Tugas Pancasila Kelompok

Oleh Putra Yugo

163,7 KB 7 tayangan 1 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Tugas Pancasila Kelompok

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pancasila berasal dari bahasa sansekerta. Pancasila juga terdiri dari dua kata yaitu : panca berarti lima dan Sila berarti perinsip atau asas. Pancasila adalah dasar falsafah negaraindonesia, sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu, setiap warga negara indonesia harus mempelajari, mendalami, menghayati dan mengamalkan dalam segala bidang kehidupan. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nilai sehingga merupakan sumber dari penjabaran norma hukum, norma moral maupun norma kenegaraan lainnya. Dalam filsafat pancasila terkandung didalamnya suatu pemikiran yang bersifat kritis, mendasar, rasional, sistematis dan komprehensiv (menyeluruh) dan sistem pemikiran ini merupakan suatu nilai, oleh karena itu suatu pemikiran filsafat tidak secara langsung menyajikan norma-norma yang merupakan pedoman dalam suatu tindakan melainkan suatu nilai yang bersifat mendasar. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang akan menjadi titik fokus dalam makalah ini adalah: A. Pengertian Pancasila Sebagai Sistem Filsafat B. Pengertian Sebagai Sistem Filsafat yang meliputi aspek Epistemologis, Axilogis, dan Antrapologis pancasila C. Kesatuan sila-sila pancasila sebagai sistem filsafat D. Pengertian Nilai, Moral, dan Norma E. Nilai dasar, Nilai instrumental, dan nilai praksis. 1.3 TUJUAN 1. Dapat Mengetahui Pengertian Pancasila Sebagai Sistem Filsafat 2. Dapat Mengetahui Kesatuan sila-sila pancasila sebagai sistem filsafat PENDIDIKAN PANCASILA Page 1 BAB II PEMBAHASAN Pancasila sebagai sistem filsafat adalah suatu kesatuan yang saling berhubungan untuk satu tujuan tertentu, dan saling berkualifikasi yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Jadi Pancasila pada dasarnya satu bagian/unit-unit yang saling berkaitan satu sama lain,dan memiliki fungsi serta tugas masing-masing. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat, Pengertian Pancasila Sebagai Filsafat adalah suatu kesatuan yang saling berhubungan dengan satu tujuan tertentu, dan saling berkualifikasi yang terpisahkan satu dengan yang lainnya. Jadi, pada hakikatnya Pancasila merupakan satu bagian yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, dan fungsi serta tugas masing-masing. Pengertian Filsafat Filsafat adalah upaya manusia untuk mencari kebijaksanaan hidup yang bermanfaat bagi peradaban manusia. Secara etimologis istilah filsafat atau dalam bahasa Inggris disebut dengan philosophi sedangkan dalam bahasa Yunani adalah philosophia yang diterjemahkan sebagai cinta kearifan karena arti kata philos adalah pilia cinta, dan sophia adalah kearifan. Sehingga pengertian filsafat secara bahasa adalah cinta kearifan atau cinta kebijaksanaan karena kearifan juga berarti wisdom. Seorang ahli pikir disebut dengan filosof, yang pertama kali digunakan oleh Herakleitos. Banyak dari tokoh filosof yang menemukan dan merumuskan sistem filsafat sebagai ajaran terbaik dari aliran filsafat seperti: materialisme, idealisme, spritualisme, realisme, dan berbagai aliran modern: rasionalisme, humanisme, individualisme, liberalisme-kapitalisme; marxisme-komunisme;sosialisme.dll. Pengertian Pancasila Pancasila adalah lima sila dengan satu kesatuan yang berasal dari nilai-nilai luhur dan bersumber dari nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia yang majemuk dan beragam dalam artian Bhinneka Tunggal Ika. Objek materi filsafat adalah mempelajari segala hakikat sesuatu baik material konkrit (manusia, binatang, alam, dll). dan abstrak (nilai, ide, moral dan pandangan hidup). PENDIDIKAN PANCASILA Page 2 Pancasila Sebagai Sistem Filsafat Seperti dibagian awal paragraf, bahwa pengertian pancasila sebagai