertai takwa, yaitu keinginan mendekat serta kecintaan kepadaNya. penghambaan atau Manusia penyerahan berhubungan diri dengan Tuhan (islam), berupa dalam ibadah bentuk (pengabdian formil/ritual). Ibadah mendidik individu agar tetap ingat kepada Tuhan dan berpegang teguh pada kebenaran sebagaimana dikehendaki oleh hati nurani yang hanif. Dengan ibadat, manusia dididik untuk memiliki kemerdekaannya, kemanusiaannya, dan dirinya sendiri; sebab ia telah berbuat ikhlas, yaitu memurnikan pengabdian hanya kepada kebenaran (Tuhan) semata -mata. Inilah yang disebut tauhid. Lawannya adalah syirik, yaitu memperhambakan diri kepada sesuatu selain Tuhan. Syirik merupakan kejahatan terbesar bagi kemanusiaan karena sifatnya yang meniadakan kemerdekaan asasi. Hubungan manusia dengan alam bersifat penguasaan dan pengarahan. Alam tersedia bagi manusia untuk kepentingan pertumbuhan kemanusiaan. Penguasaan dan pengarahan itu tidak mungkin dilaksanakan hukumNya yang tetap (sunnatullah). tanpa pengetahuan tentang hukum- Pengetahuan itu dapat dicapai dengan mendayagunakan intelektualitas rasionalitas secara maksimal. Manusia adalah makluk sosial, hidup di antara dan bersama manusia -manusia lain dalam hubungan tertentu. Oleh karena itu manusia tidak mungkin dapat memenuhi kemanusiaannya dengan baik tanpa berada di tengah sesamanya. Iman dan ilmu saja tidaklah bera rti apa-apa jika tidak diterapkan dalam bentuk kerja nyata bagi kemanusiaan. Inilah yang disebut amal. Kerja kemanusiaan atau amal saleh mengambil bentuknya yang utama dalam usaha yang sungguh-sungguh secara esensial menyangkut kepentingan manusia secara keseluruhan, yaitu menegakkan keadilan dalam masyarakat sehingga setiap orang memperoleh harga diri dan martabat sebagai manusia. Usaha ini disebut amar ma‟ruf. Lawannya disebut nahi munkar, yaitu mencegah segala bentuk kejahatan dan kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam bentuk yang lebih konkrit, usaha ini diwujudkan misalnya melalui pembelaan terhadap kaum lemah dan tertindas, serta usaha ke arah peningkatan nasib dan taraf hidup mereka yang wajar dan layak sebagai manusia. Dengan integrasi iman, ilmu, dan amal itulah manusia akan mampu memenuhi kodratnya, yaitu sebagai hamba di hadapan Tuhan dan sebagai khalifah di hadapan alam. Cita -cita ideal HMI kiranya tertuang dalam NDP tersebut. menjadi manusia kreatif yang mampu berinovasi dalam kerja -kerja nyata demi mempertinggi harkat kemanusiaan (amal saleh) disertai ilmu sebagai alat untuk melakukan itu; dan tentu saja dilandasi oleh iman yang benar. Untuk dapat melaksanakan fungsi tersebut dengan baik, manusia perlu diberikan pendidikan, pengajaran, keterampilan, pengalaman serta sarana pendukung lainnya. Hal ini menunjukkkan bahwa konsepsi manusia dalam al-Qur’an erat kaitannya dengan pendidikan, khususnya pendidikan Islam.karenanya pembicaraan apapun yang berkenaan dengan pendidikan, pastilah mengupas tentang manusia terlebih dahulu. Sebab manusia merupakan subyek sekaligus obyek pendidikan. Dalam artian bahwa aktivitas pendidikan berkaiatan dengan proses “humanizing of human being“ proses “memanusiakan manusia“ atau upaya membantu subyek (individual atau satuan sosial) berkembang normatif lebih baik. Ini tentunya dimulai dengan merumuskan hakekat subyek didik (manusia). Dari sini disusunlah sistematika tentang bagaimana seharusnya proses dilaksanakan.6 Setelah manusia teredukasi dan siap untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, baik secara