Sejarah Sosial.rtf

Oleh Nur Afrizal

148 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Sejarah Sosial.rtf

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan Islam berlangsung sejalan dengan proses Islamisasi. Proses pendidikan berlangsung dalam tahap sederhana melalui institusi informal. Konten yang diberikan berkutat pada pesoalan keagamaan. Pendidikan menjadi elemen penting bukan hanya pengembangan diri melainkan sarana mergenerasi pemikiran para peserta didiknya. Pendidikan Islam yang dimulai semenjak Islamisasi wilayah Nusantara masih eksis hingga sekarang. Penyelenggaraan pendidikan mengalami perkembangan dengan mengaadaptasi tuntutan modernisasi dan mengalami proses formalisasi. Kementrian Agama bertangguangjawab menyelenggarakan pendidikan Islam melelui institusi pendidikan Islam.1 Apabila ditelaah secara historis, pendidikan Islam meluas ke segala penjuru Nusantara pada abad ke- 17. Situasi sosial intelektual pada masa tersebut mampu mempengaruhi corak keagamaan dan penyelenggaraan pendidikan Islam hingga saat ini. Oleh karena itu menarik untuk mengkaji institusi pendidikan Islam pada masa awal perkembangannya. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana islamisasi yang dilakukan di nusantara? 2. Bagaimana pertumbuhan lembaga-lembaga pendidikan islam awal di nusantara? 1 Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. (Jakarta: Kencana,2007), h. 3 1 3. Bagaimana peran kerajaan islam di nusantara? BAB II PEMBAHASAN A. Islamisasi di Nusantara Perkembangan Islam di Jazirah Arab pada abad ke-7 Masehi membawa implikasi penyebaran agama Islam ke berbagai belahan dunia. Islamisasi mengalami proses yang masif sejak awal kemunculannya. Salah satunya terkait doktrin agama yang menganjurkan setiap individu menyampaikan ajaran agamanya kepada siapapun. Islamisasi Asia Tenggara umumnya berlangsung secara damai atau penetration pacifique melalui saluran perdagangan dan asosiasi dengan budaya lokal.2 Ini didukung dengan wilayah yang strategis dalam perdagangan global sehingga mendukung polarisasi agama. Pada akhirnya Islam tampil sebagai salah satu agama terbesar di kawasan Asia Tenggara dan merupakan agama mayoritas penduduk Asia Tenggara kepulauan. Islamisasi didukung daya tarik keagamaan sehingga Islam meluas di kawasan ini. Daya tarik tersebut bersumber pada pandangan dunia Islam yang berlawanan dengan keyakinan masyarakat Asia Tenggara.3 Daya tarik tersebut mencakup sebagai berikut: Pertama, portabilitas (siap pakai). Ritual keagamaan Islam bersifat universal dan dapat dibawa kemana saja. Kedua, asosiasi dengan kekayaan. Umat Islam yang berada di kawasan Asia Tenggara kebanyakan adalah padagang kaya sehingga penduduk lokal terdorong untuk memiliki kekuatan 2 Azyumardi Azra, Renaissans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana dan Kekuasaan, (Bandung : Rosda, 2000), h. 76 3 Azyumardi Azra, Konteks Berteologi di Indonesia, ( Jakarta: Paramadina, 1999), h. 62- 65 2 sebagaimana umat islam pada masa itu. Ketiga, Kegemilangan militer. Keempat, Tulisan. Agama Islam termasuk agama kitabiah dengan sebuah kitab suci sebagai pedoman hidup. Kitab suci memiliki nilai atau bobot kesakralan yang tidak dimiliki penduduk lokal. Kelima, Penghafalan. Ini menjadi sebuah otoritas sakral dalam penyebaran agama karena terkait dengan ritual seperti sholat. Keenam, Penyembuhan penyakit. Islam mampu menjawab tantangan yang dihadapi oleh masyarakat lokal Asia Tenggara umumnya percaya bahwa kekuatan spiritual dapat menyembuhkan sebuah penyakit. Ketujuh, moralitas universal yang dapat diramalkan. Islam menawarkan keselamatan dari kekuatan jahat. Aspek ini tentu hanya akan diraih dengan menjalankan perintah agama. Islamisasi ditopang pula dengan struktur