sistem filsafat adalah dasar mutlak dalam berpikir dan berkarya sesuai dengan pedoman diatas, tentunya dengan saling mengaitkan antara sila yang satu dengan lainnya. Misalnya: ketika kita mengkaji sila kelima yang intinya tentang keadilan, maka hars dikaitkan dengan sila-sila yang lain yaitu  Keadilan yang ber keTuhanan (sila 1)  Keadilan yang berPerikemanusiaan (Sila ke 2)  Keadilan yang berKesatuan/Nasionalisme, Kekeluargaan (Sila 3)  Keadilan yang Demokratis. Filsafat Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia: Merupakan kenyataan objektif yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Pancasila memberi petunjuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa dengan membedakan suku atau ras Filsafat Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa dan Negara: Artinya adalah semua aturan kehidupan hukum kegiatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berpedoman pada Pancasila. Aspek Epistemologis: Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal, syarat, susunan, metode, ilmu pengetahuan. Epistemologi meneliti sumber pengetahuan, proses dan syarat terjadinya pengetahuan, batas ilmu pengetahuan. Menurut Titus (1984 : 20) terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi, yaitu:  Tentang sumber pengetahuan manusia  Tentang teori kebenaran pengetahuan manusia  Tentang watak pengetahuan manusia Secara epistemologis Pancasila sebagai filsafat yaitu sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. PENDIDIKAN PANCASILA Page 3 Sumber pengetahuan Pancasila adalah nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri. Sedangkan susunan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan yaitu Pancasila memiliki susunan yang bersifat formal logis, baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila maupun isi arti dari sila-sila Pancasila itu. Sebagai suatu paham epistemologi, maka Pancasila mendasarkan pada pandangannya bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai dalam upaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan yang mutlak dalam hidup manusia. Epistemologi menyelidiki sumber, proses, syarat-syarat batas, validitas dan hakikat ilmu. Epistemologi Pancasila secara mendasar meliputi nilai-nilai dan azas-azas: Mahasumber ialah Tuhan, yang menciptakan kepribadian manusia dengan martabat dan potensi unik yang tinggi, menghayati kesemestaan, nilai agama dan ketuhanan. Kepribadian manusia sebagai subyek diberkati dengan martabat luhur: pancaindra, akal, rasa, karsa, cipta, karya dan budi nurani. Kemampuan martabat manusia sesungguhnya adalah anugerah dan amanat ketuhanan/ keagamaan. Sumber pengetahuan dibedakan dibedakan secara kualitatif, antara: Sumber primer, yang tertinggi dan terluas, orisinal: lingkungan alam, semesta, sosio-budaya, sistem kenegaraan dan dengan dinamikanya; Sumber sekunder: bidang-bidang ilmu yang sudah ada/ berkembang, kepustakaan, dokumentasi; Sumber tersier: cendekiawan, ilmuwan, ahli, narasumber, guru. Wujud dan tingkatan pengetahuan dibedakan secara hierarkis: Pengetahuan indrawi, Pengetahuan ilmiah,Pengetahuan filosofis,Pengetahuan religius. Pengetahuan manusia relatif mencakup keempat wujud tingkatan itu. Ilmu adalah perbendaharaan dan prestasi individual maupun sebagai karya dan warisan budaya umat manusia merupakan kualitas martabat kepribadian manusia. Perwujudannya adalah pemanfaatan ilmu guna kesejahteraan manusia, martabat luhur dan kebajikan para cendekiawan (kreatif, sabar, tekun, rendah hati, bijaksana). Ilmu membentuk kepribadian mandiri dan matang serta meningkatkan harkat martabat pribadi secara lahiriah, sosial (sikap PENDIDIKAN PANCASILA Page 4 dalam pergaulan), psikis (sabar, rendah hati, bijaksana). Ilmu menjadi kualitas kepribadian, termasuk kegairahan, keuletan untuk berkreasi dan berkarya. Martabat kepribadian manusia dengan potensi uniknya