komunitas maupun individu masing-masing maka pelu sekali ada upaya yang ia lakukan untuk mencapai esensi dalam perwujudan diri sebagai khalifah yang di tugaskan Allah Swt tersebut. Ada beberapa yang memang harus diperhatikan oleh manusia dalam mencapai hal terebut, dari kelebihan yang ada pada diri setiap manusi 6 A. Noerhadi Djamal, Epistemologi Pendidikan Islam : Suatu Telaah Reflektif Qur’any, dalam Habib Thoha (eds), Reformasi Filsafat Pendidikan Islam, ( Yogya : Pustaka Pelajar, 1996 ) , hlm. 283 maka ia harus sadar bahwa ia harus terus berupaya untuk menyeimbangkan kehidupan alam raya adalah tugas setiap manusia. Sudah dipaparkan diawal bahwa manusia mempunyai keunggulan dibanding dengan makhluk ciptaan Allah di muka bumi ini, otomatis manusia akan berusaha menjadi yang terbaik dari makhluk lainnya. Dengan berbagai kelebihan tersebut, sangat penting bagi manusia untuk dapat mengembangkan diri dan mengoptimalkan kemampuanya. Optimalisasi kemampuan tercermin dalam pemanfaatan kemampuan dari manusia itu sendiri terhadap potensi-potensi yang dimilikinya. Manusia diberikan kelebihan fisik tersebut guna memasimalkan tugas kekhalifahan di bumi. Dengan otak manusia diharapkan kehidupan di bumi secara umum dapat berkembang dengan baik dan terjaga dari kerusakan. Dengan tangan, manusia diharapkan memiliki kemampuan mencipta, dalam arti memnafaatkan potensi sumber daya dari Allah. Dengan lisan manusia diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Dari hal-hal tersebut di atas maka jelaslah bahwa optimalisasi kemampuan tercermin dari optimalisasi potensi materi yang dimiliki oleh manusia dari Allah. Sekarang kita bisa melihat hasilnya yaitu dengan adanya kapal, pesawat terbang, motor, mobil, dan teknologi lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk kemashlahatan makhluk- manusia, hewan, dan tumbuhan. Sesungguhnya semua fasilitas yang sudah tersedia di dunia secara gratus seperti tumbuhan, binatang, angin, udara, air dan apapun adalah untuk manusia. Tentunya hal tersebut dimaksudkan untuk membantu kekhalifahan manusia di bumi. Allah berkali-kali mengatakan bahwa dalam melakukan sesuatu hal, janganlah pernah melampaui batas. Artinya manusia harus bisa berlaku normal sebagaimana adanya. Allah mengatakan bahwasanya potensi-potensi alam itu tidak akan pernah habis tetapi hal tersebut berlaku apabila manusia memnafaatkan dengan sewajarnya. Namun, kejadian sekarang ini, akibat pengaruh industrialisasi, seluruh potensi alam hampir habis di serap untuk kepentingan manusia tanpa berpikir baik buruknya sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem. Sesungguhnya hal tersebut tidak harus terjadi apabila manusia taat dan patuhpada perintah Allah. Janganlah melampaui batas. Optimalisasi alam bukanlah dengan tindakan mengeruk sebanyak-banyaknya potensi alam semesta. Akan tetapi, optimalisasi sebenarnya dimaksudkan untuk mengatur semaksimal mungkin perihal pengelolaan alam. Sehingga tidak terjadi ketidakseimbangan ekosistem. Hutan tidak akan habis hanya oleh karena alasan industrialisasi atau perluasan masalah tempat tinggal. Dengan potensi otak manusia telah diberi akal untuk berpikir bagaimana menyeimbangakan segala potensi kehidupan dan alam semesta. Walaupun Al-Qur’an telah memberitahu tugas dan tanggungjawab manusia di dunia ini dan diberitahu mereka yang menunaikan tanggung jawab akan masuk ke Syurga, manakala yang tidak bertanggung jawab akan ke Neraka, namun tidak semua manusia percaya berita ini serta