Makalah Role Playing

Oleh Ayu Ayza

90,2 KB 12 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Role Playing

Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan karunia nikmat bagi umat-Nya. Atas Ridho-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam makalah ini kami menjelaskan mengenai “Metode Pembelajaran Role playing” yang telah kami susun secara sistematis dan materi yang di sajikan kami ambil dari sumber-sumber terpercaya. Makalah ini tidak akan terwujud, jika tidak ada dorongan dan dukungan dari berbagai pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.Besar harapan kami makalah ini dapat membantu meningkatkan profesi belajar mahasiswa dan dapat bermanfaat bagi mahasiswa, khususnya dalam masalah disajikan dalam makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kepada semua pihak untuk memberikan kritik dan saran yang membangun demi tercapainya makalah yang lebih baik di masa mendatang. Terima kasih. Surabaya, oktober 2015 Penulis BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam pembelajaran guru dan peserta didik sering dihadapkan pada berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan mata pelajaran maupun yang menyangkut hubungan sosial. Pemecahan masalah pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara, melalui diskusi kelas, tanya jawab antara guru dan peserta didik, penemuan dan inkuiri. Guru yang kreatif senantiasa mencari metode-metode baru dalam memecahkan masalah, tidak terpaku pada cara tertentu yang monoton, melainkan memilih variasi lain yang sesuai. Bermain peran merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh. Hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa bermain peran merupakan salah satu metode yang dapat digunakan secara efektif dalam pembelajaran. Dalam hal ini, bermain peran diarahkan pada pemecahan masalah-masalah yang menyangkut hubungan antarmanusia, terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik. Melalui bermain peran, para peserta didik mencoba mengeksplorasi hubunganhubungan antarmanusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikapsikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah. Sebagai suatu metode pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan sosial. Dari dimensi pribadi metode ini berusaha membantu para peserta didik menemukan makna dari lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya. Dalam pada itu, melalui metode ini peserta didik diajak untuk belajar memecahkan masalah-masalah pribadi yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman-teman sekelas. Dari dimensi sosial, metode ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dalam menganalisis situasi-situasi sosial. Terutama masalah yang menyangkut hubungan antar pribadi peserta didik. Pemecahan masalah tersebut dilakukan secara demokratis. Dengan demikian melalui metode ini para peserta didik juga dilatih untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis B RUMUSAN MASALAH 1. Apa pengertian dari metode pembelajaran Role Playing ? 2. Apa saja tujuan dari metode pembelajaran role playing ? 3. Bagaimana langkah-langkah dalam menerapkan metode prmbelajaran Role Playing ? 4. Apa kelebihan dan kelemahan dalam penggunaan metode Role Playing pada proses belajar mengajar ? C. TUJUAN 1. Mengetahui pengertian dan maksud dari metode pembelajaran Role Playing 2. Memahami Tujuan dari metode Role Playing bagi perkembangan belajar peserta didik. 3. mengetahui langkah-langkah penggunaan metode Role Playing pada proses pembelajaran. 4. mengetahui kelebihan dan kelemahan menggunakan metode pembelajaran role Playing, agar dapat memaksimalkan hasil belajar. BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Metode Pembelajaran Role Playing. Dalam suatu proses belajar mengajar ada beberapa komponen yang selalu terkait dan tidak bisa dipisahkan, yaitu media pengajaran, prosedur didaktif (metode), materi pelajaran dan lain-lain. Semua komponen tersebut harus terpadu dan serasi agar tercipta suasana belajar mengajar yang menyenangkan, akhirnya terwujud suatu hal apa yang dinamakan dengan hasil belajar yang berbobot dan berkualitas. Supaya pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan berupa pemahaman yang mendalam dan berantai dari siswa, diperlukan suatu pendekatan. Guru berperan penting dalam hal ini, dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan bekal pengalaman yang dimiliki, sebaiknya seorang guru haruslah mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan pembelajaran, mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis. Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan prosedur didaktif sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Dalam penggunaan metode atau prosedur didaktif terkadang seorang guru harus menyesuaikan dengan kondisi dan suasana kelas. Jumlah anak didik mempengaruhi penggunaan metode. Bervariasinya metode juga dapat menyulitkan guru. Sebagai cara untuk tercapainya tujuan intruksional dari pembelajaran matematika maka perlu adanya pemilihan penggunaan metode yang terbaik agar siswa merasa tertarik untuk mempelajari mata pelajaran matematika sebagaimana mestinya. Pembelajaran dengan role playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan itu dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Metode ini banyak melibatkan siswa dan membuat siswa senang belajar serta metode ini mempunyai nilai tambah, yaitu: a. dapat menjamin partisipasi seluruh siswa dan memberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuannya dalam bekerjasama hingga berhasil. b. permainan merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran dengan role playing merupakan suatu aktivitas yang dramatik,biasanya ditampilkan oleh sekelompok kecil siswa, bertujuan mrngeksploitasi beberapa masalah yang ditemukan untuk melengkapi partisipasi dan pengamat dengan pengalaman belajar yang nantinya dapat meningkatkan pemahaman. Model Pembelajaran Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid. Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari. Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi. Pembelajaran dengan role playing ada tujuh tahap yaitu pemilihan masalah, pemilihan peran, menyusun tahap-tahap bermain peran, menyiapkan pengamat, tahap pemeranan, diskusi dan evaluasi serta pengambilan keputusan. Pada tahap pemilihan masalah, guru mengemukakan masalah yang diangkat dari kehidupan peserta didik agar mereka dapat merasakan masalah itu dan terdorong untuk mencari penyelesaiannya. Tahap pemilihan peran memilih peran yang sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas, mendeskripsikan karakter dan apa yang harus dikerjakan oleh para pemain. Selanjutnya menyusun tahap-tahap bermain peran. Dalam hal ini guru telah membuat dialog tetapi siswa bisa menambah dialog sendiri. Tahap berikutnya adalah menyiapkan pengamat. Pengamat dari kegiatan ini adalah semua siswa yang tidak menjadi pemain atau pemeran. Setelah semuanya siap maka dilakukan kegiatan pemeranan. Pada tahap ini semua peserta didik mulai bereaksi sesuai dengan peran masing-masing sesuai yang terdapat pada skenario bermain peran. Nama lain dari pembelajaran role playing ini adalah Sosiodrama. Sosiodrama (Role playing) berasal dari kata Sosio dan drama. Sosio berarti sosial menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat menunjukan pada kegiatan–kegiatan sosial, dan drama berarti mempertunjukan, mempertontonkan atau memperlihatkan. Jadi sosiodrama adalah metode mengajar yang dalam pelaksanaannya peserta didik mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial. Sosiodrama dan role playing dapat dikatakan sama artinya dan dalam proses pemakaiannya sering disilih gantikan. Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial. Dalam teknik pengajaran berbahasa teknik bermain peran sangat baik untuk mendidik siswa dalam menggunakan ragam-ragam bahasa. Cara berbicara orang tua tentu berbeda dengan cara berbicara anak-anak. Cara berbicara penjual berbeda pula dengan cara berbicara pembeli. Fungsi dan peranan seseorang menuntut cara berbicara dan berbahasa tertentu pula. Dalam bermain peran, siswa bertindak, berlaku, dan berbahasa sesuai dengan peranan orang yang diperankannya. Misalnya sebagai guru, orang tua, polisi, hakim, dan sebagainya. Setiap tokoh yang di perankan menuntut karakteristik tertentu pula. 2. Tujuan Metode Pembelajaran Role Playing Tujuan yang diharapkan dengan penggunaan metode bermain peran (role playing ) antara lain adalah : 1) Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain. 2) Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab. 3) Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan. 4) Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah. 5) Mendorong siswa untuk menciptakan realitas mereka sendiri 6) Mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Ada tiga teori yang menyatakan bahwa pembelajar akan belajar bahasa apabila:  Peserta didik tahu bahwa bahasa tersebut dipakai secara komprehensif, karena peserta ikut serta dalam komunikasi yang asli (genuine).  