yang kuat.4 Perdagangan dan penguasaan pasar dibarengi dengan pendirian masjid dan pendidikan. Kedua institusi tersebut menjadi penopang dakwah yang lebih masif. Kekuatan Islam juga ditopang kekuasaan politik Islam (Kesultanan) seperti Perlak, Samudera Pasai, Aceh di Sumatera, Demak dan Banten di Jawa, serta penegakan hukum Islam yang mampu melindungi kepentingan umat Islam. Ulama memiliki peranan penting dalam pelaksanaan ajaran keagamaan. Selain itu, ulama juga mendapat kedudukan seperti Kadi, Syaikhul Islam dan Penghulu dalam struktur politik Kesultanan.5 B. Pengaruh Islamisasi Terhadap Perkembangan Pendidikan Islam Awal di Nusantara Pendidikan Islam berlangsung bersamaan dengan proses Islamisasi wilayah Nusantara. Pendidikan terlihat dari kemunculan masjid dan pengembangan institusi pendidikan di berbagai wilayah. Lembaga pendidikan ini di Aceh disebut sebagai Dayah, di Sumatra Barat disebut sebagai Surau, sementara di Jawa disebut sebagai 4 Pesantren. Ketiga institusi Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah : Mahakarya Perjuangan Santri dalam Menegakkan NKRI. (Bandung: Salam Madani, 2009), h. 13 5 Jajat Burhanudin,. Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elit Muslim dalam Sejarah Indonesia. (Bandung: Mizan, 2012), h. 37-42 3 ini menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran pengetahuan Islam dan terdapat adopsi budaya lokal didalamnya. Perkembangan pesat institusi pendidikan Islam menemukan momentum pada abad ke-17. Laju perkembangan ini terkait dengan pembaruan intelektual dan situasi politik kerajaan besar yang sedang berubah. Pembaruan intelektual merupakan transmisi gagasan keagamaan yang melibatkan jaringan intelektual ulama. Gejala yang muncul dalam pembaruan intelektual adalah neosufisme yakni perpaduan ajaran tasawuf yang dirumuskan kembali dengan penguatan syariat.6 Ulama besar seperti Abdur Rauf as Singkili, dan Yusuf al Maqassari menghubungkan corak keilmuan yang berkembang di Harmayn ke wilayah Nusantara. Manifestasi pembaruan intelektual adalah munculnya gerakan keagamaan keagamaan (tarekat) seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syatariyah di wilayah Nusantara. Tarekat-tarekat tersebut memiliki basis di surau, dayah, dan pesantren. Perkembangan lembaga pendidikan Islam dipengaruhi pula kebijakan politik Kesultanan. Sultan Iskandar Muda dari Aceh misalnya membangun struktur politik feodal dengan menyelenggarakan jabatan uleebalang guna memperkuat hegemoni politiknya atas daerah taklukan. Kebijakan ini berarti memisahkan hierarki kekuasaan agama dan politik, yang masing-masing dipegang oleh ulama dan uleebalang.7 Dalam kasus kerajaan Mataram hubungan ulama dan penguasa mengalami konflik. Kebijakan politik Amangkurat 1 memerangi ulama yang dianggap melakukan pemberontakan. Hubungan ini membawa implikasi yang lebih luas secara politik yakni pemisahan diri ulama dari kancah politik dan menjauhkan hubungan pesantren dengan aristokrat. 6 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Nusantara. (Jakarta: Kencana, 2004), h. 124 7 Jajat Burhanudin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elit Muslim dalam Sejarah Indonesia, h. 76 4 Perubahan politik ditandai pula dengan runtuhnya keraajaan maritim pesisir yang berimplikasi pada perubahan orientasi keagamaan. Ulama kehilangan pengaruhnya secara politik dan terjadi perubahan peran ulama dari pejabat menjadi guru agama di institusi seperti dayah, surau, dan pesantren. Ini juga menandai babakan baru Islam tradisonal yang berbasis di pedalaman. C. Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Nusantara Pembaruan intelektual yang terbentuk melakui jaringan ulama memunculkan semangat keagamaan baru. Gerakan keagamaan yang bersifat spiritual seperti tarekat banyak bermunculan. Tarekat-tarekat yang merupakan aliran sufi seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syatariyah membentuk basis umat di surau, dayah, dan pesantren. Aliran Sufi mampu melakukan Islamisasi hingga mencapai wilayah periferal atau pedalaman. Sufi mudah diterima oleh masyarakat lokal karena pada hakikatnya aliran tersebut toleran dengan budaya lokal. Islam sebagai realitas sosial mampu mengakomodasi budaya yang termanifestasi dalam kehidupan masyarakat.8 Oleh karena itu, dalam kehidupan beragama local genius masih kentara. Hal ini dapat diamati juga dalam lembaga pendidikan Islam di Nusantara sebagai berikut: 1. Surau Surau merupakan sebuah institusi pendidikan Islam di Sumatera Barat. Walaupun demikian, Surau telah menjadi bagian dari sistem adat dan budaya masyarakat Minangkabau sebelum Islam masuk ke wilayah ini. Sistem kekerabatan matrilineal dalam masyarakat Minangkabau mengatur bahwa laki-laki hanya bisa bertamu ke rumah isterintya saja. Dari sudut sosiokultural surau adalah tempat tidur bagi anak laki-laki yang memasuki akil baligh (remaja), duda atau laki-laki dewasa lainnya, baik disebabkan 8 Azyumardi Azra, Konteks Berteologi di Indonesia, h. 12 5 manggokd dan sebagainya.9 Oleh karena itu surau menjadi saluran yang strategis sebagai sarana Islamisasi. Surau menjadi pusat tarekat Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syatariyah. Tarekat menjadi ikatan solidaritas sosial baru di tengah segmentasi masyarakat adat Minangkabau. Dalam suatu tarekat ketaatan seorang guru kepada murid sifatnya mutlak. Guru menjadi sentral ilmu bagi para muridnya untuk mempelajari al Qur’an maupun kitab-kitab klasik lainnya. Tetapi dibalik itu, surau telah mampu melahirkan ulama-ulama besar yang disegani baik di Minangkabau, maupun diluar Minangkabau bahkan Internasional.10 2. Dayah Dayah berasal dari kosakata Arab zawiyah yang berarti bangunan yang berkaitan dengan masjid. Dalam dialek Aceh pengucapan kata zawiyah menjadi dayah yang secara fungsional merujuk pada tempat pendidikan.11 Materi yang diajarkan merupakan Alqur’an dan kitab klasik mengenai fiqih, tauhid, tasawuf, dan sebagainya. 3. Pesantren Pesantren secara ketatabahasaan berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an, yang berarti tempat tinggal para santri. Dalam sebuah pesantren terdapat lima elemen penting antara lain: pondok, 9 Samsul Nizar, Sejarah Sosial & Dinamika Intelektual Pendidikan Islam di Nusantara, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), h. 30 10 Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 295 11 Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia., h. 25 6 masjid, kyai, santri, dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.12 Pertama, pondok. Kata pesantren sering disejajarkan dengan istilah pondok yang berarti tempat untuk tinggal dan belajar. Keduanya bahkan diucapkan sebagai suatu kesatuan. Pemondokan merupakan suatu yang penting karena pada umumnya santri berasal dari berbagai daerah yang jauh. Kondisi pesantren juga berada di perkampungan yang jarang terdapat perumahan yang dapat menampung santri. Kedua, Masjid. Masjid secara istilah merupakan tempat sujud dan peribadatan umat Islam. Dalam dimensi lain masjid juga dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan maupun kegiatan sosial. Ketiga, Kyai. Istilah ini merujuk pada gelar yang disematkan oleh masyarakat kepada orang yang ahli dalam bidang agama yang memimpin pesantren. Kyai merupakan golongan elit dalam struktur masyarakat. Sosok kyai bahkan dianggap ma’shum atau tanpa salah.13 Keempat, Santri yakni siswa yang belajar di pesantren. Hubungan santri dan kyai ditandai dengan kepatuhan mutlak kepada sang kyai. Kelima, pengajaran