Sejarah Minos

Oleh Pratiwi Tiwi

53,2 KB 10 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Sejarah Minos

Dalam mitologi Yunani, Minos adalah raja Kreta dan merupakan putra Zeus dan Europa. Setelah kematiannya, Minos menjadi hakim di dunia bawah. Peradaban Minoan di Yunani dinamai berdasarkan namanya. Dari istrinya, Pasifae, Minos menjadi ayah dari Ariadne, Androgeus, Deukalion , Faidra, Glaukos, Katreus, Akakallis , dan banyak lagi lainnya. Minos, bersama saudaranya, Rhadamanthis dan Sarpedon, dibesarkan oleh raja Asterion (atau Asterios) dari Kreta. ketika Asterion meninggal, tahtanya diklaim oleh Minos yang kemudian membuang Sarpedon dan Rhadamanthis. Pada suatu masa dalam periode Neolitikum, suatu kaum datang ke pulau Kreta di Laut Tengah. Tidak diketahui asal orang-orang ini, mungkin dari Asia Barat, atau Yunani, atau bahkan Mesir. Hingga Zaman Perunggu Pertengahan, bangsa Kreta menjalani kehidupan mirip seperti orang Lerna pra-Yunani di Yunani daratan. Ketika bangsa India-Eropa menaklukan Yunani sekitar 2100 SM, mereka belum menguasai pelayaran sehingga tidak menaklukan Kreta. Oleh karena itu bangsa Kreta dapat terus membangun peradabannya, menghasilkan tembikar, guci batu, dan bangunan yang bagus. Peradaban bangsa Kreta disebut juga sebagai peradaban Minos, dari nama raja Minos, yang dalam mitologi Yunani diceritakan sebagai raja Kreta. Sekitar 2000 SM, bangsa Kreta membangun istana-istana megah di seluruh pulau. Istana-istana ini memiliki banyak ruangan dengan halaman di bagian tengahnya. Kemungkinan bangsa Kreta memperoleh uang untuk membangun istana dengan cara bekerja sebagai tentara bayaran bagi Mesir. Beberapa dokumen Mesir dari masa ini tampak menyebutkan bangsa Kreta. Pada 1700 SM, sebuah gempa besar mengguncang pulau Kreta. Semua istana hancur, namun dengan cepat dibangun kembali, bahkan kali ini lebih besar dan megah. Salah satu istana terbesar disebut Knossos. Istana ini memiliki ratusan ruangan, banyak di antaranya dihiasi lukisan tumbuhan, hewan, dan manusia dengan pakaian yang mewah yang sedang bercakapcakap atau menari. Di istana ini terdapat pula bak mandi dan toilet dengan air mengalir, yang hanya diperuntukkan untuk para penguasa. Bangsa Kreta kini lebih kuat daripada tetangga Yunani mereka sehingga mampu menguasai bangsa Yunani. Mitos Yunani seperti kisah Daidalos dan Theseus menunjukkan bahwa Kreta sering memperbudak orang Yunani. Sekitar 1620 SM, sebuah gunung berapi besar meletus di pulau Thera, dekat Kreta. Kota Akrotiri, di Thera, terkubur seluruhnya dalam lumpur gunung berapi sehingga tak dapat lagi ditinggali. Meskipun demikian, bangsa Kreta tetap mampu melanjutkan kehidupan mereka. Perdaban bangsa Kreta tampaknya terus berkembang hingga 1450 SM, ketika semua istana terkecuali Knosso musnah terbakar. Kemudian lima puluh tahun kemudian, Knossos juga hancur. Kali ini, tak ada pembangunan ulang, dan Kreta menjadi tempat yang miskin. Tidak diketahui pasti siapa pelaku penghancuran istana-istana itu, namun kemungkinan adalah bangsa Yunani, yang sudah menjadi cukup kuat untuk menyerang Kreta. Kreta adalah pulau terbesar yang terletak di selatan pulau Yunani. Peradaban pulau kreta disebut-sebut sebagai cikal-bakal peradaban Yunani yang muncul sekitar tahun 3000-1400 SM. Letak pulau kreta sangat strategis, yakni di tengah-tengah jalur pelayaran antara Mesir, Yunani, dan Mesopotamia. Keadaan alam yang demikian mengakibatkan mayoritas penduduk pulau ini bermata pencaharian sebagai pedagang dan melakukan kegiatan pelayaran. Selain itu, pulau Kreta juga menjadi jembatan budaya antara Asia, Afrika, dan Eropa. Orang-orang Kreta atau juga disebut orang-orang Minoa mengenal bentuk tulisan Minos. Nama minos berasal dari nama seorang raja besar di pulau