memampukan manusia untuk menghayati alam metafisik jauh di balik alam dan kehidupan, memiliki wawasan kesejarahan (masa lampau, kini dan masa depan), wawasan ruang (negara, alam semesta), bahkan secara suprarasional menghayati Tuhan yang supranatural dengan kehidupan abadi sesudah mati. Pengetahuan menyeluruh ini adalah perwujudan kesadaran filosofis-religius, yang menentukan derajat kepribadian manusia yang luhur. Berilmu/ berpengetahuan berarti mengakui ketidaktahuan dan keterbatasan manusia dalam menjangkau dunia suprarasional dan supranatural. Tahu secara ‘melampaui tapal batas’ ilmiah dan filosofis itu justru menghadirkan keyakinan religius yang dianut seutuh kepribadian: mengakui keterbatasan pengetahuan ilmiah-rasional adalah kesadaran rohaniah tertinggi yang membahagiakan. Pembahasan dalam Epistemologis Pancasila (A) Dalam epistemologi mengenai Sumber Pancasila membahas/ Pancasila yang dapat persoalan dibedakan yang mendasar menjadi dua sumber adalah yaitu; (1) Sumber formal adalah Pembukaan UUD 1945, dan (2) Sumber Material adalah kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Sumber formal Pancasila adalah Pembukaan UUD 1945. Dalam mencari sumber formal dari Pancasila, tidak dapat lepas dari pembicaran Pembukaan UUD 1945 karena didalam Pembukaan UUD 1945 itulah terdapat rumusan Pancasila yang secara formal diakui sejak ditetapkannya oleh Pembentuk Negara pada tanggal 18 Agustus 1945. Pembukaan UUD 1945 mempunyai kedudukan diatas UUD-nya, walaupun UUD 1945 merupakan hokum dasar Negara Indonesia yang tertulis, tidak merupakan norma hukum yang tertinggi. Susunan Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan, maka Pancasila memilki susunan yang bersifat formal logis, baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila itu. Susunan kesatuan sila-sila Pancasila adalah bersifat hierarkis dan berbentuk piramida. Jadi jelas bahwa Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber formal yang tidak dapat dirubah, apabila dirubah maka akan menghapus fakta dari sejarah perjuangan Indonesia. PENDIDIKAN PANCASILA Page 5 Sumber material adalah kehidupan bangsa Indonesia sendiri (kausa materialis). Sumber pengetahuan Pancasila merupakan nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia sendiri, bukan berasal dari bangsa lain, bukannnya hanya perenungan serta pemikiran seseorang atau beberapa orang saja namun dirumuskan oleh wakil-wakil bangsa Indonesia dalam mendirikan Negara. Dengan lain perkataan bahwa bangsa Indonesia adalah sebagai kausa materialis Pancasila. Oleh karena sumber pengetahuan Pancasila adalah bangsa Indonesia sendiri yang memiliki nilai-nilai adat istiadat dan kebudayaan dan nilai religius maka diantara bangsa Indonesia sebagai pendukung sila-sila Pancasila dengan Pancasila sendiri sebagai suatu sistem pengetahuan memiliki kesesuaian yang bersifat korespondensi. (B) Metode Pancasila yakni metode dalam perumusan Pancasila yaitu kritis selektif dialektif eksperimental yang mengkaji / mengembangkan : 1. Interpretasi 2. Hermeneutika 3. Koherensi Historis adalah Pancasila sebenarnya merupakan budaya dan pembudayaan bangsa Indonesia yang perlu dipahami secara ilmiah oleh bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia menbudayakan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sudah diidentifikasi yang dan diidealisasi dari kebudayaan itu. Jadi dalam hal ini Pancasila berhubungan erat dengan nilai-nilai perjuangan rakyat Indonesia pada zaman kemerdekaan. 