kitab-kitab Islam Klaik terutama yang bermazhab Syafii. Selain Al Qur’an terdapat delapan kitab yang diajarkan antara lain nahwu, saraf, fiqh, ushul fiqh, hadis, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, dan cabang lain seperti tarikh dan balagh. Kitab klasik tersebut diistilahkan dengan kitab kuning yang wajib dipelajari seorang santri. Tujuan pembelelajaran pesantren ialah mencetak para ulama. Sistem pembelajaran di pesantren dapat digolongkan menjadi dua yakni metode sorogan yaitu sistem pengajaran yang sifatnya individual bagi siswa yang mampu membaca Al 12 Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai.( Jakarta: LP3ES, 1983), h. 44-60 13 Ahmad Syafii Maarif, Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara: Studi Tentang Perdebatan dalam Konstituante. (Jakarta: LP3ES, 2006), h. 58 7 Qur’an dan metode bandongan atau weton yaitu sistem pembelajaran secara massal dengan mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan, dan mengulas buku Islam dalam bahasa Arab. D. Peran Kerajaan Islam dalam Islamisasi dan Perkembangan Awal Pendidikan Islam di Nusantara Ada beberapa pusat strategis dalam penyebaran agama islam di Nusantara,pusat-pusat penyebaran agama islam dapat menyebar luas melalui tiga kerjaan besar. 1. Kerajaan Samudra Pasai Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai, yang didirikan pada abad ke-10 M dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Yang kedua bernama Al-Malik Al-Shaleh dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah (tahun 1444 M atau abad ke-15 H) 14 Pada tahun 1345, Ibnu Batutah dari Maroko sempat singgah di Kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Malik Az-Zahir, raja yang terkenal alim dalam ilmu agama dan bermazhab Syafi’i, mengadakan pengajian sampai waktu sholat Ashar dan fasih berbahasa Arab serta mempraktekkan pola hidup yang sederhana.15 Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat ditarik kesimpulan pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut: a. Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at adalah Fiqh mazhab Syafi’i. b. Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis ta’lim dan halaqoh. c. Tokoh pemerintahan merangkap tokoh agama d. Biaya pendidikan bersumber dari Negara 14 Abdullah Mustofa Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung : CV. Pustaka Setia, 1999), h. 54. 15 Zauharini. Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : PT. Bumi Aksara. 2000), h. 135 8 Pada zaman kerajaan Samudra Pasai mencapai kejayaannya pada abad ke-14 M, maka pendidikan juga tentu mendapat tempat tersendiri. Mengutip keterangan Tome Pires, yang menyatakan bahwa “di Samudra Pasai banyak terdapat kota, dimana antar warga kota tersebut terdapat orang-orang berpendidikan”.16 Menurut Ibnu Batutah juga, Pasai pada abad ke-14 M, sudah merupakan pusat studi Islam di Asia Tenggara, dan banyak berkumpul ulamaulama dari negara-negara Islam. Ibnu Batutah menyatakan bahwa Sultan Malikul Zahir adalah orang yang cinta kepada para ulama dan ilmu pengetahuan. Bila hari jum’at tiba, Sultan sembahyang di Masjid menggunakan pakaian ulama, setelah sembahyang mengadakan diskusi dengan para alim pengetahuan agama. Sistem halaqoh yaitu para murid mengambil posisi melingkari guru. Guru duduk di tengah-tengah lingkaran murid dengan posisi seluruh wajah murid menghadap guru. 2. Kerajaan Perlak Kerajaan Islam kedua di Indonesia adalah Perlak di Aceh. Rajanya yang pertama Sultan Alaudin (tahun 1161-1186 H/abad 12 M). Antara Pasai dan Perlak terjalin kerja sama yang baik sehingga seorang Raja Pasai menikah dengan Putri Raja Perlak. Perlak merupakan daerah yang terletak sangat strategis di Pantai Selat Malaka, dan bebas dari pengaruh Hindu.17 Kerajaan Islam Perlak juga memiliki pusat pendidikan Islam Dayah Cot Kala. Dayah disamakan dengan Perguruan Tinggi, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, tauhid, tasawuf, akhlak, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat. Daerahnya kira-kira dekat Aceh Timur sekarang. Pendirinya adalah ulama Pangeran Teungku Chik M.Amin, pada akhir abad ke-3 H, abad 10 M. Inilah pusat pendidikan pertama. 