kreta yang bernama Minos. Kebudayaan pulau kreta seringkali disebut sebagai kebudayaan Minoa. Orang-orang Kreta pandai membuat gelas, alat senjata, karya seni lukis Fresko, seni porselin (gerabah), seni pahat, seni kerajinan logam, dan berbagai arca untuk kegiatan keagamaan serta memproduksi pakaian. Masyarakat Minoa sudah menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi, menjalin hubungan ekonomi dengan rakyat tetangga. Secara politis, wilayah kreta terbagi dalam komunitas-komunitas kecil, merupakan negara-negara kota yang terkenal seperti Knossos, Phaistos, Gortyna, dan Gournia. Pada kota Knossus ditemukan reruntuhan istana Knossus yang berbentuk Labyrinth (rumah siput). Labyrinth berasal dari kata labrys yang berarti “mudah tersesat”. Bangunan istana didesain sedemikian rupa agar seseorang yang masuk akan mudah tersesat karena susunan kamar-kamar, ruangan, dan lorongnya banyak dan berliku-liku untuk menghalangi para penjahat yang masuk istana dan ingin menjarah kekayaan istana. Menurut para arkeolog, peradaban orang-orang kreta secara kronologis dibagi ke dalam tiga periode, yaitu Minoa awal (3400-2100 sebelum Masehi) dimulai zaman Tembaga dan beakhir pada penggunaan alat-alat dari zaman perunggu. Minoa Madya (2100-1600 sebelum Masehi), zaman ini ditandai dengan didapatkannya perkembangan bidang seni dan ditemukannya reruntuhan kerajaan Knossos. Minoa Akhir (1600-1200 sebelum Masehi), hal ini ditandai dengan masa puncak perkembangan kultural dan stagnansi akhir. Kebudayaan kreta mengalami kehancuran akibat bencana alam yaitu ledakan gunung api yang maha dahsyat dari pulau Thera yang hanya berjarak 60 mil dari pulau kreta dan satu kali gelombang tsunami yang belum pernah terjadi sebelumya. Faktor lain adalah invasi bangsa pendatang yang berasal dari ras Indo-Jerman di Asia tengah yang bergerak ke Yunani kemudian ke pulau Kreta. Peradaban Minoa berlangsung di Pulau Kreta dari 3000 sampai 1100 SM. Seiktar tahun 1450 SM, peradaban ini digantikan oleh peradaban Mikenai sebagai kebudayaan utama di daerah ini. Nama "Minoa" dicetuskan oleh arkeologi terkenal asal Britania, Sir Arthur Evans, yang dari tahun 1900 sampai 1906 melakukan penggalian di Knossos, yang dia percayai sebagai ibukota kerajaan yang pernah dipimpin oleh raja Minos dari mitologi Yunani. Arkeolog Yunani, Nikolaos Platon, mengusulkan sebuah kronologi mengenai peradaban Minoa beradasarkan penggalian istana-istana Minoa. Dia membagi peradaban itu ke dalam beberapa era: 1. Periode pra-istana (3000-1900 SM). Bukti arkeologis menunjukkan bahwa Kreta mungkin telah dihuni sejak milenium ketujuh SM. Para pendatang baru yang ahli dalam metalurgi tiba di sana pada akhir milenium keempat SM, dan menggantikan orang-orang sebelumnya hingga 1900SM. 2. Periode istana purba (1900-1700 SM). Istana-istana yang besar (terutama di Knossos dan Faistos) dibangun pada periode istana purba. Pada masa ini, kehidupan perkotaan mulai tumbuh dan politik mulai menjadi terpusat. Sekitar tahun 1700 SM, banyak istana besar yang hancur, kemungkinan karena bencana alam, seperti gempa bumi, atau mungkin karena serangan dari Anatolia. 3. Periode istana baru (1700-1450 SM). Orang-orang Minoa membangun kembali istana-istana mereka, dan dimulailah Periode Neopalatial. Puncak peradaban Minoa terjadi pada periode ini, populasi meningkat, banyak pemukiman baru yang dibuat, dan seni, arsitektur, serta teknologi berkembang pesat. Meskipun mengalami kemajuan, bangsa Minoa juga mengalami semacam bencana sekitar tahun 1450 SM. 4. Periode istana akhir (1450-1380 SM) Pada periode ini, peradaban Minoa mengalami kemunduran. Banyak pendapat mengenai penyebabnya, di antaranya adalah karena letusan Gunung Thera di pulau Santorini, adanya pemberontakan, atau mungkin invasi bangsa Mikenai dari daratan utama Yunani. Kemungkinan besar, gabungan dari semua faktor tersebutlah penyebabnya. Appaun penyebab pastinya, peradaban Minoa kemudian digantikan oleh peradaban Mikenai pada 1420 SM. Penggalian menunjukkan tembikar dan tulisan dari Kreta setelah 1450 SM lebih menunjukkan daratan utama Yunani daripada Kreta pra1450 SM. Knossos lalu menjadi pusat administratif Mikenai, sebelum akhirnya hancur oleh kebakaran pada 1380. 