Makalah Dpa Print.docx

Oleh Zumrotul Asrifah

215,4 KB 2 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Dpa Print.docx

MAKALAH DASAR PEMISAHAN ANALITIK PENGARUH CARA PENGERINGAN TERHADAP PEROLEHAN EKSTRAKTIF, KADAR SENYAWA FENOLAT DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI KEMBANG KOL (Brassica oleracea L.) Kelompok: 1. 2. 3. 4. Siti Maghfiroh Nurul Isma Darin satriani lestari Ali Muad Zumrotul Asrifah 1 (133711054) (1403076021) (1403076015) (1403076019) JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGRI WALISONGO SEMARANG 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Tanaman, menjadi sumber yang kaya senyawa penting untuk kesehatan seperti antioksidan, memiliki peran kemopreventif terhadap risiko penyakit terkait stres oksidatif. Ada banyak kepentingan dalam buah-buahan dan sayuran diet kaya sebagai sumber alami antioksidan dan bahan fungsional. Serta menargetkan tanaman tinggi dalam aktivitas antioksidan juga penting untuk mengoptimalkan parameter ekstraksi. Produk yang berasal dari tumbuhan mengandung berbagai phytochemical, termasuk antioksidan, yang diduga memiliki peran protektif terhadap risiko penyakit terkait stres oksidatif seperti kanker dan kardiovaskular penyakit. Oleh karena itu, diet kaya sayuran dan buah-buahan dan senyawa bioaktif karenanya, termasuk antioksidan alami, telah dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung, kanker dan diabetes. The Brassica sayuran (brokoli, kembang kol, kubis, kubis Brussel) telah diidentifikasi sebagai sumber antioksidan yang sangat baik, bukan hanya karena tingkat tinggi ini tetapi juga karena mereka adalah sayuran yang secara teratur termasuk dalam diet, dikonsumsi dalam jumlah yang relatif besar dan tersedia di seluruh dunia. Banyak penelitian telah difokuskan pada aktivitas antioksidan dari sayuran Brassica, terutama brokoli dan kembang kol. Dan makalah ini akan menjelaskan tentang Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.). B. Rumusan Masalah. Dari latar belakang di atas, rumusan maslahh dari makalh ini adalah: 2 1. Bagaimana latar belakang dai jurnal Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.)? 2. Bagaimana bahan dan metode dari penelitian di jurnal Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.)? 3. Bagaimana hasil dari penelitian dijurnal Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.)? 4. Bagaimana kesimpulan dari penelitian dijurnal Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.)? C. Tujuan Makalah. 1. Untuk mengetahui latar belakang dai jurnal Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L. 2. Untuk mengetahui bahan dan metode dari penelitian di jurnal Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.) 3. Untuk Mengetahui hasil dari penelitian dijurnal Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.) 4. Untuk mengetahui kesimpulan dari penelitian dijurnal Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.)? 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Senyawa Fenolat. Senyawa fenolik/fenolat merupakan senyawa yang banyak ditemukan pada tumbuhan.fenolik memiliki cincin aromatik satu atau lebih gugus hidroksi dan gugusgugus lain penyertanya.senyawa ini diberi nama berdasarkan nama senyawa induknya, fenol.senyawa fenol kebanyakan memiliki gugus hidroksil llebih dari satu sehingga di sebut polifenol. 2. Antioksidan Antioksidan adalah substansi yang terkandung pada bahan-bahan nutrisi seperti beta karoten, vitamin C, vitamin E, dan selenium yang dapat mencegah kerusakan sel tubuh maupun meperbaiki sel tubuh yang rusak.Antioksidan bekerja dengan cara memperlambat atau mencegah oksidasi yaitu sebuah proses yang diakibatkkan suatu substansi yang disebut radikal bebas yang dapat mengakibatkan disfungsi sel dan serangan penyakit jantung dan diabetes.Jadi Antioksidan dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan menurunkan resiko terkena kanker. 