16 M. Ibrahim. Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh,( Jakarta : CV. Tumaritis. 1991), h. 61 17 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 29 9 Rajanya yang ke enam bernama Sultan Mahdum Alaudin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M, terkenal sebagai seorang Sultan yang arif bijaksana lagi alim. Beliau adalah seorang ulama yang mendirikan Perguruan Tinggi Islam yaitu suatu Majlis Taklim tinggi dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim. Lembaga tersebut juga mengajarkan dan membacakan kitab-kitab agama yang berbobot pengetahuan tinggi, misalnya kitab Al-Umm karangan Imam Syafi’i. 18 Dengan demikian pada kerajaan Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan cukup baik. 3. Kerajaan Aceh Darussalam Proklamasi kerajaan Aceh Darussalam adalah hasil peleburan kerajaan Islam Aceh di belahan Barat dan Kerajaan Islam Samudra Pasai di belahan Timur. Putra Sultan Abidin Syamsu Syah diangkat menjadi Raja dengan Sultan Alaudin Ali Mughayat Syah (1507-1522 M). Bentuk teritorial yang terkecil dari susunan pemerintahan Kerajaan Aceh adalah Gampong (Kampung), yang dikepalai oleh seorang Keucik dan Waki (wakil). Gampong-gampong yang letaknya berdekatan dan yang penduduknya melakukan ibadah bersama pada hari jum’at di sebuah masjid merupakan suatu kekuasaan wilayah yang disebut mukim, yang memegang peranan pimpinan mukim disebut Imeum mukim.19 Jenjang pendidikan yang ada di Kerajaan Aceh Darussalam diawali pendidikan terendah Meunasah (Madrasah). Yang berarti tempat belajar atau sekolah, terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi fungsi antara lain: a. Sebagai tempat belajar Al-Qur’an b. Sebagai Sekolah Dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca huruf Arab, Ilmu agama, bahasa Melayu, akhlak dan sejarah Islam. c. Sebagai tempat ibadah sholat 5 waktu untuk kampung itu. 18 Abdullah Mustofa Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia., h. 54 M. Ibrahim, Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh., h. 75. 19 10 d. Sebagai tempat sholat tarawih dan tempat membaca Al-Qur’an di bulan puasa. e. Tempat kenduri Maulud pada bulan Mauludan. f. Tempat menyerahkan zakat fitrah pada hari menjelang Idhul Fitri atau bulan puasa g. Tempat mengadakan perdamaian bila terjadi sengketa antara anggota kampung. h. Tempat bermusyawarah dalam segala urusan i. Letak meunasah harus berbeda dengan letak rumah, supaya orang segera dapat mengetahui mana yang rumah atau meunasah dan mengetahui arah kiblat sholat.20 Bidang pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan yaitu: 1. Balai Seutia Hukama, merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli pikir dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan. 2. Balai Seutia Ulama, merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran. 3. Balai Jama’ah Himpunan Ulama, merupakan kelompok studi tempat para ulama dan sarjana berkumpul untuk bertukar fikiran membahas persoalan pendidikan dan ilmu pendidikannya. Ulama dan pujangga yang terkenal di Aceh ialah Syekh Nuruddin ArRaniri, Syeh Ahmad Khatib Langin, Syeh Hamzah Fanuri.21 Ia menentang paham wujudiyah dan menulis banyak kitab mengenai agama Islam dalam 20 M. Ibrahim, Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh., h. 76. 