Tugas Analisi1[1]

Oleh Nopita Indah Sari Harahap

144,9 KB 8 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Tugas Analisi1[1]

TUGAS ANALISIS TOLERANSI DALAM PERBEDAAN STUDI KONSTRUKSI TOLERANSI UMAT BERAGAMA DI PENGUNGSIAN BENCANA ERUPSI GUNUNG SINABUNG DI KABUPATEN KARO, SUMATERA UTARA Disusun Oleh: Nopita Indah Sari :4618066 Dosen Pembimbing: DR. Silfia Hanani,S.Ag.,S.Sos.,M.Si JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI BUKITTINGGI TAHUN AJARAN 2019/2020 Telaah Artikel Jurnal Judul : Toleransi Dalam Perbedaa Studi Konstruksi Toleransi Umat Beragama Di Pengungsian Bencana Erupsi Gunung Sinabung Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara Penulis :Silfia Hanani Nama Penerbit:IAIN Bukittinggi Terbit Di Jurnal:Paper AICIS XIV Tahun Publikasi:2014 Halaman:410-420 Sinopsis Indonesia merupakan salah satu Negara yang mempunyai intensitas seringnya terjadi bencana alam. Hampir semua wilayah mengalami bencana alam tersebut. Salah satu bencana alam yang terjadi itu adalah, bencana erupsi gunung sinabung di kabupaten karo sumatera utara diakhir tahun 2013 sampai awal tahun 2014 ini. Selama erupsinya telah terjadi pengungsian masyarakat sekitar gunung tersebut dengan jumlah yang sangat banyak. Menurut catatan BNPB yang dilaporkan oleh media jumlah pengungsi gunung sinabung sampai bulan februari mencapai 30.117 jiwa atau sekitar 9.388 kepala keluarga yang berasal dari 34 desa disekitar gunung tersebut. Seluruh pengungsi ini di tamping di beberapa titik pengungsian, lebih kurang ada 30 titik penampungan pengungsian yang tersebar di beberapa kawasan. Namun, yang paling menarik di pengungsian ini adalah kontruk si sosial yang di bangun dan toleransi keberagaman yang terwujud. Dalam konteks ini terlihat suatu konstruksi nilai yang muncul dan membangun dunia sosial korban bencana, dia tulus dan tidak dilihat oleh bayang bayang kecurigaan tetapi direkat dengan rasa kemanusiaan. Di pengungsi tidak ada kecurigaan satu sama lain, diantara mereka mencoba untuk berdamai dengan situasi dan kondisi dalam kultur dan iman yang berbeda beda. Kontekstualitas situasi telah menciptakan satu kondisi kemanusiaan yang manusiawi, hingga dalam konteks ini pula semakin diyakini apa yang dikatakan oleh Gandhi selama masih ada toleransi dimiliki maka keberagaman dan perbedaan itu tidak akan menjadi mencelakakan. Keberagaman dapat menjadi bernilai positif, apabila didalamnya dibangun sikap tanpa kebencian antara satu dengan yang lain. Oleh sebab itu keberagaman tersebut harus dipelihara menjadi satu jalinan hidup yang tidak terkontaminasi dengan kepentingansuperioritas atau skeptis yang mengecilkan makna makna kehidupan sosial yang harmonis. Negara Negara yang dibangun dengan beragam etnik, agama, ras dan sebagainya semestinya merawat dan mengkontruksi toleransi dengan berbagai pendekatan seperti dialog antar agama atau antar keyakinan bahkan melalui pendidikan Untuk mewujudkan toleransi ini ada empat persyaratan fungsional dari sebuah system. Empat persyaratan itu, saling terkait satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan, empat hal ini disingkat oleh parsons dengan AGIL.yaitu Adaptation, Goal attainment, Integration, dan Latten pattern maintenenance and tension management. Toleransi mengandung maksud supaya memperbolehkan terbentuknya system yang menjamin terjadinya pribadi, harta benda dan unsur unsur minoritas yang terdapat pada masyarakat dengan menghormati perbedaan seperti agama, moralitas dan lembaga lembaga mereka serta menghargai pendapat orang lain serta perbedaan perbedaan yang ada dilingkungannya tanpa harus berselisih dengan sesamanya karena hanya perbedaan keyakinan atau agama. Toleransi beragama mempunyai arti sikap lapang dada seseorang untuk menghormati dan membiarkan pemeluk agama untuk melaksanakan ibadahmereka menurut ajaran dan ketentuan agama