4. Analityco Sintetik. (C) Kebenaran Pancasila Kebenaran yang terdapat dalam Pancasila adalah kebenaran wahyu, rasional, empiris dan konsensus. Epistemologi Pancasila juga mengakui kebenaran wahyu yang bersifat mutlak. Hal ini sebagai tingkat kebenaran yang tinggi. Dengan demikian kebenaran dan pengetahuan Pancasila merupakan suatu sintesa yang harmonis antara potensi-potensi kejiwaan manusia yaitu akal, rasa dan kehendak manusia untuk mendapatkan kebenaran yang tinggi. Dalam sila ketiga, keempat, dan kelima, maka epistemologi Pancasila mengakui kebenaran konsensus terutama dalam kaitannya dengan hakikat sifat kodrat manusia sebagai mahkluk individu dan mahkluk sosial. PENDIDIKAN PANCASILA Page 6 Membahas tentang kebenaran Pancasila yang merupakan penilaian dari manusia harus sesuai dengan empat teori kebenaran yaitu : (1) Teori kebenaran koherensi terdapat dalam keruntutan antar nilai Pancasila dan terdapat kelogisan antar nilai Pancasila. Susunan Pancasila yang bersifat logis antar nilai Pancasila, baik dalam arti susunan sila-sila Pancasila itu. Susunan kesatuan sila-sila Pancasila adalah bersifat hierarkis dan berbentuk piramidal. Sifat hirarkis dan piramidal itu nampak dalam susunan Pancasila, dimana sila pertama mendasari dan menjiwai keempat sila lainnya. Dengan adanya piramidal Pancasila dapat dijelaskan yakni : Sekelompok manusia yang merupakan bagian dari ummat manusia seluruhnya mempunyai sifat khusus berketuhanan YME.  Sekelompok manusia yang berketuhanan YME yang mencintai dan saling menghargai sesama makhluk Tuhan, saling menghormati sesuai dengan hak dan martabatnya.  Sekelompok manusia yang berketuhanan YME saling mencintai dan menghargai sesama manusia yang berbeda-beda suku, adat istiadat mempunyai persamaan cita – cita satu kesatuan bangsa sebagai bangsa Indonesia.  Sekelompok manusia sebagai bangsa Indonesia yang berketuhanan YME yang mencintai dan saling menghargai sesama manusia dalam penyelenggaraan negara diatur secara kekeluargaan / kerakyatan dengan melalui Lembaga-lembaga Permusyawaratan Perwakilan.  Sekelompok manusia sebagai bangsa Indonesia yang berketuhanan YME yang mencintai dan saling menghargai sesama manusia dalam penyelenggaraan negara diatur secara kerakyatan mempunyai cita-cita ingin membentuk suatu masyarakat yang berkeadilan social untuk seluruh rakyat. (2) Teori kebenaran korespondensi yaitu isi yang terkandung dalam Pancasila sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia terbukti dengan adanya kausa materialis. Bangsa Indonesia sebagai asal mula dari sila-sila Pancasila yang digali dari bangsa Indonesia yang dapat berupa nilai-nilai adat istiadat, kebudayaan, religius yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. PENDIDIKAN PANCASILA Page 7 (3) Teori kebenaran pragmatis yaitu mengenai masalah berguna / tidaknya pancasila bagi bangsa Indonesia sangat ditentukan / dipengaruhi oleh sikap dan tingkat pemahaman bangsa Indonesia tu sendiri, sehingga sebagian masyarakat Pancasila berguna dan masyarakat Indonesia lain belum berguna. (4) Teori kebenaran performatis yaitu mengandung pengertian tentang, Apakah nilai-nilai Pancasila sudah mampu merubah kebiasaan, pola hidup, kebiasaan dan semangat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju?, untuk menjawab hal tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman masyarakat Indonesia mengenai Pancasila dan sikap masyarakat Indonesia itu sendiri. Sedangkan Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan keshahihan pengetahuan. Jadi objek material epistemologi adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Jadi sistematika penulisan epistemologi adalah arti pengetahuan, terjadinya pengetahuan, jenis-jenis pengetahuan dan asal-usul pengetahuan. Dasar Aksiologis pancasila Yang dimaksud dengan dasar aksiologis sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya juga merupakan kesatuan (Kaelan,2012:18). Dalam kehidupan, terdapat banyak sekali jenis nilai yang disampaikan atau dikemukakan oleh para ahli. Notonagoro mengatakan bahwa nilai-nilai pancasila tergolong nilai-nilai kerohanian yang mengakui adanya nilai material dan nilai vital. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pancasila yang tergolong ke dalam nilai kerohanian juga mengandung nilai-nilai lain yang lengkap dan harmonis, baik itu nilai material, nilai vital, nilai kebenaran, nilai keindahan atau estetika, nilai kebaikan atau moral maupun nilai-nilai kesucian. Dasar Antropologis sila-sila Pancasila Pancasila yang terdiri atas lima sila setiap sila bukanlah merupakan asas yang berdiri sendiri-sendiri,melainkan memiliki satu kesatuan dasar ontologis. Subjek pendukung sila-sila Pnacasila adalah manusia itu sendiri.Pancasila bahwa hakikat dasar “Antropologis” sila-sila PENDIDIKAN PANCASILA Page 8 Pancasila adalah manusia. Selain itu, Dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah manusia, yang memiliki hakikat mutlak monopluralis, oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebagai dasar antropologis. Subjek pendukung sila-sila Pancasila adalah manusia, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: bahwa yang Berketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta yag berkeadilan sosial pada hakikatnya adalah manusia. Demikian juga jikalalu kita pahami dari filsafat negara bahwa Pancasila adalah dasar filsafat negara, adapun pendukung pokok negara adalah rakyat dan unsur rakyat adalah manusia itu sendiri, sehingga tepatlah jikalau dalam filsafat Pancasila bahwa hakikat dasar antropologis sila-sila Pancasila adalah manusia (Kaelan, 2012: 14). PENDIDIKAN PANCASILA Page 9 Kesatuan Sila-sila Pancasila sebagai Suatu Sistem Filsafat Kesatuan antara sila-sila Pancasila tidak hanya kesatuan yang bersifat logis saja, kesatuan menurut isi, atau kesatuan formal logis lainnya, namun sila-sila Pancasila memiliki suatu kesatuan meliputi kesatuan dasar ontologis, dasar epistemologis, dan dasar aksiologis dari sila-sila Pancasila. Secara filosofis Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis, dan dasar aksiologis sendiri yang berbeda dengan sistem filsafat lainnya misalnya materialisme, liberalisme, pragmatisme, komunisme, idealisme, dan lain paham filsafat di dunia (Kaelan, 2010: 62). PENDIDIKAN PANCASILA Page 10 1. NILAI Pengertian nilai, menurut Djahiri (1999), adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna secara fungsional. Disini, nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan, dan menentukan kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku. 2. MORAL Pengertian moral, menurut Suseno (1998) adalah ukuran baik-buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara. Sedangkan pendidikan moral adalah pendidikan untuk menjadaikan anak manusia bermoral dan manusiawi. Sedangkan menurut Ouska dan Whellan (1997), moral adalah prinsip baik-buruk yang ada dan melekat dalam diri individu/seseorang. Walaupun moral itu berada dalam diri individu, tetapi moral berada dalam suatu sistem yang berwujut aturan. Moral dan moralitas memiliki sedikit perbedaan, karena moral adalah prinsip baik-buruk sedangkan moralitas merupakan kualitas pertimbangan baik-buruk. Dengan demikian, hakekat dan makna moralitas bisa dilihat dari cara individu yang memiliki moral dalam mematuhi maupun menjalankan aturan. 3. NORMA Pengertian norma adalah tolok ukur/alat untuk mengukur benar salahnya suatu sikap dan tindakan manusia. Normal juga bisa diartikan sebagai aturan yang berisi rambu-rambu yang menggambarkan ukuran tertentu, yang di dalamnya terkandung nilai benar/salah. Norma yang berlaku dimasyarakat Indonesia ada lima, yaitu (1) norma agama, (2) norma susila, (3) norma kesopanan, (4) norma kebiasan, dan (5) norma hukum, disamping adanya norma-norma lainnya. PENDIDIKAN PANCASILA Page 11 1. Pengertian NILAI IDEAL/DASAR Pengertian dari nilai dasar adalah nilai-nilai dasar yang mempunyai sifat tetap (tidak berubah), nilai-nilai ini terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Nilai-nilai dasar Pancasila (Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan Sosial) kemudian dijabarkan menjadi nilai-nilai instrumental dan nilai praksis yang lebih bersifat fleksibel dalam bentuk aturan atau norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bemasyarakat, berbangsa dan bernegara. 