3. Pengertian Ekstraksi Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari komponen-komponen dalam campuran. Contoh ekstraksi : pelarutan komponenkomponen kopi dengan menggunakan air panas dari biji kopi yang telah dibakar atau digiling. Pemisahan zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak saling mencampur antara lain menggunakan alat corong pisah. Ada suatu jenis pemisahan lainnya dimana pada satu fase dapat berulang-ulang dikontakkan dengan fase yang lain, misalnya ekstraksi 4 berulang-ulang suatu larutan dalam pelarut air dan pelarut organik, dalam hal ini digunakan suatu alat yaitu ekstraktor sokshlet. Metode sokshlet merupakan metode ekstraksi dari padatan dengan solvent (pelarut) cair secara kontinu. Alatnya dinamakan sokshlet (ekstraktor sokshlet) yang digunakan untuk ekstraksi kontinu dari sejumlah kecil bahan Istilah-istilah berikut ini umumnya digunakan dalam teknik ekstraksi: 1. Bahan ekstraksi: Campuran bahan yang akan diekstraksi 2. Pelarut (media ekstraksi): Cairan yang digunakan untuk melangsungkan ekstraksi 3. Ekstrak: Bahan yang dipisahkan dari bahan ekstraksi 4. Larutan ekstrak: Pelarut setelah proses pengambilan ekstrak 5. Rafinat (residu ekstraksi): Bahan ekstraksi setelah diambil ekstraknya 6. Ekstraktor: Alat ekstraksi 7. Ekstraksi padat-cair: Ekstraksi dari bahan yang padat 8. Ekstraksi cair-cair (ekstraksi dengan pelarut = solvent extraction): Ekstraksi dar bahan ekstraksi yang cair Pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan yang akan diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi pengumpulan ekstrak dalam pelarut. Ekstraksi akan lebih menguntungkan jika dilaksanakan dalam jumlah tahap yang banyak. Setiap tahap menggunakan pelarut yang sedikit. Kerugiannya adalah konsentrasi larutan ekstrak makin lama makin rendah, dan jumlah total pelarut yang dibutuhkan menjadi besar, sehingga untuk mendapatkan pelarut kembali biayanya menjadi mahal. Semakin kecil partikel dari bahan ekstraksi, semakin pendek jalan yang harus ditempuh pada perpindahan massa dengan cara difusi, sehingga semakin rendah tahanannya. Pada ekstraksi bahan padat, tahanan semakin besar jika kapiler-kapiler bahan padat semakin halus dan jika ekstrak semakin terbungkus di dalam sel (misalnya pada bahan-bahan alami). Pada jurnal lain, Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh perbandingan etanol-air sebagai pelarut ekstraksi terhadap perolehan kadar ekstraktif, senyawa fenolat dan aktivitas antioksidan dalam daun jambu biji (Psidium guajava Linn.), yang berbeda hanyalah dalam daun jambu biji dan kembang kol. Jambu biji (Psidium guajava Linn.) adalah salah satu tumbuhan obat Indonesia yang telah lama digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan berbagai penyakit 5 seperti antidiare, astringens dan menghentikan perdarahan disentri, haid tidak lancar, keputihan, mencret, pencernaan tidak baik pada anak-anak, radang usus, sariawan usus, panu (obat luar) dan sakit kulit (obat luar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan etanol-air memberikan pengaruh yang nyata terhadap perolehan ekstraktif, kadar senyawa fenolat dan aktivitas antioksidan (p<0,05). Di antara perbandingan etanol-air yang diuji, hasil yang terbaik ditunjukkan oleh perbandingan etanol-air 50:50 sebagai pelarut ekstraksi untuk daun jambu biji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pelarut etanol dan air yang cocok untuk memperoleh ekstrak daun jambu biji yang bermutu baik. Paramater mutu ekstrak daun jambu biji yang diukur adalah perolehan ekstraktif (rendemen ekstrak), kadar senyawa fenolat dan aktivitas antioksidannya. Bagian-bagian daun jambu biji kering ditimbang masing-masing 5 gram dan direndam masing-masing dengan 50 mL campuran etanol-air dengan perbandingan masing-masing 100:0, 80:20, 70:30, 60:40, dan 50:50 selama 24 jam sambil sekali-sekali diaduk. Maserat dipisahkan dan sisanya dimaserasi lagi dengan pelarut yang sama sampai tersari sempurna. Masing-masing maserat digabung lalu diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu <50ºC sampai kental. Sebelum dianalisis, masing-masing ekstrak dilarutkan dalam labu ukur sampai 50 mL dengan campuran air suling : metanol (1:1). 