masing masing. Dalam agama telah menggariskan dua pola dasar hubungan yang dilaksanakan oleh pemeluknya yaitu:hubungan secara vertical dan hubungan secara horizontal. Yang pertama adalah hubungan antara pribadi dengan khaliknya yang direalisasikan dalam bentuk ibadah sebagaimana yang telah digariskan oleh setiap agama. Dan disini kita tidak boleh melecehkan bagaimana cara beribadah seseorang. Hubungan yang kedua adalah hubungan manusian antar sesamanya pada hubungan ini tidak terbatas pada lingkungan dan agama saja. Keunggulan Jurnal ini mempunyai pembahasan yang singkat namun sangat mudah dipahami atau dimengerti. Di dalam jurnal ini juga kita diajari bagaim an sikap saling menghargai diantara perbedaan yang ada. Ketika terjadi erupsi gunung sinabung korban tidak diungsikan berdasarkan kawasan atau rumah ibadah iman yang di yakini oleh pengungsi yang terpenting pengungsi selamat dan mendapatkan tempat yang layak. Oleh sebab itu, tidak heran ada pengungsi di rumah ibadah yang berbeda dengan keyakinannya. Ada pengungsi muslim digereja dan sebaliknya, akan tetapi walaupun demikian keyakinan mereka tidak berpindah. Dari sini dapat kita ambil pelajaran bahwa sangat pentingnya rasa saling menghargai. Jurnal ini bisa dan mampu memberikan penjelasan tentang bagaimana toleransi dengan baik dan benar. Jurnal ini pada dasarnya mengungkapkan bentuk konstruksi harmoni diantara pengungsi yang berbeda agama itu hidup dalam satu bangunan sosial secara bersama. Ada sisi sisi nilai damai yang dibangun ditengah tengah kehidupan sosial pengungsian itu yang perlu kita ungkap, guna mendapatkan nilai toleransi dikalangan umat beragama di Negara yang multicultural ini. Di dalam jurnal ini juga dijelaskan bahwa perbedaan pun terbukti berguna, selama didalamnya terdapat toleransi. Sikap toleransi ini tidak bisa tumbuh dengan begitu saja, tetapi toleransi ini bisa tumbuh dalam runtutan dan ada proses yang mengimbanginya, apakah itu proses yang alamiah yang membentuknya atau proses kultural yang mendesainnya. Pada sisi proses kultural, ternyata tidak dapat pula dipungki adanya sumbangan kultural yang membangun harmonisasi masyarakat pengungsi ini. Sisi kultural ini bisa dirunut melalui kulturasi pengungsi sebagai masyarakat karo sebagai suku batak. Orang batak secara kultural memiliki kecintaan terhadap kampung halaman, kecintaan terhadap kampong halaman itu yang membuat ikatan solidaritas mereka pegang tanpa sekat-sekata keyakinan. Dalam jurnal ini juga dijelaskan bahwa perbedaan agama tidak menyeret kehidupan pada ketidakseimbangan sosial, tetapi dijaga seperti dalam arahan orientasi nilai itu. Oleh sebab itu, nilai budaya memberikan konstribusiyang sangat fungsional dalam membangun sikap harmonis dan damai, sehingga perbedaan tidak membuat hilangnya harmonisasi diantara sesama Dalam konteks ini bencana dan masyarakat bisa melahirkan dinamika sebuah dinamika hasil respontif dari masyarakat. Dimana masyarakat itu merespon kondisi dari bencana itu kedalam konteks kehidupan sosial yang lebih luas tidak dalam pengertian yang sempit, sebagaimana dapat dilihat dari prilaku memaknai sesame selama dalam kondisi yang didesak oleh bencana tersebut, sehingga perbedaan perbedaan seperti keyakinan, agama dan ekonomi tidak dijadikan sebagai perbedaanyang perlu diperdebatkan tetapi satu sama lainmenjalin kepentingan penyelamatan dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Keselamatan itu dipahami secara bersama dan bertoleransi. Bencana disini jika dimaknai tidak hanya sekedar malapetaka yang merenggut nyawa dan rusak tatanan alam serta sosial manusia tetapi dibalik itu ternyata bencana memiliki makna yang fungsional dalam membangun kesadaran manusia yang luar biasa, kesadaran bathiniah,kesadaran tingkah laku dan tindakan, kesadaran universal manusia sebagai makhluk sosial. Kesadaran kesadaran itu, sebenarnya