2. Pengertian NILAI INSTRUMENTAL Pengertian dari nilai instrumental adalah penjabaran lebih lanjut dari nilai dasar atau nilai ideal secara lebih kreatif dan dinamis dalam bentuk UUD 1945 dan peraturan Perundang undangan lainnya, dan dalam Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan Negara menurut UU No. 10 Tahun 2004. Nilai instrumental ini dapat berubah atau diubah. 3. Pengertian NILAI PRAKSIS Pengertian dari Nilai Praksis adalah nilai yang sesungguhnya dilaksanakan dalam kehidupan nyata sehari-hari baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai praksis juga dapat berubah/diubah atau bisa juga dikatakkan nilai praksis merupakan penerapan dari nilai instrumental dan nilai ideal pada kehidupan sehari hari. PENDIDIKAN PANCASILA Page 12 BAB III Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan Pancasila adalah sebagai dasar filsafat Negara Indonesia, yang nilai-nilainya telah ada pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala, berupa nilai-nilai adat istiadat, kebudayaan, dan nilai-nilai agama. Dengan demikian, sila ketuhanan yang maha Esa nilai-nilainya telah ada pada bangsa Indonesia sebagai kausa materialis. Makna yang terkandung dalam sila ketuhanan yang maha Esa sebenarnya intinya adalah ketuhanan. Hal ini mengandung makna bahwa Negara dengan tuhan adalah hubungan sebab akibat yang tidak langsung melalui manusia sebagai pendukung pokok. Maka sesuai dengan makna yang terkandung dalam sila pertama bahwa adanya tuhan bagi bangsa dan Negara Indonesia adalah telah menjadi suatu keyakinan, sehingga adanya tuhan bukanlah persoalan. Adanya tuhan adalah dalam keyakinannya, sehingga adanya tuhan bukanlah persoalan . adanya tuhan adalah dalam kenyataan secara objektif (ada dalam objektifnya). Peranan etika pancasila didalam unsur ketuhanan ialah mempunyai peranan penting dalam pembentukan manusia Indonesia yang utuh. Melalui pendidikan agama manusia Indonesia yang utuh diharapkan akan memiliki sifat berkebutuhan. Dalam rangka pendidikan diindonesia unsure ketuhanan telah mendapat perhatian dan tempat sebagaimana mestinya. B. Saran Dalam kehidupan kita memang harus menjadikan pancasila sebagai pedoman dasar dan harus melakukan pengalaman sila-sila dalam pancasila. Dalam sila pertama terutama, kita harus menghormati berbagai macam agama yang ada diindonesia, sebagai perwujudan akan saling menghormati dan menghargai sesama pemeluk agama. Karena Indonesia ini terdiri dari kemajemukan agama didalam berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, manusia diindonesia juga diberikan kebebasan untuk memeluk agamanya sesuai dengan kepercayaannya massing-masing selama agama tersebut merupakan agama yang keberadaannya diakui Indonesia. Oleh karena itu, kerukunan antara umat beragama perlu kita PENDIDIKAN PANCASILA Page 13 jaga sebagai masyarakat Indonesia yang bhineka tunggal ika dalam rangka perwujudan dan pengalaman sila-sila pancasila terutama dalam sila pertama yaitu ketuhanan yang maha Esa. PENDIDIKAN PANCASILA Page 14 Daftar Pustaka :  http://cecepsuhardiman.blogspot.co.id/2013/06/pancasila-sebagai-sistem-filsafat.html  http://www.artikelsiana.com/2015/09/pancasila-sebagai-sistem-filsafat-pancasila.html  http://orathforever.blogspot.co.id/2012/10/makalah-filsafat-pancasila-ontologis.html  http://orathforever.blogspot.co.id/2012/10/makalah-filsafat-pancasila-ontologis.html  http://www.sumbbu.com/2016/04/epistemologis-pancasila-pemahaman-dan-kajian.html  http://www.yaquul.com/2016/08/nilai-dasar-instrumental-praksis-pancasila.html PENDIDIKAN PANCASILA Page 15

Judul: Tugas Pancasila Kelompok

Oleh: Putra Yugo


Ikuti kami