6 BAB III PEMBAHASAN 1. Latar belakang penelitian Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L. Produk yang berasal dari tumbuhan mengandung berbagai phytochemical, termasuk antioksidan, yang diduga memiliki peran protektif terhadap risiko penyakit terkait stres oksidatif seperti kanker dan kardiovaskular penyakit (Garcia-Alonso et al, 2004;. Koksal dan Gulcin, 2008). Oleh karena itu, diet kaya sayuran dan buah-buahan dan senyawa bioaktif karenanya, termasuk antioksidan alami, telah dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung, kanker dan diabetes (Dewanto et al, 2002a;. Kaur dan Kapoor, 2002). Sayuran (brokoli, kembang kol, kubis, kubis Brussel) telah diidentifikasi sebagai sumber antioksidan yang sangat baik, bukan hanya karena tingkat tinggi ini tetapi juga karena mereka adalah sayuran yang secara teratur termasuk dalam diet, dikonsumsi dalam jumlah yang relatif besar dan tersedia di seluruh dunia. Banyak penelitian telah difokuskan pada aktivitas antioksidan dari sayuran Brassica, terutama brokoli dan kembang kol (Guo et al, 2001;.. Gulcin et al, 2004;. Kaur et al, 2007; Koksal dan Gulcin 2007). Selain laporan mendokumentasikan aktivitas antioksi dan, efek pengolahan makanan dan penyimpanan pada aktivitas antioksidan juga telah dilaporkan (Zhang dan Hamauzu, 2004; Gliszcynska-Swiglo et al, 2006;. Gawlik-Dziki 2008; Sultana et al., 2008; Roy et al., 2009). Senyawa utama yang berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan telah diidentifikasi dan konsentrasi mereka diukur dengan metode kromatografi. (Koh et al, 2009, Lee et al, 2001). Paralel kesadaran ini meningkat dari manfaat kesehatan dari diet kaya antioksidan adalah keprihatinan yang meningkat tentang penggunaan aditif sintetis, termasuk antioksidan, dalam makanan. Antioksi dan sintetik yang biasa digunakan termasuk butylated hydroxyanisole (BHA), butylated hydroxytoluene (BHT), tert- Butylhydroquinone (TBHQ) dan ester asam gallic, dan satu-satunya tujuan mereka adalah untuk menghambat oksidasi lipid. Menanggapi masalah ini, potensi ekstrak nabati 7 sebagai sumber antioksidan alami untuk Selain makanan telah menjadi subyek dari beberapa makalah penelitian (Llorach et al, 2003;.. Gulcin et al, 2004; Liyana-Pathirana dan Shahidi, 2006;. Shahidi et al, 2007). Keuntungan menggunakan antioksidan yang bersumber secara alami adalah peran tambahan dalam melindungi tubuh terhadap jantung dan penyakit kanker. Llorach et al. (2003) menyelidiki penggunaan kembang kol oleh produk (yaitu daun) sebagai sumber ekstrak bioaktif dan ditemukan untuk menjadi kaya akan flavonoid yang kompleks. kelompok riset Shahidi ini diidentifikasi hazelnut olehproduk (Shahidi et al. 2007) dan dedak dari pengolahan biji serealia (Liyanal-Pathiriana 2006) menjadi potensi sumber antioksidan alami. kelompok riset Gulcin juga telah menyelidiki potensi dari sejumlah produk tanaman, bumbu dan rempah-rempah sebagai sumber antioksidan alami (Gulcin et al, 2004;. Gulcin, 2006;. Gulcin et al, 2007). Penggalian antioksidan dari bahan tanaman yang paling sering melibatkan metode ekstraksi pelarut. Pilihan pelarut telah terbukti memiliki pengaruh yang signifikan pada konsentrasi antioksidan yang diekstrak (Sultana et al, 2009;. Ahmad et al, 2011.). Pada literatur yang relevan dengan ekstraksi antioksidan dari Brassica sayuran, brokoli, kembang kol dan kale keriting, berbagai pelarut, termasuk