yang membangun sikap toleransi beragama dikalangan masyarakat. Makna bencana memberikan konstribusi, interaksi dan memperkuat hubungan antara sesama Pengungsian ini juga telah melahirkan satu bentuk kesadaran sosial terhadap sesame pengungsi. Pengungsi sebagai bentuk prekonstruksi interaksi sosial agama, lintas wilayah, lintas umur dan seterusnya. Interaksi ini, terjadi dalam keseharian selama dipengusian dan kemudian melahirkan satu hubungan sosial tanpa menaruh kecurigaan antara satu dengan yang lain. Dalam konteks ini, perbedaan perbedaan itu diikat oleh interaksi yang melahirkan hubungan sosial yang tulus diantara sesama. Dua kesadaran ini yaitu kesadaran vertikalisme dan horizontalisme ternyata melahirkan rasa pertemanan, kawan dan saudara bukan sebagai lawan atau musuh. Jadi rintangan perbedaan agama tidak terseret dalm konflik tetapi mencair dengan adanya dorongan sosial yang dibangun secara alamiah di pengungsian tersebut. Kekurangan Jurnal ini memang memberikan informasi tentang bencana yang terjadi di kabupaten karo sumatera utara dan bagaimana cara masyarakat disana dalam bertoleransi dan bagaimana cara saling menghargai tetapi di dalam jurnal tersebut belum dijelaskan secara detail tentang bagaimana metode penelitian yang dilakukan. di dalam jurnal ini terdapat ada tujuh prinsip falsafah batak yaitu: 1. Mardebata (punya tuhan) 2. Marpinompar (punya keturunan) 3. Martutur (punya kekerabatan) 4. Maradab (punya adat) 5. Marpangkirimin (punya pengharapan) 6. Marpatik (punya aturan dan undang undang) 7. Maruhum (punya hukum) Dan disini juga penjelasannya masih kurang detail sehinnga pembaca masih ada yang kebingungan. Saran Jurnal ini akan lebih menarik jika menjelaskan tentang bagaimana metode yang dilakukan dalam penelitian tersebut dan penjelasan secara detail tentang tujuh falsafah orang batak. Sehingga pembaca akan lebih mudah mengerti tentang materi ini. Rekomendasi Didalam jurnal ini terdapat lima masalah pokok diantaranya: 1. Masalah dalam memahami hidup 2. Karya 3. Persepsi tentang waktu 4. Hubungan manusia dengan alam 5. Dan hubungan manusia dengan sesamanya Kelima masalah pokok ini dalam penyelesaiannya dituntun atau dipandu oleh nilai nilai budaya. Jika dilakukan dengan pilihan yang baik maka hasilnya juga akan baik dan dampaknya juga akan menghasilkan keseimbangan hidup bagi manusia dan lingkungannya. Nilai nilai itu adalah ajaran dan normative yang harus ditafsirkan sehingga melahirkan suatu perilaku, atau tindakan yang diinginkan sesuai dengan nilai nilai. Parsons seorang prekontruksi teori structural fungsional menyatakan bahwa keseimbangan atau keteraturan dan kesetabilan akan terwujud apabila di dalamnya ada penghargaan terhadap nilai nilai tersebut. Pengembangan nilai moralitas sangat berhubungan dengan internalisasi nilai nilai tersebut. Dalam internalisasi nilai nilai itu lingkungan sekolah menjadi media yang tidak terpisahkan. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri dalam internalisasi nilai nilai dalam pendidikan multicultural ini adalah adanya media pembiasaan yang membangun kesadaran. Sehingga disini pendidikan multicultural sangat diperlukan untuk anak anak yang dipengungsian ini karena pendidikan multicultural sebagai pendidikan moral dan penanaman nilai nilai pada anak didik, maka sekolah merupakan basic dari pelaksanaan pendidikan multicultural ini. Pendidikan multicultural harus dilaksanakan semenjak dini secara professional dengan pengajaran yang tepat sasaran.masalahnya kesadaran akan toleransi sangat ditentukan oleh kemampuan dunia pendidikan menanamkan nilai nilai toleransi tersebut. Dalam konteks kondisi keindonesiaan pendidikan muktikultural harus memperhatikan seperti ini. Kesadaran kesadaran mayoritas terhadap minoritas perlu menjadi bahagian penting dalam pelaksanaan pendidikan multicultural. Pendidikan multicultural