Peserta didik dilibatkan secara aktif  Peserta didik memiliki afek positif (keinginan, perasaan dan sikap). Ketiga hal ini akan sangat membantu mahasiswa untuk mengembangkan pemikiran kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah. 7) Meningkatkan motivasi belajar siswa 8) Melibatkan para siswa pemalu dalam kegiatan kelas 9) Membuat rasa percaya diri siswa 10) Membantu siswa untuk mengidentifikasi dan kesalahpahaman yang benar 11) Menunjukkan siswa bahwa dunia nyata yang kompleks dan masalah yang muncul di dunia nyata tidak dapat diselesaikan dengan hanya menghafal informasi; 12) Menggaris bawahi penggunaan simultan keahlian yang berbeda (yang diperoleh secara terpisah) Beberapa ahli telah membahas tentang strategi bermain peran ini, beberapa di antaranya sebagai berikut:  Joyce dan Weil (2000) Bermain peran (role-playing) adalah strategi pengajaran yang termasuk ke dalam kelompok model pembelajaran sosial (social models). Strategi ini menekankan sifat sosial pembelajaran, dan memandang bahwa perilaku kooperatif dapat merangsang siswa baik secara sosial maupun intelektual.  Jill Hadfield (1986) Hadfield menyebutkan bahwa strategi bermain peran (role playing) adalah suatu permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas.  Jeremy Harmer yang dikutip Budden, penggunaan Role playing dalam kegiatan pembelajaran dikarenakan alasan berikut: 1. Menyenangkan dan dapat menimbulkan motivasi bagi pembelajar. 2. Semakin banyak kesempatan pembelajar untuk mengungkapkan diri. 3. Memberikan kesempatan yang lebih luas untuk berbicara. Manfaat Role playing dalam Pembelajaran Dalam proses belajar mengajar, Role playing merupakan salah satu metode belajar komunikatif yang berorientasi pada pembelajar. Dari pendapat beberapa ahli dapat dilihat beberapa manfaat penggunaan metode ini, antara lain: 1. Memberikan motivasi kepada mahasiwa a. aspek kreatif lebih terlihat bermain daripada bekerja b. tekanan/keharusan untuk memecahkan masalah atau konflik yang dialami karakter mereka lebih memberikan motivasi daripada tekanan ketika mereka harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Tekanan semacam ini justru akan mereka temui dalam kehidupan nyata. 2. Menambah/memperkaya sistem pembelajaran tradisional a. pengajar tidak hanya mencekoki mahasiswa dengan teori-teori b. bermain peran menunjukkan dunia sebagai tempat yang kompleks dengan masalahmasalah yang kompleks pula. Masalah-masalah ini tidak dapat dipecahkan hanya dengan satu jawaban sederhana yang diingat oleh mahasiswa. c. mahasiswa belajar bahwa keterampilan yang dipelajari secara terpisah, seperti keterampilan berkomunikasi, sering digunakan secara bersama-sama dalam menyelesaikan berbagai tugas/kegiatan dalam dunia nyata. d. pembelajaran dengan bermain peran lebih mengutamakan nilai rasa, kreatifitas dan juga pengetahuan. e. latihan untuk mengutamakan pentingnya orang dan sudut pandang mereka merupakan bekal yang sangat penting bagi mahasiswa di dunia kerja mereka nantinya. 3. Keterampilan untuk kehidupan nyata. a. mahasiswa harus memahami kebutuhan dan perspektif orang-orang yang ada di sekelilingnya b. bermain peran dapat meningkatkan kemampuan seperti self-awareness, problem-solving, komunikasi, inisiatif dan kerjasama. c. dalam penelitian atau problem-solving, mahasiswa lebih bisa menerima atau mengingat ilmu yang mereka kembangkan sendiri, daripada ilmu yang mereka terima dalam perkuliahan. a. 3. Langkah-Langkah Pelaksanaan Metode Role Playing Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan guru dalam menerapkan metode role playing agar mencapai tujuan : 1) Pemilihan masalah, guru mengemukakan masalah yang diangkat dari kehidupan peserta didik agar mereka dapat merasakan masalah itu dan terdorong untuk mencari penyelesaiannya. 2) Pemilihan peran, memilih peran yang sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas, mendeskripsikan karakter dan apa yang harus dikerjakan oleh para pemain. 3) Menyusun tahap-tahap berain peran, dalam hal ini guru telah membuat dialog tetapi siswa dapat juga menambahkan dialog sendiri. 4) Menyiapkan pengamat, pengamat dari kegiatan ini adalah semua siswa yang tidak menjadi pemain atau pemeran. 5) Pemeranan, dalam tahap ini para peserta didik mulai bereaksi sesuai dengan peran masing-masing yang terdapat pada skenario bermain peran. 6) Diskusi dan evaluasi, mendiskusikan masalah-masalah serta pertanyaan yang muncul dari siswa. 7) Pengambilan keputusan yang telah dilakukan. Jadi pembelajaran dengan role playing merupakan cara belajar yang dilakukan dengan cara membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok memerankan karakter sesuai dengan naskah yang telah dibuat dan materi yang telah ditentukan oleh guru sehingga siswa lebih mudah memahami dan mengingat materi yang telah diperankan tersebut. Agar metode role playing/ bermain peran ini dapat mencapai tujuan, maka harus disusun langkah-langkah pembelajaran agar penggunaan metode ini lebih efektif. Langkahlangkah menurut tersebut sebagai berikut: 1) guru menerangkan teknik sosiodrama dengan cara yang mudah dimengerti oleh para siswa. 