air, etanol, metanol, metanol berair dan diasamkan metanol telah digunakan dan dalam kebanyakan kasus tanpa eksperimen untuk menentukan kondisi ekstraksi yang optimal. Namun, penyelidikan untuk menentukan pelarut yang optimal untuk mengekstraksi antioksidan terbatas. Dalam studi terpisah Koksal dan Gulcin (2008) dan Llorach et al. (2003) dibandingkan pelarut etanol dan air untuk ekstraksi antioksidan dalam kembang kol. Dalam setiap kasus etanol lebih unggul dibandingkan air dalam mengeluarkan isi total fenolik (TPC). Juga, Olsen et al., (2009) diuji aseton dan metanol sebagai penggalian pelarut untuk ekstraksi antioksidan dari kale keriting dan menemukan keduanya memiliki efisiensi ekstraksi yang sama. Aktivitas dan ekstraksi antioksidan hasil antioksidan juga telah terbukti dipengaruhi oleh prosedur pengeringan sebelum ekstraksi. Chan et al. (2008) melaporkan bahwa semua metode pengeringan termal diuji (microwave-, matahari-dan oven pengeringan) mengakibatkan penurunan TPC daun dan teh jahe. Rhim et al. (2009) meneliti efek dari teknik pengeringan yang berbeda pada aktivitas antioksidan dari 8 ramuan, jiwhang, dan juga menyimpulkan bahwa kebanyakan bentuk pengeringan (termasuk ber, ber panas, matahari-dan beku-kering) memiliki efek buruk pada aktivitas antioksidan . Sebuah studi tentang pengaruh kondisi pengeringan untuk brokoli menyarankan bahwa, pada kenyataannya, faktor kritis adalah waktu pengeringan (Mrkic et al., 2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pengeringan yang lebih pendek (melalui penggunaan suhu yang lebih tinggi dan meningkatkan aliran udara) dimaksimalkan aktivitas antioksidan. Oleh karena itu, ketika mencoba untuk mengidentifikasi potensi sumber antioksidan alami, selain menargetkan tanaman tinggi dalam aktivitas antioksidan juga bijaksana untuk mempertimbangkan parameter ekstraksi dan pengeringan. Sementara banyak pekerjaan yang telah dilakukan pada kandungan antioksidan dari kembang kol, telah ada pekerjaan kecil yang diterbitkan pada efek pengeringan kembang kol sebelum ekstraksi atau pada pilihan pelarut ekstraksi. Oleh karena itu, penelitian ini mengevaluasi bagaimana pengeringan kembang kol (udara, matahari dan pengeringan oven) sebelum ekstraksi dan ekstraksi berikutnya antioksidan menggunakan empat sistem pelarut yang berbeda mempengaruhi TPC dan aktivitas antioksidan dari kembang kol. 2. Bahan dan metode penelitian Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.) Reagen dan standar. Semua reagen yang digunakan selama penelitian adalah kelas analitis, dan diperoleh baik dari Merck (Darmstadt, Jerman) atau Sigma Chemical Co (St. Louis, MO, USA) kecuali dinyatakan lain. 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil radikal (DPPH •) (90,0%), asam linoleat, food grade sintetis antioksidan BHT (99,0%), Folin-Ciocalteu fenol reagen (2 N) yang dibeli dari Sigma Chemicals Co (St, Louis, MO, USA). Pengumpulan dan pengolahan sampel Sampel dari kembang kol (Brassica oleracea L.), tumbuh di Faisalabad, Pakistan tanpa aplikasi pestisida, di lahan pertanian yang sama, dipanen secara acak. sampel baru dikumpulkan dicuci dua kali dengan air keran. Air yang tersisa telah dihapus oleh udara 9 bertiup diikuti dengan memotong sampel kecil-kecil / irisan (approx. 1 x 1 cm) menggunakan helikopter baja. Pengeringan sampel Bahan sayuran cincang dibagi menjadi tiga bagian (500 g masing-masing) untuk mengeringkan oleh proses pengeringan yang berbeda. Satu porsi adalah udara kering (kondisi ambient, 10 hari), bagian lain adalah dijemur (7 hari) dan sebagian ketiga dikeringkan dengan oven pada 40 oC (3 hari). Semua sampel tanah dan material yang melewati 80-mesh digunakan untuk tujuan ekstraksi. Ekstraksi komponen antioksidan. Antioksidan diekstraksi (dalam rangkap tiga) dari bahan kering kembang kol (20,0 g) menggunakan etanol: air (80:20), 100% etanol, metanol: air (80:20) dan 100% metanol (200 ml). Ekstraksi dilakukan oleh orbital shaker selama 24 jam pada suhu kamar dan kemudian ekstrak disaring melalui kertas saring (Whatman No 1). Residu itu kembali diekstraksi dengan lebih lanjut dua aliquot pelarut segar mengikuti prosedur yang sama. Ekstrak gabungan diuapkan sampai kering dengan menggunakan rotary evaporator (EYELA, SB-651, Rikakikai Co Ltd Tokyo, Jepang). Ekstrak terkonsentrasi mentah ditimbang dan disimpan pada 4oC. Penentuan isi total fenolik (TPC). TPC setiap ekstrak ditentukan secara spektrofotometri menggunakan uji Folin-Ciocalteu (Chaovanalikit dan Wrolstad, 2004) dan dalam rangkap tiga. Secara singkat, 50,0 mg ekstrak kasar dicampur dengan Folin-Ciocalteu reagen (0,5 mL) dan air deionisasi (7,5 mL). Setelah 10 menit pada suhu kamar, 1,5 mL 20% natrium karbonat (w / v) ditambahkan. Campuran dipanaskan dalam bak air di 40 oC selama 20 menit dan kemudian didinginkan dalam penangas es. absorbansi diukur pada 755 nm menggunakan UV / Visible spektrofotometer (U-2001, Hitachi Instruments Inc, Tokyo, Jepang). standar asam galat pada kisaran 10-100 ppm diperlakukan dengan cara yang sama untuk menghasilkan kurva kalibrasi (r2 = 0,9986). TPC dari ekstrak dinyatakan sebagai setara asam galat (GAE) g / 100 g berat kering. 10 DPPH assay scavenging. Aktivitas radikal bebas dari ekstrak diukur dengan menggunakan metode yang dijelaskan oleh Iqbal et al. (2005). Secara singkat, dengan 1,0 mL ekstrak kembang kol (ekstrak kasar 25μg dalam 1,0 mL methanol), 5.0 ml baru disiapkan solusi metanol DPPH • (0,025 g / L) ditambahkan. Ekstrak yang mengurangi awal DPPH • konsentrasi dengan 50% ditentukan (25 ug ekstrak kasar dalam 1,0 mL methanol) dan kemudian digunakan untuk pengujian tersebut. Waktu yang optimal untuk merekam penurunan absorbansi DPPH • solusi pada penambahan ekstrak antioksidan ditentukan dengan memantau absorbansi (menggunakan Hitachi U-2001 Spectrophotometer) secara berkala (0, 0,5, 1, 2, 5 dan 10 menit). Setelah 5 menit absorbansi stabil dan tidak berubah dan kali ini digunakan untuk merekam absorbansi untuk semua ekstrak pada panjang gelombang 515 nm. The% DPPH.aktivitas dihitung menggunakan rumus % DPPH • Kegiatan = (A kosong - Sebuah sampel / A kosong) × 100 Sebuah kosong = Absorbansi DPPH • solusi (yang berisi semua reagen kecuali sampel uji) Sampel = Absorbansi DPPH • solusi, 5 menit setelah menambahkan ekstrak kembang kol. Penentuan aktivitas antioksidan dalam sistem asam linoleat, Aktivitas antioksidan dari ekstrak kasar ditentukan dengan mengukur penghambatan oksidasi asam linoleat (Iqbal et al., 2005). ekstrak kasar (5.0 mg) ditambahkan ke dalam larutan asam linoleat (0,13 mL), 99,8% ethanol (10,0 mL) dan 0,2 M natrium fosfat penyangga (10,0 mL, pH 7). Campuran dibuat hingga 25,0 mL dengan air suling dan diinkubasi pada suhu 40oC selama 360 jam. Tingkat oksidasi asam linoleat diukur dengan menggunakan metode tiosianat dijelaskan oleh Yen et al. (2000). Secara singkat, etanol (10,0 mL, 75% v / v), larutan amonium tiosianat (0,2 mL, 30% w / v), sampel diinkubasi (0,2 mL) dan klorida besi (0,2 mL, 20 mM di 3,5% HCl; v / v) ditambahkan secara berurutan. Setelah 3 menit pengadukan, nilai absorbansi diukur pada 500 nm menggunakan spektrofotometer (U-2001, Hitachi Instruments Inc, Tokyo, Jepang) dan diambil sebagai isinya peroksida. Sebuah kontrol yang berisi semua reagen kecuali ekstrak juga disiapkan dan absorbansi dicatat. BHT antioksidan sintetis digunakan sebagai kontrol positif. penghambatan persentase oksidasi asam linoleat dihitung 11 menggunakan persamaan: 100 - [(peningkatan absorbansi sampel pada 360 h / kenaikan absorbansi kontrol pada 360 h) x 100]. Penentuan mengurangi daya. Kekuatan mengurangi masing-masing ekstrak di empat konsentrasi yang berbeda ditentukan sesuai