21 Abudin Nata. Sejarah Pendidikan islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2011), h. 265. 11 bahasa Arab maupun Melayu klasik. Kitab yang terbesar dan tertinggi mutu dalam kesustraan Melayu klasik dan berisi tentang sejarah kerajaan Aceh adalah kitab Bustanul Salatin. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Islamisasi Asia Tenggara umumnya berlangsung secara damai atau penetration pacifique melalui saluran perdagangan dan asosiasi dengan budaya lokal. Islamisasi didukung daya tarik keagamaan sehingga Islam meluas di kawasan ini. . Daya tarik tersebut bersumber pada pandangan dunia Islam yang berlawanan dengan keyakinan masyarakat Asia Tenggara. Pendidikan Islam berlangsung bersamaan dengan proses Islamisasi wilayah Nusantara dan teraktualisasi dalam lembaga pendidikan seperti Dayah di 12 aceh, Surau di Sumatra Barat, dan Pesantren di Jawa. Perkembangan pesat institusi pendidikan Islam menemukan momentum pada abad ke-17. Laju perkembangan ini terkait dengan pembaruan intelektual dan situasi politik kerajaan besar yang sedang berubah. Perkembangan tersebut ditandai dengan perubahan peran ulama dan perubahan orientasi keagamaan. Pembaruan intelektual yang terbentuk melakui jaringan ulama memunculkan semangat keagamaan baru. Tarekat-tarekat yang merupakan aliran sufi seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Syatariyah membentuk basis umat di surau, dayah, dan pesantren. Aliran Sufi mampu melakukan Islamisasi hingga mencapai wilayah periferal atau pedalaman. Sufi mudah diterima oleh masyarakat lokal karena pada hakikatnya aliran tersebut toleran dengan budaya lokal. Islam sebagai realitas sosial mampu mengakomodasi budaya yang termanifestasi dalam kehidupan masyarakat. B. Saran Setelah penjelasan dalam makalah ini, sebagai manusia, penulis mohon maaf apabila terjadi kesalahan dalam penjabaran materi. Penulis menerima saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan dalam penulisan makalah selanjutnya. Atas segala pengertiannya, penulis mengucapkan terima kasih. 13 DAFTAR PUSTAKA Abdullah Mustofa Aly, 1999, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung : CV. Pustaka Setia Abudin Nata. 2011, Sejarah Pendidikan islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Ahmad Mansur Suryanegara. 2009. Api Sejarah : Mahakarya Perjuangan Santri dalam Menegakkan NKRI. Bandung: Salam Madani Ahmad Syafii Maarif. 2006. Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara: Studi Tentang Perdebatan dalam Konstituante. Jakarta: LP3ES 14 Azyumardi Azra. 2000. Renaissans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana dan Kekuasaan. Bandung : Rosda Azyumardi Azra. 1999. Konteks Berteologi di Indonesia. Jakarta: Paramadina Azyumardi Azra. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Nusantara. Jakarta: Kencana Dobbin, Christine. 2008. Gejolak Ejonomi, Kebangkitan Islam, dan Gerajan Paderi Minangkabau 1784-1847. Depok: Komunitas Bambu Haidar Putra Daulay. 2007. Sejarah Pertumbuhan dan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana Hasbullah, 2001, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada Jajat Burhanudin. 2012. Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elit Muslim dalam Sejarah Indonesia. Bandung: Mizan M. Ibrahim. 1991, Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Jakarta : CV. Tumaritis. Samsul Nizar, 2013, Sejarah Sosial & Dinamika Intelektual Pendidikan Islam di Nusantara, Jakarta: Kencana Prenada Media Group Samsul Nizar, 2007, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group Zamaksyari Dhofier. 1983. Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES Zauharini. 2000, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Bumi Aksara. 15

Judul: Sejarah Sosial.rtf

Oleh: Nur Afrizal

Ikuti kami