2) Masalah yang akan dimainkan harus disesuaikan dengan tingkat umur dan kemampuan. 3) Guru menceritakan masalah yang akan dimainkan itu secara sederhana tetapi jelas, untuk mengatur adegan dan memberi kesiapan mental para pemain. 4) Jika sosiodrama itu untuk pertama kali dilakukan sebaiknya para pemerannya ditentukan oleh guru. 5) Guru menetapkan para pendengar, yaitu para siswa yang tidak berperan. 6) Guru menetapkan dengan jelas masalah dan peranan yang harus dimainkan. 7) Guru menyarankan kata-kata pertama yang harus diucapkan pemain untuk memulai permainan. 8) Guru menghentikan permainan di saat situasi sedang mencapai klimaks dan kemudian membuka diskusi umum. 9) Sebagai hasil diskusi, guru dapat meminta siswa untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara-cara lain. 10) Guru dan siswa menarik kesimpulan-kesimpulan dari drama yang dimainkan baik dalam teknik maupun dalam isinya. 4. Kelebihan Dan Kelemahan Metode Role Playing Metode bermain peran role playing mempunyai beberapa kelebihan dan juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain adalah sebagai berikut: Kelebihan metode bermain peran (role playing) antara lain: a. siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. b. Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni peran di sekolah. c. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya. d. Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya. e. Bahasa lisan siswa dibina dengan baik agar mudah dipahami orang f. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan pengalaman yang menyenangkan yang sulit untuk dilupakan. g. Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias. h. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan. i. Siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan di bahas dalam proses belajar. j. Dapat menjabarkan pengertian (konsep) dalam bentuk praktik dan contoh-contoh yang menyenangkan. k. Dapat menanamkan semangat peserta didik dalam memecahkan masalah ketika memerankan sekenario yang dibuat. Disamping memiliki kelebihan, metode role playing juga mempunyai kelemahan, di antaranya adalah : a. Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal dengan baik apa yang akan diperankannya. b. Bermain peran tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung. c. Jika siswa tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan secara sungguh-sungguh. d. Metode bermain peranan memerlukan waktu yang relatif panjang/banyak. e. Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid. Dan ini tidak semua guru memilikinya. f. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan tertentu. g. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai. h. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini. i. Sebagian besar anak yang tidak ikut drama mereka menjadi kurang aktif. j. Kelas lain sering terganggu oleh suara pemain dan penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan BAB IV PENUTUP KESIMPULAN 1. Metode pembelajaran bermain peran (role playing ) adalah cara yang digunakan guru dalam proses pembelajaran dengan memberikan suatu topik/masalah yang dipecahkan oleh peserta didik dengan memainkan peran dalam hal ini terkait dengan pembelajaran. 2. Tujuan dari penggunaan metode bermain peran (role pplaying) adalah agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab. 3. Analisis metode pembelajaran bermain peran role playing meliputi sistem sosial, prinsip reaksi, dan sistem penunjang. 4. Langkah-langkah metode pembelajaran bermain peran role playing meliputi guru menunjuk siswa yang akan bermain peran, guru memilih masalah menarik, guru menceritakan peristiwa yang akan diperankan, guru harus memberikan tanggapan, guru memberikan penjelasan kepada pemeran dengan sebaik-baiknya. 5. Kelebihan metode pembelajaran bermain peran role playing meliputi : dapat melatih siswa untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan diperankan, siswa akan terlatih untuk berinisiatif. Kekurangannya: Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang kreatif, dan banyak memakan waktu Daftar Pustaka http://s1pgsd.blogspot.co.id/2012/11/model-pembelajaran-role-playing.html http://rujukanskripsi.blogspot.co.id/2013/06/kajian-teori-hakikat-metode.html http://www.academia.edu/8748398/Metode_Pembelajaran_Bermain_Peran_Role_Playing_ http://makalah-update.blogspot.co.id/2012/12/efektifitas-metode-bermain-peran-role.html http://zacky30717.blogspot.co.id/2011/04/manfaat-role-playing-dalam-pembelajaran.html

Judul: Makalah Role Playing

Oleh: Ayu Ayza


Ikuti kami