5. Periode pasca-istana (1380-1100 SM) Setelah kehancuran Knossos, ekonomi dan politik berpindah ke kota Khaniá. Peradaban Minoa sendiri semakin runtuh dan lokasi-lokasi Minoa mulai ditinggalkan. Khondros adalah salah satu lokasi baru pada periode ini. Lokasi Minoa yang terakhir runtuh adalah kota Karfi yang berada di pegunungan, yang berhasil menolak asimilasi budaya Mikenai hingga awal Zaman Besi. Pengetahuan tentang alat-alat dari besi (yang dibawa oleh bangsa Mikenai), yang menggantikan penggunaan perunggu, merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh para arkeolog untuk menentukan waktu kapan Minoa runtuh. Kebudayaan Minoa berbeda dari orang-orang Yunani kuno setelahnya. Bangsa Minoa merupakan pelopor dalam bidang eksplorasi kelautan, dan mereka mendirikan beberapa koloni di daratan utama Yunani dan pulau-pulau Aigea lainnya, misalnya Akrotiri di Thera. Budaya Minoa juga ikut mempengaruhi budaya Mikenai. Sebagian besar infomasi mengenai agama Minoa diketahui dari tradisi lisan yang baru ditulis setelah Mikenai menaklukan Minoa. Dari catatan ini, para sejarawan percaya bahwa agama Minoa didasarkan pada agama orang-orang Neolitikum yang digantikan oleh bangsa Minoa. Agama mereka berpusat pada dewi Potnia, namun mereka tetap memuja banyak dewi. Banteng adalah keramat untuk bangsa Minoa. Ada suatu ritual keagamaan yang unik, yaitu lompat banteng. Di Kuil Minoa di Knossos, ada labirin yang terkenal. Simbol keagamaan lainnya adalah ular, labris (kapak bermata dua), matahari, dan pohon. Ada pula bukti bahwa bangsa Minoa melakukan pengorbanan manusia. Bangsa Minoa terkenal atas kemampuan seni mereka. Penggalian telah menunjukkan adanya lukisan dinding, patung, dan tembikar. Tembikar adalah bentuk seni yang dominan pada bangsa Minoa sejak kedatangan Mereka di Kreta hingga periode Istana Baru, ketika akhirnya ditemukan teknologi tembikar untuk standardisasi desain. Lukisan dinding kemudian bangkit sebagai seni utama, dan sangat berfokus pada tema-tema natural dan keagamaan. Banteng dan ular banyak muncul dalam karya seni orang Minoa. Namun, tidak ditemukan adanya lukisan dinding mengenai dewa. Ekonomi Minoa sangat bervariasi. Beberapa bahan pangan didapat dari pertanian, contohnya gandum, anggur, zaitun, dan ara. Mereka juga berternak domba, kambing, dan babi. Selain itu, lebah juga diternakkan untuk menghasilkan madu, selain juga keledai dan lembu untuk membajak ladang. Bangsa Minoa juga melakukan perdangan dengan daerah-daerah di sekitarnya. Komoditas utama mereka adalah timah, yang sangat diperlukan karena perunggu dihasilkan dari campuran timah dan tembaga. Wilayah perdagangan Minoa mencapai Mespotamia, Mesir, dan Spayol. Seiring munculnya besi yang menggantikan perunggu, perdagangan Minoa pun runtuh. Peradaban Minoa memiliki beberapa bahasa tertulis. Pada masa pra-Istana, aksara hieroglif primitif digunakan, naman hanya sampai 1700 SM. Setelah itu berkembanglah sistem tulisan Linear A pada periode Istana purba, dan terus digunakan pada masa Istana baru. Linear A memiliki banyak simbol, masing-masing melambangkan suku kata, kata, atau angka. Setelah penaklukan Mikenai, linear A digantikan oleh Linear B. Hingga kini Linear A belum dapat diterjemahkan.

Judul: Sejarah Minos

Oleh: Pratiwi Tiwi


Ikuti kami