dengan prosedur yang dijelaskan oleh Oyaizu (1978) dengan sedikit modifikasi. Bagian dari setiap ekstrak kasar (2,5, 5,0, 7,5 dan 10,0 mg) dicampur dengan penyangga sodium fosfat (5.0 mL, 0,2 M, pH 6,6) dan kalium ferricyanide (5.0 mL, 1,0%). Campuran diinkubasi pada 50oC selama 20 menit. Kemudian 5 mL 10% asam trikloroasetat ditambahkan dan campuran disentrifugasi pada 980 g selama 10 menit pada 5 ° C (CHM-17; KOKUSAN Denki, Tokyo, Jepang). Lapisan atas dari solusi (5.0 mL) didekantasi, dicampur dengan 5.0 mL air suling dan besi klorida (1,0 mL, 0,1%) dan absorbansi tercatat 700 nm menggunakan spektrofotometer (U-2001, Hitachi Instruments Inc., Tokyo , Jepang). Statistik Aanalysis. Semua percobaan dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) menggunakan SPSS (versi 18). varians sama antara perlakuan diukur dengan menggunakan Uji Levene dan di mana mereka ditemukan untuk menjadi tidak merata transformasi log dilakukan. uji jarak berganda b Tukey dilakukan untuk mengidentifikasi perawatan optimal (P <0,05). 3. Hasil penelitian Pengaruh Cara Pengeringan Terhadap Perolehan Ekstraktif, Kadar Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.) Penelitian pada pengaruh cara pengeringan terhadap perolehan ekstraktif, kadar senyawa fenolat dan aktivitas antioksidan dari kembang kol (Brassica oleracea L.) Hal ini dilakukan untuk menguji adanya aktivitas antioksidan dari kembang kol (Brassica oleracea L.) dan pada khususnya, itu meneliti pengaruh proses pengeringan yang berbeda dan mengekstraksi pelarut pada aktivitas antioksidan. 12 Uji adanya antioksidan pada kembang kol, ditentukan dengan beberapa metode termasuk mengukur hasil ekstraksi, TPC oleh assay Folin-Ciocalteau, dan persentase penghambatan peroksidasi linoleat, DPPH aktivitas antioksidan dan mengurangi tenaga dari ekstrak. Hasil dari ekstraksi metanol, etanol, metanol berair dan etanol berair diuji untuk efektivitas mereka untuk mengekstrak antioksidan dari kembang kol yang telah dikeringkan, dijemur dan oven -kering. Ada perbedaan yang signifikan pada kemampuan mengekstraksi dari masing-masing pelarut.Pelarut berair yang unggul dalam kemampuan untuk mengekstrak antioksidan dan metanol berair (30,0 g / 100 g berat kering) secara signifikan lebih efisien daripada etanol berair (27,5 g / 100 g berat kering) terhadap antioksidan. Ekstraksi dengan etanol murni yang ditawarkan sedikit yield (7,5 g / 100 g berat kering). Temuan ini didukung oleh penelitian lain dilaporkan dalam literatur, di mana metanol dan etanol dengan beberapa kadar air. (biasanya 20 - 40%) telah ditemukan untuk menjadi lebih unggul dalam penggalian senyawa antioksidan dari berbagai tanaman.Dalam literatur Brassica, beberapa studi yang menyelidiki pelarut ekstraksi optimal tidak termasuk pelarut organik cair dalam penyelidikan mereka. Satu studi dibandingkan antara etanol dan air dan studi kedua, dibandingkan antara aseton dan metanol. Berdasarkan penelitian ini, menunjukkan bahwa air pelarut organik berbasis lebih unggul untuk hasil ekstraksi yang lebih tinggi dari komponen antioksidan dari kembang kol.Namun, penting untuk menunjukkan bahwa hasil ekstraksi optimal mungkin tidak menerjemahkan aktivitas antioksidan yang lebih tinggi bahwasanya pelarut berbasis air mungkin menjadi ekstraksnya kisaran yang lebih besar dari senyawa, beberapa di antaranya mungkin memiliki sedikit atau tidak ada aktivitas antioksidan. Metode pengeringan kembang kol sebelum ekstraksi juga secara signifikan dipengaruhi (P <0,05) hasil ekstraksi.Oven-kering dengan kisaran suhu 40 C, kembang kol memiliki hasil ekstraksi tertinggi . DPPH radikal banyak digunakan sebagai alat yang handal untuk mengukur pemulungan radikal bebas dan aktivitas sehingga antioksidan bahan tanaman. Ekstrak kembang kol diperoleh dari udara kering, dijemur, dan sampel oven kering 13 