beriman dengannya. Bahkan yang percaya dan beriman dengannya pun, karena tidak mampu melawan nafsu serta mempunyai kepentingankepentingan peribadi, ramai yang tidak dapat benar-benar memperhambakan diri kepada Allah dan gagal menjadi khalifah-Nya yang mentadbir dan mengurus dunia ini dengan syariat-Nya. Keoptimalan peran manusia sebagai khalifah dibumi akan tercapai dengan sempurna apabila manusia dapat memanfaatkan segala pikiran hebatnya yang dianugerahkan dari Allah dengan menciptakan teknologi yang canggih dengan berdasarkan nilai-nilai keilahiyahan dan keislaman dengan kemampuan seni mengatur keseimbangan potensi alam dan lainnya dengan dipimpin oleh seorang khalifah yang robbani yang memerintah berdasarkan Syariat Islam. Apabila perihal tersebut tidak tercapai seluruhnya maka tidak pula tercapai keoptimalisasian peran kekhalifahan manusia. Kalaupun terjadi, maka hal tersebut belum dan tidak maksimal. Jadi, pada dasarnya setiap umat manusia mengemban tugas yang maha penting untuk memerankan kekhalifhan di bumi. C. Kesimpulan Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah dengan segala kesempurnaan dari makhluk yang lainnya karena manusia dilengkapi dengan akal dan fikiran walaupun manusia dengan makhluk lainnya sama-sama makhluk ciptaan Allah dan Allah menjadikan manusia tidak sia-sia karena manusia tersebut dengan akal dan potensi yang dimilikinya dapat menjadi khalifah. Allah menciptakan manusia hanya untuk menyembah Allah semata yang memiliki peran yang sangat ideal yaitu memakmurkan bumi dan memelihara serta mengembangkannya untuk kemaslahatan hidup manusia. Namun Allah akan meminta pertanggung jawaban sesuai dengan peranan manusia tersebut yang dilakukan selama di dunia. Agar manusia sampai pada titik posisinya sebagai khalifah di muka bumi ini, maka hendaklah ia berusaha untuk seimbang dalam segala hal khususnya dalam prihal hubungan langsung dengan Allah prihal peribadatan ataupun dalam menjalankan tugasnya di bumi sebagai khalifah untuk menjaga, melestarikan dan berhubungan dangan seisi muka bumi. Daftar Pustaka Al-Ashfahani Al-Ragib, tt. Mu’jam Mufradat alfad al-Quran hal 156, Bairut, Lubnan : Darul Fikr. Daud Ali Muhammad, Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta : Rajawali Pers, 1997 ) Djamal A. Noerhadi, Epistemologi Pendidikan Islam : Suatu Telaah Reflektif Qur’any, dalam Habib Thoha (eds), Reformasi Filsafat Pendidikan Islam, ( Yogya : Pustaka Pelajar, 1996 ) Shihab Quraish, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat,(Bandung: Mizan, 2007) Shihab Quraish, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, volume I, cet. Ke-2, (Jakarta: Lentera Hati, 2004) Nizar Samsul, 2001, Pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam (Jakarta : Gaya Media Pratama) Biodata Penulis Nama : IKIN SODIKIN Tempat Tanggal Lahir: Sukabumi, 12 Juni 1993 Alamat : RT. 004, RW.003 Kel. Cempaka Putih, Kec. Cempaka Timur, Tanggerang Selatan, Banten Jenis Kelamin : Laki-Laki Kewarganegaraan : Indonesia Agama : Islam Usia : 24 tahun No HP : 085722075817 e- Mail : khiensaznera@gmail.com Pernyataan Anti Plagiasi Dengan ini menyatakan bahwa makalah yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri dan saya bertanggungjawab secara akademis atas apa yang saya tulis. Pemyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat mengikuti Intermediate Training HmI Cabang Sukabumi Ciputat, 13 Oktober 2017 Ikin Sodikin

Judul: Makalah Intermediate Training

Oleh: Ikin Sodikin


Ikuti kami