di Indonesia tidak bisa melapaskan diri dari konteks dan kondisi kelokalan yang dibangun di Indonesia. Indonesia yang memiliki tipologi tipologi lokalitas perlu dipertimbangkan digali sebagai sumber pengembangan pendidikan multicultural. Kesadaran toleransi itu bisa terakumulasi melalui eksternalisasi, dimana banyak orang menyadarisuatu peristiwa itu dengan emosional dan logis. Peristiwa peristiwa yang menyakitkan dan memilukan bisa mengkonstruksi kesadaran, bencana alam peristiwa tragis akan mengalihkan seseorang kepada pengalaman bathin untuk sadar akan persepsi hidup. Dalam pandangan kluckhon ada lima persepsi hidup yang harus diselesaikan, yaitu menghayati makna hidup, menghayati karya yang diperbuat, menghayati waktu yang berlalu dan yang akan terjadi, menghayati alam semesta sebagai bahagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan serta, menghayati hubungan sebagai makhluk sosial dan makhluk tuhan. Dalam konteks ini bencana dan masyarakat bisa melahirkan sebuah dinamika hasil respontif darin masyarakat. Dilihat lebih jauh respontif itu adalah negosiasi identitas yang dikontruksi di pengungsian. Negosiasi identitas agama yang berbeda beda kemudian melahirkan toleransi. Menurut ting-toomey negosiasi identitas itu sebenarnya mempokuskan pada kognitis tentang sebuah tujuan yang hendak dicapai secara bersama dan dibantu oleh proses komunikasi dan pendekatan pendekatan yang responsip. Dengan demikian akan lahir sebuah struktur baru yang bisa di terima oleh pihak pihak yang bernegosiasi, kadang kadang dia muncul dengan bantuan bantuan atas kepentingan bersama, seperti dalam kondisi desakan sosial seperti kondisi yang terjadi di lokasi bencana. Pada kenyataannya, keharmonisan itu tidak selalu dibangun dengan rekayasa kerja ilmiah, tetapi terbentuk dengan proses natural dan proses alamiah bahkan dari proses yang menyakitkan serta menyedihkan. Peristiwa ini dapat dilihat dari kasus kasus bencana yang terjadi kemudian secara tidak sadar kasus bencana itu membangun satu dinamika sosial yang baru. Membangun perubahan perubahan itu fungsional dalam menata kehidupan sosial. Konteks seperti ini disebut oleh capra dengan siklus kehidupan, siklus perubahan dari kehidupan manusia, kehidupan sosial manusia. Manusia berubah atas kesadaran kesadaran dari sebuah peristiwa. Dunia sosial manusia juga seperti itu, perubahan sosial merupakan sebuah siklus yang terjadi akibat salah satunya ada kesadaran kolektif. Siklus perubahan itu adalah mensinergikan sikap dan perbuatan dengan ketentuan ketentuan ilahiah atau adab yang telah dijelaskan pencipta dalam perspektif ajaran masing masing. Dampak dari sinergisme ini adalah memperkuat kembali imani dan menjabarkan dalam siklus kehidupan. Imani itu menjadi acauan kebaikan kebaikan yang dibangun dengan nurani. Setidaknya, konstlasi ini bisa ditangkap dari ruang gerak pendekatan pendekatan religious yang dilaksanakan oleh masing masing agama di pengungsian. Kejadian dari sebuah bencana dan sampai proses yang dibangun ketika bencana itu berlau , sebenarnya dapat dimaknai bahwa sebuah bencana itu adalah sebagai bahagian yang dapat melahirkan atau peluang perbaikan dalam kehidupan yang mendasar, peluang dalam memperbaiki hubungan manusia dengan tuhannya dan hubungan sesamanya dan alam sekitarnya. Daftar Pustaka Hanani, silfia, 2014, Toleransi Dalam Perbedaan Studi Konstruksi Toleransi Umat Beragama Di Pengungsian Bencana Erupsi Gunung Sinabung Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara Hanani, silfia, 2017, Studi Negosiasi Kultural Yang Mendamaikan Antaretnik Dan Agama Di Kota Tanjungpinang, IAIN Bukittinggi Hanani, silfia,2017, Memperkuat Ukhwah Wathaniyah Melalui Pendidikan Multikultural Untuk Merawat Nasionalisme Di Tengah Keanekaragaman, IAIN Bukittinggi

Judul: Tugas Analisi1[1]

Oleh: Nopita Indah Sari Harahap


Ikuti kami