menggunakan pelarut ekstraksi yang berbeda-beda.Untuk penelitian ini, DPPH aktivitas antioksidan bervariasi dalam kaitannya dengan kedua pelarut ekstraksi dan proses pengeringan. Kembang kol oven-kering diekstraksi dengan metanol berair memiliki aktivitas scavenging tertinggi pada 70,0%, namun, ANOVA menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara perawatan. Persentase penghambatan peroksidasi asam linoleat. Pengukuran penghambatan peroksidasi asam linoleat juga digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan dari ekstrak kembang kol. Asam linoleat adalah asam lemak tak jenuh ganda, yang membentuk peroksida dengan oksidasi. Aktivitas antioksidan dari ekstrak kasar ditentukan dengan menilai kemampuan mereka untuk melindungi asam linoleat dari oksidasi. Peroksida terbentuk mengoksidasi Fe + 2 untuk Fe + 3, yang dapat membentuk kompleks tiosianat, konsentrasi yang dapat ditentukan secara spektrofotometri pada 500 nm. Sebuah absorbansi tinggi menunjukkan lebih besar a. Besarnya peroksida yang terbentuk selama reaksi; dan akibatnya semakin rendah aktivitas antioksidan. Ekstrak yang diperoleh dengan menggunakan pelarut berbasis air dipamerkan penghambatan tertinggi oksidasi dan, seperti untuk hasil ekstraksi; oven kering sampel diekstraksi dengan metanol berair dipamerkan penghambatan tertinggi oksidasi (85,0%). Persentase penghambatan oksidasi melampaui bahwa dari solusi BHT (80%) dari konsentrasi yang sama.Pada penelitian ini juga melaporkan etanol dan air ekstrak kembang kol memiliki persentase penghambatan yang sama atau lebih unggul dari oksidasi bila dibandingkan dengan trolox standar dan α-tokoferol. Sebuah plot hasil ekstraksi terhadap persentase linoleat penghambatan untuk semua ekstrak menunjukkan korelasi yang kuat (r2 = 0,805), menunjukkan bahwa hasil baik hasil ekstraksi dan persentase penghambatan tes asam linoleat sangat berhubungan satu sama lain. Ini mendukung aspek bahwa ekstrak pelarut organik air kembang kol dengan hasil ekstraksi yang lebih tinggi memiliki persentase juga lebih tinggi dari penghambatan oksidasi asam linoleat dan aktivitas antioksidan sehingga unggul. Ekstrak dari sampel kering oven-dipamerkan penghambatan tertinggi oksidasi asam linoleat. Hasil ini juga konsisten dengan data hasil ekstraksi yang disajikan di atas. Isi total fenolik (TPC). TPC dari ekstrak kembang kol yang berbeda ditentukan dengan 14 spektrofotometri menggunakan uji Folin-Ciocalteau dan dinyatakan sebagai setara asam galat (GAE). Setiap sistem pelarut tidak berbeda secara signifikan (P <0,05) dalam kemampuan mereka untuk mengekstrak senyawa fenolik (Tabel 4). Sekali lagi, metanol berair unggul dalam penggalian fenolat dari kembang kol. Sebuah plot TPC terhadap persentase penghambatan asam linoleat untuk semua 12 ekstrak (bervariasi dalam metode pengeringan dan ekstraksi pelarut) dipamerkan korelasi yang kuat (r2 = 0,916) menunjukkan bahwa TPC adalah, dalam hal ini, juga merupakan prediktor yang berguna aktivitas antioksidan, lihat Gambar 1. Llorach et al. (2003) melaporkan temuan yang sama untuk studi mereka etanol dan air berdasarkan diekstraksi dari kembang kol. Kegiatan dari ekstrak etanol dari kembang kol tidak berkorelasi kuat. TPC udara kering, dijemur dan kembang kol oven-kering bervariasi secara signifikan. pengeringan matahari-(sekitar 25 C), telah secara konsisten menghasilkan ekstrak rendah antioksidan apakah itu diukur sebagai hasil, kegiatan atau TPC dan independen dari pelarut ekstraksi. Sebaliknya, metode pengeringan lebih agresif, oven pengeringan (40 C), secara konsisten menghasilkan ekstrak antioksidan tinggi terlepas dari pelarut ekstraksi digunakan. Pentingnya waktu pengeringan singkat untuk memaksimalkan aktivitas antioksidan dari ekstrak brokoli oleh Mrkic et al. (2006) Hal ini menjadi faktor penting dalam penelitian ini .Sampel udara kering telah dikeringkan selama 10 hari, sampel dikeringkan matahari-selama 7 hari sementara oven kering selama 3 hari tersebut menunjukkan bahwa sebagai panjang waktu pengeringan meningkat, aktivitas antioksidan menurun. Penggunaan suhu yang lebih tinggi untuk pengeringan sebelum ekstraksi telah menjadi fokus dari beberapa studi (Dewanto et al, 2002). Suhu pengeringan 60 C (dan bawah) tidak berpengaruh buruk terhadap TPC dari ekstrak daun murbei, namun, ketika suhu 70oC (dan di atas) yang bekerja TPC menurun secara signifikan.Ekstrak metanol air juga memiliki kekuatan mengurangi superior. Tidak mengherankan, oven-kering kembang kol, diekstraksi dengan metanol berair mencatat serapan tertinggi. Ada korelasi positif antara TPC dan kekuasaan mengurangi (r2 = 0,79). 4. Kesimpulan penelitian Pengaruh Cara Ekstraktif, Kadar 15 Pengeringan Terhadap Perolehan Senyawa Fenolat dan Aktivitas Antioksidan dari Kembang Kol (Brassica oleracea L.). Ekstraksi pelarut memiliki pengaruh yang signifikan pada ekstraksi senyawa antioksidan dari kembang kol.Pada penelitian sebelumnya proses ekstraksi menggunakan pelarut tunggal, tetapi penelitian ini menunjukkan bahwa sistem pelarut yang melibatkan air dan pelarut organik lebih efektif terhadap pemulihan jumlah optimal komponen antioksidan dari kembang kol, dari pada pelarut tunggal.Hal ini didukung oleh sejumlah percobaan termasuk hasil dari ekstraksi, penghambatan oksidasi asam linoleat, isi total fenolik. Selain itu, proses pengeringan yang tepat, yang dilakukan sebelum ekstraksi sampel, dapat juga secara signifikan meningkatkan pemulihan antioksidan dari kembang kol. 16 BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan. a. Sayuran (brokoli, kembang kol, kubis, kubis Brussel) telah diidentifikasi sebagai sumber antioksidan yang sangat baik, bukan hanya karena tingkat tinggi ini tetapi juga karena mereka adalah sayuran yang secara teratur termasuk dalam diet, dikonsumsi dalam jumlah yang relatif besar dan tersedia di seluruh dunia. b. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu: 1) Penentuan reagen dan standar. 2) Pengumpulan dan pengolahan sampel. 3) Pengeringan sampel. 4) Ekstraksi komponen antioksidan. 5) Penentuan isi total fenolik (TPC) 6) DPPH • assay scavenging. 7) Penentuan aktivitas antioksidan dalam sistem asam linoleat. 8) Penentuan mengurangi daya. 9) Statistik analisis. c. Ada perbedaan yang signifikan pada kemampuan mengekstraksi dari masing-masing pelarut.Pelarut berair yang unggul dalam kemampuan untuk mengekstrak antioksidan dan metanol berair (30,0 g / 100 g berat kering) secara signifikan lebih efisien daripada etanol berair (27,5 g / 100 g berat kering) terhadap antioksidan. d. Ekstraksi pelarut memiliki pengaruh yang signifikan pada ekstraksi senyawa antioksidan dari kembang kol. 17 DAFTAR PUSTAKA Anwar, dkk, “Effect of drying method and extraction solvent on the total phenolics and antioxidant activity of cauliflower (Brassica oleracea L.) extracts”, International Food Research Journal: 1) Department of Chemistry, University of Sargodha, Sargodha-40100, Pakistan, 2) Department of Chemistry and Biochemistry, University of Agriculture Faisalabad38040, Pakistan, 3) Shifa International College of Medicine, Islamabad, Pakistan, Pakistan: 09 Agustus 2012. Rivai, Harrizul, dkk, “pengaruh perbandingan etanol-air sebagai pelarut ekstraksi terhadap perolehan kadar ekstraktif, senyawa fenolat dan aktivitas antioksidan dalam daun jambu biji (Psidium guajava Linn.),”. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, vol. 13, No 2, 2008. Fakultas Farmasi, Universitas Andalas Padang, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Andalas Padang, Padang: 31 Juli 2008. Craine, hart, 2003, Kimia Organik, Jakarta: Erlangga. 18

Judul: Makalah Dpa Print.docx

Oleh: Zumrotul Asrifah

Ikuti kami